Bertahan Hidup di Tengah Belantara Jakarta

Gambar

Bisa jadi, Jumat sore merupakan waktu yang memunculkan kontradiksi bagi para pekerja  atau karyawan yang harus menjalani rutinitas pergi kerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Kontradiksi ini terutama melanda para pekerja di Kota Jakarta. Di satu sisi, timbul rasa senang karena besok merupakan hari libur, dan di sisi lainnya, juga menimbulkan rasa malas karena jalanan pastinya macet semacet-macetnya. Jumat sore, jalanan Kota Jakarta selalu lebih padat dibandingkan sore-sore di hari yang lainnya. Walau sore lainnya pun sebenarnya tidak jauh lebih baik.

Jumat sore kemarin, kebetulan berkesempatan pulang menggunakan bus TransJakarta. Ketika awal naik di halte Blok M untuk menuju Kota, penumpang belum terlalu sesak. Paling tidak masih ada beberapa kursi kosong. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama. Di halte-halte selanjutnya, penumpang mulai tumpah ruah. Semua seakan mengejar waktu untuk segera tiba di rumahnya masing-masing. Semua rela berdesakan dan berjejalan demi segera memulai saat-saat libur akhir pekan bersama keluarga atau demi alasan lainnya. Bus Transjakarta yang mulanya masih longgar, dan kaki masih bisa selonjor, berubah dengan cepat. Aneka jenis penumpang mulai menyerbu. Kaki pun terpaksa ditekuk tegak untuk memberikan sedikit ruang bagi penumpang yang berdiri di depan.

Ada satu penumpang yang menarik perhatian. Seorang ibu yang saya taksir berumur pertengahan 30-an berusaha masuk dan menuju ke arah tempat saya duduk. Di wajahnya tergurat beban, terlihat letih. Ibu itu tidak sendiri, dia masuk bersama dengan anak kecil dalam gendongannya. Sang Ibu terlihat sedikit kerepotan. Anak dalam gendongannya terbangun dan mulai rewel. Selain menggendong anak, tangan kirinya menenteng tas gendong untuk anak kecil. Mungkin berisi perlengkapan sang anak. Tangan kanannya masih memegang sebotol susu. Mulutnya berusaha untuk menenangkan anak dalam gendongannya. Berusaha untuk membujuk anaknya, “Iya, ini kita sudah mau pulang kok, sabar ya, tidur aja… Kita udah di busway..kita pulang… “.  Kata-kata itu dia ulang berkali-kali, berusaha untuk membujuk dan menenangkan anaknya.

Spontan, saya langsung berdiri dan memberikan tempat duduk yang saya tempati. Sang Ibu mengucapkan terima kasih berulang kali, “Terima kasih Mbak, terima kasih. Mbak baik sekali. Pegel banget hari ini. Terima kasih ya..”. Akhirnya, anak dalam gendongannya tertidur. Rupanya, Ibu itu senang ngobrol. Dia seakan ingin menumpahkan pengalamannya.  Tanpa diminta, si Ibu melanjutkan omongannya, “Lumayan Mbak hari ini. Dapet orang yang baik-baik semua. Semuanya baik. Lumayan, dapet lebih. Ah, semoga Bapak yang tadi mendapat rejeki yang banyak, mendapat berkah yang lancar dan saya ikut kebagian rejekinya”.  Bingung. Apa maksudnya? Si Ibu masih meneruskan pembicaraannya. Di balik wajah letihnya tergurat rasa gembira. Dia terus mengumandangkan kegembiraannya dan memuji-muji Bapak yang memberinya uang Rp. 50.000,-. Dengan uang itu dia sudah berencana untuk membelikan anaknya susu. Tak lupa dia selipkan doa untuk Bapak yang baik hati tersebut. Mulut Si Ibu terus mengeluarkan kata. Akhirnya, saya mulai paham. Ibu itu baru pulang dari kerjanya. Dia ternyata bekerja sebagai Joki 3 in 1.

Saya mulai penasaran. Seperti apa sesungguhnya lika-liku pekerjaan yang satu ini. Pekerjaan yang menjamur semenjak kebijakan 3 in 1 diterapkan dan hingga kini masih langgeng bertahan. Ladang pekerjaan  hasil kreativitas warga untuk mensiasati penerapan suatu kebijakan.

