Idris, Sosok Kepala Desa Bone-Bone di Kabupaten Enrekang yang Mendunia

Perawakannya kecil, cenderung kurus, dengan warna kulit kecoklatan tanda seringnya terbakar mentari. Tingginya tidak lebih dari 165 cm. Rambut dibiarkan tak tersisir rapi. Kumis dan janggut tipis seakan menempel seadanya. Mungkin juga karena tidak sempat dicukur. Beliau memiliki gaya bicara cukup lugas walau terkadang rentetan kalimatnya sulit untuk dipahami secara langsung. Sesekali logat bicara khas orang Bugis muncul ke permukaan. Sering kita harus menajamkan telinga, untuk menyimak dengan baik maksud kalimatnya. Ada satu kata yang dapat menggambarkan tampilannya secara keseluruhan. Sederhana. Kesederhanaan yang sangat bersahaja. Namun dibalik kesederhanaannya, terdapat kekuatan, tekad, dan kemampuan yang luar biasa.

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Mohammad Idris, Kepala Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Itulah sekilas gambaran umum sosok Pak Idris, seorang mantan Kepala Desa Bone-Bone, sebuah desa yang terletak nun jauh di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau saat ini dapat dikatakan “mantan Kepala Desa”, karena sejak Bulan April 2014, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Desa. Beliau mengundurkan diri karena merasa tertantang untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Enrekang dan ternyata situasi politik tidak terlalu berpihak padanya. Beliau gagal meraih kursi DPRD namun hingga saat ini tetap diakui sebagai salah satu tokoh masyarakat di Desa Bone-Bone. Salah satu tokoh yang tetap menjadi motor penggerak inovasi bagi pembangunan di desanya. Skalanya memang masih lokal, namun gaungnya sudah mendunia. Layak untuk menjadi inspirasi bagi belahan dunia lainnya.
Lalu pertanyaannya, “Apa yang menyebabkan namanya mendunia?”, “Kiprah apa yang beliau lakukan sehingga menjadikannya seperti selebriti yang diundang ke sana ke mari?”, “Apa hebatnya Pak Idris?”. Sudahlah…. Simak saja terus tulisannya….
Pak Idris hanya seorang Kepala Desa, bahkan sekarang hanya seorang mantan Kepala Desa dari sebuah desa kecil yang terletak di lokasi yang belum tentu semua mengenalnya, belum tentu semua pernah ke sana. Desa Bone-Bone, merupakan sebuah desa pegunungan yang dapat dijangkau sekitar 250 km atau 7 jam perjalanan darat dari Kota Makassar ke arah Utara. Dari desa inilah Pak Idris mewujudkan mimpi-mimpinya. Mimpi untuk mengantarkan desanya menuju ke arah yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih ramah pada lingkungan. Yang dibutuhkannya bukan segala macam teori yang njelimet. Beliau cukup menerapkan aturan yang telah disepakati dan dituangkan dalam Peraturan Desanya. Yang terpenting, berani menegakkan aturannya serta berani menerapkan sanksinya.

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan

Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber foto: http://www.mugniar.com/2013/

