Bermain Air di Wisata Alam Curug Cigamea, Bogor

Bagaimana jadinya bila sekumpulan orang dalam jumlah banyak memiliki pemikiran yang sama? Apa yang akan terjadi andai ratusan orang memiliki strategi yang sama? Sukseskah strategi tersebut? Yang jelas, hasilnya adalah kemacetan. Setidaknya, itu yang terjadi di hari pertama Idul Fitri dua hari yang lalu. Ide untuk melakukan refreshing ke Puncak di hari pertama Lebaran, saat umat Muslim melakukan Shalat Ied, ternyata tidak berhasil sama sekali.
Kami sekeluarga sudah berada di Bogor dari H-1 Lebaran. Terbersit di benak, “Asyik juga kayaknya kalau ke Puncak pas subuh di Hari Lebaran, pasti masih sepi….”. Ternyata ide yang sama mungkin menghampiri orang lain pula. Hasilnya sudah jelas…macet…
Kadung sudah keluar rumah, tak elok rasanya bila hasilnya hampa. Yang perlu dilakukan hanya mengganti tujuan, “Tapi enaknya ke mana ya…..?”. Anak-anak saling urun usul, “Ke curug yuk!”. Sepakat. Keluar pintu tol Ciawi, balik arah, kembali ke Bogor. Sebuah keputusan yang tepat. Menurut kabar, Puncak macet total.

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Tujuan sudah ditetapkan. Mari kita wisata curug atau wisata air terjun. Tidak perlu lokasi yang terlalu jauh. Bogor memiliki banyak curug yang dapat disambangi. Lokasinya masih di seputar Gunung Salak dan Gunung Bunder. Di kawasan ini terdapat beberapa curug, antara lain Curuk Cigamea, Curug Ngumpet, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Luhur, Curug Sawer, Curug Pangeran, Curug Cikuray, dan Curug Luhur. Mungkin masih ada lagi curug lain. Hanya, berdasarkan selebaran yang dibagikan beserta bukti tiket masuk kawasan, setidaknya curug-curug itulah yang ada di Kawasan Gunung Salak. Tak ketinggalan, ada pula objek wisata Kawah Ratu yang masih berada di kawasan tersebut.
Curug Cigamea dapat dijangkau dari arah Ciapus melewati kampus IPB Dramaga, lanjut hingga kawasan Gunung Bunder melewati Cibatok. Atau dapat pula melalui pintu masuk Pamijahan. Curug Cigamea berada di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat Kota Bogor. Kami masuk lewat pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Tak perlu khawatir, untuk menuju ke sana sudah ada penunjuk arah di sepanjang jalan.

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Curug Cigamea merupakan curug pertama yang kami temui selepas pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Dari pintu masuk Curug Cigamea, masih perlu jalan kaki menuruni tangga kira-kira sekitar 350 m. Jalan menuju curug masih berupa jalan setapak yang terbuat dari batu yang disusun membentuk anak tangga. Kondisi jalannya cukup baik. Untuk keamanan, sepanjang anak tangga diberi pembatas berupa pagar besi. Di sepanjang jalan, sudah ada beberapa warung dan tempat singgah untuk sejenak melepas lelah. Air terjun Cigamea sesekali nampak di kejauhan, seakan memanggil dan memberi semangat. Bila tidak siap membawa pakaian ganti, di sepanjang jalan menuju curug juga telah ada penjual pakaian. Bahkan ada pula tempat terapi ikan, yaitu membiarkan kaki digigit ikan-ikan kecil.

Curug yang pertama

Curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Bermain di antara batu-batu besar

Bermain di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

Curug yang kedua

Curug yang kedua

Di depan curug yang ke dua

Di depan curug yang ke dua

Dari jauh terlihat bahwa ternyata Curug Cigamea memiliki dua buah air terjun utama. Walau memiliki dua air terjun, keduanya memiliki ciri yang berbeda. Air terjun yang pertama memiliki dinding berupa bebatuan hitam dan kolam di bawahnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu dalam. Pengunjung tidak dapat berenang di sana. Terdapat batu-batu yang cukup besar dan merupakan kebanggaan tersendiri bila dapat memanjatnya. Air terjun yang kedua memiliki dinding berwarna coklat dan hijau lumut. Kolam airnya cukup dalam. Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Sedikit ngeri juga bila mendekat ke air terjunnya karena dindingnya yang lumayan curam. Di beberapa spot, terdapat tulisan, “Hati-hati, rawan longsor”.

Air yang begitu jernih

Air yang begitu jernih

Namun, terdapat kesamaan antara kedua air terjun di Cigamea. Keduanya sama-sama menarik jika dijadikan latar belakang untuk berfoto ria. Kebetulan, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke sana. Mungkin karena masih hari pertama Lebaran.
Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Airnya sangat jernih dan dingin.

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Bermain di alam

Bermain di alam

perjalanan yang tidak mudah

perjalanan yang tidak mudah

Hati-hati terperosok...

