Idris, Sosok Kepala Desa Bone-Bone di Kabupaten Enrekang yang Mendunia

Perawakannya kecil, cenderung kurus, dengan warna kulit kecoklatan tanda seringnya terbakar mentari. Tingginya tidak lebih dari 165 cm. Rambut dibiarkan tak tersisir rapi. Kumis dan janggut tipis seakan menempel seadanya. Mungkin juga karena tidak sempat dicukur. Beliau memiliki gaya bicara cukup lugas walau terkadang rentetan kalimatnya sulit untuk dipahami secara langsung. Sesekali logat bicara khas orang Bugis muncul ke permukaan. Sering kita harus menajamkan telinga, untuk menyimak dengan baik maksud kalimatnya. Ada satu kata yang dapat menggambarkan tampilannya secara keseluruhan. Sederhana. Kesederhanaan yang sangat bersahaja. Namun dibalik kesederhanaannya, terdapat kekuatan, tekad, dan kemampuan yang luar biasa.

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Itulah sekilas gambaran umum sosok Pak Idris, seorang mantan Kepala Desa Bone-Bone, sebuah desa yang terletak nun jauh di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau saat ini dapat dikatakan “mantan Kepala Desa”, karena sejak Bulan April 2014, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Desa. Beliau mengundurkan diri karena merasa tertantang untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Enrekang dan ternyata situasi politik tidak terlalu berpihak padanya. Beliau gagal meraih kursi DPRD namun hingga saat ini tetap diakui sebagai salah satu tokoh masyarakat di Desa Bone-Bone. Salah satu tokoh yang tetap menjadi motor penggerak inovasi bagi pembangunan di desanya. Skalanya memang masih lokal, namun gaungnya sudah mendunia. Layak untuk menjadi inspirasi bagi belahan dunia lainnya.
Lalu pertanyaannya, “Apa yang menyebabkan namanya mendunia?”, “Kiprah apa yang beliau lakukan sehingga menjadikannya seperti selebriti yang diundang ke sana ke mari?”, “Apa hebatnya Pak Idris?”. Sudahlah…. Simak saja terus tulisannya….
Pak Idris hanya seorang Kepala Desa, bahkan sekarang hanya seorang mantan Kepala Desa dari sebuah desa kecil yang terletak di lokasi yang belum tentu semua mengenalnya, belum tentu semua pernah ke sana. Desa Bone-Bone, merupakan sebuah desa pegunungan yang dapat dijangkau sekitar 250 km atau 7 jam perjalanan darat dari Kota Makassar ke arah Utara. Dari desa inilah Pak Idris mewujudkan mimpi-mimpinya. Mimpi untuk mengantarkan desanya menuju ke arah yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih ramah pada lingkungan. Yang dibutuhkannya bukan segala macam teori yang njelimet. Beliau cukup menerapkan aturan yang telah disepakati dan dituangkan dalam Peraturan Desanya. Yang terpenting, berani menegakkan aturannya serta berani menerapkan sanksinya.

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber foto: http://www.mugniar.com/2013/

