Menyusuri Jejak Arsitektural Ridwan Kamil di Musium Tsunami Aceh

Telah lama memendam keinginan untuk berkunjung ke Tanah Rencong Aceh. Aceh termasuk salah satu destinasi yang belum pernah saya rambah sebelumnya. Beberapa kesempatan kunjungan ke sana selalu terkendala satu dan lain hal. Ketika kesempatan itu datang, yang terlintas di benak adalah Sabang dan Musium Tsunami. Kenapa Sabang dan kenapa Musium Tsunami? Sabang, karena tak lengkap rasanya kunjungan ke Merauke tanpa menggenapinya dengan kunjungan ke Sabang. Supaya seimbang dan paripurna, Sabang dan Merauke. Musium Tsunami, karena saya termasuk salah satu pengagum Ridwan Kamil, seorang arsitek yang kini menjadi Walikota Bandung. Sebagai pemimpin di Kota Bandung, gebrakan yang beliau lakukan untuk menata Kota sudah banyak dan sangat terasa. Sebagai arsitek, karya-karya arsitektural Ridwan Kamil patut diacungi jempol. Konsepnya sarat dengan makna yang filosofis. Banyak sekali karya-karyanya yang sudah diakui dunia.

Sepertinya Ridwan Kamil paham betul momok yang dipancarkan dari kata Musium. Beliau berupaya keras untuk menghindari stigma yang terlanjur melekat pada kata Musium. Mengapa orang enggan berkunjung ke Musium? Karena Musium kadung terstigma dengan pemahaman tentang sebuah tempat yang hanya berisi barang-barang peninggalan, barang-barang jadul yang ditata dalam lemari, berderet, dan berdebu. Minim perawatan dan tidak menarik sama sekali. Terutama bagi anak-anak muda jaman sekarang. Ridwan Kamil seakan ingin memutarbalikkan dan menghapus stigma tersebut. Upayanya cukup berhasil dengan hasil karyanya pada Musium Tsunami Aceh.

Keberadaan Musium Tsunami Aceh bermula dari lomba desain musium yang digagas oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh – Nias) untuk mengenang peristiwa Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Desain karya Ridwan Kamil yang waktu itu masih menjadi Dosen Arsitektur ITB keluar sebagai pemenang pertama menyisihkan 68 peserta lainnya dan karyanya diwujudkan secara nyata menjadi Musium Tsunami Aceh. Musium tersebut telah berdiri megah dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009 dan dibuka untuk umum sejak 8 Mei 2009.

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Konsep Desain

Ridwan Kamil mengemas konsep rancangan Musium Tsunami Aceh dengan tema “Rumoh Aceh as Escape Building”. Kesan modern sangat terasa ketika kita melihat bentuk bangunannya dari luar. Jika dilihat, tampak depannya seperti kapal besar yang memiliki geladak luas sedangkan tampak atasnya seperti gelombang tsunami. Namun, jika ditelisik lebih dalam, desainnya tetap mengusung kearifan lokal yang tumbuh di lingkungan masyarakat Aceh. Tergambar dari ide dasarnya berupa rumah panggung Aceh yang sebenarnya ramah dalam merespon bencana alam serta konsep bukit penyelamatan (escape hill) sebagai antisipasi terhadap bahaya tsunami. Atau juga pada dinding bangunan yang mengadopsi konsep tarian khas Aceh, yaitu Tari Saman yang menggambarkan kekompakan dan kerjasama antar manusia. Kesan musium yang modern tersirat dalam bentuk ruang-ruang yang tidak hanya memamerkan benda-benda memorial belaka tapi bisa berupa taman terbuka yang dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya anak muda untuk mengekspresikan diri.

Konsep desain Musium Tsunami Aceh tersebut diimplementasikan dalam pembagian ruang-ruang yang sarat makna filosofis dan melayangkan ingatan serta perenungan kita pada tragedi tsunami yang lalu. Tata letak ruangan terutama di lantai satu Musium, didesain khusus sehingga pengunjung seolah diajak untuk mendalami dan merasakan efek psikologis dari bencana tsunami.

  1. Space of Fear

Perjalanan menjelajah Musium Tsunami Aceh bermula dari sebuah lorong sempit yang seakan mengajak pengunjung untuk turut merasakan suasana mencekam, saat-saat terjadinya bencana tsunami. Lorong yang gelap dengan dinding tinggi berwarna hitam di sisi kiri dan kanan serta aliran air di sepanjang dinding dengan bunyi bergemuruh cukup memberikan efek psikologis yang menakutkan. Untuk itulah lorong ini dinamakan dengan Lorong Tsunami. Suasana mencekam karena bunyi-bunyian, cipratan air, dan minimnya pencahayaan seolah ingin mendeskripsikan rasa takut masyarakat yang luar biasa saat para korban berlarian menyelamatkan diri dari kejaran gelombang air laut.

Mungkin bagi pengunjung yang masih memiliki trauma pada kejadian tsunami Aceh, tidak disarankan untuk melewati jalur ini. Pastinya akan membangkitkan kenangan yang buruk atas terjadinya tragedi dahsyat tersebut.

  1. Space of Memory

Selepas dari lorong tsunami yang sempit disertai dengan suasana mencekam, pengunjung diajak untuk memasuki sebuah ruangan yang dinamakan ruang kenangan (Memorial Hall). Di ruangan ini terdapat 26 buah monitor yang semuanya menyajikan gambar-gambar saat peristiwa tsunami. Slide-slide gambar dan foto yang dirangkai dalam setiap monitor seakan ingin membangkitkan kembali kenangan terjadinya bencana tsunami yang melanda Aceh. Untuk tetap memberikan suasana mencekam, ruangan ini juga didesain dengan pencahayaan yang minim. Rasanya tidak tega melihat gambar-gambar korban yang begitu menyedihkan.

