Mengkhayalkan Menteri Ferry Mursyidan Baldan Bisa Segarang Menteri Susi Pudjiastuti

Kemarin di kantor, salah satu rekan kerja berujar, “Kayaknya Jokowi banyak salah pilih Menteri deh! Dari sekian banyak Menteri, yang baru terasa gebrakannya cuman Menteri Susi doang! Yang lainnya pada ke mana…? Pada tidur kali ya….”. Hehehe… mungkin terasa agak lebay, namun ada benarnya juga. Tanpa mengecilkan arti peran dan sumbangsih yang telah dilakukan oleh Menteri-Menteri lainnya, patut diakui, Menteri Susi paling menonjol di antara Menteri lainnya. Gebrakannya langsung menggigit, membuatnya melejit, walau jangan sampai kejedot langit. Harus tetap membumi. Upaya yang dilakukannya harus tetap konsisten, demi menjaga sumberdaya kelautan pertiwi.

Menteri Susi telah berhasil membalikkan kondisi media dan sebagian besar masyarakat yang awalnya meragukan kemampuannya dan mencibir latar belakang pendidikannya. Pak JK sendiri berkomentar bahwa yang paling populer saat ini Menteri lulusan SMP, mengalahkan Menteri yang PHD. JK memuji Menteri Susi telah berhasil melakukan revolusi mental dan memiliki semangat yang patut ditiru.

Menteri Susi telah menegakkan aturan di laut dan secara tidak langsung menegakkan kedaulatan Negeri. Menangkal illegal fishing yang sebelumnya “semua tahu namun tidak bisa / tidak mau / tidak mampu berbuat apa-apa”. Menteri Susi tidak berjalan sendiri, beliau juga melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak lainnya yang terkait. Tak kurang pihak TNI, Polri, Kejaksaan, media, dan pihak-pihak lain diajaknya untuk bergandengan tangan, secara bersama memberantas para penjarah sumber daya laut Indonesia.

Di laut, kita boleh berlega hati karena memiliki Menteri Susi yang mau dan mampu menegakkan aturan. Bagaimana dengan di darat? Hati kecil saya sebagai Warga Negara biasa sungguh berharap banyak agar Menteri lainnya pun bisa segarang dan setegas Menteri Susi. Sekedar untuk ngomporin Menteri lainnya, “Masa kalah sama Menteri perempuan dan hanya lulusan SMP pula?”.

Semua orang pasti mengakui, Indonesia adalah Negeri yang kaya dengan sumber daya alam. Negeri yang gemah ripah loh jinawi. Namun sayang seribu sayang, banyak ketidakbijaksanaan dalam pemanfaatan ruangnya. Bahkan sebagian karena keserakahan manusia di dalamnya. Banyak pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Memori kita masih dapat mengingat dengan jelas bencana longsor yang terjadi di Banjarnegara. Peristiwa tanah longsor di Banjarnegara bukan kali ini saja terjadi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPP) merilis, Dusun Jemblung di Banjarnegara merupakan salah satu wilayah yang berpotensi longsor. Kemiringan lereng Bukit Telogolele cukup curam, lebih dari 60 persen. Meski kemiringan tinggi, tidak ada terasering di bukit tersebut. Warga dibiarkan menanam palawija pada lereng-lereng bukit. Kerapatan tanaman yang rendah tidak mampu menahan aliran air. Warga pun dibiarkan mendiami wilayah-wilayah di bawah lereng yang sangat rawan. Seharusnya, dengan penataan ruang yang baik dan penegakan aturan tata ruang yang tegas, hal ini bukan mustahil dapat dihindari.

Ingatan kita juga masih belum luntur untuk mengenang peristiwa banjir Manado pada awal tahun 2014. Banjir bandang Manado disebabkan oleh hilangnya hutan dan sungai-sungai kecil di sekitar Manado, serta rusaknya daerah resapan air. Pembangunan kota yang sangat masif tanpa mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung lahan menyebabkan sejumlah sungai di Manado tidak mampu menahan tingginya debit air hujan. Bencana banjir di Manado tersebut juga merupakan bukti lemahnya penataan ruang dan penegakan aturan tata ruang di Manado. Semakin tingginya frekuensi bencana yang terjadi dan menurunnya daya dukung lingkungan merupakan salah satu akibat dilanggarnya rencana tata ruang.

Longsor dan banjir yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia tidak lepas dari ulah manusia penghuninya. Kerusakan ekologi yang terjadi di berbagai belahan Indonesia salah satunya akibat lemahnya penegakan aturan terkait penataan ruang. Perizinan sering dikeluarkan pada lokasi-lokasi yang sebenarnya tidak layak. Misalnya, izin mendirikan bangunan sering dikeluarkan pada lokasi-lokasi yang tidak layak untuk ditinggali, rawan bencana. Atau banyaknya permukiman liar di daerah hulu dengan tingkat kemiringan tinggi sehingga akibatnya sudah jelas. Bencana pasti akan hadir.

Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam pasal 61 secara jelas dan tegas mengatur bahwa dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Tengoklah sekitar kita. Berapa banyak rencana tata ruang yang telah ditetapkan? Berapa banyak yang telah diimplementasikan dan ditegakkan aturannya? Berapa banyak pelanggaran yang telah terjadi? Berapa banyak bencana yang terjadi karena tidak ditegakkannya aturan tata ruang? Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah sejatinya dapat diterapkan dan ditegakkan aturannya. Jangan hanya jadi pajangan di Kantor-kantor Gubernur/Bupati/Walikotanya atau di kantor-kantor Bappedanya. Aturan mainnya harus ditegakkan secara tegas. Jangan mau kalah dengan ulah para perambah hutan, penyerobot lahan, atau para oknum pemberi izin yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Ini harus segera dilakukan bila Indonesia tidak ingin terpuruk ke dalam berbagai bencana yang seharusnya bisa dihindari.

Jokowi telah memilih dan menetapkan Ferry Mursyidan Baldan selaku punggawa yang memimpin Kementerian yang mengawal Tata Ruang. Walau agak sedikit mengherankan, “Mengapa Kementerian Agraria dan Tata Ruang? Mengapa tidak Menteri Tata Ruang saja? Toh Agraria merupakan salah satu yang dapat diatur dalam tata ruang? Mengapa tokoh utamanya adalah agraria?” Sudahlah… yang penting, tetap ada Menteri yang mengurusi tata ruang. Semoga, Menteri Ferry tidak hanya mengurusi keagrariaan saja.

Sepak terjang Ferry Mursyidan Baldan gaungnya memang belum segarang Menteri Susi, bahkan nyaris samar-samar. Menteri Ferry memiliki kewenangan untuk menegakkan aturan terkait penataan ruang dan itu dapat dimulai dengan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penegakan aturan terhadap para pelanggar pemanfaatan ruang. Menteri Ferry diharapkan dapat segarang dan setegas Menteri Susi dalam menindak para pelanggar tata ruang. Upaya pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang terkait pelanggaran pemanfaatan ruang dapat dilakukan dimulai dengan optimalisasi peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang.

Berdasarkan Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, selain pejabat penyidik kepolisian Negara RI, pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang memiliki lingkup tugas dan tanggung jawab di bidang penataan ruang diberi wewenang membantu pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Inilah waktunya bagi Menteri Ferry untuk menunjukkan taringnya. Sekedar menghangatkan kompor, “Inilah waktunya bagi Menteri Ferry untuk membuktikan pula bahwa Menteri dari parpol juga bisa! Menteri Ferry juga tidak kalah dengan Menteri Susi! Tindak tegas para pelanggar tata ruang!”. Buktikan bahwa nantinya, setiap warga masyarakat akan berpikir seribu kali untuk melakukan pelanggaran tata ruang. Buktikan! Salam. (Del)

Idris, Sosok Kepala Desa Bone-Bone di Kabupaten Enrekang yang Mendunia

Perawakannya kecil, cenderung kurus, dengan warna kulit kecoklatan tanda seringnya terbakar mentari. Tingginya tidak lebih dari 165 cm. Rambut dibiarkan tak tersisir rapi. Kumis dan janggut tipis seakan menempel seadanya. Mungkin juga karena tidak sempat dicukur. Beliau memiliki gaya bicara cukup lugas walau terkadang rentetan kalimatnya sulit untuk dipahami secara langsung. Sesekali logat bicara khas orang Bugis muncul ke permukaan. Sering kita harus menajamkan telinga, untuk menyimak dengan baik maksud kalimatnya. Ada satu kata yang dapat menggambarkan tampilannya secara keseluruhan. Sederhana. Kesederhanaan yang sangat bersahaja. Namun dibalik kesederhanaannya, terdapat kekuatan, tekad, dan kemampuan yang luar biasa.

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Itulah sekilas gambaran umum sosok Pak Idris, seorang mantan Kepala Desa Bone-Bone, sebuah desa yang terletak nun jauh di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau saat ini dapat dikatakan “mantan Kepala Desa”, karena sejak Bulan April 2014, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Desa. Beliau mengundurkan diri karena merasa tertantang untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Enrekang dan ternyata situasi politik tidak terlalu berpihak padanya. Beliau gagal meraih kursi DPRD namun hingga saat ini tetap diakui sebagai salah satu tokoh masyarakat di Desa Bone-Bone. Salah satu tokoh yang tetap menjadi motor penggerak inovasi bagi pembangunan di desanya. Skalanya memang masih lokal, namun gaungnya sudah mendunia. Layak untuk menjadi inspirasi bagi belahan dunia lainnya.
Lalu pertanyaannya, “Apa yang menyebabkan namanya mendunia?”, “Kiprah apa yang beliau lakukan sehingga menjadikannya seperti selebriti yang diundang ke sana ke mari?”, “Apa hebatnya Pak Idris?”. Sudahlah…. Simak saja terus tulisannya….
Pak Idris hanya seorang Kepala Desa, bahkan sekarang hanya seorang mantan Kepala Desa dari sebuah desa kecil yang terletak di lokasi yang belum tentu semua mengenalnya, belum tentu semua pernah ke sana. Desa Bone-Bone, merupakan sebuah desa pegunungan yang dapat dijangkau sekitar 250 km atau 7 jam perjalanan darat dari Kota Makassar ke arah Utara. Dari desa inilah Pak Idris mewujudkan mimpi-mimpinya. Mimpi untuk mengantarkan desanya menuju ke arah yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih ramah pada lingkungan. Yang dibutuhkannya bukan segala macam teori yang njelimet. Beliau cukup menerapkan aturan yang telah disepakati dan dituangkan dalam Peraturan Desanya. Yang terpenting, berani menegakkan aturannya serta berani menerapkan sanksinya.

