Reklamasi Tidak Hanya di Jakarta, Mari Bermain dengan Google Earth

Hingga kini, gonjang-ganjing masalah reklamasi Teluk Jakarta masih berlangsung dan sepertinya masih akan terus berlanjut. Ombak dan badai tidak hanya menghampiri area reklamasi namun juga menghantam para pelaku yang terlibat di dalamnya. Beberapa anggota DPRD DKI Jakarta mulai antri diperiksa, bahkan di antaranya sudah berstatus tersangka.

Para pengusaha pengembang skala besar di lahan reklamasi turut terseret dalam pusaran kasus. Aroma permainan fulus kental terasa dalam pembahasan Raperda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) serta Raperda Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta. Pembahasan terkesan diulur-ulur tak kunjung selesai dan ternyata itu merupakan salah satu modusnya.

Gelombang tsunami penindakan kasus reklamasi Teluk Jakarta sepertinya masih akan berulang datang silih berganti. Tak ketinggalan, para eksekutif di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun turut disibukkan bolak-balik pemeriksaan ataupun bersaksi. Bahkan Ahok pun seperti kebakaran jenggot ketika Menko yang lama, Rizal Ramli secara lisan “menghentikan reklamasi” walau belum sempat keluar hitam di atas putihnya.

Ahok sudah kadung meminta dan menerima kontribusi dari para pengembang. PT. Agung Podomoro Land melalui anak usahanya, PT. Muara Wisesa Samudera, pengembang reklamasi Pulau G atau Pluit City, mengklaim telah memberikan kontribusi berupa 13 proyek senilai Rp. 392 miliar kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.  Kontribusi tersebut memang bukan untuk kantong Ahok, Sang Gubernur, namun untuk masyarakat Jakarta.

Beberapa proyek yang termasuk dalam kontribusi tambahan dari PT. APL di antaranya pembangunan rumah susun Daan Mogot, furniture rusun Daan Mogot, Rumah Pompa di Muara Karang, tiang pancang PJU Kali Ciliwung, dan pembangunan jalan inspeksi di sejumlah ruas sungai di Jakarta. (Sumber).

Tinggal tunggu bagaimana reaksi dan tindakan Menko Luhut, selaku Menko yang baru. Saya pribadi sangat berharap, Bapak Menteri ATR yang baru, Bpk Sofyan Djalil, mengambil porsi yang lebih serius, untuk menangani carut marut permasalahan reklamasi. Paling tidak, tidak seperti Pak Menteri sebelumnya yang terkesan tidak ambil tindakan yang berarti. Padahal, sangat jelas itu domain tata ruang. Pak Menteri harus ambil sikap dan tindakan.

Jakarta memang seksi dan selalu menjadi perhatian utama bagi Indonesia. Konon karena DKI Jakarta merupakan etalasenya Indonesia. Sesuatu yang terjadi di Jakarta, gaungnya akan terasa sampai belahan wilayah Indonesia lainnya. Terlebih di tengah panasnya persaingan menuju DKI 1. Ahok seakan menjadi target tembak beragam pihak, terutama pihak yang berseberangan dengannya. Tulisan ini tak hendak membahas reklamasi Teluk Jakarta, apalagi membahas pihak-pihak yang bersinggungan dengan Teluk Jakarta. Sudah banyak yang membahasnya.

Tulisan ini hanya ingin memberikan gambaran lain tentang reklamasi. Reklamasi tidak hanya dilakukan di Jakarta saja.  Kota-kota lainnya di Indonesia juga banyak yang telah dan sedang melakukan reklamasi. Beragam alasan dan tujuan pelaksanaan reklamasi. Diantaranya untuk menambah lahan perkotaan yang semakin mahal dan terbatas, baik untuk permukiman ataupun untuk kawasan perdagangan dan jasa, seperti yang dilakukan di Kota Manado, Kota Palu, Kota Makassar, dan kota lainnya di Indonesia. Atau untuk menambah Ruang Terbuka Hijau maupun Ruang Terbuka Non Hijau kota sebagai land markkota seperti yang dilakukan di Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan dengan Pantai Seruni nya.

