Senggigi Harus Unjuk Gigi

Kebetulan, dalam jangka waktu yang tidak terlampau lama, kembali mendapatkan tugas ke Pulau Lombok. Terlihat ada yang berbeda dengan kawasan Senggigi dibandingkan kunjungan sekitar 2 bulan yang lalu. Di kawasan seputar Senggigi, terutama di jalur tempat para wisatawan nongkrong sekedar menikmati suasana indahnya pantai Senggigi, sekarang mulai ditata, dalam arti telah ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung “tempat nongkrong” di sepanjang Pantai Senggigi. Di beberapa spot lokasi telah dilengkapi dengan area yang disediakan khusus untuk sekedar menikmati suasana alam, menikmati keindahan Pantai Senggigi. Salah satunya berupa bangunan terbuka dengan dilengkapi bangku dan meja. Semua ditujukan agar para wisatawan dapat menikmati suasana alam sambil menikmati jagung bakar, rujak, kelapa muda, atau secangkir kopi.

Gambar

Pantai Senggigi nan indah

Dari beberapa spot di sepanjang jalan yang menyusur Pantai Senggigi, para wisatawan dapat rehat sejenak, menikmati indahnya alam, indahnya Pantai Senggigi yang terhampar di bawahnya. Sejenak melepas penat, atau menerbangkan khayalan ke negeri antah berantah, atau membiarkan hati menggalau ditemani hembusan angin yang menerpa.

Gambar

Pantai Senggigi

Gambar

Menikmati jagung bakar di Pantai Senggigi

Gambar

Jagung bakar di Pantai Senggigi

Penataan kawasan di sepanjang pantai Senggigi sudah benar. Selain menyediakan alternatif kawasan wisata pantai yang murah meriah dan dapat dinikmati semua wisatawan, juga untuk menepis anggapan bahwa pantai hanya dikuasai oleh hotel dan resort yang berderet di sepanjang Pantai Senggigi.

Gambar

Sampah yang berserakan, sangat mengganggu

Niat untuk menata dan membenahi kawasan Senggigi sudah baik, namun sayang seribu sayang. Sekali lagi, warga, khususnya para pelaku pariwisata di Pulau Lombok seakan belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ini merupakan salah satu modal jika ingin bergelut di dunia pariwisata. Ada hal yang terasa mengganggu ketika kita melayangkan pandang pada indahnya suasana. Ada sesuatu yang merusak pandangan, sangat kontras dengan indahnya pantai yang terbentang di bawah sana.

Gambar

Lereng yang dipenuhi sampah

Para pedagang seharusnya diberikan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Juga mengingatkan para pengunjung, agar tidak membuang sampah sembarangan. Jadi teringat dengan kesadaran pelaku wisata di Pulau Bali. Para pedagang dengan kesadaran penuh, di pagi hari sebelum membuka lapak di sepanjang Pantai Bali, baik di Sanur, Kuta, maupun pantai yang lainnya, dengan sukarela, membersihkan sampah/kotoran yang ada. Mereka sadar, lingkungan yang bersih tentunya akan tetap mengundang wisatawan datang berkunjung. Ini yang belum dimiliki oleh pelaku wisata di Lombok. Perlahan, diperlukan penyadaran bagi para pelaku wisata di Lombok. Sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Terlihat tebaran dan onggokan sampah di bawah tebing. Tebing seakan menjadi tempat sampah besar. Sangat mengganggu pandangan. Perlu pembenahan pula.

Untuk mendukung pariwisata Lombok, perlu ditunjang oleh penyadaran masyarakatnya, khususnya para pelaku yang terlibat dalam pariwisata. Masih sering ditemui, hal-hal yang mengganggu. Misal, banyaknya pedagang asongan di sepanjang Pantai Senggigi, Pantai Kuta, maupun Pantai Tanjung Aan, yang menjajakan dagangannya dengan sedikit “memaksa” atau kurang ramah.