Hati-hati terperosok…

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Waktunya untuk pindah lokasi. Masih banyak objek yang dapat dikunjungi selain Curug Cigamea. Poling menentukan bahwa tujuan selanjutnya adalah Kawah Ratu. Di pintu masuk menuju Kawah Ratu, terdapat beberapa warung penjual Indomie Rebus, jagung bakar, dan nasi goreng. Kami tanya, “Berapa jarak ke Kawah Ratu? Jawabnya, “Sekitar 4 km”. Ternyata…. Hehehe… Seharusnya kami ingat rumus orang daerah. Empat kilometer orang setempat berbeda standarnya. Bisa jadi jauh berbeda. Akhirnya, setelah 1,5 jam jalan kaki melalui jalan setapak berbatu bahkan melewati jalan air, melintas sungai kecil, dan beragam rintangan kecil lainnya, kami putuskan untuk kembali ke warung semula. Hari sudah mulai condong ke barat. Ujungnya, sudah dapat ditebak. Kembali ke warung dan pesan indomie rebus dan jagung bakar. Indomie di pegunungan rasanya jauh lebih lezat dibandingkan di rumah. Tapi tidak ada yang sia-sia. Anak-anak tetap bergembira dan menikmati alam yang masih hijau.
Ada yang dapat kita petik dari perjalanan ini. Tujuan wisata tidak menjadi hal yang paling penting. Keindahan dalam kebersamaan jauh lebih penting. Wisata menjadi jauh lebih bernilai ketika setiap individunya dapat menikmatinya. (Del)

Advertisements

Indahnya Kota Ende dari Atas Bukit Kolobari

C

Kota Ende Terlihat dari Kolobari

Telah lama mendamba untuk dapat berkunjung ke Kota Ende, sebuah kota kecil di bagian Selatan Pulau Flores, ibukota Kabupaten Ende. Walau merupakan kota kecil, seperti kota lainnya di Pulau Flores, Ende memiliki landscape yang luar biasa indah.
Sekarang, untuk menggapai Ende dari Jakarta, dapat menggunakan pesawat Garuda lewat Kupang atau singgah ke Bali terlebih dahulu, lalu sambung dengan menggunakan pesawat TransNusa/Aviastar ke Ende.

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Mendarat di Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, pemandangan indah langsung menyergap serentak. Rasa was-was yang melanda selama proses pendaratan sirna sudah. Bandara Ende termasuk salah satu bandara yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi pada saat pendaratan. Lokasinya yang sangat berdekatan dengan bukit-bukit yang mengelilingi menyisakan kerawanan tersendiri. Di ujung landasan, sebuah bukit yang lumayan besar menanti dengan gagahnya. Pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas harus mendekati bukit ini, sekedar untuk menyapanya atau untuk berpamitan dengan bukit tersebut. Belum lagi ditambah jaraknya dengan pantai yang lumayan dekat. Butuh keahlian, kesigapan, dan ketepatan sang pilot. Namun, selebihnya, tidak akan menyesal. Panorama yang disuguhkan sungguh memukau. Deretan bukit hijau nan asri seolah menyambut para pengunjung.
Panorama indah Kota Ende dapat kita nikmati dari beberapa spot/lokasi di bukit-bukit sekitar. Salah satunya, yaitu dari Kolobari, sebuah bukit yang berada sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Ende. Sayang, perjalanan menuju Kolobari masih berupa jalanan yang kurang nyaman dilewati. Lubang-lubang menganga masih sering ditemui. Goncangan membuat perjalanan yang tidak terlalu jauh, memakan waktu yang lebih lama. Tapi ingat…! Prasyarat utama untuk menikmati keindahan alam Kota Ende adalah…. “Enjoy aja…, nikmati …, bawa happy aja!” Di ujung perjalanan, panorama menawan akan memupus kekesalan karena jalan yang buruk.

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Dari Kolobari terpapar dengan indah perpaduan beberapa karya sempurna Tuhan. Paduan antara bukit-bukit dan gunung-gunung dengan beragam ketinggian, pantai dan laut, serta Kota Ende yang terhampar elok di bawah. Ada satu gunung yang cukup menarik perhatian. Bagian atasnya rata seperti meja. Untuk itu, penduduk setempat menamakannya, Gunung Meja.

Seorang wanita tengah asyik menenun

Seorang wanita tengah asyik menenun

Puas beberapa saat menikmati indahnya panorama Kota Ende, waktunya kembali menuruni bukit. Di sepanjang perjalanan, selain melewati hutan serta kebun jagung dan singkong, juga melewati rumah-rumah penduduk asli Ende. Banyak penduduk yang tengah melakukan kegiatan menenun kain di bagian depan rumah atau di pekarangan rumahnya. Kegiatan menenun kain biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Tergerak hati untuk singgah.
Kain tenun Ende memiliki motif yang khas. Motif tenun Ende berbeda dengan motif tenun dari kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Setiap daerah memiliki motif tersendiri. Bahkan setiap suku memiliki motifnya masing-masing. Bahkan di Pulau Flores sendiri, memiliki motif-motif khas yang berbeda-beda.

Mencoba menenun

Mencoba menenun

 

Gayanya doang....

Gayanya doang….

Para wanita menenun menggunakan alat yang masih sangat sederhana. Setiap wanita di Ende biasanya dapat menenun. Hasilnya selain untuk keperluan sendiri, sebagian dijual ke Kota Ende hingga ke luar Pulau Flores. Sempat pula mencoba untuk bergaya jadi penenun. Komentar teman, “Tidak meyakinkan…!”. Tidak apa. Yang penting sudah mencoba… Akhirnya, ada kain yang menarik hati. Lumayan untuk koleksi di rumah.
Bagaimana, tertarik untuk berkunjung ke Ende? Mari….
Salam. (Del)

Menyusuri Jejak Soekarno di Ende

Pulau Flores, selain terkenal dengan alamnya yang cantik juga menyisakan wisata sejarah yang tidak kalah menarik. Sebagai salah satu kota kecil yang terletak di Pulau Flores, Kota Ende menyimpan wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tidak ada salahnya bila berkunjung ke Kota Ende, kita coba menyusuri jejak Soekarno di sana.

