Bermain Air di Wisata Alam Curug Cigamea, Bogor

Bagaimana jadinya bila sekumpulan orang dalam jumlah banyak memiliki pemikiran yang sama? Apa yang akan terjadi andai ratusan orang memiliki strategi yang sama? Sukseskah strategi tersebut? Yang jelas, hasilnya adalah kemacetan. Setidaknya, itu yang terjadi di hari pertama Idul Fitri dua hari yang lalu. Ide untuk melakukan refreshing ke Puncak di hari pertama Lebaran, saat umat Muslim melakukan Shalat Ied, ternyata tidak berhasil sama sekali.
Kami sekeluarga sudah berada di Bogor dari H-1 Lebaran. Terbersit di benak, “Asyik juga kayaknya kalau ke Puncak pas subuh di Hari Lebaran, pasti masih sepi….”. Ternyata ide yang sama mungkin menghampiri orang lain pula. Hasilnya sudah jelas…macet…
Kadung sudah keluar rumah, tak elok rasanya bila hasilnya hampa. Yang perlu dilakukan hanya mengganti tujuan, “Tapi enaknya ke mana ya…..?”. Anak-anak saling urun usul, “Ke curug yuk!”. Sepakat. Keluar pintu tol Ciawi, balik arah, kembali ke Bogor. Sebuah keputusan yang tepat. Menurut kabar, Puncak macet total.

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Panorama dari pintu masuk Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Hutan di sekitar Curug Cigamea

Tujuan sudah ditetapkan. Mari kita wisata curug atau wisata air terjun. Tidak perlu lokasi yang terlalu jauh. Bogor memiliki banyak curug yang dapat disambangi. Lokasinya masih di seputar Gunung Salak dan Gunung Bunder. Di kawasan ini terdapat beberapa curug, antara lain Curuk Cigamea, Curug Ngumpet, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Luhur, Curug Sawer, Curug Pangeran, Curug Cikuray, dan Curug Luhur. Mungkin masih ada lagi curug lain. Hanya, berdasarkan selebaran yang dibagikan beserta bukti tiket masuk kawasan, setidaknya curug-curug itulah yang ada di Kawasan Gunung Salak. Tak ketinggalan, ada pula objek wisata Kawah Ratu yang masih berada di kawasan tersebut.
Curug Cigamea dapat dijangkau dari arah Ciapus melewati kampus IPB Dramaga, lanjut hingga kawasan Gunung Bunder melewati Cibatok. Atau dapat pula melalui pintu masuk Pamijahan. Curug Cigamea berada di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat Kota Bogor. Kami masuk lewat pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Tak perlu khawatir, untuk menuju ke sana sudah ada penunjuk arah di sepanjang jalan.

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Deretan tangga menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Beberapa kios di sepanjang jalan menuju Curug Cigamea

Curug Cigamea merupakan curug pertama yang kami temui selepas pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Dari pintu masuk Curug Cigamea, masih perlu jalan kaki menuruni tangga kira-kira sekitar 350 m. Jalan menuju curug masih berupa jalan setapak yang terbuat dari batu yang disusun membentuk anak tangga. Kondisi jalannya cukup baik. Untuk keamanan, sepanjang anak tangga diberi pembatas berupa pagar besi. Di sepanjang jalan, sudah ada beberapa warung dan tempat singgah untuk sejenak melepas lelah. Air terjun Cigamea sesekali nampak di kejauhan, seakan memanggil dan memberi semangat. Bila tidak siap membawa pakaian ganti, di sepanjang jalan menuju curug juga telah ada penjual pakaian. Bahkan ada pula tempat terapi ikan, yaitu membiarkan kaki digigit ikan-ikan kecil.