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber foto: http://www.mugniar.com/2013/

Desa Bebas Asap Rokok

Mimpinya yang pertama adalah menjadikan desanya sebagai desa yang bebas asap rokok. Sebuah mimpi dan gagasan sederhana yang ternyata dalam mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesungguhan dan ketegasan dalam menegakkan aturan. Aturan tidak hanya diterapkan bagi penduduk desanya, tapi juga berlaku bagi para tamu pendatang. Walau terkesan sederhana, untuk menegakkannya dibutuhkan keberanian dan ketegasan. Hasilnya patut diacungi jempol. Desa Bone-Bone diakui menjadi desa pertama di dunia yang bebas asap rokok. Di Desa Bone-Bone, tidak hanya berlaku larangan merokok, tapi juga larangan untuk menyimpan dan menjual rokok. Jika aturan tersebut dilanggar, sanksinya tidak main-main. Sanksi denda uang serta sanksi kerja sosial membersihkan mesjid atau sarana umum lainnya harus dijalani para pelakunya.
Pak Idris telah memulai kampanye anti rokok di desanya saat beliau menjadi Kepala Dusun, sekitar tahun 2001. Semua bermula dari keprihatinannya terhadap warga desanya yang banyak terkena sakit paru-paru serta keprihatinannya terhadap kaum muda dan anak-anak yang mulai terbiasa merokok. Selain itu, beliau juga merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa sebagian masyarakat di desanya mampu untuk membeli rokok namun tidak mampu menyekolahkan dan membeli buku untuk anak-anaknya.
Upaya untuk mewujudkan mimpinya tidak berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan yang menghadang. Namun, Bapak delapan orang anak lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Makassar ini tidak patah arang. Pola pendekatan persuasif terus ia jalankan. Pak Idris berupaya mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan tetua desa untuk menjelaskan bahaya merokok bagi kesehatan. Selain itu beliau juga berhasil mengubah budaya masyarakat desanya untuk tidak membiasakan menyediakan rokok sebagai suguhan kepada tamu atau pada setiap undangan hajatan. Akhirnya, upaya Pak Idris membuahkan hasil. Sekitar tahun 2005, desanya berhasil terbebas dari asap rokok.
Aturan Lainnya
Dalam perjalanannya, tidak hanya penerapan bebas asap rokok saja yang dilakukan. Desa Bone-Bone menerapkan pula aturan pelarangan membawa/memasukkan/memakan makanan yang mengandung bahan pengawet dan zat pewarna di wilayah desanya. Bagi yang melanggarnya, akan dikenakan sanksi, mulai dari memasakkan bubur kacang hijau untuk dibagikan kepada anak-anak, hingga sanksi denda berupa uang.
Diterapkan pula larangan membawa ayam ras atau ayam negeri ke dalam wilayah desa. Di wilayah Desa Bone-Bone hanya diijinkan untuk membawa/memelihara ayam kampung. Desa Bone-Bone sekarang menjelma menjadi Desa Hijau, atau desa yang telah menerapkan prinsip-prinsip yang sehat dan ramah terhadap lingkungan.
Ada satu aturan unik yang juga diterapkan dalam Peraturan Desa Bone-Bone, yaitu kewajiban bagi setiap calon pengantin untuk menanam lima hingga 10 batang pohon untuk mendapatkan surat pengantar ijin menikah dari desa.
Pengakuan untuk Bone-Bone
Pengakuan terhadap Desa Bone-Bone sebagai desa bebas asap rokok pertama di Indonesia dan di Dunia, serta sebagai Desa Hijau yang telah menerapkan prinsip-prinsip desa yang sehat dan ramah terhadap lingkungan datang dari berbagai pihak. Desa Bone-Bone mendadak dikenal oleh dunia luar dan banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Desa kecil yang memang memiliki pemandangan alam yang indah ini sudah mulai dikenal dunia luar.
Pak Idris, sang pembawa perubahan pun seakan mendadak menjadi selebriti, diundang ke sana ke mari. Sosok sederhana ini laris diundang baik sebagai narasumber maupun sekedar berbagi kisah suksesnya di hadapan berbagai kalangan. Penghargaan berupa PIN Emas dari Menteri Kesehatan RI telah beliau terima. Tak ketinggalan, Desa Bone-Bone pun terpilih sebagai juara lomba desa tingkat Nasional tahun 2012. Pak Idris semakin laku diundang. Beragam acara TV seakan berlomba untuk mendapuk Pak Idris sebagai bintang tamunya, seperti pada acara Mata Najwa, Kick Andy, Liputan 6, Jejak Petualang, maupun beberapa acara TV lainnya. Bahkan undangan untuk menjadi narasumber di luar negeri pun telah beliau lakoni. Tak kurang dari Pemerintah China telah mengundangnya untuk berbagi pengalaman. Kebetulan baru-baru ini saya berkesempatan untuk bertemu dan memandu beliau selaku narasumber pada salah satu forum untuk berbagi pengalaman dalam menegakkan aturan di desanya.

