“Jangan Gunakan Ruang Seenaknya, Nanti Kena Audit Lho…. !”

Kata audit bagi sebagian orang mungkin terdengar agak menyeramkan, agak horror, terlebih bagi yang punya salah. Hasil audit sangat mungkin, dapat mempengaruhi nasib seseorang, perusahaan, atau instansi yang diaudit. Masih ingat kehebohan kasus Sumber Waras yang melanda beberapa waktu yang lalu? Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta ikut diobok-obok, berulang kali diperiksa. Masih ditambah dengan lawan-lawan politiknya yang turut mengipasi. Kasus itu juga bermula dari hasil audit yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Belakangan, muncul pro dan kontra. Ada yang mengungkapkan bahwa hasil audit tersebut tidak valid dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya. Untuk itulah, dalam proses audit, yang diperlukan tidak hanya independensi, tapi juga objektivitas, keakuratan dan kevalidan. Auditor harus terbebas dari kepentingan, dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, independen, dan tidak memihak. Tentunya agar proses verifikasi objek yang diaudit berlangsung sesuai aturan, standar, dan prosedur yang benar.

Audit sejatinya berasal dari Bahasa latin “audire” yang artinya mendengar atau memperhatikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, audit memiliki dua arti, yaitu pemeriksaan pembukuan tentang keuangan secara berkala serta pengujian efektifitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan yang dihasilkannya. Audit merupakan serangkaian proses yang dilakukan oleh auditor untuk mendapatkan bukti akurat mengenai aktivitas ekonomi suatu entitas dengan menyetarakan derajat kewajaran aktivitas ekonomi yang bersangkutan. Jika kita mau berupaya untuk searching and googling,ada beragam definisi audit. Umumnya terkait dengan ekonomi dan keuangan.

Jangan salah, audit tidak hanya merupakan otoritas bidang ekonomi dan keuangan. Masih ada yang namanya audit kinerja, audit lingkungan, bahkan audit sosial. Lalu, apa itu audit pemanfaatan ruang? Untuk apa ada audit pemanfaatan ruang? Apa manfaatnya? Ah, kok banyak nanya… Penasaran? Semoga masih sudi untuk lanjutkan bacanya… hehehe..

Masih ingat dengan kasus mantan Bupati Bogor  Rahmat Yasin yang tersandung kasus tukar menukar kawasan hutan di tahun 2014 silam? Atau kasus anggota DPR Al Amin Nasution, mantan suami artis dangdut Kristina yang terpeleset kasus alih fungsi hutan lindung? Atau kasus reklamasi Pulau G yang saat ini masih hangat diperbincangkan? Memang semuanya terjerat karena adanya unsur suap dan tindak pidana korupsi sehingga dicokok KPK. Tapi jika kita telusuri kasusnya, sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan ruang, tentang “jual beli” ijiin pemanfaatan ruang maupun pengesahan aturan terkait pemanfaatan ruang.

Hingga saat ini masih banyak yang memiliki pemahaman yang salah. Ada yang berpandangan, “Itu kan tanah saya, mau saya apain juga hak saya. Saya mau bangun toko, bangun ruko, bangun industri, atau saya biarkan begitu saja, itu urusan saya”. Hhmm….. sebetulnya, itu satu bentuk teguran juga untuk instansi terkait, berarti sosialisasi nya mungkin kurang.

Memiliki lahan atau tanah tidak berarti dapat menggunakan lahan/tanah tersebut dengan seenaknya, dengan sesukanya. Perlu dibedakan antara property rights(hak kepemilikan) dan development rights(hak membangun atau hak pemanfaatan lahan/tanah). Simpelnya, orang yang memiliki lahan tetap harus mengikuti aturan yang ada ketika akan membangun atau memanfaatkan lahannya. Contohnya, ketika seseorang atau perusahaan atau institusi ingin membangun sebuah industri atau menjalankan usaha perkebunan, walaupun dibangun di atas lahan miliknya, dia harus memiliki ijin-ijin yang dipersyaratkan. Walau terkadang, celah ijin ini pula yang bisa disalah gunakan. Bisa saja terjadi proses “jual beli” ijin pemanfaatan ruang.

Perlu kita sadari bersama, perkembangan suatu wilayah mengakibatkan kebutuhan ruang semakin meningkat, misalnya kebutuhan ruang untuk permukiman, industri, perdagangan dan jasa, pertambangan, dan kebutuhan ruang lainnya. Di pihak lain, ruang yang tersedia, terbatas. Ini pula yang memicu terjadinya perbedaan antara pemanfaatan ruang eksisting di lapangan dengan rencana tata ruang yang telah disepakati bersama dan ditetapkan. Bahkan terkadang terdapat tumpang tindih pemanfaatan ruang yang ada. Kebutuhan pengembangan kawasan permukiman baru atau pembangunan infrastruktur baru akan membutuhkan lahan yang akan berdampak pada beralihnya fungsi lahan.

Mari kita kembali ke audit. Apa itu audit pemanfaatan ruang? Sebenarnya tidak ada satu kata pun dalam Undang Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mencantumkan “audit pemanfaatan ruang”. Bahkan kata “audit” pun tidak akan kita temukan dalam Undang-Undang tersebut atau peraturan turunannya. Paling tidak, hingga saat ini. Yang paling “terkait” atau “mendekati” adalah nomenklatur pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang yang dilakukan dengan mengamati dan memeriksa kesesuaian antara penyelenggaraan penataan ruang dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam makna yang lebih luas, istilah audit ini dapat dipadankan sebagai bentuk pengawasan penataan ruang.

