Melepaskan Segala Penat di Pulau Lengkuas, Belitung

Telah lama mendamba untuk berkunjung ke Pulau Belitung. Salah satu yang memicu keinginan untuk berkunjung ke sana adalah film Laskar Pelangi. Sebuah film dari anak negeri yang mampu mengubah sebuah pulau yang dulunya sepi promosi menjadi mendadak ramai oleh kunjungan para wisatawan. Kebetulan, minggu lalu diberi kesempatan untuk berkunjung ke sana.

Tidak ada yang salah dengan industri pariwisata. Selama dapat mengelolanya dengan baik dan tetap dapat menjaga aset pariwisatanya dengan apik. Belitung harus membuktikannya. Industri pariwisata di Pulau Belitung jauh lebih baik dibandingkan dengan penambangan timah yang hanya meninggalkan lubang-lubang besar yang ditinggalkan begitu saja. Tanpa penanganan pasca tambang.

Gambar

Pemandangan dari Puncak Mercusuar Pulau Lengkuas

Salah satu lokasi wisata yang sangat sayang untuk dilewatkan ketika beranjang sana ke Pulau Belitung adalah Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Pulau Lengkuas merupakan primadona wisata di Pulau Belitung. Pulau Lengkuas merupakan salah satu pulau di antara ratusan pulau yang banyak bertebaran di sekitar Pulau Belitung. Tidak sah rasanya jika bertandang ke Pulau Belitung tanpa menyeberang ke Pulau Lengkuas. Maha karya Sang Pencipta pada pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Belitung sungguh luar biasa. Pemandangan pulau kecil yang dikitari oleh batu-batu granit raksasa sungguh merupakan perpaduan yang luar biasa indah. Serasi dengan menjulangnya mercusuar yang ada di tengah Pulau Lengkuas. Berdiri dengan tegap seolah hendak menjaga dengan setia keindahan Pulau yang ada.

Gambar

Pantai Tanjung Kelayang, Belitung

Pulau Lengkuas terletak di sebelah utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Tidak perlu risau, terdapat banyak perahu yang dapat disewa dan dengan senang hati mengantarkan ke sana. Untuk menikmati keindahan Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lain di sekitarnya, setidaknya kita minimal menyediakan waktu dari pagi hingga sore. Agar kita dapat menikmati alam dengan puas dan membawa pulang kenangan indah.

Gambar

Perahu yang siap mengantar berkeliling di pulau-pulau sekitar Pulau Lengkuas

Perjalanan pagi itu berawal dari Pantai Tanjung Kelayang. Sebelum sampai di tujuan utama, yaitu Pulau Lengkuas, menyempatkan singgah di tujuan antara, Pulau Kepayang. Pulau Kepayang tidak kalah menarik. Pantai pasir putih yang sangat halus dengan deretan batu granit yang indah memberikan keunikan tersendiri. Menjadi penambah keindahan pantai. Pulau Kepayang dulunya dikenal dengan sebutan Pulau Babi karena terdapat peternakan babi di sana. Namun, sekarang tidak lagi. Pulau ini juga merupakan tempat penangkaran penyu. Kita dapat berfoto bersama penyu di sana.

Gambar

Perahu dan jernihnya air, paduan yang mengagumkan

Perjalanan berlanjut, berkeliling di antara pulau-pulau yang banyak bertebaran di sekitar Pulau Lengkuas. Penat hilang sudah berganti dengan decak  kagum pada karya Maha Agung Sang Pencipta.

Gambar

Salah satu pulau kecil di sekitar Pulau Lengkuas

Gambar

Pulau nan indah…

Sebelum mendarat di Pulau Lengkuas, sempat snorkeling di spot-spot sekitar Pulau Lengkuas. Satu kata, “WOW!”. Sungguh indah. Tidak kalah dengan Raja Ampat, lebih indah dibandingkan dengan Bunaken yang sudah mulai rusak. Terumbu karang di sekitar Pulau Lengkuas berwarna warni. Berbentuk seperti bunga-bunga besar dan kecil. Ditambah dengan gerombolan ikan beragam corak. Sungguh indah. Menakjubkan. Laut yang tidak terlalu dalam, arus yang nyaman, air yang begitu jernih, dan jarak antar lokasi snorkeling yang berdekatan sungguh sangat menunjang. Sungguh sayang, tidak sempat belajar diving di sini. Semoga di kunjungan berikutnya.

