Berdamai dengan Pedagang Kaki Lima di  Bandara Internasional Lombok, Tepatkah?

Berdamai dengan Pedagang Kaki Lima di Bandara Internasional Lombok, Tepatkah?

Bandara Internasional Lombok seperti halnya Bandara Internasional lainnya di Indonesia terus  berbenah dan mempercantik diri. Berupaya untuk memberikan pelayanan maksimal bagi para pengunjung agar sudi hati kembali bertandang. Masih nampak beberapa kekurangan, namun upaya perbaikan tetap dijaga. Bandaranya belum semegah Bandara Sepinggan Balikpapan atau secantik Bandara Ngurah Rai Bali atau sekomplit Bandara Kualanamu Medan. Setelah kurang lebih lima tahun beroperasi, bagaikan gadis kecil  yang mulai beranjak besar, Bandara Internasional Lombok sudah mulai menampakkan kecentilan dan kegenitannya, dipoles sana dan sini. Walau kadang kadar polesannya sedikit berlebihan dan kurang pas.

Semenjak pindah dari Bandara Selaparang dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 20 Oktober 2011, kita harus menyediakan waktu lebih untuk mencapai Bandara Internasional Lombok. Tidak seperti Bandara Selaparang yang berada di tengah Kota Mataram, Bandara Internasional Lombok (BIL) letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Mataram. Bandara Internasional Lombok berada di Praya yang termasuk ke dalam Kabupaten Lombok Tengah. Tidak ada masalah. Bandara memang seharusnya tidak terletak di tengah kota. Bandara Internasional Soekarno-Hatta pun letaknya di Tangerang. Yang penting akses dan moda transportasi dari dan ke Bandara tersedia dengan aman, nyaman, lancar, dan mudah.

Panggilan tugas mengharuskan saya untuk bolak-balik ke Mataram, seperti halnya kunjungan saya ke Mataram kali ini. Waktu di HP menunjuk pukul 15.30, tugas  kerjaan rampung sudah. Saatnya untuk bergegas meninggalkan lokasi acara. Langsung menuju Bandara demi mengejar burung besi yang akan kembali mengantar kami ke Jakarta.

Tiba di Bandara, gerimis tipis masih betah menyirami langit Lombok. Sengatan mentari yang biasanya akrab menyapa Lombok, hari itu tunduk pada kekuasaan gerimis. Mentari tertunduk malu, lupa dengan kegarangannya. Seperti biasa, Bandara Lombok ramai, baik oleh calon penumpang maupun para pengantar dan penjemput. Bahkan diramaikan pula oleh masyarakat sekitar Bandara. Betul ! Bandara Lombok memang gak pernah sepi. Bandara tidak hanya didominasi oleh penumpang, pengantar, dan penjemput. Bandara Lombok gak pernah sepi pengunjung.

Teringat masa-masa awal beroperasinya Bandara Internasional Lombok di akhir tahun 2011. Begitu mendarat dan keluar Bandara, kita seakan menjadi tamu kehormatan, mendapat sambutan dari begitu banyak orang. Saya pikir waktu itu penuh karena sedang waktunya untuk ibadah haji sehingga banyak pengantar. Namun, ternyata tidak hanya waktu seputar Idul Adha saja. Sekarang memang sudah “agak mendingan”, tidak terlalu banyak lagi. Dulu, masyarakat berderet di pintu keluar seakan menyambut kita. Lucu juga.

Ambil koper di bagasi mobil berniat untuk segera masuk Bandara dan check-in, tiba-tiba, “Del, kita ke pasar situ yuk!”, Rekan satu perjalanan mencetuskan ide. Suatu ide yang aneh. Langsung terlontar, “Ngapain?”. Seakan bisa menebak isi pikiran, dia meneruskan ajakannya. “Walaupun sering ke Lombok, pasti kamu belum pernah mampir ke pasar itu kan?”. OK deh… toh masih ada waktu satu setengah jam sebelum keberangkatan.

Dengan tangan yang masih mendorong koper, akhirnya kami menuju “pasar” yang dimaksud. Ternyata pendapat awal bahwa pengunjung Bandara sudah “agak mendingan” langsung terbantahkan. Hanya lokasinya saja yang dipindahkan. Para pedagang asongan dan kaki lima yang dulunya tidak tertata dan terkesan berada di sembarang tempat, mulai ditata dan ditempatkan di lokasi yang tidak terlalu jauh, bahkan bisa dikatakan dekat dari Bandara. Jaraknya hanya sekitar 250 meter dari gedung keberangkatan/kedatangan pesawat. Para pedagang asongan dan pedagang kaki lima ini bermunculan karena banyak peminatnya, banyak pembelinya. Target pembeli barang dagangan mereka adalah para pengunjung yang notabene masyarakat sekitar yang berwisata di area Bandara.