Memang membutuhkan waktu. Bali pun demikian.  Bali sekarang, tidak serta merta seperti sekarang. Membutuhkan proses pembelajaran industri pariwisata yang cukup panjang. Semoga Lombok pun dapat belajar, untuk menata, mengembangkan, dan mengelola potensi pariwisatanya. Sehingga semakin banyak destinasi wisata Indonesia yang muncul ke permukaan. Sengigi pun harus unjuk gigi. Salam. (Del)

Advertisements

Batam, Kota Pusat Pertumbuhan dan Ancaman Kerusakan Mangrove

Batam merupakan salah satu kota yang diproyeksikan untuk menjadi pusat kegiatan dan pusat pertumbuhan di luar Pulau Jawa. Menengok PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Batam merupakan salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan juga Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Dengan label PKN yang disandang, Batam sebagai kawasan perkotaan memiliki fungsi melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Posisinya sebagai PKSN juga menempatkannya sebagai kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Lokasi dan fungsinya yang strategis menyimpan potensi yang besar sebagai pusat pertumbuhan.

Batam sejak lama sudah dihujani dengan beragam kebijakan dan program pendorong pertumbuhan. Sejak awal, pihak Otorita Batam gencar melakukan berbagai program pembangunan untuk menyuntikkan doping pertumbuhan. Hasilnya sudah mulai tampak, walau dirasa belum optimal. Pengembangan Batam untuk memantapkannya sebagai pusat pertumbuhan mengundang berbagai upaya pembangunan dan pengeksploitasian.

Banjirnya program pembangunan yang melanda Kota Batam, bukannya tanpa menyisakan masalah. Batam tak henti dirundung masalah. Beragam permasalahan saling terkait satu dengan yang lain. Mulai dari masalah kelembagaan, terkait dualisme kewenangan antara Otorita Batam (BP Batam) dan pihak Pemerintah Kota. Lanjut dengan permasalahan terbengkalainya ruko-ruko dan pusat-pusat perdagangan sejalan dengan meredupnya Batam. Atau permasalahan penyediaan air bersih dan menjamurnya “Ruli”, atau rumah liar, seperti disampaikan pada artikel sebelumnya (http://regional.kompasiana.com/2013/08/24/batam-kota-pusat-pertumbuhan-yang-dipenuhi-ruli-586133.html ).  Beragam permasalahan yang menimpa Kota Batam sungguh sulit untuk diurai. Perlu kesungguhan dan tekad sekuat baja.  Butuh sifat ksatria pemimpinnya. Ksatria baja hijau atas nama kelestarian lingkungan. Permasalahan lingkungan di Kota Batam yang tidak kalah mengusik adalah kerusakan mangrove di sepanjang pesisir Batam.

Gambar

Kerusakan Mangrove di Pesisir Batam
Sumber Foto: wwwllpklhkepri.blogspot.com

Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove. Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis.

Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Kegiatan manusia baik sengaja maupun tidak sengaja telah menimbulkan dampak terhadap ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove di Pesisir Kota Batam secara kasat mata telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh penyebab langsung maupun karena faktor-faktor pemicu lainnya.  Salah satu penyebab rusaknya ekosistem mangrove di Pesisir Kota Batam adalah pencemaran air laut terutama karena ulah manusia yang tanpa sadar lingkungan melakukan pembuangan limbah baik limbah cair maupun limbah padat. Jika kita melihat Pantai Nongsa, sampah-sampah tersebar pula di sepanjang pesisir pantai. Selain itu, yang tak kalah membuat miris adalah beragam proyek pembangunan, alih fungsi lahan, maupun penebangan kayu mangrove.

Seperti halnya dengan ekosistem lain, ekosistem mangrove memiliki sifat homeostatis, yaitu sifat ekosistem yang selalu mencari keseimbangan (ekuilibrium) baru yang dinamik. Artinya, jika ekosistem tersebut mengalami gangguan, selama gangguan tersebut tidak melampaui daya lentingnya, maka ekosistem tersebut akan mampu pulih kembali. Daya lenting (resilience) adalah kemampuan suatu sistem untuk pulih kembali setelah menyerap gangguan/informasi dari luar. Hanya yang menjadi masalah  adalah jika gangguan tersebut telah jauh melampaui daya lentingnya, tentu yang akan terjadi adalah ketidakseimbangan ekosistem, kerusakan ekosistem, bahkan hilangnya ekosistem tersebut.

