Pekan Rakyat Jakarta di Monas Pestanya Rakyat Jakarta

Gambar

Mentari pada siang menjelang sore 11 Juni 2014 di kawasan Monumen Nasional tidak terlalu menampakkan kegarangannya. Sang raja siang masih sedikit bersahabat dan berbaik hati walau tetap belum cukup untuk menghilangkan gerahnya hari. Untung cukup terbantu oleh hembusan angin yang bebas hilir mudik.  Beberapa orang sibuk menata dagangannya, mempercantik penampilan standnya masing-masing, dan beberapa lainnya sibuk melayani pembeli. Para pengunjung seolah tidak ingin melewatkan momen. Berjalan dari satu stand ke stand yang lainnya, menyusur jalan-jalan di Kawasan Monas. Sekedar melihat-melihat, menilik, memilih, ketika ada yang menarik hati, transaksi pun terjadi.

Kemarin adalah hari kedua penyelenggaraan Pekan Rakyat Jakarta (PRJ) di Kawasan Monumen Nasional yang Selasa (10/6/2014) telah secara resmi dibuka oleh Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Gambar

Gambar

Mata tertumbuk pada salah satu stand yang menjual nasi bakar. Yang terlintas di benak, “Lumayan nih, untuk makan malam nanti”. Mbak Wiwit penjaga sekaligus pemilik stand nasi bakar langsung sigap dan ramah melayani, “Mau nasi bakar yang mana Mbak? Ada rasa ayam jamur, teri, ayam teri, atau peda?” Tiga bungkus nasi bakar pun berpindah tangan. Penasaran, di sela penyiapan nasi bakar, tak ada salahnya mengorek keterangan dari Mbak Wiwit.  “Buka stand di sini gratis Mbak, gak dipungut bayaran apapun, soalnya saya dapat undangan untuk ikut meramaikan acara dari Unit UKM Dinas Perindustrian dan Energi, jadi sepertinya UKM yang terdaftar di sana diundang”.

Mbak Wiwit merupakan satu dari sekian banyak pelaku UKM binaan dari Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta yang turut meramaikan PRJ Monas. Dalam setiap kegiatan yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Mbak Wiwit dan ratusan UKM binaan lainnya akan diundang untuk turut berpartisipasi. Selain menampung para pelaku UKM, PRJ Monas juga menampung para pedagang kaki lima. Untuk UKM dan pedagang kaki lima, tidak dipungut biaya. Selain itu ada puluhan stand yang berbayar di PRJ Monas dan diisi oleh produk-produk besar, misal dari beberapa operator seluler, produsen beberapa produk motor dan mobil, maupun beberapa label snack yang telah cukup terkenal. Semuanya berpadu dan bersatu dalam satu kawasan Monas untuk memeriahkan ulang tahun Jakarta.

Ahok dalam sambutan pembukaan PRJ Monas mengungkapkan bahwa PRJ Monas bukan tandingan Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair Kemayoran yang diselenggarakan oleh PT JIExpo. Beliau menegaskan, lingkup peserta dan pengunjung PRJ Kemayoran dan PRJ Monas berbeda. Lingkup peserta dan pengunjung Jakarta Fair di Kemayoran telah mencakup nasional dan internasional. Ahok menginginkan agar seluruh warga Jakarta dapat menikmati kemeriahan ulang tahun Jakarta. Tidak hanya di PRJ Kemayoran yang untuk memasuki areanya saja harus bayar. Untuk itulah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengadakan pula PRJ Monas yang bisa dikunjungi warga Jakarta secara gratis.

Ide dan tujuan penyelenggaraan PRJ di Kawasan Monas sudah baik. Ahok ingin mengakomodasi warga Jakarta yang tidak mampu berkunjung ke Jakarta Fair Kemayoran dan para penduduk yang kurang mampu. Walau tidak sepenuhnya benar. Saya rasa banyak kok warga yang cukup mampu dan datang berkunjung ke PRJ Monas.

