Mata Najwa: Menatap yang Menata Bantaeng

Gambar

Pilihan topik yang diangkat dalam acara Mata Najwa tadi malam (12/03/2014) sangat menarik. Mata Najwa berusaha menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki pemimpin-pemimpin yang bekerja dengan hati, bekerja dengan segenap kemampuan demi kemajuan wilayahnya. Kita masih memiliki harapan di tangan para pemimpin yang mau mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kabupaten/kotanya. Berupaya membuka wawasan masyarakat bahwa di negeri ini, pemimpin yang baik tidak hanya Jokowi, Ahok, atau Tri Rismaharini saja, yang kebetulan namanya sudah mulai merambah level Nasional. Masih banyak pemimpin lainnya, yang belum dikenal secara luas, namun prestasinya tidak perlu diragukan lagi.

Salah satu pemimpin yang ditampilkan dalam acara Mata Najwa kali ini adalah Bupati Bantaeng, Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Saat ini Nurdin Abdullah tengah menjalankan masa bakti keduanya sebagai Bupati. Beliau mulai menjabat sebagai Bupati Bantaeng sejak tahun 2008. Pada Pilkada April 2013 yang lalu meraih 82,71 % suara di antara calon lainnya. Menang secara mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin Bantaeng.  Nurdin Abdullah layak mendapatkan apresiasi atas kiprahnya dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Kebetulan, tahun yang lalu saya pun sempat menulis artikel tentang Bantaeng dan Nurdin Abdullah dengan judul Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan.

Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Kalau kita berkunjung ke Kota Bantaeng, kita akan menemukan sebuah kota yang bersih dan tertata apik. Jalanannya cukup mulus, tidak ada lubang menganga yang dapat menghambat perjalanan. Sangat sulit untuk menemukan onggokan sampah di sana. Bahkan saking bersihnya, kita seakan terbawa suasana, akan merasa malu untuk mengotori jalanan, merasa sungkan untuk membuang sampah sembarangan.

Banyak kiprah yang telah Nurdin Abdullah lakukan untuk Bantaeng. Awalnya beliau memiliki keengganan untuk memimpin Bantaeng. Desakan masyarakatlah yang meluluhkan hatinya untuk menata kotanya. Sebelum mengemban amanah sebagai Bupati, beliau adalah seorang akademisi dan pengusaha yang sempat memimpin 4 perusahaan Jepang. Tidak mudah baginya untuk melepaskan seluruh kemapanan yang dia miliki untuk memulai menata sebuah kabupaten kecil dengan luas yang hanya 0,63 % dari total luas Provinsi Sulawesi Selatan. Ada satu yang menarik dari perkataannya, “Jika ingin disenangi masyarakat, buatlah baliho di hati masyarakat”.

Banyak tantangan yang menghadang pada masa-masa awal kepemimpinannya. Nurdin Abdullah langsung dihadapkan pada masalah banjir yang setiap tahun kerap melanda Bantaeng. Di tengah hadangan para lawan politiknya, beliau teguh menjalankan pembangunan cekdam. Hasilnya sangat nyata. Bantaeng bebas dari bencana banjir di musim hujan, sekaligus bebas dari bencana kekeringan di musim kemarau. Sektor pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten Bantaeng pun aman dari kekeringan.

Pelayanan kesehatan menjadi garapan selanjutnya. Beliau mengusung Brigade Siaga Bencana lengkap dengan layanan call center nya. Pasukan kesehatan tersebut menerapkan moto “Siap melayani anda di rumah”. Bahkan rumah sakit 8 lantai nanti akan siap melayani. Warga Bantaeng nantinya tidak perlu lagi repot-repot ke Makassar jika ingin mendapatkan layanan kesehatan.. Semua berawal dari keprihatinannya terhadap layanan kesehatan yang ada dan yang terutama, berawal dari keinginan untuk mengabdikan diri untuk Bantaeng.

Kebetulan, saya pernah melakukankunjungan dalam rangka tugas ke Kabupaten Bantaeng. Jika berkunjung ke sana, kita akan takjub dengan berbagai sentuhan pembangunan yang ada.  Tanpa meninggalkan sektor unggulannya di bidang pertanian, Bantaeng pun mulai menggarap sektor pariwisatanya. Sektor pariwisata tengah dipacu keras untuk menjadi sektor unggulan. Beberapa potensi objek wisata dan rekreasi pantai tengah dipercantik. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah digarap.

Satu yang beliau pegang hingga kini, tidak mau masuk ke dalam partai politik manapun. Tawaran untuk menjadi pemimpin partai dia tolak. Beliau masih tetap teguh dengan prinsipnya, tetap independen. Entah nantinya. Mungkinkah akan berubah  saat dia melangkah ke jenjang yang lebih tinggi? Untuk melenggang ke percaturan provinsi? Kita tunggu. Nurdin Abdullah layak untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Indonesia masih membutuhkan pemimpin yang mau melayani.

Semoga makin banyak bermunculan para pemimpin yang mau memimpin dengan hati, yang mau membaktikan diri untuk kemajuan negeri, yang dapat memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Indonesia pasti bisa.  (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s