Jika 2 atau 3 tahun lalu masyarakat sekitar berwisata mengajak anak-anak dan keluarga melihat pesawat terbang dari lokasi gedung keberangkatan/kedatangan, sekarang diberi tempat di area khusus. Jika 2 atau 3 tahun lalu para pedagang asongan dan pedagang kaki lima berjualan di sembarang tempat, sekarang ditempatkan pada kios-kios di area khusus tak jauh dari Bandara. Berhasilkah upaya penataannya? Tepatkah?

 

Deretan kios.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Deretan kios di area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar : koleksi pribadi

Deretan kios. Sumber gambar: koleksi pribadi

Deretan kios di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

 

Deretan Kios.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Kios di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Beragam kios di pasar yang terletak di sekitar Bandara.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Kios-kios di pasar pada area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Menggelar dagangan tidak pada kios yang disediakan di Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Pedagang menggelar dagangannya tidak pada kios yang disediakan pada area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Beragam kios pakaian, mainan, makanan, minuman, dan barang lainnya berderet di “pasar” dekat Bandara. Bahkan banyak pula yang menggelar dagangannya di lantai dengan alas ala kadarnya. Suasana ramai layaknya sebuah pasar. Beberapa meneriakkan dagangannya, mencoba menarik perhatian para pengunjung. Beberapa mencoba mengiming-imingi anak-anak agar tertarik dengan mainan yang menjadi dagangannya. Tak sedikit yang sedang melakukan tawar menawar sebelum terjadinya transaksi. Beberapa orang tua berupaya menjelaskan pada anaknya tentang pesawat yang akan mendarat maupun yang akan lepas landas. Yang lainnya ada juga yang tetap menikmati secangkir kopi atau teh untuk mengusir dinginnya gerimis, seakan tidak terusik oleh suasana hiruk pikuk di sekitar. Berhubung gerimis, kondisi lantai yang basah dan kotor turut mewarnai. Kita harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset.

Menyaksikan pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Menonton pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Menonton pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Lorong menuju area pasar sekitar Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Area pasar di dekat Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Upaya penataan para pedagang asongan/pedagang kaki lima serta para pengunjung yang sekedar berwisata melihat pesawat terbang sudah merupakan tindakan yang tepat. Penataan diperlukan agar terhindar dari kesan “semrawut” dan “liar”. Jika tidak ditata, para pedagang maupun pengunjung akan semakin merangsek ke gedung keberangkatan/kedatangan dan semakin merajalela. Ketika upaya menghilangkan sama sekali para pedagang asongan/pedagang kaki lima tidak dapat dilakukan, upaya penataan merupakan tindakan kompromi untuk berdamai dengan para pedagang tersebut. Kompromi untuk berdamai dengan para pedagang asongan/pedagang kaki lima merupakan kebijakan yang sah-sah saja sepanjang tidak mengganggu kelancaran, kenyamanan, dan keamanan operasional penerbangan. Hanya saja, penataan yang dilakukan jangan setengah hati. Perlu ketegasan dan penegakan aturan. Ketidaktegasan pengelola maupun aparat yang berwenang hanya akan membuat kesan “kumuh” muncul, seperti yang terjadi saat ini. Para pedagang mulai menjajakan dagangannya tidak pada kios yang telah disediakan. Mereka memilih untuk menggelar dagangannya di lorong-lorong jalan dan di sembarang tempat.

Hhmmm…. Sudah ah, kok jadi semakin serius. Waktunya tidur. Selamat malam. Salam. (Del)

Advertisements

Kemasan Kearifan Lokal di Kampung Adat Sade

Gambar

Jalan di Dusun Sade, Lombok, NTB

Gambar

Nampang di Depan Dusun Sade, Lombok

Tidak perlu diragukan lagi. Indonesia sangat kaya potensi wisatanya. Banyak hal yang dapat digali dan “dijual” dari pariwisata Indonesia. Selain panorama alam nan indah, pantai yang menjuntai elok, gunung nan eksotis, masih pula dilengkapi dengan beribu adat istiadat dan budaya khas masing-masing daerah. Dari ujung Aceh hingga ujung Papua, tidak terhitung banyaknya potensi wisata yang dapat dieksplor. Sungguh mengagumkan.

Hanya sayang seribu sayang, Indonesia masih tertatih-tatih dalam menata manajemen pengelolaan dan pengemasan pariwisatanya. Sesungguhnya banyak destinasi wisata yang bila dipoles lebih baik, dikemas lebih cantik, akan sangat potensial untuk “dijual”, untuk menarik hati para pelancong.

Contohnya adalah salah satu destinasi wisata di Pulau Lombok, Kampung Adat Sade, sebuah kampung adat tradisional Suku Sasak Sade. Dusun Sade atau Sade Village terletak di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Biasanya, destinasi wisata ini kerap dikunjungi sebelum menggapai destinasi wisata lainnya di Lombok, yaitu Pantai Kuta Lombok. Dusun Sade merupakan sebuah perkampungan Suku Sasak asli yang hingga sekarang masih mencoba bertahan dengan mempertahankan kearifan lokal yang dimilikinya. Suku Sasak yang tinggal di Dusun Sade masih kental dan teguh menjaga nilai-nilai budaya dan adat tradisi Sasak asli.