Desa Bebas Asap Rokok

Mimpinya yang pertama adalah menjadikan desanya sebagai desa yang bebas asap rokok. Sebuah mimpi dan gagasan sederhana yang ternyata dalam mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesungguhan dan ketegasan dalam menegakkan aturan. Aturan tidak hanya diterapkan bagi penduduk desanya, tapi juga berlaku bagi para tamu pendatang. Walau terkesan sederhana, untuk menegakkannya dibutuhkan keberanian dan ketegasan. Hasilnya patut diacungi jempol. Desa Bone-Bone diakui menjadi desa pertama di dunia yang bebas asap rokok. Di Desa Bone-Bone, tidak hanya berlaku larangan merokok, tapi juga larangan untuk menyimpan dan menjual rokok. Jika aturan tersebut dilanggar, sanksinya tidak main-main. Sanksi denda uang serta sanksi kerja sosial membersihkan mesjid atau sarana umum lainnya harus dijalani para pelakunya.
Pak Idris telah memulai kampanye anti rokok di desanya saat beliau menjadi Kepala Dusun, sekitar tahun 2001. Semua bermula dari keprihatinannya terhadap warga desanya yang banyak terkena sakit paru-paru serta keprihatinannya terhadap kaum muda dan anak-anak yang mulai terbiasa merokok. Selain itu, beliau juga merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa sebagian masyarakat di desanya mampu untuk membeli rokok namun tidak mampu menyekolahkan dan membeli buku untuk anak-anaknya.
Upaya untuk mewujudkan mimpinya tidak berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan yang menghadang. Namun, Bapak delapan orang anak lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Makassar ini tidak patah arang. Pola pendekatan persuasif terus ia jalankan. Pak Idris berupaya mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan tetua desa untuk menjelaskan bahaya merokok bagi kesehatan. Selain itu beliau juga berhasil mengubah budaya masyarakat desanya untuk tidak membiasakan menyediakan rokok sebagai suguhan kepada tamu atau pada setiap undangan hajatan. Akhirnya, upaya Pak Idris membuahkan hasil. Sekitar tahun 2005, desanya berhasil terbebas dari asap rokok.
Aturan Lainnya
Dalam perjalanannya, tidak hanya penerapan bebas asap rokok saja yang dilakukan. Desa Bone-Bone menerapkan pula aturan pelarangan membawa/memasukkan/memakan makanan yang mengandung bahan pengawet dan zat pewarna di wilayah desanya. Bagi yang melanggarnya, akan dikenakan sanksi, mulai dari memasakkan bubur kacang hijau untuk dibagikan kepada anak-anak, hingga sanksi denda berupa uang.
Diterapkan pula larangan membawa ayam ras atau ayam negeri ke dalam wilayah desa. Di wilayah Desa Bone-Bone hanya diijinkan untuk membawa/memelihara ayam kampung. Desa Bone-Bone sekarang menjelma menjadi Desa Hijau, atau desa yang telah menerapkan prinsip-prinsip yang sehat dan ramah terhadap lingkungan.
Ada satu aturan unik yang juga diterapkan dalam Peraturan Desa Bone-Bone, yaitu kewajiban bagi setiap calon pengantin untuk menanam lima hingga 10 batang pohon untuk mendapatkan surat pengantar ijin menikah dari desa.
Pengakuan untuk Bone-Bone
Pengakuan terhadap Desa Bone-Bone sebagai desa bebas asap rokok pertama di Indonesia dan di Dunia, serta sebagai Desa Hijau yang telah menerapkan prinsip-prinsip desa yang sehat dan ramah terhadap lingkungan datang dari berbagai pihak. Desa Bone-Bone mendadak dikenal oleh dunia luar dan banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Desa kecil yang memang memiliki pemandangan alam yang indah ini sudah mulai dikenal dunia luar.
Pak Idris, sang pembawa perubahan pun seakan mendadak menjadi selebriti, diundang ke sana ke mari. Sosok sederhana ini laris diundang baik sebagai narasumber maupun sekedar berbagi kisah suksesnya di hadapan berbagai kalangan. Penghargaan berupa PIN Emas dari Menteri Kesehatan RI telah beliau terima. Tak ketinggalan, Desa Bone-Bone pun terpilih sebagai juara lomba desa tingkat Nasional tahun 2012. Pak Idris semakin laku diundang. Beragam acara TV seakan berlomba untuk mendapuk Pak Idris sebagai bintang tamunya, seperti pada acara Mata Najwa, Kick Andy, Liputan 6, Jejak Petualang, maupun beberapa acara TV lainnya. Bahkan undangan untuk menjadi narasumber di luar negeri pun telah beliau lakoni. Tak kurang dari Pemerintah China telah mengundangnya untuk berbagi pengalaman. Kebetulan baru-baru ini saya berkesempatan untuk bertemu dan memandu beliau selaku narasumber pada salah satu forum untuk berbagi pengalaman dalam menegakkan aturan di desanya.

