Jokowi Komunis dan Pembohong? Cukup Sudah!

Sauuuuurrrrr……sauuuuurrrr!! Sauuuuuurrrr……sauuuuuuurrrr!!! Lengkingan suara disertai bunyi kentongan dan bunyi-bunyian lain bersahutan membuat terjaga siapapun yang mendengarnya. Kadang berkumandang membentuk alunan nada tertentu, namun selebihnya berupa teriakan. Nyanyian dan kokokan ayam kalah nyaring. Ayam pun langsung mengkerut kalah saing. Adakah yang masih terlelap dalam balutan selimut? Saya rasa tidak. Semua pasti terhentak dari keheningan awal.

Ada untungnya juga teriakan sahur di dinihari. Setidaknya, tidak perlu membunyikan weker di kamar atau mengaktifkan alarm di telepon genggam. Dijamin kita akan terbangun dengan sendirinya.  Terbangun kala matahari masih terlelap dalam peraduan adalah waktu yang  tepat untuk menulis. Saat yang pas untuk menuangkan beberapa hal yang menggelayut dalam benak.

Suasana senyap sesaat. Mungkin semuanya tengah menikmati santap sahur di rumahnya masing-masing atau di warteg yang terletak di ujung jalan. Atau mungkin juga sebagian kembali terlelap menunggu terbitnya mentari. Dan saya masih terjaga. Menulis dengan diselingi lamunan beberapa jenak.  Tugas  pekerjaan masih menumpuk.

Lamunan terpecah seketika begitu terdengar bunyi pengeras suara dari Masjid dekat rumah. Waktunya Imsyak, disambung dengan Sholat Subuh. Saya bukan Muslim. Tinggal di Jakarta Pusat. Tidak begitu jauh dari rumah, terdapat Masjid yang lumayan besar dengan jarak kurang dari 100 m. Tidak ada yang salah pula dengan hal itu. Kami dapat hidup berdampingan dan saya tidak merasa keberatan sama sekali.

Beberapa saat kemudian, seperti di tahun-tahun sebelumnya, terdengar ceramah atau wejangan subuh. Mungkin istilahnya bukan wejangan subuh. Tapi yang jelas suaranya terdengar sampai rumah. Materi ceramahnya pun dapat saya tangkap dengan jelas tanpa perlu hadir di Masjid yang bersangkutan. Cukup dari kamar rumah.

Yang menggelitik dan cukup mengusik adalah materi ceramahnya. Ternyata Masjid dekat rumah pun tak luput dari gonjang-ganjing pilpres berikut beragam isu-isu terkait. Dapat saya katakan isu bahkan cenderung kampanye hitam karena tidak tahu juntrungannya dari mana. Anehnya lagi, kenapa itu bisa terjadi di Masjid, yang jelas-jelas dalam aturan tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

Sang penceramah mulai menyitir ayat-ayat Al Quran tentang dosa kebohongan dan mengaitkannya dengan seseorang yang telah berbohong. Awalnya bersedia mengemban amanah sebagai Gubernur selama 5 tahun dan sekarang berbuat ingkar dan berbohong. Itu dosa. Tanpa menyebut nama, namun sudah jelas siapa yang dituju.

Teringat hampir 2 tahun lalu, pada masa-masa kampanye Calon Gubernur DKI Jakarta, hal serupa terjadi di Masjid yang sama. Materi ceramah waktu itu juga terkait dengan peniupan isu bahwa Jokowi non Muslim dan berasal dari keluarga Non Muslim. Sebaiknya seorang Muslim memiliki pemimpin dari kaum sesama Muslim. Mengapa cara-cara itu yang digunakan? Dengan menggunakan isu-isu yang jauh dari kebenaran.

Okelah. Katakan Jokowi telah berbuat ingkar. Tapi ternyata penceramah tidak berhenti di sana. Beliau mulai mengungkit tentang Revolusi Mental dan mengaitkannya dengan ideologi Komunis yang harus dijauhi. Beliau berulang menanyakan, “Maukah kita dipimpin oleh orang yang tersangkut komunis?”.

Mungkin penceramah terinspirasi oleh Fadli Zon yang juga menuduh konsep revolusi mental dekat dengan komunis. Konon katanya, masih menurut Fadli Zon, Karl Marx menggunakan istilah “revolusi mental” dalam bukunya “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869.  Namun ada juga yang mengklaim bahwa konsep revolusi mental adalah konsep dari Mahatma Gandhi. Gandhi mengemukakan argumen bahwa kemerdekaan politik harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan.

Kalau menurut pemahaman saya setelah membaca tulisan revolusi mentalnya Jokowi, yang dimaksud dengan revolusi mental oleh Jokowi tidak dalam konotasi revolusi secara radikal. Namun lebih pada sebuah gerakan moral dalam rangka memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai yang berlaku universal. Untuk pembangunan karakter sumber daya manusia. Tidak ada kaitannya dengan komunisme.