Audit pemanfaatan ruang hadir karena kebutuhan. Audit pemanfaatan ruang dibutuhkan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. Audit pemanfaatan ruang merupakan salah satu metoda evaluasi terhadap pemanfaatan ruang suatu wilayah yang dilaksanakan oleh suatu tim yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, dengan tujuan untuk melakukan verifikasi, agar penggunaan ruang dilaksanakan sesuai dengan rencana tata ruang dan kaidah-kaidah penataan ruang. Audit pemanfaatan ruang akan menghasilkan laporan hasil audit yang menyertakan pula rekomendasi penyelesaian permasalahan tata ruang. Jika di dalamnya terdapat indikasi pelanggaran pemanfaatan ruang, dapat ditindaklanjuti dengan penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang.

Salah satu metode paling simpel yang digunakan dalam pelaksanaan audit pemanfaatan ruang untuk mendeteksi indikasi pelanggaran pemanfaatan ruang adalah dengan metode Spatial Gap Analysis. Metode ini dilakukan melalui overlay/superimpose antara Peta Rencana Pola Ruang yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau dalam rencana rinci yang telah ditetapkan dengan peta penggunaan lahan eksisting/aktual. Sebagai cara deteksi awal, saat ini sangat mudah dilakukan. Dengan menggunakan  teknologi Google Earth kita sudah dapat mengetahui kondisi penggunaan lahan eksisting/aktual, bahkan kronologi perubahan penggunaan lahan yang terjadi. Baca  : Sumber .

Perlu diingat, tidak setiap perbedaan antara kondisi aktual dan peta rencana pola ruang merupakan indikasi pelanggaran. Rencana Pola Ruang yang tercantum dalam RTRW memiliki dimensi waktu perencanaan selama 20 tahun sehingga terbuka kemungkinan bahwa saat ini pola ruang nya belum terwujud seperti halnya gambar di bawah.

Hasil Overlay Citra Penggunaan Lahan dengan Peta Rencana Pola Ruang.

Gambar di atas merupakan hasil overlay antara peta rencana pola ruang yang tercantum dalam RTRW Kota dengan citra yang menggambarkan kondisi aktual. Berdasarkan peta rencana pola ruang, area tersebut direncanakan memiliki peruntukan sebagai kawasan industri dan pergudangan, namun kondisi eksisting masih berupa tanah kosong. Perbedaan yang ada belum tentu terindikasi pelanggaran. Perlu ditelisik lebih lanjut karena terbuka kemungkinan kawasan industri dan pergudangan, baru akan dibangun atau diwujudkan beberapa tahun ke depan.

Hasil overlay citra penggunaan lahan dengan peta rencana pola ruang

Lain halnya dengan contoh gambar di atas yang juga merupakan hasil overlay antara peta rencana pola ruang yang tercantum dalam RTRW Kota dengan citra yang menggambarkan kondisi aktual. Berdasarkan peta rencana pola ruang, area tersebut direncanakan memiliki peruntukan sebagai Ruang Terbuka Hijau, namun kondisi eksisting sudah terbangun industri/pergudangan. Apakah ini merupakan pelanggaran pemanfaatan ruang? Belum tentu juga. Perlu ditelisik lebih dalam lagi secara kronologi. Kapan industri/gudang tersebut terbangun? Apakah sebelum atau sesudah penetapan RTRW? Analisis dan rekomendasinya tentu akan lain.

Jika terbangun setelah ditetapkannya RTRW, maka itu sudah terindikasi pelanggaran pemanfaatan ruang. Masih bisa ditelusuri lebih jauh lagi. Apakah industri/pergudangan tersebut sudah memiliki ijin? Jika sudah, siap-siaplah pemberi ijinnya. Pasti akan terkena juga. Ada pasal-pasal yang akan menjeratnya dan ada sanksi pidana yang menanti.

Semoga audit pemanfaatan ruang ini dapat menjadi salah satu tools dalam upaya melakukan penertiban pemanfaatan ruang untuk mewujudkan tertib ruang.

Jadi, masih beranikah menggunakan ruang seenaknya? Hati-hati kena audit lho… Salam. (Del)

Advertisements
Berdamai dengan Pedagang Kaki Lima di  Bandara Internasional Lombok, Tepatkah?

Berdamai dengan Pedagang Kaki Lima di Bandara Internasional Lombok, Tepatkah?

Bandara Internasional Lombok seperti halnya Bandara Internasional lainnya di Indonesia terus  berbenah dan mempercantik diri. Berupaya untuk memberikan pelayanan maksimal bagi para pengunjung agar sudi hati kembali bertandang. Masih nampak beberapa kekurangan, namun upaya perbaikan tetap dijaga. Bandaranya belum semegah Bandara Sepinggan Balikpapan atau secantik Bandara Ngurah Rai Bali atau sekomplit Bandara Kualanamu Medan. Setelah kurang lebih lima tahun beroperasi, bagaikan gadis kecil  yang mulai beranjak besar, Bandara Internasional Lombok sudah mulai menampakkan kecentilan dan kegenitannya, dipoles sana dan sini. Walau kadang kadar polesannya sedikit berlebihan dan kurang pas.

Semenjak pindah dari Bandara Selaparang dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 20 Oktober 2011, kita harus menyediakan waktu lebih untuk mencapai Bandara Internasional Lombok. Tidak seperti Bandara Selaparang yang berada di tengah Kota Mataram, Bandara Internasional Lombok (BIL) letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Mataram. Bandara Internasional Lombok berada di Praya yang termasuk ke dalam Kabupaten Lombok Tengah. Tidak ada masalah. Bandara memang seharusnya tidak terletak di tengah kota. Bandara Internasional Soekarno-Hatta pun letaknya di Tangerang. Yang penting akses dan moda transportasi dari dan ke Bandara tersedia dengan aman, nyaman, lancar, dan mudah.

Panggilan tugas mengharuskan saya untuk bolak-balik ke Mataram, seperti halnya kunjungan saya ke Mataram kali ini. Waktu di HP menunjuk pukul 15.30, tugas  kerjaan rampung sudah. Saatnya untuk bergegas meninggalkan lokasi acara. Langsung menuju Bandara demi mengejar burung besi yang akan kembali mengantar kami ke Jakarta.

