Monas Bukan Tempat Gantung Anas

Gambar

Tentunya masih teringat beberapa waktu yang lalu ketika Anas Urbaningrum dengan lantangnya mengatakan, “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas!”. Pernyataan itu pun sontak menarik perhatian. Semua seolah memiliki hak untuk berkomentar dan memberikan tanggapan. Monas dan Anas naik ke permukaan berita.

Saat ini Anas telah ditahan dan kasus terus bergulir, namun biarkan Monas tetap pada fungsinya. Monas bukan tempat untuk gantung Anas atau gantung siapapun. Monas bukan tempat untuk eksekusi hukuman bagi siapapun. Monas harus tetap pada fungsi dan peruntukannya sebagai ruang terbuka hijau sekaligus  sebagai ruang publik. Ruang yang semakin hari terasa semakin sulit ditemui.

Tidak usah heran, berdasarkan data yang ada, saat ini Jakarta hanya memiliki ruang terbuka hijau seluas 9,8% dari total luas Jakarta. Untuk mencapai besaran 16 % seperti yang diamanatkan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta, masih diperlukan tambahan 6 %  ruang terbuka hijau. Jakarta masih memerlukan upaya yang sangat keras untuk menggapai angka tersebut. Sebagai gambaran, dengan total luas wilayah DKI Jakarta 661,52 km2, setiap tambahan 1% RTH, dibutuhkan lahan seluas 6,6 km2. Bahkan jika mengikuti aturan yang tercantum dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, seharusnya ruang terbuka hijau yang disediakan 30 %, yang terdiri dari 20 % RTH publik dan  10 % RTH privat. Artinya, PR Jakarta masih jauh lebih berat lagi. Jakarta harus berupaya untuk menyediakan ruang terbuka hijau yang lebih luas lagi.

Gambar

Gambar

Sabtu pagi yang lalu, menyempatkan diri untuk berolah raga, sekedar joging di seputar Monas. Jakarta sedang dalam cuaca yang sangat cerah. Lalu lintas di Sabtu pagi belum terlalu menggeliat. Mungkin warga Jakarta sebagian masih terlelap dalam tidurnya, menyambut libur panjang akhir pekan.

Gambar

Memasuki pelataran Kawasan Monas, langsung dihadapkan pada kenyataan yang membuat miris. Fungsi Monas sebagai ruang terbuka hijau dan sebagai ruang publik seolah telah memiliki interpretasi yang salah kaprah. Mata seolah dihadapkan pada kenyataan, bahwa pelataran Monas telah benar-benar difungsikan sebagai “ruang publik” dalam arti yang keliru. Pelataran sekitar Monas seakan menjadi ruang bagi siapapun warga/publik yang ingin turut hidup dan meneruskan kehidupannya di sana. Beberapa keluarga terlihat berkegiatan dan tidur di sana. Di sini lah salah kaprahnya. Ruang publik bukan berarti dapat dimiliki/dikuasai seenaknya oleh publik. Kalau begini, sudah berganti fungsi menjadi ruang privat bagi sebagian orang yang tidur dan tinggal di sana. Entah siapa yang patut disalahkan. Mungkin mereka tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

Gambar

Tidak terlalu jauh dari sana, masih di seputaran Monas, perasaan miris semakin menjadi. Di pagi yang cerah itu, mata kembali dibuat tidak nyaman dengan pemandangan yang terpampang. Lebih dari sepuluh taksi tampak terparkir tak beraturan di area luar Monas. Yang lebih menyedihkan, sampah teronggok di mana-mana. Tersebar seolah menjadi penghias jalanan. Inilah Kota Jakarta, sebuah Kota Metropolitan yang masih berbudaya kampung.

Gambar

Gambar

Tidak berhenti di sana, aneka pedagang kaki lima dengan jumlah yang cukup banyak terus merangsek ke jalan. Sudah mulai mengokupasi badan jalan. Saat ini mungkin tidak terlalu mengganggu. Tapi, saya yakin, bila terus dilakukan pembiaran, akan mendatangkan permasalahan yang lebih besar di kemudian hari. Siapa yang akan bertanggung jawab?

Gambar

Ah sudahlah, tidak usah terlalu larut. Ini saatnya untuk menikmati indahnya sore. Saatnya untuk mengerjakan berbagai hal lainnya. Jangan sampai aneka pemandangan tersebut merusak hari.  Selamat sore… Salam. (Del).

Advertisements

Wisata Pasar Terapung Ala Jakarta

Gambar

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan waktu libur akhir pekan di Jakarta. Jakarta menyediakan beragam destinasi wisata maupun hiburan.  Namun, terkadang, kita seolah kehabisan ide. Destinasi mana lagi yang belum terkunjungi? Sepertinya, yang satu ini layak dicoba.

Ternyata tidak perlu jauh-jauh pergi ke Banjarmasin di Kalimantan Selatan atau ke Thailand sana  untuk menikmati wisata pasar terapung. Di Jakarta pun ada pasar terapung, yaitu pasar yang terapung di air. Tentunya dengan beragam adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi Jakarta.  Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara pasar terapung di Banjarmasin dengan pasar terapung versi Jakarta. Tertarik? Ayo lanjut….!