Jadi teringat sebuah tayangan beberapa hari lalu di TVOne yang menampilkan wawancara dengan Prijanto, mantan Wagub DKI Jakarta yang mengatakan bahwa mengacungkan tangan kiri, terkait pula dengan ciri-ciri komunisme. Walah! Adakah hubungannya antara acungan tangan kiri sambil mengepal dengan ajaran komunisme? Bagaimana kalau itu dilakukan karena pada saat orasi, tangan kanannya memegang mike? Apakah itu juga terkait komunisme? #Geleng-geleng…. Atau juga kaitan antara sapaan Kawan Jokowi dengan Komunisme. Wis….! Apa lagi ini….!

Saya bukan pendukung fanatik Jokowi atau tim sukses Jokowi-JK. Bahkan, dapat dikatakan, saya masih termasuk swing voter. Dalam arti, hingga kini masih mencoba berpikir secara rasional. Saya ingin suara saya dapat lebih teralokasikan secara rasional. Memilih yang memang benar-benar layak untuk menjadi Presiden. Memilih yang benar-benar pantas untuk mengemban amanah. Cukuplah sudah! Masa-masa pilpres bukanlah masa-masa pembodohan secara masal.  Jangan sampai para swing voter justru menentukan pilihan bukan karena kelebihan salah satu pasangan, namun hanya karena cara-cara tidak simpatik yang dilakukan para pendukung fanatik.

Cukup sudah! Hentikanlah cara-cara yang tidak semestinya. Stop cara-cara yang dapat menodai arti demokrasi. Okelah kalau itu tidak dapat dikategorikan kampanye. Tapi, menurut hemat saya, sebuah tempat ibadah, harus dijaga kesuciannya, dan tidak dijadikan sebagai tempat untuk mendiskreditkan salah satu pasangan Capres/Cawapres tertentu dengan dibumbui keberpihakan pada pasangan lainnya. Biarlah di bulan Ramadhan ini benar-benar diisi dengan kegiatan yang memang berhubungan dengan Ramadhan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selamat sore. Salam. (Del)

 

 

Advertisements

Teguh Mengaku Kristen, Tiang Gantungan Imbalannya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Sesak rasanya dada ini ketika membaca beberapa media online luar negeri yang memberitakan tentang seorang wanita bernama Meriam Yehya Ibrahim. Wanita Sudan berusia 27 tahun yang memiliki satu orang putra dan tengah hamil 8 bulan ini telah divonis mati dengan cara digantung pada Kamis, 15 Mei 2014 oleh Pengadilan Khartoum, Sudan. Meriam dinyatakan bersalah karena tetap bertahan dengan iman Kristianinya. Dia dianggap murtad dan melanggar syariat Islam. Divonis bersalah karena menolak untuk masuk Islam. Selain digantung, ibu ini juga harus menghadapi hukuman cambuk 100 kali karena dianggap bersalah telah melanggar hukum syariat, menikah dengan non-muslim.

Heuuuuhhh… mengapa harus seperti ini? Mengapa seseorang harus meregang nyawa karena iman dan keyakinannya? Pengadilan telah meminta Meriam untuk kembali menganut Islam, namun dia menolaknya dan bersikukuh bahwa sejak kecil telah menganut Kristen. Namun, tidak demikian halnya dengan pengadilan Khartoum, Sudan. Pengadilan mengklaim bahwa Meriam adalah seorang Muslim karena ayahnya, yang telah meninggalkan keluarga ketika berusia enam tahun adalah seorang Muslim. Meriam tetap bersikukuh bahwa dia memeluk Kristen Ortodoks Ethiopia sejak kecil mengikuti ibunya yang juga seorang Kristen. Dengan tegas Meriam mengatakan, “Saya Kristen, dan saya akan tetap menjadi seorang Kristen”.

Tiang gantungan tengah menanti Meriam Yehya Ibrahim. Pengadilan memutuskan Meriam akan menjalani hukuman setelah melahirkan anaknya dan membesarkannya hingga usia dua tahun. Saat ini, Meriam berada di penjara bersama dengan bocah lelaki, anak pertamanya yang berusia 20 bulan.

Pada tahun 2012, Meriam menikah dengan seorang pria beragama Kristen pada sebuah gereja yang tidak diakui oleh petugas pemerintah setempat. Di pengadilan, Meriam menegaskan bahwa dia tidak pernah berganti keyakinan, dia menganut Kristen sejak kecil.

Daniel Wani, suami Meriam mengatakan kepada CNN, “Saya begitu frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, hanya bisa berdoa”. Suaminya mengatakan bahwa Meriam Kristen tapi pengadilan menganggap bahwa dia Muslim.

Sangat menyedihkan. Seorang wanita, dihukum mati karena mempertahankan keyakinannya, dan dicambuk karena dianggap menikahi pria yang berbeda keyakinan.