Tidak terlalu sulit untuk mengorek keterangan dari mulut Sang Ibu karena pada dasarnya dia hobi cerita. Satu pertanyaan simpel langsung dijawab dengan rangkaian kalimat, berkalimat-kalimat. Dalam waktu yang singkat, dia telah banyak bercerita bahwa dia ngontrak kamar kecil di daerah Kota, hanya berdua bersama anaknya. Sebenarnya dia memiliki dua anak. Anak yang besar masih SD, dititipkan ke kakek dan neneknya di Kota Tasikmalaya. Tiap bulan dikirimi uang untuk biaya hidup dan biaya sekolahnya. Dia merasa pekerjaan sebagai joki 3 in 1 cocok untuknya. Tidak terlalu berat, dapat mengajak serta anaknya, tidak perlu keahlian khusus, dan cukup mudah. Yang diperlukan adalah sedikit nyali untuk berdiri di pinggir jalan bahkan nyaris di badan jalan.   Berupaya mengalahkan rasa takut tertabrak mobil, demi mengalahkan saingan lain, sesama joki 3 in 1.

Jika sedang beruntung, dia bisa membawa pulang uang dalam jumlah yang lumayan menurut ukurannya. Namun, jika sedang apes, pernah pula hanya mendapatkan uang Rp. 15.000,00 atau bahkan pernah tertangkap razia, tapi dilepas lagi. Dia menambahkan, menurutnya, “Kerja begini, yang penting rapi dan sopan Mbak..Yang punya mobil pasti memilih yang berpakaian rapi dan kelihatan orang baik-baik. Ada pekerja bank yang biasa menggunakan jasa saya, lumayan rutin, saya biasanya mangkal di Jalan Juanda.”

Saya tanya, “ Suaminya mana Mbak?”. Suaminya ternyata kabur entah ke mana, meninggalkan dia seorang diri di belantara Jakarta. Bertahan hidup di tengah himpitan kebutuhan ekonomi. Tapi dia berusaha untuk meyakinkan diri bahwa tanpa suami pun, dia bisa bertahan hidup. Saya tanya lagi, “Kenapa gak pulang ke Tasik?” Jawabannya klise, namun itulah kenyataannya. “Di Tasik saya mau kerja apa? Sawah tidak punya, keahlian tidak ada, modal juga tidak ada”.

Hhmmmm. Inilah salah satu potret warga Jakarta. Satu di antara sekian juta warga Jakarta yang menggantungkan hidup dan penghidupannya pada Kota Jakarta. Masih banyak lagi cerita tentang warga  Jakarta lainnya yang tidak kalah perjuangannya. Demi untuk hidup dan berpenghidupan di Kota Jakarta. “Ah, siapa suruh datang Jakarta?”. Jakarta memang gudangnya orang kaya di Indonesia. Peredaran uang di Jakarta lebih dari separuh peredaran uang di Indonesia. Namun masih banyak pula kaum marjinal yang berupaya bertahan hidup di Kota Jakarta.

Sebentar lagi, warga Jakarta dan warga lainnya di belahan lain Indonesia akan mencoba untuk menggantungkan harapannya pada para wakil rakyat yang akan dipilihnya. Apakah para calon wakil rakyat perduli pada mereka? Akankah para wakil rakyat yang konon katanya terhormat itu akan memperjuangkan nasib mereka? Ataukah mereka akan semakin larut dengan beban hidup dan semakin terlupakan? Semoga tidak.

Sebentar lagi, warga Jakarta dan warga lainnya di belahan lain Indonesia akan mencoba menaruh impiannya pada presiden yang baru. Memimpikan untuk memiliki pemimpin baru yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, lebih makmur, lebih sejahtera. Adakah para calon Presiden mau memperjuangkan nasib mereka? Akankah presiden yang baru akan berpihak pada rakyatnya? Ataukah mereka larut dengan kuasa dan kewenangan besar yang dimilikinya? Semoga tidak. Indonesia pasti bisa. Salam. (Del)

Advertisements

Kata Siapa Hidup di Jakarta itu Susah?

Mungkin sempat terlintas di benak, “Mengapa orang dari luar Jakarta berbondong-bondong pergi ke Jakarta? Mengapa mereka rela mengerahkan segala daya dan upaya guna mengecap kehidupan dan pekerjaan di Jakarta? Mengapa Jakarta masih menjadi magnet bagi daerah lain?“ Ternyata jawabannya sederhana. Karena hidup di Jakarta itu sangat gampang.  Tidak percaya? Coba simak terus artikel ini.