Untuk mengatasinya, Jalinan pola hubungan manusia dengan lingkungan alam harus disertai dengan kearifan serta rasa tanggung jawab dari manusia itu sendiri sebagai makhluk dominan dalam memanfaatkan alam lingkungannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat netral, menjadi bermanfaat atau merusak lingkungan,  sangat tergantung pada manusia yang menerapkannya.

Manusia yang pada dasarnya memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan subsistem lainnya harus dibekali dengan kearifan serta rasa tanggung jawab dalam mengelola lingkungan baik sebagai jaminan kelangsungan hidup maupun pemenuhan kehidupan.

Kesadaran  individu dalam masyarakat mengenai lingkungan hidup dan kelestariannya merupakan hal krusial karena  perusakan lingkungan merupakan hal yang sulit dihindari. Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam berbagai aktifitas lingkungan maupun aktifitas kontrol lainnya sangat diperlukan. Dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam ekosistem mangrove di Pesisir Kota Batam, harus memperhatikan faktor keberlanjutan (sustainability).

Untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan, diperlukan upaya keras dari semua stakeholder. Yang tidak kalah penting adalah upaya penegakan hukum yang nyata. Tanpa penegakan hukum, semua usaha akan menjadi sia-sia. Pada kasus Kota Batam, penegakan hukum diperlukan terutama menyangkut pemberian ijin pendirian perumahan yang dilakukan oleh para pengembang yang mengambil lahan pada kawasan hutan mangrove yang sebenarnya diperuntukkan untuk kawasan lindung.

Salam. (Del)

CR7 dan SBY Tanam Mangrove, Lulut Sudah Jauh di Depan

Rabu, 26 Juni 2013, di Taman Hutan Raya (Tahura) Telaga Waja, Benoa, Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo (CR7) melakukan penanaman mangrove. CR7 pun dinobatkan sebagai Duta Mangrove Indonesia. Kesediaan CR7 menjadi duta mangrove Indonesia tidak terlepas dari keprihatinannya setelah melihat kehancuran yang diakibatkan oleh bencana tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Pemain asal Portugal tersebut tidak ragu untuk mengambil andil agar tindakannya memberikan inspirasi bagi penyelamatan mangrove Indonesia.

Yang dilakukan oleh CR7 dan SBY sudah tepat, tidak salah, dan tidak keliru. Kita hanya berharap tindak lanjut, agar tidak hanya terhenti pada acara seremonial saja. Agar gaungnya lebih dahsyat lagi dan terasa di seluruh pelosok negeri. Terasa di sepanjang pantai Indonesia yang sungguh sangat panjang. Terasa dalam memperluas hutan mangrove Indonesia yang semakin tidak luas lagi. Semoga.

Tanpa mengecilkan arti tindakan yang dilakukan SBY dan CR7, tulisan ini hendak mengangkat langkah seorang Lulut Sri Yuliani, sosok yang telah jauh di depan dalam upaya pelestarian mangrove Indonesia. Sekedar oleh-oleh hasil dolanan ke Surabaya.

Siapakah Lulut Sri Yuliani? Seberapa pentingnyakah beliau sehingga perlu diangkat dalam tulisan? Mengapa diperbandingkan dengan CR7 dan SBY? Apa hubungannya? Apa korelasinya? Sudahlah, tak perlu banyak tanya, lanjutkan saja bacanya. *tersenyumlah…

Lulut Sri Yuliani
Sumber : http://www.ekonomi.kompas.com

Jika bertemu langsung dengan sosok Lulut Sri Yuliani, kesan pertama yang muncul adalah beliau sosok yang sangat sederhana, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, straight to the point. Setelah mendengarkan penjelasan sekilas tentang upaya pelestarian mangrove yang telah dilakoninya baru kita terperangah, terkagum-kagum, acungan jempol layak diberikan. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung mengatakan, “Jika ingin tahu lebih banyak, serius untuk menjalani, silakan ikuti pelatihan kami. Jika tidak, lebih baik tidak usah. Pelatihan kami berbeda dengan pelatihan lainnya. Jika ketahuan ada yang tidak serius, kami tidak segan-segan untuk menghentikannya. Selesai pelatihan kami tetap melakukan monitoring agar pelatihan benar-benar bermanfaat”.