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

  1. Space of Sorrow

Space of Sorrow diwujudkan dalam bentuk Ruang Sumur Doa (Blessing Chamber). Ruangannya menyerupai sumur yang tinggi berbentuk seperti silinder dengan ribuan nama-nama korban tsunami yang terpampang di dinding. Menggambarkan kuburan massal para korban tsunami. Sumur ini hanya diterangi oleh pencahayaan yang berasal dari sinar di ujung atas sumur berbentuk lingkaran dengan tulisan kaligrafi Allah SWT. Filosofinya, ruangan ini menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya, dimaknai dengan kehadiran Allah sebagai harapan bagi masyarakat Aceh.

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

  1. Space of Confuse

Keluar dari Sumur Doa, pengunjung diajak untuk melalui jalanan yang berkelok-kelok dan tidak rata yang menggambarkan suasana kebingungan dari masyarakat Aceh tatkala terjadinya bencana. Kebingungan dalam mencari sanak dan saudara yang hilang, kebingungan karena kehilangan tempat tinggal, kebingungan karena kehilangan harta benda, dan kebingunan dalam menatap serta menata masa depan. Pengunjung diajak untuk melalui sebuah lorong gelap (lorong cerobong) yang membawa pada cahaya alami harapan bahwa masyarakat Aceh masih memiliki harapan dengan adanya bantuan dari dunia untuk memulihkan Aceh. Untuk itulah area ini dinamakan space of confuse.

Penunjuk arah

Penunjuk arah

  1. Space of Hope

Setelah lepas dari lorong cerobong, sampailah pengunjung pada sebuah jembatan yang dinamakan jembatan harapan (space of hope). Jembatan ini seolah mengingatkan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang kita hadapi, akan selalu ada harapan untuk bangkit dan meraih asa yang baru. Meraih uluran tangan dari para sahabat dan bersama-sama menyongsong hidup yang baru. Area ini dinamakan jembatan harapan karena saat melalui jembatan, kita dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang turut serta mengulurkan tangan memberikan bantuannya baik saat tsunami maupun pasca tsunami. Jumlah bendera tersebut sama dengan jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Sebuah kolam dengan air yang berwarna kemerahan dengan banyak ikan-ikan di dalamnya. Di tiap batu tertera tulisan kata “Damai” dengan bahawa dari masing-masing negara pemberi bantuan untuk merefleksikan perdamaian Aceh dari konflik yang mendera sebelum tsunami. Tsunami membawa berkah dan turut pula membantu proses perdamaian di Bumi Aceh, serta turut membantu merekonstruksi Aceh pasca bencana. Terdapat pula ruang yang menyajikan pemutaran film tsunami selama sekitar 15 menit yang menceritakan peristiwa dari mulai gempa, tsunami, hingga saat bantuan datang.

Bendera para donor

Bendera para donor

Pada lantai dua, kita diajak untuk melihat banyak foto-foto serta artefak yang berhubungan dengan tsunami. Misalnya, terdapat jam besar yang mati saat terjadinya tsunami. Jarum jam masih menunjuk pada pukul 08.17. Atau kita juga dapat melihat foto jam Masjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati dengan jarum jam yang menunjuk saat terjadinya bencana. Terdapat beberapa diorama yang menggambarkan seputar peristiwa tsunami. Ada yang menggambarkan suasana para nelayan dan masyarakat setempat yang panik berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi serta beberapa maket yang menggambarkan lansekap wilayah Aceh sebelum dan pasca bencana tsunami. Selain itu, ada juga ruang perpustakaan serta ruang alat peraga. Beberapa alat peraga yang ditampilkan antara lain bangunan tahan gempa, contoh patahan bumi, lukisan bencana, dan lainnya.

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

pengetahuan seputar tsunami

pengetahuan seputar tsunami

20141031_10583920141031_110029

Di lantai tiga Musium Tsunami Aceh, kita dikenalkan pada berbagai pengetahuan seputar gempa dan tsunami. Kita diajak untuk mengenali sejarah dan potensi tsunami di seluruh bumi, simulasi gempa yang bisa diatur sesuai dengan skala richternya, serta beragam desain bangunan dan tata ruang yang ideal untuk daerah rawan tsunami.

Musium ini dilengkapi pula dengan ruangan-ruangan yang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk mengenal dan menikmati beberapa penganan khas Aceh serta ruangan tempat dijualnya souvenir khas Aceh, terutama sulaman-sulaman khas Aceh yang tampak pada tas, dompet, dan beberapa souvenir khas Aceh lainnya.

  1. Space of Relief

Ruang pemulihan diwujudkan dalam “the hill of light” dan “escape roof”. The hill of light berupa taman berbentuk bukit kecil sebagai sarana penyelamatan awal tsunami. Berupa taman publik dengan lansekap yang menarik. Sayang saat kunjungan, bagian ini belum dibuka.

Ridwan Kamil telah menterjemahkan peristiwa bencana dan segala seluk beluknya dalam bentuk desain Musium Tsunami Aceh. Karyanya sekarang telah menjadi salah satu simbol Kota Aceh. Menjadi sebuah objek yang wajib kunjung ketika berada di Aceh. Kenangan pahit sebuah bencana dahsyat memang tidak mudah untuk dilupakan. Terlebih bagi orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Namun, di balik semua peristiwa yang terjadi selalu ada hikmah yang dapat diambil. Pembangunan yang terjadi di Aceh pasca tsunami sungguh luar biasa. Aceh sebelum tsunami yang tak lepas dari konflik, dapat bangkit menyongsong lembaran baru dengan berbagai pembangunan yang saat ini terus berlangsung. Aceh yang dulu selalu dirundung konflik dan terbelit situasi yang senantiasa mencekam, perlahan mantap melangkah menjadi wilayah yang tidak kalah dengan belahan Indonesia lainnya. Sebuah hikmah di balik bencana. (Del)

Advertisements

RM Nusa Indah, Solusi Bagi yang Lupa Bawa Oleh-Oleh

Pulang dengan membawa buah tangan atau oleh-oleh sudah menjadi tradisi yang telah mendarah daging bagi sebagian warga Indonesia. Musim liburan atau hari-hari pasca mudik Lebaran kali ini pun tidak luput dari ritual membeli oleh-oleh. Tak lengkap rasanya bila pulang dari satu tempat dengan tangan hampa, tanpa menjinjing buah tangan. Tak sempurna rasanya bila pulang mudik tidak membawa makanan atau cemilan khas daerah yang bersangkutan. Jangan heran bila di kota-kota tertentu, toko oleh-oleh banyak diserbu oleh para wisatawan maupun pemudik.

