Menyusuri Jejak Arsitektural Ridwan Kamil di Musium Tsunami Aceh

Telah lama memendam keinginan untuk berkunjung ke Tanah Rencong Aceh. Aceh termasuk salah satu destinasi yang belum pernah saya rambah sebelumnya. Beberapa kesempatan kunjungan ke sana selalu terkendala satu dan lain hal. Ketika kesempatan itu datang, yang terlintas di benak adalah Sabang dan Musium Tsunami. Kenapa Sabang dan kenapa Musium Tsunami? Sabang, karena tak lengkap rasanya kunjungan ke Merauke tanpa menggenapinya dengan kunjungan ke Sabang. Supaya seimbang dan paripurna, Sabang dan Merauke. Musium Tsunami, karena saya termasuk salah satu pengagum Ridwan Kamil, seorang arsitek yang kini menjadi Walikota Bandung. Sebagai pemimpin di Kota Bandung, gebrakan yang beliau lakukan untuk menata Kota sudah banyak dan sangat terasa. Sebagai arsitek, karya-karya arsitektural Ridwan Kamil patut diacungi jempol. Konsepnya sarat dengan makna yang filosofis. Banyak sekali karya-karyanya yang sudah diakui dunia.

Sepertinya Ridwan Kamil paham betul momok yang dipancarkan dari kata Musium. Beliau berupaya keras untuk menghindari stigma yang terlanjur melekat pada kata Musium. Mengapa orang enggan berkunjung ke Musium? Karena Musium kadung terstigma dengan pemahaman tentang sebuah tempat yang hanya berisi barang-barang peninggalan, barang-barang jadul yang ditata dalam lemari, berderet, dan berdebu. Minim perawatan dan tidak menarik sama sekali. Terutama bagi anak-anak muda jaman sekarang. Ridwan Kamil seakan ingin memutarbalikkan dan menghapus stigma tersebut. Upayanya cukup berhasil dengan hasil karyanya pada Musium Tsunami Aceh.

Keberadaan Musium Tsunami Aceh bermula dari lomba desain musium yang digagas oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh – Nias) untuk mengenang peristiwa Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Desain karya Ridwan Kamil yang waktu itu masih menjadi Dosen Arsitektur ITB keluar sebagai pemenang pertama menyisihkan 68 peserta lainnya dan karyanya diwujudkan secara nyata menjadi Musium Tsunami Aceh. Musium tersebut telah berdiri megah dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009 dan dibuka untuk umum sejak 8 Mei 2009.

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Konsep Desain

Ridwan Kamil mengemas konsep rancangan Musium Tsunami Aceh dengan tema “Rumoh Aceh as Escape Building”. Kesan modern sangat terasa ketika kita melihat bentuk bangunannya dari luar. Jika dilihat, tampak depannya seperti kapal besar yang memiliki geladak luas sedangkan tampak atasnya seperti gelombang tsunami. Namun, jika ditelisik lebih dalam, desainnya tetap mengusung kearifan lokal yang tumbuh di lingkungan masyarakat Aceh. Tergambar dari ide dasarnya berupa rumah panggung Aceh yang sebenarnya ramah dalam merespon bencana alam serta konsep bukit penyelamatan (escape hill) sebagai antisipasi terhadap bahaya tsunami. Atau juga pada dinding bangunan yang mengadopsi konsep tarian khas Aceh, yaitu Tari Saman yang menggambarkan kekompakan dan kerjasama antar manusia. Kesan musium yang modern tersirat dalam bentuk ruang-ruang yang tidak hanya memamerkan benda-benda memorial belaka tapi bisa berupa taman terbuka yang dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya anak muda untuk mengekspresikan diri.

Konsep desain Musium Tsunami Aceh tersebut diimplementasikan dalam pembagian ruang-ruang yang sarat makna filosofis dan melayangkan ingatan serta perenungan kita pada tragedi tsunami yang lalu. Tata letak ruangan terutama di lantai satu Musium, didesain khusus sehingga pengunjung seolah diajak untuk mendalami dan merasakan efek psikologis dari bencana tsunami.

  1. Space of Fear

Perjalanan menjelajah Musium Tsunami Aceh bermula dari sebuah lorong sempit yang seakan mengajak pengunjung untuk turut merasakan suasana mencekam, saat-saat terjadinya bencana tsunami. Lorong yang gelap dengan dinding tinggi berwarna hitam di sisi kiri dan kanan serta aliran air di sepanjang dinding dengan bunyi bergemuruh cukup memberikan efek psikologis yang menakutkan. Untuk itulah lorong ini dinamakan dengan Lorong Tsunami. Suasana mencekam karena bunyi-bunyian, cipratan air, dan minimnya pencahayaan seolah ingin mendeskripsikan rasa takut masyarakat yang luar biasa saat para korban berlarian menyelamatkan diri dari kejaran gelombang air laut.

Mungkin bagi pengunjung yang masih memiliki trauma pada kejadian tsunami Aceh, tidak disarankan untuk melewati jalur ini. Pastinya akan membangkitkan kenangan yang buruk atas terjadinya tragedi dahsyat tersebut.