Adapula karena alasan keterbatasan pengembangan lahan ke arah daratan, karena kondisi lahan di daratan berupa perbukitan dan pegunungan, seperti halnya di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kota Ternate didominasi dengan lahan perbukitan dan pegunungan, sehingga penambahan lahan melalui reklamasi merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan. Bahkan, ada pula yang ditujukan sebagai tempat untuk penampungan hasil tambang, seperti di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.

Reklamasi tidak hanya dilakukan di Kota Jakarta, namun sudah merambah kota-kota lainnya di Indonesia. Pelaksanaan reklamasi di kota lainnya memang cenderung lebih adem ayem, lebih senyap dibandingkan dengan pelaksanaan reklamasi di Kota Jakarta. Bahkan beberapa nyaris tidak terdeteksi media.

Beberapa kasus sempat ramai di media seperti halnya kasus Reklamasi Teluk Palu, namun gemanya tidak sedahsyat Jakarta yang sampai mengundang para menteri di jajaran kabinet turun tangan.  Padahal, menurut hemat saya, permasalahan, mulai dari proses hingga perijinannya pun tak kalah seru.

Beberapa reklamasi yang dilaksanakan tidak diamanatkan/tidak tercantum dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota nya, tidak dilengkapi dengan rencana detail tata ruang sekitar kawasan reklamasi, bahkan beberapa masih belum dilengkapi perijinan.

Saat ini, dengan teknologi yang ada, sangatlah mudah untuk mendeteksi perubahan bentang alam yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah administrasi Indonesia. Setiap orang bisa melakukannya. Setiap warga bisa melakukan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang ada. Kita dapat dengan mudah membuka aplikasi Google Earth dan memanfaatkannya. Demikian pula halnya untuk mendeteksi reklamasi yang terjadi. Baiklah, mari kita bermain-main dengan Google Earth.

Berikut saya tampilkan rangkaian Gambar Citra secara historical yang didapat dari aplikasi Google Earth untuk reklamasi yang dilakukan di Teluk Palu, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Ini hanya merupakan salah satu contoh, masih banyak reklamasi lainnya yang terjadi di Indonesia.

Rangkaian citra progres reklamasi di Teluk Palu, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Sumber: Google Earth

Dari Citra Google Earth tertanggal 22 Juni 2013, terlihat kegiatan reklamasi belum terlaksana. Citra Google Earth tertanggal 10 Maret 2014, kegiatan reklamasi mulai nampak. Proses pelaksanaan reklamasi mulai berlangsung. Citra Google Earth tertanggal 13 Juli 2015, kegiatan reklamasi semakin meluas dan menampakkan hasil yang signifikan.

Bahkan, citra Google Earth tertanggal 16 Februari 2016, kegiatan reklamasi semakin meluas, walau belum tampak bangunan di atasnya. Rangkaian gambar di atas memaparkan secara jelas bahwa hanya dalam jangka waktu kurang dari 3 tahun, proses reklamasi pantai di Teluk Palu sangat pesat.

Ilustrasi gambar yang didapat dari Google Earth  di atas, belum tentu merupakan proses reklamasi yang terindikasi pelanggaran. Tidak semua kegiatan reklamasi melanggar. Menurut hemat saya, reklamasi bukan hal yang haram, bukan pula hal yang tabu untuk dilakukan. Reklamasi sah dan dapat dilakukan asal memenuhi aturan dan persyaratan yang ditetapkan.

Reklamasi pantai merupakan salah satu tindakan dalam upaya pengembangan kota. Kegiatan reklamasi sudah banyak diterapkan oleh Negara dan kota lain, misal yang menghadapi kendala terbatasnya lahan daratan (keterbatasan lahan) sehingga pengembangan ke arah daratan sudah tidak dimungkinkan lagi dan diperlukan “daratan” baru.

