Seandainya Jokowi RI1 dan Ahok RI2

Jokowi - Ahok. Sumber: http://indonesia-baru.liputan6.com/

Jokowi – Ahok. Sumber: http://indonesia-baru.liputan6.com/

Belakangan ini, perbincangan di berbagai media nyaris didominasi oleh berita-berita politik. Mendadak banyak bermunculan para pengamat dadakan yang seakan paling tahu, paling akurat memberikan ulasan, paling jitu merumuskan prediksinya, atau paling kenal dengan pola pikir parpol. Namun terkadang mereka melupakan pola pikir masyarakat yang nanti akan menjadi pemilih, yang akan menentukan pilihannya. Berbagai ulasan banyak bertebaran di beragam media, semua memiliki alasannya masing-masing. Dan saya hanya seorang rakyat biasa yang jauh dari hiruk pikuk dunia perpolitikan. Hanya seorang warga biasa yang ingin mengutarakan pendapat pribadinya.

Jadi teringat ketika pertama kalinya dilakukan pemilihan Presiden secara langsung pada tahun 2004 lalu. Nama SBY melejit jauh lebih besar dari partainya. SBY dielu-elukan oleh masyarakat dan dipilih oleh rakyat yang lebih memilih figur daripada partai, yang kebetulan partai bentukannya sendiri. Demikian pula halnya dengan Jokowi-Ahok ketika pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur belum genap 2 tahun yang lalu. Tanpa mengecilkan peran partai, partai jangan terlalu berbangga hati. Mereka terpilih rakyat jauh melebihi hitungan secara partai. Foke didukung oleh begitu banyak parpol yang kalau dengan pola pikir parpol atau kalkulasi parpol akan meraih kemenangan. Buktinya? Warga atau rakyatlah yang menentukan pilihan. Hanya dalam hitungan bulan, elektabilitas Jokowi naik pesat.  Oke lah, kalau ada yang mengatakan bahwa Jakarta berbeda dengan Indonesia. Warga Jakarta relatif lebih melek informasi. Tapi tetap, unsur figur masih yang utama, bukan parpol.

Hal yang selalu menjadi momok ketika seorang kepala pemerintahan tidak mendapat dukungan mayoritas parpol adalah ketika menjalankan pemerintahannya dan dalam banyak hal memerlukan persetujuan dari DPR/DPRD. Biasanya mereka takut, misalnya pembahasan tentang anggaran dan pelaksanaan pemerintahannya terganjal atau terhambat di DPR/DPRD. Namun, Jakarta sudah membuktikan, dengan transparansi dan dukungan media serta pengawasan rakyat secara langsung DPRD tidak dapat mengganjal tanpa alasan yang jelas dan kuat.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Jokowi cukup tinggi dan dapat menjadi modal besar dalam memenangkan pilpres 2014. Pasar bereaksi negatif ketika hasil pileg tidak cukup kuat bagi PDIP untuk mengusung Jokowi seorang diri sehingga perlu yang namanya koalisi atau yang katanya kerja sama. Elektabilitas Jokowi juga terancam jeblok apabila disandingkan dengan orang yang tidak tepat.  Harus ada figur yang tepat untuk menjadi pendamping Jokowi. Siapa figur yang tepat sebagai pendamping Jokowi?

Karena tulisan ini merupakan pendapat pribadi, maka tentunya ini merupakan celotehan saya. Jokowi sebaiknya disandingkan dengan sosok yang dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang dimiliki Jokowi. Sebaiknya tokoh muda dengan semangat dan totalitas tinggi dan rekam jejak yang masih bersih. Ahok merupakan figur yang pas untuk menambal kelemahan-kelemahan Jokowi. Jokowi hanya perlu dikelilingi oleh para ahli yang berpengalaman dan telah matang. Biarkan Jokowi-Ahok yang mengeksekusinya.

Bagaimana mungkin?

Jalan untuk menuju ke sana memang cukup terjal. Ahok terhadang oleh partai yang menaunginya. Apresiasi untuk Ahok. Beliau masih menghormati Prabowo, “Kalau mau saya jadi Wapres, harus ijin Gerindra”. Apakah Prabowo dapat legowo mempersilakan Ahok untuk maju? Seharusnya Prabowo bisa seperti Mega yang mencoba untuk hanya menjadi King Maker. Hehehe..

Patut diakui, Jokowi memiliki kemampuan komunikasi publik yang cukup mumpuni dan publik telah menerimanya. Gaya blusukannya dan caranya mencoba mendekati persoalan, mendekati masyarakat layak diakui telah merebut hati warga. Jokowi mampu menelisik permasalahan lapangan yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat secara sederhana dan mengemukakan gagasan besar dengan bungkus yang sederhana. Apakah cukup hanya dengan cara blusukan? Tentunya tidak. Indonesia jauh lebih luas dari Jakarta. Indonesia merupakan negeri kepulauan. Terbayang kalau Jokowi harus blusukan se-Indonesia. Setahun pun belum tentu terkelilingi. Perlu cara yang lebih efektif untuk memetakan persoalan di lapangan dan menghasilkan solusinya. Sebenarnya, permasalahan di lapangan sudah sama-sama diketahui. Yang diperlukan hanya eksekusi solusi. Siapa yang pegang birokrasi pemerintahan? Siapa yang pegang roda pemerintahan?

Ahok pantas untuk mendapatkan kesempatan untuk itu. Biarkan Ahok yang pegang kendali birokrasi pemerintahan. Biarkan Ahok membersihkan noda-noda kotor yang membandel di birokrasi. Indonesia butuh sosok yang tegas dan lurus seperti Ahok. Mungkin di awal, pasti terkaget-kaget dengan gaya Ahok. Tapi yakin, Indonesia lama-lama akan menerimanya. Setiap orang punya gayanya masing-masing. Jangan sampai gaya mengaburkan esensi utama.

Bagaimana dengan tokoh seperti Yusuf Kalla yang juga digadang-gadang sebagai Cawapres? Sebaiknya beliau menjadi penasihat saja. Pengalamannya yang telah sarat, tetap sangat berguna, namun cukuplah sebagai pemberi pertimbangan kepada Presiden. Tut Wuri Handayani saja. Bagaimana dengan Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Mahfud MD, dan lain-lain? Mereka layak kok jadi Menteri. Bukan karena partainya.

Bagaimana dengan Jakarta? Haruskah ditinggalkan oleh kedua pemimpinnya? Tidak usah khawatir dengan Jakarta. Masa Jakarta yang katanya kiblat pembangunan di Indonesia tidak mampu menghasilkan pemimpin unggulan lagi? Mengalah untuk Indonesia. Yakin saja… masih banyak pemimpin di Indonesia yang bisa membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Seperti halnya kota-kota lainnya. Sudah mulai banyak bermunculan para pemimpin jempolan seperti Tri Rismaharini di Surabaya, Ridwan Kamil di Bandung, Nurdin Abdullah di Bantaeng, Ramdhan Pomanto di Makassar, Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Bima Arya di Bogor, atau pemimpin-pemimpin unggulan lainnya. Mari kita munculkan pemimpin jempolan untuk Jakarta.

Gubraaakkk….! Hari sudah mulai pagi, jam weker sudah berbunyi. Saatnya untuk mempersiapkan anak-anak sekolah. Ternyata saya tengah bermimpi… Selamat pagi. Salam. (Del)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s