Bersama Pak Idris

Bersama Pak Idris

Apapun bentuk pengakuan untuk Desa Bone-Bone dirasa sangat pantas. Desa Bone-Bone merupakan salah satu contoh desa yang dapat menjadi kebanggaan Indonesia dan dapat memberikan inspirasi bagi desa-desa lainnya. Setidaknya, telah ada dua desa yang juga menerapkan aturan bebas rokok seperti Desa Bone-Bone.
Kiprah Pak Idris tidak berhenti di sana. Saat ini, beliau tengah giat mempromosikan produk unggulan desanya, yaitu kopi Enrekang. Ternyata, Kopi Toraja yang sudah mendunia itu sebagian besar merupakan hasil produksi dari Kabupaten Enrekang. Desa Bone-Bone yang memiliki luas sekitar 800 Ha didominasi dengan tanaman kopi dengan kualitas tinggi.
Satu hal yang dapat dipetik dari kisah Pak Idris. Teringat kata-kata bijak yang mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi matahari untuk dapat menyinari dunia. Cukup jadilah lilin kecil yang mampu menyinari lingkungan sekitar kita sebagai tahap awal”. Tak perlu memiliki kekuatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mulailah dari hal yang kecil dengan lingkup yang kecil. Niscaya, jika dilakukan secara konsisten dan bertahap, hasilnya akan luar biasa. Selamat malam. Salam. (Del)

Advertisements

Mata Najwa: Menatap yang Menata Bantaeng

Gambar

Pilihan topik yang diangkat dalam acara Mata Najwa tadi malam (12/03/2014) sangat menarik. Mata Najwa berusaha menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki pemimpin-pemimpin yang bekerja dengan hati, bekerja dengan segenap kemampuan demi kemajuan wilayahnya. Kita masih memiliki harapan di tangan para pemimpin yang mau mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kabupaten/kotanya. Berupaya membuka wawasan masyarakat bahwa di negeri ini, pemimpin yang baik tidak hanya Jokowi, Ahok, atau Tri Rismaharini saja, yang kebetulan namanya sudah mulai merambah level Nasional. Masih banyak pemimpin lainnya, yang belum dikenal secara luas, namun prestasinya tidak perlu diragukan lagi.

Salah satu pemimpin yang ditampilkan dalam acara Mata Najwa kali ini adalah Bupati Bantaeng, Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Saat ini Nurdin Abdullah tengah menjalankan masa bakti keduanya sebagai Bupati. Beliau mulai menjabat sebagai Bupati Bantaeng sejak tahun 2008. Pada Pilkada April 2013 yang lalu meraih 82,71 % suara di antara calon lainnya. Menang secara mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin Bantaeng.  Nurdin Abdullah layak mendapatkan apresiasi atas kiprahnya dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Kebetulan, tahun yang lalu saya pun sempat menulis artikel tentang Bantaeng dan Nurdin Abdullah dengan judul Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan.

Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Kalau kita berkunjung ke Kota Bantaeng, kita akan menemukan sebuah kota yang bersih dan tertata apik. Jalanannya cukup mulus, tidak ada lubang menganga yang dapat menghambat perjalanan. Sangat sulit untuk menemukan onggokan sampah di sana. Bahkan saking bersihnya, kita seakan terbawa suasana, akan merasa malu untuk mengotori jalanan, merasa sungkan untuk membuang sampah sembarangan.

Banyak kiprah yang telah Nurdin Abdullah lakukan untuk Bantaeng. Awalnya beliau memiliki keengganan untuk memimpin Bantaeng. Desakan masyarakatlah yang meluluhkan hatinya untuk menata kotanya. Sebelum mengemban amanah sebagai Bupati, beliau adalah seorang akademisi dan pengusaha yang sempat memimpin 4 perusahaan Jepang. Tidak mudah baginya untuk melepaskan seluruh kemapanan yang dia miliki untuk memulai menata sebuah kabupaten kecil dengan luas yang hanya 0,63 % dari total luas Provinsi Sulawesi Selatan. Ada satu yang menarik dari perkataannya, “Jika ingin disenangi masyarakat, buatlah baliho di hati masyarakat”.

Banyak tantangan yang menghadang pada masa-masa awal kepemimpinannya. Nurdin Abdullah langsung dihadapkan pada masalah banjir yang setiap tahun kerap melanda Bantaeng. Di tengah hadangan para lawan politiknya, beliau teguh menjalankan pembangunan cekdam. Hasilnya sangat nyata. Bantaeng bebas dari bencana banjir di musim hujan, sekaligus bebas dari bencana kekeringan di musim kemarau. Sektor pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten Bantaeng pun aman dari kekeringan.

