Memupuk Kebersamaan dan Tekad yang Kuat Seperti Musamus dari Merauke

Musamus di Merauke

Musamus di Merauke

Selain dikenal sebagai Kota Rusa, Merauke juga dikenal karena keberadaan musamus nya. Bahkan ada salah satu universitas di Merauke yang bernama Universitas Musamus. Untuk itu, jika melakukan kunjungan ke Kota Merauke, jangan lewatkan untuk melihat Musamus. Sepertinya belum sah bila sudah berkunjung ke Merauke, namun belum melihat musamus.Apa itu musamus? Penasaran? Ayo kita lanjut…!

Musamus adalah satu karya seni tinggi, hasil kerja keras para arsitek dan developer yang lahir alami di Bumi Merauke. Hasil desainnya berbeda antara satu musamus dengan musamus yang lainnya. Tidak ada yang sama persis. Namun, ada satu garis desain yang menyatukan satu sama lain, yaitu sama-sama berwujud seperti menara atau istana khas musamus yang dibangun oleh koloni rayap. Beda halnya dengan rayap yang sering kita dengar, yang merupakan serangga perusak berbagai jenis benda berbahan kayu, di Merauke, rayap hidup secara mandiri di hutan dan membangun istananya sendiri. Bahan dasar pembuatnya juga sama, berasal dari campuran tanah dan rumput kering sebagai bahan dasar utama serta air liur rayap yang berfungsi sebagai semen/perekat. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun istana rayap setinggi hingga lima meter tersebut.

Musamus

Musamus

20140521_131507

20140521_131440

Musamus merupakan gundukan tanah berwarna coklat yang dapat mencapai ketinggian hingga 5 meter bahkan lebih. Siapa arsiteknya? Siapa yang membangunnya? Tidak usah heran. Arsitek sekaligus pembangunnya adalah rayap. Musamus dikenal dengan sebutan Rumah Semut. Namun, sebenarnya Musamus merupakan rumah rayap. Rayap lah binatang yang ada di balik keindahan musamus.

Musamus dengan tinggi yang dapat mencapai 5 meter

Musamus dengan tinggi yang dapat mencapai 5 meter

Ada desain unik yang menjadi ciri khas istana rayap. Musamus memiliki lekukan-lekukan seperti buah belimbing yang dipotong pada bagian tengahnya, kemudian ditancapkan di tanah. Warnanya sesuai dengan warna tanah sekitarnya, mulai coklat, coklat kemerahan, hingga coklat tua yang mengerucut hingga ke atas. Walau terbuat dari butiran tanah, permukaan luar Musamus sangat keras, seperti batu. Koloni rayap sebagai arsitek telah mendesain istana rayap dengan ventilasi yang memadai berupa lorong-lorong yang akan melindungi istana dari air hujan, sekaligus melindungi koloni rayap dari panas ketika musim panas tiba. Musamus tahan cuaca, tidak lekang oleh hujan, panas, kebakaran hutan, bahkan gempa sekalipun.

Konon, dulu suku asli  Merauke, yaitu Suku Marind memanfaatkan musamus untuk memasak. Bongkahan Musamus yang kering dibakar hingga panas, lalu digunakan untuk memeram ubi atau daging dalam rangkaian upacara bakar batu.

Beberapa Musamus di tepi jalan

Beberapa Musamus di tepi jalan

Taman Nasional Wasur, Merauke

Taman Nasional Wasur, Merauke

Musamus atau istana rayap dapat ditemui di beberapa tempat di dunia dan khusus untuk Indonesia, musamus mungkin hanya terdapat di Merauke. Kita dapat dengan mudah menemukan Musamus yang berderet  di sepanjang jalan raya yang menuju ke Taman Nasional Wasur dan di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Merauke.