Tiba di Bandara, gerimis tipis masih betah menyirami langit Lombok. Sengatan mentari yang biasanya akrab menyapa Lombok, hari itu tunduk pada kekuasaan gerimis. Mentari tertunduk malu, lupa dengan kegarangannya. Seperti biasa, Bandara Lombok ramai, baik oleh calon penumpang maupun para pengantar dan penjemput. Bahkan diramaikan pula oleh masyarakat sekitar Bandara. Betul ! Bandara Lombok memang gak pernah sepi. Bandara tidak hanya didominasi oleh penumpang, pengantar, dan penjemput. Bandara Lombok gak pernah sepi pengunjung.

Teringat masa-masa awal beroperasinya Bandara Internasional Lombok di akhir tahun 2011. Begitu mendarat dan keluar Bandara, kita seakan menjadi tamu kehormatan, mendapat sambutan dari begitu banyak orang. Saya pikir waktu itu penuh karena sedang waktunya untuk ibadah haji sehingga banyak pengantar. Namun, ternyata tidak hanya waktu seputar Idul Adha saja. Sekarang memang sudah “agak mendingan”, tidak terlalu banyak lagi. Dulu, masyarakat berderet di pintu keluar seakan menyambut kita. Lucu juga.

Ambil koper di bagasi mobil berniat untuk segera masuk Bandara dan check-in, tiba-tiba, “Del, kita ke pasar situ yuk!”, Rekan satu perjalanan mencetuskan ide. Suatu ide yang aneh. Langsung terlontar, “Ngapain?”. Seakan bisa menebak isi pikiran, dia meneruskan ajakannya. “Walaupun sering ke Lombok, pasti kamu belum pernah mampir ke pasar itu kan?”. OK deh… toh masih ada waktu satu setengah jam sebelum keberangkatan.

Dengan tangan yang masih mendorong koper, akhirnya kami menuju “pasar” yang dimaksud. Ternyata pendapat awal bahwa pengunjung Bandara sudah “agak mendingan” langsung terbantahkan. Hanya lokasinya saja yang dipindahkan. Para pedagang asongan dan kaki lima yang dulunya tidak tertata dan terkesan berada di sembarang tempat, mulai ditata dan ditempatkan di lokasi yang tidak terlalu jauh, bahkan bisa dikatakan dekat dari Bandara. Jaraknya hanya sekitar 250 meter dari gedung keberangkatan/kedatangan pesawat. Para pedagang asongan dan pedagang kaki lima ini bermunculan karena banyak peminatnya, banyak pembelinya. Target pembeli barang dagangan mereka adalah para pengunjung yang notabene masyarakat sekitar yang berwisata di area Bandara.

Jika 2 atau 3 tahun lalu masyarakat sekitar berwisata mengajak anak-anak dan keluarga melihat pesawat terbang dari lokasi gedung keberangkatan/kedatangan, sekarang diberi tempat di area khusus. Jika 2 atau 3 tahun lalu para pedagang asongan dan pedagang kaki lima berjualan di sembarang tempat, sekarang ditempatkan pada kios-kios di area khusus tak jauh dari Bandara. Berhasilkah upaya penataannya? Tepatkah?

 

Deretan kios.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Deretan kios di area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar : koleksi pribadi

Deretan kios. Sumber gambar: koleksi pribadi

Deretan kios di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

 

Deretan Kios.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Kios di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Beragam kios di pasar yang terletak di sekitar Bandara.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Kios-kios di pasar pada area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Menggelar dagangan tidak pada kios yang disediakan di Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Pedagang menggelar dagangannya tidak pada kios yang disediakan pada area Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Beragam kios pakaian, mainan, makanan, minuman, dan barang lainnya berderet di “pasar” dekat Bandara. Bahkan banyak pula yang menggelar dagangannya di lantai dengan alas ala kadarnya. Suasana ramai layaknya sebuah pasar. Beberapa meneriakkan dagangannya, mencoba menarik perhatian para pengunjung. Beberapa mencoba mengiming-imingi anak-anak agar tertarik dengan mainan yang menjadi dagangannya. Tak sedikit yang sedang melakukan tawar menawar sebelum terjadinya transaksi. Beberapa orang tua berupaya menjelaskan pada anaknya tentang pesawat yang akan mendarat maupun yang akan lepas landas. Yang lainnya ada juga yang tetap menikmati secangkir kopi atau teh untuk mengusir dinginnya gerimis, seakan tidak terusik oleh suasana hiruk pikuk di sekitar. Berhubung gerimis, kondisi lantai yang basah dan kotor turut mewarnai. Kita harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset.

Menyaksikan pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Menonton pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Menonton pesawat mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Lorong menuju area pasar sekitar Bandara Internasional Lombok.  Sumber gambar: koleksi pribadi

Area pasar di dekat Bandara Internasional Lombok. Sumber gambar: koleksi pribadi

Upaya penataan para pedagang asongan/pedagang kaki lima serta para pengunjung yang sekedar berwisata melihat pesawat terbang sudah merupakan tindakan yang tepat. Penataan diperlukan agar terhindar dari kesan “semrawut” dan “liar”. Jika tidak ditata, para pedagang maupun pengunjung akan semakin merangsek ke gedung keberangkatan/kedatangan dan semakin merajalela. Ketika upaya menghilangkan sama sekali para pedagang asongan/pedagang kaki lima tidak dapat dilakukan, upaya penataan merupakan tindakan kompromi untuk berdamai dengan para pedagang tersebut. Kompromi untuk berdamai dengan para pedagang asongan/pedagang kaki lima merupakan kebijakan yang sah-sah saja sepanjang tidak mengganggu kelancaran, kenyamanan, dan keamanan operasional penerbangan. Hanya saja, penataan yang dilakukan jangan setengah hati. Perlu ketegasan dan penegakan aturan. Ketidaktegasan pengelola maupun aparat yang berwenang hanya akan membuat kesan “kumuh” muncul, seperti yang terjadi saat ini. Para pedagang mulai menjajakan dagangannya tidak pada kios yang telah disediakan. Mereka memilih untuk menggelar dagangannya di lorong-lorong jalan dan di sembarang tempat.