Gambar

Mercusuar di Pulau Lengkuas, tegak berdiri, menjaga sekitar

Mercusuar Pulau Lengkuas telah nampak dan menjadi landmark nya. Tegak berdiri sejak jaman Belanda, tahun 1882. Sudah sangat tua, namun hingga kini masih terawat dengan baik. Masih berfungsi dengan baik pula. Tetap menjalankan tugasnya untuk memandu kapal-kapal yang berlayar di malam hari.

Perlu upaya kuat untuk mendaki mercusuar. Cukup membuat lelah. Tapi jangan patah semangat. Kelelahan mendaki mercusuar akan terbayar lunas oleh pemandangan indah yang terpampang dari puncak mercusuar. Sangat rugi bila tidak mencapai puncak mercusuar. Untuk mendaki puncak mercusuar terdapat 18 tangga melingkar. Masing-masing tangga terdiri dari 18 anak tangga. Total ada 324 anak tangga.

Untung ketika mendaki mercusuar, dilakukan secara beramai-ramai. Mungkin jika itu dilakukan secara sendiri, termasuk uji nyali juga. Usia yang telah hitungan abad dan suasana yang terbangun di dalamnya, cukup membuat bulu kuduk merinding. Suara yang kita keluakan akan menghasilkan gema. Ditambah suara berderak yang muncul dari anak tangga yang kita injak. Hmmm…sekali lagi, untung dilakukan secara beramai-ramai.

Gambar

Pemandangan dari puncak mercusuar, sangat indah

Gambar

Kombinasi air jernih, kumpulan batu, pasir putih, dan perahu yang bersandar. Sungguh indah

Pencapaian hingga puncak mercusuar menghilangkan perasaan seram yang sempat terselip di hati. Semua hilang. Terbang bersama angin yang bertiup dari sela jendela mercusuar. Beralih dengan pemandangan yang luar biasa indah. Gradasi warna air laut tampak dengan jelas. Paduan perahu yang berderet rapi tertambat di pinggir pantai dan air biru jernih sungguh sangat menawan. Tak cukup rasanya kata terangkai untuk melukiskan indahnya alam. Mata benar-benar dimanjakan oleh pemandangan yang tampak dengan jelas dari puncak mercusuar.

Gambar

Gradasi warna laut, perahu tertambat, pasir putih, hijaunya pepohonan…menakjubkan

Gambar

Kumpulan granit berwarna keputihan, menambah indahnya alam di sekitar Pulau Lengkuas

Pengunjung dapat melihat alam dari puncak mercusuar ke segala arah. Semua terlihat indah. Paduan warnanya begitu serasi. Cobalah tengok ke sekitar. Dari puncak, terlihat tumpukan kumpulan batu granit berwarna keputihan membentuk pulau-pulau kecil. Pohon-pohon dengan daun hijaunya mencoba menaungi. Cuaca cerah seakan memberikan dukungan penuh untuk mendokumentasikan lukisan alam nan indah. Sangat sempurna.

Gambar

Pulau Burung

Selepas dari Pulau Lengkuas, masih sempat berkeliling ke pulau-pulau lain yang lebih kecil. Pulau Burung. Pulau ini dinamai Pulau Burung karena ada sebuah batu granit raksasa yang bentuknya seperti kepala burung. Tidak kalah indahnya.

Jadi, siapa yang tidak tertarik untuk berkunjung ke Pulau Belitung? Rasanya tidak ada. Semoga lonjakan pelancong yang berkunjung ke sana tidak mengakibatkan rusaknya keindahan yang ada. Semoga keindahan Pulau Belitung tetap terjaga dengan apik. Semoga jernihnya air laut dan putihnya pasir tidak tercemari oleh sampah yang tertinggal bersamaan dengan membludaknya para wisatawan yang datang bertandang. Semoga kita masih dapat melepaskan segala penat pada batu-batu granit indah dan menumpahkan kegalauan pada lukisan pemandangan indah maha karya Sang Pencipta. Semoga. Salam. (Del)

