Untung Masih Ada Ahok yang Ngurus Jakarta

Jalan Inspeksi Kali Sentiong. Sumber gambar : ahok.org/berita/news/jalan-inspeksi-terus-dibangun-di-jakarta/attachment/jalan-inspeksi/

Jalan Inspeksi Kali Sentiong. Sumber gambar : ahok.org/berita/news/jalan-inspeksi-terus-dibangun-di-jakarta/attachment/jalan-inspeksi/

Di antara gegap gempita berita tentang Pilpres yang mendominasi berbagai media, kita sebagai warga Jakarta masih bersyukur. Jakarta masih ada yang “ngurus”. Ketika Jokowi mundur sejenak dari aktivitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, warga Jakarta masih bisa bernafas lega. Ahok masih bekerja keras untuk Jakarta. Ahok masih memegang amanahnya untuk “mengawal” dan “membenahi” Jakarta. Saya rasa dia layak kok jadi Gubernur.

Saya tidak ingin berbicara tentang Jokowi yang tengah konsentrasi dengan pertarungan pencapresannya. Biarkan rakyat yang menentukan. Tulisan ini hanya ingin mengungkapkan tentang Ahok dan kiprahnya untuk Jakarta.

Salut patut dilontarkan untuk Ahok. Beliau masih teguh melakukan upaya-upaya yang memang harus dilakukan untuk mengatasi banjir Jakarta dan tetap melanjutkan upaya yang telah dilakukan oleh Jokowi. Upaya untuk mengatasi banjir, tidak hanya dilakukan ketika musim banjir tiba. Banyak hal yang dapat dilakukan justru ketika musim banjir masih jauh. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan justru kala musim banjir belum lewat. Tidak hanya dilakukan upaya tanggap darurat saja.

Banjir seakan sudah menjadi agenda rutin tahunan untuk Jakarta. Bahkan ada yang mempercayai adanya siklus banjir besar 5 tahunan. Penyelesaian permasalahan banjir merupakan “pekerjaan rumah” yang seharusnya bersifat menerus bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan juga Pemerintah Pusat karena menyangkut area yang lebih luas dan kewenangan yang lebih tinggi. Jakarta tidak dapat menyelesaikan sendiri permasalahan banjirnya.

Kondisi morfologis Kota Jakarta sangat mempengaruhi. Sekitar 40% wilayah Jakarta berada di bawah pengaruh pasang surut dan rentan banjir. Sebagian wilayah DKI Jakarta memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut.  Kota Jakarta merupakan bagian dari DAS Ciliwung-Cisadane dan cekungan air tanah yang meliputi Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Belum ditambah dengan Kota Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai besar. Satu contoh, Sungai Ciliwung memiliki hulu yang berada di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango di Kabupaten Bogor dan bermuara di teluk Jakarta. Prinsip dasarnya, jika tidak ingin banjir melanda Jakarta, selain menjaga aliran sungai agar tidak semakin tergerus dan terjadi pendangkalan maupun penyempitan, menjaga hulu sungai merupakan hal yang tidak kalah penting.

Untuk mengatasi banjir yang rutin melanda Jakarta, Ahok dan jajarannya saat ini tengah giat mengerjakan jalan inspeksi di Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat yang dulu digagasnya bersama dengan Jokowi. Tidak hanya itu, DKI masih akan membangun jalan inspeksi di beberapa wilayah lainnya. Pembangunannya dilakukan secara bertahap karena akan terkait dengan pembersihan permukiman di sepanjang sungai yang dilewatinya. Pembangunan jalan inspeksi sangat dibutuhkan untuk menghindari pembangunan kembali permukiman liar di sepanjang bantaran kali atau sungai.

Permukiman yang terkena pembangunan jalan inspeksi secara bertahap akan dipindahkan untuk menempati rumah susun. Rumah susun dibangun untuk menampung penduduk yang tinggal di bantaran kali dan waduk. Pemda DKI Jakarta sudah melakukan hal yang benar. Penduduk tidak asal disuruh pindah begitu saja, namun disediakan tempat tinggal yang layak dan manusiawi.

Rusun siap, warga di pinggiran kali sudah pindah, maka waduk, sungai, atau kali akan dilebarkan. Pinggiran sungai akan dibangun jalan-jalan inspeksi yang dapat dilalui kendaraan bermotor. Ahok mengatakan, “Jadi kita bisa mengatasi banjir sekaligus mengatasi kemacetan lalu lintas dengan adanya jalan inspeksi tersebut”. Setuju.

Ahok tidak akan pandang bulu, yang melanggar akan ditertibkan. Tidak akan ada biaya ganti rugi, karena sudah disediakan tempat tinggal di rusun yang dibangun. Setuju juga.

Terjadinya banjir di Jakarta tidak terlepas dari tidak tertibnya pembangunan di Jakarta. Perubahan fungsi lahan atas nama pembangunan semakin sulit dikendalikan. Jumlah penduduk siang sekitar 12,5 juta jiwa dengan segenap aktivitasnya harus ditampung oleh Jakarta. Berbagai macam aktivitas pembangunan tidak hentinya dilakukan untuk memenuhi dan mewadahi aktivitas penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Perubahan fungsi lahan tidak dapat dihindari demi memenuhi kebutuhan penghuninya. Lahan yang seharusnya difungsikan sebagai kawasan resapan air berubah menjadi kawasan budi daya dengan beragam peruntukan. Ruang terbuka hijau semakin terkikis dan perlahan habis.  Sudah saatnya pembenahan dilakukan. Penertiban pembangunan sebagai langkah pengendalian dan pengelolaan pemanfaatan ruang harus terus dilakukan. Pembangunan di wilayah Jakarta harus tetap mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta.