Pasar terapung ala Jakarta yang dimaksud, terletak di Taman Impian Jaya Ancol, sebuah kawasan wisata pantai terpadu di Utara Jakarta. Tepatnya berada di seputar Dermaga Hati. Dinamakan dermaga hati, karena jika dilihat dari atas, bentuknya seperti hati.

Perbedaan mendasar yang pertama, jika di Banjarmasin pasar terapungnya berada di atas sungai, maka di Jakarta pasar terapungnya berada di atas pantai/laut. Namun intinya masih tetap sama. Sama-sama menjajakan dagangan dari atas perahu yang terapung di air.

Perbedaan mendasar yang kedua, jika di Banjarmasin pembeli dan penjual sama-sama berada di atas perahu, maka di Jakarta, pembelinya cukup berada di dermaga. Biarkan para penjualnya saja yang ada di atas perahu. Namun, intinya masih tetap sama. Sama-sama menawarkan transaksi jual beli.

Gambar

Pagi tadi, telah dicapai kesepakatan di antara anggota keluarga. Hari ini kita menuju Ancol untuk berolahraga. Mengapa memilih Ancol? Alasan utama, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Sesekali, tidak ada salahnya untuk mencoba suasana lain. Jika kemarin joging di Monas, tidak ada salahnya jika hari ini mencoba ke Ancol. Pagi yang cerah, suasana hati yang ceria, sangat mendukung niat di hati untuk sekedar joging di sepanjang pantai Ancol. Bosan di sepanjang pantai Ancol, rencana lain sudah menanti. Tinggal pindah ke area Ocean Ecopark atau ke Pasar Seni. Keduanya merupakan lokasi favorit kami di Ancol.

Berlari-lari kecil di sepanjang pedestrian pinggir pantai membawa kami untuk membelokkan arah ke Dermaga Hati. Dermaga ini sangat cocok bagi pasangan kekasih atau juga bersama keluarga untuk sekedar menikmati suasana pantai.

Gambar

Gambar

Gambar

Beberapa perahu nelayan terlihat bersandar di pinggir dermaga. Jaring dan jala masih teronggok di ujung perahu. Beberapa nelayan terlihat sedang menata dagangannya. Dagangannya berupa ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka. Ikan-ikan diatur sedemikian rupa berdasarkan jenisnya. Jenis ikan yang sama ditata dalam beberapa tumpukan. Semua dilakukan untuk mempermudah pembeli dalam menentukan pilihannya. Banyak pilihan ikan yang dijajakan, ada udang, kepiting, kerang, ikan kerapu, ikan belanak, dan beberapa jenis ikan lainnya. Umumnya dijual per tumpukan. Harga satu tumpukan bervariasi antara Rp. 15.000,00 hingga ratusan ribu tergantung jenis dan banyaknya ikan.

Hari masih cukup pagi. Jam belum menunjukkan pukul 7. Namun suasana sudah mulai ramai. Beberapa calon pembeli terlihat menunjuk-nunjuk ikan incarannya. Tawar menawar berlangsung dan transaksi pun terjadi. Umumnya pembelinya adalah para pengunjung Ancol yang tengah berwisata atau selepas berolah raga pagi.

Gambar

Ada yang menarik perhatian saya. Di salah satu perahu, tampak sepasang suami istri yang tengah menjajakan dagangannya. Dagangannya sedikit berbeda dengan pedagang lainnya. Mereka berjualan makanan matang berupa lontong sayur dan beberapa makanan matang lainnya. Mereka juga menjual beberapa jenis minuman instan siap seduh.  Tak jauh dari tempat duduk mereka, masih di dalam perahu, terlihat anaknya tengah terlelap tidur. Sang anak seakan tidak merasa terganggu sama sekali. Padahal suasana riuh tengah berlangsung. Dia tetap terlelap dalam tidurnya. Mungkin dia tengah bermimpi diajak bermain peri penjaganya. Atau mungkin dia tengah dinina bobokan oleh goyangan pelan ombak Pantai Ancol. Gelombang kecil yang sesekali datang menggoyang pelan perahu, seakan ayunan pengantar tidurnya. Langsung terlintas di benak, “Waduh, tuh anak berarti ikut orang tuanya berjualan dari pagi”. Inilah Jakarta. Anak terpaksa harus ikut terlibat langsung dalam upaya pencarian nafkah keluarga. Mungkin tidak ada yang menjaganya di rumah.  Mungkin orang tuanya berfikir bahwa sang anak akan lebih aman jika bersama mereka.