Advertisements

Senggigi Harus Unjuk Gigi

Kebetulan, dalam jangka waktu yang tidak terlampau lama, kembali mendapatkan tugas ke Pulau Lombok. Terlihat ada yang berbeda dengan kawasan Senggigi dibandingkan kunjungan sekitar 2 bulan yang lalu. Di kawasan seputar Senggigi, terutama di jalur tempat para wisatawan nongkrong sekedar menikmati suasana indahnya pantai Senggigi, sekarang mulai ditata, dalam arti telah ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung “tempat nongkrong” di sepanjang Pantai Senggigi. Di beberapa spot lokasi telah dilengkapi dengan area yang disediakan khusus untuk sekedar menikmati suasana alam, menikmati keindahan Pantai Senggigi. Salah satunya berupa bangunan terbuka dengan dilengkapi bangku dan meja. Semua ditujukan agar para wisatawan dapat menikmati suasana alam sambil menikmati jagung bakar, rujak, kelapa muda, atau secangkir kopi.

Gambar

Pantai Senggigi nan indah

Dari beberapa spot di sepanjang jalan yang menyusur Pantai Senggigi, para wisatawan dapat rehat sejenak, menikmati indahnya alam, indahnya Pantai Senggigi yang terhampar di bawahnya. Sejenak melepas penat, atau menerbangkan khayalan ke negeri antah berantah, atau membiarkan hati menggalau ditemani hembusan angin yang menerpa.

Gambar

Pantai Senggigi

Gambar

Menikmati jagung bakar di Pantai Senggigi

Gambar

Jagung bakar di Pantai Senggigi

Penataan kawasan di sepanjang pantai Senggigi sudah benar. Selain menyediakan alternatif kawasan wisata pantai yang murah meriah dan dapat dinikmati semua wisatawan, juga untuk menepis anggapan bahwa pantai hanya dikuasai oleh hotel dan resort yang berderet di sepanjang Pantai Senggigi.

Gambar

Sampah yang berserakan, sangat mengganggu

Niat untuk menata dan membenahi kawasan Senggigi sudah baik, namun sayang seribu sayang. Sekali lagi, warga, khususnya para pelaku pariwisata di Pulau Lombok seakan belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ini merupakan salah satu modal jika ingin bergelut di dunia pariwisata. Ada hal yang terasa mengganggu ketika kita melayangkan pandang pada indahnya suasana. Ada sesuatu yang merusak pandangan, sangat kontras dengan indahnya pantai yang terbentang di bawah sana.

Gambar

Lereng yang dipenuhi sampah

Para pedagang seharusnya diberikan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Juga mengingatkan para pengunjung, agar tidak membuang sampah sembarangan. Jadi teringat dengan kesadaran pelaku wisata di Pulau Bali. Para pedagang dengan kesadaran penuh, di pagi hari sebelum membuka lapak di sepanjang Pantai Bali, baik di Sanur, Kuta, maupun pantai yang lainnya, dengan sukarela, membersihkan sampah/kotoran yang ada. Mereka sadar, lingkungan yang bersih tentunya akan tetap mengundang wisatawan datang berkunjung. Ini yang belum dimiliki oleh pelaku wisata di Lombok. Perlahan, diperlukan penyadaran bagi para pelaku wisata di Lombok. Sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Terlihat tebaran dan onggokan sampah di bawah tebing. Tebing seakan menjadi tempat sampah besar. Sangat mengganggu pandangan. Perlu pembenahan pula.

Untuk mendukung pariwisata Lombok, perlu ditunjang oleh penyadaran masyarakatnya, khususnya para pelaku yang terlibat dalam pariwisata. Masih sering ditemui, hal-hal yang mengganggu. Misal, banyaknya pedagang asongan di sepanjang Pantai Senggigi, Pantai Kuta, maupun Pantai Tanjung Aan, yang menjajakan dagangannya dengan sedikit “memaksa” atau kurang ramah.