Bagaimana bila kita tidak sempat membeli oleh-oleh? Apa jadinya bila kita terburu-buru dan ada kerabat atau teman atau saudara yang tertinggal dari list yang akan diberi oleh-oleh? Rasa bersalah pasti akan hadir menyelinap bila titipan saudara atau teman terluput dan terlupa. Lalu, bagaimana cara mensiasatinya? Gak usah khawatir. Tak perlu repot-repot balik ke daerah asal. Solusinya ada pada…… Rumah Makan Nusa Indah! Lho kok rumah makan? Memang tersedia oleh-oleh yang kita cari? Harus makan di tempat juga? Banyak amat nanyanya. Santai dulu lah…..

RM Nusa Indah

RM Nusa Indah

Rumah makan yang satu ini memang berbeda dengan rumah makan lainnya. Berawal dari sebuah rumah makan sederhana yang kemudian dikembangkan sekaligus menjadi pusat oleh-oleh dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Ibu Hartaty, sang pemilik rumah makan, mengawali bisnisnya dengan membuka rumah makan dengan menu-menu khas Surabaya. Perlahan tapi pasti, mulai mengembangkannya dengan menyajikan menu-menu daerah lainnya. Plus pusat oleh-oleh dari berbagai daerah.

Tampak depan RM Nusa Indah

Tampak depan RM Nusa Indah

Rumah Makan Nusa Indah terletak di Jalan KH. Achmad Dahlan No. 33, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ibu Hartaty telah mulai membuka tokonya sejak tahun 1983 di kawasan Radio Dalam. Baru di tahun 1986, akhirnya pindah ke tempat ini. Hingga saat ini, Ibu Hartaty akan dapat kita temui berada di belakang meja kasir. Beliau masih setia meladeni pembeli dari balik meja kasir.

Deretan cemilan di RM Nusa Indah

Deretan cemilan di RM Nusa Indah

 

Aneka cemilan di RM Nusa Indah

Aneka cemilan di RM Nusa Indah

 

Aneka cemilan di RM Nusa Indah

Aneka cemilan di RM Nusa Indah

Walau berupa rumah makan yang tidak terlampau besar, dengan lahan parkir yang tidak terlalu luas, rumah makan Nusa Indah mampu membuat rasa kangen menu kampung halaman sedikit terobati. Mampu pula mengobati rasa ngidam makanan daerah yang tiba-tiba muncul. Menu rawon lengkap dengan telur asinnya seperti yang ada di Surabaya, lontong Cap Gomeh, nasi pecel, sop buntut, nasi gandul, gudeg, lumpia Semarang, batagor Bandung, tahu gimbal, dan banyak menu lainnya tersedia di sini.

Di sebelah tempat makan, mata kita pasti akan terbelalak dengan deretan atau tepatnya beragam tumpukan makanan dan cemilan khas daerah yang mengingatkan kita pada daerah tertentu. Tinggal sebutkan keinginan kita, petugas akan dengan ramah menunjukkannya. Satu hal yang pasti, yaitu “Pasti kita akan bingung memilih yang akan kita beli”. Hampir semua tersedia di sana. Niat untuk membeli satu cemilan, pasti cemilan lainnya akan terikut. Seolah penganan dan cemilan tersebut iri untuk turut serta. Bahasa lainnya, kalap.

Sepertinya tulisan ini akan penuh bila disebutkan satu persatu. Tersedia Bolu Meranti khas Medan, bandeng presto Semarang, Abon Varia, keripik paru, dan Bolu Lapis Surabaya Mandarijn dari Solo, sambal udang Bu Rudi, kue lapis legit Spikoe, dan es krim Zanrandi dari Surabaya, brem dari Madiun, keripik pisang Lampung, Bakpia Pathok Jogja, Bakpia Legong Bali, aneka Brownies Amanda, kue-kue Kartika Sari, dan keripik Ma Icih dari Bandung, kerupuk udang dan terasi Nyonya Siok dari Sidoarjo, Nopia Banyumas, keripik singkong balado Christine Hakim dari Padang, dan banyak lagi cemilan lainnya. Semuanya bersesakan dan seakan berebut tampil untuk menarik perhatian calon pembeli.

Ada pula beragam sirup khas daerah seperti sirup kawista dari Jawa Tengah, sirup pisang susu dari Cirebon, dan Jeniper (jeruk nipis peres) juga tersedia. Pokoknya…. Lengkap banget! Cocok untuk yang rindu kampung halaman atau untuk yang terlupa bawa oleh-oleh.

Sempat ngobrol sebentar dengan Ibu Hartaty tentang bagaimana sistem yang diberlakukan di tokonya. Beliau menjawab, “Tergantung merk dan jenisnya Mbak, kalau yang sudah terkenal, dan yakin pasti laku, saya beli langsung, tapi untuk yang lainnya pakai sistem titip jual. Saya juga tidak mau terlalu ambil resiko”. Cukup dapat dipahami, karena untuk beberapa camilan, ketahanannya cukup singkat. Ada resiko basi atau kadaluwarsa. Ada pertimbangan asal makanan juga. Jika lokasi asalnya terlalu jauh, ongkos kirim mahal, dan peminatnya sedikit, tidak berani stok banyak.

Jadi, terlupa bawa oleh oleh? Datang saja ke Rumah Makan Nusa Indah. Hampir semua oleh-oleh khas daerah yang terkenal, ada di sana. Walau ada pula yang pastinya masih belum tersedia di sana.