Pertanyaannya, “Sudah sesuaikah dengan aturan yang ada? Sudahkah memiliki dokumen rencana yang lengkap? Sudahkah memiliki dokumen Amdal? Sudah lengkapkah dokumen perijinannya?” Itulah yang perlu ditelisik lebih lanjut dan itu tentunya tidak cukup hanya dilakukan dengan bermain-main Google Earth.

Ilustrasi gambar di atas hanya sebatas rangkaian gambar perkembangan/progress pelaksanaan reklamasi. Untuk menelisiknya lebih lanjut, kita perlu menyandingkannya dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/kota yang bersangkutan. Jika tidak sesuai dengan fungsi dan peruntukan yang tertuang dalam RTRW, ditelisik lebih lanjut lagi dokumen perijinannya, .

Terselip harapan, semoga ke depan, tidak hanya aplikasi Google Earth saja yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Dokumen rencana tata ruang pun demikian, SHP file peta rencana pola ruang yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota di Indonesia dapat diakses semua orang, sehingga masyarakat dapat turut melakukan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayahnya.

Hehehe…  Sudah dulu deh… sisanya, nanti saja bersambung, kali ini main-main dengan Google Earth aja dulu.  Salam. (Del)

Advertisements

Kaledo dari Bumi Tadulako

Satu kuliner yang melekat erat dengan Kota Palu, KALEDO. Bagi yang belum pernah mendengar, tentu bertanya-tanya.  Apa itu Kaledo? Sejenis makanan apa itu? Kaledo merupakan makanan yang melekat erat dengan Kota Palu, dengan Bumi Tadulako, utamanya di Kabupaten Donggala.  Kaledo merupakan kependekan dari Kaki Lembu Donggala. Sesuai dengan namanya, berbahan dasar Kaki Lembu atau sapi, baik daging, lemak, maupun tulang dan sumsumnya.

Setiap kunjungan ke Kota Palu, selalu diajak untuk mencicipi Kaledo, karena ini lah ciri khasnya. Saat menyantapnya, jangan sekali-kali berpikir tentang kolesterol dan gangguan kesehatan lainnya, karena kolesterol dan teman-temannya hanya ada di laboratorium dan di rumah sakit saja. Kolesterol tidak ada di rumah makan kaledo. Jika pikiran kita sudah melayang pada kolesterol, hilanglah selera makan. Hilanglah nafsu untuk menyantap.

Gambar

Kaledo dari Bumi Tadulako

Yang perlu ditanamkan di benak ketika mencicipi kaledo adalah kenyataan bahwa sumsum tulang sapi memiliki khasiat yang tidak kalah hebat. Selain gurih rasanya, sumsum tulang sapi lembut di mulut. Sangat pas untuk menikmatinya kala masih panas. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa kaledo banyak penggemarnya. Konon katanya, sumsum tulang sangat baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak karena dapat meningkatkan kinerja otak. Anak dapat menjadi pintar dan aktif. Sumsum tulang juga dapat digunakan sebagai campuran kaldu sebagai penambah nafsu makan anak. Selain itu, khasiat lainnya adalah untuk membuat tulang dan gigi tetap kuat serta meningkatkan kekebalan tubuh.  Tapi itu kan untuk anak? Untuk dewasa?

Biasanya kita dihadapkan pada 2 pilihan, menyantapnya dengan nasi atau dengan singkong rebus. Silakan memilih sesuai selera. Kuah kaledo berwarna bening agak kekuningan, rasanya sedikit asam menyegarkan. Rasa asam berasal selain dari buah asam yang merupakan salah satu komponen pelengkap kaledo juga dari jeruk nipis yang dapat ditambahkan sesuka hati. Awalnya bingung, bagaimana cara menyantapnya? Yang disantap adalah daging-daging yang menempel di tulang juga sumsum tulang yang terdapat di dalam rongga tulang. Caranya, jika kaledo masih panas dan sumsum masih cair, dapat diseruput menggunakan sedotan. Sluuuurrrpp…!! Sukakah saya? Ternyata tidak… hehehe… mungkin masih terbayang lemak yang terkandung di dalamnya. Itulah salahnya.

