Jokowi Tidak Identik dengan PDIP dan Ahok Tidak Identik dengan Gerindra

 

Jokowi - Ahok. Sumber : http://www.luwuraya.net/

Jokowi – Ahok. Sumber : http://www.luwuraya.net/

Pemilu legislatif telah usai. Saat ini, para calon anggota legislatif yang bertarung tengah harap-harap cemas menanti hasil akhir secara resmi. Akankah mereka dapat melenggang ke Senayan, ataukah harus mengubur impiannya dalam-dalam?

Hasil hitung cepat dari berbagai lembaga sudah ditayangkan. Perolehan suara masing-masing peserta pemilu versi hitung cepat sudah dirilis sejak hari pemilihan. PDIP muncul sebagai jawara pada kontestasi kali ini. PDIP menggapai puncak suara dengan hasil di kisaran 19 persen, jauh dari angka yang ditargetkan semula sebesar 27 persen. Suara-suara sumbang mulai bermunculan. “Jokowi Effect” ternyata tidak terbukti. Beberapa pentolan PDIP berkeyakinan bahwa dengan mendeklarasikan Jokowi sebagai Capres diharapkan dapat mendongkrak perolehan suara PDIP. Bahkan selentingan yang beredar, ini pula yang mengakibatkan sedikit kekisruhan di tubuh PDIP. Benarkah “Jokowi Effect” tidak berlaku?

Sebenarnya tulisan ini bermula dari tulisan sebelumnya “Seandainya Jokowi RI1 dan Ahok RI2”. Masih lekat dalam ingatan pada tahun 2004 ketika nama SBY melesat jauh lebih besar dari partainya atau ketika Jokowi-Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tanpa mengecilkan peran partai, partai jangan terlalu berbangga hati. Mereka terpilih rakyat jauh melebihi hitungan secara partai. Foke didukung oleh begitu banyak parpol yang kalau dengan pola pikir parpol atau kalkulasi parpol akan meraih kemenangan. Buktinya? Warga atau rakyatlah yang menentukan pilihan. Hanya dalam hitungan bulan, elektabilitas Jokowi naik pesat.  Oke lah, kalau ada yang mengatakan bahwa Jakarta berbeda dengan Indonesia. Warga Jakarta relatif lebih melek informasi. Tapi tetap, unsur figur masih yang utama, bukan parpol.

Ini pula yang terjadi pada pemilihan legislatif yang lalu.  “Jokowi Effect” tidak terjadi karena sosok seorang Jokowi, tidak serta merta identik dengan PDIP.  Di berbagai media sosial bahkan sempat beredar, “Jokowi Yes, PDIP No”. Pemilih bisa jadi memilih Jokowi sebagai Presiden bukan karena partainya, tapi karena figur Jokowi-nya, lantaran sosok Jokowi-nya.  Memang, kita harus menghadapi kenyataan bahwa Jokowi tidak mungkin dapat dicalonkan jika tidak memiliki dukungan suara parpol pengusungnya. Jokowi baru dapat menjadi Calon Presiden bila diusung satu atau beberapa partai gabungan yang mendapatkan 25% suara Nasional atau 20% kursi DPR. Tapi tetap, masyarakat cenderung untuk memisahkan antara figur dan partai. Tidak dapat disalahkan.

Kenyataan ini tidak terlepas dari sistem yang ada. Masyarakat telah dibuat bingung dengan banyaknya partai peserta pemilu. Masyarakat telah dibuat pusing dengan berbagai berita miring yang telah mencoreng semua partai yang ada. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tingkah polah orang-orang atau oknum-oknum di bawah naungan partai politik sudah hampir sampai pada titik nadir. Sangat sulit bagi masyarakat awam seperti saya yang setiap hari dijejali dengan berita berbagai media tentang kekisruhan maupun tingkah polah negatif para anggota parpol untuk memilih salah seorang yang dapat dipercaya.

Hal yang sama juga terjadi pada partai-partai yang lainnya. Masyarakat pemilih cenderung memisahkan antara figur seseorang dengan partainya. Mungkin Prabowo memang dapat disebut identik dengan Gerindra. Prabowo adalah Gerindra dan Gerindra adalah Prabowo. Seperti dulu, SBY adalah Demokrat dan Demokrat adalah SBY. Bisa jadi, elektabilitasnya pun berbanding lurus. Tapi tidak demikian halnya dengan Ahok. Ahok juga tidak identik dengan Gerindra. Seseorang yang memilih Ahok, tidak dapat serta merta dianggap sepaham atau mendukung Gerindra.

Dari kenyataan itu pula, sepertinya perolehan hasil pemilu legislatif akan berbeda dengan perolehan hasil Pemilu Presiden. Elektabilitas Jokowi akan tetap tinggi karena figur Jokowi dan bukan partainya. Tentu tergantung pula pada figur yang akan mendampinginya sebagai Calon Wakil Presiden. Gerindra yang telah jauh-jauh hari mengusung Prabowo sebagai Calon Presiden dan Prabowo yang sangat bersemangat untuk maju dalam pertarungan calon Presiden, tentunya sulit untuk berbesar hati memberikan tiketnya pada Ahok untuk maju mendampingi Jokowi. Sekali lagi, karena Ahok tidak serta merta identik dengan Gerindra  dan Gerindra tidak identik dengan Ahok. Kita lihat saja nanti.. Salam. (Del)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s