Berkunjung ke Dusun Sade, jadi teringat sebuah desa di Pulau Bali yang juga mengusung wisata desa adat, yaitu Desa Panglipuran yang pernah saya tulis juga di Penglipuran, Desa Adat Bali dengan Kearifan Lokal yang Kental. Hanya, kondisi lingkungannya berbeda. Desa Penglipuran di Bali tertata dengan apik, dengan konsep arsitektural yang menawan sedangkan Dusun Sade, kurang tertata rapi, sedikit terkesan kumuh. Tapi, mungkin, itulah ciri khas dusun adat Sasak.

Gambar

Pemandu lokal di Dusun Sade

Memasuki Dusun Adat Sade, kita langsung disambut oleh pemandu wisata lokal yang akan menjelaskan hal-hal terkait Dusun Sade. Terdapat sekitar 700 warga yang tinggal di Dusun Sade yang menempati sekitar 150 rumah yang ada. Mereka masih mempertahankan adat istiadat sisa kebudayaan Sasak sejak jaman Kerajaan Pejanggik. Umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan memeluk Agama Islam. Kaum perempuannya memiliki keterampilan menenun secara turun temurun.

Gambar

Rumah-rumah adat Sasak di Dusun Sade

Gambar

Jalanan sempit dan berundak

Dusun Sade memiliki keistimewaan tersendiri. Memiliki adat istiadat yang dapat menjadi daya tarik wisata. Arsitektur rumah adat khas Sasak memiliki filosofi yang kuat. Misalnya, setiap bangunan memiliki pintu rumah yang relatif pendek sehingga setiap orang yang ingin memasuki rumah harus menundukkan kepalanya. Dibuat seperti itu dengan filosofi agar setiap orang yang hendak memasuki rumah menghormati dan menghargai pemilik rumah atau yang tinggal di rumah tersebut.

Gambar

Para pengunjung di antara rumah-rumah adat

Rumah-rumah yang ada di Dusun Sade cukup padat, hampir berdempetan atau setidaknya memiliki jarak yang sangat dekat. Rumah-rumah dipisahkan oleh gang-gang kecil sehingga hanya dapat dilalui oleh orang dengan berjalan kaki. Rumah adat Suku Sasak terbuat dari kayu dengan dinding dari anyaman bambu. Atap rumahnya terbuat dari daun rumbia atau alang-alang kering. Ada yang menarik. Lantai rumah Suku Sasak merupakan campuran tanah, abu jerami, dan getah pohon, lalu diolesi dengan kotoran kerbau. Mereka mengepel lantai dengan menggunakan kotoran kerbau. Bau kotoran kerbau ketika masih baru diolesi ke lantai masih tercium. Namun, akan hilang sekitar 3 jam kemudian, bila sudah kering. Tradisi mengepel lantai dengan kotoran kerbau masih terjaga hingga kini. Ketika ditanya alasannya, mereka mengemukakan bahwa dengan mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau, rumah tersebut aman dari gangguan nyamuk maupun serangga lainnya. Hal menarik lainnya, di rumah-rumah Suku Sasak selalu ada lumbung padi, berupa bangunan untuk menyimpan padi, hasil panen.

Gambar

Wanita tua yang menjajakan hasil tenunannya di depan rumahnya yang kecil

Besarnya rumah terkait dengan penghuninya. Bagi pasangan yang baru menikah, rumah yang dimiliki tidak seluas rumah yang ditempati oleh keluarga yang telah memiliki anak. Demikian pula rumah bagi orang yang sudah tua, cukup menempati rumah yang kecil. Tradisi gotong royong masih terasa kental di sana. Budaya gotong royong nampak pada saat pembangunan rumah salah satu warga atau pada saat perbaikan rumah salah satu warga yang mengalami kerusakan. Budaya gotong royong yang saat ini sudah mulai memudar, menjadi salah satu kearifan lokal yang patut ditiru.

Gambar

Wanita tua tengah menenun

Gambar

Penenun tua

Gambar

Menatap masa tua

Gambar

Penenun kecil, masih umur 9 tahun

Setiap wanita Suku Sasak memiliki keterampilan menenun. Keterampilan menenun sudah diajarkan sejak kecil. Seorang perempuan Sasak tidak diperkenankan menikah jika belum bisa menenun. Anak-anak umur sekitar 9-10 tahun sudah mahir menenun.

Gambar

Menjajakan souvenir di atas meja sederhana

Gambar

Aneka kain tenun khas Lombok

Gambar

Kain tenun khas Lombok

Di Dusun Sade, hampir setiap rumah menjual hasil kerajinan baik berupa kain tenun, selendang, kaos, patung-patung, gelang, kalung, asbak, tempat buah, gantungan kunci, dan aneka souvenir lainnya. Mereka menjajakan oleh-oleh khas Lombok di depan rumah dengan menggelar meja atau pada bangunan khusus.