Saat ini, berbagai aktivis dari beragam lembaga internasional terkait hak asasi manusia tengah mencoba untuk menentang putusan pengadilan Khartoum dan menekan pemerintah Sudan. Putusan pengadilan Khartoum mendapat protes keras dari sejumlah lembaga hak asasi manusia. Sebuah lembaga bernama Stategic Initiative for Women dan sejumlah aktivis menggelar kampanye internasional untuk menekan Pemerintah Sudan. Semoga upaya-upaya yang dilakukan berhasil dan Meriam terbebas dari hukumannya.  Amin. (Del)
Beberapa berita tentang Meriem Yehya Ibrahim:

 

Ide Besar dari Negara Kecil yang Dapat Mengubah Dunia

Saya setuju dengan pernyataan “bahagia itu relatif”. Alasan bahagia yang dirasakan seseorang belum tentu sama dengan yang lainnya. Rasa bahagia yang dirasakan oleh seseorang belum tentu memiliki kadar yang sama dengan yang lainnya. Bahagia juga tidak selalu berbanding lurus dengan kemakmuran dan kekayaan materi. Bahagia dapat dihasilkan dalam situasi maupun kondisi yang berbeda dan tergantung cara kita memandangnya. Bahagia pun merupakan sebuah pilihan. Bahagia akan senantiasa hadir bila kita dapat menyukuri sesuatu yang kita miliki.

Terdapat berbagai survey yang mengungkapkan tentang  indeks kebahagiaan negara. Sebuah badan PBB, yaitu UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) telah melakukan survey untuk mengukur indeks kebahagiaan (index of happines) dengan membandingkan kondisi negara-negara di dunia. Penilaian tingkat kebahagiaan dilakukan berdasarkan kebijakan yang diambil pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya, terutama terkait indeks kebebasan, korupsi, dan PDB perkapita masing-masing negara.

Akan tetapi, beda halnya dengan Bhutan. Bhutan merupakan sebuah negara kecil yang berada di Asia Selatan yang dikenal sebagai Negeri Naga Guntur. Sang Raja, Jigme Singye Wangchuck IV memiliki tolok ukur yang berbeda untuk mengukur kebahagiaan. Jika umumnya tingkat kemajuan negara dilihat berdasarkan Gross Domestic Product (PDB)-nya, maka Bhutan memiliki Gross National Happiness (GNH). Sejak tahun 1971, Bhutan menolak Gross Domestic Product (GDP) sebagai satu-satunya cara untuk mengukur kemajuan. Pada tahun 2005, Bhutan telah menarik perhatian dunia, ketika Sang Raja memperkenalkan teorinya/pendekatannya bahwa kemakmuran diukur berdasarkan tingkat kebahagiaan. Teorinya terkenal dengan “Model Bhutan”. Menurut Model Bhutan, kebahagiaan adalah perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, perlindungan terhadap lingkungan hidup, dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional di atas perkembangan ekonomi.

Banyak tindakan yang telah dilakukan Bhutan dalam hal pelestarian lingkungan. Misalnya dengan menerapkan larangan merokok untuk seluruh negeri serta melarang impor kantong plastik. Setiap orang setiap tahun minimal harus menanam 10 batang pohon. Tutupan hutan di Bhutan masih bertahan di kisaran 72% dan meraih urutan nomor 1 di Asia. Sebesar 26% lahannya dijadikan taman nasional. Untuk itulah Bhutan pada 2005 meraih hadiah sebagai “Pengawal Bumi” dari PBB.

Raja Jigme Singye Wangchuck telah memperkenalkan reformasi yang signifikan. Beliau rela memindahkan sebagian besar kekuasaannya kepada Perdana Menteri. Sang Raja tidak mengedepankan perkembangan ekonomi semata melainkan memiliki keinginan untuk menjadikan sebuah negara yang berbahagia.

Setali tiga uang antara Raja dengan Perdana Menterinya, Tshering Tobgay, 48, yang terpilih tahun lalu. Dia percaya bahwa bila menginginkan “Model Bhutan” diterima dan ditiru oleh negara lain, Bhutan harus membuktikan bahwa filosofi GNH telah sukses diterapkan. Prioritas utamanya tetap penerapan filosofi GNH di negeri Bhutan sendiri.

Tobgay merupakan perdana menteri kedua sejak Raja Jigme memperkenalkan demokrasi di Bhutan pada tahun 2008. Tobgay mengkhawatirkan negaranya yang lokasinya terjepit di antara India dan China dalam kondisi yang berbahaya. Ini dimungkinkan bila terjebak pada situasi rasa nyaman atas image positif yang diberikan oleh dunia luar. Kontradiksi dengan kondisi yang secara realistis harus dihadapi oleh Bhutan. Bhutan tidak luput dari permasalahan yang tengah dihadapinya, seperti tingkat pengangguran kaum muda, kemiskinan, PDB yang rendah, dan sebagainya.