Gambar

Lelah berjalan-jalan di seputar stand yang memenuhi Monas, sempat singgah beli es jeruk di salah satu stand. Ngobrol sebentar, “Agak sepi Mbak, karena terlalu banyak stand di sini, dan barangnya pun nyaris sama. Banyak pedagang kaki lima liar yang juga masuk ke sini. Awalnya dijanjikan dalam satu deret hanya ada satu yang jual minuman, tapi kenyataannya begini”. Tampak dalam jarak tidak terlalu jauh, penjual minuman lainnya banyak bertebaran. Mbak penjual es jeruk masih meneruskan penjelasannya, “Katanya kalau hari biasa buka mulai dari pukul 2 siang, tapi kenyataannya, banyak yang jualan dari pagi. Tahu gitu, saya juga datang dari pagi”. PRJ Monas resminya memang dibuka pada pukul 14.00-23.00 setiap hari, sementara khusus untuk hari Sabtu dan Minggu, dibuka lebih awal, yaitu mulai pukul 09.00-23.00.

Gambar

Gambar

Lanjut berkeliling lagi. Ternyata PRJ Monas tidak hanya mengakomodasi penjual makanan, pakaian, mobil, motor, telepon genggam, dan beragam barang konsumsi lainnya. Ada kerumunan orang di seputar tugu Monas yang menarik perhatian. Ternyata ada gelaran yang diberi judul “Kampoeng Dolanan Nusantara”. Penggagasnya dari beberapa komunitas penggemar mainan khas Nusantara. Seperti gelaran yang diusung oleh Komunitas Gasing Indonesia atau bermain enggrang bersama.

Sempat beberapa saat berada di sana dan mencoba meletakkan gasing yang berputar di atas telapak tangan. Awalnya takut, tapi setelah diyakinkan oleh anggota komunitas gasing, berani juga mencoba. Hasilnya, “Geli-geli dikit lah.. “. Seru juga.

Gambar

Gambar

Ada satu lagi yang cukup mengusik. Area Monas cukup luas, bahkan terlalu lelah jika memaksakan untuk berkeliling ke seluruh stand yang ada di sana. Pengunjung pun cukup banyak walau belum dapat dikatakan berjubel. Yang membuat heran, “Kok pintu masuknya gak dibuka lebar?”. Padahal jelas-jelas pintunya sangat lebar, tapi tidak dibuka. Semua pintu masuk di sekeliling Monas, hanya dapat dilalui oleh orang dengan antri satu persatu. Padahal sedang ada gelaran pesta rakyat. Pengunjung harus berjubel melewati pintu kecil yang hanya cukup untuk dilewati satu orang saja. Penasaran, sempat tanya ke petugas keamanan yang berjaga di sana. Jawabannya, “Iya Mbak, memang pintunya gak bisa dibuka. Maksud awalnya, supaya tidak bisa dimasuki oleh gerobak penjual kaki lima”. Gubbraaak…! Ternyata itu toh alasannya. Padahal jelas-jelas pedagang kaki lima liar pun banyak masuk dan bertebaran di dalam kawasan Monas. Jadi, sebenarnya, tidak efektif juga membiarkan pintu Monas yang sekian lebar tertutup. Yang ada, hasilnya, pengunjung harus berjubel untuk keluar dan masuk kawasan Monas.

Hhmmm, lumayanlah…. Menghabiskan sore di PRJ Monas. Melihat kemeriahan Pekan Rakyat Jakarta di Monas, pestanya rakyat Jakarta. Saatnya kembali pulang. PRJ Monas saat ini tengah digelar hingga tanggal 15 Juni 2014 nanti. Walaupun masih terdapat kekurangan di sana sini. Namun secara keseluruhan patut diacungi jempol. Upaya untuk memberikan hiburan gratis, kemeriahan menjelang ulang tahun Jakarta, tengah dihelat di Monas. Ada yang tertarik berkunjung? Silakan… (Del)

 

Advertisements

Monas Bukan Tempat Gantung Anas

Gambar

Tentunya masih teringat beberapa waktu yang lalu ketika Anas Urbaningrum dengan lantangnya mengatakan, “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas!”. Pernyataan itu pun sontak menarik perhatian. Semua seolah memiliki hak untuk berkomentar dan memberikan tanggapan. Monas dan Anas naik ke permukaan berita.