Pelayanan kesehatan menjadi garapan selanjutnya. Beliau mengusung Brigade Siaga Bencana lengkap dengan layanan call center nya. Pasukan kesehatan tersebut menerapkan moto “Siap melayani anda di rumah”. Bahkan rumah sakit 8 lantai nanti akan siap melayani. Warga Bantaeng nantinya tidak perlu lagi repot-repot ke Makassar jika ingin mendapatkan layanan kesehatan.. Semua berawal dari keprihatinannya terhadap layanan kesehatan yang ada dan yang terutama, berawal dari keinginan untuk mengabdikan diri untuk Bantaeng.

Kebetulan, saya pernah melakukankunjungan dalam rangka tugas ke Kabupaten Bantaeng. Jika berkunjung ke sana, kita akan takjub dengan berbagai sentuhan pembangunan yang ada.  Tanpa meninggalkan sektor unggulannya di bidang pertanian, Bantaeng pun mulai menggarap sektor pariwisatanya. Sektor pariwisata tengah dipacu keras untuk menjadi sektor unggulan. Beberapa potensi objek wisata dan rekreasi pantai tengah dipercantik. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah digarap.

Satu yang beliau pegang hingga kini, tidak mau masuk ke dalam partai politik manapun. Tawaran untuk menjadi pemimpin partai dia tolak. Beliau masih tetap teguh dengan prinsipnya, tetap independen. Entah nantinya. Mungkinkah akan berubah  saat dia melangkah ke jenjang yang lebih tinggi? Untuk melenggang ke percaturan provinsi? Kita tunggu. Nurdin Abdullah layak untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Indonesia masih membutuhkan pemimpin yang mau melayani.

Semoga makin banyak bermunculan para pemimpin yang mau memimpin dengan hati, yang mau membaktikan diri untuk kemajuan negeri, yang dapat memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Indonesia pasti bisa.  (Del)

Sutra Sengkang Ingin Senantiasa Melenggang

Mungkin belum banyak yang mengenal Sengkang. Sengkang adalah kota kecil ibu kota Kabupaten Wajo yang berjarak sekitar 250 km dari Makassar ke arah utara. Kota Sengkang dapat ditempuh dari Makassar sekitar 5-6 jam perjalanan darat dengan menyusur jalur lintas Barat Sulawesi melewati Kota Maros, Pangkajene, Barru, Pare-Pare, Pinrang, dan Sidenreng Rappang. Namun tidak perlu terlalu khawatir, walaupun suasana sepanjang jalan sudah ramai, jalanan menuju ke sana relatif mulus. Hanya mengalami keterhambatan di beberapa spot keramaian saja.

Menyebut Kabupaten Wajo, ingatan langsung tertuju pada Danau Tempe dan Sutra. Dua hal ini memang melekat erat dan terkait mesra dengan Kabupaten Wajo. Kota Sengkang selaku ibu kota Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan,  merupakan kota kecil yang tengah sibuk menata diri, menghibur hati, mencoba merajut senyum kembali setelah selama tidak  kurang dari 2 minggu berkutat dengan banjir, akibat meluapnya Danau Tempe. Bukan semata meluap, namun luapan akibat pendangkalan Danau Tempe. Danau Tempe merupakan danau yang berlokasi di bagian sebelah Barat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Hanya berjarak sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju Sungai Walanae. Danau ini merupakan salah satu danau tektonik di Indonesia. Ribuan rumah di sekitar Danau Tempe terendam banjir akibat meluapnya Danau Tempe. Dampaknya tidak hanya untuk Kabupaten Wajo saja, namun juga merembet ke tiga Kabupaten sekitarnya, yaitu Sidrap (Sidenreng Rappang), Soppeng, dan Bone. Air menggenangi rumah-rumah penduduk dengan ketinggian berkisar setengah hingga 3 m.

Gambar

Banjir akibat meluapnya Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Kota Sengkang memang belum terlalu populer, belum sering terdengar. Tapi ternyata di kota kecil tersebut juga menyimpan potensi yang tak kalah indah dan menarik. Kota ini merupakan surga bagi penggemar sutra, sentra utama kerajinan sutra di Indonesia Timur. Bagi orang yang sering berbelanja oleh-oleh di sepanjang Jalan Somba Opu, Makassar, tentu tidak asing dengan deretan kain sutra yang terpajang rapi di toko-toko souvenir. Dari Sengkang lah, sutra-sutra itu bermula.