Desa Bebas Asap Rokok

Mimpinya yang pertama adalah menjadikan desanya sebagai desa yang bebas asap rokok. Sebuah mimpi dan gagasan sederhana yang ternyata dalam mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesungguhan dan ketegasan dalam menegakkan aturan. Aturan tidak hanya diterapkan bagi penduduk desanya, tapi juga berlaku bagi para tamu pendatang. Walau terkesan sederhana, untuk menegakkannya dibutuhkan keberanian dan ketegasan. Hasilnya patut diacungi jempol. Desa Bone-Bone diakui menjadi desa pertama di dunia yang bebas asap rokok. Di Desa Bone-Bone, tidak hanya berlaku larangan merokok, tapi juga larangan untuk menyimpan dan menjual rokok. Jika aturan tersebut dilanggar, sanksinya tidak main-main. Sanksi denda uang serta sanksi kerja sosial membersihkan mesjid atau sarana umum lainnya harus dijalani para pelakunya.
Pak Idris telah memulai kampanye anti rokok di desanya saat beliau menjadi Kepala Dusun, sekitar tahun 2001. Semua bermula dari keprihatinannya terhadap warga desanya yang banyak terkena sakit paru-paru serta keprihatinannya terhadap kaum muda dan anak-anak yang mulai terbiasa merokok. Selain itu, beliau juga merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa sebagian masyarakat di desanya mampu untuk membeli rokok namun tidak mampu menyekolahkan dan membeli buku untuk anak-anaknya.
Upaya untuk mewujudkan mimpinya tidak berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan yang menghadang. Namun, Bapak delapan orang anak lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Makassar ini tidak patah arang. Pola pendekatan persuasif terus ia jalankan. Pak Idris berupaya mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan tetua desa untuk menjelaskan bahaya merokok bagi kesehatan. Selain itu beliau juga berhasil mengubah budaya masyarakat desanya untuk tidak membiasakan menyediakan rokok sebagai suguhan kepada tamu atau pada setiap undangan hajatan. Akhirnya, upaya Pak Idris membuahkan hasil. Sekitar tahun 2005, desanya berhasil terbebas dari asap rokok.
Aturan Lainnya
Dalam perjalanannya, tidak hanya penerapan bebas asap rokok saja yang dilakukan. Desa Bone-Bone menerapkan pula aturan pelarangan membawa/memasukkan/memakan makanan yang mengandung bahan pengawet dan zat pewarna di wilayah desanya. Bagi yang melanggarnya, akan dikenakan sanksi, mulai dari memasakkan bubur kacang hijau untuk dibagikan kepada anak-anak, hingga sanksi denda berupa uang.
Diterapkan pula larangan membawa ayam ras atau ayam negeri ke dalam wilayah desa. Di wilayah Desa Bone-Bone hanya diijinkan untuk membawa/memelihara ayam kampung. Desa Bone-Bone sekarang menjelma menjadi Desa Hijau, atau desa yang telah menerapkan prinsip-prinsip yang sehat dan ramah terhadap lingkungan.
Ada satu aturan unik yang juga diterapkan dalam Peraturan Desa Bone-Bone, yaitu kewajiban bagi setiap calon pengantin untuk menanam lima hingga 10 batang pohon untuk mendapatkan surat pengantar ijin menikah dari desa.
Pengakuan untuk Bone-Bone
Pengakuan terhadap Desa Bone-Bone sebagai desa bebas asap rokok pertama di Indonesia dan di Dunia, serta sebagai Desa Hijau yang telah menerapkan prinsip-prinsip desa yang sehat dan ramah terhadap lingkungan datang dari berbagai pihak. Desa Bone-Bone mendadak dikenal oleh dunia luar dan banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Desa kecil yang memang memiliki pemandangan alam yang indah ini sudah mulai dikenal dunia luar.
Pak Idris, sang pembawa perubahan pun seakan mendadak menjadi selebriti, diundang ke sana ke mari. Sosok sederhana ini laris diundang baik sebagai narasumber maupun sekedar berbagi kisah suksesnya di hadapan berbagai kalangan. Penghargaan berupa PIN Emas dari Menteri Kesehatan RI telah beliau terima. Tak ketinggalan, Desa Bone-Bone pun terpilih sebagai juara lomba desa tingkat Nasional tahun 2012. Pak Idris semakin laku diundang. Beragam acara TV seakan berlomba untuk mendapuk Pak Idris sebagai bintang tamunya, seperti pada acara Mata Najwa, Kick Andy, Liputan 6, Jejak Petualang, maupun beberapa acara TV lainnya. Bahkan undangan untuk menjadi narasumber di luar negeri pun telah beliau lakoni. Tak kurang dari Pemerintah China telah mengundangnya untuk berbagi pengalaman. Kebetulan baru-baru ini saya berkesempatan untuk bertemu dan memandu beliau selaku narasumber pada salah satu forum untuk berbagi pengalaman dalam menegakkan aturan di desanya.