Hhmmm…. Sudah ah, kok jadi semakin serius. Waktunya tidur. Selamat malam. Salam. (Del)

Mengkhayalkan Menteri Ferry Mursyidan Baldan Bisa Segarang Menteri Susi Pudjiastuti

Kemarin di kantor, salah satu rekan kerja berujar, “Kayaknya Jokowi banyak salah pilih Menteri deh! Dari sekian banyak Menteri, yang baru terasa gebrakannya cuman Menteri Susi doang! Yang lainnya pada ke mana…? Pada tidur kali ya….”. Hehehe… mungkin terasa agak lebay, namun ada benarnya juga. Tanpa mengecilkan arti peran dan sumbangsih yang telah dilakukan oleh Menteri-Menteri lainnya, patut diakui, Menteri Susi paling menonjol di antara Menteri lainnya. Gebrakannya langsung menggigit, membuatnya melejit, walau jangan sampai kejedot langit. Harus tetap membumi. Upaya yang dilakukannya harus tetap konsisten, demi menjaga sumberdaya kelautan pertiwi.

Menteri Susi telah berhasil membalikkan kondisi media dan sebagian besar masyarakat yang awalnya meragukan kemampuannya dan mencibir latar belakang pendidikannya. Pak JK sendiri berkomentar bahwa yang paling populer saat ini Menteri lulusan SMP, mengalahkan Menteri yang PHD. JK memuji Menteri Susi telah berhasil melakukan revolusi mental dan memiliki semangat yang patut ditiru.

Menteri Susi telah menegakkan aturan di laut dan secara tidak langsung menegakkan kedaulatan Negeri. Menangkal illegal fishing yang sebelumnya “semua tahu namun tidak bisa / tidak mau / tidak mampu berbuat apa-apa”. Menteri Susi tidak berjalan sendiri, beliau juga melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak lainnya yang terkait. Tak kurang pihak TNI, Polri, Kejaksaan, media, dan pihak-pihak lain diajaknya untuk bergandengan tangan, secara bersama memberantas para penjarah sumber daya laut Indonesia.

Di laut, kita boleh berlega hati karena memiliki Menteri Susi yang mau dan mampu menegakkan aturan. Bagaimana dengan di darat? Hati kecil saya sebagai Warga Negara biasa sungguh berharap banyak agar Menteri lainnya pun bisa segarang dan setegas Menteri Susi. Sekedar untuk ngomporin Menteri lainnya, “Masa kalah sama Menteri perempuan dan hanya lulusan SMP pula?”.

Semua orang pasti mengakui, Indonesia adalah Negeri yang kaya dengan sumber daya alam. Negeri yang gemah ripah loh jinawi. Namun sayang seribu sayang, banyak ketidakbijaksanaan dalam pemanfaatan ruangnya. Bahkan sebagian karena keserakahan manusia di dalamnya. Banyak pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Memori kita masih dapat mengingat dengan jelas bencana longsor yang terjadi di Banjarnegara. Peristiwa tanah longsor di Banjarnegara bukan kali ini saja terjadi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPP) merilis, Dusun Jemblung di Banjarnegara merupakan salah satu wilayah yang berpotensi longsor. Kemiringan lereng Bukit Telogolele cukup curam, lebih dari 60 persen. Meski kemiringan tinggi, tidak ada terasering di bukit tersebut. Warga dibiarkan menanam palawija pada lereng-lereng bukit. Kerapatan tanaman yang rendah tidak mampu menahan aliran air. Warga pun dibiarkan mendiami wilayah-wilayah di bawah lereng yang sangat rawan. Seharusnya, dengan penataan ruang yang baik dan penegakan aturan tata ruang yang tegas, hal ini bukan mustahil dapat dihindari.

Ingatan kita juga masih belum luntur untuk mengenang peristiwa banjir Manado pada awal tahun 2014. Banjir bandang Manado disebabkan oleh hilangnya hutan dan sungai-sungai kecil di sekitar Manado, serta rusaknya daerah resapan air. Pembangunan kota yang sangat masif tanpa mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung lahan menyebabkan sejumlah sungai di Manado tidak mampu menahan tingginya debit air hujan. Bencana banjir di Manado tersebut juga merupakan bukti lemahnya penataan ruang dan penegakan aturan tata ruang di Manado. Semakin tingginya frekuensi bencana yang terjadi dan menurunnya daya dukung lingkungan merupakan salah satu akibat dilanggarnya rencana tata ruang.

Longsor dan banjir yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia tidak lepas dari ulah manusia penghuninya. Kerusakan ekologi yang terjadi di berbagai belahan Indonesia salah satunya akibat lemahnya penegakan aturan terkait penataan ruang. Perizinan sering dikeluarkan pada lokasi-lokasi yang sebenarnya tidak layak. Misalnya, izin mendirikan bangunan sering dikeluarkan pada lokasi-lokasi yang tidak layak untuk ditinggali, rawan bencana. Atau banyaknya permukiman liar di daerah hulu dengan tingkat kemiringan tinggi sehingga akibatnya sudah jelas. Bencana pasti akan hadir.

Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam pasal 61 secara jelas dan tegas mengatur bahwa dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Tengoklah sekitar kita. Berapa banyak rencana tata ruang yang telah ditetapkan? Berapa banyak yang telah diimplementasikan dan ditegakkan aturannya? Berapa banyak pelanggaran yang telah terjadi? Berapa banyak bencana yang terjadi karena tidak ditegakkannya aturan tata ruang? Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah sejatinya dapat diterapkan dan ditegakkan aturannya. Jangan hanya jadi pajangan di Kantor-kantor Gubernur/Bupati/Walikotanya atau di kantor-kantor Bappedanya. Aturan mainnya harus ditegakkan secara tegas. Jangan mau kalah dengan ulah para perambah hutan, penyerobot lahan, atau para oknum pemberi izin yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Ini harus segera dilakukan bila Indonesia tidak ingin terpuruk ke dalam berbagai bencana yang seharusnya bisa dihindari.

Jokowi telah memilih dan menetapkan Ferry Mursyidan Baldan selaku punggawa yang memimpin Kementerian yang mengawal Tata Ruang. Walau agak sedikit mengherankan, “Mengapa Kementerian Agraria dan Tata Ruang? Mengapa tidak Menteri Tata Ruang saja? Toh Agraria merupakan salah satu yang dapat diatur dalam tata ruang? Mengapa tokoh utamanya adalah agraria?” Sudahlah… yang penting, tetap ada Menteri yang mengurusi tata ruang. Semoga, Menteri Ferry tidak hanya mengurusi keagrariaan saja.

Sepak terjang Ferry Mursyidan Baldan gaungnya memang belum segarang Menteri Susi, bahkan nyaris samar-samar. Menteri Ferry memiliki kewenangan untuk menegakkan aturan terkait penataan ruang dan itu dapat dimulai dengan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penegakan aturan terhadap para pelanggar pemanfaatan ruang. Menteri Ferry diharapkan dapat segarang dan setegas Menteri Susi dalam menindak para pelanggar tata ruang. Upaya pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang terkait pelanggaran pemanfaatan ruang dapat dilakukan dimulai dengan optimalisasi peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang.

Berdasarkan Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, selain pejabat penyidik kepolisian Negara RI, pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang memiliki lingkup tugas dan tanggung jawab di bidang penataan ruang diberi wewenang membantu pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Inilah waktunya bagi Menteri Ferry untuk menunjukkan taringnya. Sekedar menghangatkan kompor, “Inilah waktunya bagi Menteri Ferry untuk membuktikan pula bahwa Menteri dari parpol juga bisa! Menteri Ferry juga tidak kalah dengan Menteri Susi! Tindak tegas para pelanggar tata ruang!”. Buktikan bahwa nantinya, setiap warga masyarakat akan berpikir seribu kali untuk melakukan pelanggaran tata ruang. Buktikan! Salam. (Del)

Memupuk Kebersamaan dan Tekad yang Kuat Seperti Musamus dari Merauke

Musamus di Merauke

Musamus di Merauke

Selain dikenal sebagai Kota Rusa, Merauke juga dikenal karena keberadaan musamus nya. Bahkan ada salah satu universitas di Merauke yang bernama Universitas Musamus. Untuk itu, jika melakukan kunjungan ke Kota Merauke, jangan lewatkan untuk melihat Musamus. Sepertinya belum sah bila sudah berkunjung ke Merauke, namun belum melihat musamus.Apa itu musamus? Penasaran? Ayo kita lanjut…!

Musamus adalah satu karya seni tinggi, hasil kerja keras para arsitek dan developer yang lahir alami di Bumi Merauke. Hasil desainnya berbeda antara satu musamus dengan musamus yang lainnya. Tidak ada yang sama persis. Namun, ada satu garis desain yang menyatukan satu sama lain, yaitu sama-sama berwujud seperti menara atau istana khas musamus yang dibangun oleh koloni rayap. Beda halnya dengan rayap yang sering kita dengar, yang merupakan serangga perusak berbagai jenis benda berbahan kayu, di Merauke, rayap hidup secara mandiri di hutan dan membangun istananya sendiri. Bahan dasar pembuatnya juga sama, berasal dari campuran tanah dan rumput kering sebagai bahan dasar utama serta air liur rayap yang berfungsi sebagai semen/perekat. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun istana rayap setinggi hingga lima meter tersebut.

Musamus

Musamus

20140521_131507

20140521_131440

Musamus merupakan gundukan tanah berwarna coklat yang dapat mencapai ketinggian hingga 5 meter bahkan lebih. Siapa arsiteknya? Siapa yang membangunnya? Tidak usah heran. Arsitek sekaligus pembangunnya adalah rayap. Musamus dikenal dengan sebutan Rumah Semut. Namun, sebenarnya Musamus merupakan rumah rayap. Rayap lah binatang yang ada di balik keindahan musamus.

Musamus dengan tinggi yang dapat mencapai 5 meter

Musamus dengan tinggi yang dapat mencapai 5 meter

Ada desain unik yang menjadi ciri khas istana rayap. Musamus memiliki lekukan-lekukan seperti buah belimbing yang dipotong pada bagian tengahnya, kemudian ditancapkan di tanah. Warnanya sesuai dengan warna tanah sekitarnya, mulai coklat, coklat kemerahan, hingga coklat tua yang mengerucut hingga ke atas. Walau terbuat dari butiran tanah, permukaan luar Musamus sangat keras, seperti batu. Koloni rayap sebagai arsitek telah mendesain istana rayap dengan ventilasi yang memadai berupa lorong-lorong yang akan melindungi istana dari air hujan, sekaligus melindungi koloni rayap dari panas ketika musim panas tiba. Musamus tahan cuaca, tidak lekang oleh hujan, panas, kebakaran hutan, bahkan gempa sekalipun.

Konon, dulu suku asli  Merauke, yaitu Suku Marind memanfaatkan musamus untuk memasak. Bongkahan Musamus yang kering dibakar hingga panas, lalu digunakan untuk memeram ubi atau daging dalam rangkaian upacara bakar batu.