Kata siapa hidup di Jakarta itu susah? Hidup di Jakarta sangat gampang. Camkan. Yang dibutuhkan hanya sedikit lebih kreatif. Tidak usah khawatir, budaya kreatif merupakan spesialisasinya orang Jakarta. Orang yang tinggal di Jakarta, karena kondisi dan situasi, dapat berubah menjadi lebih kreatif. Hanya sayang, terkadang kreativitasnya disalahgunakan. Sedikit kebablasan.

Setidaknya, terdapat beberapa pekerjaan yang menjadi bukti bahwa hidup di Jakarta itu gampang. Tidak perlu modal besar, bahkan tidak perlu pakai korupsi segala. Modalnya sangat murah meriah. Yang diperlukan sekali lagi, hanya kreativitas dan keberanian. Bahkan sedikit kenekatan.

1.   Modal Jari

Kota mana lagi coba yang dapat mengakomodasi jenis pekerjaan seperti ini? Modalnya sangat simpel. Hanya bermodalkan jari. Itulah istimewanya Jakarta. Hanya dengan bermodalkan jari, uang pun didapat. Pelakunya cukup berdiri di lokasi-lokasi tertentu di pinggir jalan lalu acungkan jari telunjuk ke arah mobil yang lewat. Jika beruntung, tanpa perlu korupsi pun, dapat turut menikmati empuknya beragam mobil mewah, bahkan mendapatkan uang. Jika ingin mendapatkan uang lebih, bawalah serta anak. Bisa anak sendiri, anak tetangga, atau anak pinjaman juga boleh. Tapi ingat, kali ini jari yang diacungkan jangan hanya telunjuk, tapi telunjuk dan jari tengah. Hasilnya, pasti akan lebih lumayan dibandingkan dengan hanya bermodalkan jari telunjuk saja. Satu hal yang perlu diingat. Jangan cuma acungkan jari tengah, apalagi jika jari tengahnya menghadap ke atas. Nanti ada orang yang ngamuk atau marah. Artinya akan sangat berbeda.

Joki 3 in 1, sebuah jenis pekerjaan hasil kreativitas warga Jakarta. Produk kreativitas kebablasan untuk mengakali celah yang dihasilkan dari sebuah kebijakan. Kebijakan yang semula diperuntukkan untuk mengurangi kemacetan di jalan-jalan utama Jakarta, ternyata justru menjadi ladang pekerjaan bagi sebagian orang. Efektifkah hasil kebijakan tersebut? Sepertinya tidak. Tapi, setidaknya memberikan alternatif pekerjaan.  Walau terdengar seperti sebuah ironi.

2.   Modal Botol Mineral Isi Pasir

Ternyata botol bekas air mineral, di tangan orang yang kreatif dapat menjadi modal untuk menghasilkan uang. Tinggal isi dengan pasir, goyangkan ikut irama, lalu bernyanyilah. Lokasi praktiknya bisa di seputar lampu merah, di atas bis kota, bahkan di warung-warung makan kaki lima. Yang diperlukan hanya keberanian, dipoles sedikit kenekatan, plus simpan rapi rasa malu. Rasa malu hanya akan menghambat rejeki. Lagunya terserah, bebas merdeka. Tapi, sekedar saran, sebaiknya kerahkan segala kemampuan bernyanyi yang dimiliki. Kalau perlu, ikut les vocal dulu. Lha..kalau begini, modalnya besar dong? Masalahnya, terkadang sebal juga kalau melihat pengamen modal botol mineral nyanyi seperti orang yang gak niat. Kita pun jadi gak niat ngasih imbalan. Rugi.

3.  Modal Menor

Sering kita temui segerombolan pria yang berdandan ala wanita di perempatan-perempatan jalan tertentu, seperti di kawasan Cempaka Mas. Syaratnya, harus berdandan menor, baju seksi, dan menarik perhatian. Lebih mantap lagi jika ditambah dengan lenggok gemulai, sedikit melambai, dan suara yang distel pada frekwensi perempuan. Menjadi  pol jika dilengkapi dengan modal kecrek untuk mengiringi nyanyian atau hanya sekedar menyapa para pengendara mobil maupun motor. Tidak lupa sambil menyapa kenes, “Bagi duitnya dong Om….”. Dijamin, Om-om tersebut akan segera menyodorkan uang. Bukan apa-apa, mereka punya alasan mengapa mau berbaik hati. Ternyata alasannya, “Risih juga dicolek-colek. Emang saya apaan?”.