Bersama Pak Idris

Bersama Pak Idris

Apapun bentuk pengakuan untuk Desa Bone-Bone dirasa sangat pantas. Desa Bone-Bone merupakan salah satu contoh desa yang dapat menjadi kebanggaan Indonesia dan dapat memberikan inspirasi bagi desa-desa lainnya. Setidaknya, telah ada dua desa yang juga menerapkan aturan bebas rokok seperti Desa Bone-Bone.
Kiprah Pak Idris tidak berhenti di sana. Saat ini, beliau tengah giat mempromosikan produk unggulan desanya, yaitu kopi Enrekang. Ternyata, Kopi Toraja yang sudah mendunia itu sebagian besar merupakan hasil produksi dari Kabupaten Enrekang. Desa Bone-Bone yang memiliki luas sekitar 800 Ha didominasi dengan tanaman kopi dengan kualitas tinggi.
Satu hal yang dapat dipetik dari kisah Pak Idris. Teringat kata-kata bijak yang mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi matahari untuk dapat menyinari dunia. Cukup jadilah lilin kecil yang mampu menyinari lingkungan sekitar kita sebagai tahap awal”. Tak perlu memiliki kekuatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mulailah dari hal yang kecil dengan lingkup yang kecil. Niscaya, jika dilakukan secara konsisten dan bertahap, hasilnya akan luar biasa. Selamat malam. Salam. (Del)

Advertisements

Menyusuri Jejak Arsitektural Ridwan Kamil di Musium Tsunami Aceh

Telah lama memendam keinginan untuk berkunjung ke Tanah Rencong Aceh. Aceh termasuk salah satu destinasi yang belum pernah saya rambah sebelumnya. Beberapa kesempatan kunjungan ke sana selalu terkendala satu dan lain hal. Ketika kesempatan itu datang, yang terlintas di benak adalah Sabang dan Musium Tsunami. Kenapa Sabang dan kenapa Musium Tsunami? Sabang, karena tak lengkap rasanya kunjungan ke Merauke tanpa menggenapinya dengan kunjungan ke Sabang. Supaya seimbang dan paripurna, Sabang dan Merauke. Musium Tsunami, karena saya termasuk salah satu pengagum Ridwan Kamil, seorang arsitek yang kini menjadi Walikota Bandung. Sebagai pemimpin di Kota Bandung, gebrakan yang beliau lakukan untuk menata Kota sudah banyak dan sangat terasa. Sebagai arsitek, karya-karya arsitektural Ridwan Kamil patut diacungi jempol. Konsepnya sarat dengan makna yang filosofis. Banyak sekali karya-karyanya yang sudah diakui dunia.

Sepertinya Ridwan Kamil paham betul momok yang dipancarkan dari kata Musium. Beliau berupaya keras untuk menghindari stigma yang terlanjur melekat pada kata Musium. Mengapa orang enggan berkunjung ke Musium? Karena Musium kadung terstigma dengan pemahaman tentang sebuah tempat yang hanya berisi barang-barang peninggalan, barang-barang jadul yang ditata dalam lemari, berderet, dan berdebu. Minim perawatan dan tidak menarik sama sekali. Terutama bagi anak-anak muda jaman sekarang. Ridwan Kamil seakan ingin memutarbalikkan dan menghapus stigma tersebut. Upayanya cukup berhasil dengan hasil karyanya pada Musium Tsunami Aceh.

Keberadaan Musium Tsunami Aceh bermula dari lomba desain musium yang digagas oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh – Nias) untuk mengenang peristiwa Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Desain karya Ridwan Kamil yang waktu itu masih menjadi Dosen Arsitektur ITB keluar sebagai pemenang pertama menyisihkan 68 peserta lainnya dan karyanya diwujudkan secara nyata menjadi Musium Tsunami Aceh. Musium tersebut telah berdiri megah dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009 dan dibuka untuk umum sejak 8 Mei 2009.

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Musium Tsunami Aceh

Konsep Desain

Ridwan Kamil mengemas konsep rancangan Musium Tsunami Aceh dengan tema “Rumoh Aceh as Escape Building”. Kesan modern sangat terasa ketika kita melihat bentuk bangunannya dari luar. Jika dilihat, tampak depannya seperti kapal besar yang memiliki geladak luas sedangkan tampak atasnya seperti gelombang tsunami. Namun, jika ditelisik lebih dalam, desainnya tetap mengusung kearifan lokal yang tumbuh di lingkungan masyarakat Aceh. Tergambar dari ide dasarnya berupa rumah panggung Aceh yang sebenarnya ramah dalam merespon bencana alam serta konsep bukit penyelamatan (escape hill) sebagai antisipasi terhadap bahaya tsunami. Atau juga pada dinding bangunan yang mengadopsi konsep tarian khas Aceh, yaitu Tari Saman yang menggambarkan kekompakan dan kerjasama antar manusia. Kesan musium yang modern tersirat dalam bentuk ruang-ruang yang tidak hanya memamerkan benda-benda memorial belaka tapi bisa berupa taman terbuka yang dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya anak muda untuk mengekspresikan diri.