Meskipun memiliki tingkat PDB yang rendah dan tekanan politik untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan mengatasi migrasi ke ibukota, Tobgay masih memiliki keyakinan untuk menemukan cara meningkatkan kemakmuran tanpa mengorbankan prinsip GNH. Tobgay tidak menginginkan pembangunan yang dilakukan di negaranya menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengorbankan nilai-nilai budayanya.  Setiap perusahaan yang ingin menanamkan investasi di Bhutan tetap harus menerapkan prinsip GNH secara serius agar dapat mendapatkan nilai tambah, tetap menghormati nilai-nilai yang dianut Bhutan dan sesuai dengan budaya. Syarat utamanya, harus mendukung Bhutan untuk mencapai “green economy”.

Sebuah ide besar dari negara kecil Bhutan, yang bukan tidak mungkin akan mengubah dunia. Jika seluruh dunia dapat mengusung prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, kebahagiaan warga yang tinggal, hidup dan berpenghidupan di dalamnya, serta tetap memiliki rasa bahagia sebagai makhluk Tuhan yang menghormati dan menghargai keberadaan makhluk Tuhan lainnya, tidak mustahil akan tercipta dunia yang indah, aman, nyaman, dan tentunya bahagia.

Bagaimana dengan Indonesia? Salah satu kota yang belakangan ini juga turut mengusung “index of happiness” adalah Kota Bandung. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, juga mengusung kebahagiaan sebagai tolok ukur dengan konsep yang sedikit berbeda. Beliau bertekad untuk menjadikan Bandung sebagai kota yang penduduknya dapat tersenyum, menyapa, dan menemukan hal baru. Semoga terwujud.

Semoga pemimpin Indonesia yang akan terpilih nanti juga memiliki pertimbangan yang sama. Tidak hanya menjadikan Indonesia sebuah negara yang maju secara ekonomi, tapi juga menjadi negara yang masyarakatnya bahagia dan bangga tinggal di dalamnya.

Sudah ah… Sudah waktunya untuk kerja… Selamat Pagi. Salam. (Del)

 

Sumber :

1. http://www.theguardian.com/world/2012/dec/01/bhutan-wealth-happiness-counts

2. http://www.theguardian.com/sustainable-business/bhutan-prime-minister-business-gross-national-happiness

 

 

Renungan Paskah : Kekuatan untuk Berubah

Ilustrasi : Time for Change. Sumber : http://theinspiredva.com/wp-content/

Ilustrasi : Time for Change. Sumber : http://theinspiredva.com/wp-content/

Belakangan, budaya Korea seakan menyergap tiada henti, datang bertubi-tubi. Sengatan budaya asal negeri Ginseng menerpa Indonesia. Sebutlah budaya K-Pop, Drama Korea, baju ala artis Korea, kuliner Korea, destinasi wisata Korea dan Pulau Jejunya, juga tidak ketinggalan perawatan kecantikan ala Korea hingga operasi plastik.

Operasi plastik tidak pernah surut peminat, bahkan semakin banyak peminatnya. Orang rela menghamburkan puluhan juta uangnya untuk mengubah bentuk wajah maupun tubuhnya. Dengan jalan operasi, mereka berharap agar tubuh yang tidak proporsional dan kurang menarik dapat berubah menjadi lebih indah dipandang. Lewat operasi plastik, mereka berharap agar wajah yang semula standar dapat menjelma laksana artis terkenal, berubah menjadi cantik. Yang gemuk mendamba tubuh kurus, yang kurus bermimpi untuk memiliki tubuh sexy. Singkatnya orang merindukan terjadinya perubahan radikal. Orang berlomba ingin mengalami metamorfosis seperti yang terjadi pada seekor kupu-kupu. Dalam hitungan hari, ulat buruk rupa akan berubah secara radikal menjadi kupu-kupu nan cantik jelita. Perubahannya radikal, sangat berbeda jauh dari bentuk asalnya. Bisa dikatakan perubahan secara instan.

Tidak ada yang salah dengan metamorfosis. Justru setiap orang harus memiliki tekad dan niat untuk berubah. Berubah untuk menjadi lebih baik. Tidak hanya perubahan secara fisik, namun yang lebih penting perubahan hati. Sebuah metamorfosis hati. Wujudnya dapat berupa lenyapnya sifat-sifat buruk yang lama melekat dan terganti oleh sifat baik atau berupa perubahan keimanan kita pada Tuhan. Relakan diri kita untuk berubah menjadi makin beriman, makin bersandar pada Tuhan.

Teringat kisah seorang ibu (sebutlah Bu Mira) yang saya rasa dapat menjadi sumber inspirasi bagi hidup kita. Seorang ibu dengan 3 orang anak yang membutuhkan bimbingan, kasih sayang, pendampingan, dan limpahan materi selayaknya. Satu waktu, suaminya terlilit hutang bisnis yang demikian besar sehingga tidak mampu untuk membayar. Debt collector mulai kerap datang ke rumah. Perlahan tapi pasti satu persatu rumah, mobil, dan tabungan mulai terkuras. Suami yang tidak tahan menanggung beban hidup, mulai mencari pegangan di luar Kuasa Allah. Depresi akibat beban hutang membuatnya terpuruk dan bersandar pada kuasa lain, pada kekuatan supranatural, dukun, dan paranormal. Ketika menyadari kuasa di luar Tuhan tidak mampu memberikan jalan keluar, Sang Suami pergi meninggalkan rumah tanpa pesan. Tinggallah Bu Mira, harus menanggung sejumlah besar beban hutang yang tersisa dan beban membesarkan ketiga anaknya.