  1. Space of Memory

Selepas dari lorong tsunami yang sempit disertai dengan suasana mencekam, pengunjung diajak untuk memasuki sebuah ruangan yang dinamakan ruang kenangan (Memorial Hall). Di ruangan ini terdapat 26 buah monitor yang semuanya menyajikan gambar-gambar saat peristiwa tsunami. Slide-slide gambar dan foto yang dirangkai dalam setiap monitor seakan ingin membangkitkan kembali kenangan terjadinya bencana tsunami yang melanda Aceh. Untuk tetap memberikan suasana mencekam, ruangan ini juga didesain dengan pencahayaan yang minim. Rasanya tidak tega melihat gambar-gambar korban yang begitu menyedihkan.

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

  1. Space of Sorrow

Space of Sorrow diwujudkan dalam bentuk Ruang Sumur Doa (Blessing Chamber). Ruangannya menyerupai sumur yang tinggi berbentuk seperti silinder dengan ribuan nama-nama korban tsunami yang terpampang di dinding. Menggambarkan kuburan massal para korban tsunami. Sumur ini hanya diterangi oleh pencahayaan yang berasal dari sinar di ujung atas sumur berbentuk lingkaran dengan tulisan kaligrafi Allah SWT. Filosofinya, ruangan ini menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya, dimaknai dengan kehadiran Allah sebagai harapan bagi masyarakat Aceh.

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

  1. Space of Confuse

Keluar dari Sumur Doa, pengunjung diajak untuk melalui jalanan yang berkelok-kelok dan tidak rata yang menggambarkan suasana kebingungan dari masyarakat Aceh tatkala terjadinya bencana. Kebingungan dalam mencari sanak dan saudara yang hilang, kebingungan karena kehilangan tempat tinggal, kebingungan karena kehilangan harta benda, dan kebingunan dalam menatap serta menata masa depan. Pengunjung diajak untuk melalui sebuah lorong gelap (lorong cerobong) yang membawa pada cahaya alami harapan bahwa masyarakat Aceh masih memiliki harapan dengan adanya bantuan dari dunia untuk memulihkan Aceh. Untuk itulah area ini dinamakan space of confuse.

Penunjuk arah

Penunjuk arah

  1. Space of Hope

Setelah lepas dari lorong cerobong, sampailah pengunjung pada sebuah jembatan yang dinamakan jembatan harapan (space of hope). Jembatan ini seolah mengingatkan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang kita hadapi, akan selalu ada harapan untuk bangkit dan meraih asa yang baru. Meraih uluran tangan dari para sahabat dan bersama-sama menyongsong hidup yang baru. Area ini dinamakan jembatan harapan karena saat melalui jembatan, kita dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang turut serta mengulurkan tangan memberikan bantuannya baik saat tsunami maupun pasca tsunami. Jumlah bendera tersebut sama dengan jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Sebuah kolam dengan air yang berwarna kemerahan dengan banyak ikan-ikan di dalamnya. Di tiap batu tertera tulisan kata “Damai” dengan bahawa dari masing-masing negara pemberi bantuan untuk merefleksikan perdamaian Aceh dari konflik yang mendera sebelum tsunami. Tsunami membawa berkah dan turut pula membantu proses perdamaian di Bumi Aceh, serta turut membantu merekonstruksi Aceh pasca bencana. Terdapat pula ruang yang menyajikan pemutaran film tsunami selama sekitar 15 menit yang menceritakan peristiwa dari mulai gempa, tsunami, hingga saat bantuan datang.

Bendera para donor

Bendera para donor

Pada lantai dua, kita diajak untuk melihat banyak foto-foto serta artefak yang berhubungan dengan tsunami. Misalnya, terdapat jam besar yang mati saat terjadinya tsunami. Jarum jam masih menunjuk pada pukul 08.17. Atau kita juga dapat melihat foto jam Masjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati dengan jarum jam yang menunjuk saat terjadinya bencana. Terdapat beberapa diorama yang menggambarkan seputar peristiwa tsunami. Ada yang menggambarkan suasana para nelayan dan masyarakat setempat yang panik berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi serta beberapa maket yang menggambarkan lansekap wilayah Aceh sebelum dan pasca bencana tsunami. Selain itu, ada juga ruang perpustakaan serta ruang alat peraga. Beberapa alat peraga yang ditampilkan antara lain bangunan tahan gempa, contoh patahan bumi, lukisan bencana, dan lainnya.

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

pengetahuan seputar tsunami

pengetahuan seputar tsunami

20141031_10583920141031_110029

Di lantai tiga Musium Tsunami Aceh, kita dikenalkan pada berbagai pengetahuan seputar gempa dan tsunami. Kita diajak untuk mengenali sejarah dan potensi tsunami di seluruh bumi, simulasi gempa yang bisa diatur sesuai dengan skala richternya, serta beragam desain bangunan dan tata ruang yang ideal untuk daerah rawan tsunami.