Konsep desain Musium Tsunami Aceh tersebut diimplementasikan dalam pembagian ruang-ruang yang sarat makna filosofis dan melayangkan ingatan serta perenungan kita pada tragedi tsunami yang lalu. Tata letak ruangan terutama di lantai satu Musium, didesain khusus sehingga pengunjung seolah diajak untuk mendalami dan merasakan efek psikologis dari bencana tsunami.

  1. Space of Fear

Perjalanan menjelajah Musium Tsunami Aceh bermula dari sebuah lorong sempit yang seakan mengajak pengunjung untuk turut merasakan suasana mencekam, saat-saat terjadinya bencana tsunami. Lorong yang gelap dengan dinding tinggi berwarna hitam di sisi kiri dan kanan serta aliran air di sepanjang dinding dengan bunyi bergemuruh cukup memberikan efek psikologis yang menakutkan. Untuk itulah lorong ini dinamakan dengan Lorong Tsunami. Suasana mencekam karena bunyi-bunyian, cipratan air, dan minimnya pencahayaan seolah ingin mendeskripsikan rasa takut masyarakat yang luar biasa saat para korban berlarian menyelamatkan diri dari kejaran gelombang air laut.

Mungkin bagi pengunjung yang masih memiliki trauma pada kejadian tsunami Aceh, tidak disarankan untuk melewati jalur ini. Pastinya akan membangkitkan kenangan yang buruk atas terjadinya tragedi dahsyat tersebut.

  1. Space of Memory

Selepas dari lorong tsunami yang sempit disertai dengan suasana mencekam, pengunjung diajak untuk memasuki sebuah ruangan yang dinamakan ruang kenangan (Memorial Hall). Di ruangan ini terdapat 26 buah monitor yang semuanya menyajikan gambar-gambar saat peristiwa tsunami. Slide-slide gambar dan foto yang dirangkai dalam setiap monitor seakan ingin membangkitkan kembali kenangan terjadinya bencana tsunami yang melanda Aceh. Untuk tetap memberikan suasana mencekam, ruangan ini juga didesain dengan pencahayaan yang minim. Rasanya tidak tega melihat gambar-gambar korban yang begitu menyedihkan.

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

26 Monitor berisi gambar-gambar tsunami

  1. Space of Sorrow

Space of Sorrow diwujudkan dalam bentuk Ruang Sumur Doa (Blessing Chamber). Ruangannya menyerupai sumur yang tinggi berbentuk seperti silinder dengan ribuan nama-nama korban tsunami yang terpampang di dinding. Menggambarkan kuburan massal para korban tsunami. Sumur ini hanya diterangi oleh pencahayaan yang berasal dari sinar di ujung atas sumur berbentuk lingkaran dengan tulisan kaligrafi Allah SWT. Filosofinya, ruangan ini menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya, dimaknai dengan kehadiran Allah sebagai harapan bagi masyarakat Aceh.

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Ribuan nama-nama korban tsunami di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

Blessing Chamber di Musium Tsunami Aceh

  1. Space of Confuse

Keluar dari Sumur Doa, pengunjung diajak untuk melalui jalanan yang berkelok-kelok dan tidak rata yang menggambarkan suasana kebingungan dari masyarakat Aceh tatkala terjadinya bencana. Kebingungan dalam mencari sanak dan saudara yang hilang, kebingungan karena kehilangan tempat tinggal, kebingungan karena kehilangan harta benda, dan kebingunan dalam menatap serta menata masa depan. Pengunjung diajak untuk melalui sebuah lorong gelap (lorong cerobong) yang membawa pada cahaya alami harapan bahwa masyarakat Aceh masih memiliki harapan dengan adanya bantuan dari dunia untuk memulihkan Aceh. Untuk itulah area ini dinamakan space of confuse.