Bu Mira tidak mau patah semangat. Beliau berupaya keras dengan berbagai usaha untuk menutupi hutang-hutang suaminya dan mendidik serta mendampingi ketiga anaknya. Selain bekerja, beliau tidak lupa untuk tetap mendoakan suaminya agar dapat berubah. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan malam sebelum terlelap, senantiasa berdoa, “Tuhan, ubahkanlah suamiku, agar dapat menyadari kesalahannya”. Tanpa kenal lelah beliau bekerja dan berdoa.

Waktu terus bergulir tanpa adanya tanda-tanda berita dari Sang Suami. Suami tidak kunjung pulang. Tidak ada keajaiban yang terjadi. Dia tetap harus bekerja keras untuk melunasi hutang-hutang suaminya. Namun, perlahan, hutangnya sudah mulai berkurang. Hasil kerja kerasnya mulai menampakkan hasil.

Empat tahun berlalu, akhirnya kabar tentang suami didapat. Suami pulang ke rumah. Namun yang terjadi tidak seperti harapannya. Suami pulang justru dengan menambah beban baginya. Suami pulang dalam kondisi sakit parah. Stroke telah menyerangnya. Bu Mira harus menerima kenyataan, sekarang bebannya harus ditambah dengan merawat suami yang tidak dapat berjalan, hanya dapat terbaring lemah di tempat tidur.

Menyerahkah Bu Mira? Tidak. Beliau tetap berbesar hati, menerima suaminya, merawatnya, dan memberikan pengertian kepada anak-anaknya bahwa bagaimanapun, suaminya adalah ayah dari anak-anaknya. Dia tidak akan membiarkan anak-anaknya membenci ayahnya sendiri.

Ada satu yang berubah pada Bu Mira. Beliau telah mengubah doa yang setiap pagi dan malam diucapkannya. Dia tidak lagi mengucapkan, “Tuhan, ubahkanlah suamiku, agar dapat menyadari kesalahannya”, tapi menggantinya dengan, “Tuhan, kuatkan saya. Jadikanlah saya Ibu dan Ayah bagi anak-anak saya”. Tanpa dia sadari, doa itu telah menjadi sumber kekuatan bagi dirinya untuk tetap tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan hidup yang berat. Dia hanya memiliki keyakinan, bahwa berarti dia terpilih oleh Tuhan karena dianggap dapat menghadapi cobaan yang dihadapinya.

Akhirnya suaminya meninggal. Bu Mira merasa bahagia karena masih dapat mengurus suaminya ketika sakit hingga ke pemakamannya. Tidak ada dendam di hatinya.

Apakah keajaiban telah terjadi pada kehidupan Bu Mira? Apakah mujizat tengah bekerja dalam diri Bu Mira? Jika kita melihatnya secara sempit, kita tidak melihat keajaiban dan mujizat di sana. Bu Mira tidak mendapatkan suaminya berubah menjadi sadar akan kesalahannya. Bu Mira tetap harus bekerja ekstra keras untuk melunasi hutang-hutang suaminya, membesarkan anak-anaknya, bahkan ditambah pula dengan merawat suaminya hingga akhir. Tetapi jika kita melihatnya secara utuh, Bu Mira telah menyadari bahwa tidak mungkin meminta Tuhan untuk mengubah orang lain. Yang bisa dia lakukan adalah mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu, dengan pertolongan Tuhan. Dia tidak lagi menginginkan Tuhan untuk mengubah suaminya, tapi dia menginginkan agar Tuhan memberikan kekuatan pada dirinya untuk menghadapi permasalahan yang dia hadapi.

Saatnya untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik. Menanggalkan semua kebiasaan buruk, meninggalkan semua perilaku buruk. Mengubah diri menjadi lebih baik. Semoga Tuhan memberikan kekuatan.  Jangan pernah kecewa akan jawaban yang Tuhan berikan, karena Tuhan telah memiliki rencana-Nya sendiri. Rencana yang lebih besar dan lebih indah. Rencana yang akan Tuhan wujudkan jika kita mau berubah. Seperti Bu Mira. Sekarang beliau dapat memetik hasilnya. Hutang-hutangnya telah lunas dan ketiga anaknya telah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja. Tuhan memang senantiasa memiliki rencana yang selalu indah pada waktunya.

Selamat Hari Paskah bagi yang merayakannya dan selamat hari libur untuk semuanya. Salam. (Del)

 

Jokowi Tidak Identik dengan PDIP dan Ahok Tidak Identik dengan Gerindra

 

Jokowi - Ahok. Sumber : http://www.luwuraya.net/

Jokowi – Ahok. Sumber : http://www.luwuraya.net/

Pemilu legislatif telah usai. Saat ini, para calon anggota legislatif yang bertarung tengah harap-harap cemas menanti hasil akhir secara resmi. Akankah mereka dapat melenggang ke Senayan, ataukah harus mengubur impiannya dalam-dalam?

