Pesan Menjelang Paskah: Melayani Sesama

Paus Fransiskus basuh kaki pada Perayaan Kamis Putih

Paus Fransiskus basuh kaki pada Perayaan Kamis Putih

Sempat sekilas melihat tayangan di TV tentang perayaan Kamis Putih yang dilayani secara langsung oleh Paus Fransiskus di rumah penampungan orang tua dan kaum difabel, yaitu Yayasan Don Carlo Gnochhi, Roma, Italia. Semenjak dinobatkan menjadi pemimpin Gereja Katholik ke 266, Paus Fransiskus ingin tetap konsisten dengan misinya, untuk melayani. Ini pula pesan yang secara kental ingin disampaikannya dalam Misa Kamis Putih, sebuah perayaan dalam rangkaian tiga hari suci menyambut Paskah. Paus Fransiskus membasuh kaki 12 orang, termasuk orang tua, penyandang disabilitas, dan seorang non Katholik berdarah Libya. Dengan keterbatasan usianya yang telah mencapai 77 tahun, terlihat Paus Fransiskus dengan susah payah membungkuk untuk membasuh kaki, melap, lalu mencium kaki-kaki tersebut. (Kamis, 17/4/2014).

Ke dua belas orang yang dibasuh kakinya oleh Paus Fransiskus berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda dari sudut usia, etnis, maupun agama. Ada bocah yang terpaksa harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda karena tulang punggungnya patah, ada wanita tua yang juga harus duduk di kursi roda, ada wanita yang menderita cerebral palsy, termasuk juga Hamed, seorang Muslim asal Libya yang menderita kerusakan saraf yang sangat berat.

Paus menyampaikan bahwa ritual membasuh kaki, mengingatkan dirinya sendiri untuk melayani sesama. Ritual ini tidak hanya dilakukan tahun ini saja. Tahun yang lalu, Paus asal Argentina tersebut juga membasuh kaki 12 orang narapidana. Ini di luar kebiasaan Paus sebelumnya. Paus sebelumnya biasanya membasuh kaki 12 imam terpilih di Vatikan. Ritual baru yang diciptakan oleh Paus Fransiskus ini telah mengubah tradisi sebelumnya.

Paus Fransiskus ingin menyampaikan pesan bahwa sudah selayaknya manusia mencontoh teladan Yesus yang juga membasuh kaki kedua belas muridnya pada malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Yesus telah mengabdikan diriNya sebagai seorang pelayan yang melayani. Sesuai dengan firmanNYa, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Jadi teringat hiruk pikuk demokrasi yang tengah terjadi di Indonesia saat ini. Bagi para calon legislatif yang tengah harap-harap cemas menanti hasil pengumuman pemilihan legislatif atau para tokoh yang tengah bersaing untuk menduduki kursi Presiden maupun calon Presiden, atau para pemimpin lainnya, perlu diingat. Menjadi pemimpin bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Melayani dengan hati, dengan sepenuh hati untuk rakyat yang dipimpinnya. Melayani dengan hati mengandung pengertian melayani dengan sungguh-sungguh bahkan melupakan tingginya jabatan yang disandangnya, melupakan status sosialnya, turun dan berbaur dengan masyarakat, bahkan bersedia menjadi “hamba”, untuk melayani sesama manusia. Jangan sampai yang terjadi adalah setiap orang berlomba-lomba untuk melayani kepuasan diri sendiri.

Selamat merenungkan makna Jumat Agung dan menyambut perayaan Paskah bagi yang merayakan serta selamat menikmat libur panjang untuk semuanya. Salam. (Del)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s