Musium ini dilengkapi pula dengan ruangan-ruangan yang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk mengenal dan menikmati beberapa penganan khas Aceh serta ruangan tempat dijualnya souvenir khas Aceh, terutama sulaman-sulaman khas Aceh yang tampak pada tas, dompet, dan beberapa souvenir khas Aceh lainnya.

  1. Space of Relief

Ruang pemulihan diwujudkan dalam “the hill of light” dan “escape roof”. The hill of light berupa taman berbentuk bukit kecil sebagai sarana penyelamatan awal tsunami. Berupa taman publik dengan lansekap yang menarik. Sayang saat kunjungan, bagian ini belum dibuka.

Ridwan Kamil telah menterjemahkan peristiwa bencana dan segala seluk beluknya dalam bentuk desain Musium Tsunami Aceh. Karyanya sekarang telah menjadi salah satu simbol Kota Aceh. Menjadi sebuah objek yang wajib kunjung ketika berada di Aceh. Kenangan pahit sebuah bencana dahsyat memang tidak mudah untuk dilupakan. Terlebih bagi orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Namun, di balik semua peristiwa yang terjadi selalu ada hikmah yang dapat diambil. Pembangunan yang terjadi di Aceh pasca tsunami sungguh luar biasa. Aceh sebelum tsunami yang tak lepas dari konflik, dapat bangkit menyongsong lembaran baru dengan berbagai pembangunan yang saat ini terus berlangsung. Aceh yang dulu selalu dirundung konflik dan terbelit situasi yang senantiasa mencekam, perlahan mantap melangkah menjadi wilayah yang tidak kalah dengan belahan Indonesia lainnya. Sebuah hikmah di balik bencana. (Del)

Mata Najwa: Menatap yang Menata Bantaeng

Gambar

Pilihan topik yang diangkat dalam acara Mata Najwa tadi malam (12/03/2014) sangat menarik. Mata Najwa berusaha menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki pemimpin-pemimpin yang bekerja dengan hati, bekerja dengan segenap kemampuan demi kemajuan wilayahnya. Kita masih memiliki harapan di tangan para pemimpin yang mau mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kabupaten/kotanya. Berupaya membuka wawasan masyarakat bahwa di negeri ini, pemimpin yang baik tidak hanya Jokowi, Ahok, atau Tri Rismaharini saja, yang kebetulan namanya sudah mulai merambah level Nasional. Masih banyak pemimpin lainnya, yang belum dikenal secara luas, namun prestasinya tidak perlu diragukan lagi.

Salah satu pemimpin yang ditampilkan dalam acara Mata Najwa kali ini adalah Bupati Bantaeng, Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Saat ini Nurdin Abdullah tengah menjalankan masa bakti keduanya sebagai Bupati. Beliau mulai menjabat sebagai Bupati Bantaeng sejak tahun 2008. Pada Pilkada April 2013 yang lalu meraih 82,71 % suara di antara calon lainnya. Menang secara mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin Bantaeng.  Nurdin Abdullah layak mendapatkan apresiasi atas kiprahnya dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Kebetulan, tahun yang lalu saya pun sempat menulis artikel tentang Bantaeng dan Nurdin Abdullah dengan judul Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan.

Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Kalau kita berkunjung ke Kota Bantaeng, kita akan menemukan sebuah kota yang bersih dan tertata apik. Jalanannya cukup mulus, tidak ada lubang menganga yang dapat menghambat perjalanan. Sangat sulit untuk menemukan onggokan sampah di sana. Bahkan saking bersihnya, kita seakan terbawa suasana, akan merasa malu untuk mengotori jalanan, merasa sungkan untuk membuang sampah sembarangan.

Banyak kiprah yang telah Nurdin Abdullah lakukan untuk Bantaeng. Awalnya beliau memiliki keengganan untuk memimpin Bantaeng. Desakan masyarakatlah yang meluluhkan hatinya untuk menata kotanya. Sebelum mengemban amanah sebagai Bupati, beliau adalah seorang akademisi dan pengusaha yang sempat memimpin 4 perusahaan Jepang. Tidak mudah baginya untuk melepaskan seluruh kemapanan yang dia miliki untuk memulai menata sebuah kabupaten kecil dengan luas yang hanya 0,63 % dari total luas Provinsi Sulawesi Selatan. Ada satu yang menarik dari perkataannya, “Jika ingin disenangi masyarakat, buatlah baliho di hati masyarakat”.

Banyak tantangan yang menghadang pada masa-masa awal kepemimpinannya. Nurdin Abdullah langsung dihadapkan pada masalah banjir yang setiap tahun kerap melanda Bantaeng. Di tengah hadangan para lawan politiknya, beliau teguh menjalankan pembangunan cekdam. Hasilnya sangat nyata. Bantaeng bebas dari bencana banjir di musim hujan, sekaligus bebas dari bencana kekeringan di musim kemarau. Sektor pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten Bantaeng pun aman dari kekeringan.