Note : saya bukan kerabat atau pun temannya RM Nusa Indah, bukan pula salesnya. Hanya sharing saja.

Salam. (Del)

Bermain Air di Wisata Alam Curug Cigamea, Bogor

Bagaimana jadinya bila sekumpulan orang dalam jumlah banyak memiliki pemikiran yang sama? Apa yang akan terjadi andai ratusan orang memiliki strategi yang sama? Sukseskah strategi tersebut? Yang jelas, hasilnya adalah kemacetan. Setidaknya, itu yang terjadi di hari pertama Idul Fitri dua hari yang lalu. Ide untuk melakukan refreshing ke Puncak di hari pertama Lebaran, saat umat Muslim melakukan Shalat Ied, ternyata tidak berhasil sama sekali.
Kami sekeluarga sudah berada di Bogor dari H-1 Lebaran. Terbersit di benak, “Asyik juga kayaknya kalau ke Puncak pas subuh di Hari Lebaran, pasti masih sepi….”. Ternyata ide yang sama mungkin menghampiri orang lain pula. Hasilnya sudah jelas…macet…
Kadung sudah keluar rumah, tak elok rasanya bila hasilnya hampa. Yang perlu dilakukan hanya mengganti tujuan, “Tapi enaknya ke mana ya…..?”. Anak-anak saling urun usul, “Ke curug yuk!”. Sepakat. Keluar pintu tol Ciawi, balik arah, kembali ke Bogor. Sebuah keputusan yang tepat. Menurut kabar, Puncak macet total.

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Tujuan sudah ditetapkan. Mari kita wisata curug atau wisata air terjun. Tidak perlu lokasi yang terlalu jauh. Bogor memiliki banyak curug yang dapat disambangi. Lokasinya masih di seputar Gunung Salak dan Gunung Bunder. Di kawasan ini terdapat beberapa curug, antara lain Curuk Cigamea, Curug Ngumpet, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Luhur, Curug Sawer, Curug Pangeran, Curug Cikuray, dan Curug Luhur. Mungkin masih ada lagi curug lain. Hanya, berdasarkan selebaran yang dibagikan beserta bukti tiket masuk kawasan, setidaknya curug-curug itulah yang ada di Kawasan Gunung Salak. Tak ketinggalan, ada pula objek wisata Kawah Ratu yang masih berada di kawasan tersebut.
Curug Cigamea dapat dijangkau dari arah Ciapus melewati kampus IPB Dramaga, lanjut hingga kawasan Gunung Bunder melewati Cibatok. Atau dapat pula melalui pintu masuk Pamijahan. Curug Cigamea berada di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat Kota Bogor. Kami masuk lewat pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Tak perlu khawatir, untuk menuju ke sana sudah ada penunjuk arah di sepanjang jalan.

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Curug Cigamea merupakan curug pertama yang kami temui selepas pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Dari pintu masuk Curug Cigamea, masih perlu jalan kaki menuruni tangga kira-kira sekitar 350 m. Jalan menuju curug masih berupa jalan setapak yang terbuat dari batu yang disusun membentuk anak tangga. Kondisi jalannya cukup baik. Untuk keamanan, sepanjang anak tangga diberi pembatas berupa pagar besi. Di sepanjang jalan, sudah ada beberapa warung dan tempat singgah untuk sejenak melepas lelah. Air terjun Cigamea sesekali nampak di kejauhan, seakan memanggil dan memberi semangat. Bila tidak siap membawa pakaian ganti, di sepanjang jalan menuju curug juga telah ada penjual pakaian. Bahkan ada pula tempat terapi ikan, yaitu membiarkan kaki digigit ikan-ikan kecil.

Curug yang pertama

Curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Bermain di antara batu-batu besar

Bermain di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

Curug yang kedua

Curug yang kedua

Di depan curug yang ke dua

Di depan curug yang ke dua

Dari jauh terlihat bahwa ternyata Curug Cigamea memiliki dua buah air terjun utama. Walau memiliki dua air terjun, keduanya memiliki ciri yang berbeda. Air terjun yang pertama memiliki dinding berupa bebatuan hitam dan kolam di bawahnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu dalam. Pengunjung tidak dapat berenang di sana. Terdapat batu-batu yang cukup besar dan merupakan kebanggaan tersendiri bila dapat memanjatnya. Air terjun yang kedua memiliki dinding berwarna coklat dan hijau lumut. Kolam airnya cukup dalam. Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Sedikit ngeri juga bila mendekat ke air terjunnya karena dindingnya yang lumayan curam. Di beberapa spot, terdapat tulisan, “Hati-hati, rawan longsor”.

Air yang begitu jernih

Air yang begitu jernih

Namun, terdapat kesamaan antara kedua air terjun di Cigamea. Keduanya sama-sama menarik jika dijadikan latar belakang untuk berfoto ria. Kebetulan, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke sana. Mungkin karena masih hari pertama Lebaran.
Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Airnya sangat jernih dan dingin.

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Bermain di alam

Bermain di alam

perjalanan yang tidak mudah

perjalanan yang tidak mudah

Hati-hati terperosok...