Kaledo disajikan dengan singkong rebus

Bagaimana munculnya ide untuk mengolah tulang-belulang sapi menjadi olahan makanan yang digemari? Ternyata menurut pemilik rumah makan, ada ceritanya. Konon, jaman dulu ada seorang dermawan memotong sapi dan membagikannya. Orang Jawa sebagai orang yang pertama kali datang mendapatkan bagian daging sapi yang empuk, lalu mengolahnya menjadi bakso. Datanglah orang Makassar, karena tidak ada lagi daging, diambilnyalah jeroan/isi perut sapi dan diolah menjadi Coto Makassar. Orang Kaili yang merupakan penduduk asli Donggala datang terakhir dan yang tersisa hanya tulang dengan sedikit daging yang masih menempel. Orang Donggala ini beruntung tidak kehilangan akal. Mereka mengolahnya menjadi masakan. Terciptalah kaledo yang hingga saat ini menjadi masakan khas Sulawesi Tengah.

Walaupun menurut cerita di atas, kaki lembu dan tulang-tulangnya merupakan sisa, ternyata di Bumi Tadulako memiliki nilai tinggi. Berharga mahal. Bahkan menurut cerita, banyak kejadian mutilasi terhadap kaki lembu. Lembu dipotong hanya kakinya saja dan bagian lainnya ditinggalkan begitu saja. Lembu akhirnya mati kehabisan darah. Sungguh kejam, sekaligus ironis. Heuh….!

Cinta dan Kejujuran Terbungkus Manis dalam Bawang Goreng Mbok Sri

Identitas sebuah kota dapat terwujud dari bentuk fisik kota maupun sebagai akumulasi dari budaya serta sumber daya alam yang tumbuh dan berkembang di dalamnya. Identitas “baru” dapat saja muncul atau ditambahkan pada identitas sebelumnya. Begitu pula halnya dengan kuliner, yang ternyata turut berperan dalam membentuk maupun menambahkan identitas sebuah kota.  Ambil contoh Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pelajar, dapat ditambahkan dengan identitas sebagai Kota Gudeg. Demikian halnya dengan Kota Palembang yang memiliki identitas sebagai Kota Pempek. Nama-nama makanan tersebut seakan melekat dengan kotanya, menjadi identitas kota.

Lalu, apa yang menjadi ciri Kota Palu? Makanan atau cemilan apa yang dapat dijadikan identitas Kota Palu? Makanan apa yang terlintas di benak, yang dapat diasosiasikan dengan Kota Palu? Hal pertama yang muncul adalah kaledo, giliran berikutnya, bawang goreng. Tidak sah rasanya kalau ke Palu tidak membawa oleh-oleh bawang goreng. Tidak afdol rasanya kalau berkunjung ke Kota Palu tanpa membawa pulang bawang goreng Mbok Sri.

Tanggal 23-25 Juni 2013 yang lalu, kebetulan mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Kota Palu. Di sela-sela tugas, satu hal yang pasti. Harus membawa pulang bawang goreng dan itu harus bawang goreng Mbok Sri. Mengapa bawang goreng Mbok Sri? Tidak adakah yang lainnya? Jawabannya: Ada, hanya sudah kadung cinta dengan bawang goreng Mbok Sri.