Pelayanan kesehatan menjadi garapan selanjutnya. Beliau mengusung Brigade Siaga Bencana lengkap dengan layanan call center nya. Pasukan kesehatan tersebut menerapkan moto “Siap melayani anda di rumah”. Bahkan rumah sakit 8 lantai nanti akan siap melayani. Warga Bantaeng nantinya tidak perlu lagi repot-repot ke Makassar jika ingin mendapatkan layanan kesehatan.. Semua berawal dari keprihatinannya terhadap layanan kesehatan yang ada dan yang terutama, berawal dari keinginan untuk mengabdikan diri untuk Bantaeng.

Kebetulan, saya pernah melakukankunjungan dalam rangka tugas ke Kabupaten Bantaeng. Jika berkunjung ke sana, kita akan takjub dengan berbagai sentuhan pembangunan yang ada.  Tanpa meninggalkan sektor unggulannya di bidang pertanian, Bantaeng pun mulai menggarap sektor pariwisatanya. Sektor pariwisata tengah dipacu keras untuk menjadi sektor unggulan. Beberapa potensi objek wisata dan rekreasi pantai tengah dipercantik. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah digarap.

Satu yang beliau pegang hingga kini, tidak mau masuk ke dalam partai politik manapun. Tawaran untuk menjadi pemimpin partai dia tolak. Beliau masih tetap teguh dengan prinsipnya, tetap independen. Entah nantinya. Mungkinkah akan berubah  saat dia melangkah ke jenjang yang lebih tinggi? Untuk melenggang ke percaturan provinsi? Kita tunggu. Nurdin Abdullah layak untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Indonesia masih membutuhkan pemimpin yang mau melayani.

Semoga makin banyak bermunculan para pemimpin yang mau memimpin dengan hati, yang mau membaktikan diri untuk kemajuan negeri, yang dapat memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Indonesia pasti bisa.  (Del)

Gubernur Santri Zainul Majdi Termasuk Reformis Muda Versi Dino Patti Djalal

Gambar

Gubernur NTB : Dr. KH. Zainul Majdi, MA

Gubernur NTB  Dr. KH. Zainul Majdi, MA termasuk salah satu tokoh muda yang hadir dalam acara Forum Terbuka bertema “Reformis Hibrida-Reformis Horizontal” yang digagas oleh mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal di Jakarta, Sabtu (1/3/2014). Tokoh muda lainnya antara lain, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Walikota Makassar Ramdhan Pomanto. Nama Basuki Tjahaja Purnama dan Ridwan Kamil sudah banyak diberitakan di media dan dikenal luas oleh publik. Tidak demikian halnya dengan Zainul Majdi. Gaungnya kencang hanya sebatas Provinsi Nusa Tenggara Barat. Belum tentu semua mengenalnya. Tidak ada salahnya jika kita tengok rekam jejaknya.

Prestasi yang diraih oleh Zainul Majdi cukup mengagumkan. Beliau terpilih menjadi gubernur salah satu provinsi di Nusa Tenggara, yaitu Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008, ketika masih berusia 36 tahun (lahir di Pancor, Lombok Timur, 31 Mei 1972). Saat ini, beliau kembali menjalani amanahnya sebagai Gubernur NTB periode kedua, 2013-2018. Dipercaya kembali memimpin untuk periode kedua tentunya menyiratkan kepercayaan warga atas kepemimpinannya. Sebuah pengakuan atas keberhasilannya dalam mengawal pembangunan di NTB untuk kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan hasil pemilukada NTB Mei yang lalu memberikan perolehan 44% untuk pasangan Zainul Majdi dan M Amin dengan mengalahkan tiga kandidat lainnya.

Muda, berasal dari keluarga santri yang dihormati, pendidikan baik (lulusan Magister Jurusan Tafsir Hadits dan Ilmu Alquran Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir 1999), tak ayal membuatnya menjadi perhatian. Majdi dikenal dengan nama Tuan Guru Bajang. Tuan Guru adalah sebutan di kalangan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok untuk seorang ulama. Beliau cucu ulama paling karismatik di Lombok, yaitu Almagfurullah Syekh TGKH Zainuddin Abdul Majid atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Pancor.

Sosok Majdi yang seorang ulama memberikan warna yang berbeda dalam jajaran birokrasi di Provinsi NTB. PR terbesarnya adalah dalam rangka memperbaiki moral jajarannya, memasukkan nilai-nilai etika bagi pasukannya. Beliau tidak ragu untuk mencabut jabatan bawahannya yang terkait kasus korupsi. Bahkan seluruh pejabat diwajibkan menandatangani Pakta Integritas, salah satunya berisi kesiapan untuk mengundurkan diri jika terkait kasus korupsi.

Pada pertemuan bersama 4 tokoh reformis muda dan Dino Patti Djalal, Zainul Majdi mengungkapkan,  “Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendekatan kultural. Ada yang harus sistemik. Karena itulah saya terima ajakan masyarakat masuk kontestasi Gubernur NTB,” kata Majdi.