Soekarno, presiden pertama Indonesia, sempat diasingkan oleh pemerintah Kolonial Belanda selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1934 hingga tahun 1938, di Pulau Flores, tepatnya di Kota Ende. Soekarno diasingkan ke Ende dengan tujuan untuk mengisolasi Soekarno, menjauhkan beliau dari pergerakan dan kegiatan politiknya. Juga menjauhkannya dari rekan-rekan seperjuangannya yang ada di Pulau Jawa. Dengan mengasingkannya ke Pulau kecil nun jauh dari jangkauan, sepi, dan tanpa hiburan, Belanda berharap Soekarno putus harapan, terbatas gerakannya, dan berlanjut frustasi. Berhasilkah upaya yang dilakukan Belanda?

Ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Soekarno tetap dapat bersosialisasi dengan komunitas yang ada di Kota Ende. Soekarno masih dapat berdiskusi dan bercengkerama dengan komunitas yang ada di Gereja Katolik yang ada di Ende. Soekarno bahkan terbiasa untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan gereja tidak jauh dari rumah pengasingannya. Mungkin ini pula yang mempengaruhi ideologi kebangsaan yang terlahir di sana. Interaksinya dengan para pemimpin Katolik turut mewarnai. Konon katanya, ideologi kebangsaan Pancasila terlahir saat Soekarno duduk merenung di sekitar pohon sukun berbatang lima. Soekarno mengalami perjalanan pemikiran yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Melahirkan ideologi Pancasila.

Patung Soekarno di Ende

Patung Soekarno di Ende

 

di depan patung Soekarno di Ende

di depan patung Soekarno di Ende

Yang patut sedikit disayangkan, ketika berkunjung ke sana, gambaran Soekarno tengah merenung di bawah naungan pohon sukun berbatang lima sudah sedikit mengalami “modifikasi”. Patung Soekarno sekarang digambarkan tengah duduk di bangku panjang yang berada di tengah kolam. Apakah kondisi riil dulu seperti itu? Ataukah untuk kepentingan simplifikasi? Sudahlah, tidak apa-apa. Itu sudah lebih mending bila dibandingkan dengan posisi patung sebelumnya yang dalam kondisi berdiri. Saat ini, patung Soekarno telah mengalami renovasi dan posisinya berubah, dari berdiri menjadi duduk di bangku panjang. Coba tanya ke seorang teman yang ada di sana, dengan santai dan sedikit bercanda, jawabnya, “Mungkin sudah cape berdiri….”.

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

 

Pohon sukun dan patung Soekarno

Pohon sukun dan patung Soekarno

Patung Soekarno beserta dengan pohon sukunnya terletak tidak jauh dari pantai. Pancasila terlahir saat Soekarno duduk di sekitar pohon sukun, sambil menghadap ke Laut Flores. Hingga saat ini, tak jauh dari Patung Soekarno yang tengah duduk sambil bertopang kaki, tumbuh pohon sukun berbatang lima. Pohon sukun sengaja ditanam di sana untuk menggantikan pohon sukun aslinya yang telah mati.

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

 

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun, terdapat lapangan luas beserta tribun penonton. Terkadang, lokasi ini digunakan untuk olahraga atau juga untuk kepentingan kampanye, seperti saat kunjungan ke sana. Beberapa puluh simpatisan pasangan Jokowi – Jusuf Kala tengah berkampanye di sana. Sayang desain lapangan dan tribunnya secara keseluruhan tidak menyatu, tidak menggambarkan kekhasan Kota Ende.

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

 

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Menyusur jejak Bung Karno tak berhenti di sana. Masih ada jejak peninggalan Soekarno lainnya di Kota Ende. Lokasinya tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Berupa rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Sebuah rumah sederhana tempat Bung Karno beserta istri dan mertuanya tinggal sewaktu di Ende. Rumahnya bercat putih dengan jendela dan pintu kayu warna kuning serta hiasan bergaris hijau. Rumahnya tidak terlalu besar dan halaman yang tidak terlalu luas. Namun secara keseluruhan, tampak asri dan masih menyisakan rimbunan pohon di samping rumah.

Sayang, beberapa kali ke sana, rumah tersebut tampak sepi, tidak ada penjaganya. Menurut keterangan penduduk di sekitar sana, penjaganya bila di bulan puasa seperti ini datangnya jam 10.00 atau setelah jam 17.00 sore nanti. Tapi sayangnya, tetap tidak ada, sehingga tidak bisa melihat kondisi di dalam rumah.

Soekarno meninggalkan Ende di tahun 1938. Paling tidak, telah 76 tahun berlalu dan jejak Soekarno masih dapat terekam di Kota Ende. Jejaknya masih terpelihara dengan baik. Semoga tetap terjaga. Rumah pengasingannya, pohon sukun, dan patung Bung Karno, mewarnai kekayaan sejarah Indonesia. Biarlah peninggalan tersebut sekaligus dapat menjadi objek wisata sejarah. Supaya generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh bangsa.