Puas berjalan-jalan di sepanjang Dermaga Hati, saatnya untuk beranjak ke lokasi lainnya. Ancol Ocean Ecopark dan Pasar Seni telah menanti. Yuk…! Salam. (Del)

 

Bertahan Hidup di Tengah Belantara Jakarta

Gambar

Bisa jadi, Jumat sore merupakan waktu yang memunculkan kontradiksi bagi para pekerja  atau karyawan yang harus menjalani rutinitas pergi kerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Kontradiksi ini terutama melanda para pekerja di Kota Jakarta. Di satu sisi, timbul rasa senang karena besok merupakan hari libur, dan di sisi lainnya, juga menimbulkan rasa malas karena jalanan pastinya macet semacet-macetnya. Jumat sore, jalanan Kota Jakarta selalu lebih padat dibandingkan sore-sore di hari yang lainnya. Walau sore lainnya pun sebenarnya tidak jauh lebih baik.

Jumat sore kemarin, kebetulan berkesempatan pulang menggunakan bus TransJakarta. Ketika awal naik di halte Blok M untuk menuju Kota, penumpang belum terlalu sesak. Paling tidak masih ada beberapa kursi kosong. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama. Di halte-halte selanjutnya, penumpang mulai tumpah ruah. Semua seakan mengejar waktu untuk segera tiba di rumahnya masing-masing. Semua rela berdesakan dan berjejalan demi segera memulai saat-saat libur akhir pekan bersama keluarga atau demi alasan lainnya. Bus Transjakarta yang mulanya masih longgar, dan kaki masih bisa selonjor, berubah dengan cepat. Aneka jenis penumpang mulai menyerbu. Kaki pun terpaksa ditekuk tegak untuk memberikan sedikit ruang bagi penumpang yang berdiri di depan.

Ada satu penumpang yang menarik perhatian. Seorang ibu yang saya taksir berumur pertengahan 30-an berusaha masuk dan menuju ke arah tempat saya duduk. Di wajahnya tergurat beban, terlihat letih. Ibu itu tidak sendiri, dia masuk bersama dengan anak kecil dalam gendongannya. Sang Ibu terlihat sedikit kerepotan. Anak dalam gendongannya terbangun dan mulai rewel. Selain menggendong anak, tangan kirinya menenteng tas gendong untuk anak kecil. Mungkin berisi perlengkapan sang anak. Tangan kanannya masih memegang sebotol susu. Mulutnya berusaha untuk menenangkan anak dalam gendongannya. Berusaha untuk membujuk anaknya, “Iya, ini kita sudah mau pulang kok, sabar ya, tidur aja… Kita udah di busway..kita pulang… “.  Kata-kata itu dia ulang berkali-kali, berusaha untuk membujuk dan menenangkan anaknya.

Spontan, saya langsung berdiri dan memberikan tempat duduk yang saya tempati. Sang Ibu mengucapkan terima kasih berulang kali, “Terima kasih Mbak, terima kasih. Mbak baik sekali. Pegel banget hari ini. Terima kasih ya..”. Akhirnya, anak dalam gendongannya tertidur. Rupanya, Ibu itu senang ngobrol. Dia seakan ingin menumpahkan pengalamannya.  Tanpa diminta, si Ibu melanjutkan omongannya, “Lumayan Mbak hari ini. Dapet orang yang baik-baik semua. Semuanya baik. Lumayan, dapet lebih. Ah, semoga Bapak yang tadi mendapat rejeki yang banyak, mendapat berkah yang lancar dan saya ikut kebagian rejekinya”.  Bingung. Apa maksudnya? Si Ibu masih meneruskan pembicaraannya. Di balik wajah letihnya tergurat rasa gembira. Dia terus mengumandangkan kegembiraannya dan memuji-muji Bapak yang memberinya uang Rp. 50.000,-. Dengan uang itu dia sudah berencana untuk membelikan anaknya susu. Tak lupa dia selipkan doa untuk Bapak yang baik hati tersebut. Mulut Si Ibu terus mengeluarkan kata. Akhirnya, saya mulai paham. Ibu itu baru pulang dari kerjanya. Dia ternyata bekerja sebagai Joki 3 in 1.

Saya mulai penasaran. Seperti apa sesungguhnya lika-liku pekerjaan yang satu ini. Pekerjaan yang menjamur semenjak kebijakan 3 in 1 diterapkan dan hingga kini masih langgeng bertahan. Ladang pekerjaan  hasil kreativitas warga untuk mensiasati penerapan suatu kebijakan.

Tidak terlalu sulit untuk mengorek keterangan dari mulut Sang Ibu karena pada dasarnya dia hobi cerita. Satu pertanyaan simpel langsung dijawab dengan rangkaian kalimat, berkalimat-kalimat. Dalam waktu yang singkat, dia telah banyak bercerita bahwa dia ngontrak kamar kecil di daerah Kota, hanya berdua bersama anaknya. Sebenarnya dia memiliki dua anak. Anak yang besar masih SD, dititipkan ke kakek dan neneknya di Kota Tasikmalaya. Tiap bulan dikirimi uang untuk biaya hidup dan biaya sekolahnya. Dia merasa pekerjaan sebagai joki 3 in 1 cocok untuknya. Tidak terlalu berat, dapat mengajak serta anaknya, tidak perlu keahlian khusus, dan cukup mudah. Yang diperlukan adalah sedikit nyali untuk berdiri di pinggir jalan bahkan nyaris di badan jalan.   Berupaya mengalahkan rasa takut tertabrak mobil, demi mengalahkan saingan lain, sesama joki 3 in 1.