Musamus telah dijadikan sebagai ikon Kota Merauke. Ada pelajaran yang dapat kita petik dari Musamus. Rayap, binatang kecil yang lemah ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa, mampu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka memiliki tekad yang kuat dan kebersamaan. Bersatu padu secara bersama, dengan tekad yang sama untuk membangun istana bersama, membangun rumah bersama. Kita, sebagai manusia, dengan dibekali akal dan pikiran, juga dapat melakukan hal yang sama. Jika bersatu, bersama-sama, dan memiliki tekad yang kuat untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin, pasti bisa. Sesuai dengan tagline Merauke : Isakod Bekai Isakod Kai. Artinya, Satu Hati Satu Tujuan. Selamat pagi. Salam. (Del)

 

Advertisements

Merauke, Miniatur Indonesia di Timur Papua

Bandara Mopah, Merauke

Bandara Mopah, Merauke

Telah lama mendamba untuk dapat melakukan kunjungan ke Merauke, Kabupaten paling Timur Indonesia. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea. Selain memiliki keindahan alam nan mempesona, pantai yang panjang, rimbunnya hutan nan asri, musamus, dan keaneka ragaman hayati lainnya, Merauke juga dikenal memiliki beragam suku asli dengan adat istiadat yang menarik.

Tidak hanya itu. Merauke merupakan miniatur Indonesia, etalase Indonesia dalam skala yang lebih kecil. Semua suku ada di sana. Bermacam suku dengan adat istiadat bawaannya seakan tumpah ruah, bersatu padu tanpa harus bersusah payah mempropagandakan slogan “Kebhinekaan dalam Kesatuan”. Semua hidup berdampingan, saling menghormati satu sama lain. Jika ditanya, “Wilayah mana yang paling aman di Papua?” Jawabannya sudah pasti Merauke. Ketika wilayah lain di Papua sering dilanda kerusuhan dan saling selisih antarsuku, Merauke tetap aman dan damai. Semua suku, tidak perduli dari mana dia berasal, hidup selaras dengan alam Merauke. Semua memiliki peran dan fungsi masing-masing.

Kabupaten Merauke merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Papua yang terletak di bagian Selatan Provinsi Papua. Berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea di Sebelah Timur dan Laut Arafura di sebelah Selatan. Secara geografis, Merauke memiliki prospek pengembangan yang tinggi. Memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu 45.071 km2. Bandingkan dengan Provinsi DKI Jakarta yang hanya memiliki luas sekitar 661,52 km2. Kabupaten Merauke memiliki luas sekitar 68 kali luas Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan data per tanggal 31 Desember 2012, jumlah penduduknya hanya 246.852 jiwa dengan kepadatan 4.342 jiwa/km2. Kembali bandingkan dengan Provinsi DKI Jakarta yang memiliki jumlah penduduk 10.187.595 jiwa dengan kepadatan sekitar 15.000 jiwa/km2. Sangat jauh berbeda.

Walaupun Jakarta dan Merauke memiliki jurang perbedaan yang sangat mencolok, namun terdapat garis merah yang menampakkan kesamaan. Sama-sama merupakan miniatur Indonesia. Jakarta dan Merauke sama-sama dihuni oleh berbagai macam suku, dari berbagai lokasi di Indonesia. Tidak sulit untuk menemukan orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, atau Maluku di Merauke. Di Kota Rusa, julukan untuk Kota Merauke, kita dapat dengan mudah menemui Suku Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Makassar, Timor, Batak, Manado, Banjar, Dayak, hingga Aceh. Berdasarkan data yang ada, 63 % penduduk Merauke merupakan pendatang, bukan suku asli. Sebagian besar pendatang, merupakan Suku Jawa. Keragaman penduduk di Merauke salah satunya disebabkan adanya program transmigrasi yang berlokasi di pinggiran Merauke, terutama di Distrik Kurik, Tanah Miring, Malind, dan Distrik Jagebob. Penduduk asli Merauke adalah Suku Marind, yang terdiri dari sub-marga : Kaize, Gebze, Balaigeze, Mahuze, Ndiken, dan Basik-basik.

Kabupaten Merauke didominasi oleh dataran rendah yang relatif datar. Hanya pada bagian Utara yang memiliki lahan perbukitan. Itu pun dengan ketinggian yang tidak lebih dari 100 meter di atas permukaan air laut. Pengembangan Merauke sangat memungkinkan. Pembangunan tidak akan sulit dilakukan karena ketersediaan lahan masih sangat luas dan sebagian besar relatif datar dengan kemiringan antara 1 – 8 %.