Memang membutuhkan waktu. Bali pun demikian.  Bali sekarang, tidak serta merta seperti sekarang. Membutuhkan proses pembelajaran industri pariwisata yang cukup panjang. Semoga Lombok pun dapat belajar, untuk menata, mengembangkan, dan mengelola potensi pariwisatanya. Sehingga semakin banyak destinasi wisata Indonesia yang muncul ke permukaan. Sengigi pun harus unjuk gigi. Salam. (Del)

NTB = Nasib Tergantung Bali

NTB = Nasib Tergantung Bali. Sejujurnya, agak terkejut juga mendengar anekdot ini. Perkataan tersebut meluncur dari mulut warga Provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri. Tersirat rasa pesimis di sana. Terbersit keputus asaan akan kondisi yang ada. Pariwisata Lombok menyimpan berjuta potensi. Tidak kalah dengan kondisi alam di Bali. Banyak pantai di Lombok yang sama indahnya dengan yang ada di Bali. Mulai dari Pantai Senggigi, Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan, pink beach di Kabupaten Lombok Timur, bahkan masih banyak lagi pantai yang belum tereksplorasi. Ditambah dengan pesona tiga gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Potensi Lombok terasa semakin lengkap dengan beragam ciri khas lainnya yang dapat “dijual” untuk pengembangan potensi pariwisatanya, misal adat dan budaya suku aslinya, Kampung Sade, makanan khas taliwang, hasil olahan budidaya rumput laut, kerajinan emas dan mutiara, serta sejuta potensi lainnya.

Lalu, mengapa muncul anekdot “Nasib Tergantung Bali? Bukankah akan lebih indah jika pengembangan pariwisata di Pulau Lombok dapat saling melengkapi, dapat saling mendukung dengan pengembangan pariwisata di Pulau Bali? Juga dapat mendukung pengembangan pariwisata MICE yang tengah gencar dilakukan di Pulau Bali. Seperti beberapa waktu berselang, ketika Bandara Internasional Lombok (BIL), bandara yang ada di Pulau Lombok, turut pula mendukung penyelenggaraan APEC dengan menyediakan Bandaranya sebagai landasan alternatif maupun tempat parkir pesawat-pesawat peserta APEC.

Gambar

Ilustrasi Masterplan Mandalika Resort
Sumber : http://www.mandalikaresortlombok.com/what-is-mandalika-resort.html

Mungkin ini dilatarbelakangi oleh  rencana pengembangan beberapa kawasan wisata di Pulau Lombok yang seakan jalan  di tempat. Salah satunya terkait dengan pengembangan Kawasan Wisata “Mandalika Resort”.  Mungkin juga karena kebetulan yang menggarap Kawasan Wisata Mandalika Resort sama dengan yang menggarap Kawasan Wisata Nusa Dua di Bali, yaitu Bali Tourism Development Corporation (BTDC), sehingga muncullah anekdot tersebut. Walaupun, sesungguhnya, kesamaan korporasi yang mengelola tidak menjadi masalah sepanjang pelaksanaannya juga berhasil seperti yang telah dilakukan di Kawasan Wisata Nusa Dua Bali.

Gambar

Pantai Tanjung Aan
Sumber Foto: dokumen pribadi

Pengembangan Kawasan Wisata Mandalika Resort direncanakan akan dilakukan di kawasan seluas lebih dari 1.000 Ha.  Mandalika Resort terletak di selatan Lombok dengan jarak hanya sekitar 20 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Lombok, juga hanya 25 menit dari terminal feri utama di Pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Di kawasan seluas 1.035 Ha, Mandalika Resort memiliki 7,5 km pantai indah dan teluk, serta dikelilingi oleh zona konservasi seluas kurang lebih 3.000 Ha.

Pelaksanaan pengembangan seakan jalan di tempat, karena kawasan Mandalika telah dicanangkan oleh SBY sejak Oktober 2011. Namun hingga saat ini, belum terlihat jelas tanda-tanda kegiatannya. Memang sudah mulai, namun progressnya terasa lambat. Bahkan, masih terkendala oleh penyelesaian 135 Ha. lahan yang diklaim oleh beberapa pihak, sehingga belum dapat dilakukan pembebasan. Pihak DPRD Provinsi NTB, mendesak Pemerintah Provinsi  untuk mengambil alih penanganan Mandalika.