Hati-hati terperosok…

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Waktunya untuk pindah lokasi. Masih banyak objek yang dapat dikunjungi selain Curug Cigamea. Poling menentukan bahwa tujuan selanjutnya adalah Kawah Ratu. Di pintu masuk menuju Kawah Ratu, terdapat beberapa warung penjual Indomie Rebus, jagung bakar, dan nasi goreng. Kami tanya, “Berapa jarak ke Kawah Ratu? Jawabnya, “Sekitar 4 km”. Ternyata…. Hehehe… Seharusnya kami ingat rumus orang daerah. Empat kilometer orang setempat berbeda standarnya. Bisa jadi jauh berbeda. Akhirnya, setelah 1,5 jam jalan kaki melalui jalan setapak berbatu bahkan melewati jalan air, melintas sungai kecil, dan beragam rintangan kecil lainnya, kami putuskan untuk kembali ke warung semula. Hari sudah mulai condong ke barat. Ujungnya, sudah dapat ditebak. Kembali ke warung dan pesan indomie rebus dan jagung bakar. Indomie di pegunungan rasanya jauh lebih lezat dibandingkan di rumah. Tapi tidak ada yang sia-sia. Anak-anak tetap bergembira dan menikmati alam yang masih hijau.
Ada yang dapat kita petik dari perjalanan ini. Tujuan wisata tidak menjadi hal yang paling penting. Keindahan dalam kebersamaan jauh lebih penting. Wisata menjadi jauh lebih bernilai ketika setiap individunya dapat menikmatinya. (Del)

Indahnya Kota Ende dari Atas Bukit Kolobari

C

Kota Ende Terlihat dari Kolobari

Telah lama mendamba untuk dapat berkunjung ke Kota Ende, sebuah kota kecil di bagian Selatan Pulau Flores, ibukota Kabupaten Ende. Walau merupakan kota kecil, seperti kota lainnya di Pulau Flores, Ende memiliki landscape yang luar biasa indah.
Sekarang, untuk menggapai Ende dari Jakarta, dapat menggunakan pesawat Garuda lewat Kupang atau singgah ke Bali terlebih dahulu, lalu sambung dengan menggunakan pesawat TransNusa/Aviastar ke Ende.

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Mendarat di Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, pemandangan indah langsung menyergap serentak. Rasa was-was yang melanda selama proses pendaratan sirna sudah. Bandara Ende termasuk salah satu bandara yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi pada saat pendaratan. Lokasinya yang sangat berdekatan dengan bukit-bukit yang mengelilingi menyisakan kerawanan tersendiri. Di ujung landasan, sebuah bukit yang lumayan besar menanti dengan gagahnya. Pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas harus mendekati bukit ini, sekedar untuk menyapanya atau untuk berpamitan dengan bukit tersebut. Belum lagi ditambah jaraknya dengan pantai yang lumayan dekat. Butuh keahlian, kesigapan, dan ketepatan sang pilot. Namun, selebihnya, tidak akan menyesal. Panorama yang disuguhkan sungguh memukau. Deretan bukit hijau nan asri seolah menyambut para pengunjung.
Panorama indah Kota Ende dapat kita nikmati dari beberapa spot/lokasi di bukit-bukit sekitar. Salah satunya, yaitu dari Kolobari, sebuah bukit yang berada sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Ende. Sayang, perjalanan menuju Kolobari masih berupa jalanan yang kurang nyaman dilewati. Lubang-lubang menganga masih sering ditemui. Goncangan membuat perjalanan yang tidak terlalu jauh, memakan waktu yang lebih lama. Tapi ingat…! Prasyarat utama untuk menikmati keindahan alam Kota Ende adalah…. “Enjoy aja…, nikmati …, bawa happy aja!” Di ujung perjalanan, panorama menawan akan memupus kekesalan karena jalan yang buruk.

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Dari Kolobari terpapar dengan indah perpaduan beberapa karya sempurna Tuhan. Paduan antara bukit-bukit dan gunung-gunung dengan beragam ketinggian, pantai dan laut, serta Kota Ende yang terhampar elok di bawah. Ada satu gunung yang cukup menarik perhatian. Bagian atasnya rata seperti meja. Untuk itu, penduduk setempat menamakannya, Gunung Meja.

Seorang wanita tengah asyik menenun

Seorang wanita tengah asyik menenun

Puas beberapa saat menikmati indahnya panorama Kota Ende, waktunya kembali menuruni bukit. Di sepanjang perjalanan, selain melewati hutan serta kebun jagung dan singkong, juga melewati rumah-rumah penduduk asli Ende. Banyak penduduk yang tengah melakukan kegiatan menenun kain di bagian depan rumah atau di pekarangan rumahnya. Kegiatan menenun kain biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Tergerak hati untuk singgah.
Kain tenun Ende memiliki motif yang khas. Motif tenun Ende berbeda dengan motif tenun dari kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Setiap daerah memiliki motif tersendiri. Bahkan setiap suku memiliki motifnya masing-masing. Bahkan di Pulau Flores sendiri, memiliki motif-motif khas yang berbeda-beda.

Mencoba menenun

Mencoba menenun

 

Gayanya doang....

Gayanya doang….

Para wanita menenun menggunakan alat yang masih sangat sederhana. Setiap wanita di Ende biasanya dapat menenun. Hasilnya selain untuk keperluan sendiri, sebagian dijual ke Kota Ende hingga ke luar Pulau Flores. Sempat pula mencoba untuk bergaya jadi penenun. Komentar teman, “Tidak meyakinkan…!”. Tidak apa. Yang penting sudah mencoba… Akhirnya, ada kain yang menarik hati. Lumayan untuk koleksi di rumah.
Bagaimana, tertarik untuk berkunjung ke Ende? Mari….
Salam. (Del)

Menyusuri Jejak Soekarno di Ende

Pulau Flores, selain terkenal dengan alamnya yang cantik juga menyisakan wisata sejarah yang tidak kalah menarik. Sebagai salah satu kota kecil yang terletak di Pulau Flores, Kota Ende menyimpan wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tidak ada salahnya bila berkunjung ke Kota Ende, kita coba menyusuri jejak Soekarno di sana.

Soekarno, presiden pertama Indonesia, sempat diasingkan oleh pemerintah Kolonial Belanda selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1934 hingga tahun 1938, di Pulau Flores, tepatnya di Kota Ende. Soekarno diasingkan ke Ende dengan tujuan untuk mengisolasi Soekarno, menjauhkan beliau dari pergerakan dan kegiatan politiknya. Juga menjauhkannya dari rekan-rekan seperjuangannya yang ada di Pulau Jawa. Dengan mengasingkannya ke Pulau kecil nun jauh dari jangkauan, sepi, dan tanpa hiburan, Belanda berharap Soekarno putus harapan, terbatas gerakannya, dan berlanjut frustasi. Berhasilkah upaya yang dilakukan Belanda?

Ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Soekarno tetap dapat bersosialisasi dengan komunitas yang ada di Kota Ende. Soekarno masih dapat berdiskusi dan bercengkerama dengan komunitas yang ada di Gereja Katolik yang ada di Ende. Soekarno bahkan terbiasa untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan gereja tidak jauh dari rumah pengasingannya. Mungkin ini pula yang mempengaruhi ideologi kebangsaan yang terlahir di sana. Interaksinya dengan para pemimpin Katolik turut mewarnai. Konon katanya, ideologi kebangsaan Pancasila terlahir saat Soekarno duduk merenung di sekitar pohon sukun berbatang lima. Soekarno mengalami perjalanan pemikiran yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Melahirkan ideologi Pancasila.

Patung Soekarno di Ende

Patung Soekarno di Ende

 

di depan patung Soekarno di Ende

di depan patung Soekarno di Ende

Yang patut sedikit disayangkan, ketika berkunjung ke sana, gambaran Soekarno tengah merenung di bawah naungan pohon sukun berbatang lima sudah sedikit mengalami “modifikasi”. Patung Soekarno sekarang digambarkan tengah duduk di bangku panjang yang berada di tengah kolam. Apakah kondisi riil dulu seperti itu? Ataukah untuk kepentingan simplifikasi? Sudahlah, tidak apa-apa. Itu sudah lebih mending bila dibandingkan dengan posisi patung sebelumnya yang dalam kondisi berdiri. Saat ini, patung Soekarno telah mengalami renovasi dan posisinya berubah, dari berdiri menjadi duduk di bangku panjang. Coba tanya ke seorang teman yang ada di sana, dengan santai dan sedikit bercanda, jawabnya, “Mungkin sudah cape berdiri….”.

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

 

Pohon sukun dan patung Soekarno

Pohon sukun dan patung Soekarno

Patung Soekarno beserta dengan pohon sukunnya terletak tidak jauh dari pantai. Pancasila terlahir saat Soekarno duduk di sekitar pohon sukun, sambil menghadap ke Laut Flores. Hingga saat ini, tak jauh dari Patung Soekarno yang tengah duduk sambil bertopang kaki, tumbuh pohon sukun berbatang lima. Pohon sukun sengaja ditanam di sana untuk menggantikan pohon sukun aslinya yang telah mati.

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

 

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun, terdapat lapangan luas beserta tribun penonton. Terkadang, lokasi ini digunakan untuk olahraga atau juga untuk kepentingan kampanye, seperti saat kunjungan ke sana. Beberapa puluh simpatisan pasangan Jokowi – Jusuf Kala tengah berkampanye di sana. Sayang desain lapangan dan tribunnya secara keseluruhan tidak menyatu, tidak menggambarkan kekhasan Kota Ende.

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

 

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Menyusur jejak Bung Karno tak berhenti di sana. Masih ada jejak peninggalan Soekarno lainnya di Kota Ende. Lokasinya tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Berupa rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Sebuah rumah sederhana tempat Bung Karno beserta istri dan mertuanya tinggal sewaktu di Ende. Rumahnya bercat putih dengan jendela dan pintu kayu warna kuning serta hiasan bergaris hijau. Rumahnya tidak terlalu besar dan halaman yang tidak terlalu luas. Namun secara keseluruhan, tampak asri dan masih menyisakan rimbunan pohon di samping rumah.

Sayang, beberapa kali ke sana, rumah tersebut tampak sepi, tidak ada penjaganya. Menurut keterangan penduduk di sekitar sana, penjaganya bila di bulan puasa seperti ini datangnya jam 10.00 atau setelah jam 17.00 sore nanti. Tapi sayangnya, tetap tidak ada, sehingga tidak bisa melihat kondisi di dalam rumah.

Soekarno meninggalkan Ende di tahun 1938. Paling tidak, telah 76 tahun berlalu dan jejak Soekarno masih dapat terekam di Kota Ende. Jejaknya masih terpelihara dengan baik. Semoga tetap terjaga. Rumah pengasingannya, pohon sukun, dan patung Bung Karno, mewarnai kekayaan sejarah Indonesia. Biarlah peninggalan tersebut sekaligus dapat menjadi objek wisata sejarah. Supaya generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh bangsa.

Mungkin tidak semua orang tahu bahwa, di sebuah kota kecil bernama Ende, nun jauh di Flores sana, telah tergores sebuah cerita sejarah, tentang cikal bakal Pancasila. Sebuah ideologi bangsa yang hingga saat ini wajib kita jaga bersama. Salam. (Del)

Jangan Biarkan Mangrove Bali Menghilang

Hamparan Mangrove di Bali

Hamparan Mangrove di Bali

Indonesia merupakan negara yang terletak di kepulauan tropis dengan jumlah pulau lebih dari 17.500 pulau dan garis pantai tidak kurang dari 18.000 km. Indonesia sangat ideal bagi ekosistem mangrove. Di Indonesia, hutan mangrove tersebar hampir di seluruh kepulauan. Sebagian besar terkonsentrasi di Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Sebagian lainnya tersebar di pulau-pulau lainnya, termasuk di Pulau Bali. Sayangnya, di beberapa wilayah, kondisi hutan mangrove semakin memprihatinkan. Di beberapa lokasi, areal hutan mangrove sudah banyak berkurang karena berbagai kepentingan. Misalnya, di Pulau Batam, areal mangrove semakin terdesak oleh permukiman. Di Manado pun demikian, mangrove seolah semakin terpinggirkan. Untuk itu, tidak ada salahnya kita berwisata sekaligus menengok hutan mangrove yang ada  di Bali. Jangan biarkan mangrove Bali menghilang.

Siang itu cuaca Bali cerah secerah-cerahnya. Langit membiru berpadu dengan gumpalan awan putih nan bersih. Sangat kontras dan berbeda jauh bila dibandingkan dengan langit Jakarta yang selalu didominasi warna abu karena ternoda polusi. Sesekali burung-burung melintas. Lengkap, baik burung hidup maupun burung besi.