Apakah harus menjadi waria dulu untuk menjalankan pekerjaan ini? Ternyata tidak. Tidak semua orang tipe modal menor ini merupakan waria. Sebagian di antaranya hanya pura-pura menjadi waria. Ketika ditelisik lebih jauh, mereka normal-normal saja. Dengan bangganya seolah mereka ingin menyerukan, “Kami profesional lho….!”.

4.   Modal Payung

Musim hujan adalah musim panen bagi mereka. Cukup dengan bermodalkan payung, sudah dapat beroperasi. Biasanya dijalankan oleh anak-anak hingga remaja. Walau tidak tertutup kemungkinan dilakoni pula oleh kaum dewasa. Sekalian bermain hujan-hujanan. Tugasnya sederhana, hanya meminjamkan payung pada sang pengguna jasa ke tempat yang mereka mau. Jangan salah. Harus diikuti kalau tidak ingin payungnya terbawa pulang konsumen. Kalau mau lebih cerdas, cobalah modal dua payung. Jadi tidak harus kehujanan ketika payung yang satu sedang dipakai pengguna jasa.

5.   Modal Karung dan Pengait

Kerjanya mudah. Modalnya murah. Hanya bermodalkan karung dan pengait. Ditambah dengan mata yang jeli dan cerdas melihat dan menilai objek atau target sasaran. Umumnya pasukan karung dan pengait ini jeli dalam mencari barang-barang yang mereka anggap “berharga”. Karena di sanalah tumpuan penghasilannya.

Sebenarnya, Ahok dulu memiliki ide untuk memberdayakan pasukan bermodal karung dan pengait sebagai pasukan kebersihan. Hanya entah mengapa tidak terwujud. Pada dasarnya profesi ini dapat dikatakan pasukan kebersihan juga. Toh mereka pun kerjaannya memulung sampah-sampah. Bahkan terkadang ada beberapa yang telah melacurkan profesinya. Tidak hanya menjadi pemulung sampah atau barang-barang yang tidak terpakai. Tapi juga sekaligus menjadi “pemulung segala yang ada”. Ini yang namanya kreativitas yang kebablasan.

6.   Modal silet

Kalau yang ini cukup menyeramkan. Modalnya juga sama, sangat murah. Cukup dengan bermodalkan silet ditambah dengan keberanian dan kenekatan.  Modusnya, dengan berbekal silet, naik ke dalam bus sasaran, mulai beraksi. Pasang tampang sedikit mabuk, muka preman, lalu mulai menyayat-nyayat lengan tangan dengan menggunakan silet sambil mengintimidasi dan meminta uang. Biasanya ditambah ocehan, “Jangan takut, kami hanya mantan narapidana yang bermaksud mencari uang”. Penumpang perempuan umumnya merasa ketakutan dan pastinya lebih memilih untuk memberikan uang. Akhirnya rencana mereka pun berhasil.

7.   Modal Muka Memelas

Sangat sederhana dan modal yang diperlukan sangat minimal. Minimal memiliki baju yang dibuat rombeng, compang-camping, lusuh, kucel, dekil. Kalau perlu, demi untuk lebih meyakinkan, bisa ditambah dengan akting pura-pura cacat. Entah itu pura-pura buta, pura-pura lumpuh, atau kepura-puraan lainnya. Seorang teman pernah tertipu mentah-mentah. Dia berhasil memergoki pengemis yang pura-pura lumpuh ternyata memiliki kaki yang normal dan sempurna.

Mengapa semua itu harus dilakukan? Karena konon katanya, bisnis mengemis sudah mulai banyak yang menekuni secara profesional. Penghasilan yang diperoleh bisa jadi melebihi seorang lulusan muda S1. Inilah yang menjadi alasan mengapa pengemis di Bandung dan sekitarnya menolak ketika ditawari gaji oleh Walikota nya, Ridwan Kamil. Jakarta pun demikian.

Sangat ironis. Haruskah kita merasa miris?

Masih banyak lagi ladang-ladang pekerjaan di Jakarta yang sangat mudah ditemui. Jadi, kata siapa hidup di Jakarta itu susah? Susah atau mudah, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang adalah relatif. Tergantung cara kita memandangnya. Salam. (Del)