Produk Olahan Mangrove

Upaya yang dilakukan oleh Lulut Sri Yuliani dalam upaya melestarikan tanaman mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya memang luar biasa. Ibu Lulut langsung menerka apa yang ada di benak, yang menjadi keraguan kami. “Jangan berfikiran akan menemukan lokasi pengolahan mangrove dengan skala besar di sini. Kami lebih mementingkan pemberdayaan masyarakat sekitar”. Tempat pengolahan dan pembuatan produk-produk turunan mangrove yang dikomandoi oleh Ibu Lulut tersebar di sekitar kediamannya, di Kompleks Wisma Kedungasem Indah, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Semuanya skala rumahan, walaupun hasilnya melebihi itu. Selain tempat pembuatan batik mangrove yang berada di kediamannya sendiri, beliau juga menunjukkan rumah-rumah tempat pengolahan kerupuk mangrove, tempat pengolahan tempe mangrove, sirop mangrove, dll yang notabene merupakan tetangga-tetangganya. Tidak jauh dari kediamannya.

Perjuangan Ibu Lulut Sri Yuliani telah membuahkan hasil penghargaan Kalpataru tahun 2011 untuk kategori perintis lingkungan, namun itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana membaktikan diri pada masyarakat dan lingkungan. Itu jauh lebih mulia, jauh lebih bernilai. Sesuai dengan janjinya pada Sang Pencipta setelah mengalami mujizat yang luar biasa.

Awalnya Ibu Lulut membaktikan diri sebagai guru, mengajar di sejumlah sekolah dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMK Panglima Sudirman dan SMPK Prapanca 2 Surabaya. Namun tahun 1997 Ibu Lulut mengalami tragedi hidup yang berat. Tubuhnya lumpuh dan dokter telah menjatuhkan vonis bahwa hidupnya tidak akan lama. Aliran darahnya tidak normal dan pembuluh darahnya pecah. Tangan, kaki, dan bagian tubuh lain tidak dapat digerakkan lagi. Jika aliran darah tidak dapat mencapai otak, maka tamatlah sudah. Walau tekad untuk sembuh sangat kuat, sampai pula Ibu Lulut pada tahap pasrah karena semua upaya pengobatan yang dilakukan sia-sia. Ibu Lulut hanya berharap mujizat. Terlontar janji. “ Jika sembuh, saya akan mengabdikan diri pada alam dan masyarakat”. Tuhan Maha Mendengar, beliau sembuh. Dan janji harus ditepati. Untuk itu, sejak tahun 2007, sebagai Ketua Forum Peduli Lingkungan (FPL) Kecamatan Rungkut, beliau total mengabdikan diri untuk masyarakat dan lingkungan. Dari sinilah seorang Lulut Sri Yuliani bergerak nyata, walau sudah memulai sejak tahun 1996.

Beragam Hasil Produk Olahan Mangrove

Beliau menyadari bahwa upaya pelestarian lingkungan tidak dapat hanya menjaga dan merawatnya saja tapi juga harus memiliki nilai ekonomi bagi warga setempat. Hanya yang perlu ditekankan, jangan berfikir ekonomi terlebih dahulu. Yang utama tetap lingkungan. Beliau berfikir tentang cara memberdayakan masyarakat untuk peduli pada mangrove namun tetap memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Munculah beragam karya olahan mangrove dari tangannya. Dari tangannya mangrove dapat dioleh menjadi sirup, sabun cair, kerupuk, tepung, roti kering, permen, batik, dan banyak yang lainnya.

Ibu Lulut kemudian membentuk Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Griya Karya Tiara Kusuma untuk mempromosikan dan mendistribusikan produk olahan mangrove karya warga sekitar. Salah satu produk unggulannya adalah Seni Batik Mangrove Rungkut atau lebih dikenal dengan “Batik SeRU”. Apa yang membedakan Batik Seru dengan batik lainnya? Apa itu Batik Mangrove?