Mata tertuju pada sepasang calon pengantin yang sedang menjalani sesi foto pra-wedding. Seperti halnya trend yang ada saat ini, pasangan calon pengantin selalu memburu lokasi-lokasi indah untuk berfoto dan menawarkan kenarsisan mereka untuk keperluan pajangan di undangan atau pajangan di lokasi pernikahan nantinya.

Terkadang pasangan yang akan mengarungi lembaran hidup barunya tersebut harus mengalah sebentar untuk memberikan kesempatan rombongan pelajar yang tengah berwisata lewat. Rona malu-malu masih terpancar pada wajah calon mempelai wanita. Cuaca terik tak mampu mengusir rasa bahagianya, bahkan seakan berusaha menyebarkannya ke sekitar. Sesekali, gaunnya yang putih menjuntai panjang perlu dibenahi dan dirapihkan. Yang lelaki tak henti menatap pasangannya dengan penuh cinta. Indahnya… Semoga menjadi pasangan yang langgeng. Begitulah sekelumit pemandangan yang terlihat di salah satu objek wisata mangrove di Pulau Bali.

Mungkin, wisatawan yang sering bolak-balik ke Bali tanpa bosan melalui Bandara Ngurah Rai tidak asing dengan rimbunan pohon mangrove di sepanjang tepi jalan Bypass Ngurah Rai. Gerombolan mangrove seakan menambah indah lanscape Bali.

Bypass Ngurah Rai merupakan jalan yang menghubungkan beberapa titik destinasi wisata, antara lain Kuta, Legian, Nusa Dua, Jimbaran, hingga Uluwatu. Suka tidak suka, kita harus melewati rimbunan mangrove di sepanjang jalan. Pertanyaannya, “Sudah pernahkah menjelajahi pepohonan mangrove Bali tersebut? Sudah pernahkah berkunjung ke Mangrove Information Center Bali?

Rimbunnya Mangrove Bali

Rimbunnya Mangrove Bali

Tunas mangrove yang baru tumbuh

Tunas mangrove yang baru tumbuh

Mungkin belum terlalu banyak yang telah blusukan ke sana. Bali memiliki banyak sekali alternatif objek wisata sehingga sangat wajar bila masih banyak yang belum tereksplor dengan baik. Sepenggal kawasan hutan mangrove yang dikenal dengan Pusat Informasi Mangrove tersebut seakan tenggelam dengan berjejalannya destinasi wisata di Selatan Bali. Namun, percayalah… Lokasi satu ini seakan oase di tengah hiruk pikuknya Bali. Kerimbunan dan hijaunya mangrove mampu memberikan nuansa lain, memberikan warna lain pada Bali. Sekedar untuk bersantai, sekaligus mengenal beragam jenis mangrove yang ada di Bali. Jenisnya sangat beragam, belajar sekaligus menemu kenalinya secara langsung. Melihat langsung bentuk dan wujud pohonnya.

Sebagian mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Sebagian mangrove di Hutan Mangrove Bali

Salah satu jenis mangrove di Hutan mangrove Bali

Salah satu jenis mangrove di Hutan mangrove Bali

Pelatihan menanam mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Pelatihan menanam mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Pusat Informasi Mangrove Bali memiliki luas sekitar 1300 hektar. Cocok sebagai tempat untuk memberikan pengenalan tentang informasi mangrove bagi anak-anak. Kawasan ini juga menyediakan paket pelatihan menanam bibit mangrove secara langsung. Akan ada pemandu yang cukup handal dan mengenal dengan baik jenis-jenis mangrove, juga manfaat yang dihasilkan oleh masing-masing mangrove. Setidaknya terdapat 18 spesies mangrove, mulai dari Sonneratia alba, Rhizophora Mucronata, Rhizopora Apiculata, Bruguiera Gymnorhiza, Xylocarpus Granatum, dan lainnya. Manfaatnya pun beragam, mulai dari untuk bahan pembuat tepung, sirup, alat kosmetik, hingga sabun.

Berjalan di atas titian kayu sepanjang mangrove

Berjalan di atas titian kayu sepanjang mangrove

Tak perlu khawatir, untuk menjelajahi kawasan hutan mangrove yang luas tersebut, kita dapat memulainya dengan meniti melalui jembatan titian kayu sepanjang lebih dari dua kilometer. Sayang sungguh sayang, di beberapa bagian, kondisinya ada yang rusak dan bolong. Perlu berhati-hati, jangan sampai terperosok ke dalamnya. Tapi secara keseluruhan, cukup memberikan pengalaman yang berbeda.

Perjalanan dengan menyusuri jembatan kayu tidak akan terasa karena sepanjang jalan akan diberikan penjelasan oleh pemandu dan suasana rimbun mangrove dan angin semilir yang bertiup sungguh menyejukkan.

DSC_0313

Menara Pandang dari Kayu

Di tengah perjalanan, kita akan menemukan menara yang terbuat dari kayu. Cobalah naik untuk menikmati pemandangan. Dari atas kita dapat melihat hutan mangrove secara keseluruhan. Kita pasti akan terlena dengan pemandangan hijau yang terhampar asri dan hembusan angin segar semilir yang menerpa. Sangat indah.

Hutan Mangrove Bali termasuk ke dalam area Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai yang berbatasan dengan Kabupaten Badung. Merupakan wujud kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan JICA (Japan International Coorperation Agency). Konsepnya untuk memberikan pemahaman kepada para pengunjung kawasan hutan mangrove agar lebih mengenal lingkungan, mencintainya, dan kemudian merealisasikannya dengan menjaga dan melestarikannya. Kawasan ini juga berfungsi sebagai penguat lingkungan, mencegah abrasi pantai.