Merauke relatif mudah terjangkau karena keberadaan Maskapai Garuda maupun Lion yang langsung terbang dari Jakarta menuju Merauke. Dengan Garuda Indonesia, kita hanya perlu singgah di Jayapura sebentar, sekitar 40 menit, untuk kepentingan pengisian bahan bakar, sebelum melanjutkan penerbangan ke Merauke. Total perlu waktu sekitar 6 jam perjalanan pesawat.

Mendarat sekitar pukul 10 pagi WIT di Bandara Mopah, Merauke, kita langsung dapat merasakan keragaman. Terlihat dari wajah-wajah di sekitar Bandara. Para petugas di Bandara didominasi oleh wajah bukan penduduk asli. Para petugas banyak yang berkulit putih hingga sawo matang. Wajah-wajah penduduk asli hanya terlihat beberapa. Menaiki taksi dari Bandara menuju hotel tempat menginap, keragaman tetap muncul. Sopir yang mengantar berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Begitu pula dengan resepsionis Swiss-Belhotel Merauke, iseng tanya, ternyata berasal dari Surabaya, Pati, Solo, dan beberapa kota di Jawa Tengah lainnya.

Istirahat sebentar di hotel, dengan menaiki mobil yang sama, jalan keliling Merauke mencari makan siang. Ternyata di Merauke banyak terdapat restauran Padang. Terdapat beberapa restoran Bakso Malang, Soto Lamongan, Pecel Madiun, Coto Makassar, dan restoran khas daerah lainnya. Justru agak sulit untuk menemukan rumah makan khas Papua. Tidak terlalu banyak tempat makan yang menyediakan khusus makanan khas Merauke atau Papua. Padahal niat hati ingin juga menikmati papeda, sate rusa, dendeng rusa, udang Merauke, atau makanan khas Merauke lainnya. Baru malam harinya keinginan tersebut terwujud.

Bersama penduduk asli Merauke

Bersama penduduk asli Merauke

Perjumpaan dengan kemajemukan penduduk Merauke masih terus berlanjut. Dibuktikan dengan petugas supermarket yang asal Sukabumi, pedagang buah asal Semarang, pedagang jajanan di pinggir jalan yang asal Lampung, pemilik toko souvenir yang keturunan Tionghoa namun lahir serta besar di Merauke dan orang tuanya berasal dari Surabaya, atau pramuria toko souvenir Batik Papua yang ternyata memiliki kampung yang sama dengan saya, Ciamis. Selidik punya selidik, dengan bertanya lebih lanjut, ternyata orang Ciamis tersebut belum pernah pulang ke Ciamis. Dia lahir dan besar di Merauke. Orang tuanyalah yang berasal dari Ciamis. Dulu orang tuanya termasuk salah seorang transmigran. Belum berhenti di sana. Acara Workshop yang jadi tujuan kedatangan saya ke Merauke juga memberikan bukti keberagaman. Peserta yang hadir banyak yang berasal dari luar Papua. Bahkan memiliki daerah asal yang lebih berwarna. Lengkaplah sudah bukti keragaman itu.

Kebhinekaan yang ada tentunya sangat berpengaruh pada pengembangan budaya masing-masing etnis yang ada sekaligus menjadi wahana untuk saling mengenal dan mempelajari keragaman budaya dan adat istiadatnya. Saling menghormati, saling menghargai, dan toleransi yang tinggi, merupakan syarat mutlak dimiliki di Merauke, satu Kabupaten di ujung timur Indonesia yang menyimpan keindahan dalam keberagaman. Jika belahan Indonesia lainnya juga dapat menerapkan prinsip hidup berdampingan dengan damai seperti di Merauke, sehingga semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya slogan belaka.. Alangkah indahnya Indonesia… (Del)

 

Akhirnya Chairul Tanjung Menerima Juga Tawaran SBY

Chairul Tanjung, Menko Perekonomian

Chairul Tanjung, Menko Perekonomian

Belakangan, menjelang pesta pemilihan Presiden, bising terdengar gaung “Koalisi Tanpa Syarat” atau Kerjasama Tanpa Syarat”. Para politisi dan jajaran elit politik, seakan berlomba untuk mengedepankan pelajaran demokrasi pada khalayak masyarakat tentang etika berpolitik tanpa transaksi. Benarkah? Seriuskah? Atau hanya lip service?