Saat ini Anas telah ditahan dan kasus terus bergulir, namun biarkan Monas tetap pada fungsinya. Monas bukan tempat untuk gantung Anas atau gantung siapapun. Monas bukan tempat untuk eksekusi hukuman bagi siapapun. Monas harus tetap pada fungsi dan peruntukannya sebagai ruang terbuka hijau sekaligus  sebagai ruang publik. Ruang yang semakin hari terasa semakin sulit ditemui.

Tidak usah heran, berdasarkan data yang ada, saat ini Jakarta hanya memiliki ruang terbuka hijau seluas 9,8% dari total luas Jakarta. Untuk mencapai besaran 16 % seperti yang diamanatkan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta, masih diperlukan tambahan 6 %  ruang terbuka hijau. Jakarta masih memerlukan upaya yang sangat keras untuk menggapai angka tersebut. Sebagai gambaran, dengan total luas wilayah DKI Jakarta 661,52 km2, setiap tambahan 1% RTH, dibutuhkan lahan seluas 6,6 km2. Bahkan jika mengikuti aturan yang tercantum dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, seharusnya ruang terbuka hijau yang disediakan 30 %, yang terdiri dari 20 % RTH publik dan  10 % RTH privat. Artinya, PR Jakarta masih jauh lebih berat lagi. Jakarta harus berupaya untuk menyediakan ruang terbuka hijau yang lebih luas lagi.

Gambar

Gambar

Sabtu pagi yang lalu, menyempatkan diri untuk berolah raga, sekedar joging di seputar Monas. Jakarta sedang dalam cuaca yang sangat cerah. Lalu lintas di Sabtu pagi belum terlalu menggeliat. Mungkin warga Jakarta sebagian masih terlelap dalam tidurnya, menyambut libur panjang akhir pekan.

Gambar

Memasuki pelataran Kawasan Monas, langsung dihadapkan pada kenyataan yang membuat miris. Fungsi Monas sebagai ruang terbuka hijau dan sebagai ruang publik seolah telah memiliki interpretasi yang salah kaprah. Mata seolah dihadapkan pada kenyataan, bahwa pelataran Monas telah benar-benar difungsikan sebagai “ruang publik” dalam arti yang keliru. Pelataran sekitar Monas seakan menjadi ruang bagi siapapun warga/publik yang ingin turut hidup dan meneruskan kehidupannya di sana. Beberapa keluarga terlihat berkegiatan dan tidur di sana. Di sini lah salah kaprahnya. Ruang publik bukan berarti dapat dimiliki/dikuasai seenaknya oleh publik. Kalau begini, sudah berganti fungsi menjadi ruang privat bagi sebagian orang yang tidur dan tinggal di sana. Entah siapa yang patut disalahkan. Mungkin mereka tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

Gambar

Tidak terlalu jauh dari sana, masih di seputaran Monas, perasaan miris semakin menjadi. Di pagi yang cerah itu, mata kembali dibuat tidak nyaman dengan pemandangan yang terpampang. Lebih dari sepuluh taksi tampak terparkir tak beraturan di area luar Monas. Yang lebih menyedihkan, sampah teronggok di mana-mana. Tersebar seolah menjadi penghias jalanan. Inilah Kota Jakarta, sebuah Kota Metropolitan yang masih berbudaya kampung.

Gambar

Gambar

Tidak berhenti di sana, aneka pedagang kaki lima dengan jumlah yang cukup banyak terus merangsek ke jalan. Sudah mulai mengokupasi badan jalan. Saat ini mungkin tidak terlalu mengganggu. Tapi, saya yakin, bila terus dilakukan pembiaran, akan mendatangkan permasalahan yang lebih besar di kemudian hari. Siapa yang akan bertanggung jawab?

Gambar

Ah sudahlah, tidak usah terlalu larut. Ini saatnya untuk menikmati indahnya sore. Saatnya untuk mengerjakan berbagai hal lainnya. Jangan sampai aneka pemandangan tersebut merusak hari.  Selamat sore… Salam. (Del).

