Filosofi Angklung Anies Baswedan

Gambar

Anies Baswedan.
Sumber Foto: http://i1.ytimg.com/vi/vQltAvWpEvk/0.jpg

Ada yang menarik dari debat calon presiden pada konvensi Partai Demokrat yang diselenggarakan di Bandung (Rabu, 5/2/2014).  Anies Baswedan, salah satu peserta konvensi melontarkan konsep kepemimpinan yang terinspirasi oleh filosofi angklung.

“Kepemimpinan itu jangan seperti pemain piano atau gitar, tetapi harus seperti angklung,” kata Anies. Masih menurut Anies, pemain piano atau gitar tampil sendiri untuk mempesona para penonton, sementara angklung memerlukan banyak yang bergerak dan menciptakan alunan musik.  “Pesannya, satu orang, satu nada. Pemimpin adalah dirigen yang menyatukan. Semua bergerak. Itu seninya,” tuturnya. Anies mengatakan, “Konsep pemimpin melayani rakyat adalah model kuno. Yang melayani adalah birokrasi, pemimpin itu yang menggerakkan, karena tidak mungkin satu orang (pemimpin) melayani ratusan juta rakyat.”

Menarik, dan jika direnungkan, mengandung pesan yang mendalam. Angklung dapat menghasilkan alunan musik yang sangat indah jika dimainkan secara bersama. Satu angklung masing-masing memiliki satu nada : do, re, mi, fa, dan seterusnya. Setiap angklung membentuk sebuah harmoni nada bila dimainkan bersama. Ada yang dapat kita petik dari alat musik angklung ini. Setiap kita, tidak perduli sehebat atau sepintar apapun, tetap membutuhkan bantuan orang lain. Jika setiap nada angklung dapat hidup disiplin mematuhi aturan yang telah tercantum dalam partitur dan menghargai nada angklung lainnya, mengikuti dirigen yang memimpin, alunan musik indah akan tercipta.

Ada kalanya, tidak seluruh nada harus dibunyikan. Jika dipaksakan untuk bunyi, justru akan menghancurkan harmoni yang seharusnya tercipta. Begitu pula dalam kehidupan nyata. Ada saatnya tidak semua harus tampil, dibutuhkan pengertian dan tidak memaksakan kehendak. Jika dipaksakan justru hasilnya tidak akan baik. Ada saatnya harus ada yang mengalah dan ikut aturan demi tujuan besar bersama. Jika kita dapat hidup disiplin dengan aturan main yang telah ditetapkan dan menghargai orang lain, tujuan bersama akan tercapai. Seorang pemimpin harus dapat bertindak sebagai dirigen yang mampu menggerakkan rakyatnya untuk menghasilkan harmoni yang indah. Tidak mungkin satu orang pemimpin dapat melayani ratusan juta rakyat Indonesia dengan beragam jenis tujuan, kehendak, dan keinginannya masing-masing. Pemimpin tidak hanya harus melayani tapi harus bisa menggerakkan seluruh rakyat. Salam. (Del)

Sumber: Anies Baswedan Kecewa Pertanyaan di Debat Capres PD Tak Greget

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s