Kolektor Pasir ataukah Pemulung Pasir?

Puji syukur, pekerjaan telah membawa saya berkunjung ke berbagai tempat sehingga dapat melihat keindahan dan keunikan masing-masing daerah. Ada banyak yang meninggalkan kesan dan kenangan sehingga sayang kalau tidak dituangkan dalam tulisan maupun foto. Selain kenangan dalam bentuk tulisan dan foto,  terbersit dalam benak, “Betapa banyaknya pantai yang telah dikunjungi, mungkin asyik juga kalau mulai mengumpulkan pasir dari setiap pantai yang pernah dikunjungi”.

Gambar

Sebagian koleksi pasir

Bagi sebagian orang, pasir di pantai mungkin tidak memiliki makna atau kenangan apapun selain untuk diinjak-injak ketika berada di pantai. Bahkan ada orang yang merasa geli dan jijik ketika menginjakkan kakinya di pantai. Pernah menemukan seorang wanita di pantai yang merasa risih, jijik, dan takut kakinya terkotori pasir. Dia tidak mau kakinya yang bersih dikotori oleh butiran pasir.

Tidak demikian halnya dengan saya. Semua pantai memiliki keindahan tersendiri. Ada pantai yang terjal dengan karang-karang yang tajam, ada pantai yang sedikit landai namun tidak memiliki pasir,  ada pula pantai yang landai dengan bentangan pasir putih yang mengkilat diterpa sinar mentari. Masih banyak lagi keragaman pantai dan pasirnya. Pasir selalu menarik. Coba perhatikan pasir-pasir dari setiap pantai. Tidak pernah ada yang sama. Semua memiliki keunikan tersendiri. Ada yang bentuknya bulat, lonjong, pipih kecil, dan banyak pula yang bentuknya tidak beraturan. Butirannya tidak sama, dari mulai yang agak besar hingga butiran yang sangat halus sehingga ketika diinjak, kaki akan sedikit terbenam ke dalamnya. Warnanya beragam, mulai dari putih bersih, sedikit kecoklatan, abu-abu, sedikit kuning, pink, bahkan ada yang hitam. Semua memancarkan keindahan dan kekhasannya sendiri.

Ada pasir dari Pantai Aan, Lombok yang memiliki butiran bulat-bulat seperti merica berwarna agak kekuningan, sehingga sering juga disebut pasir merica. Atau pasir dengan butiran putih halus seperti dari Pantai Dreamland, di Bali, atau pasir yang berwarna kekuningan dari pantai di Hongkong sana. Masih banyak pula pasir pantai yang sangat ingin saya dapatkan, seperti pasir dari Pantai Pink (pink beach) di Lombok Timur yang berwarna sedikit merah muda dan konon katanya berwarna sangat pink ketika tertimpa sinar matahari.

Mungkin masih belum terlalu banyak yang memiliki hobi yang satu ini. Saya pun baru menjalaninya kurang lebih selama 4 tahun terakhir. Menurut hasil googling, yang memiliki hobi mengoleksi pasir disebut “arenophile”. “Am I an arenophile?”. Teman-teman sering menyebut sebagai “pemulung pasir”. Mereka sudah maklum, bila melakukan kunjungan ke manapun dan kebetulan berada di daerah yang memiliki pantai serta ada sedikit kesempatan, pasti akan berusaha menjangkau pantai. Untuk sekedar nongkrong menikmati indahnya pantai dan tidak lupa menjadi “pemulung pasir”. Pernah satu kali kunjungan ke Manado, di sela-sela istirahat siang, sengaja meminta  taksi untuk mengantar ke Pantai Malalayang, untuk sekedar menikmati pantai dan mengambil pasirnya lalu kembali ke tempat acara. Pasir Malalayang pun didapat. Warnanya yang hitam, menambah koleksi pasir pantai yang ada.