Batik Mangrove, Batik SeRU

Batik mangrove memiliki tema mangrove. Hutan mangrove dimanfaatkan sebagai dasar motif batik yang menarik. Tak hanya itu, prosesnya pun harus ramah lingkungan. Memakai pewarnaan alami. Setiap batik dibuat ekslusif, berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap perajin menciptakan komposisi desain sendiri. Ibu Lulut hanya menyiapkan pakemnya saja. Beliau ingin agar setiap karya itu orisinal, tidak menjiplak. Peserta pelatihan batik mangrove pun harus lepas dari pengaruh batik lainnya. Hasil kerja kerasnya telah diapresiasi. SBY dan Ibu Ani pun tak mau ketinggalan, sudah memesan langsung batik seru.

CR7 dan SBY telah memukul gong keberpihakan pada mangrove Indonesia. Namun gaungnya harus terus disuarakan, disebarluaskan, dan ditindak lanjuti. Agar tidak hanya berhenti dalam tataran seremonial saja. Tidak nanggung. Perlu Lulut-Lulut lain yang mengambil estafet keberpihakan pada lingkungan. Perlu langkah-langkah lanjutan. Langkah yang terus melaju ke depan. Tanpa seremonial belaka.

Dirgahayu Jakarta: Masih Mampukah Memikul Beban?

Hari ini, Jakarta berulang tahun, ulang tahun yang ke 486. Ditilik dari umurnya, Jakarta sudah sangat renta namun sekaligus juga kaya akan sejarah perjalanan. Di usianya yang telah uzur, masih mampukah Jakarta memikul beban? Masih mampukah menanggung beratnya desakan hidup? Masih mampukah memberi harapan bagi para penghuninya? Berikut  adalah beban-beban yang tampak jelas menghadang di depan mata.

Beban Jumlah Penduduk

Sumber : nasional.kompas.com

Merujuk pada catatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta per Nopember 2011 adalah 10.187.595 jiwa.  Jumlah yang sangat besar untuk luas wilayah yang hanya 650 km2. Dari kedua angka tersebut diketahui kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta rata-rata 15.673 jiwa/km2. Jika kita mau lebih rinci lagi, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan, masing-masing menempati kepadatan penduduk no 1 hingga no 3 di Indonesia, dengan kepadatan penduduk Jakarta Pusat yang mencapai 23.371 jiwa/km2. Bagaimana dengan Jakarta Timur dan Jakarta Utara? Tidak jauh berbeda, mereka tetap berada di 10 besar kota yang berkepadatan tinggi, yaitu di urutan 7 dan 9. Hanya Kepulauan Seribu yang berbeda. Data tersebut tidak terlalu mengejutkan. Tidak terlalu mencengangkan karena sudah bisa ditebak.

Itu hanya hitungan jumlah penduduk secara resmi. Kalau kita mau lebih cermat, jumlah “penduduk siang” di Jakarta akan berbeda dengan “penduduk malam”. Jumlah di atas belum memperhitungkan beban yang harus dipikul Kota Jakarta pada siang hari. Jumlah tersebut belum mengakomodir jumlah penduduk di sekitar Jakarta yang menjadi Commuter. Tinggal di sekitar Jakarta namun bekerja dan mencari penghidupan di Jakarta. Sehingga jumlahnya akan lebih banyak lagi.

Coba bandingkan dengan kota-kota lainnya di luar Pulau Jawa. Kota Palu sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tengah hanya memiliki kepadatan penduduk 739 jiwa/km2 . Kota Palangkaraya yang merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, yang sering diwacanakan sebagai alternatif ibukota negara, “hanya” memiliki kepadatan penduduk 71 jiwa/km2 saja. Kota Sorong di Papua Barat sana juga hanya memiliki kepadatan penduduk 132 jiwa/km2.