Seandainya keunikan dan kekhasan Dusun Sade dapat dikemas secara lebih menarik, lebih tertata, dan diberikan sentuhan penanganan yang lebih terarah, bukan tidak mungkin Dusun Sade dapat menarik lebih banyak lagi wisatawan yang berkunjung. Potensi yang ada sangat besar. Banyak hal menarik yang dapat digali dan menjadi bahan pelajaran bagi yang lainnya.

Mungkin dapat dibuat paket wisata “mengenal lebih dekat Suku Sasak” dengan mengemasnya secara lebih lengkap. Mengenal adat istiadatnya, budayanya, kearifan lokalnya, dan orang-orangnya. Tidak hanya membuka lapak-lapak tempat penjualan souvenir dan oleh-oleh khas Lombok. Banyak budaya yang dapat diperkenalkan dan dipertontonkan, misal belajar menenun, penampilan tari tradisional Suku Sasak, cara bertanam, pemutaran film tentang Suku Sasak, dan budaya khas Suku Sasak lainnya. Pulau Lombok memiliki budaya yang menarik, seperti halnya legenda Putri Mandalika dengan tradisi “bau nyale” nya. Wisatawan dapat dibawa terlibat langsung dalam pengenalan Suku Sasak.

Semoga Pemerintah Provinsi NTB dan Kementerian Pariwisata dapat menggarap Dusun Sade secara lebih apik, mengemasnya dengan lebih cantik. (Del)

Meraih Angan di Gili Trawangan

20140218_074946

Suasana pantai di Gili Trawangan

Pulau Lombok merupakan salah satu pulau yang selalu menyisakan lokasi indah untuk dikunjungi. Setiap kunjungan dalam rangka urusan pekerjaan, selalu menyempatkan diri di sela-sela waktu yang sempit untuk sejenak menikmati keindahan alamnya. Paling tidak, menikmati keindahan salah satu pantainya. Jika waktu yang tersedia sangat terbatas, setidaknya masih mencoba menyempatkan menikmati suasana Senggigi di waktu malam atau sekedar menikmati keunikan sajian kulinernya. Menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat wisata di sela-sela kunjungan dalam rangka kerja memiliki seni tersendiri. Seni mengatur waktu kunjungan dan kecermatan pengaturan teknis perjalanan.

Karena kebanyakan kunjungan ke Pulau Lombok dalam rangka kerja dan dengan waktu yang terbatas itu pula lah yang membuat belum tersalurkannya angan untuk sejenak singgah ke tiga Gili yang sangat terkenal di Pulau Lombok, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Angan yang terlanjur membuncah sangat membutuhkan realisasi.

Kunjungan ke Lombok minggu lalu dengan jadwal pesawat pulang sekitar pukul 2 siang masih menyisakan kesempatan untuk mencoba meraih angan di Gili Trawangan. Terpaksa hanya Gili Trawangan yang sempat terkunjungi karena jadwal yang tidak memungkinkan.

Pelabuhan Menuju Gili Trawangan

Pelabuhan Menuju Gili Trawangan

Keindahan Gili Trawangan yang selama ini hanya menjadi angan, akhirnya terwujud. Pulau kecil yang berada tidak terlalu jauh dari Pulau Lombok dapat pula terjelajahi. Keindahan Gili Trawangan memang memiliki daya pikat tersendiri bagi para wisatawan.

Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Ketiga Gili menjadi destinasi andalan Pulau Lombok. Tidak lengkap rasanya bila berwisata ke Pulau Lombok tanpa singgah ke tiga Gili.

Dermaga menuju Gili Trawangan

Dermaga menuju Gili Trawangan

Pantai di sekitar pelabuhan

Pantai di sekitar pelabuhan

Boat yang digunakan menuju Gili Trawangan

Boat yang digunakan menuju Gili Trawangan

Speed Boat telah disewa per telpon sehari sebelumnya. Pukul 6.30 pagi kami sudah bergegas dan bersiap diri menuju pelabuhan demi mencapai target maksimal jam 12 siang harus tiba di hotel kembali dan langsung menuju Bandara.