Beberapa Musamus di tepi jalan

Beberapa Musamus di tepi jalan

Taman Nasional Wasur, Merauke

Taman Nasional Wasur, Merauke

Musamus atau istana rayap dapat ditemui di beberapa tempat di dunia dan khusus untuk Indonesia, musamus mungkin hanya terdapat di Merauke. Kita dapat dengan mudah menemukan Musamus yang berderet  di sepanjang jalan raya yang menuju ke Taman Nasional Wasur dan di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Merauke.

Musamus telah dijadikan sebagai ikon Kota Merauke. Ada pelajaran yang dapat kita petik dari Musamus. Rayap, binatang kecil yang lemah ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa, mampu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka memiliki tekad yang kuat dan kebersamaan. Bersatu padu secara bersama, dengan tekad yang sama untuk membangun istana bersama, membangun rumah bersama. Kita, sebagai manusia, dengan dibekali akal dan pikiran, juga dapat melakukan hal yang sama. Jika bersatu, bersama-sama, dan memiliki tekad yang kuat untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin, pasti bisa. Sesuai dengan tagline Merauke : Isakod Bekai Isakod Kai. Artinya, Satu Hati Satu Tujuan. Selamat pagi. Salam. (Del)

 

Seandainya Jokowi RI1 dan Ahok RI2

Jokowi - Ahok. Sumber: http://indonesia-baru.liputan6.com/

Jokowi – Ahok. Sumber: http://indonesia-baru.liputan6.com/

Belakangan ini, perbincangan di berbagai media nyaris didominasi oleh berita-berita politik. Mendadak banyak bermunculan para pengamat dadakan yang seakan paling tahu, paling akurat memberikan ulasan, paling jitu merumuskan prediksinya, atau paling kenal dengan pola pikir parpol. Namun terkadang mereka melupakan pola pikir masyarakat yang nanti akan menjadi pemilih, yang akan menentukan pilihannya. Berbagai ulasan banyak bertebaran di beragam media, semua memiliki alasannya masing-masing. Dan saya hanya seorang rakyat biasa yang jauh dari hiruk pikuk dunia perpolitikan. Hanya seorang warga biasa yang ingin mengutarakan pendapat pribadinya.

Jadi teringat ketika pertama kalinya dilakukan pemilihan Presiden secara langsung pada tahun 2004 lalu. Nama SBY melejit jauh lebih besar dari partainya. SBY dielu-elukan oleh masyarakat dan dipilih oleh rakyat yang lebih memilih figur daripada partai, yang kebetulan partai bentukannya sendiri. Demikian pula halnya dengan Jokowi-Ahok ketika pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur belum genap 2 tahun yang lalu. Tanpa mengecilkan peran partai, partai jangan terlalu berbangga hati. Mereka terpilih rakyat jauh melebihi hitungan secara partai. Foke didukung oleh begitu banyak parpol yang kalau dengan pola pikir parpol atau kalkulasi parpol akan meraih kemenangan. Buktinya? Warga atau rakyatlah yang menentukan pilihan. Hanya dalam hitungan bulan, elektabilitas Jokowi naik pesat.  Oke lah, kalau ada yang mengatakan bahwa Jakarta berbeda dengan Indonesia. Warga Jakarta relatif lebih melek informasi. Tapi tetap, unsur figur masih yang utama, bukan parpol.

Hal yang selalu menjadi momok ketika seorang kepala pemerintahan tidak mendapat dukungan mayoritas parpol adalah ketika menjalankan pemerintahannya dan dalam banyak hal memerlukan persetujuan dari DPR/DPRD. Biasanya mereka takut, misalnya pembahasan tentang anggaran dan pelaksanaan pemerintahannya terganjal atau terhambat di DPR/DPRD. Namun, Jakarta sudah membuktikan, dengan transparansi dan dukungan media serta pengawasan rakyat secara langsung DPRD tidak dapat mengganjal tanpa alasan yang jelas dan kuat.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Jokowi cukup tinggi dan dapat menjadi modal besar dalam memenangkan pilpres 2014. Pasar bereaksi negatif ketika hasil pileg tidak cukup kuat bagi PDIP untuk mengusung Jokowi seorang diri sehingga perlu yang namanya koalisi atau yang katanya kerja sama. Elektabilitas Jokowi juga terancam jeblok apabila disandingkan dengan orang yang tidak tepat.  Harus ada figur yang tepat untuk menjadi pendamping Jokowi. Siapa figur yang tepat sebagai pendamping Jokowi?

Karena tulisan ini merupakan pendapat pribadi, maka tentunya ini merupakan celotehan saya. Jokowi sebaiknya disandingkan dengan sosok yang dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang dimiliki Jokowi. Sebaiknya tokoh muda dengan semangat dan totalitas tinggi dan rekam jejak yang masih bersih. Ahok merupakan figur yang pas untuk menambal kelemahan-kelemahan Jokowi. Jokowi hanya perlu dikelilingi oleh para ahli yang berpengalaman dan telah matang. Biarkan Jokowi-Ahok yang mengeksekusinya.

Bagaimana mungkin?

Jalan untuk menuju ke sana memang cukup terjal. Ahok terhadang oleh partai yang menaunginya. Apresiasi untuk Ahok. Beliau masih menghormati Prabowo, “Kalau mau saya jadi Wapres, harus ijin Gerindra”. Apakah Prabowo dapat legowo mempersilakan Ahok untuk maju? Seharusnya Prabowo bisa seperti Mega yang mencoba untuk hanya menjadi King Maker. Hehehe..