Jumlah penduduk Jakarta yang sedemikian besar bukan angka mati, yang tetap berada di angka tersebut. Kecenderungannya masih akan bertambah. Jakarta tetap dipandang sebagai pabrik gula yang selalu mengundang semut untuk mendatangi. Bagi sebagian besar orang yang berada di luar Jakarta, Jakarta tetap dipandang sebagai tempat untuk mewujudkan harapan dan cita. Tidak perlu razia KTP yang selalu dilaksanakan setiap habis Lebaran, karena bukan itu solusinya. Jakarta bukan Kota yang dapat berdiri sendiri dan memecahkan permasalahannya sendiri. Tanpa pembukaan keran harapan di daerah asal, tanpa pembukaan lapangan pekerjaan di wilayah asal, tanpa pembangunan dan penyediaan sarana dan prasarana di perdesaan, kita tidak bisa mencegah mereka datang.

Lepas dari solusi komprehensif terhadap permasalahan yang ada, so what? Apa artinya angka-angka tersebut? Jumlah penduduk yang besar dengan kepadatan yang tinggi tentunya menimbulkan konsekuensi. Tentunya membutuhkan pelayanan yang memadai. Membutuhkan sarana dan prasarana. Sudahkah Jakarta memenuhinya? Sudahkah Jakarta mengantisipasinya? Kecepatan pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan kecepatan penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya.

Beban Lingkungan

Manusia hidup dan berkehidupan menyatu dengan lingkungannya, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan buatan. Demikian pula hal nya dengan manusia yang tinggal di Jakarta. Jakarta bukannya tidak tak terbatas. Jakarta memiliki batasan. Ada hitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sekedar menyegarkan ingatan, yang dimaksud dengan daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Yang dimaksud dengan daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk dan dimasukkan ke dalamnya.

Ada batas toleransi pengembangan dan pembangunan yang perlu ditegaskan untuk Kota Jakarta. Memang perlu diakui, manusia dengan karunia akal dan pikiran, dapat melakukan rekayasa teknologi terkait dengan pembangunan yang dilakukan. Manusia dapat mengatasi permasalahan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Namun, pada akhirnya, ada batasan yang tidak dapat dilampaui. Alam pasti akan menunjukkan keperkasaannya. Alam dan lingkungan akan menampilkan reaksi secara fisik.

Kita dapat menggunakan analogi kapal laut. Setiap kapal memiliki kapasitas dan kemampuan tonasi sebagai ambang batas kemampuan dan daya angkut kapal. Dengan rekayasa teknologi yang terus berkembang, tonasi sebagai ambang batas bisa saja bertambah. Namun begitu ambang batasnya terlampaui, kapal akan tenggelam dan karam. Begitu pula halnya dengan Kota Jakarta, ketika beban lingkungan yang dialami oleh Jakarta telah melampaui daya dukung dan daya tampungnya, Jakarta akan tenggelam, tanpa daya.

Masih terekam dalam ingatan, peristiwa amblesnya Jalan RE Martadinata di Jakarta Utara sedalam 7 m pada ruang sepanjang 103 meter dengan lebar 4 meter. Ini juga merupakan salah satu pertanda jalan tersebut telah memikul beban yang terlampau berat, melampaui kemampuannya untuk mendukung kegiatan di atasnya, untuk menampung aktivitas di atasnya.

Rob di Jakarta
Sumber : megapolitan.kompas.com

Beban lingkungan lain yang patut untuk diperhatikan adalah dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global. Jakarta pun mengalaminya. Jakarta mengalami penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut. Penurunan muka tanah dan kenaikan air laut  berdampak pada meluasnya Rob atau banjir air laut. Tidak perlu terlalu jauh untuk membuktikannya. Jalan Pangeran Jayakarta di Jakarta Utara sebagai salah satu bukti. Walau tidak ada hujan, jalannya tetap tergenang, dan itu akibat rob. Rob atau dikenal pula dengan banjir laut adalah banjir yang menggenangi daratan yang lebih rendah dari permukaan air laut pada suatu daerah yang disebabkan oleh air laut pasang. Di jakarta, menurut data yang ada, pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut  5 hingga 8 milimeter setiap tahunnya.

Akankah Jakarta bertahan? Mampukah Jakarta memikul beban?