Hasil hitung cepat dari berbagai lembaga sudah ditayangkan. Perolehan suara masing-masing peserta pemilu versi hitung cepat sudah dirilis sejak hari pemilihan. PDIP muncul sebagai jawara pada kontestasi kali ini. PDIP menggapai puncak suara dengan hasil di kisaran 19 persen, jauh dari angka yang ditargetkan semula sebesar 27 persen. Suara-suara sumbang mulai bermunculan. “Jokowi Effect” ternyata tidak terbukti. Beberapa pentolan PDIP berkeyakinan bahwa dengan mendeklarasikan Jokowi sebagai Capres diharapkan dapat mendongkrak perolehan suara PDIP. Bahkan selentingan yang beredar, ini pula yang mengakibatkan sedikit kekisruhan di tubuh PDIP. Benarkah “Jokowi Effect” tidak berlaku?

Sebenarnya tulisan ini bermula dari tulisan sebelumnya “Seandainya Jokowi RI1 dan Ahok RI2”. Masih lekat dalam ingatan pada tahun 2004 ketika nama SBY melesat jauh lebih besar dari partainya atau ketika Jokowi-Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tanpa mengecilkan peran partai, partai jangan terlalu berbangga hati. Mereka terpilih rakyat jauh melebihi hitungan secara partai. Foke didukung oleh begitu banyak parpol yang kalau dengan pola pikir parpol atau kalkulasi parpol akan meraih kemenangan. Buktinya? Warga atau rakyatlah yang menentukan pilihan. Hanya dalam hitungan bulan, elektabilitas Jokowi naik pesat.  Oke lah, kalau ada yang mengatakan bahwa Jakarta berbeda dengan Indonesia. Warga Jakarta relatif lebih melek informasi. Tapi tetap, unsur figur masih yang utama, bukan parpol.

Ini pula yang terjadi pada pemilihan legislatif yang lalu.  “Jokowi Effect” tidak terjadi karena sosok seorang Jokowi, tidak serta merta identik dengan PDIP.  Di berbagai media sosial bahkan sempat beredar, “Jokowi Yes, PDIP No”. Pemilih bisa jadi memilih Jokowi sebagai Presiden bukan karena partainya, tapi karena figur Jokowi-nya, lantaran sosok Jokowi-nya.  Memang, kita harus menghadapi kenyataan bahwa Jokowi tidak mungkin dapat dicalonkan jika tidak memiliki dukungan suara parpol pengusungnya. Jokowi baru dapat menjadi Calon Presiden bila diusung satu atau beberapa partai gabungan yang mendapatkan 25% suara Nasional atau 20% kursi DPR. Tapi tetap, masyarakat cenderung untuk memisahkan antara figur dan partai. Tidak dapat disalahkan.

Kenyataan ini tidak terlepas dari sistem yang ada. Masyarakat telah dibuat bingung dengan banyaknya partai peserta pemilu. Masyarakat telah dibuat pusing dengan berbagai berita miring yang telah mencoreng semua partai yang ada. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tingkah polah orang-orang atau oknum-oknum di bawah naungan partai politik sudah hampir sampai pada titik nadir. Sangat sulit bagi masyarakat awam seperti saya yang setiap hari dijejali dengan berita berbagai media tentang kekisruhan maupun tingkah polah negatif para anggota parpol untuk memilih salah seorang yang dapat dipercaya.

Hal yang sama juga terjadi pada partai-partai yang lainnya. Masyarakat pemilih cenderung memisahkan antara figur seseorang dengan partainya. Mungkin Prabowo memang dapat disebut identik dengan Gerindra. Prabowo adalah Gerindra dan Gerindra adalah Prabowo. Seperti dulu, SBY adalah Demokrat dan Demokrat adalah SBY. Bisa jadi, elektabilitasnya pun berbanding lurus. Tapi tidak demikian halnya dengan Ahok. Ahok juga tidak identik dengan Gerindra. Seseorang yang memilih Ahok, tidak dapat serta merta dianggap sepaham atau mendukung Gerindra.

Dari kenyataan itu pula, sepertinya perolehan hasil pemilu legislatif akan berbeda dengan perolehan hasil Pemilu Presiden. Elektabilitas Jokowi akan tetap tinggi karena figur Jokowi dan bukan partainya. Tentu tergantung pula pada figur yang akan mendampinginya sebagai Calon Wakil Presiden. Gerindra yang telah jauh-jauh hari mengusung Prabowo sebagai Calon Presiden dan Prabowo yang sangat bersemangat untuk maju dalam pertarungan calon Presiden, tentunya sulit untuk berbesar hati memberikan tiketnya pada Ahok untuk maju mendampingi Jokowi. Sekali lagi, karena Ahok tidak serta merta identik dengan Gerindra  dan Gerindra tidak identik dengan Ahok. Kita lihat saja nanti.. Salam. (Del)