Rasanya gaung kasak kusuk transaksional masih terdengar. Prasyarat koalisi masih tetap memiliki embel-embel. Bahkan secara terang-terangan, ada partai politik yang mengajukan beberapa nama untuk calon wakil presiden maupun calon menteri. Walau tetap dibalut dengan kata-kata, “hanya usulan, semua terserah Calon Presiden dan partai pengusungnya”

Mari kita lupakan sejenak hiruk pikuk pemilihan presiden dan politik transaksional terselubung di dalamnya. Prabowo telah menjatuhkan pilihannya pada Hatta Rajasa dan Hatta pun telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Kita tengok pengganti Hatta Rajasa, Chairul Tanjung (CT).

Presiden SBY telah resmi mengangkat Chairul Tanjung sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Serah terima jabatan pun telah resmi dilaksanakan Senin, 19 Mei 2014. Mungkin sudah banyak yang mengenal sosok Chairul Tanjung. Beliau merupakan pemilik CT Corp yang menguasai berbagai lini bisnis terutama tiga perusahaan sub holding: Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources mulai dari layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, hiburan, hingga sumber daya alam.

Yang menarik adalah fakta bahwa Chairul Tanjung tidak memiliki perilaku seperti sebagian elit lainnya yang berlomba masuk ke dalam jajaran menteri. Bahkan Chairul Tanjung sempat dua kali menolak tawaran SBY untuk menjadi menteri.

Pada saat peluncuran otobiografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong, 30/6/2012, SBY sempat mengungkapkan telah dua kali menawarkan posisi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu dan keduanya ditolak oleh Chairul Tanjung. SBY telah menawarkan posisi menteri pada tahun 2004 maupun tahun 2009. Jawabannya sama, ditolak. SBY sangat menghormati dan menerima sikap Bos CT Corp yang mengungkapkan alasannya, “Kalau saya masuk di eksekutif, nanti takut ada conlict of interest”. Akhirnya Chairul Tanjung menerima tawaran untuk menempati posisi ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), sebuah komite mitra pemerintah di luar lingkup eksekutif.

Pertanyaannya tentu, “Mengapa sekarang Chairul Tanjung menerima tawaran sebagai Menko Perekonomian yang hanya tinggal lima bulan saja?”. Alasannya, tawaran tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan hanya lima bulan. Katanya, “Cuma lima bulan, habis itu saya gak mau lagi jadi menteri”.  Pengalaman dalam KEN turut mewarnai.

Chairul Tanjung murni orang swasta, yang tidak terbiasa dengan segala tetek bengek prosedur birokrasi, menyukai hal yang praktis dan terlihat pintas. Beliau tidak berkeberatan mengeluarkan uang pribadi untuk tugas yang kini diembannya. Chairul Tanjung masih ingin diijinkan untuk tetap menggunakan pesawat dan mobil pribadinya dalam menjalankan tugasnya. Tentunya dengan biaya pribadi.

Chairul Tanjung sudah mulai bergerak dan menggebrak. Beliau berkehendak pembangunan gedung Kementerian dan pembelian kendaraan dinas dihapus. Persiapan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mulai dilirik dan menjadi perhatian. Chairul Tanjung akan undang Freport dan Newmont terkait soal renegosiasi kontrak karya. Beliau berharap, dalam 5 bulan ke depan, masalah renegosiasi tambang dapat diselesaikan.

Harapan sudah ditumpukan pada pundaknya. Para menteri di bawah lingkup koordinasinya langsung dikumpulkan dan segera digelar rapat koordinasi. Chairul Tanjung sudah melontarkan janji untuk mengakselerasi penyelesaian segala permasalahan dan hambatan di tataran kebijakan antarmenteri ekonomi saat ini. Beliau memiliki impian dan ambisi untuk merancang fondasi ekonomi yang kuat bagi pemerintahan selanjutnya. Cita-cita mulia. Bisakah terwujud dalam jangka waktu lima bulan? Semoga terwujud. Kita tunggu. Indonesia sangat membutuhkan orang-orang dengan integritas tinggi dan bakti murni pada negeri.  (Del)

 

Sumber :

Chairul Tanjung Tolak Jadi Menteri di Pemerintah Mendatang

CT akan Undang Freeport dan Newmont Soal Renegosiasi Kontrak

Chairul Tanjung 2 kali Tolak Tawaran SBY Jadi Menteri Bidang Ekonomi

Teguh Mengaku Kristen, Tiang Gantungan Imbalannya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Daniel Wani, Meriam Yehya Ibrahim, dan putranya