Penunjuk arah

Penunjuk arah

  1. Space of Hope

Setelah lepas dari lorong cerobong, sampailah pengunjung pada sebuah jembatan yang dinamakan jembatan harapan (space of hope). Jembatan ini seolah mengingatkan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang kita hadapi, akan selalu ada harapan untuk bangkit dan meraih asa yang baru. Meraih uluran tangan dari para sahabat dan bersama-sama menyongsong hidup yang baru. Area ini dinamakan jembatan harapan karena saat melalui jembatan, kita dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang turut serta mengulurkan tangan memberikan bantuannya baik saat tsunami maupun pasca tsunami. Jumlah bendera tersebut sama dengan jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Sebuah kolam dengan air yang berwarna kemerahan dengan banyak ikan-ikan di dalamnya. Di tiap batu tertera tulisan kata “Damai” dengan bahawa dari masing-masing negara pemberi bantuan untuk merefleksikan perdamaian Aceh dari konflik yang mendera sebelum tsunami. Tsunami membawa berkah dan turut pula membantu proses perdamaian di Bumi Aceh, serta turut membantu merekonstruksi Aceh pasca bencana. Terdapat pula ruang yang menyajikan pemutaran film tsunami selama sekitar 15 menit yang menceritakan peristiwa dari mulai gempa, tsunami, hingga saat bantuan datang.

Bendera para donor

Bendera para donor

Pada lantai dua, kita diajak untuk melihat banyak foto-foto serta artefak yang berhubungan dengan tsunami. Misalnya, terdapat jam besar yang mati saat terjadinya tsunami. Jarum jam masih menunjuk pada pukul 08.17. Atau kita juga dapat melihat foto jam Masjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati dengan jarum jam yang menunjuk saat terjadinya bencana. Terdapat beberapa diorama yang menggambarkan seputar peristiwa tsunami. Ada yang menggambarkan suasana para nelayan dan masyarakat setempat yang panik berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi serta beberapa maket yang menggambarkan lansekap wilayah Aceh sebelum dan pasca bencana tsunami. Selain itu, ada juga ruang perpustakaan serta ruang alat peraga. Beberapa alat peraga yang ditampilkan antara lain bangunan tahan gempa, contoh patahan bumi, lukisan bencana, dan lainnya.

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

Jam besar yang menunjuk pada waktu terjadinya bencana tsunami Aceh

pengetahuan seputar tsunami

pengetahuan seputar tsunami

20141031_10583920141031_110029

Di lantai tiga Musium Tsunami Aceh, kita dikenalkan pada berbagai pengetahuan seputar gempa dan tsunami. Kita diajak untuk mengenali sejarah dan potensi tsunami di seluruh bumi, simulasi gempa yang bisa diatur sesuai dengan skala richternya, serta beragam desain bangunan dan tata ruang yang ideal untuk daerah rawan tsunami.

Musium ini dilengkapi pula dengan ruangan-ruangan yang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk mengenal dan menikmati beberapa penganan khas Aceh serta ruangan tempat dijualnya souvenir khas Aceh, terutama sulaman-sulaman khas Aceh yang tampak pada tas, dompet, dan beberapa souvenir khas Aceh lainnya.

  1. Space of Relief

Ruang pemulihan diwujudkan dalam “the hill of light” dan “escape roof”. The hill of light berupa taman berbentuk bukit kecil sebagai sarana penyelamatan awal tsunami. Berupa taman publik dengan lansekap yang menarik. Sayang saat kunjungan, bagian ini belum dibuka.

Ridwan Kamil telah menterjemahkan peristiwa bencana dan segala seluk beluknya dalam bentuk desain Musium Tsunami Aceh. Karyanya sekarang telah menjadi salah satu simbol Kota Aceh. Menjadi sebuah objek yang wajib kunjung ketika berada di Aceh. Kenangan pahit sebuah bencana dahsyat memang tidak mudah untuk dilupakan. Terlebih bagi orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Namun, di balik semua peristiwa yang terjadi selalu ada hikmah yang dapat diambil. Pembangunan yang terjadi di Aceh pasca tsunami sungguh luar biasa. Aceh sebelum tsunami yang tak lepas dari konflik, dapat bangkit menyongsong lembaran baru dengan berbagai pembangunan yang saat ini terus berlangsung. Aceh yang dulu selalu dirundung konflik dan terbelit situasi yang senantiasa mencekam, perlahan mantap melangkah menjadi wilayah yang tidak kalah dengan belahan Indonesia lainnya. Sebuah hikmah di balik bencana. (Del)