Banyak kejadian lucu terkait dengan perpasiran. Pernah suatu kali menginap di salah satu hotel di kawasan Senggigi, Lombok. Pagi-pagi sebelum bertugas, menyempatkan diri berjalan-jalan sendiri di sepanjang pantai belakang hotel, menikmati indahnya pantai dan tak lupa tentunya mengambil pasir untuk dimasukkan ke dalam  botol air mineral yang ditemui di pantai. Dengan sebotol pasir di tangan, langsung melenggang ke restoran untuk sarapan. Pasir saya letakkan di atas meja dan mulai beranjak untuk mengambil makanan yang tersedia. Kembali ke meja, mata berkeliling, “Mana pasirnya?”. Salah satu pelayan di restoran segera menyadari dan langsung menghampiri sambil menyodorkan pasir, “Ibu nyari ini ya… Maaf, tadi sudah saya buang ke tempat sampah, saya pikir sampah..”. Gubraaakk! Hi..hi..hi.. pasirku dianggap sampah.

Ada pula pengalaman pengumpulan pasir ketika berwisata ke Thailand. Banyak pantai yang sempat dikunjungi seperti Pantai Pattaya, Phiphi Don Island, dan pulau-pulau kecil lainnya. Setiap pasir yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, selalu diberi nama dengan menggunakan kertas yang diselipkan pada plastik yang melilit botol air mineralnya. Ternyata sampai di rumah, tulisan-tulisan tersebut hilang, terlepas dan tercecer entah di mana. Jadilah harus berusaha mengingat, dari mana pasir pantai itu diambil.

Atau kejadian pemeriksaan di bandara, walaupun tidak sampai ditahan, namun sempat tertahan, ditanya-tanya, dan menjadi pusat perhatian kerumunan orang, “Untuk apa bawa pasir?”. Jawab saja, “Untuk kenang-kenangan Pak…”. Sempat malu juga. Untung pasirnya tidak disita petugas.

Banyak teman yang mengetahui kalau saya memiliki hobi mengoleksi pasir. Bahkan ada yang bergurau, “Pasirnya sudah cukup untuk bangun rumah belum? Kan bagus tuh nanti rumahnya, jadi rumah pasir dunia… “ Ada di antaranya yang bermaksud berbaik hati, ketika melakukan kunjungan ke daerah yang belum pernah saya kunjungi, mencoba untuk membawakan oleh-oleh pasir pantai. Tanpa bermaksud untuk mengecewakan, saya katakan, “Gak usah repot-repot, saya koleksi pasir dari pantai yang memang pernah saya kunjungi dan harus ambil sendiri”. Berbeda halnya dengan kolektor pasir lainnya yang melakukan pertukaran pasir dengan sesama kolektor, saya memang mensyaratkan pasir yang saya kumpulkan, khusus dari pantai yang pernah saya kunjungi. Tidak sah jika berasal dari pantai  yang belum terkunjungi.

Gambar

Sebagian koleksi pasir

Gambar

Pasir diberi label nama pantai dan tanggal pengambilan

Gambar

Deretan toples berisi pasir

Gambar

Salah satu pasir koleksi

Sekarang, pasir-pasir tersebut masing-masing saya masukkan ke dalam toples kaca segi enam. Setiap toples saya beri label nama pantai tempat pasir itu diambil beserta dengan tanggal pengambilannya. Masih belum banyak koleksi pasir yang saya miliki. Baru ada sekitar 70 toples pasir yang saya miliki baik dari pantai di dalam negeri maupun di luar negeri. Semoga, ke depan, koleksi itu semakin bertambah dan saya masih diberi kesempatan untuk menikmati dan mengagumi pantai yang ada. Tapi saya tidak berharap, banyak orang yang mengikuti hobi ini. Kalau semua memiliki hobi yang sama, tak dapat dibayangkan jika pasir-pasir pantai tersebut akan jauh berkurang.  Lingkungan akan terancam. Jadi, jangan ditiru ya, cukup saya saja… He..he..he..(Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s