Sesak rasanya dada ini ketika membaca beberapa media online luar negeri yang memberitakan tentang seorang wanita bernama Meriam Yehya Ibrahim. Wanita Sudan berusia 27 tahun yang memiliki satu orang putra dan tengah hamil 8 bulan ini telah divonis mati dengan cara digantung pada Kamis, 15 Mei 2014 oleh Pengadilan Khartoum, Sudan. Meriam dinyatakan bersalah karena tetap bertahan dengan iman Kristianinya. Dia dianggap murtad dan melanggar syariat Islam. Divonis bersalah karena menolak untuk masuk Islam. Selain digantung, ibu ini juga harus menghadapi hukuman cambuk 100 kali karena dianggap bersalah telah melanggar hukum syariat, menikah dengan non-muslim.

Heuuuuhhh… mengapa harus seperti ini? Mengapa seseorang harus meregang nyawa karena iman dan keyakinannya? Pengadilan telah meminta Meriam untuk kembali menganut Islam, namun dia menolaknya dan bersikukuh bahwa sejak kecil telah menganut Kristen. Namun, tidak demikian halnya dengan pengadilan Khartoum, Sudan. Pengadilan mengklaim bahwa Meriam adalah seorang Muslim karena ayahnya, yang telah meninggalkan keluarga ketika berusia enam tahun adalah seorang Muslim. Meriam tetap bersikukuh bahwa dia memeluk Kristen Ortodoks Ethiopia sejak kecil mengikuti ibunya yang juga seorang Kristen. Dengan tegas Meriam mengatakan, “Saya Kristen, dan saya akan tetap menjadi seorang Kristen”.

Tiang gantungan tengah menanti Meriam Yehya Ibrahim. Pengadilan memutuskan Meriam akan menjalani hukuman setelah melahirkan anaknya dan membesarkannya hingga usia dua tahun. Saat ini, Meriam berada di penjara bersama dengan bocah lelaki, anak pertamanya yang berusia 20 bulan.

Pada tahun 2012, Meriam menikah dengan seorang pria beragama Kristen pada sebuah gereja yang tidak diakui oleh petugas pemerintah setempat. Di pengadilan, Meriam menegaskan bahwa dia tidak pernah berganti keyakinan, dia menganut Kristen sejak kecil.

Daniel Wani, suami Meriam mengatakan kepada CNN, “Saya begitu frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, hanya bisa berdoa”. Suaminya mengatakan bahwa Meriam Kristen tapi pengadilan menganggap bahwa dia Muslim.

Sangat menyedihkan. Seorang wanita, dihukum mati karena mempertahankan keyakinannya, dan dicambuk karena dianggap menikahi pria yang berbeda keyakinan.

Saat ini, berbagai aktivis dari beragam lembaga internasional terkait hak asasi manusia tengah mencoba untuk menentang putusan pengadilan Khartoum dan menekan pemerintah Sudan. Putusan pengadilan Khartoum mendapat protes keras dari sejumlah lembaga hak asasi manusia. Sebuah lembaga bernama Stategic Initiative for Women dan sejumlah aktivis menggelar kampanye internasional untuk menekan Pemerintah Sudan. Semoga upaya-upaya yang dilakukan berhasil dan Meriam terbebas dari hukumannya.  Amin. (Del)
Beberapa berita tentang Meriem Yehya Ibrahim:

 

Jangan Biarkan Mangrove Bali Menghilang

Hamparan Mangrove di Bali

Hamparan Mangrove di Bali

Indonesia merupakan negara yang terletak di kepulauan tropis dengan jumlah pulau lebih dari 17.500 pulau dan garis pantai tidak kurang dari 18.000 km. Indonesia sangat ideal bagi ekosistem mangrove. Di Indonesia, hutan mangrove tersebar hampir di seluruh kepulauan. Sebagian besar terkonsentrasi di Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Sebagian lainnya tersebar di pulau-pulau lainnya, termasuk di Pulau Bali. Sayangnya, di beberapa wilayah, kondisi hutan mangrove semakin memprihatinkan. Di beberapa lokasi, areal hutan mangrove sudah banyak berkurang karena berbagai kepentingan. Misalnya, di Pulau Batam, areal mangrove semakin terdesak oleh permukiman. Di Manado pun demikian, mangrove seolah semakin terpinggirkan. Untuk itu, tidak ada salahnya kita berwisata sekaligus menengok hutan mangrove yang ada  di Bali. Jangan biarkan mangrove Bali menghilang.