Perahu yang biasa digunakan karyawan yang bekerja di Gili Trawangan, penuh sesak

Perahu yang biasa digunakan karyawan yang bekerja di Gili Trawangan, penuh sesak

Perjalanan ke Gili Trawangan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja dengan speed boat sewaan, namun perjalanan menuju pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari hotel tempat menginap di kawasan Senggigi. Speed boat berlabuh di Gili Trawangan sekitar pukul 8 pagi. Masih ada waktu dua setengah jam untuk menjelajahi Gili Trawangan sebelum kembali ke Lombok.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Pantai di Gili Trawangan

Pantai di Gili Trawangan

Narsis, gak penting

Narsis, gak penting

Bantal-bantal empuk di salah satu cafe

Bantal-bantal empuk di salah satu cafe

Pantai yang berpasir putih seakan menyambut kedatangan. Deretan kursi sandar tempat wisatawan bersantai dan berjemur diri berbaris rapi di sepanjang pantai. Gili Trawangan mencoba mengusung wisata yang ramah lingkungan. Tidak ada satu pun kendaraan bermotor yang lalu lalang di sana. Berlaku larangan kendaraan bermotor di pulau kecil tersebut. Seluruh wisatawan maupun karyawan dan penghuni di pulau tersebut hanya boleh menggunakan cidomo (sejenis kereta kuda) atau sepeda. Semua semata agar Gili Trawangan bebas polusi.

Tempat penyewaan sepeda

Tempat penyewaan sepeda

Mata langsung  tertuju pada bertebarannya tempat penyewaan sepeda. Waktu yang terbatas dan hasrat untuk menjelajahi Gili Trawangan dapat diwujudkan dengan moda yang satu ini. Harga sewa sepeda dipatok Rp. 25.000,00 per jam. Selain menjamurnya tempat penyewaan sepeda, terdapat pula banyak tempat penyewaan alat-alat untuk snorkling maupun diving.

Cidomo, salah satu alat transportasi di Gili Trawangan, tidak ada kendaraan bermotor

Cidomo, salah satu alat transportasi di Gili Trawangan, tidak ada kendaraan bermotor

Jalan di Gili Trawangan, di antara toko-toko souvenir dan cafe-cafe

Jalan di Gili Trawangan, di antara toko-toko souvenir dan cafe-cafe

Suasana di Gili Trawangan

Suasana di Gili Trawangan

Berbekal sepeda pinjaman, penjelajahan dimulai. Gili Trawangan terkelilingi dengan jalan rata-rata selebar 2 meter. Sayang, di beberapa spot masih sedikit terputus. Kurang nyaman kalau dilewati sepeda.  Namun, secara keseluruhan, masih layak untuk dinikmati. Kondisi lingkungannya pun masih cukup asri, bersih, tidak banyak ternoda onggokan sampah. Sepertinya pelaku wisata di sana telah sadar untuk menjaga lingkungan Gili.

Lelah bersepeda, café-café pelepas lelah banyak bertebaran di sana. Tinggal pilih yang disuka dan diminati. Bersantai sejenak menikmati suasana pantai yang tidak terlalu hiruk pikuk cukup memadai untuk menghilangkan penat. Kudapan pisang goreng dan secangkir teh hangat terasa sangat nikmat. Masih dapat dilanjut dengan kegiatan snorkeling maupun sekedar bermain air di pantai.

Kesempatan kunjungan ke Gili Trawangan yang cukup singkat cukup lah untuk mewujudkan angan. Bahkan menyisakan asa untuk kembali ke sana, ditambah keinginan untuk berkunjung ke Gili lainnya. Tunggu kami pada kunjungan berikut. (Del)

Cita Rasa dalam Sepotong Tahu Abiantubuh

Tak elok rasanya bila bepergian dan pulang tanpa menenteng oleh-oleh. Sudah menjadi tradisi yang melekat erat bagi warga Indonesia untuk membawa sedikit buah tangan bila bepergian ke manapun. Itu pula yang telah merasuk dalam diri. Bentuk buah tangan tidak selalu harus wah, yang penting khas daerah yang kita kunjungi. Terkadang karena keterbatasan waktu, di sela-sela jadwal yang sulit, membeli buah tangan di bandara pun jadilah. Yang penting ada sesuatu yang dapat dibawa pulang.

Kunjungan ke Pulau Lombok, khususnya ke Kota Mataram bukan yang pertama kali dilakukan, sudah berkali-kali. Kunjungan terakhir ke sana, sempat bingung juga, “Mau bawa oleh-oleh apa ya? Sepertinya kain Lombok sudah ada, mutiara juga sudah ada, kerajinan khas Lombok sudah dari kunjungan sebelumnya. Jeli rumput laut, anak-anak tidak begitu menyukainya. Terasi khas Lombok pun sudah dan hingga saat ini masih bersisa. Telur asin? Gak deh… Ayam taliwang… Ah, kok itu melulu? Apa lagi ya…?”

Seorang teman dari Bali mengajukan ide, “Sudah pernah makan tahu Abiantubuh belum? Enak lho…”. Tahu Abiantubuh? Tahu jenis apa itu? Rasanya baru dengar. Ternyata, selain ayam taliwang, kangkung, telur asin, jeli rumput laut, terasi, terong bakar, ada juga penganan lain khas Lombok.

Sebenarnya tahu ini bukan penganan khas. Tahu banyak ditemui di kota-kota lainnya di negeri kita. Yang hobi menyantap tahu tentunya mengenal tahu Yun-Yi dari Bogor, tahu Sumedang, tahu Cibuntu dari Bandung, tahu bulat dari Bogor, tahu pong, tahu sutra, dan mungkin tahu lainnya. Saya sebagai salah seorang penggemar tahu, penasaran juga, seperti apa wujud dan rasa tahu Abiantubuh?

