Aih …. Senangnya Beristri Banyak di Pulau Sumba!

Hamparan Sawah yang menghijau di Pulau Sumba

Hamparan Sawah yang menghijau di Pulau Sumba

Padang savana di Pulau Sumba

Padang savana di Pulau Sumba

Selain menyimpan sejuta keindahan alam nan eksotis, Pulau Sumba juga mengguratkan aneka adat  istiadat yang menarik untuk disimak. Sumba selalu menarik untuk ditelisik lebih jauh. Mungkin tidak semua orang di Pulau Sumba makmur. Namun, jangan pernah tertipu oleh penampilan sederhana, kulit hitam kering, pakaian lusuh berlumuran lumpur, serta jauh dari perawatan wajah dan tubuh. Tidak berarti mereka hidup serba kekurangan, tidak berarti mereka miskin. Bisa jadi sebaliknya.

Jika ditanya lebih lanjut, “Berapa ternak yang Bapak punya?” Tidak perlu terkaget  jika jawabannya ratusan. Atau tanyalah, “Berapa luas sawah yang Bapak miliki?”. Tidak perlu terheran jika responnya puluhan hektar. Mereka tidak seperti warga Jakarta yang menyimpan uangnya di bank. Harta mereka berserakan di kebun dan padang rumput, tanpa takut ada yang mengambil atau merampasnya. Harta mereka dibiarkan berkeliaran di padang rumput karena hartanya berupa ratusan ekor hewan ternak, baik sapi maupun kuda. Harta mereka juga berbentuk puluhan hektar sawah yang membentang di Bumi Sumba.  Bahkan mereka tidak tahu persis area yang mereka punya. Jika ditanya batas propertinya, mereka jawab, “Sampai kumpulan pohon kehi di ujung sana…”. Sebagai catatan, pohon kehi adalah pohon khas Sumba yang struktur dahan dan rantingnya terlihat sangat eksotis ketika musim kering.

Kaya, punya ratusan ternak, puluhan hektar sawah, tidak lengkap bila tidak memiliki istri lebih dari satu. Tidak hanya dua, tiga, atau empat. Bahkan ada pula yang lebih dari lima. Wajah standar tidak menjadi masalah. Ingin rasanya meneriakkan pertanyaan, “Haduh…! Apa tidak puas beristri satu?”. Untung masih dapat menahan diri, tapi tetap dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Hanya tentunya dengan nada yang lebih halus.

Jadi teringat lagu yang pernah diluncurkan oleh Ahmad Dhani dengan judul “Madu Tiga” yang bertutur tentang senangnya hati kalau beristri dua. Istri tua merajuk, balik ke rumah istri muda. Kalau keduanya ngambek, gampang saja.. Kawin lagi. Ternyata di Sumba bisa lebih dari lima, bahkan ada yang 12 sekaligus.

Masih penasaran, saya coba menelisik lebih lanjut alasan beristri banyak. Ternyata jawabannya simpel, “Supaya ada yang ngurus sawah dan ternak, kalau istri saya hanya satu, siapa yang ngurus sawah dan ternak?”. Agak sulit untuk diterima akal pikiran saya. Pasti akan muncul pertanyaan lanjutan, “Mengapa tidak mempekerjakan orang lain untuk mengurus sawah dan ternak? Bukankah lebih baik menggaji pekerja?” Tapi tentunya kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk memiliki pendapat dan pandangan yang sama.

Kebetulan bertemu dengan salah satu Kepala Desa di Kabupaten Sumba Timur. Tepatnya mantan Kepala Desa karena minggu lalu anaknya yang terpilih untuk menggantikannya. Wajah tuanya terlihat jelas. Bajunya sangat lusuh, kulitnya hitam, dan masih terlihat lumpur di sana-sini. Tidak tampak bahwa dia memiliki properti yang sangat banyak. Ketika ditanya, ternyata beliau memiliki istri tiga. Tidak ada rasa canggung atau malu ketika beliau menjawab bahwa beliau memiliki istri tiga. Bahkan tanpa diminta, beliau menjelaskan bahwa anaknya, kepala desa yang sekarang, juga memiliki istri tiga. “Wow…!”.

Sempat pula lewat ke rumah seorang Sekretaris Desa. Orang dari Kabupaten langsung menjelaskan, “Itu rumah istrinya yang kedua. Rumah istri pertamanya tidak jauh kok..”. Terlihat sebuah rumah yang sangat sederhana. Tapi sekali lagi, jangan menilai seseorang dari rumahnya. Hartanya tidak kalah banyak.

Praktek poligami di Sumba sudah menjadi hal yang lumrah dan wajar.  Mungkin kita saja yang menganggap hal itu aneh. Beristri banyak agar ada yang mengurus propertinya. Dan lebih terheran lagi ketika mengetahui bahwa rumah para istrinya banyak yang berdekatan, demikian pula dengan rumah anak-anaknya.

Semakin terheran karena umumnya mereka sudah merupakan penganut Katholik atau Kristen Protestan. Bagaimana itu bisa diakui gereja yang menganut paham monogami? Jawabannya, “Yang diakui hanya istri yang pertama”. Tapi ada penjelasan yang sedikit melegakan dari salah seorang aparat kabupaten yang mengantar kami, “Tapi sekarang, sudah mulai jauh berkurang karena pengaruh gereja”.

Kita dengan mudah dapat menjumpai pria paruh baya, dengan jabatan hanya Kepala Dusun yang memiliki istri tiga. “Jangankan kepala dusun, pria biasa saja bisa memiliki istri tiga kok…”. Gubraaakkk ! Tepok jidat deh…

Tersenyum simpul sendiri, “Aih…senangnya para pria di Pulau Sumba ini. Butuh yang mengelola sawah dan ternak, tinggal kawin lagi…”. Timbul pertanyaan, “Apakah jumlah populasi wanita di Pulau Sumba lebih banyak? Sehingga perlu untuk menjadi istri kedua, ketiga, dan seterusnya?”.

Hari sudah mulai sore, sudah waktunya untuk kembali ke Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Pertanyaan demi pertanyaan masih menggelayut di benak. Sudahlah… itulah budaya mereka… Tapi pasti menarik jika menelitinya lebih lanjut.

Jadi… Tertarik untuk menjadi istri ke lima? Hehehe… Tidak saya sarankan lho… Selamat pagi. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s