Wisata Kuburan Belanda di Pusat Kota Jakarta

Musium Taman Prasasti

Bingung memilih alternatif wisata akhir pekan di Ibukota? Atau ingin mengajak buah hati sekedar jalan-jalan namun kehabisan ide dan tidak tahu mau ke mana? Bosan pergi ke mall? Sepertinya destinasi wisata yang satu ini dapat menjadi salah satu alternatif. Layak dicoba.

Sekali-kali, ayo kita lakukan wisata kuburan di Pusat Kota Jakarta. Wisata kuburan? Hiiii seram….. Tenang, tidak usah khawatir. Kuburan yang satu ini tidak akan menimbulkan kesan seram. Tidak ada seramnya sama sekali. Asal lakukan kunjungan di pagi hingga sore hari.Jangan di malam hari. Mengapa? Jawabannya simpel. Musiumnya pasti sudah tutup. Kalau malam, horor juga. Tapi, berdasarkan hasil googling, sekarang mulai digagas wisata “Night at The Museum” di Musium Prasasti oleh Komunitas Historia Indonesia. Jadi, kita ke kuburan atau ke musium?

Mungkin belum terlalu banyak yang mengetahui bahwa ternyata di pusat Kota Jakarta, tepatnya di Jalan Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat terdapat Musium Prasasti. Musium Prasasti berbeda dengan musium lainnya. Jika yang terpatri di benak bahwa musium adalah tempat untuk mengamati benda-benda koleksi atau benda-benda bersejarah  dari jaman dulu yang terpajang rapi di etalase, salah besar. Jangan harap itu akan kita temui di musium ini. Musium Prasasti dapat dikatakan cukup unik. Musium yang satu ini berbeda.

Musium Prasasti merupakan salah satu musium cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda. Sepertinya lebih tepat bila dikatakan area pemakaman atau kuburan karena di dalamnya berupa ruang terbuka hijau nan asri seluas 1,2 Ha. lengkap dengan makam-makam yang umumnya berasal dari jaman kolonial. Dulunya merupakan area pemakaman untuk para tokoh penting petinggi Belanda atau orang Eropa pada masa kolonial. Area pemakaman ini memiliki nilai artistik yang cukup tinggi. Memiliki banyak koleksi prasasti nisan kuno dari abad ke 18. Di musium prasasti, kita dapat menikmati keindahan makam-makam jaman kolonial sekaligus mengagumi karya seni dari masa lampau yang tertuang dalam bentuk patung-patung hasil pahatan masa kolonial,

Sabtu pagi, selepas olah raga di kawasan Monas, kebetulan kita berkesempatan untuk mengunjungi Musium Prasasti. Lokasinya strategis. Berada tidak terlalu jauh dari Musium Nasional yang terletak di seberang Kawasan Monas. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit dari Musium Nasional.

Gambar

Di depan pintu masuk Musium Prasasti, kita seakan disambut kereta jenazah yang terpajang. Hari masih pagi, jam masih menunjuk ke angka 7. Sudah buka belum ya…? Untung penjaga berbaik hati. Walau sebenarnya musium masih belum dibuka, tapi kami diijinkan masuk. Memasuki area musium, kita hanya perlu merogoh uang Rp. 5.000,00 per orang. Saatnya kita jalan-jalan di area kuburan.

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Suasana teduh, sejuk dan asri seakan menyergap seketika. Ternyata di Jakarta yang selalu hiruk pikuk dengan berbagai kesibukan, masih menyisakan area hijau pemakaman yang memiliki nilai seni tinggi. Kuburan-kuburan berjejer dengan rapi di berbagai sudut. Patung-patung dengan berbagai bentuk turut menghiasi. Ada patung dengan wujud Yesus, Bunda Maria, peri cupid, malaikat, dan patung-patung lainnya.  Tersedia pula bangku-bangku taman untuk sejenak beristirahat. Di setiap nisan, kita dapat membaca nama orang yang dimakamkan serta tanggal meninggalnya. Umumnya yang dimakamkan di sana berasal dari abad 19.