Gambar

Tahu 151 A, Abian Tubuh, Mataram

Untuk memenuhi rasa penasaran, akhirnya, begitu kesempatan ada, sengaja mampir ke sana. Ternyata yang disebut dengan tahu Abiantubuh dijual di sebuah kedai biasa. Tahu Abiantubuh dijual di kedai yang yang berlokasi di Jalan Prabu Rangkasari No. 151, Mataram. Itulah sebabnya tahu ini juga dikenal dengan nama “Tahu 151A”.

Ada yang menarik. Di depan kios sederhananya, tepatnya di bagian depan lemari pajangnya, terdapat tulisan TABOK. Cukup menarik perhatian. Ternyata maksudnya tahu lombok. Bisa mengandung dua arti. Tahu yang dimakan beserta lombok (cabe) atau tahu yang berasal dari Lombok.

Gambar

Tahu Abiantubuh, tanpa pengawet

Begitu masuk ke dalam kedai, diperlihatkan penampakan tahu mentahnya. Tampilannya tidak begitu menarik. Biasa saja. Bahkan mirip dengan tahu-tahu lainnya yang banyak dijual di Jakarta. Warnanya putih, dan di beberapa bagian, tidak terlalu putih, sedikit berwarna kecoklatan. Ukurannya tidak begitu besar, malah bisa dikatakan kecil. Kira-kira ukuran 4×4 cm. Apa istimewanya? H. Abdul Muhaimin, sang pembuat sekaligus pemilik usaha tahu Abiantubuh seolah tahu keraguan yang menerpa calon pembelinya. “Silakan coba dulu. Mau coba yang mentah atau yang sudah digoreng? Tahu kita tidak pakai pengawet, dijamin enak”.  Akhirnya dibungkuslah 30, dimasukkan dan dibungkus ke dalam wadah anyaman bambu.

Gambar

Kemasan Tahu Abiantubuh

Gambar

Penampakan tahu setelah digoreng

Bagaimana rasanya? Ternyata tidak kalah dengan tahu unggulan lainnya. Walau hingga saat ini tetap tahu Bandung juaranya. Tahunya tidak terlalu lembek dan tidak juga terlalu keras. Sedikit padat. Rasanya mirip dengan tahu Bandung. Warnanya putih dan jika digoreng berubah menjadi sedikit kecoklatan.  Bagaimana harganya? Harganya lumayan. Tidak terlalu murah, agak mahal jika dibandingkan dengan standar harga tahu Jakarta lainnnya. Satu potong tahu dihargai Rp. 4.000,00. Namun, layak juga untuk dijadikan oleh-oleh. Begitu sampai Jakarta, sebagian digoreng, disajikan dengan kecap yang telah dibubuhi potongan cabe rawit. Satu piring sajian, langsung ludes. Sisanya, masuk ke kulkas, bisa untuk besok.

Gambar

Kiosnya tidak terlalu besar, tersedia penganan oleh-oleh lainnya

Gambar

Aneka penganan lainnya

Gambar

Kangkung segar di dalam lemari pendingin

Di kios ini terdapat pula makanan lain yang bisa dijadikan oleh-oleh. Ada kangkung segar, telur asin, dan berbagai camilan lainnya, seperti kerupuk paru, kerupuk kulit kerbau dan kulit sapi, serta penganan lainnya. Bisa dijadikan alternatif oleh-oleh. (Del)

Senggigi Harus Unjuk Gigi

Kebetulan, dalam jangka waktu yang tidak terlampau lama, kembali mendapatkan tugas ke Pulau Lombok. Terlihat ada yang berbeda dengan kawasan Senggigi dibandingkan kunjungan sekitar 2 bulan yang lalu. Di kawasan seputar Senggigi, terutama di jalur tempat para wisatawan nongkrong sekedar menikmati suasana indahnya pantai Senggigi, sekarang mulai ditata, dalam arti telah ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung “tempat nongkrong” di sepanjang Pantai Senggigi. Di beberapa spot lokasi telah dilengkapi dengan area yang disediakan khusus untuk sekedar menikmati suasana alam, menikmati keindahan Pantai Senggigi. Salah satunya berupa bangunan terbuka dengan dilengkapi bangku dan meja. Semua ditujukan agar para wisatawan dapat menikmati suasana alam sambil menikmati jagung bakar, rujak, kelapa muda, atau secangkir kopi.

Gambar

Pantai Senggigi nan indah

Dari beberapa spot di sepanjang jalan yang menyusur Pantai Senggigi, para wisatawan dapat rehat sejenak, menikmati indahnya alam, indahnya Pantai Senggigi yang terhampar di bawahnya. Sejenak melepas penat, atau menerbangkan khayalan ke negeri antah berantah, atau membiarkan hati menggalau ditemani hembusan angin yang menerpa.