Pesan Menjelang Paskah: Melayani Sesama

Paus Fransiskus basuh kaki pada Perayaan Kamis Putih

Paus Fransiskus basuh kaki pada Perayaan Kamis Putih

Sempat sekilas melihat tayangan di TV tentang perayaan Kamis Putih yang dilayani secara langsung oleh Paus Fransiskus di rumah penampungan orang tua dan kaum difabel, yaitu Yayasan Don Carlo Gnochhi, Roma, Italia. Semenjak dinobatkan menjadi pemimpin Gereja Katholik ke 266, Paus Fransiskus ingin tetap konsisten dengan misinya, untuk melayani. Ini pula pesan yang secara kental ingin disampaikannya dalam Misa Kamis Putih, sebuah perayaan dalam rangkaian tiga hari suci menyambut Paskah. Paus Fransiskus membasuh kaki 12 orang, termasuk orang tua, penyandang disabilitas, dan seorang non Katholik berdarah Libya. Dengan keterbatasan usianya yang telah mencapai 77 tahun, terlihat Paus Fransiskus dengan susah payah membungkuk untuk membasuh kaki, melap, lalu mencium kaki-kaki tersebut. (Kamis, 17/4/2014).

Ke dua belas orang yang dibasuh kakinya oleh Paus Fransiskus berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda dari sudut usia, etnis, maupun agama. Ada bocah yang terpaksa harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda karena tulang punggungnya patah, ada wanita tua yang juga harus duduk di kursi roda, ada wanita yang menderita cerebral palsy, termasuk juga Hamed, seorang Muslim asal Libya yang menderita kerusakan saraf yang sangat berat.

Paus menyampaikan bahwa ritual membasuh kaki, mengingatkan dirinya sendiri untuk melayani sesama. Ritual ini tidak hanya dilakukan tahun ini saja. Tahun yang lalu, Paus asal Argentina tersebut juga membasuh kaki 12 orang narapidana. Ini di luar kebiasaan Paus sebelumnya. Paus sebelumnya biasanya membasuh kaki 12 imam terpilih di Vatikan. Ritual baru yang diciptakan oleh Paus Fransiskus ini telah mengubah tradisi sebelumnya.

Paus Fransiskus ingin menyampaikan pesan bahwa sudah selayaknya manusia mencontoh teladan Yesus yang juga membasuh kaki kedua belas muridnya pada malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Yesus telah mengabdikan diriNya sebagai seorang pelayan yang melayani. Sesuai dengan firmanNYa, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Jadi teringat hiruk pikuk demokrasi yang tengah terjadi di Indonesia saat ini. Bagi para calon legislatif yang tengah harap-harap cemas menanti hasil pengumuman pemilihan legislatif atau para tokoh yang tengah bersaing untuk menduduki kursi Presiden maupun calon Presiden, atau para pemimpin lainnya, perlu diingat. Menjadi pemimpin bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Melayani dengan hati, dengan sepenuh hati untuk rakyat yang dipimpinnya. Melayani dengan hati mengandung pengertian melayani dengan sungguh-sungguh bahkan melupakan tingginya jabatan yang disandangnya, melupakan status sosialnya, turun dan berbaur dengan masyarakat, bahkan bersedia menjadi “hamba”, untuk melayani sesama manusia. Jangan sampai yang terjadi adalah setiap orang berlomba-lomba untuk melayani kepuasan diri sendiri.

Selamat merenungkan makna Jumat Agung dan menyambut perayaan Paskah bagi yang merayakan serta selamat menikmat libur panjang untuk semuanya. Salam. (Del)

 

Aih …. Senangnya Beristri Banyak di Pulau Sumba!

Hamparan Sawah yang menghijau di Pulau Sumba

Hamparan Sawah yang menghijau di Pulau Sumba

Padang savana di Pulau Sumba

Padang savana di Pulau Sumba

Selain menyimpan sejuta keindahan alam nan eksotis, Pulau Sumba juga mengguratkan aneka adat  istiadat yang menarik untuk disimak. Sumba selalu menarik untuk ditelisik lebih jauh. Mungkin tidak semua orang di Pulau Sumba makmur. Namun, jangan pernah tertipu oleh penampilan sederhana, kulit hitam kering, pakaian lusuh berlumuran lumpur, serta jauh dari perawatan wajah dan tubuh. Tidak berarti mereka hidup serba kekurangan, tidak berarti mereka miskin. Bisa jadi sebaliknya.