Kesan menyeramkan sirna. Yang ada tertinggal hanya suasana teduh, sejuk, dinaungi oleh pohon-pohon rindang di berbagai sudut. Kita seakan diajak berjalan-jalan mengitari area pemakaman dan ikut terlarut dalam sejarah. Kita diajak untuk mengagumi karya seni patung-patung yang tersebar. Tidak heran jika area ini sering dijadikan tempat untuk syuting, pembuatan video klip, atau sekedar untuk pemotretan.  Area pemakaman cukup bersih, namun sayang, di salah satu sudut, teronggok batu-batu nisan yang telah hancur. Belum dibersihkan.

Gambar

Gambar

Ada satu patung yang cukup menarik perhatian.  Wujudnya berupa seorang wanita yang seperti tengah menangis, memeluk batu. Patung tersebut mungkin menggambarkan kesedihan mendalam yang dialaminya ketika ditinggalkan oleh orang terkasih.

Jadi, tertarikkah untuk wisata kuburan di Jakarta? Silakan…. (Del)

 

Bangku Taman dan Street Furniture Lainnya

Terdapat beragam cara untuk memperindah tampilan kota. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mempercantik kota. Tindakan yang perlu dilakukan tidak perlu selalu tindakan yang radikal, yang membuat tampilan secara nyata berubah total. Namun dapat pula dilakukan melalui perlakuan-perlakuan kecil, melalui sentuhan-sentuhan kecil yang cukup memiliki pengaruh dan dampak bagi tampilan kota secara keseluruhan. Juga terhadap fungsi dan manfaatnya.

Salah satu dari sekian banyak hal yang mempengaruhi tampilan kota adalah dengan memberi sentuhan pada steet furniture. Street furniture jika kita terjemahkan secara bebas berarti “perlengkapan jalan”. Maksudnya elemen pendukung pada ruang publik atau ruas jalan yang akan memperkuat karakter pada suatu blok perencanaan yang lebih besar. Tentunya street furniture harus serasi dan membentuk harmoni dengan elemen jalan yang lainnya, dengan elemen pendukung tampilan kota yang lainnya. Semua demi terhindar dari ketidakharmonisan lingkungan, ketidakteraturan wajah kota, dan ketidakterpaduan tampilan sekitar.

Terdapat beberapa bentuk street furniture, antara lain lampu jalan, rambu jalan, halte, pot bunga, tempat duduk, peta orientasi, papan berisi penjelasan rute kendaraan umum, pagar pembatas jalan, bahkan tempat sampah, dan banyak lagi yang lainnya. Melalui street furniture, dapat pula dimunculkan image kota yang ingin ditampilkan. Lebih ringkasnya, street furniture merupakan elemen pelengkap yang dapat membentuk suatu kawasan atau kota menjadi lebih indah, lalu lintas lebih lancar, lingkungan lebih baik, dan pada akhirnya menjadi lebih nyaman.

Menurut teorinya, trotoar disediakan sebagai tempat untuk para pejalan kaki, biasanya terletak di sisi kanan dan kiri jalan. Seharusnya para pejalan kaki yang menguasai trotoar. Mereka yang memiliki hak untuk menggunakan trotoar. Benarkah? Ternyata tidak demikian. Jika kita lihat, banyak pengendara motor dengan bermacam dalihnya, ikut mengokupasi trotoar. Memanfaatkan trotoar sebagai jalurnya. Para pejalan kaki menjadi tidak aman dan tidak nyaman lagi.

Sebenarnya, beberapa ruas jalan di Jakarta sudah memiliki trotoar yang lumayan baik, cukup lebar, dan cukup nyaman, bila penggunaannya juga sesuai dengan peruntukkannya. Trotoar di Jalan Sudirman juga telah memiliki penanda untuk kaum disabilitas berupa pengarah jalan yang berwarna kuning. Hanya sayang sering pula dirambah oleh para pengemudi motor. Selain itu, masih saja ada beberapa tukang ojek yang mangkal di trotoar. Belum lagi ditambah dengan begitu banyaknya pedagang kaki lima yang turut memenuhi trotoar. Trotoar dipenuhi banyak hal yang bukan tempatnya. Pada trotoar tersebut, seharusnya diperlengkapi dengan beraneka street furniture, dan bukan dengan pangkalan ojek, pedagang kaki lima, dan lainnya.