Jika sedang beruntung, dia bisa membawa pulang uang dalam jumlah yang lumayan menurut ukurannya. Namun, jika sedang apes, pernah pula hanya mendapatkan uang Rp. 15.000,00 atau bahkan pernah tertangkap razia, tapi dilepas lagi. Dia menambahkan, menurutnya, “Kerja begini, yang penting rapi dan sopan Mbak..Yang punya mobil pasti memilih yang berpakaian rapi dan kelihatan orang baik-baik. Ada pekerja bank yang biasa menggunakan jasa saya, lumayan rutin, saya biasanya mangkal di Jalan Juanda.”

Saya tanya, “ Suaminya mana Mbak?”. Suaminya ternyata kabur entah ke mana, meninggalkan dia seorang diri di belantara Jakarta. Bertahan hidup di tengah himpitan kebutuhan ekonomi. Tapi dia berusaha untuk meyakinkan diri bahwa tanpa suami pun, dia bisa bertahan hidup. Saya tanya lagi, “Kenapa gak pulang ke Tasik?” Jawabannya klise, namun itulah kenyataannya. “Di Tasik saya mau kerja apa? Sawah tidak punya, keahlian tidak ada, modal juga tidak ada”.

Hhmmmm. Inilah salah satu potret warga Jakarta. Satu di antara sekian juta warga Jakarta yang menggantungkan hidup dan penghidupannya pada Kota Jakarta. Masih banyak lagi cerita tentang warga  Jakarta lainnya yang tidak kalah perjuangannya. Demi untuk hidup dan berpenghidupan di Kota Jakarta. “Ah, siapa suruh datang Jakarta?”. Jakarta memang gudangnya orang kaya di Indonesia. Peredaran uang di Jakarta lebih dari separuh peredaran uang di Indonesia. Namun masih banyak pula kaum marjinal yang berupaya bertahan hidup di Kota Jakarta.

Sebentar lagi, warga Jakarta dan warga lainnya di belahan lain Indonesia akan mencoba untuk menggantungkan harapannya pada para wakil rakyat yang akan dipilihnya. Apakah para calon wakil rakyat perduli pada mereka? Akankah para wakil rakyat yang konon katanya terhormat itu akan memperjuangkan nasib mereka? Ataukah mereka akan semakin larut dengan beban hidup dan semakin terlupakan? Semoga tidak.

Sebentar lagi, warga Jakarta dan warga lainnya di belahan lain Indonesia akan mencoba menaruh impiannya pada presiden yang baru. Memimpikan untuk memiliki pemimpin baru yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, lebih makmur, lebih sejahtera. Adakah para calon Presiden mau memperjuangkan nasib mereka? Akankah presiden yang baru akan berpihak pada rakyatnya? Ataukah mereka larut dengan kuasa dan kewenangan besar yang dimilikinya? Semoga tidak. Indonesia pasti bisa. Salam. (Del)

Wisata Kuburan Belanda di Pusat Kota Jakarta

Musium Taman Prasasti

Bingung memilih alternatif wisata akhir pekan di Ibukota? Atau ingin mengajak buah hati sekedar jalan-jalan namun kehabisan ide dan tidak tahu mau ke mana? Bosan pergi ke mall? Sepertinya destinasi wisata yang satu ini dapat menjadi salah satu alternatif. Layak dicoba.

Sekali-kali, ayo kita lakukan wisata kuburan di Pusat Kota Jakarta. Wisata kuburan? Hiiii seram….. Tenang, tidak usah khawatir. Kuburan yang satu ini tidak akan menimbulkan kesan seram. Tidak ada seramnya sama sekali. Asal lakukan kunjungan di pagi hingga sore hari.Jangan di malam hari. Mengapa? Jawabannya simpel. Musiumnya pasti sudah tutup. Kalau malam, horor juga. Tapi, berdasarkan hasil googling, sekarang mulai digagas wisata “Night at The Museum” di Musium Prasasti oleh Komunitas Historia Indonesia. Jadi, kita ke kuburan atau ke musium?

Mungkin belum terlalu banyak yang mengetahui bahwa ternyata di pusat Kota Jakarta, tepatnya di Jalan Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat terdapat Musium Prasasti. Musium Prasasti berbeda dengan musium lainnya. Jika yang terpatri di benak bahwa musium adalah tempat untuk mengamati benda-benda koleksi atau benda-benda bersejarah  dari jaman dulu yang terpajang rapi di etalase, salah besar. Jangan harap itu akan kita temui di musium ini. Musium Prasasti dapat dikatakan cukup unik. Musium yang satu ini berbeda.