Bersama Pak Idris

Bersama Pak Idris

Apapun bentuk pengakuan untuk Desa Bone-Bone dirasa sangat pantas. Desa Bone-Bone merupakan salah satu contoh desa yang dapat menjadi kebanggaan Indonesia dan dapat memberikan inspirasi bagi desa-desa lainnya. Setidaknya, telah ada dua desa yang juga menerapkan aturan bebas rokok seperti Desa Bone-Bone.
Kiprah Pak Idris tidak berhenti di sana. Saat ini, beliau tengah giat mempromosikan produk unggulan desanya, yaitu kopi Enrekang. Ternyata, Kopi Toraja yang sudah mendunia itu sebagian besar merupakan hasil produksi dari Kabupaten Enrekang. Desa Bone-Bone yang memiliki luas sekitar 800 Ha didominasi dengan tanaman kopi dengan kualitas tinggi.
Satu hal yang dapat dipetik dari kisah Pak Idris. Teringat kata-kata bijak yang mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi matahari untuk dapat menyinari dunia. Cukup jadilah lilin kecil yang mampu menyinari lingkungan sekitar kita sebagai tahap awal”. Tak perlu memiliki kekuatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mulailah dari hal yang kecil dengan lingkup yang kecil. Niscaya, jika dilakukan secara konsisten dan bertahap, hasilnya akan luar biasa. Selamat malam. Salam. (Del)

Akhirnya Chairul Tanjung Menerima Juga Tawaran SBY

Chairul Tanjung, Menko Perekonomian

Chairul Tanjung, Menko Perekonomian

Belakangan, menjelang pesta pemilihan Presiden, bising terdengar gaung “Koalisi Tanpa Syarat” atau Kerjasama Tanpa Syarat”. Para politisi dan jajaran elit politik, seakan berlomba untuk mengedepankan pelajaran demokrasi pada khalayak masyarakat tentang etika berpolitik tanpa transaksi. Benarkah? Seriuskah? Atau hanya lip service?

Rasanya gaung kasak kusuk transaksional masih terdengar. Prasyarat koalisi masih tetap memiliki embel-embel. Bahkan secara terang-terangan, ada partai politik yang mengajukan beberapa nama untuk calon wakil presiden maupun calon menteri. Walau tetap dibalut dengan kata-kata, “hanya usulan, semua terserah Calon Presiden dan partai pengusungnya”

Mari kita lupakan sejenak hiruk pikuk pemilihan presiden dan politik transaksional terselubung di dalamnya. Prabowo telah menjatuhkan pilihannya pada Hatta Rajasa dan Hatta pun telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Kita tengok pengganti Hatta Rajasa, Chairul Tanjung (CT).

Presiden SBY telah resmi mengangkat Chairul Tanjung sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Serah terima jabatan pun telah resmi dilaksanakan Senin, 19 Mei 2014. Mungkin sudah banyak yang mengenal sosok Chairul Tanjung. Beliau merupakan pemilik CT Corp yang menguasai berbagai lini bisnis terutama tiga perusahaan sub holding: Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources mulai dari layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, hiburan, hingga sumber daya alam.

Yang menarik adalah fakta bahwa Chairul Tanjung tidak memiliki perilaku seperti sebagian elit lainnya yang berlomba masuk ke dalam jajaran menteri. Bahkan Chairul Tanjung sempat dua kali menolak tawaran SBY untuk menjadi menteri.

Pada saat peluncuran otobiografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong, 30/6/2012, SBY sempat mengungkapkan telah dua kali menawarkan posisi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu dan keduanya ditolak oleh Chairul Tanjung. SBY telah menawarkan posisi menteri pada tahun 2004 maupun tahun 2009. Jawabannya sama, ditolak. SBY sangat menghormati dan menerima sikap Bos CT Corp yang mengungkapkan alasannya, “Kalau saya masuk di eksekutif, nanti takut ada conlict of interest”. Akhirnya Chairul Tanjung menerima tawaran untuk menempati posisi ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), sebuah komite mitra pemerintah di luar lingkup eksekutif.

Pertanyaannya tentu, “Mengapa sekarang Chairul Tanjung menerima tawaran sebagai Menko Perekonomian yang hanya tinggal lima bulan saja?”. Alasannya, tawaran tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan hanya lima bulan. Katanya, “Cuma lima bulan, habis itu saya gak mau lagi jadi menteri”.  Pengalaman dalam KEN turut mewarnai.

Chairul Tanjung murni orang swasta, yang tidak terbiasa dengan segala tetek bengek prosedur birokrasi, menyukai hal yang praktis dan terlihat pintas. Beliau tidak berkeberatan mengeluarkan uang pribadi untuk tugas yang kini diembannya. Chairul Tanjung masih ingin diijinkan untuk tetap menggunakan pesawat dan mobil pribadinya dalam menjalankan tugasnya. Tentunya dengan biaya pribadi.