Siang itu cuaca Bali cerah secerah-cerahnya. Langit membiru berpadu dengan gumpalan awan putih nan bersih. Sangat kontras dan berbeda jauh bila dibandingkan dengan langit Jakarta yang selalu didominasi warna abu karena ternoda polusi. Sesekali burung-burung melintas. Lengkap, baik burung hidup maupun burung besi.

Mata tertuju pada sepasang calon pengantin yang sedang menjalani sesi foto pra-wedding. Seperti halnya trend yang ada saat ini, pasangan calon pengantin selalu memburu lokasi-lokasi indah untuk berfoto dan menawarkan kenarsisan mereka untuk keperluan pajangan di undangan atau pajangan di lokasi pernikahan nantinya.

Terkadang pasangan yang akan mengarungi lembaran hidup barunya tersebut harus mengalah sebentar untuk memberikan kesempatan rombongan pelajar yang tengah berwisata lewat. Rona malu-malu masih terpancar pada wajah calon mempelai wanita. Cuaca terik tak mampu mengusir rasa bahagianya, bahkan seakan berusaha menyebarkannya ke sekitar. Sesekali, gaunnya yang putih menjuntai panjang perlu dibenahi dan dirapihkan. Yang lelaki tak henti menatap pasangannya dengan penuh cinta. Indahnya… Semoga menjadi pasangan yang langgeng. Begitulah sekelumit pemandangan yang terlihat di salah satu objek wisata mangrove di Pulau Bali.

Mungkin, wisatawan yang sering bolak-balik ke Bali tanpa bosan melalui Bandara Ngurah Rai tidak asing dengan rimbunan pohon mangrove di sepanjang tepi jalan Bypass Ngurah Rai. Gerombolan mangrove seakan menambah indah lanscape Bali.

Bypass Ngurah Rai merupakan jalan yang menghubungkan beberapa titik destinasi wisata, antara lain Kuta, Legian, Nusa Dua, Jimbaran, hingga Uluwatu. Suka tidak suka, kita harus melewati rimbunan mangrove di sepanjang jalan. Pertanyaannya, “Sudah pernahkah menjelajahi pepohonan mangrove Bali tersebut? Sudah pernahkah berkunjung ke Mangrove Information Center Bali?

Rimbunnya Mangrove Bali

Rimbunnya Mangrove Bali

Tunas mangrove yang baru tumbuh

Tunas mangrove yang baru tumbuh

Mungkin belum terlalu banyak yang telah blusukan ke sana. Bali memiliki banyak sekali alternatif objek wisata sehingga sangat wajar bila masih banyak yang belum tereksplor dengan baik. Sepenggal kawasan hutan mangrove yang dikenal dengan Pusat Informasi Mangrove tersebut seakan tenggelam dengan berjejalannya destinasi wisata di Selatan Bali. Namun, percayalah… Lokasi satu ini seakan oase di tengah hiruk pikuknya Bali. Kerimbunan dan hijaunya mangrove mampu memberikan nuansa lain, memberikan warna lain pada Bali. Sekedar untuk bersantai, sekaligus mengenal beragam jenis mangrove yang ada di Bali. Jenisnya sangat beragam, belajar sekaligus menemu kenalinya secara langsung. Melihat langsung bentuk dan wujud pohonnya.