Mungkin tidak semua orang tahu bahwa, di sebuah kota kecil bernama Ende, nun jauh di Flores sana, telah tergores sebuah cerita sejarah, tentang cikal bakal Pancasila. Sebuah ideologi bangsa yang hingga saat ini wajib kita jaga bersama. Salam. (Del)

Jokowi Komunis dan Pembohong? Cukup Sudah!

Sauuuuurrrrr……sauuuuurrrr!! Sauuuuuurrrr……sauuuuuuurrrr!!! Lengkingan suara disertai bunyi kentongan dan bunyi-bunyian lain bersahutan membuat terjaga siapapun yang mendengarnya. Kadang berkumandang membentuk alunan nada tertentu, namun selebihnya berupa teriakan. Nyanyian dan kokokan ayam kalah nyaring. Ayam pun langsung mengkerut kalah saing. Adakah yang masih terlelap dalam balutan selimut? Saya rasa tidak. Semua pasti terhentak dari keheningan awal.

Ada untungnya juga teriakan sahur di dinihari. Setidaknya, tidak perlu membunyikan weker di kamar atau mengaktifkan alarm di telepon genggam. Dijamin kita akan terbangun dengan sendirinya.  Terbangun kala matahari masih terlelap dalam peraduan adalah waktu yang  tepat untuk menulis. Saat yang pas untuk menuangkan beberapa hal yang menggelayut dalam benak.

Suasana senyap sesaat. Mungkin semuanya tengah menikmati santap sahur di rumahnya masing-masing atau di warteg yang terletak di ujung jalan. Atau mungkin juga sebagian kembali terlelap menunggu terbitnya mentari. Dan saya masih terjaga. Menulis dengan diselingi lamunan beberapa jenak.  Tugas  pekerjaan masih menumpuk.

Lamunan terpecah seketika begitu terdengar bunyi pengeras suara dari Masjid dekat rumah. Waktunya Imsyak, disambung dengan Sholat Subuh. Saya bukan Muslim. Tinggal di Jakarta Pusat. Tidak begitu jauh dari rumah, terdapat Masjid yang lumayan besar dengan jarak kurang dari 100 m. Tidak ada yang salah pula dengan hal itu. Kami dapat hidup berdampingan dan saya tidak merasa keberatan sama sekali.

Beberapa saat kemudian, seperti di tahun-tahun sebelumnya, terdengar ceramah atau wejangan subuh. Mungkin istilahnya bukan wejangan subuh. Tapi yang jelas suaranya terdengar sampai rumah. Materi ceramahnya pun dapat saya tangkap dengan jelas tanpa perlu hadir di Masjid yang bersangkutan. Cukup dari kamar rumah.

Yang menggelitik dan cukup mengusik adalah materi ceramahnya. Ternyata Masjid dekat rumah pun tak luput dari gonjang-ganjing pilpres berikut beragam isu-isu terkait. Dapat saya katakan isu bahkan cenderung kampanye hitam karena tidak tahu juntrungannya dari mana. Anehnya lagi, kenapa itu bisa terjadi di Masjid, yang jelas-jelas dalam aturan tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

Sang penceramah mulai menyitir ayat-ayat Al Quran tentang dosa kebohongan dan mengaitkannya dengan seseorang yang telah berbohong. Awalnya bersedia mengemban amanah sebagai Gubernur selama 5 tahun dan sekarang berbuat ingkar dan berbohong. Itu dosa. Tanpa menyebut nama, namun sudah jelas siapa yang dituju.

Teringat hampir 2 tahun lalu, pada masa-masa kampanye Calon Gubernur DKI Jakarta, hal serupa terjadi di Masjid yang sama. Materi ceramah waktu itu juga terkait dengan peniupan isu bahwa Jokowi non Muslim dan berasal dari keluarga Non Muslim. Sebaiknya seorang Muslim memiliki pemimpin dari kaum sesama Muslim. Mengapa cara-cara itu yang digunakan? Dengan menggunakan isu-isu yang jauh dari kebenaran.

Okelah. Katakan Jokowi telah berbuat ingkar. Tapi ternyata penceramah tidak berhenti di sana. Beliau mulai mengungkit tentang Revolusi Mental dan mengaitkannya dengan ideologi Komunis yang harus dijauhi. Beliau berulang menanyakan, “Maukah kita dipimpin oleh orang yang tersangkut komunis?”.

Mungkin penceramah terinspirasi oleh Fadli Zon yang juga menuduh konsep revolusi mental dekat dengan komunis. Konon katanya, masih menurut Fadli Zon, Karl Marx menggunakan istilah “revolusi mental” dalam bukunya “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869.  Namun ada juga yang mengklaim bahwa konsep revolusi mental adalah konsep dari Mahatma Gandhi. Gandhi mengemukakan argumen bahwa kemerdekaan politik harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan.

Kalau menurut pemahaman saya setelah membaca tulisan revolusi mentalnya Jokowi, yang dimaksud dengan revolusi mental oleh Jokowi tidak dalam konotasi revolusi secara radikal. Namun lebih pada sebuah gerakan moral dalam rangka memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai yang berlaku universal. Untuk pembangunan karakter sumber daya manusia. Tidak ada kaitannya dengan komunisme.