Bali tidak semata memiliki pantai yang indah, budaya yang cantik, pura yang agung, gunung yang menjulang atau danau yang membentang luas. Tidak ada salahnya mencoba melakukan kunjungan yang berbeda dan tidak kalah mengasikkan. Melakukan penjelajahan di hutan mangrove Bali sekaligus belajar dan mendapatkan informasi tentang pentingnya pelestarian mangrove di Bali. Jangan biarkan mangrove Bali menghilang.

Jadi, tertarik untuk berkunjung…? Atau ikut pelatihan mangrove? Silakan. (Del)

 

Menelisik Makam Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Barat

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Empat kali sudah kaki ini menjejak Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur, namun masih banyak misteri, keindahan, serta keeksotisan Pulau Sumba yang belum terkuak dan terekplorasi dengan baik. Masih banyak destinasi yang belum terkunjungi dan masih banyak pula budaya yang belum tersingkap. Di setiap kunjungan, kekaguman senantiasa membuncah lalu mengerucut pada kesan eksotis yang tersemat.

Selain memiliki alam elok nan murni dan belum banyak terjamah tangan-tangan kotor, pemandangan padang rumput nan luas, pantai yang indah, hamparan lahan yang berbukit dan bergelombang, keistimewaan Pulau Sumba terletak pada kekayaan budaya yang tinggi. Sumba masih menyimpan gaya hidup dan adat istiadat yang tetap terpelihara hingga kini. Walau sudah mulai sedikit mengalami penyesuaian jaman, jejak asli kebudayaan yang masih murni tetap tampak dengan jelas. Salah satunya terekam dengan baik di Kampung Adat Pasunga, Kota Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah.

Untuk menjangkau Kota Waibakul sebagai Ibukota Kabupaten Sumba Tengah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 2 jam. Atau melalui Bandara Umbu Mehang Kunda di Kabupaten Sumba Timur, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 3 jam. Saat ini, armada Garuda Indonesia pun sudah memiliki penerbangan Jakarta – Bali – Tambolaka, atau dapat pula menggunakan pesawat Nam Air dan Lion Air dari Bali atau Kupang.

Masyarakat di Pulau Sumba memiliki satu kepercayaan yang sampai saat ini masih banyak dianut, yaitu Marapu. Marapu merupakan inti dari kebudayaan masyarakat Sumba dan sumber nilai yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Orang Sumba memegang teguh kepercayaan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak terpisahkan. Marapu dianggap sebagai media atau perantara yang dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta. Masyarakat Sumba memiliki keyakinan bahwa manusia harus memelihara hubungan yang baik dengan sesama manusia, hubungan antara manusia dengan alam, juga hubungan antara manusia dengan arwah-arwah yang telah meninggal. Manusia yang masih hidup harus memiliki hubungan dengan arwah leluhurnya bila tidak ingin mengalami penghukuman.

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kepercayaan untuk memelihara hubungan dengan arwah leluhur ini pula yang seakan memberi nafas pada permukiman mereka, seperti halnya di Kampung Adat Pasunga. Kampung Adat Pasunga seperti kampung adat lainnya di Pulau Sumba berbentuk cluster dengan lokasi pemakaman yang berada di bagian depan dan tengah permukiman. Memasuki kawasan Kampung Adat Pasunga, Desa Anakalang, kabupaten Sumba Tengah, kita seakan disambut oleh beberapa makam/kuburan yang diletakkan pada bagian depan dan tengah perkampungan. Makam leluhur seakan menjadi fokus dan pusat dari kawasan permukiman. Perhatian pertama pasti akan tertuju pada kuburan megalitik di bagian depan Kampung.

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Kampung Adat Pasunga masih dihuni hingga sekarang. Pada bagian depan kita akan menemukan batu kuburan megalitik terbesar di Pulau Sumba. Batu kuburan megalitik tersebut masih tetap utuh terjaga. Terdapat sekitar 30 rumah yang ada di sana. Rumahnya memiliki bentuk khas Sumba dengan atap yang menjulang tinggi. Dinding terbuat dari kayu dengan atap dari seng. Bentuk rumahnya nyaris serupa dan seragam. Pada bagian tengah kampung terdapat lahan yang dikelilingi oleh kuburan tempat para warga berkumpul atau mengadakan upacara keagamaan.

Suasana Kampung Adat Pasunga siang itu cukup sepi. Hanya terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Para penghuninya kebanyakan tengah pergi bekerja atau sekedar mengurus ternaknya.

Untuk menghidari kesulitan dengan penerimaan penduduk kampung adat yang mungkin saja tersinggung dengan kedatangan kita atau wisatawan, pengantar kami yang kebetulan merupakan penduduk Sumba Tengah menyarankan agar memberikan sumbangan uang dan mencatat nama pada buku tamu. Semua dilakukan agar dapat dengan leluasa memasuki perkampungan mereka atau sekedar mengambil foto.

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasonga

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasunga

Ada hal yang menarik. Walau mereka masih tetap menjaga teguh tradisi dan budaya yang mereka miliki, sentuhan modernisasi sudah mulai nampak. Terlihat beberapa rumah telah memasang parabola. Semua semata agar warga di sana dapat menikmati siaran televisi.

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga penganut Kristen  dengan bentuk khas Sumba

Kuburan warga penganut Kristen dengan bentuk khas Sumba

Pada bagian belakang kampung adat, terdapat pula kuburan dengan bentuk yang sama namun terbuat dari bahan yang lebih modern. Terlihat bahwa yang terkubur di sana bukan penganut Marapu, namun telah menjadi penganut Kristen.

Itulah Sumba. Pulau yang sarat dengan budaya dan mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan perubahan jaman. Tradisi leluhur yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya sudah mulai dipengaruhi oleh gaya hidup dan budaya yang berasal dari luar kehidupan mereka. Generasi muda Sumba mungkin ada yang telah memiliki cara pandang baru dan berbeda dengan tradisi serta ajaran leluhur mereka. Namun, tetap menyimpan hormat dan menyimpan erat nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupannya. Semoga budaya mereka tetap terjaga di tengah gempuran budaya luar.  Salam. (Del)