Sebagian mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Sebagian mangrove di Hutan Mangrove Bali

Salah satu jenis mangrove di Hutan mangrove Bali

Salah satu jenis mangrove di Hutan mangrove Bali

Pelatihan menanam mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Pelatihan menanam mangrove di Mangrove Information Center, Bali

Pusat Informasi Mangrove Bali memiliki luas sekitar 1300 hektar. Cocok sebagai tempat untuk memberikan pengenalan tentang informasi mangrove bagi anak-anak. Kawasan ini juga menyediakan paket pelatihan menanam bibit mangrove secara langsung. Akan ada pemandu yang cukup handal dan mengenal dengan baik jenis-jenis mangrove, juga manfaat yang dihasilkan oleh masing-masing mangrove. Setidaknya terdapat 18 spesies mangrove, mulai dari Sonneratia alba, Rhizophora Mucronata, Rhizopora Apiculata, Bruguiera Gymnorhiza, Xylocarpus Granatum, dan lainnya. Manfaatnya pun beragam, mulai dari untuk bahan pembuat tepung, sirup, alat kosmetik, hingga sabun.

Berjalan di atas titian kayu sepanjang mangrove

Berjalan di atas titian kayu sepanjang mangrove

Tak perlu khawatir, untuk menjelajahi kawasan hutan mangrove yang luas tersebut, kita dapat memulainya dengan meniti melalui jembatan titian kayu sepanjang lebih dari dua kilometer. Sayang sungguh sayang, di beberapa bagian, kondisinya ada yang rusak dan bolong. Perlu berhati-hati, jangan sampai terperosok ke dalamnya. Tapi secara keseluruhan, cukup memberikan pengalaman yang berbeda.

Perjalanan dengan menyusuri jembatan kayu tidak akan terasa karena sepanjang jalan akan diberikan penjelasan oleh pemandu dan suasana rimbun mangrove dan angin semilir yang bertiup sungguh menyejukkan.

DSC_0313

Menara Pandang dari Kayu

Di tengah perjalanan, kita akan menemukan menara yang terbuat dari kayu. Cobalah naik untuk menikmati pemandangan. Dari atas kita dapat melihat hutan mangrove secara keseluruhan. Kita pasti akan terlena dengan pemandangan hijau yang terhampar asri dan hembusan angin segar semilir yang menerpa. Sangat indah.

Hutan Mangrove Bali termasuk ke dalam area Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai yang berbatasan dengan Kabupaten Badung. Merupakan wujud kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan JICA (Japan International Coorperation Agency). Konsepnya untuk memberikan pemahaman kepada para pengunjung kawasan hutan mangrove agar lebih mengenal lingkungan, mencintainya, dan kemudian merealisasikannya dengan menjaga dan melestarikannya. Kawasan ini juga berfungsi sebagai penguat lingkungan, mencegah abrasi pantai.

Bali tidak semata memiliki pantai yang indah, budaya yang cantik, pura yang agung, gunung yang menjulang atau danau yang membentang luas. Tidak ada salahnya mencoba melakukan kunjungan yang berbeda dan tidak kalah mengasikkan. Melakukan penjelajahan di hutan mangrove Bali sekaligus belajar dan mendapatkan informasi tentang pentingnya pelestarian mangrove di Bali. Jangan biarkan mangrove Bali menghilang.

Jadi, tertarik untuk berkunjung…? Atau ikut pelatihan mangrove? Silakan. (Del)

 

Menelisik Makam Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Barat

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Empat kali sudah kaki ini menjejak Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur, namun masih banyak misteri, keindahan, serta keeksotisan Pulau Sumba yang belum terkuak dan terekplorasi dengan baik. Masih banyak destinasi yang belum terkunjungi dan masih banyak pula budaya yang belum tersingkap. Di setiap kunjungan, kekaguman senantiasa membuncah lalu mengerucut pada kesan eksotis yang tersemat.

Selain memiliki alam elok nan murni dan belum banyak terjamah tangan-tangan kotor, pemandangan padang rumput nan luas, pantai yang indah, hamparan lahan yang berbukit dan bergelombang, keistimewaan Pulau Sumba terletak pada kekayaan budaya yang tinggi. Sumba masih menyimpan gaya hidup dan adat istiadat yang tetap terpelihara hingga kini. Walau sudah mulai sedikit mengalami penyesuaian jaman, jejak asli kebudayaan yang masih murni tetap tampak dengan jelas. Salah satunya terekam dengan baik di Kampung Adat Pasunga, Kota Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah.

Untuk menjangkau Kota Waibakul sebagai Ibukota Kabupaten Sumba Tengah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 2 jam. Atau melalui Bandara Umbu Mehang Kunda di Kabupaten Sumba Timur, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 3 jam. Saat ini, armada Garuda Indonesia pun sudah memiliki penerbangan Jakarta – Bali – Tambolaka, atau dapat pula menggunakan pesawat Nam Air dan Lion Air dari Bali atau Kupang.