Jadi teringat sebuah tayangan beberapa hari lalu di TVOne yang menampilkan wawancara dengan Prijanto, mantan Wagub DKI Jakarta yang mengatakan bahwa mengacungkan tangan kiri, terkait pula dengan ciri-ciri komunisme. Walah! Adakah hubungannya antara acungan tangan kiri sambil mengepal dengan ajaran komunisme? Bagaimana kalau itu dilakukan karena pada saat orasi, tangan kanannya memegang mike? Apakah itu juga terkait komunisme? #Geleng-geleng…. Atau juga kaitan antara sapaan Kawan Jokowi dengan Komunisme. Wis….! Apa lagi ini….!

Saya bukan pendukung fanatik Jokowi atau tim sukses Jokowi-JK. Bahkan, dapat dikatakan, saya masih termasuk swing voter. Dalam arti, hingga kini masih mencoba berpikir secara rasional. Saya ingin suara saya dapat lebih teralokasikan secara rasional. Memilih yang memang benar-benar layak untuk menjadi Presiden. Memilih yang benar-benar pantas untuk mengemban amanah. Cukuplah sudah! Masa-masa pilpres bukanlah masa-masa pembodohan secara masal.  Jangan sampai para swing voter justru menentukan pilihan bukan karena kelebihan salah satu pasangan, namun hanya karena cara-cara tidak simpatik yang dilakukan para pendukung fanatik.

Cukup sudah! Hentikanlah cara-cara yang tidak semestinya. Stop cara-cara yang dapat menodai arti demokrasi. Okelah kalau itu tidak dapat dikategorikan kampanye. Tapi, menurut hemat saya, sebuah tempat ibadah, harus dijaga kesuciannya, dan tidak dijadikan sebagai tempat untuk mendiskreditkan salah satu pasangan Capres/Cawapres tertentu dengan dibumbui keberpihakan pada pasangan lainnya. Biarlah di bulan Ramadhan ini benar-benar diisi dengan kegiatan yang memang berhubungan dengan Ramadhan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selamat sore. Salam. (Del)

 

 

Pekan Rakyat Jakarta di Monas Pestanya Rakyat Jakarta

Gambar

Mentari pada siang menjelang sore 11 Juni 2014 di kawasan Monumen Nasional tidak terlalu menampakkan kegarangannya. Sang raja siang masih sedikit bersahabat dan berbaik hati walau tetap belum cukup untuk menghilangkan gerahnya hari. Untung cukup terbantu oleh hembusan angin yang bebas hilir mudik.  Beberapa orang sibuk menata dagangannya, mempercantik penampilan standnya masing-masing, dan beberapa lainnya sibuk melayani pembeli. Para pengunjung seolah tidak ingin melewatkan momen. Berjalan dari satu stand ke stand yang lainnya, menyusur jalan-jalan di Kawasan Monas. Sekedar melihat-melihat, menilik, memilih, ketika ada yang menarik hati, transaksi pun terjadi.

Kemarin adalah hari kedua penyelenggaraan Pekan Rakyat Jakarta (PRJ) di Kawasan Monumen Nasional yang Selasa (10/6/2014) telah secara resmi dibuka oleh Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Gambar

Gambar

Mata tertumbuk pada salah satu stand yang menjual nasi bakar. Yang terlintas di benak, “Lumayan nih, untuk makan malam nanti”. Mbak Wiwit penjaga sekaligus pemilik stand nasi bakar langsung sigap dan ramah melayani, “Mau nasi bakar yang mana Mbak? Ada rasa ayam jamur, teri, ayam teri, atau peda?” Tiga bungkus nasi bakar pun berpindah tangan. Penasaran, di sela penyiapan nasi bakar, tak ada salahnya mengorek keterangan dari Mbak Wiwit.  “Buka stand di sini gratis Mbak, gak dipungut bayaran apapun, soalnya saya dapat undangan untuk ikut meramaikan acara dari Unit UKM Dinas Perindustrian dan Energi, jadi sepertinya UKM yang terdaftar di sana diundang”.

Mbak Wiwit merupakan satu dari sekian banyak pelaku UKM binaan dari Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta yang turut meramaikan PRJ Monas. Dalam setiap kegiatan yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Mbak Wiwit dan ratusan UKM binaan lainnya akan diundang untuk turut berpartisipasi. Selain menampung para pelaku UKM, PRJ Monas juga menampung para pedagang kaki lima. Untuk UKM dan pedagang kaki lima, tidak dipungut biaya. Selain itu ada puluhan stand yang berbayar di PRJ Monas dan diisi oleh produk-produk besar, misal dari beberapa operator seluler, produsen beberapa produk motor dan mobil, maupun beberapa label snack yang telah cukup terkenal. Semuanya berpadu dan bersatu dalam satu kawasan Monas untuk memeriahkan ulang tahun Jakarta.

Ahok dalam sambutan pembukaan PRJ Monas mengungkapkan bahwa PRJ Monas bukan tandingan Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair Kemayoran yang diselenggarakan oleh PT JIExpo. Beliau menegaskan, lingkup peserta dan pengunjung PRJ Kemayoran dan PRJ Monas berbeda. Lingkup peserta dan pengunjung Jakarta Fair di Kemayoran telah mencakup nasional dan internasional. Ahok menginginkan agar seluruh warga Jakarta dapat menikmati kemeriahan ulang tahun Jakarta. Tidak hanya di PRJ Kemayoran yang untuk memasuki areanya saja harus bayar. Untuk itulah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengadakan pula PRJ Monas yang bisa dikunjungi warga Jakarta secara gratis.