Musium Prasasti merupakan salah satu musium cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda. Sepertinya lebih tepat bila dikatakan area pemakaman atau kuburan karena di dalamnya berupa ruang terbuka hijau nan asri seluas 1,2 Ha. lengkap dengan makam-makam yang umumnya berasal dari jaman kolonial. Dulunya merupakan area pemakaman untuk para tokoh penting petinggi Belanda atau orang Eropa pada masa kolonial. Area pemakaman ini memiliki nilai artistik yang cukup tinggi. Memiliki banyak koleksi prasasti nisan kuno dari abad ke 18. Di musium prasasti, kita dapat menikmati keindahan makam-makam jaman kolonial sekaligus mengagumi karya seni dari masa lampau yang tertuang dalam bentuk patung-patung hasil pahatan masa kolonial,

Sabtu pagi, selepas olah raga di kawasan Monas, kebetulan kita berkesempatan untuk mengunjungi Musium Prasasti. Lokasinya strategis. Berada tidak terlalu jauh dari Musium Nasional yang terletak di seberang Kawasan Monas. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit dari Musium Nasional.

Gambar

Di depan pintu masuk Musium Prasasti, kita seakan disambut kereta jenazah yang terpajang. Hari masih pagi, jam masih menunjuk ke angka 7. Sudah buka belum ya…? Untung penjaga berbaik hati. Walau sebenarnya musium masih belum dibuka, tapi kami diijinkan masuk. Memasuki area musium, kita hanya perlu merogoh uang Rp. 5.000,00 per orang. Saatnya kita jalan-jalan di area kuburan.

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

Suasana teduh, sejuk dan asri seakan menyergap seketika. Ternyata di Jakarta yang selalu hiruk pikuk dengan berbagai kesibukan, masih menyisakan area hijau pemakaman yang memiliki nilai seni tinggi. Kuburan-kuburan berjejer dengan rapi di berbagai sudut. Patung-patung dengan berbagai bentuk turut menghiasi. Ada patung dengan wujud Yesus, Bunda Maria, peri cupid, malaikat, dan patung-patung lainnya.  Tersedia pula bangku-bangku taman untuk sejenak beristirahat. Di setiap nisan, kita dapat membaca nama orang yang dimakamkan serta tanggal meninggalnya. Umumnya yang dimakamkan di sana berasal dari abad 19.

Kesan menyeramkan sirna. Yang ada tertinggal hanya suasana teduh, sejuk, dinaungi oleh pohon-pohon rindang di berbagai sudut. Kita seakan diajak berjalan-jalan mengitari area pemakaman dan ikut terlarut dalam sejarah. Kita diajak untuk mengagumi karya seni patung-patung yang tersebar. Tidak heran jika area ini sering dijadikan tempat untuk syuting, pembuatan video klip, atau sekedar untuk pemotretan.  Area pemakaman cukup bersih, namun sayang, di salah satu sudut, teronggok batu-batu nisan yang telah hancur. Belum dibersihkan.

Gambar

Gambar

Ada satu patung yang cukup menarik perhatian.  Wujudnya berupa seorang wanita yang seperti tengah menangis, memeluk batu. Patung tersebut mungkin menggambarkan kesedihan mendalam yang dialaminya ketika ditinggalkan oleh orang terkasih.

Jadi, tertarikkah untuk wisata kuburan di Jakarta? Silakan…. (Del)

 

Pentingnya Sadar Diri dalam Kehidupan

Gambar

Kita sudah selayaknya dan seharusnya merasa bersyukur atas limpahan berkat Tuhan yang melimpah. Bersyukur tidak hanya atas hal-hal besar yang telah terjadi dalam kehidupan kita tapi juga terhadap banyak hal kecil yang terkadang tidak kita sadari. Betapa Tuhan telah dengan begitu baiknya menganugerahkan begitu banyak hal kepada kita umatNya. Hanya sayang, kita manusia sering tidak memiliki rasa “sadar diri”.

Banyak kejadian yang menimpa manusia berawal dari sikap seseorang yang tidak sadar diri. Banyak peristiwa buruk terjadi hanya karena seseorang atau sekelompok orang tidak sadar diri. Terkadang hal yang baik akan berlangsung jika setiap orang memilliki rasa sadar diri. Sadar akan posisi dan potensi yang dimiliki diri sendiri. Dengan sadar diri, seseorang dapat memiliki fondasi atau dasar yang kokoh dalam menjalani kehidupan.

Mengapa setiap orang perlu “sadar diri”? Mengapa “sadar diri” begitu penting dalam kehidupan? Banyak hal yang dapat kita jadikan contoh.

Seorang suami selayaknya dan seharusnya sadar diri bahwa dirinya adalah suami dari seorang istri. Jika dia sadar diri, tentunya sepulang kerja  dia tidak mungkin masih bersantai-santai nongkrong di café hingga larut malam, tebar pesona kepada para gadis, menggoda wanita yang sudah jelas-jelas istri orang lain, lirik sana lirik sini, atau berbaik hati mengantarkan pulang sekretaris. Dia tidak sadar diri bahwa dia seorang suami yang istrinya di rumah telah tiga kali menghangatkan sayur sambil terkantuk-kantuk menunggu pulangnya suami.