Angin segar mulai bertiup, akan diupayakan penyelesaian masalah lahan karena investor tidak akan mulai membangun bila masalah lahan belum terselesaikan. Semoga bermacam program pengembangan pariwisata di Pulau Lombok dapat berjalan dengan lancar. Sehingga tidak akan ada lagi anekdot NTB = Nasib Tergantung Bali. Anekdot tersebut dapat berganti menjadi NTB = Nyaman Tiada Bandingannya.  Sehingga dapat menarik minat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Salam. (Del)

Jangan Biarkan Bunaken Merana

Gambar

Sumber Foto : Adipati Rahmat

Siapa yang tidak mengenal Taman Nasional Bunaken ? Bunaken sudah merupakan salah satu icon pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara dan juga merupakan aset yang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kota Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya. Hingga sekarang, aktivitas ekonomi di sekitar Taman Nasional Bunaken bertumpu pada kegiatan ekowisata. Bunaken mengandalkan daya tarik wisata bahari keindahan alam bawah lautnya.

Gambar

Aktivitas Ekonomi Bunaken
Sumber Foto: Adipati Rahmat

Aktivitas ekowisata yang dilakukan di Taman Nasional Bunaken jika tidak dikelola dengan baik berpotensi menghambat pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan yang pada akhirnya berpengaruh pada perekonomian dari sektor pariwisata.  Wilayah pesisir laut kawasan Bunaken yang meliputi daratan dan perairan pesisir sangat penting artinya bagi masyarakat Kawasan Bunaken dan sekitarnya. Bunaken bukan hanya sumber pangan melalui kegiatan perikanan dan budidaya laut. Bunaken juga lokasi bermacam sumber daya alam serta pemandangan alam yang indah, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Juga penting artinya sebagai alur pelayaran.

Bagian daratan wilayah pesisir Kawasan Bunaken dan sekitarnya telah berkembang pusat-pusat pemukiman penduduk. Lebih dari 20.000 penduduk yang bermukim di Kawasan Bunaken dan sekitarnya. Perlu diperhatikan agar kegiatan tersebut dapat berlangsung serasi. Suatu kegiatan dapat menghasilkan hasil samping yang dapat merugikan kegiatan lain, misalnya limbah industri yang langsung dibuang ke lingkungan pesisir, tanpa mengalami pengolahan tertentu sebelumnya dan dapat merusak sumber daya hayati akuatik, yang merugikan perikanan maupun sumberdaya laut yang lainnya.

Gambar

Terumbu Karang di Bunaken
Sumber Foto : Adipati Rahmat

Kecenderungan rusaknya ekosistem alamiah, seperti yang terjadi di Kawasan Bunaken dan sekitarnya, yaitu semakin berkurangnya luas hutan mangrove dan rusaknya terumbu karang, terutama disebabkan oleh tindakan pengelolaan sumberdaya yang tidak mempertimbangkan faktor lingkungan. Dari sudut pandang pembangunan, sebenarnya pengalihan fungsi ekosistem alamiah menjadi peruntukan budidaya secara ekonomi tidak menjadi masalah, sepanjang masih pada batas-batas yang dapat ditolerir oleh ekosistem alamiah dalam suatu kawasan pembangunan.

Adanya potensi ekonomi Kawasan Bunaken dan sekitarnya yang cukup besar dan menjanjikan, memberikan kesempatan pada masyarakat Kawasan Bunaken dan sekitarnya untuk melakukan eksploitasi secara ekonomi yang terkadang tanpa mempertimbangkan lingkungan. Dampaknya mulai terasa sekarang. Pada beberapa lokasi terjadi kerusakan terumbu karang dan pencemaran sampah. Jika hal ini terus berlangsung dan tanpa adanya penanganan pengelolaan yang baik, tentunya akibat yang ditimbulkan akan semakin fatal. 

Untuk mengatasi bermacam permasalahan lingkungan laut Kawasan Bunaken dan sekitarnya diperlukan pengelolaan lingkungan laut dengan bertumpu pada beberapa hal berikut :

1.  Pengelolaan dilakukan dengan orientasi keuntungan ekonomi jangka panjang

Selama ini pemanfaatan kawasan pesisir dan laut dilakukan dengan pertimbangan yang lebih banyak berorientasi untuk meraih keuntungan ekonomi jangka pendek (seperti industri, pemukiman) tanpa mempertimbangkan keuntungan jangka panjang (konservasi). Akibatnya, apabila terjadi konflik antara pemanfaatan sumberdaya untuk tujuan jangka pendek dengan tujuan jangka panjang, maka seringkali pembangunan yang bertujuan jangka panjang tersisihkan.

