Teguh Mengaku Kristen, Tiang Gantungan Imbalannya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Sesak rasanya dada ini ketika membaca beberapa media online luar negeri yang memberitakan tentang seorang wanita bernama Meriam Yehya Ibrahim. Wanita Sudan berusia 27 tahun yang memiliki satu orang putra dan tengah hamil 8 bulan ini telah divonis mati dengan cara digantung pada Kamis, 15 Mei 2014 oleh Pengadilan Khartoum, Sudan. Meriam dinyatakan bersalah karena tetap bertahan dengan iman Kristianinya. Dia dianggap murtad dan melanggar syariat Islam. Divonis bersalah karena menolak untuk masuk Islam. Selain digantung, ibu ini juga harus menghadapi hukuman cambuk 100 kali karena dianggap bersalah telah melanggar hukum syariat, menikah dengan non-muslim.

Heuuuuhhh… mengapa harus seperti ini? Mengapa seseorang harus meregang nyawa karena iman dan keyakinannya? Pengadilan telah meminta Meriam untuk kembali menganut Islam, namun dia menolaknya dan bersikukuh bahwa sejak kecil telah menganut Kristen. Namun, tidak demikian halnya dengan pengadilan Khartoum, Sudan. Pengadilan mengklaim bahwa Meriam adalah seorang Muslim karena ayahnya, yang telah meninggalkan keluarga ketika berusia enam tahun adalah seorang Muslim. Meriam tetap bersikukuh bahwa dia memeluk Kristen Ortodoks Ethiopia sejak kecil mengikuti ibunya yang juga seorang Kristen. Dengan tegas Meriam mengatakan, “Saya Kristen, dan saya akan tetap menjadi seorang Kristen”.

Tiang gantungan tengah menanti Meriam Yehya Ibrahim. Pengadilan memutuskan Meriam akan menjalani hukuman setelah melahirkan anaknya dan membesarkannya hingga usia dua tahun. Saat ini, Meriam berada di penjara bersama dengan bocah lelaki, anak pertamanya yang berusia 20 bulan.

Pada tahun 2012, Meriam menikah dengan seorang pria beragama Kristen pada sebuah gereja yang tidak diakui oleh petugas pemerintah setempat. Di pengadilan, Meriam menegaskan bahwa dia tidak pernah berganti keyakinan, dia menganut Kristen sejak kecil.

Daniel Wani, suami Meriam mengatakan kepada CNN, “Saya begitu frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, hanya bisa berdoa”. Suaminya mengatakan bahwa Meriam Kristen tapi pengadilan menganggap bahwa dia Muslim.

Sangat menyedihkan. Seorang wanita, dihukum mati karena mempertahankan keyakinannya, dan dicambuk karena dianggap menikahi pria yang berbeda keyakinan.

Saat ini, berbagai aktivis dari beragam lembaga internasional terkait hak asasi manusia tengah mencoba untuk menentang putusan pengadilan Khartoum dan menekan pemerintah Sudan. Putusan pengadilan Khartoum mendapat protes keras dari sejumlah lembaga hak asasi manusia. Sebuah lembaga bernama Stategic Initiative for Women dan sejumlah aktivis menggelar kampanye internasional untuk menekan Pemerintah Sudan. Semoga upaya-upaya yang dilakukan berhasil dan Meriam terbebas dari hukumannya.  Amin. (Del)
Beberapa berita tentang Meriem Yehya Ibrahim:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s