Curug yang pertama

Curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Di depan curug yang pertama

Bermain di antara batu-batu besar

Bermain di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

di antara batu-batu besar

Curug yang kedua

Curug yang kedua

Di depan curug yang ke dua

Di depan curug yang ke dua

Dari jauh terlihat bahwa ternyata Curug Cigamea memiliki dua buah air terjun utama. Walau memiliki dua air terjun, keduanya memiliki ciri yang berbeda. Air terjun yang pertama memiliki dinding berupa bebatuan hitam dan kolam di bawahnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu dalam. Pengunjung tidak dapat berenang di sana. Terdapat batu-batu yang cukup besar dan merupakan kebanggaan tersendiri bila dapat memanjatnya. Air terjun yang kedua memiliki dinding berwarna coklat dan hijau lumut. Kolam airnya cukup dalam. Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Sedikit ngeri juga bila mendekat ke air terjunnya karena dindingnya yang lumayan curam. Di beberapa spot, terdapat tulisan, “Hati-hati, rawan longsor”.

Air yang begitu jernih

Air yang begitu jernih

Namun, terdapat kesamaan antara kedua air terjun di Cigamea. Keduanya sama-sama menarik jika dijadikan latar belakang untuk berfoto ria. Kebetulan, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke sana. Mungkin karena masih hari pertama Lebaran.
Anak-anak seru bermain air di pinggiran. Airnya sangat jernih dan dingin.

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Pintu masuk menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Di tengah perjalanan menuju Kawah Ratu

Bermain di alam

Bermain di alam

perjalanan yang tidak mudah

perjalanan yang tidak mudah

Hati-hati terperosok...

Hati-hati terperosok…

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Masih asyik mengeksplorasi sekitar

Waktunya untuk pindah lokasi. Masih banyak objek yang dapat dikunjungi selain Curug Cigamea. Poling menentukan bahwa tujuan selanjutnya adalah Kawah Ratu. Di pintu masuk menuju Kawah Ratu, terdapat beberapa warung penjual Indomie Rebus, jagung bakar, dan nasi goreng. Kami tanya, “Berapa jarak ke Kawah Ratu? Jawabnya, “Sekitar 4 km”. Ternyata…. Hehehe… Seharusnya kami ingat rumus orang daerah. Empat kilometer orang setempat berbeda standarnya. Bisa jadi jauh berbeda. Akhirnya, setelah 1,5 jam jalan kaki melalui jalan setapak berbatu bahkan melewati jalan air, melintas sungai kecil, dan beragam rintangan kecil lainnya, kami putuskan untuk kembali ke warung semula. Hari sudah mulai condong ke barat. Ujungnya, sudah dapat ditebak. Kembali ke warung dan pesan indomie rebus dan jagung bakar. Indomie di pegunungan rasanya jauh lebih lezat dibandingkan di rumah. Tapi tidak ada yang sia-sia. Anak-anak tetap bergembira dan menikmati alam yang masih hijau.
Ada yang dapat kita petik dari perjalanan ini. Tujuan wisata tidak menjadi hal yang paling penting. Keindahan dalam kebersamaan jauh lebih penting. Wisata menjadi jauh lebih bernilai ketika setiap individunya dapat menikmatinya. (Del)

Advertisements

Indahnya Kota Ende dari Atas Bukit Kolobari

C

Kota Ende Terlihat dari Kolobari

Telah lama mendamba untuk dapat berkunjung ke Kota Ende, sebuah kota kecil di bagian Selatan Pulau Flores, ibukota Kabupaten Ende. Walau merupakan kota kecil, seperti kota lainnya di Pulau Flores, Ende memiliki landscape yang luar biasa indah.
Sekarang, untuk menggapai Ende dari Jakarta, dapat menggunakan pesawat Garuda lewat Kupang atau singgah ke Bali terlebih dahulu, lalu sambung dengan menggunakan pesawat TransNusa/Aviastar ke Ende.