Patut diakui, Jokowi memiliki kemampuan komunikasi publik yang cukup mumpuni dan publik telah menerimanya. Gaya blusukannya dan caranya mencoba mendekati persoalan, mendekati masyarakat layak diakui telah merebut hati warga. Jokowi mampu menelisik permasalahan lapangan yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat secara sederhana dan mengemukakan gagasan besar dengan bungkus yang sederhana. Apakah cukup hanya dengan cara blusukan? Tentunya tidak. Indonesia jauh lebih luas dari Jakarta. Indonesia merupakan negeri kepulauan. Terbayang kalau Jokowi harus blusukan se-Indonesia. Setahun pun belum tentu terkelilingi. Perlu cara yang lebih efektif untuk memetakan persoalan di lapangan dan menghasilkan solusinya. Sebenarnya, permasalahan di lapangan sudah sama-sama diketahui. Yang diperlukan hanya eksekusi solusi. Siapa yang pegang birokrasi pemerintahan? Siapa yang pegang roda pemerintahan?

Ahok pantas untuk mendapatkan kesempatan untuk itu. Biarkan Ahok yang pegang kendali birokrasi pemerintahan. Biarkan Ahok membersihkan noda-noda kotor yang membandel di birokrasi. Indonesia butuh sosok yang tegas dan lurus seperti Ahok. Mungkin di awal, pasti terkaget-kaget dengan gaya Ahok. Tapi yakin, Indonesia lama-lama akan menerimanya. Setiap orang punya gayanya masing-masing. Jangan sampai gaya mengaburkan esensi utama.

Bagaimana dengan tokoh seperti Yusuf Kalla yang juga digadang-gadang sebagai Cawapres? Sebaiknya beliau menjadi penasihat saja. Pengalamannya yang telah sarat, tetap sangat berguna, namun cukuplah sebagai pemberi pertimbangan kepada Presiden. Tut Wuri Handayani saja. Bagaimana dengan Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Mahfud MD, dan lain-lain? Mereka layak kok jadi Menteri. Bukan karena partainya.

Bagaimana dengan Jakarta? Haruskah ditinggalkan oleh kedua pemimpinnya? Tidak usah khawatir dengan Jakarta. Masa Jakarta yang katanya kiblat pembangunan di Indonesia tidak mampu menghasilkan pemimpin unggulan lagi? Mengalah untuk Indonesia. Yakin saja… masih banyak pemimpin di Indonesia yang bisa membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Seperti halnya kota-kota lainnya. Sudah mulai banyak bermunculan para pemimpin jempolan seperti Tri Rismaharini di Surabaya, Ridwan Kamil di Bandung, Nurdin Abdullah di Bantaeng, Ramdhan Pomanto di Makassar, Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Bima Arya di Bogor, atau pemimpin-pemimpin unggulan lainnya. Mari kita munculkan pemimpin jempolan untuk Jakarta.

Gubraaakkk….! Hari sudah mulai pagi, jam weker sudah berbunyi. Saatnya untuk mempersiapkan anak-anak sekolah. Ternyata saya tengah bermimpi… Selamat pagi. Salam. (Del)

 

Pemilu Legislatif: Pilih Simbol, Tampang, atau Rekam Jejak?

Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk berleha-leha dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Waktu istirahat harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Nonton TV, baca buku, menulis, browsing-browsing di dunia maya, menyantap kudapan ringan, atau bermain game menjadi pilihan utama yang wajib dilakoni. Terkadang masih sempat melakukan beberapa hal yang menarik hati. Mungkin tidak berlaku sama untuk orang lain, terutama untuk yang tengah mempersiapkan diri, mencalonkan menjadi salah satu anggota legislatif.

Ya, Hari Minggu ini berbeda dengan Hari Minggu biasanya. Hari ini, MInggu, 16 Maret 2014 hingga 5 April 2014 masa kampanye pemilu 2014 telah dimulai. Hiruk pikuk kampanye di Kota Jakarta maupun di belahan kota lainnya tengah berlangsung. Bagaimana dengan saya? Tetap lebih memilih berleha-leha di rumah, hehehe.. sambil mencoba mengamati hal-hal menarik terkait kegiatan kampanye.

Saya  dan sebagian besar warga biasa lainnya, mungkin tergolong orang yang tidak terlalu memahami seluk beluk politik. Untuk menghadapi pemilu legislatif 9 April mendatang belum menentukan pilihan. Boro-boro menentukan pilihan, mengetahui siapa orang yang akan mewakili kami sebagai warga juga tidak. Pertanyaannya, “Memang yakin merasa terwakili?” Hehehe.. Jangan ditiru ya…  Tapi, jangan salah, orang-orang seperti saya, belum tentu juga akan golput. Hanya merasa perlu untuk mengenali lebih jauh tentang calon wakilnya.

Berdasarkan hasil browsing-browsing di internet, banyak hal menarik ditemukan. Banyak cara yang dilakukan oleh para calon legislatif untuk menarik simpati masyarakat. Mulai dari memasang juru kampanye Nasional, mengundang artis kenamaan ibukota, bagi-bagi souvenir, menempelkan stiker di mana-mana, memasang gambar di angkutan kota, memasang poster di pohon-pohon, dan memasang baliho sekreatif mungkin. Efektifkah? Saya rasa belum tentu. Tapi yang jelas, sangat mengotori kota.

Cobalah perhatikan gambar/foto para calon legislatif yang tersebar di baliho-baliho. Ada satu tampilan yang sangat tipikal atau bisa disebut standar bagi para calon legislatif yang nampang di baliho. Para calon legislatif yang laki-laki pasti akan mengenakan peci dan calon legislatif wanita akan mengenakan jilbab. Tidak lupa, mereka akan memasang senyum yang paling manis. Apakah itu sebagai simbol untuk menunjukkan tingkat kesalehannya? Ataukah untuk menunjukkan simbol kebaikan hatinya? Ada pula yang dengan tampilan mengepalkan tangan seakan tengah berseru, “Merdeka!”. Apakah untuk menunjukkan simbol semangat? Banyak pula yang selain menampilkan foto diri, juga memajang foto pemimpin partainya atau tokoh idola di partainya. Banyak caleg Demokrat menampilkan foto dirinya dan foto SBY. Caleg Gerindra, didukung dengan foto Prabowo. Caleg dari PDIP banyak pula yang menampilkan foto Megawati atau Soekarno. Caleg dari Golkar, banyak pula yang masih mengusung Soeharto. Semua masih terjebak dalam simbolisasi.