Seorang istri selayaknya dan seharusnya sadar diri bahwa dirinya adalah istri dari seorang suami. Jika dia sadar diri, tentunya tidak akan berani bergenit-genit ria di depan lelaki lain, bermanja-manja pada suami orang lain, menggoda berondong, dugem hingga larut malam, atau lupa bahwa hari telah larut dan dia harus pulang ke rumah. Dia seharusnya sadar diri bahwa dia hanya bisa bergenit dan bermanja pada suaminya seorang dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dia seharusnya ingat, bahwa di rumah anak-anak telah menunggu perhatian dan kasih sayangnya. Jika suami dan istri sadar diri, sadar akan posisinya  masing-masing, alangkah indahnya…

Sadar diri tidak hanya sadar akan posisi diri sendiri, tapi juga sadar akan potensi yang ada dalam dirinya. Seseorang yang sadar diri memiliki kesadaran akan potensi dan kelemahan yang dimiliki dirinya sendiri. Ketika seseorang sadar diri bahwa dia memiliki potensi di dunia tarik suara dan tidak cukup pintar dalam hal akademik, tentunya dia seharusnya sadar diri untuk tidak memaksakan mengambil kuliah jurusan elektro tapi lebih memilih memperdalam teknik bernyanyinya. Jika seseorang sadar diri bahwa dia kurang cerdas dalam hal akademik, tentunya dia akan menggali potensi dirinya yang lain. Sadar diri akan membawa kita pada penggalian potensi diri yang lain, tidak memaksakan diri, dan pada akhirnya dapat memaksimalkan hasil.

Sebagai bangsa yang hidup di tengah negeri yang berlimpah sumber daya alam, kita seharusnya sadar diri bahwa tidak semua sumber daya alam tidak tak terbatas. Banyak sumber daya alam yang terbatas. Kita sebaiknya sadar diri bahwa sumber daya alam tersebut tidak hanya milik kita tapi juga milik generasi setelah kita, milik anak cucu. Dengan sadar diri bahwa sumber daya alam ada batasnya, akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik dan benar.

Sikap sadar diri juga seharusnya dimiliki oleh para calon legislatif yang akan dipilih dalam pemilu mendatang. Sadar akan potensi diri yang mereka miliki masing-masing. Mereka selayaknya memiliki kesadaran diri akan kemampuan dan keterbatasan yang mereka punya. Layakkah mereka mencalonkan diri? Layakkah mereka terpilih? Bila mereka merasa bahwa mereka tidak dapat mewakili suara rakyat, tidak dapat mengemban amanah suara rakyat, sebaiknya tidak tergerak untuk mencalonkan diri. Bila hanya untuk kepentingan diri, hanya demi gengsi, demi mencari pekerjaan,  sebaiknya undur diri.

Sikap sadar diri juga seharusnya dimiliki oleh siapapun yang akan bertarung dalam ajang pencapresan. Sadar akan kapasitas dan kemampuan diri yang mereka miliki. Sadar akan tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Sadar akan janji-janji yang telah terucap. Sadar akan nasib ratusan juta rakyat Indonesia yang menggantungkan harapannya pada Presiden yang baru. Sadar akan rakyat Indonesia yang menginginkan untuk dibawa ke arah yang lebih baik. Sadar bahwa menjadi pemimpin Indonesia berarti memimpin negeri dengan segala keberagaman dan kebinekaannya. Sadar bahwa menjadi pemimpin negeri bukan hal yang mudah. Layakkah mencalonkan diri? Pantaskah menjadi Presiden? Mampukah memimpin negeri? Apakah yakin dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik? Apa yang dapat disumbangkan untuk negeri? Apa yang akan dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh nurani masing-masing.

Menjadi pemimpin negeri atau pejabat negara pun harus sadar diri. Sadar bahwa sebagai pemimpin tidak berarti dia harus selalu dilayani tapi yang terutama adalah melayani.  Mau melayani masyarakat atau warga yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Semoga para calon pemimpin negeri dibekali rasa sadar diri. Mengukur diri sendiri. Salam. (Del)

Jokowi Masuk dalam 50 Pemimpin Terbesar Dunia

 Gambar

Jokowi, peringkat 37 di antara 50 pemimpin terbesar dunia versi majalah Fortune.
Sumber : http://money.cnn.com/

Ada kabar yang cukup menggembirakan. Joko Widodo (Jokowi) terselip di antara deretan 50 nama-nama pemimpin terbesar dunia (The World’s 50 Greatest Leaders) versi Majalah Fortune. Majalah Fortune merupakan sebuah majalah bisnis global yang diterbitkan oleh Fortune Money Group milik Time Inc. Majalah ini terbit dwi mingguan dan dikenal sebagai majalah yang setiap tahunnya menerbitkan peringkat perusahaan menurut labanya. Di Indonesia, Majalah Fortune terbit di bawah naungan PT. Kompas Gramedia.