Beban Penyediaan Sarana dan Prasarana Transportasi Publik

Jakarta merupakan Kota Metropolitan. Untuk mewujudkan Kota Jakarta yang indah, sehat, nyaman, dan layak huni, masih dihadapkan pada permasalahan penyediaan pelayanan sarana dan prasarana publik yang memadai dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Jumlah penduduk yang besar dan jumlah commuter yang tinggi membutuhkan pemenuhan atas tuntutan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi, khususnya transportasi publik.

Sumber : kompas.com

Konon katanya, saat ini Jakarta masih terkungkung oleh permasalahan kemacetan. Masalah klasik namun sangat membutuhkan penanganan segera. Ini masalah urgent dan sangat serius. Jika orang ditanya tentang bagaimana menggambarkan Kota Jakarta dalam satu kata, bukan tidak mungkin jika persentasi jawaban “Macet” akan menempati porsi yang tinggi. Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju. Banyak yang dengan cepat menyimpulkan bahwa solusinya adalah penambahan jalan, pelebaran jalan. Itu memang solusi, tapi hanya sesaat. Terkadang, bahkan seringkali, pemerintah menerapkan kebijakan yang keliru. Penambahan jalan dan penyediaan angkutan massal yang buruk dan tidak nyaman hanya akan mendorong masyarakat untuk memiliki mobil baru. Pemerintah harus memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat. Masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan jalan yang mulus dan lebar namun membutuhkan sampai ke tempat tujuan atau ke tempat aktivitasnya atau ke tempat kerjanya dengan aman, lancar, nyaman, dan tepat waktu.  Kemacetan di Jakarta disebabkan oleh pemakaian kendaraan pribadi yang berlebihan dan ini salah satunya sebagai akibat dari penyediaan angkutan massal yang tidak memadai, tidak aman, tidak nyaman, dan tidak tepat waktu. Kalau angkutan massal memadai, aman, nyaman, tepat waktu, tanpa pemaksaan pun, pemakai kendaraan pribadi akan beralih dan tidak akan macet.

Jumlah kendaraan pribadi yang melimpah ruah karena Jakarta tidak memperhatikan pengembangan angkutan umum. Kalau angkutan umum telah dibenahi keadaan tentunya akan lain. Masyarakat tentu akan cerdas untuk menentukan. Kalau angkutan umum lebih buruk dibandingkan dengan kendaraan pribadi, tentunya mereka tidak akan mau beralih.

Jokowi selaku panglima, pimpinan tertinggi Jakarta bukan tanpa upaya dan tanpa usaha. Namun perlu sumbangan dari seluruh lapisan warga untuk membantunya. Perlu sumbangan pemikiran dari para pakar, perlu sumbangan kesadaran dan dukungan masyarakat, perlu kontribusi swasta, dsb. Jokowi sudah tepat dengan lebih memilih membangun sarana transportasi massal dibandingkan dengan menambah jaringan jalan. Kita tidak perlu malu untuk belajar dari penyediaan atau pembangunan transportasi massal di kota lain yang telah menyediakan angkutan massal yang cepat dan murah. Tokyo misalnya, yang telah memiliki dan mengoperasikan kereta bawah tanah (subway) dengan pelayanan prima. Jadwal keberangkatan tepat waktu dan didukung ratusan armada.

Sebenarnya sangat sederhana, kemacetan dapat dikatakan kondisi yang dialami karena kebutuhan jauh lebih besar dibandingkan pemenuhan kebutuhannya. Demand lebih besar dari supply yang ada. Kebutuhan akan angkutan massal melebihi ketersediaan angkutan massal yang ada. Namun solusinya ternyata tidak semudah itu. Penggunaan kendaraan umum sebagai alternatif moda harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan kualitas layanan untuk menarik minat warga. Pilihan angkutan massal yang sesuai telah banyak diwacanakan dan semoga segera direalisasikan, seperti Mass Rapid Transit (MRT), monorel, dan lainnya.

Masihkah Jakarta mampu memikul beban ini? Masihkah Jakarta menahan beban ini? Semoga.