Masih banyak pula partai politik yang masih mengandalkan strategi mendulang suara dengan memasang artis-artis atau tokoh terkenal lainnya. Tampang tampan dan cantik masih menjadi andalan untuk menarik perhatian masyarakat. Tidak ada yang salah dengan artis yang mencalonkan diri menjadi caleg. Asal memang memiliki kemampuan untuk itu. Semoga masyarakat dapat lebih pintar menentukan pilihannya.

Dalam baliho, para calon legislatif berusaha menonjolkan diri, memuji diri seakan mereka yang terbaik. Kata-kata muda, jujur, pintar, peduli, santun, berani, tegas, anti korupsi, berjuang untuk rakyat, dan beragam kata yang menjunjung lainnya banyak bertebaran.

Di antara sekian banyak baliho yang tersebar, banyak yang cukup menarik perhatian, bahkan membuat mulut tidak luput menyunggingkan senyum. Walau, terkadang membuat miris. Adakah mereka layak untuk mewakili masyarakat? Semoga masyarakat Indonesia semakin pintar dalam memilih, tidak tertipu oleh pesona foto yang terpampang di baliho.

 Pada masa kampanye, diharapkan warga dapat lebih mengenali para calon wakilnya, mengenali rekam jejak mereka, tidak hanya seperti memilih kucing dalam karung. Patut disadari, tidak mudah untuk mengenali calon yang ada. Selain karena waktu kampanye yang cukup singkat, juga karena rekam jejaknya memang belum terlihat. Sangat wajar, akan ada masyarakat yang memilih calon legislatif, tanpa perduli siapapun orangnya, yang penting dari mana partai itu berasal. Unsur ketokohan dan simbol masih akan mewarnai pemilu legislatif kali ini. (Del)

Lukisan Pemandangan Legendaris itu Ternyata Ada

Gambar

Gambar Legendaris Kala TK dan SD

Masih ingatkah pelajaran menggambar ketika jaman TK atau SD dulu? Entah mengapa, sepertinya setiap TK atau SD memiliki protap gambar pemandangan yang baku. Buktinya, ketika iseng bertanya ke teman-teman, selalu mengiyakan, “Iya, dulu kita juga diminta menggambar pemandangan seperti itu”.

Gambarnya selalu memiliki penampakan dua buah gunung berbentuk segitiga berjajar. Bentuknya kadang benar-benar segitiga lancip atau terkadang sudah mengalami penghalusan, tidak lancip lagi. Di antara kedua gunung, selalu tergambar matahari yang bersinar. Kadang dilengkapi dengan mata dan mulut yang menyunggingkan senyum. Tak tertinggal, garis-garis lurus yang menggambarkan sinar matahari yang bersinar.  Pada bagian langit akan ada gambar awan putih. Terkadang terbalik, awannya berwarna biru sedangkan langitnya berwarna putih. Tidak lupa tergambar pula burung-burung dengan metode penggambaran yang sama persis.

Masih belum cukup sampai di sana. Pada bagian bawah gambar, juga memiliki gambaran yang kurang lebih sama. Selalu ada jalan yang berasal dari kaki gunung dan di sebelah kiri dan kanannya sawah yang membentang hijau. Ditambah dengan gambar rumah dan pohon, lengkaplah sudah gambar pemandangan standar TK dan SD. Dulu sempat bertanya, “Kenapa kalau gambar pemandangan harus seperti itu?”.

Siang tadi, mendapatkan kiriman gambar dari teman. Ternyata gambar legendaris itu benar-benar ada di Indonesia. Berarti, mungkin guru-guru jaman dahulu, terinspirasi oleh pemandangan itu. Terus terang, baru tahu. He..he..he.. Terlintas di benak, inilah salah satu kesalahan yang ada. Dari jaman dulu, kita kurang dapat mengembangkan kreativitas. Setiap TK dan SD menggambar pemandangan yang sama. Mengacu pada satu gambar pemandangan. Padahal, Indonesia sangat kaya dengan alam yang indah. Seharusnya gambar pemandangannya, tidak hanya terpaku pada satu gambar. Tapi mungkin gambar tersebut yang menjadi dasar awal gambar pemandangan. Pengembangannya, terserah masing-masing anak.

Ternyata selama ini kita terdoktrinasi oleh Gambar pemandangan dari Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kedua gunung itu letaknya memang berdekatan serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Gunung Sumbing berada di sebelah Barat Daya Kota Temanggung dan sebelah Timur Kota Wonosobo sedangkan Gunung Sindoro berada di sebelah Barat Laut Temanggung dan sebelah Timur Laut Wonosobo. Sebuah doktrinasi ala Temanggung dan Wonosobo. Seorang teman berceloteh, “Berarti guru jaman dulu banyak yang berasal  dari Temanggung dan Wonosobo. Di kampungnya sana memang pemandangannya seperti itu”. Senyum tersungging. Boleh jadi demikian.

Lingkungan di sekitar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing memang masih asri. Panorama alam yang apik dan lokasinya yang dekat dengan dataran tinggi Dieng menjadikan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata. Menarik juga jika menjadikannya wisata lukisan alam legendaris. Seperti yang diajarkan guru-guru TK dan SD jaman dulu.

Masihkah anak sekarang diajari juga menggambar pemandangan seperti itu? (Del)

Sumber : Sindoro dan Sumbing Gunung Kembar yang Menantang