Masyarakat di Pulau Sumba memiliki satu kepercayaan yang sampai saat ini masih banyak dianut, yaitu Marapu. Marapu merupakan inti dari kebudayaan masyarakat Sumba dan sumber nilai yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Orang Sumba memegang teguh kepercayaan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak terpisahkan. Marapu dianggap sebagai media atau perantara yang dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta. Masyarakat Sumba memiliki keyakinan bahwa manusia harus memelihara hubungan yang baik dengan sesama manusia, hubungan antara manusia dengan alam, juga hubungan antara manusia dengan arwah-arwah yang telah meninggal. Manusia yang masih hidup harus memiliki hubungan dengan arwah leluhurnya bila tidak ingin mengalami penghukuman.

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

Kepercayaan untuk memelihara hubungan dengan arwah leluhur ini pula yang seakan memberi nafas pada permukiman mereka, seperti halnya di Kampung Adat Pasunga. Kampung Adat Pasunga seperti kampung adat lainnya di Pulau Sumba berbentuk cluster dengan lokasi pemakaman yang berada di bagian depan dan tengah permukiman. Memasuki kawasan Kampung Adat Pasunga, Desa Anakalang, kabupaten Sumba Tengah, kita seakan disambut oleh beberapa makam/kuburan yang diletakkan pada bagian depan dan tengah perkampungan. Makam leluhur seakan menjadi fokus dan pusat dari kawasan permukiman. Perhatian pertama pasti akan tertuju pada kuburan megalitik di bagian depan Kampung.

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka

Kampung Adat Pasunga masih dihuni hingga sekarang. Pada bagian depan kita akan menemukan batu kuburan megalitik terbesar di Pulau Sumba. Batu kuburan megalitik tersebut masih tetap utuh terjaga. Terdapat sekitar 30 rumah yang ada di sana. Rumahnya memiliki bentuk khas Sumba dengan atap yang menjulang tinggi. Dinding terbuat dari kayu dengan atap dari seng. Bentuk rumahnya nyaris serupa dan seragam. Pada bagian tengah kampung terdapat lahan yang dikelilingi oleh kuburan tempat para warga berkumpul atau mengadakan upacara keagamaan.

Suasana Kampung Adat Pasunga siang itu cukup sepi. Hanya terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Para penghuninya kebanyakan tengah pergi bekerja atau sekedar mengurus ternaknya.

Untuk menghidari kesulitan dengan penerimaan penduduk kampung adat yang mungkin saja tersinggung dengan kedatangan kita atau wisatawan, pengantar kami yang kebetulan merupakan penduduk Sumba Tengah menyarankan agar memberikan sumbangan uang dan mencatat nama pada buku tamu. Semua dilakukan agar dapat dengan leluasa memasuki perkampungan mereka atau sekedar mengambil foto.

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasonga

Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasunga

Ada hal yang menarik. Walau mereka masih tetap menjaga teguh tradisi dan budaya yang mereka miliki, sentuhan modernisasi sudah mulai nampak. Terlihat beberapa rumah telah memasang parabola. Semua semata agar warga di sana dapat menikmati siaran televisi.

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba

Kuburan warga penganut Kristen  dengan bentuk khas Sumba

Kuburan warga penganut Kristen dengan bentuk khas Sumba

Pada bagian belakang kampung adat, terdapat pula kuburan dengan bentuk yang sama namun terbuat dari bahan yang lebih modern. Terlihat bahwa yang terkubur di sana bukan penganut Marapu, namun telah menjadi penganut Kristen.

Itulah Sumba. Pulau yang sarat dengan budaya dan mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan perubahan jaman. Tradisi leluhur yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya sudah mulai dipengaruhi oleh gaya hidup dan budaya yang berasal dari luar kehidupan mereka. Generasi muda Sumba mungkin ada yang telah memiliki cara pandang baru dan berbeda dengan tradisi serta ajaran leluhur mereka. Namun, tetap menyimpan hormat dan menyimpan erat nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupannya. Semoga budaya mereka tetap terjaga di tengah gempuran budaya luar.  Salam. (Del)