Chairul Tanjung sudah mulai bergerak dan menggebrak. Beliau berkehendak pembangunan gedung Kementerian dan pembelian kendaraan dinas dihapus. Persiapan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mulai dilirik dan menjadi perhatian. Chairul Tanjung akan undang Freport dan Newmont terkait soal renegosiasi kontrak karya. Beliau berharap, dalam 5 bulan ke depan, masalah renegosiasi tambang dapat diselesaikan.

Harapan sudah ditumpukan pada pundaknya. Para menteri di bawah lingkup koordinasinya langsung dikumpulkan dan segera digelar rapat koordinasi. Chairul Tanjung sudah melontarkan janji untuk mengakselerasi penyelesaian segala permasalahan dan hambatan di tataran kebijakan antarmenteri ekonomi saat ini. Beliau memiliki impian dan ambisi untuk merancang fondasi ekonomi yang kuat bagi pemerintahan selanjutnya. Cita-cita mulia. Bisakah terwujud dalam jangka waktu lima bulan? Semoga terwujud. Kita tunggu. Indonesia sangat membutuhkan orang-orang dengan integritas tinggi dan bakti murni pada negeri.  (Del)

 

Sumber :

Chairul Tanjung Tolak Jadi Menteri di Pemerintah Mendatang

CT akan Undang Freeport dan Newmont Soal Renegosiasi Kontrak

Chairul Tanjung 2 kali Tolak Tawaran SBY Jadi Menteri Bidang Ekonomi

Sri Mulyani dan Kartini yang Terbuang

Sri Mulyani Indrawati . Sumber : http://tokohtokoh.com/wp-content/uploads/2012/12/sri_mulyani_indrawati.jpg

Sri Mulyani Indrawati . Sumber : http://tokohtokoh.com/

Masih ingat dengan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati? Dua hari belakangan ini,  namanya mencuat kembali setelah Jokowi mengakui bahwa Sri Mulyani pun ikut dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden. Saya rasa, Sri Mulyani memang layak untuk dipertimbangkan. Dia juga memiliki keunggulan.

Sri Mulyani memiliki tiga kartu As yang menjadikannya lebih unggul dibandingkan dengan yang lainnya. Apa itu? Jawaban yang sama akan dihasilkan jika ada yang bertanya, “Coba sebutkan 3 kata yang dapat menggambarkan Sri Mulyani?”. Sri Mulyani memiliki 3 kartu As, yaitu cerdAs, lugAs, dan tegAs. Tiga kata itu pula yang dapat menggambarkan sosok Sri Mulyani.

Memang Indonesia ini sedikit aneh. Sungguh sangat disayangkan. Seorang Sri Mulyani yang jelas-jelas memiliki potensi yang besar, memiliki kapasitas yang mumpuni, memiliki integritas yang tinggi, berani, lurus, dan punya niat yang tulus untuk membangun negeri, justru dilepaskan, dibiarkan, dan direlakan mengabdi pada World Bank. Indonesia masih membutuhkan Sri Mulyani.

Sri Mulyani tidak hanya lugas dan tegas, tapi dia juga berani. Beliau berani mencopot posisi Hadi Poernomo sebagai Dirjen Pajak. Hadi Poernomo menduduki jabatan Dirjen Pajak di era tiga presiden, yaitu Gus Dur, Megawati, dan SBY, serta di era Menteri Keuangan Prijadi, Rizal Ramli, Boediono, dan Jusuf Anwar. Ternyata, terbukti, sekarang Hadi Poernomo harus berurusan dengan KPK atas kasusnya sewaktu beliau menjabat sebagai Dirjen Pajak.

Masih teringat kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Sri Mulyani ketika memberikan kuliah umum yang diadakan oleh Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dengan tema “Kebijakan Publik dan Etika Publik” pada 18 Mei 2010 sekaligus pamitannya sebelum bergabung dengan World Bank. Rekaman kuliah umum itu masih bisa dilihat di Youtube dan menurut hemat saya, sangat “bernas”. “Jangan pernah putus asa mencintai Republik. Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita dan bahkan menjaga etika kita dalam bertindak dan berbuat serta membuat keputusan”.

Dengan membuat keputusan untuk bergabung dengan World Bank, tentunya banyak yang bertanya-tanya, “Apakah Sri Mulyani kalah? Apakah Sri Mulyani lari?”. Tentu banyak pula yang menyesalkan keputusannya. Namun, Sri Mulyani dengan tegas mengatakan, “Saya menang. Saya berhasil karena kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak di sini. Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka di situ saya menang”.

Kata-katanya sungguh sangat lugas dan bernas. Membuat haru biru dan terkagum. Seorang Sri Mulyani yang telah berusaha untuk menegakkan integritasnya dan berupaya meneguhkan prinsipnya, justru harus direlakan untuk pergi. Seorang Sri Mulyani yang telah begitu gigih bekerja untuk negeri dan telah mencoba tegak dari terpaan badai politik justru tidak dirangkul dan dipanggil pulang. Sudah waktunya Sri Mulyani kembali karena Indonesia masih membutuhkan sosok-sosok seperti Sri Mulyani.