Gambar

Pantai Senggigi

Gambar

Menikmati jagung bakar di Pantai Senggigi

Gambar

Jagung bakar di Pantai Senggigi

Penataan kawasan di sepanjang pantai Senggigi sudah benar. Selain menyediakan alternatif kawasan wisata pantai yang murah meriah dan dapat dinikmati semua wisatawan, juga untuk menepis anggapan bahwa pantai hanya dikuasai oleh hotel dan resort yang berderet di sepanjang Pantai Senggigi.

Gambar

Sampah yang berserakan, sangat mengganggu

Niat untuk menata dan membenahi kawasan Senggigi sudah baik, namun sayang seribu sayang. Sekali lagi, warga, khususnya para pelaku pariwisata di Pulau Lombok seakan belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ini merupakan salah satu modal jika ingin bergelut di dunia pariwisata. Ada hal yang terasa mengganggu ketika kita melayangkan pandang pada indahnya suasana. Ada sesuatu yang merusak pandangan, sangat kontras dengan indahnya pantai yang terbentang di bawah sana.

Gambar

Lereng yang dipenuhi sampah

Para pedagang seharusnya diberikan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Juga mengingatkan para pengunjung, agar tidak membuang sampah sembarangan. Jadi teringat dengan kesadaran pelaku wisata di Pulau Bali. Para pedagang dengan kesadaran penuh, di pagi hari sebelum membuka lapak di sepanjang Pantai Bali, baik di Sanur, Kuta, maupun pantai yang lainnya, dengan sukarela, membersihkan sampah/kotoran yang ada. Mereka sadar, lingkungan yang bersih tentunya akan tetap mengundang wisatawan datang berkunjung. Ini yang belum dimiliki oleh pelaku wisata di Lombok. Perlahan, diperlukan penyadaran bagi para pelaku wisata di Lombok. Sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Terlihat tebaran dan onggokan sampah di bawah tebing. Tebing seakan menjadi tempat sampah besar. Sangat mengganggu pandangan. Perlu pembenahan pula.

Untuk mendukung pariwisata Lombok, perlu ditunjang oleh penyadaran masyarakatnya, khususnya para pelaku yang terlibat dalam pariwisata. Masih sering ditemui, hal-hal yang mengganggu. Misal, banyaknya pedagang asongan di sepanjang Pantai Senggigi, Pantai Kuta, maupun Pantai Tanjung Aan, yang menjajakan dagangannya dengan sedikit “memaksa” atau kurang ramah.

Memang membutuhkan waktu. Bali pun demikian.  Bali sekarang, tidak serta merta seperti sekarang. Membutuhkan proses pembelajaran industri pariwisata yang cukup panjang. Semoga Lombok pun dapat belajar, untuk menata, mengembangkan, dan mengelola potensi pariwisatanya. Sehingga semakin banyak destinasi wisata Indonesia yang muncul ke permukaan. Sengigi pun harus unjuk gigi. Salam. (Del)

Sentra Mutiara Khas Lombok Sekarbela: Mulai Meredup?

Gambar

Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela di Mataram, NTB

Lombok dan Mutiara bagaikan dua kata yang tidak terpisahkan. Identitas yang sudah melekat erat dengan Pulau Lombok. Ke Lombok belum sah bila belum membawa oleh-oleh mutiara. Lombok tidak hanya kaya dengan keindahan alam, pantai, dan kerajinan tangan khas lainnya. Lombok juga terkenal dengan mutiaranya. Terdapat beragam tempat penjualan perhiasan mutiara di Pulau Lombok, mulai dari yang kelas galery hingga yang kelas kaki lima. Bahkan di depan hotel-hotel baik di pusat Kota Mataram maupun di hotel/resort sepanjang Pantai Senggigi pun banyak yang menjual bermacam perhiasan mutiara. Harga tentu bervariasi mulai dari  mutiara “tiruan”, bukan mutiara asli, yang harganya super duper murah, sampai mutiara yang dihargai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Semuanya tergantung kualitasnya, juga tergantung lokasi penjualannya.

Terkadang konsumen tidak mengetahui cara membedakan mutiara yang asli dengan grade unggulan, mutiara air laut, mutiara air tawar, maupun mutiara yang aspal. Bagi orang yang awam dalam dunia per-mutiara-an, sekilas mutiara-mutiara tersebut tampak sama dan serupa. Namun, jika dilihat dan ditilik secara lebih teliti, terlihat perbedaannya.