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Salah satu bukit di sekitar Bandara di Ende

Mendarat di Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, pemandangan indah langsung menyergap serentak. Rasa was-was yang melanda selama proses pendaratan sirna sudah. Bandara Ende termasuk salah satu bandara yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi pada saat pendaratan. Lokasinya yang sangat berdekatan dengan bukit-bukit yang mengelilingi menyisakan kerawanan tersendiri. Di ujung landasan, sebuah bukit yang lumayan besar menanti dengan gagahnya. Pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas harus mendekati bukit ini, sekedar untuk menyapanya atau untuk berpamitan dengan bukit tersebut. Belum lagi ditambah jaraknya dengan pantai yang lumayan dekat. Butuh keahlian, kesigapan, dan ketepatan sang pilot. Namun, selebihnya, tidak akan menyesal. Panorama yang disuguhkan sungguh memukau. Deretan bukit hijau nan asri seolah menyambut para pengunjung.
Panorama indah Kota Ende dapat kita nikmati dari beberapa spot/lokasi di bukit-bukit sekitar. Salah satunya, yaitu dari Kolobari, sebuah bukit yang berada sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Ende. Sayang, perjalanan menuju Kolobari masih berupa jalanan yang kurang nyaman dilewati. Lubang-lubang menganga masih sering ditemui. Goncangan membuat perjalanan yang tidak terlalu jauh, memakan waktu yang lebih lama. Tapi ingat…! Prasyarat utama untuk menikmati keindahan alam Kota Ende adalah…. “Enjoy aja…, nikmati …, bawa happy aja!” Di ujung perjalanan, panorama menawan akan memupus kekesalan karena jalan yang buruk.

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Kota Ende terlihat dari Kolobari

Dari Kolobari terpapar dengan indah perpaduan beberapa karya sempurna Tuhan. Paduan antara bukit-bukit dan gunung-gunung dengan beragam ketinggian, pantai dan laut, serta Kota Ende yang terhampar elok di bawah. Ada satu gunung yang cukup menarik perhatian. Bagian atasnya rata seperti meja. Untuk itu, penduduk setempat menamakannya, Gunung Meja.

Seorang wanita tengah asyik menenun

Seorang wanita tengah asyik menenun

Puas beberapa saat menikmati indahnya panorama Kota Ende, waktunya kembali menuruni bukit. Di sepanjang perjalanan, selain melewati hutan serta kebun jagung dan singkong, juga melewati rumah-rumah penduduk asli Ende. Banyak penduduk yang tengah melakukan kegiatan menenun kain di bagian depan rumah atau di pekarangan rumahnya. Kegiatan menenun kain biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Tergerak hati untuk singgah.
Kain tenun Ende memiliki motif yang khas. Motif tenun Ende berbeda dengan motif tenun dari kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Setiap daerah memiliki motif tersendiri. Bahkan setiap suku memiliki motifnya masing-masing. Bahkan di Pulau Flores sendiri, memiliki motif-motif khas yang berbeda-beda.

Mencoba menenun

Mencoba menenun

 

Gayanya doang....

Gayanya doang….

Para wanita menenun menggunakan alat yang masih sangat sederhana. Setiap wanita di Ende biasanya dapat menenun. Hasilnya selain untuk keperluan sendiri, sebagian dijual ke Kota Ende hingga ke luar Pulau Flores. Sempat pula mencoba untuk bergaya jadi penenun. Komentar teman, “Tidak meyakinkan…!”. Tidak apa. Yang penting sudah mencoba… Akhirnya, ada kain yang menarik hati. Lumayan untuk koleksi di rumah.
Bagaimana, tertarik untuk berkunjung ke Ende? Mari….
Salam. (Del)

Menyusuri Jejak Soekarno di Ende

Pulau Flores, selain terkenal dengan alamnya yang cantik juga menyisakan wisata sejarah yang tidak kalah menarik. Sebagai salah satu kota kecil yang terletak di Pulau Flores, Kota Ende menyimpan wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tidak ada salahnya bila berkunjung ke Kota Ende, kita coba menyusuri jejak Soekarno di sana.

Soekarno, presiden pertama Indonesia, sempat diasingkan oleh pemerintah Kolonial Belanda selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1934 hingga tahun 1938, di Pulau Flores, tepatnya di Kota Ende. Soekarno diasingkan ke Ende dengan tujuan untuk mengisolasi Soekarno, menjauhkan beliau dari pergerakan dan kegiatan politiknya. Juga menjauhkannya dari rekan-rekan seperjuangannya yang ada di Pulau Jawa. Dengan mengasingkannya ke Pulau kecil nun jauh dari jangkauan, sepi, dan tanpa hiburan, Belanda berharap Soekarno putus harapan, terbatas gerakannya, dan berlanjut frustasi. Berhasilkah upaya yang dilakukan Belanda?

Ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Soekarno tetap dapat bersosialisasi dengan komunitas yang ada di Kota Ende. Soekarno masih dapat berdiskusi dan bercengkerama dengan komunitas yang ada di Gereja Katolik yang ada di Ende. Soekarno bahkan terbiasa untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan gereja tidak jauh dari rumah pengasingannya. Mungkin ini pula yang mempengaruhi ideologi kebangsaan yang terlahir di sana. Interaksinya dengan para pemimpin Katolik turut mewarnai. Konon katanya, ideologi kebangsaan Pancasila terlahir saat Soekarno duduk merenung di sekitar pohon sukun berbatang lima. Soekarno mengalami perjalanan pemikiran yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Melahirkan ideologi Pancasila.

Patung Soekarno di Ende

Patung Soekarno di Ende

 

di depan patung Soekarno di Ende

di depan patung Soekarno di Ende

Yang patut sedikit disayangkan, ketika berkunjung ke sana, gambaran Soekarno tengah merenung di bawah naungan pohon sukun berbatang lima sudah sedikit mengalami “modifikasi”. Patung Soekarno sekarang digambarkan tengah duduk di bangku panjang yang berada di tengah kolam. Apakah kondisi riil dulu seperti itu? Ataukah untuk kepentingan simplifikasi? Sudahlah, tidak apa-apa. Itu sudah lebih mending bila dibandingkan dengan posisi patung sebelumnya yang dalam kondisi berdiri. Saat ini, patung Soekarno telah mengalami renovasi dan posisinya berubah, dari berdiri menjadi duduk di bangku panjang. Coba tanya ke seorang teman yang ada di sana, dengan santai dan sedikit bercanda, jawabnya, “Mungkin sudah cape berdiri….”.

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

Pohon sukun pemberi inspirasi Soekarno

 

Pohon sukun dan patung Soekarno

Pohon sukun dan patung Soekarno

Patung Soekarno beserta dengan pohon sukunnya terletak tidak jauh dari pantai. Pancasila terlahir saat Soekarno duduk di sekitar pohon sukun, sambil menghadap ke Laut Flores. Hingga saat ini, tak jauh dari Patung Soekarno yang tengah duduk sambil bertopang kaki, tumbuh pohon sukun berbatang lima. Pohon sukun sengaja ditanam di sana untuk menggantikan pohon sukun aslinya yang telah mati.

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

Lapangan di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun

 

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Para pendukung pasangan Jokowi-JK

Di sekitar patung Soekarno dan pohon sukun, terdapat lapangan luas beserta tribun penonton. Terkadang, lokasi ini digunakan untuk olahraga atau juga untuk kepentingan kampanye, seperti saat kunjungan ke sana. Beberapa puluh simpatisan pasangan Jokowi – Jusuf Kala tengah berkampanye di sana. Sayang desain lapangan dan tribunnya secara keseluruhan tidak menyatu, tidak menggambarkan kekhasan Kota Ende.

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

Rumah pengasingan Soekarno di Ende

 

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende

Menyusur jejak Bung Karno tak berhenti di sana. Masih ada jejak peninggalan Soekarno lainnya di Kota Ende. Lokasinya tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Berupa rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Sebuah rumah sederhana tempat Bung Karno beserta istri dan mertuanya tinggal sewaktu di Ende. Rumahnya bercat putih dengan jendela dan pintu kayu warna kuning serta hiasan bergaris hijau. Rumahnya tidak terlalu besar dan halaman yang tidak terlalu luas. Namun secara keseluruhan, tampak asri dan masih menyisakan rimbunan pohon di samping rumah.