Majdi mengungkapkan pula bahwa dunia politik memiliki tantangan yang luar biasa. Apalagi menyangkut bidang birokrasi pemerintahan daerah. Beliau bahkan mengatakan, “Awal saya terpilih, saya panggil birokrasi. Saya ceramahi tentang surga neraka, tapi mereka ngantuk. Namun, suatu ketika dikumpulkan lagi, saya sampaikan, sebentar lagi kita lakukan mutasi. Mereka langsung semangat”. Orang sekarang memang lebih takut kehilangan jabatannya dibandingkan dengan neraka.

Hasil nyata sentuhan kepemimpinannya sudah mulai terlihat. Sektor pariwisata di Pulau Lombok mulai menggeliat, bahkan cukup pesat. Dengan adanya Bandar Udara Internasional Lombok, wisatawan memiliki kemudahan untuk melakukan kunjungannya. Jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari tahun 2010 yang hanya sekitar 500.000 orang, naik menjadi 750.000 orang tahun 2011 dan tahun 2012 menjadi satu juta wisatawan. Bidang kesehatan pun menunjukkan keberhasilannya. PAD naik sangat signifikan, naik hampir dua kali lipat.  (sumber: Republika.co.id).

Semoga makin banyak bermunculan tokoh-tokoh muda yang menginspirasi. Saatnya pula kita turut memberitakan tokoh-tokoh unggulan agar dapat menginspirasi tokoh lainnya. Tidak perduli dari mana atau dari partai mana mereka berasal. Asal untuk kemajuan negeri dan kesejahteraan masyarakat, untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga. (Del)

Sumber : disarikan dari suara pembaruan dan berita satu

Ridwan Kamil Nominator Walikota Terbaik 2014 bersama Jokowi dan Tri Rismaharini

Gambar

Indonesia patut berbangga hati. Di antara sekian banyak pemberitaan negatif tentang para pemimpin Indonesia, masih menyeruak berita yang mampu membesarkan hati, menyemburatkan sedikit cahaya harapan. Masih ada para pemimpin di Indonesia yang dinilai dunia sangat baik dalam mengawal kotanya.

Berdasarkan update dari situs www.worldmayor.com (27/2/2014), Ridwan Kamil turut dinominasikan sebagai walikota terbaik versi worldmayor.com. Beberapa hari yang lalu, Indonesia hanya diwakili oleh Jokowi dan Tri Rismaharini. Ternyata, sekarang telah berubah,  Indonesia diwakili oleh 3 pemimpin kota yang memang prestasinya patut diapresiasi, yaitu Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini. Masing-masing merupakan pemimpin Kota Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Melihat prestasinya selama memimpin kota, ketiganya memang layak dinominasikan.

World Mayor Project diumumkan sejak 7 Januari 2014. Saat ini, masih dalam tahap longlist (daftar panjang) nominator walikota terbaik. Daftar panjang akan terus diperbaharui secara berkala hingga bulan Mei sedangkan shortlist (daftar pendek) nya akan diumumkan pada bulan Juni nanti. Menurut World Mayor, masih banyak nama yang akan dimunculkan lagi selama putaran pertama World Mayor Project. Akan banyak nama-nama lainnya yang akan ditambahkan selama putaran Februari hingga Mei 2014.

Perlu diketahui bahwa world mayor merupakan penghargaan yang diberikan pada para walikota terbaik dunia sejak tahun 2004. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah para walikota di seluruh dunia atas kontribusinya dalam melayani warganya dan mengantar kotanya menjadi kota yang lebih baik. Pemilihan pemenang berdasarkan jumlah pemilih yang didapat oleh walikota bersangkutan melalui situs dan komentar yang masuk. Setiap orang dapat menominasikan pemimpin wilayahnya atau pemimpin dari wilayah lain melalui situs ini.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2008, dari 50 finalis yang ada, terselip nama Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo. Tahun 2010, tidak ada satupun walikota di Indonesia yang masuk nominasi. Tahun 2012, barulah Indonesia menorehkan prestasi. Tercantum nama 4 pemimpin kota di Indonesia yang masuk sebagai nominator, yaitu Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Walikota Solo Joko Widodo. Tidak hanya masuk nominasi, Jokowi berhasil menyabet gelar walikota terbaik ke tiga.

Untuk tahun 2014, Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini menjadi nominator bersama dengan 9 walikota/kandidat dari Amerika Utara, 8 kandidat dari Amerika Latin, 18 kandidat dari Eropa, 9 kandidat dari Asia, 2 orang dari Australasia dan 4 dari Afrika. Ketiga pemimpin Indonesia masuk sebagai nominator di antara pemimpin kota di Asia lainnya, yaitu:

  1. Mayor Anil Sole, Nagpur, India,
  2. Mayor Soichiro Takashima, Fukuoka, Japan,
  3. Mayor Edgardo Pamintuan dari Angeles City, Philippines,
  4. Mayor Juliet Marie Ferrer, La Carlota City, Philippines,
  5. Mayor Eric Saratan, City of Talisay, Philippines,
  6. Mayor Hani Mohammad Aburas, Jeddah, Saudi Arabia