Gambar

Bangku taman.
Sumber Foto: http://www.gatra.com

Gambar

Warga memanfaatkan bangku taman untuk beristirahat.
Sumber Foto: http://www.gatra.com

Jika kita sedikit memperhatikan kawasan sepanjang Monas, Thamrin, dan Sudirman, ada yang berbeda. Sejumlah kursi / bangku taman di trotoar teronggok manis. Saat ini, di sisi kanan dan kirinya setiap beberapa puluh meter, ada pula yang setiap seratus meter, terpasang bangku taman yang cantik. Bangku taman yang terbuat dari kayu. Bangku taman ini pun termasuk street furniture, perlengkapan yang merupakan elemen pendukung tampilan kota secara keseluruhan. Hal kecil yang dapat turut mewarnai wajah trotoar Jakarta. Selain fungsinya dibutuhkan, juga tampilannya. Keberadaan bangku taman di sepanjang Monas, Thamrin, dan Sudirman telah menjadikan trotoar lebih manusiawi bagi para pejalan kaki. Dapat menjadi tempat persinggahan kala lelah melanda. Untuk sekedar melepaskan rasa penat dan lelah setelah berjalan kaki.

Tidak tanggung-tanggung, ratusan bangku taman yang dipasang di ruas-ruas trotoar tersebut didatangkan dari Solo. Merupakan inisiatif dari Jokowi. Khusus untuk para pejalan kaki di Jakarta. Bangku taman yang sama juga akan dipasang di beberapa trotoar kawasan lainnya, seperti di Jl. Cikini (Jakarta Pusat), Jl. Pramuka (Jakarta Timur), dan Jl. Gajah Mada (Jakarta Barat). Semoga bangku-bangku taman ini tetap berada di tempatnya dan fungsinya pun tetap seperti yang diharapkan. Tidak ada tangan-tangan jahil yang merusak, mencoret-coret, atau mengambilnya.

Masih banyak lagi street furniture yang dibutuhkan di seputar Monas, Thamrin, dan Sudirman selain bangku taman, antara lain:

  1. Tempat sampah. Masih dibutuhkan banyak tempat sampah di sepanjang jalan. Agar warga tidak memiliki kesulitan membuang sampah. Terkadang warga tidak memiliki niat untuk membuang sampah sembarangan. Hanya ketiadaan tempat  sampah memicu warga untuk membuang sampah sembarangan. Tempat sampah dapat didesain dengan bentuk yang selain mendukung fungsinya, juga turut menyumbang kontribusi dalam mempercantik tampilan kota.
  2. Rambu jalur angkutan umum. Dibutuhkan rambu atau plang berisi jalur bus/angkutan umum yang melewati jalan tersebut. Untuk memudahkan warga untuk mencapai tujuannya. Rambu jalur angkutan umum dapat ditempatkan di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan warga.
  3. Lampu Jalan. Untuk jalan-jalan utama di Kota Jakarta, memang sudah dilengkapi dengan penerangan jalan yang memadai. Semoga di jalan-jalan lainnya pun demikian. Fungsinya sangat penting terutama untuk menerangi jalan baik di kiri maupun di kanan jalan.
  4. Pohon peneduh. Selain sebagai jalur hijau, dapat berfungsi pula sebagai peneduh bagi para pejalan kaki.

Itu untuk seputar Monas, Thamrin, dan Sudirman. Jika kita melirik jalan-jalan lainnya, yang bukan jalan protokol, lebih banyak lagi yang dibutuhkan.  Malah banyak yang memprihatinkan. Salam. (Del)

Jokowi dan Ruang Publik Jakarta

Jokowi telah melontarkan janjinya untuk memperbanyak ruang publik yang dapat dipergunakan oleh warga Jakarta. Jokowi menginginkan agar ruang-ruang publik yang ada di Jakarta dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga. Apa itu ruang publik?