Sayang, beberapa kali ke sana, rumah tersebut tampak sepi, tidak ada penjaganya. Menurut keterangan penduduk di sekitar sana, penjaganya bila di bulan puasa seperti ini datangnya jam 10.00 atau setelah jam 17.00 sore nanti. Tapi sayangnya, tetap tidak ada, sehingga tidak bisa melihat kondisi di dalam rumah.

Soekarno meninggalkan Ende di tahun 1938. Paling tidak, telah 76 tahun berlalu dan jejak Soekarno masih dapat terekam di Kota Ende. Jejaknya masih terpelihara dengan baik. Semoga tetap terjaga. Rumah pengasingannya, pohon sukun, dan patung Bung Karno, mewarnai kekayaan sejarah Indonesia. Biarlah peninggalan tersebut sekaligus dapat menjadi objek wisata sejarah. Supaya generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh bangsa.

Mungkin tidak semua orang tahu bahwa, di sebuah kota kecil bernama Ende, nun jauh di Flores sana, telah tergores sebuah cerita sejarah, tentang cikal bakal Pancasila. Sebuah ideologi bangsa yang hingga saat ini wajib kita jaga bersama. Salam. (Del)

Jokowi Komunis dan Pembohong? Cukup Sudah!

Sauuuuurrrrr……sauuuuurrrr!! Sauuuuuurrrr……sauuuuuuurrrr!!! Lengkingan suara disertai bunyi kentongan dan bunyi-bunyian lain bersahutan membuat terjaga siapapun yang mendengarnya. Kadang berkumandang membentuk alunan nada tertentu, namun selebihnya berupa teriakan. Nyanyian dan kokokan ayam kalah nyaring. Ayam pun langsung mengkerut kalah saing. Adakah yang masih terlelap dalam balutan selimut? Saya rasa tidak. Semua pasti terhentak dari keheningan awal.

Ada untungnya juga teriakan sahur di dinihari. Setidaknya, tidak perlu membunyikan weker di kamar atau mengaktifkan alarm di telepon genggam. Dijamin kita akan terbangun dengan sendirinya.  Terbangun kala matahari masih terlelap dalam peraduan adalah waktu yang  tepat untuk menulis. Saat yang pas untuk menuangkan beberapa hal yang menggelayut dalam benak.

Suasana senyap sesaat. Mungkin semuanya tengah menikmati santap sahur di rumahnya masing-masing atau di warteg yang terletak di ujung jalan. Atau mungkin juga sebagian kembali terlelap menunggu terbitnya mentari. Dan saya masih terjaga. Menulis dengan diselingi lamunan beberapa jenak.  Tugas  pekerjaan masih menumpuk.

Lamunan terpecah seketika begitu terdengar bunyi pengeras suara dari Masjid dekat rumah. Waktunya Imsyak, disambung dengan Sholat Subuh. Saya bukan Muslim. Tinggal di Jakarta Pusat. Tidak begitu jauh dari rumah, terdapat Masjid yang lumayan besar dengan jarak kurang dari 100 m. Tidak ada yang salah pula dengan hal itu. Kami dapat hidup berdampingan dan saya tidak merasa keberatan sama sekali.

Beberapa saat kemudian, seperti di tahun-tahun sebelumnya, terdengar ceramah atau wejangan subuh. Mungkin istilahnya bukan wejangan subuh. Tapi yang jelas suaranya terdengar sampai rumah. Materi ceramahnya pun dapat saya tangkap dengan jelas tanpa perlu hadir di Masjid yang bersangkutan. Cukup dari kamar rumah.

Yang menggelitik dan cukup mengusik adalah materi ceramahnya. Ternyata Masjid dekat rumah pun tak luput dari gonjang-ganjing pilpres berikut beragam isu-isu terkait. Dapat saya katakan isu bahkan cenderung kampanye hitam karena tidak tahu juntrungannya dari mana. Anehnya lagi, kenapa itu bisa terjadi di Masjid, yang jelas-jelas dalam aturan tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

Sang penceramah mulai menyitir ayat-ayat Al Quran tentang dosa kebohongan dan mengaitkannya dengan seseorang yang telah berbohong. Awalnya bersedia mengemban amanah sebagai Gubernur selama 5 tahun dan sekarang berbuat ingkar dan berbohong. Itu dosa. Tanpa menyebut nama, namun sudah jelas siapa yang dituju.