Semoga ketiga pemimpin kota tersebut dapat menginspirasi pemimpin kota lainnya di Indonesia. Indonesia masih memerlukan mereka. Salam. (Del)

Sumber : http://www.worldmayor.com

Wagiman Telah Menjelma Menjadi Waliman

Gambar

Tri Rismaharini.
Sumber foto : http://data.tribunnews.com/

Terselip rasa bangga dan bahagia ketika pagi ini menyempatkan diri untuk membuka halaman situs www.citymayor.com. Pada halaman utamanya terpampang berita tentang 2 pemimpin kota di Indonesia dan isinya pun tidak mengecewakan. Berita yang menyejukkan setelah minggu yang lalu dipenuhi oleh beragam kabar tentang bencana. Satu berita tentang Jokowi yang semakin kencang digadang-gadang untuk menjadi RI-1 dan satu lagi berita tentang Tri Rismaharini, sang Walikota Surabaya.

Kekuatan media memang luar biasa. Dalam waktu tidak terlalu lama, bahkan dapat dikatakan sekejap, Walikota Surabaya melejit bak meteor, naik ke permukaan dan mendadak menjadi terkenal di seantero negeri. Jadi teringat ketika beberapa waktu lalu, tepatnya 8 bulan yang lalu, sempat menulis tentang Bu Risma. Waktu itu beliau belum seterkenal sekarang. Pamornya masih berada di kisaran Kota Surabaya. Kunjungan kerja ke Surabaya menggelitik hati untuk menuliskan tentang kiprah Bu Risma. Tulisannya bisa dilihat di Jokowi Harus Mencontoh Wagiman (22/6/2013) dan Dua Pemimpin Jempol, Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi (28/8/2013).

Situs yang memiliki arus utama penulisan tentang kiprah-kiprah para Walikota di dunia www.citymayors.com mulai kerap menulis tentang sepak terjang pemimpin kota di Indonesia. Bu Risma salah satu yang mulai sering diberitakan. Bahkan di halaman hari ini,  Bu Risma dinobatkan sebagai “Mayor of the month”. Bu Risma terpilih karena secara konsisten telah berhasil mengawal perkembangan kota Surabaya. Terutama pengawalan beliau terhadap pengembangan pelabuhan  yang tersendat selama 2 dekade. Sejak Bu Risma menjadi Walikota, lalu lintas pelabuhan meningkat hingga 200%. Sebuah predikat yang membanggakan.

Latar belakang pendidikan arsitekturnya turut mempengaruhi sentuhannya pada berbagai taman di Kota Surabaya. Beliau sangat peduli akan lingkungan warga kotanya. Beliau mengubah banyak lahan terlantar dan ruang terbuka yang terbengkalai menjadi taman-taman nan cantik. Tidak kurang 11 taman utama dengan tema yang berbeda, dimiliki Surabaya, mulai dari Taman Persahabatan, Taman Ekspresi, Taman Skate dan BMX, Taman Flora, dsb. Nyaris mirip dengan taman-taman yang sekarang coba diwujudkan pula oleh Ridwan Kamil di Bandung. Tidak usah heran karena memang ada keterkaitannya. Ridwan Kamil yang sama-sama memiliki latar belakang pendidikan arsitektur (ITB), sebelum menjadi Walikota Bandung sempat menggarap dan bekerja sama dengan Tri Rismaharini kala beliau masih menjabat di Dinas Pertamanan. Ridwan Kamil turut menggagas taman-taman di Kota Surabaya.

Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini memiliki modal kuat dalam menata kota. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan penataan kota yang mumpuni. Selain pendidikan arsitektur, Tri Rismaharini membekali diri dengan pendidikan manajemen pengembangan perkotaan di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan juga kursus di  Rotterdam, masih dalam bidang Manajemen Pengembangan Perkotaan.

Kiprah Tri Rismaharini di bidang lingkungan hidup tak hanya berhenti pada taman-taman kota. Surabaya memiliki agenda hijau dengan melibatkan sektor swasta, sekolah, universitas, dan pihak lainnya. Programnya terkait pelestarian hutan mangrove di sepanjang pantai Surabaya dan produksi barang-barang olahan mangrove seperti batik, sirup, dan makanan olahan mangrove lainnya turut mewarnai.

Tri Rismaharini sering mengungkapkan tentang perlunya memerintah tidak hanya untuk masyarakat tapi juga bersama dengan masyarakat. Sebuah kota harus menjadi rumah bagi warganya. Intinya, pengembangan sebuah kota tidak dapat terlepas dari sentuhan pada kehidupan warga kotanya. Kehidupan sosial budayanya. Risma memahami hal tersebut. Bu Risma  tidak menginginkan perkembangan kota Surabaya malah berakibat menjauhkan warganya, menyisihkan warga kotanya.  Untuk itulah, beliau juga memiliki perhatian penuh pada penanganan kesehatan, pendidikan, bahkan penanganan  lokasi-lokasi prostitusi.