Indonesia telah menyia-nyiakan seorang Sri Mulyani, sosok Kartini masa kini yang cerdas, lugas, dan tegas. Sosok yang layak untuk memimpin dan menyumbangkan pemikiran serta kerja nyatanya untuk negeri. Sri Mulyani, sosok Kartini yang terbuang, yang seharusnya diraih untuk pulang. (Del)

 

Jokowi Masuk dalam 50 Pemimpin Terbesar Dunia

 Gambar

Jokowi, peringkat 37 di antara 50 pemimpin terbesar dunia versi majalah Fortune.
Sumber : http://money.cnn.com/

Ada kabar yang cukup menggembirakan. Joko Widodo (Jokowi) terselip di antara deretan 50 nama-nama pemimpin terbesar dunia (The World’s 50 Greatest Leaders) versi Majalah Fortune. Majalah Fortune merupakan sebuah majalah bisnis global yang diterbitkan oleh Fortune Money Group milik Time Inc. Majalah ini terbit dwi mingguan dan dikenal sebagai majalah yang setiap tahunnya menerbitkan peringkat perusahaan menurut labanya. Di Indonesia, Majalah Fortune terbit di bawah naungan PT. Kompas Gramedia.

Jokowi berada di peringkat 37 di antara nama-nama besar dunia. Merupakan satu-satunya pemimpin Indonesia yang masuk dalam deretan tersebut. Walau tetap patut diakui, seluruh lembaga, majalah, organisasi, institusi atau apapun itu, berhak mengeluarkan peringkat dan penghargaan kepada siapapun berdasarkan kriteria yang mereka tetapkan sendiri. Semua memiliki pandangan dan ketetapannya sendiri berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Apapun itu, tetap patut diapresiasi.  Bahkan dalam pengantarnya, situs www.money.cnn.com mengungkapkan bahwa di era yang seakan lapar akan kepemimpinan, kita menemukan sosok-sosok laki-laki dan perempuan yang akan menginspirasi. Beberapa di antaranya terkenal, yang lain sedikit dikenal, semuanya memberikan energi kepada para pengikutnya dan membuat dunia lebih baik. Itu yang paling penting. Mereka dipandang dapat memberikan energi kepada yang lainnya dan membuat dunia lebih baik.

Pope Francis sebagai pemimpin umat Katholik sedunia berada di peringkat pertama pemimpin hebat dunia. Beliau adalah orang Amerika Latin keturunan Italia pertama yang terpilih sebagai Paus. Sosok Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok sederhana bahkan cenderung konservatif dan memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

Menyusul di peringkat kedua ada Angela Merkel (Kanselir Jerman). Angela Merkel dipandang sebagai pemimpin sukses di dunia saat ini. Merkel telah menjabat sebagai kanselir hampir 9 tahun. Dua peringkat selanjutnya diraih oleh CEO, yaitu CEO Ford Motor Co., Alan Mulally dan CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet. Warren Buffet memiliki julukan “Oracle of Omaha”, orang bijak dari Omaha.

Di peringkat ke 5, bertengger Bill Clinton mantan presiden Amerika Serikat. Majalah Fortune edisi 7 April 2014 mengangkat Bill Clinton dalam cover story nya.

Terdapat beberapa nama lainnya yang rasanya menimbulkan pertanyaan, “Kok bisa dia masuk juga?”. Tak apalah, sekali lagi, setiap lembaga atau apapun itu, berhak untuk menentukan dan menetapkan kriterianya sendiri. Tidak sepaham? Boleh kok mengeluarkan peringkat sendiri.

Berikut peringkat dalam list The World’s  50 Greatest Leaders versi Majalah Fortune:

  1. Pope Francis (pemimpin umat Katholik dunia)
  2. Angela Merkel (Kanselir Jerman)
  3. Alan Mulally (CEO Ford Motor)
  4. Warren Buffet (CEO Berkshire Hathaway)
  5. Bill Clinton (mantan Presiden AS)
  6. Aung San Suu Kyi (tokoh demokrasi Myanmar)
  7. Gen. Joe Dunford (jenderal bintang 4, pemimpin tentara AS di Afghanistan)
  8. Bono (penyanyi group U2)
  9. Dalai Lama (pemimpin spiritual Tibet)
  10. Jett Bezos (CEO amazon.com)
  11. Derek Jeter (kapten New York Yankees)
  12. Geoffrey Canada (CEO Harlem Children’s Zone)
  13. Christine Lagarde (Managing Director IMF)
  14. Paul Polman (CEO Unilever)
  15. Michael Bloomberg (Pemilik mayoritas Bloomberg)
  16. Jack Ma (executive chairman, Alibaba Group)
  17. Maria Klawe (President Harvey Mudd College)
  18. Ken Chenault (CEO American Express)
  19. Kathy Giusti (CEO Multiple Myeloma Research Foundation)
  20. Tie: Mike Krzyzewski, Gregg Popovich, Dawn Staley (para pelatih di tim basket)
  21. Angelina Jolie (Aktris, humanitarian)