2. Menumbuhkan kesadaran akan nilai strategis sumber daya yang dapat diperbaharui dan jasa lingkungan bagi pembangunan ekonomi.

Dari sisi nilai strategis sumber daya hayati laut, sektor kelautan sepertinya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan dunia swasta, karena dianggap nilai strategisnya masih kurang menarik dibandingkan nilai ekonomi jangka pendek dan menengah. Padahal sumber daya yang dimiliki oleh sektor kelautan tidak hanya hutan mangrove saja, namun masih terdapat terumbu karang, padang lamun dan rumput laut.

3.      Memberikan sosialisasi dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi.

Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi disebabkan karena pelaku pengrusakan lingkungan tidak menyadari akan bahaya jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan yang dilakukannya.

4.      Melakukan pengawasan, pembinaan, dan penegakan hukum.

Diperlukan pengawasan, pembinaan, dan penegakan hukum. Pengawasan dan penegakan terhadap pelaksanaan hukum dilakukan baik di tingkat masyarakat maupun pemerintah agar kecenderungan pengrusakan lingkungan laut yang lebih parah tidak terjadi. Tidak adanya suatu lembaga khusus yang independen dengan otoritas penuh dalam melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam sangat menyulitkan. Meskipun di Indonesia telah banyak hukum dan peraturan yang mengatur tentang pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan yang berkelanjutan, namun pada kenyataannya hukum dan peraturan-peraturan tersebut banyak yang tidak diimplementasikan. Ini disebabkan lemahnya penegakkan hukum (law enforcement), egoisme sektoral (sectoral egoism) dan lemahnya koordinasi antar sektor.

Penutup

Pengelolaan sumberdaya lingkungan laut baik dari sektor perikanan, maupun pariwisata di Kawasan Bunaken dan sekitarnya sebaiknya dilakukan dengan tidak melampaui kapasitas dan daya dukung lingkungannya. Perlu implementasi dan penegakan hukum (law enforcement) dalam bidang kelautan. Pengimplementasian dan penegakan hukum di Indonesia masih sangat lemah. Persoalan penegakan hukum dan peraturan laut cenderung menciptakan konflik antar sektor pembangunan, antar institusi yang terkait dengan pemanfaatan ruang, maupun konflik antar masyarakat. Dibutuhkan perangkat hukum dan peraturan yang dapat menjamin interaksi antar sektor yang saling mendukung dan memiliki komitmen untuk menegakkan peraturan. Tanpa itu semua, permasalahan di laut dan pesisir akan tetap tumpang tindih dan bermuara pada kerusakan lingkungan.

Perlunya pengelolaan yang terintegrasi antar sektor yang terkait secara terpadu dan efisien. Sama halnya dengan penataan kawasan, dalam hal pengelolaan lingkungan laut pun, diperlukan integrasi antar sektor yang terkait sehingga penggunaan sumber daya pesisir dapat dilakukan secara terpadu dan efisien. Penekanan pada sektoral dan hanya memperhatikan keuntungan sektornya dan mengabaikan akibat yang timbul terhadap sekotr lain mengkibatkan terjadinya konflik-konflik antara berbagai kepentingan. Pada Kawasan Bunaken dan sekitarnya, sektor perikanan bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan tangkap. Sektor pariwisata bertujuan meningkatkan jumlah wisatawan yang melakukan snorkeling dan scuba diving. Pengembang bertujuan membangun kota pantai Manado yang bisa menikmati keindahan Pulau Manado Tua dan Bunaken, sementara Balai Pengelola Taman Nasional Laut Bunaken ingin mengkonservasi keanekaragaman hayati lautnya. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, masing-masing pihak menyusun perencanaan sendiri-sendiri, sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsinya. Untuk itulah perlu integrasi antar sektor agar tumpang tindih pemanfaatan dan konflik tidak terjadi.

Segera selamatkan Bunaken. Jangan biarkan Bunaken semakin merana. (Del)