Gambar

Deretan toko emas dan mutiara di sepanjang Jalan Sultan Kaharudin, Sekarbela, Mataram

Gambar

Suasana depan deretan toko emas dan mutiara yang tampak lengang di Sekarbela, Mataram

Terdapat banyak sentra penjualan mutiara yang tersebar di Pulau Lombok. Salah satunya adalah Pusat Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela. Sekarbela merupakan sebuah desa yang berjarak sekitar 4 km dari pusat Kota Mataram. Terdapat di Kelurahan Karang Pule, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan sejarahnya, dulu Sekarbela merupakan areal persawahan yang kemudian berubah fungsi menjadi pusat kerajinan emas dan mutiara dengan harga yang sangat bersaing. Sekarbela telah lama ada sebagai pusat pengrajin dan pusat penjualan emas berhiaskan mutiara.

Gambar

Sentra kerajinan emas dan mutiara Sekarbela, Mataram. Tampak tidak terlalu ramai

Berdasarkan informasi yang didapat, Sentra kerajinan mutiara Sekarbela sudah lama ada. Sudah terkenal sejak dulu. Awalnya para pedagang yang ada di Sekarbela adalah pedagang yang berasal dari Arab. Banyak orang Arab yang awalnya datang untuk berdagang, namun akhirnya menetap di Sekarbela, menikah dengan penduduk setempat.

Kunjungan ke Mataram bukan yang pertama kali, sudah berkali-kali. Namun, ada satu hal yang membuat penasaran dan menyisakan tanya. Mengapa setiap mengatakan ingin ke Sekarbela pada sopir yang mengantar, selalu dijawab, “Sebaiknya, jangan ke Sekarbela Bu. Lebih baik ke tempat lainnya, nanti saya tunjukkan. Tempat penjualan mutiara yang nanti saya tunjukkan sudah dijamin keasliannya, ada sertifikatnya”. Ujungnya, kami diantar ke tempat penjualan mutiara lainnya, yaitu ke sebuah show room penjualan mutiara, atau lebih tepatnya ke Galery. Bisa ditebak, harganya pun selangit, tidak sesuai dengan kocek di kantong. Paling tidak, telah dua kali kejadian ini saya alami. Terpikir, “Wah, ini pasti akal-akalan sopir rental mobilnya”. Mungkin karena galery yang dimaksud telah bekerja sama dengan para sopir. Dengan hati masygul, ketika kembali meminta untuk diantar ke Sekarbela, sang sopir menjelaskan, “Kalau di Sekarbela, saya tahu persis, mereka itu pengrajin. Banyak yang nakal. Mutiara yang dijual bukan mutiara asli, namun berasal dari kerang yang dibentuk sedemikian rupa, menjadi “serupa mutiara”. Benarkah? Memang bisa kerang diolah sedemikian rupa menjadi menyerupai mutiara? Atau ini juga akal-akalan sopir? Hehehe…Perlu lebih pintar untuk mensiasati sopir rental ini demi keingintahuan tentang Sekarbela. Akhirnya dengan raut wajah yang berubah, sopir mau juga mengantar ke Sekarbela.

Gambar

Suasana di dalam salah satu toko perhiasan emas dan mutiara di Sekarbela, Mataram

Gambar

Aneka perhiasan mutiara di Sekarbela, Mataram

Gambar

Sebagian koleksi perhiasan mutiara di Sekarbela, Mataram

Ternyata yang dimaksud dengan Pusat Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela adalah kawasan di sepanjang jalan Sultan Kaharudin. Sepanjang jalan terlihat deretan kios maupun toko yang menjual aneka perhiasan berhiaskan mutiara. Perhiasannya bermacam, ada yang berbahan dasar emas kuning, emas putih, perak, atau sekedar berlapis emas, bahkan yang berbahan dasar stainless. Tentu harganya bervariasi tergantung bahan dasar perhiasan dan jenis mutiaranya. Ada mutiara budidaya laut dan mutiara budidaya air tawar. Desainya mulai dari kalung, cincin, anting, giwang, gelang, bros, maupun asesoris lainnya. Yang paling disukai pembeli tentunya yang memiliki ciri khas Lombok, yaitu desain yang dikombinasikan dengan mutiara. Mutiara yang tersedia, selain dibedakan dari jenis budidayanya, juga terdapat beragam warna, putih, kuning keemasan, coklat, dan hitam. Menurut penjualnya, mutiara air laut yang dibudidayakan di Lombok dikenal dengan sebutan “South Sea Pearl”. Mutiara air laut memiliki tekstur yang berbeda dari mutiara air tawar. Warnanya lebih creamy atau lebih keemasan. Kerap disebut pula “Golden South Sea Pearl”. Mutiara air laut memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan mutiara air laut.

Yang terpikir adalah, Lombok memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan Bali. Lombok dapat saling melengkapi dengan pariwisata Bali. Namun, sayang pengelolaan pariwisata di Lombok masih sangat kurang. Penduduknya pun masih perlu belajar banyak dari Bali. Jika setiap sopir bersikap seperti ini, sangat berpengaruh pada perkembangan Sekarbela. Padahal potensi yang tersimpan dari Sekarbela, sangat besar. Lama kelamaan pamor Sekarbela bukan tidak mungkin, akan meredup. Adakah yang mau membela? Salam. (Del)