Beban Banjir

Beban ini sebenarnya terkait sangat erat dengan beban lingkungan.  Beban ini sangat berhubungan dengan permasalahan lingkungan. Masalah banjir di Jakarta juga termasuk permasalahan yang rutin terjadi dan penanganannya pun rutin dilakukan. Sayang penanganannya terkadang hanya rutinitas sesaat. Hanya rutin ketika banjir telah terjadi atau hanya pada saat mau memasuki musim banjir.

Sumber : kompas.com

Permasalahan banjir belum juga dapat terselesaikan bahkan cenderung lebih parah. Sekarang kawasan yang terkena banjir atau paling tidak mengalami genangan cukup merata di seluruh wilayah Jakarta. Jumlah akses jalan yang terputus akibat banjir bertambah signifikan. Air dengan ketinggian beragam, dari hanya 10 cm hingga beberapa meter menggenangi jalanan ibukota. Banjir tidak pilih-pilih lokasi, mulai dari perkampungan hingga Istana Kepresidenan pun terkena. Inikah pemerataan? Bundaran Hotel Indonesia yang merupakan salah satu Landmark Kota Jakarta pun tak luput, terkena juga. Apa sebabnya?

Telah terjadi perubahan fungsi dan peruntukan ruang di Jakarta dan kota-kota yang terletak di hulunya. Perubahan besar telah terjadi pada ruang di Kota Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur, dan lainnya.  Resapan air hujan menjadi berkurang dan sesuai hukum alam, air dengan cepat mengalir ke dataran yang lebih rendah, ke kawasan di bawahnya.

Permasalahan tersebut diperparah dengan buruknya sistem drainase di Jakarta. Belum lagi ditambah dengan permasalahan ketinggian beberapa kawasan di Kota Jakarta yang bahkan lebih rendah dibandingkan dengan permukaan air laut. Saluran drainase yang seharusnya berujung di sungai atau laut, tidak sepenuhnya terlaksana. Fungsi waduk dan situ pun tidak optimal. Pendangkalan waduk, perambahan penduduk di area waduk, itu yang tengah dibenahi Jokowi dan Ahok saat ini. Jika optimal, waduk tentunya dapat menjadi cadangan air bersih di kala diperlukan.

Solusi terhadap permasalahan dan beban banjir tidak hanya cukup dilakukan melalui rekayasa teknis dengan membuat sodetan maupun gorong-gorong raksasa seperti yang sering diwacanakan. Yang tidak kalah penting dan seharusnya menempati porsi tinggi, adalah perlunya rekayasa sosial. Perlu mengubah pola pikir masyarakat. Ini penting dilakukan. Misalnya dengan mengubah pola pikir masyarakat yang masih menganggap bahwa sungai adalah tempat sampah besar. Sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sadar bahwa membuang sampah ke sungai merupakan salah satu penyebab banjir. Rekayasa teknis tidak akan menyelesaikan masalah bila tanpa diiringi dengan kesadaran masyarakat.

Mampukah Jakarta memikul beban banjir? Mampukah Jakarta mengubah pola pikir masyarakat? Semoga.

Penutup

Luas wilayah Jakarta tidak bertambah namun jumlah penghuninya yang bertambah.  Ruang yang disediakan ada dalam hitungan yang tetap namun jumlah yang memanfaatkannya  terus bertambah. Kenyataan tersebut tentunya membutuhkan penataan. Membutuhkan alokasi ruang yang efektif dan efisien.

Beban yang tidak kalah berat adalah pengimplementasian dari hasil penataan ruang yang ada. Bagaimana agar upaya perencanaan yang  ada dapat diimplementasikan, diaplikasikan, dan diwujudnyatakan.

Beban-beban yang diuraikan di atas, hanya sebagian saja. Masih banyak beban lainnya yang tidak terungkapkan dan masih membutuhkan penanganan. Tapi jangan pesimis dulu. Tetap semangat. Ini bukan akhir segalanya. Mari kita tetap menatap hari esok dengan optimis. Mari kita bantu Jakarta untuk meringankan bebannya.

DIRGAHAYU KOTA JAKARTA…..