Ide dan tujuan penyelenggaraan PRJ di Kawasan Monas sudah baik. Ahok ingin mengakomodasi warga Jakarta yang tidak mampu berkunjung ke Jakarta Fair Kemayoran dan para penduduk yang kurang mampu. Walau tidak sepenuhnya benar. Saya rasa banyak kok warga yang cukup mampu dan datang berkunjung ke PRJ Monas.

Gambar

Lelah berjalan-jalan di seputar stand yang memenuhi Monas, sempat singgah beli es jeruk di salah satu stand. Ngobrol sebentar, “Agak sepi Mbak, karena terlalu banyak stand di sini, dan barangnya pun nyaris sama. Banyak pedagang kaki lima liar yang juga masuk ke sini. Awalnya dijanjikan dalam satu deret hanya ada satu yang jual minuman, tapi kenyataannya begini”. Tampak dalam jarak tidak terlalu jauh, penjual minuman lainnya banyak bertebaran. Mbak penjual es jeruk masih meneruskan penjelasannya, “Katanya kalau hari biasa buka mulai dari pukul 2 siang, tapi kenyataannya, banyak yang jualan dari pagi. Tahu gitu, saya juga datang dari pagi”. PRJ Monas resminya memang dibuka pada pukul 14.00-23.00 setiap hari, sementara khusus untuk hari Sabtu dan Minggu, dibuka lebih awal, yaitu mulai pukul 09.00-23.00.

Gambar

Gambar

Lanjut berkeliling lagi. Ternyata PRJ Monas tidak hanya mengakomodasi penjual makanan, pakaian, mobil, motor, telepon genggam, dan beragam barang konsumsi lainnya. Ada kerumunan orang di seputar tugu Monas yang menarik perhatian. Ternyata ada gelaran yang diberi judul “Kampoeng Dolanan Nusantara”. Penggagasnya dari beberapa komunitas penggemar mainan khas Nusantara. Seperti gelaran yang diusung oleh Komunitas Gasing Indonesia atau bermain enggrang bersama.

Sempat beberapa saat berada di sana dan mencoba meletakkan gasing yang berputar di atas telapak tangan. Awalnya takut, tapi setelah diyakinkan oleh anggota komunitas gasing, berani juga mencoba. Hasilnya, “Geli-geli dikit lah.. “. Seru juga.

Gambar

Gambar

Ada satu lagi yang cukup mengusik. Area Monas cukup luas, bahkan terlalu lelah jika memaksakan untuk berkeliling ke seluruh stand yang ada di sana. Pengunjung pun cukup banyak walau belum dapat dikatakan berjubel. Yang membuat heran, “Kok pintu masuknya gak dibuka lebar?”. Padahal jelas-jelas pintunya sangat lebar, tapi tidak dibuka. Semua pintu masuk di sekeliling Monas, hanya dapat dilalui oleh orang dengan antri satu persatu. Padahal sedang ada gelaran pesta rakyat. Pengunjung harus berjubel melewati pintu kecil yang hanya cukup untuk dilewati satu orang saja. Penasaran, sempat tanya ke petugas keamanan yang berjaga di sana. Jawabannya, “Iya Mbak, memang pintunya gak bisa dibuka. Maksud awalnya, supaya tidak bisa dimasuki oleh gerobak penjual kaki lima”. Gubbraaak…! Ternyata itu toh alasannya. Padahal jelas-jelas pedagang kaki lima liar pun banyak masuk dan bertebaran di dalam kawasan Monas. Jadi, sebenarnya, tidak efektif juga membiarkan pintu Monas yang sekian lebar tertutup. Yang ada, hasilnya, pengunjung harus berjubel untuk keluar dan masuk kawasan Monas.

Hhmmm, lumayanlah…. Menghabiskan sore di PRJ Monas. Melihat kemeriahan Pekan Rakyat Jakarta di Monas, pestanya rakyat Jakarta. Saatnya kembali pulang. PRJ Monas saat ini tengah digelar hingga tanggal 15 Juni 2014 nanti. Walaupun masih terdapat kekurangan di sana sini. Namun secara keseluruhan patut diacungi jempol. Upaya untuk memberikan hiburan gratis, kemeriahan menjelang ulang tahun Jakarta, tengah dihelat di Monas. Ada yang tertarik berkunjung? Silakan… (Del)

 

Untung Masih Ada Ahok yang Ngurus Jakarta

Jalan Inspeksi Kali Sentiong. Sumber gambar : ahok.org/berita/news/jalan-inspeksi-terus-dibangun-di-jakarta/attachment/jalan-inspeksi/

Jalan Inspeksi Kali Sentiong. Sumber gambar : ahok.org/berita/news/jalan-inspeksi-terus-dibangun-di-jakarta/attachment/jalan-inspeksi/

Di antara gegap gempita berita tentang Pilpres yang mendominasi berbagai media, kita sebagai warga Jakarta masih bersyukur. Jakarta masih ada yang “ngurus”. Ketika Jokowi mundur sejenak dari aktivitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, warga Jakarta masih bisa bernafas lega. Ahok masih bekerja keras untuk Jakarta. Ahok masih memegang amanahnya untuk “mengawal” dan “membenahi” Jakarta. Saya rasa dia layak kok jadi Gubernur.