Teringat hampir 2 tahun lalu, pada masa-masa kampanye Calon Gubernur DKI Jakarta, hal serupa terjadi di Masjid yang sama. Materi ceramah waktu itu juga terkait dengan peniupan isu bahwa Jokowi non Muslim dan berasal dari keluarga Non Muslim. Sebaiknya seorang Muslim memiliki pemimpin dari kaum sesama Muslim. Mengapa cara-cara itu yang digunakan? Dengan menggunakan isu-isu yang jauh dari kebenaran.

Okelah. Katakan Jokowi telah berbuat ingkar. Tapi ternyata penceramah tidak berhenti di sana. Beliau mulai mengungkit tentang Revolusi Mental dan mengaitkannya dengan ideologi Komunis yang harus dijauhi. Beliau berulang menanyakan, “Maukah kita dipimpin oleh orang yang tersangkut komunis?”.

Mungkin penceramah terinspirasi oleh Fadli Zon yang juga menuduh konsep revolusi mental dekat dengan komunis. Konon katanya, masih menurut Fadli Zon, Karl Marx menggunakan istilah “revolusi mental” dalam bukunya “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869.  Namun ada juga yang mengklaim bahwa konsep revolusi mental adalah konsep dari Mahatma Gandhi. Gandhi mengemukakan argumen bahwa kemerdekaan politik harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan.

Kalau menurut pemahaman saya setelah membaca tulisan revolusi mentalnya Jokowi, yang dimaksud dengan revolusi mental oleh Jokowi tidak dalam konotasi revolusi secara radikal. Namun lebih pada sebuah gerakan moral dalam rangka memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai yang berlaku universal. Untuk pembangunan karakter sumber daya manusia. Tidak ada kaitannya dengan komunisme.

Jadi teringat sebuah tayangan beberapa hari lalu di TVOne yang menampilkan wawancara dengan Prijanto, mantan Wagub DKI Jakarta yang mengatakan bahwa mengacungkan tangan kiri, terkait pula dengan ciri-ciri komunisme. Walah! Adakah hubungannya antara acungan tangan kiri sambil mengepal dengan ajaran komunisme? Bagaimana kalau itu dilakukan karena pada saat orasi, tangan kanannya memegang mike? Apakah itu juga terkait komunisme? #Geleng-geleng…. Atau juga kaitan antara sapaan Kawan Jokowi dengan Komunisme. Wis….! Apa lagi ini….!

Saya bukan pendukung fanatik Jokowi atau tim sukses Jokowi-JK. Bahkan, dapat dikatakan, saya masih termasuk swing voter. Dalam arti, hingga kini masih mencoba berpikir secara rasional. Saya ingin suara saya dapat lebih teralokasikan secara rasional. Memilih yang memang benar-benar layak untuk menjadi Presiden. Memilih yang benar-benar pantas untuk mengemban amanah. Cukuplah sudah! Masa-masa pilpres bukanlah masa-masa pembodohan secara masal.  Jangan sampai para swing voter justru menentukan pilihan bukan karena kelebihan salah satu pasangan, namun hanya karena cara-cara tidak simpatik yang dilakukan para pendukung fanatik.

Cukup sudah! Hentikanlah cara-cara yang tidak semestinya. Stop cara-cara yang dapat menodai arti demokrasi. Okelah kalau itu tidak dapat dikategorikan kampanye. Tapi, menurut hemat saya, sebuah tempat ibadah, harus dijaga kesuciannya, dan tidak dijadikan sebagai tempat untuk mendiskreditkan salah satu pasangan Capres/Cawapres tertentu dengan dibumbui keberpihakan pada pasangan lainnya. Biarlah di bulan Ramadhan ini benar-benar diisi dengan kegiatan yang memang berhubungan dengan Ramadhan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selamat sore. Salam. (Del)