Jokowi Komunis dan Pembohong? Cukup Sudah!

Sauuuuurrrrr……sauuuuurrrr!! Sauuuuuurrrr……sauuuuuuurrrr!!! Lengkingan suara disertai bunyi kentongan dan bunyi-bunyian lain bersahutan membuat terjaga siapapun yang mendengarnya. Kadang berkumandang membentuk alunan nada tertentu, namun selebihnya berupa teriakan. Nyanyian dan kokokan ayam kalah nyaring. Ayam pun langsung mengkerut kalah saing. Adakah yang masih terlelap dalam balutan selimut? Saya rasa tidak. Semua pasti terhentak dari keheningan awal.

Ada untungnya juga teriakan sahur di dinihari. Setidaknya, tidak perlu membunyikan weker di kamar atau mengaktifkan alarm di telepon genggam. Dijamin kita akan terbangun dengan sendirinya.  Terbangun kala matahari masih terlelap dalam peraduan adalah waktu yang  tepat untuk menulis. Saat yang pas untuk menuangkan beberapa hal yang menggelayut dalam benak.

Suasana senyap sesaat. Mungkin semuanya tengah menikmati santap sahur di rumahnya masing-masing atau di warteg yang terletak di ujung jalan. Atau mungkin juga sebagian kembali terlelap menunggu terbitnya mentari. Dan saya masih terjaga. Menulis dengan diselingi lamunan beberapa jenak.  Tugas  pekerjaan masih menumpuk.

Lamunan terpecah seketika begitu terdengar bunyi pengeras suara dari Masjid dekat rumah. Waktunya Imsyak, disambung dengan Sholat Subuh. Saya bukan Muslim. Tinggal di Jakarta Pusat. Tidak begitu jauh dari rumah, terdapat Masjid yang lumayan besar dengan jarak kurang dari 100 m. Tidak ada yang salah pula dengan hal itu. Kami dapat hidup berdampingan dan saya tidak merasa keberatan sama sekali.

Beberapa saat kemudian, seperti di tahun-tahun sebelumnya, terdengar ceramah atau wejangan subuh. Mungkin istilahnya bukan wejangan subuh. Tapi yang jelas suaranya terdengar sampai rumah. Materi ceramahnya pun dapat saya tangkap dengan jelas tanpa perlu hadir di Masjid yang bersangkutan. Cukup dari kamar rumah.

Yang menggelitik dan cukup mengusik adalah materi ceramahnya. Ternyata Masjid dekat rumah pun tak luput dari gonjang-ganjing pilpres berikut beragam isu-isu terkait. Dapat saya katakan isu bahkan cenderung kampanye hitam karena tidak tahu juntrungannya dari mana. Anehnya lagi, kenapa itu bisa terjadi di Masjid, yang jelas-jelas dalam aturan tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

Sang penceramah mulai menyitir ayat-ayat Al Quran tentang dosa kebohongan dan mengaitkannya dengan seseorang yang telah berbohong. Awalnya bersedia mengemban amanah sebagai Gubernur selama 5 tahun dan sekarang berbuat ingkar dan berbohong. Itu dosa. Tanpa menyebut nama, namun sudah jelas siapa yang dituju.

Teringat hampir 2 tahun lalu, pada masa-masa kampanye Calon Gubernur DKI Jakarta, hal serupa terjadi di Masjid yang sama. Materi ceramah waktu itu juga terkait dengan peniupan isu bahwa Jokowi non Muslim dan berasal dari keluarga Non Muslim. Sebaiknya seorang Muslim memiliki pemimpin dari kaum sesama Muslim. Mengapa cara-cara itu yang digunakan? Dengan menggunakan isu-isu yang jauh dari kebenaran.

Okelah. Katakan Jokowi telah berbuat ingkar. Tapi ternyata penceramah tidak berhenti di sana. Beliau mulai mengungkit tentang Revolusi Mental dan mengaitkannya dengan ideologi Komunis yang harus dijauhi. Beliau berulang menanyakan, “Maukah kita dipimpin oleh orang yang tersangkut komunis?”.

Mungkin penceramah terinspirasi oleh Fadli Zon yang juga menuduh konsep revolusi mental dekat dengan komunis. Konon katanya, masih menurut Fadli Zon, Karl Marx menggunakan istilah “revolusi mental” dalam bukunya “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869.  Namun ada juga yang mengklaim bahwa konsep revolusi mental adalah konsep dari Mahatma Gandhi. Gandhi mengemukakan argumen bahwa kemerdekaan politik harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan.

Kalau menurut pemahaman saya setelah membaca tulisan revolusi mentalnya Jokowi, yang dimaksud dengan revolusi mental oleh Jokowi tidak dalam konotasi revolusi secara radikal. Namun lebih pada sebuah gerakan moral dalam rangka memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai yang berlaku universal. Untuk pembangunan karakter sumber daya manusia. Tidak ada kaitannya dengan komunisme.

Jadi teringat sebuah tayangan beberapa hari lalu di TVOne yang menampilkan wawancara dengan Prijanto, mantan Wagub DKI Jakarta yang mengatakan bahwa mengacungkan tangan kiri, terkait pula dengan ciri-ciri komunisme. Walah! Adakah hubungannya antara acungan tangan kiri sambil mengepal dengan ajaran komunisme? Bagaimana kalau itu dilakukan karena pada saat orasi, tangan kanannya memegang mike? Apakah itu juga terkait komunisme? #Geleng-geleng…. Atau juga kaitan antara sapaan Kawan Jokowi dengan Komunisme. Wis….! Apa lagi ini….!

Saya bukan pendukung fanatik Jokowi atau tim sukses Jokowi-JK. Bahkan, dapat dikatakan, saya masih termasuk swing voter. Dalam arti, hingga kini masih mencoba berpikir secara rasional. Saya ingin suara saya dapat lebih teralokasikan secara rasional. Memilih yang memang benar-benar layak untuk menjadi Presiden. Memilih yang benar-benar pantas untuk mengemban amanah. Cukuplah sudah! Masa-masa pilpres bukanlah masa-masa pembodohan secara masal.  Jangan sampai para swing voter justru menentukan pilihan bukan karena kelebihan salah satu pasangan, namun hanya karena cara-cara tidak simpatik yang dilakukan para pendukung fanatik.

Cukup sudah! Hentikanlah cara-cara yang tidak semestinya. Stop cara-cara yang dapat menodai arti demokrasi. Okelah kalau itu tidak dapat dikategorikan kampanye. Tapi, menurut hemat saya, sebuah tempat ibadah, harus dijaga kesuciannya, dan tidak dijadikan sebagai tempat untuk mendiskreditkan salah satu pasangan Capres/Cawapres tertentu dengan dibumbui keberpihakan pada pasangan lainnya. Biarlah di bulan Ramadhan ini benar-benar diisi dengan kegiatan yang memang berhubungan dengan Ramadhan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selamat sore. Salam. (Del)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s