Saya tidak ingin berbicara tentang Jokowi yang tengah konsentrasi dengan pertarungan pencapresannya. Biarkan rakyat yang menentukan. Tulisan ini hanya ingin mengungkapkan tentang Ahok dan kiprahnya untuk Jakarta.

Salut patut dilontarkan untuk Ahok. Beliau masih teguh melakukan upaya-upaya yang memang harus dilakukan untuk mengatasi banjir Jakarta dan tetap melanjutkan upaya yang telah dilakukan oleh Jokowi. Upaya untuk mengatasi banjir, tidak hanya dilakukan ketika musim banjir tiba. Banyak hal yang dapat dilakukan justru ketika musim banjir masih jauh. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan justru kala musim banjir belum lewat. Tidak hanya dilakukan upaya tanggap darurat saja.

Banjir seakan sudah menjadi agenda rutin tahunan untuk Jakarta. Bahkan ada yang mempercayai adanya siklus banjir besar 5 tahunan. Penyelesaian permasalahan banjir merupakan “pekerjaan rumah” yang seharusnya bersifat menerus bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan juga Pemerintah Pusat karena menyangkut area yang lebih luas dan kewenangan yang lebih tinggi. Jakarta tidak dapat menyelesaikan sendiri permasalahan banjirnya.

Kondisi morfologis Kota Jakarta sangat mempengaruhi. Sekitar 40% wilayah Jakarta berada di bawah pengaruh pasang surut dan rentan banjir. Sebagian wilayah DKI Jakarta memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut.  Kota Jakarta merupakan bagian dari DAS Ciliwung-Cisadane dan cekungan air tanah yang meliputi Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Belum ditambah dengan Kota Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai besar. Satu contoh, Sungai Ciliwung memiliki hulu yang berada di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango di Kabupaten Bogor dan bermuara di teluk Jakarta. Prinsip dasarnya, jika tidak ingin banjir melanda Jakarta, selain menjaga aliran sungai agar tidak semakin tergerus dan terjadi pendangkalan maupun penyempitan, menjaga hulu sungai merupakan hal yang tidak kalah penting.

Untuk mengatasi banjir yang rutin melanda Jakarta, Ahok dan jajarannya saat ini tengah giat mengerjakan jalan inspeksi di Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat yang dulu digagasnya bersama dengan Jokowi. Tidak hanya itu, DKI masih akan membangun jalan inspeksi di beberapa wilayah lainnya. Pembangunannya dilakukan secara bertahap karena akan terkait dengan pembersihan permukiman di sepanjang sungai yang dilewatinya. Pembangunan jalan inspeksi sangat dibutuhkan untuk menghindari pembangunan kembali permukiman liar di sepanjang bantaran kali atau sungai.

Permukiman yang terkena pembangunan jalan inspeksi secara bertahap akan dipindahkan untuk menempati rumah susun. Rumah susun dibangun untuk menampung penduduk yang tinggal di bantaran kali dan waduk. Pemda DKI Jakarta sudah melakukan hal yang benar. Penduduk tidak asal disuruh pindah begitu saja, namun disediakan tempat tinggal yang layak dan manusiawi.

Rusun siap, warga di pinggiran kali sudah pindah, maka waduk, sungai, atau kali akan dilebarkan. Pinggiran sungai akan dibangun jalan-jalan inspeksi yang dapat dilalui kendaraan bermotor. Ahok mengatakan, “Jadi kita bisa mengatasi banjir sekaligus mengatasi kemacetan lalu lintas dengan adanya jalan inspeksi tersebut”. Setuju.

Ahok tidak akan pandang bulu, yang melanggar akan ditertibkan. Tidak akan ada biaya ganti rugi, karena sudah disediakan tempat tinggal di rusun yang dibangun. Setuju juga.

Terjadinya banjir di Jakarta tidak terlepas dari tidak tertibnya pembangunan di Jakarta. Perubahan fungsi lahan atas nama pembangunan semakin sulit dikendalikan. Jumlah penduduk siang sekitar 12,5 juta jiwa dengan segenap aktivitasnya harus ditampung oleh Jakarta. Berbagai macam aktivitas pembangunan tidak hentinya dilakukan untuk memenuhi dan mewadahi aktivitas penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Perubahan fungsi lahan tidak dapat dihindari demi memenuhi kebutuhan penghuninya. Lahan yang seharusnya difungsikan sebagai kawasan resapan air berubah menjadi kawasan budi daya dengan beragam peruntukan. Ruang terbuka hijau semakin terkikis dan perlahan habis.  Sudah saatnya pembenahan dilakukan. Penertiban pembangunan sebagai langkah pengendalian dan pengelolaan pemanfaatan ruang harus terus dilakukan. Pembangunan di wilayah Jakarta harus tetap mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta.

Jakarta masih memiliki banyak PR. Ayo Pak Ahok…! Semangat…! Untung masih ada Ahok yang ngurus Jakarta ! (Del)

Jadi, Kota Jakarta Ada di Mana?

Gambar

Marilah sejenak kita lupakan hiruk pikuk Pilpres yang sebentar lagi mampir. Terkadang, bosan juga melihat berita di TV yang tayangannya hampir didominasi dengan berita Pilpres. Terutama di antara dua stasiun berita yang mulai terlihat dengan jelas dan terang, sangat tidak berimbang. Masih ditambah dengan berbagai media sosial maupun group di HP yang topiknya gak jauh dari situ.  Kompasiana ikut-ikutan, tidak mau ketinggalan. Berita seputar pilpres banyak berseliweran. Belum cukup? Obrolan di kantor pun masih seputar situ. Sekali-kali, boleh dong teriak, “Bosan……! Gak ada topik yang lainkah? ”. Tapi tenang…saya janji gak akan golput kok… Hanya perlu sedikit penyegaran. Tidak melulu bahas politik.

