Pemilu Legislatif: Pilih Simbol, Tampang, atau Rekam Jejak?

Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk berleha-leha dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Waktu istirahat harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Nonton TV, baca buku, menulis, browsing-browsing di dunia maya, menyantap kudapan ringan, atau bermain game menjadi pilihan utama yang wajib dilakoni. Terkadang masih sempat melakukan beberapa hal yang menarik hati. Mungkin tidak berlaku sama untuk orang lain, terutama untuk yang tengah mempersiapkan diri, mencalonkan menjadi salah satu anggota legislatif.

Ya, Hari Minggu ini berbeda dengan Hari Minggu biasanya. Hari ini, MInggu, 16 Maret 2014 hingga 5 April 2014 masa kampanye pemilu 2014 telah dimulai. Hiruk pikuk kampanye di Kota Jakarta maupun di belahan kota lainnya tengah berlangsung. Bagaimana dengan saya? Tetap lebih memilih berleha-leha di rumah, hehehe.. sambil mencoba mengamati hal-hal menarik terkait kegiatan kampanye.

Saya  dan sebagian besar warga biasa lainnya, mungkin tergolong orang yang tidak terlalu memahami seluk beluk politik. Untuk menghadapi pemilu legislatif 9 April mendatang belum menentukan pilihan. Boro-boro menentukan pilihan, mengetahui siapa orang yang akan mewakili kami sebagai warga juga tidak. Pertanyaannya, “Memang yakin merasa terwakili?” Hehehe.. Jangan ditiru ya…  Tapi, jangan salah, orang-orang seperti saya, belum tentu juga akan golput. Hanya merasa perlu untuk mengenali lebih jauh tentang calon wakilnya.

Berdasarkan hasil browsing-browsing di internet, banyak hal menarik ditemukan. Banyak cara yang dilakukan oleh para calon legislatif untuk menarik simpati masyarakat. Mulai dari memasang juru kampanye Nasional, mengundang artis kenamaan ibukota, bagi-bagi souvenir, menempelkan stiker di mana-mana, memasang gambar di angkutan kota, memasang poster di pohon-pohon, dan memasang baliho sekreatif mungkin. Efektifkah? Saya rasa belum tentu. Tapi yang jelas, sangat mengotori kota.

Cobalah perhatikan gambar/foto para calon legislatif yang tersebar di baliho-baliho. Ada satu tampilan yang sangat tipikal atau bisa disebut standar bagi para calon legislatif yang nampang di baliho. Para calon legislatif yang laki-laki pasti akan mengenakan peci dan calon legislatif wanita akan mengenakan jilbab. Tidak lupa, mereka akan memasang senyum yang paling manis. Apakah itu sebagai simbol untuk menunjukkan tingkat kesalehannya? Ataukah untuk menunjukkan simbol kebaikan hatinya? Ada pula yang dengan tampilan mengepalkan tangan seakan tengah berseru, “Merdeka!”. Apakah untuk menunjukkan simbol semangat? Banyak pula yang selain menampilkan foto diri, juga memajang foto pemimpin partainya atau tokoh idola di partainya. Banyak caleg Demokrat menampilkan foto dirinya dan foto SBY. Caleg Gerindra, didukung dengan foto Prabowo. Caleg dari PDIP banyak pula yang menampilkan foto Megawati atau Soekarno. Caleg dari Golkar, banyak pula yang masih mengusung Soeharto. Semua masih terjebak dalam simbolisasi.

Masih banyak pula partai politik yang masih mengandalkan strategi mendulang suara dengan memasang artis-artis atau tokoh terkenal lainnya. Tampang tampan dan cantik masih menjadi andalan untuk menarik perhatian masyarakat. Tidak ada yang salah dengan artis yang mencalonkan diri menjadi caleg. Asal memang memiliki kemampuan untuk itu. Semoga masyarakat dapat lebih pintar menentukan pilihannya.

Dalam baliho, para calon legislatif berusaha menonjolkan diri, memuji diri seakan mereka yang terbaik. Kata-kata muda, jujur, pintar, peduli, santun, berani, tegas, anti korupsi, berjuang untuk rakyat, dan beragam kata yang menjunjung lainnya banyak bertebaran.

Di antara sekian banyak baliho yang tersebar, banyak yang cukup menarik perhatian, bahkan membuat mulut tidak luput menyunggingkan senyum. Walau, terkadang membuat miris. Adakah mereka layak untuk mewakili masyarakat? Semoga masyarakat Indonesia semakin pintar dalam memilih, tidak tertipu oleh pesona foto yang terpampang di baliho.

 Pada masa kampanye, diharapkan warga dapat lebih mengenali para calon wakilnya, mengenali rekam jejak mereka, tidak hanya seperti memilih kucing dalam karung. Patut disadari, tidak mudah untuk mengenali calon yang ada. Selain karena waktu kampanye yang cukup singkat, juga karena rekam jejaknya memang belum terlihat. Sangat wajar, akan ada masyarakat yang memilih calon legislatif, tanpa perduli siapapun orangnya, yang penting dari mana partai itu berasal. Unsur ketokohan dan simbol masih akan mewarnai pemilu legislatif kali ini. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s