Gambar

Tumpukan sutra di sentra penjualan sutra Sengkang, Kabupaten Wajo

Sutra dan Wajo seakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Hampir seluruh warga kota tidak asing dengan kerajinan sutra. Bahkan warga mengakrabi proses pemeliharaan ulat sutra di rumah masing-masing. Jika kita menengok Kecamatan Sabbangparu, hampir semua bagian bawah rumah, bagian kolong rumah penduduk sekaligus juga berfungsi sebagai kandang ulat sutra. Bagi mereka ulat sutra sudah menjadi bagian hidup, kehidupan, dan penghidupan mereka. Sudah pula menjadi bagian dari budaya. Kondisi tanah di Kabupaten Wajo turut mendukung dan sangat menunjang kelancaran penanaman pohon murbei yang merupakan pakan utama ulat sutra. Bagi gadis Wajo, kepiawaian menenun menjadi prasyarat wajib. “Bukan gadis Sengkang kalau tidak bisa menenun” tetap menjadi tagline yang selalu digaungkan masyarakat Wajo.

Gambar

Tenun dan Sutra sudah menjadi nafas kehidupan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Cobalah mampir ke sentra kerajinan sutra di Kabupaten Wajo. Untaian benang sutra telah menjelma indah menjadi bentangan kain dengan beragam motif dan corak. Selain corak dan motifnya yang khas, para perajin juga masih banyak yang tetap menggunakan bahan alami untuk pewarnaannya. Biasanya mereka menggunakan getah beragam pohon, pucuk daun mangga, daun pandan, atau kunyit untuk memperkaya warna pada motif kain.

Namun sayangnya para perajin terganjal oleh masalah pemasaran. Karena kurang mumpuni dalam hal pemasaran, kain-kain itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal yang selanjutnya menimba keuntungan besar dengan memasarkannya ke manca negara.  Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah asal sama-sama diuntungkan dengan kadar yang wajar. Keuntungan selayaknya dirasakan pula oleh para penenun. Agar sutra Sengkang tetap senantiasa melenggang mengikuti langkah pemakainya. Agar senyum para perajin tenun sutra di Kota Sengkang tetap terajut indah. Agar duka akibat banjir Danau Tempe tidak terlalu menyesakkan hati mereka. Agar harapan dan asa mereka tetap terjaga. (Del)

Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan

Bantaeng? Di manakah itu? Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Melewati wilayah Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Tapi tidak perlu khawatir, jalanannya cukup mulus, licin, sangat bersih, dan beraspal hotmix. Hanya tersendat ketika melewati pasar-pasar yang ada di pinggir jalan.

Jalanan di Kota Bantaeng, mulus, bersih.
Sumber foto: http://www.id.wikipedia.org

Begitu memasuki Kota Bantaeng, terasa sesuatu yang berbeda. Kota ini demikian bersih, tertata apik. Jalanan cukup mulus, nyaris tak ada lubang yang menghadang. Sepanjang jalan menuju ibukota Kabupaten Bantaeng sangatlah sulit untuk menemukan sampah tergeletak. Sangat susah  untuk menemukan bekas gelas air mineral satupun, apalagi dalam bentuk onggokan. Tidak ada sama sekali. WOW, menakjubkan.

Jadi teringat Kevin Lynch di bukunya yang bertitel Good City Form, 1981.  Lynch mengawali tulisan dalam bukunya dengan kalimat, “What makes a good city?”. Kevin Lynch bertanya dan berupaya untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui keterkaitan antara nilai kota dengan karakteristik spasialnya. Melalui dimensi kinerjanya (dimensions of performance). Untuk mengetesnya, Lynch mengusung 5 kriteria ditambah dengan 2 meta kriteria, yaitu vitality, sense, fit,  access, control, ditambah efficiency dan justice. Tak perlu berpanjang membahasnya satu persatu, tapi hasilnya, yakin sudah mendekati.