“Jadi bahas apa dong…..?”. Mari kita tengok Kota Jakarta. Kota yang banyak diumpat sekaligus tetap dicinta. Kota yang masih dijadikan tempat hidup dan berpenghidupan bagi penghuninya. Dapat dipastikan, hampir semua penduduk Jakarta, pernah mengeluarkan umpatan atau paling tidak kekecewaan atau keluhan tentang Jakarta.  Paling tidak, pasti pernah mencetuskan kekecewaan atau protes terkait banjir, macet, bising, got mampet, atau tentang sampah.

Kota Jakarta merupakan ibukota Negara sekaligus dinilai sebagai kota metropolitan. Konon, Jakarta juga merupakan surga bagi penggila belanja di tanah air.  Berbagai tempat belanja berjejalan menghiasi kota. Konon, Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Lebih dari 130 mall bertebaran di Jakarta. Tersebar hingga pelosok Jakarta. Lingkungan perumahan skala kecil pun bisa memiliki mall yang mentereng. Bahkan dalam satu ruas jalan bisa ada 2 Mall besar sekaligus.

Pertumbuhan dan perkembangan mall di Kota Jakarta beberapa tahun ke belakang di luar kendali. Banyak lahan yang semula peruntukannya bukan untuk kawasan komersial atau yang pada awalnya merupakan kawasan permukiman, beralih fungsi menjadi kawasan perdagangan. Bahkan, kawasan yang semula memiliki fungsi untuk kawasan resapan air dan ruang terbuka hijau dapat berubah wujud menjadi mall atau kawasan komersial lainnya. Masih untung Jokowi-Ahok segera menyadarinya. Setidaknya, pertumbuhannya mulai melambat. Jakarta sudah tidak terlalu jor-joran mengeluarkan ijin untuk pendirian mall. Jakarta butuh ketegasan. Tegas menerapkan rencana tata ruangnya.

Saya bukan orang yang anti mall. Masih tetap membutuhkan dan sesekali melakukan aktivitas jalan-jalan dan belanja di mall. Hanya masih dalam kadar yang wajar. Terkadang fenomena menjamurnya mall tersebut menumbuhkan kegelisahan tersendiri. Benarkah Jakarta membutuhkan mall sebanyak itu? Apakah kebutuhan akan mall memang sebanyak itu? Apakah orang-orang ke Jakarta melulu untuk berbelanja? Apakah budaya konsumerisme sudah sedemikian parah melanda Jakarta? Haruskah selalu menghabiskan waktu bersama keluarga di mall?

Yang lebih aneh adalah penamaan  mall-mall yang ada. Semua seakan berkiblat ke dunia di belahan Barat sana. Seolah paradigma modern yang tertanam dan memiliki daya jual tinggi harus berpatokan ke sana. Cobalah tengok dan cermati nama-nama mall yang ada di Jakarta. Hampir semua mall diberi label nama-nama berbau asing. Paling tidak, memiliki penggalan kata dari Bahasa Inggris. Mungkin supaya terlihat keren dan modern. Istilah square, town square, park, trade center, village, atau city banyak berseliweran.

Mungkin akan ada nada yang berkomentar, “Ah, itu sih kamu aja yang kepo…sirik….Gak ada salahnya kan? Supaya lebih menjual…Kalau kamu punya mall pasti melakukan hal yang sama”. Memang gak ada salahnya, sudah jadi hak mereka karena belum ada aturannya. Hanya, terkadang tergelitik juga.

Ada banyak label square. Cilandak Town Square, Mangga Dua Square, Kelapa Gading Square, Dharmawangsa Square, Cibubur Square, Rawamangun Square, Blok M Square, dan banyak square yang lainnya. Mengapa semua seolah latah menamainya square? Atau seperti juga, “Mengapa semua harus dinamakan trade center? Atau, “Mengapa harus dinamakan Pejaten Village, Pluit Village? Village-nya dari mana?”. Mari kita tersenyum.

Ada Senayan City, Kuningan City, Season City, Gandaria City, Thamrin City, dan terakhir ada Kota Kasablanka. Dinamakan kota, “Kotanya di sebelah mana?” Yang dimaksud Senayan City, Kuningan City, Thamrin City, dan sebagainya itu tidak lebih dari bangunan mall. Ok lah, dulu mungkin merencanakan untuk mewujudkan yang namanya konsep “compact city” atau mix used building, sehingga diberi tambahan label “city”. Tapi gak tepat juga, hehehe… Kota di dalam kota? Di antara sekian banyak city, lalu Jakarta City nya di mana? Kota Jakartanya di mana? Ha..ha…ha…

Lebih lucu lagi Central Park… Isinya gak jauh juga dari definisi mall. Tetap isinya pusat perbelanjaan. Pertanyaannya, “Park-nya di mana?”. Ah, sudahlah… anggap saja ini intermezzo tengah hari di tengah suasana menjelang pilpres. Dari seseorang yang sedang kepo… Hehehe… (Del)