Jika ditanya lebih lanjut, “Berapa ternak yang Bapak punya?” Tidak perlu terkaget  jika jawabannya ratusan. Atau tanyalah, “Berapa luas sawah yang Bapak miliki?”. Tidak perlu terheran jika responnya puluhan hektar. Mereka tidak seperti warga Jakarta yang menyimpan uangnya di bank. Harta mereka berserakan di kebun dan padang rumput, tanpa takut ada yang mengambil atau merampasnya. Harta mereka dibiarkan berkeliaran di padang rumput karena hartanya berupa ratusan ekor hewan ternak, baik sapi maupun kuda. Harta mereka juga berbentuk puluhan hektar sawah yang membentang di Bumi Sumba.  Bahkan mereka tidak tahu persis area yang mereka punya. Jika ditanya batas propertinya, mereka jawab, “Sampai kumpulan pohon kehi di ujung sana…”. Sebagai catatan, pohon kehi adalah pohon khas Sumba yang struktur dahan dan rantingnya terlihat sangat eksotis ketika musim kering.

Kaya, punya ratusan ternak, puluhan hektar sawah, tidak lengkap bila tidak memiliki istri lebih dari satu. Tidak hanya dua, tiga, atau empat. Bahkan ada pula yang lebih dari lima. Wajah standar tidak menjadi masalah. Ingin rasanya meneriakkan pertanyaan, “Haduh…! Apa tidak puas beristri satu?”. Untung masih dapat menahan diri, tapi tetap dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Hanya tentunya dengan nada yang lebih halus.

Jadi teringat lagu yang pernah diluncurkan oleh Ahmad Dhani dengan judul “Madu Tiga” yang bertutur tentang senangnya hati kalau beristri dua. Istri tua merajuk, balik ke rumah istri muda. Kalau keduanya ngambek, gampang saja.. Kawin lagi. Ternyata di Sumba bisa lebih dari lima, bahkan ada yang 12 sekaligus.

Masih penasaran, saya coba menelisik lebih lanjut alasan beristri banyak. Ternyata jawabannya simpel, “Supaya ada yang ngurus sawah dan ternak, kalau istri saya hanya satu, siapa yang ngurus sawah dan ternak?”. Agak sulit untuk diterima akal pikiran saya. Pasti akan muncul pertanyaan lanjutan, “Mengapa tidak mempekerjakan orang lain untuk mengurus sawah dan ternak? Bukankah lebih baik menggaji pekerja?” Tapi tentunya kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk memiliki pendapat dan pandangan yang sama.

Kebetulan bertemu dengan salah satu Kepala Desa di Kabupaten Sumba Timur. Tepatnya mantan Kepala Desa karena minggu lalu anaknya yang terpilih untuk menggantikannya. Wajah tuanya terlihat jelas. Bajunya sangat lusuh, kulitnya hitam, dan masih terlihat lumpur di sana-sini. Tidak tampak bahwa dia memiliki properti yang sangat banyak. Ketika ditanya, ternyata beliau memiliki istri tiga. Tidak ada rasa canggung atau malu ketika beliau menjawab bahwa beliau memiliki istri tiga. Bahkan tanpa diminta, beliau menjelaskan bahwa anaknya, kepala desa yang sekarang, juga memiliki istri tiga. “Wow…!”.

Sempat pula lewat ke rumah seorang Sekretaris Desa. Orang dari Kabupaten langsung menjelaskan, “Itu rumah istrinya yang kedua. Rumah istri pertamanya tidak jauh kok..”. Terlihat sebuah rumah yang sangat sederhana. Tapi sekali lagi, jangan menilai seseorang dari rumahnya. Hartanya tidak kalah banyak.

Praktek poligami di Sumba sudah menjadi hal yang lumrah dan wajar.  Mungkin kita saja yang menganggap hal itu aneh. Beristri banyak agar ada yang mengurus propertinya. Dan lebih terheran lagi ketika mengetahui bahwa rumah para istrinya banyak yang berdekatan, demikian pula dengan rumah anak-anaknya.

Semakin terheran karena umumnya mereka sudah merupakan penganut Katholik atau Kristen Protestan. Bagaimana itu bisa diakui gereja yang menganut paham monogami? Jawabannya, “Yang diakui hanya istri yang pertama”. Tapi ada penjelasan yang sedikit melegakan dari salah seorang aparat kabupaten yang mengantar kami, “Tapi sekarang, sudah mulai jauh berkurang karena pengaruh gereja”.

Kita dengan mudah dapat menjumpai pria paruh baya, dengan jabatan hanya Kepala Dusun yang memiliki istri tiga. “Jangankan kepala dusun, pria biasa saja bisa memiliki istri tiga kok…”. Gubraaakkk ! Tepok jidat deh…

Tersenyum simpul sendiri, “Aih…senangnya para pria di Pulau Sumba ini. Butuh yang mengelola sawah dan ternak, tinggal kawin lagi…”. Timbul pertanyaan, “Apakah jumlah populasi wanita di Pulau Sumba lebih banyak? Sehingga perlu untuk menjadi istri kedua, ketiga, dan seterusnya?”.

Hari sudah mulai sore, sudah waktunya untuk kembali ke Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Pertanyaan demi pertanyaan masih menggelayut di benak. Sudahlah… itulah budaya mereka… Tapi pasti menarik jika menelitinya lebih lanjut.

Jadi… Tertarik untuk menjadi istri ke lima? Hehehe… Tidak saya sarankan lho… Selamat pagi. Salam. (Del)