Mbok Sri bukan sosok baru dalam hal perbawang gorengan. Mbok Sri sudah sepuh, usianya sudah 81 tahun, namun beliau masih sangat setia dengan bawang goreng. Toko/kiosnya, bersatu dengan tempat kediamannya, di perumahan BTN Mutiara Indah Blok E No. 3 Kota Palu. Kalau perlu, hubungi terlebih dahulu lewat telpon di 0451-482085 atau di 0821-194215774.  Selain bawang goreng, Mbok Sri juga menjual abon  daging sapi, abon ikan, dan aneka camilan lainnya. Beliau tetap ingin disapa Mbok, bukan Ibu, dan bukan pula Mbah. “Mengapa Mbok?”. Jawabnya, “Mbok lebih senang dipanggil seperti itu”.  Ketika diminta untuk difoto, bergegas dia mencari kacamatanya. “Tunggu, saya ambil kacamata dulu, supaya terlihat cantik”.

Mbok Sri dan kacamatanya, pelengkap cantiknya

Beliau juga dengan senang hati menunjukkan foto-foto masa mudanya, mengajak ke kamarnya, tempat kumpulan kenangannya, memperkenalkan masa lalunya. “Cantik kan Mbak? Itu foto Mbok dan almarhum suami Mbok. Sayang beliau tidak menemani hingga saat ini”.

Mbok Sri dan Almarhum Suaminya

Bawang goreng Mbok Sri sungguk enak, renyah, crispy, gurih, jempol. Selain itu, tahan lama, dapat bertahan hingga 1 tahun. Tidak nampak sedikitpun sisa minyak pada bawang gorengnya maupun dalam kemasannya. Tidak seperti bawang goreng lainnya. Kalau berdasarkan pengalaman, hanya bisa disaingi oleh bawang goreng jempolan lainnya, yaitu bawang goreng Tangerang. Harganya cukup bersahabat. Kemasannya beragam. Untuk kemasan 500 gr dibandrol Rp. 100.000,- dan untuk kemasan 100 gr, 150 gr, dan 250 gr masing-masing dihargai Rp. 20.000,- , Rp. 30.000,-, dan Rp. 50.000,-.

Bawang Goreng Mbok Sri

Mbok Sri sudah bergelut dalam usaha bawang goreng ini sejak tahun 1980. Sudah 33 tahun lamanya. Tanpa ragu beliau menceritakan.”Dulu belum seenak sekarang, Mbok harus keliling-keliling menenteng bungkusan bawang goreng dan abon dari satu kantor ke kantor lainnya.  Dulu orang-orang masih belum terbiasa membeli bawang goreng karena dianggap setiap rumah tangga pasti bisa membuat bawang goreng di rumahnya masing-masing ” Tergambar kegigihan usaha. Terpampang keuletan dalam kerja. Patut ditiru, dicontoh, dan diteladani. Ketika ditanyakan apa resep usahanya, dengan antusias beliau menjawab, “Cinta dan Jujur”. Kita harus mencintai segala sesuatu yang kita lakukan dan jujur dalam bertindak, bersikap, bekerja. “Jika Mbok Sri tidak mencintai bawang goreng dan tidak jujur dalam usaha, Mbok yakin, Mbok tidak akan jadi seperti ini” tuturnya.

Mbok Sri seperti umumnya para sepuh lainnya, senang bercerita, senang diajak ngobrol. “Dulu Mbok hanya mengolah 1 atau 2 kilogram bawang merah saja, sekarang sudah mencapai 1-2 ton bawang merah per hari. Alhamdulillah, dari hasil usaha bawang goreng, Mbok sudah berkali-kali naik haji, dan menyekolahkan seluruh anak Mbok hingga selesai. Sekarang dilanjutkan oleh cucu dan cicit.“ Hingga saat ini, di usianya yang sudah senja, beliau masih terlibat langsung dalam pembuatan bawang goreng, minimal, masih tetap mengawasi. Masih tetap menebarkan cinta dan kejujuran dalam usahanya. Seperti kecintaannya terhadap bawang goreng dan kejujurannya dalam berusaha.

Sampai ketemu lagi Mbok Sri. Ke Palu tak elok rasanya jika tak mampir ke Mbok Sri.

Kriiiiuuukkk!!! Kreeesss!!!