Jakarta masih memiliki banyak PR. Ayo Pak Ahok…! Semangat…! Untung masih ada Ahok yang ngurus Jakarta ! (Del)

Advertisements

Menelisik Makam Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Barat

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Empat kali sudah kaki ini menjejak Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur, namun masih banyak misteri, keindahan, serta keeksotisan Pulau Sumba yang belum terkuak dan terekplorasi dengan baik. Masih banyak destinasi yang belum terkunjungi dan masih banyak pula budaya yang belum tersingkap. Di setiap kunjungan, kekaguman senantiasa membuncah lalu mengerucut pada kesan eksotis yang tersemat.

Selain memiliki alam elok nan murni dan belum banyak terjamah tangan-tangan kotor, pemandangan padang rumput nan luas, pantai yang indah, hamparan lahan yang berbukit dan bergelombang, keistimewaan Pulau Sumba terletak pada kekayaan budaya yang tinggi. Sumba masih menyimpan gaya hidup dan adat istiadat yang tetap terpelihara hingga kini. Walau sudah mulai sedikit mengalami penyesuaian jaman, jejak asli kebudayaan yang masih murni tetap tampak dengan jelas. Salah satunya terekam dengan baik di Kampung Adat Pasunga, Kota Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah.

Untuk menjangkau Kota Waibakul sebagai Ibukota Kabupaten Sumba Tengah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 2 jam. Atau melalui Bandara Umbu Mehang Kunda di Kabupaten Sumba Timur, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 3 jam. Saat ini, armada Garuda Indonesia pun sudah memiliki penerbangan Jakarta – Bali – Tambolaka, atau dapat pula menggunakan pesawat Nam Air dan Lion Air dari Bali atau Kupang.

Masyarakat di Pulau Sumba memiliki satu kepercayaan yang sampai saat ini masih banyak dianut, yaitu Marapu. Marapu merupakan inti dari kebudayaan masyarakat Sumba dan sumber nilai yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Orang Sumba memegang teguh kepercayaan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak terpisahkan. Marapu dianggap sebagai media atau perantara yang dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta. Masyarakat Sumba memiliki keyakinan bahwa manusia harus memelihara hubungan yang baik dengan sesama manusia, hubungan antara manusia dengan alam, juga hubungan antara manusia dengan arwah-arwah yang telah meninggal. Manusia yang masih hidup harus memiliki hubungan dengan arwah leluhurnya bila tidak ingin mengalami penghukuman.

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kepercayaan untuk memelihara hubungan dengan arwah leluhur ini pula yang seakan memberi nafas pada permukiman mereka, seperti halnya di Kampung Adat Pasunga. Kampung Adat Pasunga seperti kampung adat lainnya di Pulau Sumba berbentuk cluster dengan lokasi pemakaman yang berada di bagian depan dan tengah permukiman. Memasuki kawasan Kampung Adat Pasunga, Desa Anakalang, kabupaten Sumba Tengah, kita seakan disambut oleh beberapa makam/kuburan yang diletakkan pada bagian depan dan tengah perkampungan. Makam leluhur seakan menjadi fokus dan pusat dari kawasan permukiman. Perhatian pertama pasti akan tertuju pada kuburan megalitik di bagian depan Kampung.

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Kampung Adat Pasunga masih dihuni hingga sekarang. Pada bagian depan kita akan menemukan batu kuburan megalitik terbesar di Pulau Sumba. Batu kuburan megalitik tersebut masih tetap utuh terjaga. Terdapat sekitar 30 rumah yang ada di sana. Rumahnya memiliki bentuk khas Sumba dengan atap yang menjulang tinggi. Dinding terbuat dari kayu dengan atap dari seng. Bentuk rumahnya nyaris serupa dan seragam. Pada bagian tengah kampung terdapat lahan yang dikelilingi oleh kuburan tempat para warga berkumpul atau mengadakan upacara keagamaan.

Suasana Kampung Adat Pasunga siang itu cukup sepi. Hanya terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Para penghuninya kebanyakan tengah pergi bekerja atau sekedar mengurus ternaknya.

Untuk menghidari kesulitan dengan penerimaan penduduk kampung adat yang mungkin saja tersinggung dengan kedatangan kita atau wisatawan, pengantar kami yang kebetulan merupakan penduduk Sumba Tengah menyarankan agar memberikan sumbangan uang dan mencatat nama pada buku tamu. Semua dilakukan agar dapat dengan leluasa memasuki perkampungan mereka atau sekedar mengambil foto.

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasonga

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasunga

Ada hal yang menarik. Walau mereka masih tetap menjaga teguh tradisi dan budaya yang mereka miliki, sentuhan modernisasi sudah mulai nampak. Terlihat beberapa rumah telah memasang parabola. Semua semata agar warga di sana dapat menikmati siaran televisi.

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga penganut Kristen  dengan bentuk khas Sumba

Kuburan warga penganut Kristen dengan bentuk khas Sumba

Pada bagian belakang kampung adat, terdapat pula kuburan dengan bentuk yang sama namun terbuat dari bahan yang lebih modern. Terlihat bahwa yang terkubur di sana bukan penganut Marapu, namun telah menjadi penganut Kristen.

Itulah Sumba. Pulau yang sarat dengan budaya dan mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan perubahan jaman. Tradisi leluhur yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya sudah mulai dipengaruhi oleh gaya hidup dan budaya yang berasal dari luar kehidupan mereka. Generasi muda Sumba mungkin ada yang telah memiliki cara pandang baru dan berbeda dengan tradisi serta ajaran leluhur mereka. Namun, tetap menyimpan hormat dan menyimpan erat nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupannya. Semoga budaya mereka tetap terjaga di tengah gempuran budaya luar.  Salam. (Del)