Seorang rekan yang merupakan penduduk Bantaeng bercerita, “Coba pura-pura pingsan saja di Kota Bantaeng, pasti dalam waktu kurang dari setengah jam, ambulance akan datang, saya jamin itu”. Pikir dalam hati, ah masa? Lagian, buat apa juga? Itu pasti karena dia merupakan kerabat dekat Bupatinya. Berada di lingkaran dalam sang Bupati. Pasti dia akan membanggakannya. Tapi akhirnya percaya karena begitu lewat ke depan rumah sakitnya, deretan armada penunjang kesehatan tampak jelas.

Pantai Seruni, Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Sumber Foto: http://www.independen.co

Bantaeng mengandalkan sektor pertanian, walau sekarang mulai pula menggarap pariwisata. Sebagian besar penduduknya petani. Di sepanjang perjalanan, terpapar dengan jelas hamparan sawah, bahkan di tepi pantai sekalipun. Masuk ke arah perdesaannya, deretan pohon kopi dan cengkeh seolah menyambut dengan ramah. Sangat subur. Sektor pariwisata juga tengah dipacu dengan kecepatan maksimal. Terdapat beberapa obyek wisata dan rekreasi pantai. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah giat-giatnya berdandan, berbedak, dan bergincu. Layaknya gadis yang tengah mekar. Hampir setiap sore hingga malam, Pantai Lamalaka dan Pantai Seruni ramai dikunjungi warga tidak hanya warga Bantaeng, namun juga dari Kabupaten Bulukumba maupun Jeneponto tetangganya. Kalau untuk sekedar menikmati pisang epe, pasti tersedia.

Kota Bantaeng memang layak diberikan anugrah Piala Adipura. Untuk tahun 2013 ini, Piala Adipura yang diperoleh merupakan kali yang ke tiga, plus 1 kali sertifikat adipura. Untuk kategori Kota Kecil, Bantaeng memang langganan juara dan Bantaeng layak untuk menerimanya. Kebersihan dan keindahan Kota Bantaeng tidak terlepas dari partisipasi dan kesadaran masyarakatnya. Juga andil pemimpinnya.

Siapakah pemimpin di balik keberhasilan Bantaeng? Dialah Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Tanpa bermaksud untuk membandingkannya dengan Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, Nurdin Abdullah merupakan sosok lain dari Jokowi, namun dalam bentuk lain.

Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, periode 2008 hingga sekarang.
Sumber Foto: http://www.makassar.tribunnews.com

Jika Jokowi terkenal dengan gaya blusukannya, rasanya pegawai kebersihan di Kota Bantaeng atau petugas sapu jalanan di Kota Bantaeng pun tidak sulit untuk menemukan sosok Nurdin di jalanan. Pagi-pagi dengan bersepeda keliling kota, beliau pasti menyapa para penyapu jalan, para petugas kebersihan jalanan. Sosoknya sangat melekat di hati para laskar kebersihan. Beliau tidak segan untuk mengganjar hadiah bagi para petugas kebersihan jika dapat menjaga wilayah tugasnya masing-masing. Bahkan tahun ini, hadiah umroh diberikan pada petugas kebersihan yang paling jempol, selain hadiah lain tentunya. Bupati sendiri yang menilai. Beliau memang paling hafal siapa petugas kebersihan yang paling rajin dan paling jempolan dalam melaksanakan tugasnya. Alasannya sederhana, karena hobinya berjalan-jalan, baik jalan kaki maupun bersepeda.

Jika kebetulan melintas Bantaeng atau wilayah yang juga dikenal dengan sebutan wilayah Butta Toa Bantaeng, umumnya merasa ikut terbawa arus, terhipnotis. Tak ada kehendak untuk membuang sampah sembarangan, karena sayang mengotori jalanan yang sudah bersih. Rekan dari Bantaeng kembali berceloteh, “ Jangan buang sampah sembarangan, ini Bantaeng ya….”. Sepakat.

Bercerita sedikit tentang sosok Nurdin Abdullah, beliau sedang dalam masa kedua kepemimpinannya. Terpilih menjadi Bupati Bantaeng sejak tahun 2008, dan pada pilkada 2013 April yang lalu, meraih suara  82,71 % di antara para calon lainnya. Menang mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin mereka.

Melihat Bantaeng saat ini memang seperti melihat gadis cantik yang tengah berdandan, berbedak, dan bergincu. Bertransformasi menjadi gadis yang lebih cantik lagi. Demi kesejahteraan masyarakatnya. Tentu.