Satu demi satu penghargaan diraih oleh Tri Rismaharini. Mungkin kurang tepat jika dikatakan “diraih”. Tepatnya “diberikan”, karena Bu Risma tidak memiliki maksud untuk meraih penghargaan, beliau hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Kota Surabaya yang dicintainya.  Untuk itulah beragam penghargaan layak diberikan padanya. Kemelut yang sekarang tengah dihadapi semoga cepat berlalu dan terselesaikan dengan manis. Semua demi masyarakat, khususnya warga Surabaya. Sangat sayang jika salah satu dari para pemimpin jempolan di negeri ini tersisihkan hanya karena ulah segelintir atau sekelompok orang yang ingin menodai negeri.

Walikota satu ini ternyata tidak hanya layak dijuluki Wagiman, Walikota Gila Taman. Bu Risma telah menjelma menjadi Waliman, Walikota Idaman. Tugas Bu Risma belum usai. Indonesia masih sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mau memimpin dengan hati. Tulus mengabdi pada negeri. Tanpa pamrih melayani warga. Demi kemajuan kota. Kami hanya bisa mendoakan semoga Bu Risma tetap tegar, tetap fokus dalam menata Surabaya. Bu Risma… Semangat..! Selamat pagi. Salam. (Del)

Para Pemimpin Jempol, Kami Bangga !

Beberapa bulan terakhir ini berita yang kurang sedap, kurang nyaman didengar, datang mengepung. Berita tentang praktek-praktek korupsi yang kian merajalela dan berita gonjang-ganjing politik seolah datang silih berganti dengan berita bencana di berbagai pelosok negeri. Bumi pertiwi seakan tengah dirundung duka, tengah menangis,  mengiringi musim banjir yang tak kunjung reda.

Namun, siang ini, rasa lega masih terselip di dada. Setidaknya, Indonesia masih memiliki harapan, memiliki asa yang semoga dapat terus dipupuk, supaya dampaknya terus bertumbuh dengan subur, dan menyebar ke seantero negeri.

Berita pertama datang dari Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Kang Emil telah memulai gebrakannya sejak awal dilantik menjadi pemimpin Kota Bandung. Berbagai terobosan telah dia lakukan, antara lain melalui penertiban pedagang kaki lima, penyediaan ruang publik dan ruang terbuka hijau, atau dengan kebijakannya untuk menerapkan denda Rp. 1 juta bagi warga yang berbelanja di pedagang kaki lima. Tak kalah menarik, Kang Emil juga menginstruksikan seluruh jajarannya supaya memaksimalkan berbagai media sosial untuk memberikan akses kepada masyarakat agar lebih mudah menyampaikan keluhan, atau berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan. Keterbukaan informasi birokrasi pun diberlakukan. Dari segi transportasi, Kang Emil juga telah menerapkan system parking meter di Jalan Braga. Bus tingkatnya sudah mulai berkeliling kota.

Gambar

Ridwan Kamil ketika kunjungan ke rumah Siti Rokayah

Siang ini, tersiar kabar, masih ada tindakan lain yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, yang layak menjadi inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Ridwan Kamil masih menyempatkan waktunya, di sela-sela kesibukannya, untuk menyambangi warganya yang tinggal di pelosok-pelosok, di sudut-sudut Kota Bandung. Ridwan Kamil tidak segan mendatangi warga yang kurang beruntung, untuk sekedar menyapa, santap bersama,  mendengar keluh kesahnya, dan menentukan yang bisa dia lakukan sebagai tindak lanjutnya. Siti Rokayah, warga yang dikunjungi merasa terharu atas perhatian pemimpinnya. Boleh jadi, dia merasa bahagia, bahwa pemimpinnya juga memberikan perhatian terhadap masalah yang menimpanya. Ridwan tengah menjalankan salah satu programnya, yaitu berupaya untuk menaikkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Salah satu caranya, dengan setiap satu minggu sekali, mengunjungi warga pra sejahtera di Kota Bandung.

Kita tidak perlu berburuk sangka terlebih dahulu. Tidak perlu terburu memberikan cap pencitraan. Kita lihat ketulusan dan tindakan yang akan dilakukan Kang Emil selanjutnya. Apakah hanya akan berhenti pada kunjungan semata, ataukah ada tindak lanjut yang tentunya dapat dirasakan tidak hanya oleh warga yang kebetulan terkunjungi. Kami percaya, Kang Emil memiliki jaringan yang dapat menindaklanjuti hasil kunjungannya.