Jokowi berada di peringkat 37 di antara nama-nama besar dunia. Merupakan satu-satunya pemimpin Indonesia yang masuk dalam deretan tersebut. Walau tetap patut diakui, seluruh lembaga, majalah, organisasi, institusi atau apapun itu, berhak mengeluarkan peringkat dan penghargaan kepada siapapun berdasarkan kriteria yang mereka tetapkan sendiri. Semua memiliki pandangan dan ketetapannya sendiri berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Apapun itu, tetap patut diapresiasi.  Bahkan dalam pengantarnya, situs www.money.cnn.com mengungkapkan bahwa di era yang seakan lapar akan kepemimpinan, kita menemukan sosok-sosok laki-laki dan perempuan yang akan menginspirasi. Beberapa di antaranya terkenal, yang lain sedikit dikenal, semuanya memberikan energi kepada para pengikutnya dan membuat dunia lebih baik. Itu yang paling penting. Mereka dipandang dapat memberikan energi kepada yang lainnya dan membuat dunia lebih baik.

Pope Francis sebagai pemimpin umat Katholik sedunia berada di peringkat pertama pemimpin hebat dunia. Beliau adalah orang Amerika Latin keturunan Italia pertama yang terpilih sebagai Paus. Sosok Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok sederhana bahkan cenderung konservatif dan memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

Menyusul di peringkat kedua ada Angela Merkel (Kanselir Jerman). Angela Merkel dipandang sebagai pemimpin sukses di dunia saat ini. Merkel telah menjabat sebagai kanselir hampir 9 tahun. Dua peringkat selanjutnya diraih oleh CEO, yaitu CEO Ford Motor Co., Alan Mulally dan CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet. Warren Buffet memiliki julukan “Oracle of Omaha”, orang bijak dari Omaha.

Di peringkat ke 5, bertengger Bill Clinton mantan presiden Amerika Serikat. Majalah Fortune edisi 7 April 2014 mengangkat Bill Clinton dalam cover story nya.

Terdapat beberapa nama lainnya yang rasanya menimbulkan pertanyaan, “Kok bisa dia masuk juga?”. Tak apalah, sekali lagi, setiap lembaga atau apapun itu, berhak untuk menentukan dan menetapkan kriterianya sendiri. Tidak sepaham? Boleh kok mengeluarkan peringkat sendiri.

Berikut peringkat dalam list The World’s  50 Greatest Leaders versi Majalah Fortune:

  1. Pope Francis (pemimpin umat Katholik dunia)
  2. Angela Merkel (Kanselir Jerman)
  3. Alan Mulally (CEO Ford Motor)
  4. Warren Buffet (CEO Berkshire Hathaway)
  5. Bill Clinton (mantan Presiden AS)
  6. Aung San Suu Kyi (tokoh demokrasi Myanmar)
  7. Gen. Joe Dunford (jenderal bintang 4, pemimpin tentara AS di Afghanistan)
  8. Bono (penyanyi group U2)
  9. Dalai Lama (pemimpin spiritual Tibet)
  10. Jett Bezos (CEO amazon.com)
  11. Derek Jeter (kapten New York Yankees)
  12. Geoffrey Canada (CEO Harlem Children’s Zone)
  13. Christine Lagarde (Managing Director IMF)
  14. Paul Polman (CEO Unilever)
  15. Michael Bloomberg (Pemilik mayoritas Bloomberg)
  16. Jack Ma (executive chairman, Alibaba Group)
  17. Maria Klawe (President Harvey Mudd College)
  18. Ken Chenault (CEO American Express)
  19. Kathy Giusti (CEO Multiple Myeloma Research Foundation)
  20. Tie: Mike Krzyzewski, Gregg Popovich, Dawn Staley (para pelatih di tim basket)
  21. Angelina Jolie (Aktris, humanitarian)

29. Howard Schultz (CEO Starbucks)

31. Ellen Kullman (CEO DuPont)

33. Tim Cook (CEO Apple)

37. Joko Widodo (Gubernur Jakarta)

42. Susan Wojcicki ( CEO Youtube)

48. Lakshmi Mittal (CEO ArcelorMittal)

50. Jed Rakoff (US. District Court Judge)

Peringkat 50 besar pemimpin terbesar di atas memang didominasi oleh para CEO dari perusahaan-perusahaan top dunia. Dalam keterangannya, Jokowi merupakan tokoh yang pada tahun 2005 adalah seorang eksportir furnitur yang kemudian menjadi walikota Solo, sebuah kota di Indonesia yang dihuni oleh 500.000 orang. Popularitasnya terus menanjak semenjak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Jokowi dipandang dapat menata kota serta menarik akar korupsi dan sekarang difavoritkan dalam pemilihan presiden Juli 2014 mendatang. Selamat pagi. Salam. (Del)

Pemilu Legislatif: Pilih Simbol, Tampang, atau Rekam Jejak?

Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk berleha-leha dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Waktu istirahat harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Nonton TV, baca buku, menulis, browsing-browsing di dunia maya, menyantap kudapan ringan, atau bermain game menjadi pilihan utama yang wajib dilakoni. Terkadang masih sempat melakukan beberapa hal yang menarik hati. Mungkin tidak berlaku sama untuk orang lain, terutama untuk yang tengah mempersiapkan diri, mencalonkan menjadi salah satu anggota legislatif.

Ya, Hari Minggu ini berbeda dengan Hari Minggu biasanya. Hari ini, MInggu, 16 Maret 2014 hingga 5 April 2014 masa kampanye pemilu 2014 telah dimulai. Hiruk pikuk kampanye di Kota Jakarta maupun di belahan kota lainnya tengah berlangsung. Bagaimana dengan saya? Tetap lebih memilih berleha-leha di rumah, hehehe.. sambil mencoba mengamati hal-hal menarik terkait kegiatan kampanye.

Saya  dan sebagian besar warga biasa lainnya, mungkin tergolong orang yang tidak terlalu memahami seluk beluk politik. Untuk menghadapi pemilu legislatif 9 April mendatang belum menentukan pilihan. Boro-boro menentukan pilihan, mengetahui siapa orang yang akan mewakili kami sebagai warga juga tidak. Pertanyaannya, “Memang yakin merasa terwakili?” Hehehe.. Jangan ditiru ya…  Tapi, jangan salah, orang-orang seperti saya, belum tentu juga akan golput. Hanya merasa perlu untuk mengenali lebih jauh tentang calon wakilnya.

Berdasarkan hasil browsing-browsing di internet, banyak hal menarik ditemukan. Banyak cara yang dilakukan oleh para calon legislatif untuk menarik simpati masyarakat. Mulai dari memasang juru kampanye Nasional, mengundang artis kenamaan ibukota, bagi-bagi souvenir, menempelkan stiker di mana-mana, memasang gambar di angkutan kota, memasang poster di pohon-pohon, dan memasang baliho sekreatif mungkin. Efektifkah? Saya rasa belum tentu. Tapi yang jelas, sangat mengotori kota.

Cobalah perhatikan gambar/foto para calon legislatif yang tersebar di baliho-baliho. Ada satu tampilan yang sangat tipikal atau bisa disebut standar bagi para calon legislatif yang nampang di baliho. Para calon legislatif yang laki-laki pasti akan mengenakan peci dan calon legislatif wanita akan mengenakan jilbab. Tidak lupa, mereka akan memasang senyum yang paling manis. Apakah itu sebagai simbol untuk menunjukkan tingkat kesalehannya? Ataukah untuk menunjukkan simbol kebaikan hatinya? Ada pula yang dengan tampilan mengepalkan tangan seakan tengah berseru, “Merdeka!”. Apakah untuk menunjukkan simbol semangat? Banyak pula yang selain menampilkan foto diri, juga memajang foto pemimpin partainya atau tokoh idola di partainya. Banyak caleg Demokrat menampilkan foto dirinya dan foto SBY. Caleg Gerindra, didukung dengan foto Prabowo. Caleg dari PDIP banyak pula yang menampilkan foto Megawati atau Soekarno. Caleg dari Golkar, banyak pula yang masih mengusung Soeharto. Semua masih terjebak dalam simbolisasi.

Masih banyak pula partai politik yang masih mengandalkan strategi mendulang suara dengan memasang artis-artis atau tokoh terkenal lainnya. Tampang tampan dan cantik masih menjadi andalan untuk menarik perhatian masyarakat. Tidak ada yang salah dengan artis yang mencalonkan diri menjadi caleg. Asal memang memiliki kemampuan untuk itu. Semoga masyarakat dapat lebih pintar menentukan pilihannya.

Dalam baliho, para calon legislatif berusaha menonjolkan diri, memuji diri seakan mereka yang terbaik. Kata-kata muda, jujur, pintar, peduli, santun, berani, tegas, anti korupsi, berjuang untuk rakyat, dan beragam kata yang menjunjung lainnya banyak bertebaran.

Di antara sekian banyak baliho yang tersebar, banyak yang cukup menarik perhatian, bahkan membuat mulut tidak luput menyunggingkan senyum. Walau, terkadang membuat miris. Adakah mereka layak untuk mewakili masyarakat? Semoga masyarakat Indonesia semakin pintar dalam memilih, tidak tertipu oleh pesona foto yang terpampang di baliho.

 Pada masa kampanye, diharapkan warga dapat lebih mengenali para calon wakilnya, mengenali rekam jejak mereka, tidak hanya seperti memilih kucing dalam karung. Patut disadari, tidak mudah untuk mengenali calon yang ada. Selain karena waktu kampanye yang cukup singkat, juga karena rekam jejaknya memang belum terlihat. Sangat wajar, akan ada masyarakat yang memilih calon legislatif, tanpa perduli siapapun orangnya, yang penting dari mana partai itu berasal. Unsur ketokohan dan simbol masih akan mewarnai pemilu legislatif kali ini. (Del)