29. Howard Schultz (CEO Starbucks)

31. Ellen Kullman (CEO DuPont)

33. Tim Cook (CEO Apple)

37. Joko Widodo (Gubernur Jakarta)

42. Susan Wojcicki ( CEO Youtube)

48. Lakshmi Mittal (CEO ArcelorMittal)

50. Jed Rakoff (US. District Court Judge)

Peringkat 50 besar pemimpin terbesar di atas memang didominasi oleh para CEO dari perusahaan-perusahaan top dunia. Dalam keterangannya, Jokowi merupakan tokoh yang pada tahun 2005 adalah seorang eksportir furnitur yang kemudian menjadi walikota Solo, sebuah kota di Indonesia yang dihuni oleh 500.000 orang. Popularitasnya terus menanjak semenjak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Jokowi dipandang dapat menata kota serta menarik akar korupsi dan sekarang difavoritkan dalam pemilihan presiden Juli 2014 mendatang. Selamat pagi. Salam. (Del)

Mata Najwa: Menatap yang Menata Bantaeng

Gambar

Pilihan topik yang diangkat dalam acara Mata Najwa tadi malam (12/03/2014) sangat menarik. Mata Najwa berusaha menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki pemimpin-pemimpin yang bekerja dengan hati, bekerja dengan segenap kemampuan demi kemajuan wilayahnya. Kita masih memiliki harapan di tangan para pemimpin yang mau mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kabupaten/kotanya. Berupaya membuka wawasan masyarakat bahwa di negeri ini, pemimpin yang baik tidak hanya Jokowi, Ahok, atau Tri Rismaharini saja, yang kebetulan namanya sudah mulai merambah level Nasional. Masih banyak pemimpin lainnya, yang belum dikenal secara luas, namun prestasinya tidak perlu diragukan lagi.

Salah satu pemimpin yang ditampilkan dalam acara Mata Najwa kali ini adalah Bupati Bantaeng, Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Saat ini Nurdin Abdullah tengah menjalankan masa bakti keduanya sebagai Bupati. Beliau mulai menjabat sebagai Bupati Bantaeng sejak tahun 2008. Pada Pilkada April 2013 yang lalu meraih 82,71 % suara di antara calon lainnya. Menang secara mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin Bantaeng.  Nurdin Abdullah layak mendapatkan apresiasi atas kiprahnya dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Kebetulan, tahun yang lalu saya pun sempat menulis artikel tentang Bantaeng dan Nurdin Abdullah dengan judul Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan.

Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Kalau kita berkunjung ke Kota Bantaeng, kita akan menemukan sebuah kota yang bersih dan tertata apik. Jalanannya cukup mulus, tidak ada lubang menganga yang dapat menghambat perjalanan. Sangat sulit untuk menemukan onggokan sampah di sana. Bahkan saking bersihnya, kita seakan terbawa suasana, akan merasa malu untuk mengotori jalanan, merasa sungkan untuk membuang sampah sembarangan.

Banyak kiprah yang telah Nurdin Abdullah lakukan untuk Bantaeng. Awalnya beliau memiliki keengganan untuk memimpin Bantaeng. Desakan masyarakatlah yang meluluhkan hatinya untuk menata kotanya. Sebelum mengemban amanah sebagai Bupati, beliau adalah seorang akademisi dan pengusaha yang sempat memimpin 4 perusahaan Jepang. Tidak mudah baginya untuk melepaskan seluruh kemapanan yang dia miliki untuk memulai menata sebuah kabupaten kecil dengan luas yang hanya 0,63 % dari total luas Provinsi Sulawesi Selatan. Ada satu yang menarik dari perkataannya, “Jika ingin disenangi masyarakat, buatlah baliho di hati masyarakat”.

Banyak tantangan yang menghadang pada masa-masa awal kepemimpinannya. Nurdin Abdullah langsung dihadapkan pada masalah banjir yang setiap tahun kerap melanda Bantaeng. Di tengah hadangan para lawan politiknya, beliau teguh menjalankan pembangunan cekdam. Hasilnya sangat nyata. Bantaeng bebas dari bencana banjir di musim hujan, sekaligus bebas dari bencana kekeringan di musim kemarau. Sektor pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten Bantaeng pun aman dari kekeringan.

Pelayanan kesehatan menjadi garapan selanjutnya. Beliau mengusung Brigade Siaga Bencana lengkap dengan layanan call center nya. Pasukan kesehatan tersebut menerapkan moto “Siap melayani anda di rumah”. Bahkan rumah sakit 8 lantai nanti akan siap melayani. Warga Bantaeng nantinya tidak perlu lagi repot-repot ke Makassar jika ingin mendapatkan layanan kesehatan.. Semua berawal dari keprihatinannya terhadap layanan kesehatan yang ada dan yang terutama, berawal dari keinginan untuk mengabdikan diri untuk Bantaeng.

Kebetulan, saya pernah melakukankunjungan dalam rangka tugas ke Kabupaten Bantaeng. Jika berkunjung ke sana, kita akan takjub dengan berbagai sentuhan pembangunan yang ada.  Tanpa meninggalkan sektor unggulannya di bidang pertanian, Bantaeng pun mulai menggarap sektor pariwisatanya. Sektor pariwisata tengah dipacu keras untuk menjadi sektor unggulan. Beberapa potensi objek wisata dan rekreasi pantai tengah dipercantik. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah digarap.

Satu yang beliau pegang hingga kini, tidak mau masuk ke dalam partai politik manapun. Tawaran untuk menjadi pemimpin partai dia tolak. Beliau masih tetap teguh dengan prinsipnya, tetap independen. Entah nantinya. Mungkinkah akan berubah  saat dia melangkah ke jenjang yang lebih tinggi? Untuk melenggang ke percaturan provinsi? Kita tunggu. Nurdin Abdullah layak untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Indonesia masih membutuhkan pemimpin yang mau melayani.