Gambar

Ahok tak segan memuji pemimpin lainnya

Berita kedua yang tidak kalah menggembirakan, memberikan harapan datang dari Ahok. Salah satu sosok pemimpin Jakarta ini mau dengan jujur mengakui dan memberikan pujian pada pemimpin lainnya. Ini bukan masalah sepele. Salah satu ciri pemimpin yang patut diacungi jempol, adalah mau secara jantan mengakui keberhasilan pemimpin lainya, bahkan mau mencontoh kebijakan yang baik. Tidak perlu malu atau tidak perlu merasa rendah dianggap sebagai pengekor. Sebagai salah satu pimpinan di kota yang katanya miniatur Indonesia, kota yang menjadi barometer negeri, Ahok tidak sungkan untuk melontarkan pujian pada para pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak merasa bahwa kedudukan dan posisinya lebih bergengsi dibandingkan dengan pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak malu untuk menghaturkan pujian pada Ridwan Kamil. Tindakan ini bukan sesuatu yang mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Ahok secara tulus mengatakan, “Memang dia (Ridwan) bagus kinerjanya dan banyak kebijakan yang bisa kita tiru, banyak juga yang tidak bisa kita tiru”,  kata Basuki (28/1/2014). Ahok bukan sekali ini memuji keberhasilan pemimpin daerah lain. Hal yang sama juga pernah dia lakukan untuk Bu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Ahok memuji sistem e-budgeting yang diterapkan di Kota Surabaya.

Gebrakan yang dilakukan Ahok tidak kalah gaung dibandingkan dengan gebrakan yang dilakukan Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini. Jokowi pun salah satu pemimpin yang menginspirasi. Mereka semua adalah para pemimpin jempol yang tengah meniupkan angin harapan, asa yang masih bisa kita harap. Semoga dapat menularkannya pada para pemimpin lainnya, memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Semoga berita yang beredar tidak hanya tentang muramnya Indonesia, namun juga tentang harapan yang masih dapat kita nantikan. Indonesia pasti bisa. Salam. (Del).

Sumber:

  1. Kisah Janda Miskin ‘Diapeli’ Wali Kota Ridwan Kamil
  2. Puji Ridwan Kamil, Basuki Ingin Tiru Kebijakannya

Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini Akan Gratiskan Angkutan Umum

Mengikuti kiprah kedua walikota ini memang menarik. Kita terus menanti dan berharap banyak pada langkah dan terobosan keduanya. Keduanya memiliki kesamaan ide. Setidaknya dalam hal membenahi sistem transportasi kotanya masing-masing. Semuanya guna mengurai kemacetan yang senantiasa hadir di kota-kota besar.

Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung dan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya ternyata memiliki rencana yang hampir sama. Boleh dikatakan hanya “beti” saja. Beda-beda tipis. Intinya serupa. Memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum.

Bu Risma sebagai punggawa Kota Surabaya, memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum perkotaan (angkot). Sopir angkot akan diganjar dengan gaji sehingga para sopir tidak perlu pusing memikirkan target penumpang dan bertindak ugal-ugalan demi kejar setoran. Terobosan ini untuk mendorong masyarakat agar mau menggunakan angkot sebagai moda transportasinya. Rencana angkot gratis tercetus dari mulut Bu Risma sendiri  pada acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (20/11/2011). Rencananya, program angkot gratis akan direalisasikan mulai tahun depan. Tentunya selain program angkot gratis, tidak lupa pula diiringi dengan program peremajaan armada angkotnya dengan menggandeng koperasi angkot yang ada. Modal peremajaan angkot akan diberikan melalui koperasi angkot. Rute angkot pun akan terkoneksi dengan sistem angkutan monorel dan trem yang juga akan dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Semoga terwujud.

Bandung tidak mau kalah, ternyata Ridwan Kamil pun memiliki ide yang serupa tapi tak sama. Sama-sama memiliki ide menggratiskan angkutan umum. Namun, jika Bu Risma menggratiskan angkutan umum, maka Kang Emil (panggilan Ridwan Kamil) memiliki rencana mengratiskan angkutan umum bis pada waktu-waktu tertentu.

Yang akan digarap oleh Ridwan Kamil adalah program naik bus gratis bagi pelajar dan naik bus gratis khusus untuk hari Senin. Dengan menjalankan program naik bus gratis di Hari Senin, diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang tumpah ruah di jalanan Kota Bandung. Demikian yang disampaikan Ridwan Kamil di acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di jakarta, Rabu (20/11/2013). Pemerintah Kota Bandung pun berencana untuk menambah frekwensi program naik bus gratis menjadi pagi dan sore hari jika jumlah bis nya mencapai 100 unit. Kita tunggu.

Semoga rencana-rencana kedua pemimpin jempol di atas segera terwujud, segera terealisasi. Agar keruwetan jalanan di kedua kota tersebut sedikit demi sedikit terurai, dan terselesaikan. Bagaimana dengan Jakarta? Jokowi dan Ahok pun memiliki rencana. Jakarta pun tengah berupaya mengurai kemacetan yang terjadi. Mencoba mengurai satu persatu benang kusut yang melilitnya. Jokowi dan Ahok harus lebih siap. Kemacetan yang ada sekarang akan ditambah dengan gempuran mobil murah yang terlihat mulai melanda Jakarta. Jokowi-Ahok memiliki strategi lain. Program ERP, monorel, MRT, tambahan  armada bus Transjakarta, peremajaan kopaja, metromini, dsb sangat dinanti. Semua menunggu dengan harapan dan asa yang besar. Semoga. (Del)