Jika mengacu pada buku klasik Kevin Lynch yang hingga saat ini tidak pernah lekang oleh waktu, “The Image of The City”, 1960,  ruang publik (public space) dapat sekaligus juga sebagai nodes dan landmark yang berfungsi sebagai alat navigasi/pemandu di dalam kota. Ruang publik dapat berkembang menjadi sebuah icon kota (image of the city). Contoh sederhana, ruang publik berupa sepenggal Orchad Road di Singapura pun dapat menjadi icon Kota Singapura dan sekaligus citra kota. Citra secara umum merujuk pada gambaran atau image. Menurut YB Mangunwijaya, citra pada kawasan perkotaan adalah gambaran pertama yang sangat kuat tentang kota tersebut yang tidak dimiliki oleh kota lain sehingga mudah dikenali.

Menurut Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang publik dapat berupa Ruang Terbuka Hijau Publik atau Ruang Terbuka Non Hijau Publik dan secara institusional harus disediakan oleh pemerintah di dalam peruntukan lahan di kawasan perkotaan. Yang penting pula untuk menjadi perhatian, tidak hanya berhenti pada penyediaan ruang publik, namun juga ruang publik tersebut dapat hidup dan bermakna.

Bagaimana agar ruang publik dapat hidup dan bermakna? Ruang publik yang baik dicirikan oleh tiga hal, yaitu responsif, demokratis, dan bermakna. Responsif mengandung arti bahwa ruang publik dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan. Demokratis mengandung arti bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya dan dapat diakses oleh berbagai kondisi fisik manusia. Bermakna mengandung arti bahwa ruang publik harus memiliki keterkaitan antara manusia, ruang, dan dunia luas, serta interaksi sosial yang luas. Untuk dapat menjadikan ruang publik hidup dan bermakna, penuhilah ketiga ciri tersebut.

Ruang publik juga dapat dikatakan sebagai tempat yang dapat dimasuki oleh semua orang tanpa harus membayar. Ruang publik dapat berupa jalan (termasuk pedestrian), tanah perkerasan, public squares, dan taman (park). Untuk itu, ruang publik dapat berupa ruang terbuka hijau publik seperti taman dan ruang terbuka non hijau publik seperti plaza dan public squares. Ruang publik harus menjadi ruang interaksi, sehingga ada aktivitas yang terjadi di dalamnya.

Monas sebagai Ruang Publik Kota Jakarta
Sumber: http://www.megapolitan.kompas.com

Monas merupakan salah satu ruang publik yang ada di Jakarta. Monas juga telah menjadi landmark dan icon Kota Jakarta. Apa kaitannya dengan Jokowi? Jokowi telah menghidupkan ruang publik Jakarta. Monas sebagai ruang publik saat ini sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya perhelatan. Monas telah hidup kembali dan telah dikembalikan maknanya sebagai ruang publik. Sebagai tempat bagi warga Jakarta untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri dengan lingkungannya. Masyarakat bisa saling bertemu, berinteraksi, saling sapa, dan saling senyum. Tak hanya itu, roda ekonomi pun turut berputar.

Monas diharapkan tidak hanya secara fisik berupa ruang publik, tidak sekedar menjadi pajangan, penghias, dan landmark semata, namun hidup dan bermakna. Ada pemanfaatan di sana. Beberapa acara perhelatan ulang tahun Jakarta ke-486 diselenggarakan di Monas, bahkan di sepanjang Jalan Thamrin hingga Bundaran HI.

Apresiasi kami haturkan pada Jokowi yang telah menghidupkan kembali, yang telah memberi makna pada ruang publik Jakarta. Tetap kami nantikan pemberian makna pada ruang-ruang publik lainnya. Harapan sepertinya telah mendapatkan titik terang. Jokowi dan Ahok sudah mulai “menggarap” ruang-ruang publik lainnnya. Salut.