Semoga makin banyak bermunculan para pemimpin yang mau memimpin dengan hati, yang mau membaktikan diri untuk kemajuan negeri, yang dapat memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Indonesia pasti bisa.  (Del)

Gubernur Santri Zainul Majdi Termasuk Reformis Muda Versi Dino Patti Djalal

Gambar

Gubernur NTB : Dr. KH. Zainul Majdi, MA

Gubernur NTB  Dr. KH. Zainul Majdi, MA termasuk salah satu tokoh muda yang hadir dalam acara Forum Terbuka bertema “Reformis Hibrida-Reformis Horizontal” yang digagas oleh mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal di Jakarta, Sabtu (1/3/2014). Tokoh muda lainnya antara lain, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Walikota Makassar Ramdhan Pomanto. Nama Basuki Tjahaja Purnama dan Ridwan Kamil sudah banyak diberitakan di media dan dikenal luas oleh publik. Tidak demikian halnya dengan Zainul Majdi. Gaungnya kencang hanya sebatas Provinsi Nusa Tenggara Barat. Belum tentu semua mengenalnya. Tidak ada salahnya jika kita tengok rekam jejaknya.

Prestasi yang diraih oleh Zainul Majdi cukup mengagumkan. Beliau terpilih menjadi gubernur salah satu provinsi di Nusa Tenggara, yaitu Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008, ketika masih berusia 36 tahun (lahir di Pancor, Lombok Timur, 31 Mei 1972). Saat ini, beliau kembali menjalani amanahnya sebagai Gubernur NTB periode kedua, 2013-2018. Dipercaya kembali memimpin untuk periode kedua tentunya menyiratkan kepercayaan warga atas kepemimpinannya. Sebuah pengakuan atas keberhasilannya dalam mengawal pembangunan di NTB untuk kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan hasil pemilukada NTB Mei yang lalu memberikan perolehan 44% untuk pasangan Zainul Majdi dan M Amin dengan mengalahkan tiga kandidat lainnya.

Muda, berasal dari keluarga santri yang dihormati, pendidikan baik (lulusan Magister Jurusan Tafsir Hadits dan Ilmu Alquran Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir 1999), tak ayal membuatnya menjadi perhatian. Majdi dikenal dengan nama Tuan Guru Bajang. Tuan Guru adalah sebutan di kalangan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok untuk seorang ulama. Beliau cucu ulama paling karismatik di Lombok, yaitu Almagfurullah Syekh TGKH Zainuddin Abdul Majid atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Pancor.

Sosok Majdi yang seorang ulama memberikan warna yang berbeda dalam jajaran birokrasi di Provinsi NTB. PR terbesarnya adalah dalam rangka memperbaiki moral jajarannya, memasukkan nilai-nilai etika bagi pasukannya. Beliau tidak ragu untuk mencabut jabatan bawahannya yang terkait kasus korupsi. Bahkan seluruh pejabat diwajibkan menandatangani Pakta Integritas, salah satunya berisi kesiapan untuk mengundurkan diri jika terkait kasus korupsi.

Pada pertemuan bersama 4 tokoh reformis muda dan Dino Patti Djalal, Zainul Majdi mengungkapkan,  “Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendekatan kultural. Ada yang harus sistemik. Karena itulah saya terima ajakan masyarakat masuk kontestasi Gubernur NTB,” kata Majdi.

Majdi mengungkapkan pula bahwa dunia politik memiliki tantangan yang luar biasa. Apalagi menyangkut bidang birokrasi pemerintahan daerah. Beliau bahkan mengatakan, “Awal saya terpilih, saya panggil birokrasi. Saya ceramahi tentang surga neraka, tapi mereka ngantuk. Namun, suatu ketika dikumpulkan lagi, saya sampaikan, sebentar lagi kita lakukan mutasi. Mereka langsung semangat”. Orang sekarang memang lebih takut kehilangan jabatannya dibandingkan dengan neraka.

Hasil nyata sentuhan kepemimpinannya sudah mulai terlihat. Sektor pariwisata di Pulau Lombok mulai menggeliat, bahkan cukup pesat. Dengan adanya Bandar Udara Internasional Lombok, wisatawan memiliki kemudahan untuk melakukan kunjungannya. Jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari tahun 2010 yang hanya sekitar 500.000 orang, naik menjadi 750.000 orang tahun 2011 dan tahun 2012 menjadi satu juta wisatawan. Bidang kesehatan pun menunjukkan keberhasilannya. PAD naik sangat signifikan, naik hampir dua kali lipat.  (sumber: Republika.co.id).

Semoga makin banyak bermunculan tokoh-tokoh muda yang menginspirasi. Saatnya pula kita turut memberitakan tokoh-tokoh unggulan agar dapat menginspirasi tokoh lainnya. Tidak perduli dari mana atau dari partai mana mereka berasal. Asal untuk kemajuan negeri dan kesejahteraan masyarakat, untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga. (Del)

Sumber : disarikan dari suara pembaruan dan berita satu