Ridwan Kamil Nominator Walikota Terbaik 2014 bersama Jokowi dan Tri Rismaharini

Gambar

Indonesia patut berbangga hati. Di antara sekian banyak pemberitaan negatif tentang para pemimpin Indonesia, masih menyeruak berita yang mampu membesarkan hati, menyemburatkan sedikit cahaya harapan. Masih ada para pemimpin di Indonesia yang dinilai dunia sangat baik dalam mengawal kotanya.

Berdasarkan update dari situs www.worldmayor.com (27/2/2014), Ridwan Kamil turut dinominasikan sebagai walikota terbaik versi worldmayor.com. Beberapa hari yang lalu, Indonesia hanya diwakili oleh Jokowi dan Tri Rismaharini. Ternyata, sekarang telah berubah,  Indonesia diwakili oleh 3 pemimpin kota yang memang prestasinya patut diapresiasi, yaitu Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini. Masing-masing merupakan pemimpin Kota Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Melihat prestasinya selama memimpin kota, ketiganya memang layak dinominasikan.

World Mayor Project diumumkan sejak 7 Januari 2014. Saat ini, masih dalam tahap longlist (daftar panjang) nominator walikota terbaik. Daftar panjang akan terus diperbaharui secara berkala hingga bulan Mei sedangkan shortlist (daftar pendek) nya akan diumumkan pada bulan Juni nanti. Menurut World Mayor, masih banyak nama yang akan dimunculkan lagi selama putaran pertama World Mayor Project. Akan banyak nama-nama lainnya yang akan ditambahkan selama putaran Februari hingga Mei 2014.

Perlu diketahui bahwa world mayor merupakan penghargaan yang diberikan pada para walikota terbaik dunia sejak tahun 2004. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah para walikota di seluruh dunia atas kontribusinya dalam melayani warganya dan mengantar kotanya menjadi kota yang lebih baik. Pemilihan pemenang berdasarkan jumlah pemilih yang didapat oleh walikota bersangkutan melalui situs dan komentar yang masuk. Setiap orang dapat menominasikan pemimpin wilayahnya atau pemimpin dari wilayah lain melalui situs ini.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2008, dari 50 finalis yang ada, terselip nama Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo. Tahun 2010, tidak ada satupun walikota di Indonesia yang masuk nominasi. Tahun 2012, barulah Indonesia menorehkan prestasi. Tercantum nama 4 pemimpin kota di Indonesia yang masuk sebagai nominator, yaitu Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Walikota Solo Joko Widodo. Tidak hanya masuk nominasi, Jokowi berhasil menyabet gelar walikota terbaik ke tiga.

Untuk tahun 2014, Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini menjadi nominator bersama dengan 9 walikota/kandidat dari Amerika Utara, 8 kandidat dari Amerika Latin, 18 kandidat dari Eropa, 9 kandidat dari Asia, 2 orang dari Australasia dan 4 dari Afrika. Ketiga pemimpin Indonesia masuk sebagai nominator di antara pemimpin kota di Asia lainnya, yaitu:

  1. Mayor Anil Sole, Nagpur, India,
  2. Mayor Soichiro Takashima, Fukuoka, Japan,
  3. Mayor Edgardo Pamintuan dari Angeles City, Philippines,
  4. Mayor Juliet Marie Ferrer, La Carlota City, Philippines,
  5. Mayor Eric Saratan, City of Talisay, Philippines,
  6. Mayor Hani Mohammad Aburas, Jeddah, Saudi Arabia

Semoga ketiga pemimpin kota tersebut dapat menginspirasi pemimpin kota lainnya di Indonesia. Indonesia masih memerlukan mereka. Salam. (Del)

Sumber : http://www.worldmayor.com

Advertisements

Kemasan Kearifan Lokal di Kampung Adat Sade

Gambar

Jalan di Dusun Sade, Lombok, NTB

Gambar

Nampang di Depan Dusun Sade, Lombok

Tidak perlu diragukan lagi. Indonesia sangat kaya potensi wisatanya. Banyak hal yang dapat digali dan “dijual” dari pariwisata Indonesia. Selain panorama alam nan indah, pantai yang menjuntai elok, gunung nan eksotis, masih pula dilengkapi dengan beribu adat istiadat dan budaya khas masing-masing daerah. Dari ujung Aceh hingga ujung Papua, tidak terhitung banyaknya potensi wisata yang dapat dieksplor. Sungguh mengagumkan.

Hanya sayang seribu sayang, Indonesia masih tertatih-tatih dalam menata manajemen pengelolaan dan pengemasan pariwisatanya. Sesungguhnya banyak destinasi wisata yang bila dipoles lebih baik, dikemas lebih cantik, akan sangat potensial untuk “dijual”, untuk menarik hati para pelancong.

Contohnya adalah salah satu destinasi wisata di Pulau Lombok, Kampung Adat Sade, sebuah kampung adat tradisional Suku Sasak Sade. Dusun Sade atau Sade Village terletak di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Biasanya, destinasi wisata ini kerap dikunjungi sebelum menggapai destinasi wisata lainnya di Lombok, yaitu Pantai Kuta Lombok. Dusun Sade merupakan sebuah perkampungan Suku Sasak asli yang hingga sekarang masih mencoba bertahan dengan mempertahankan kearifan lokal yang dimilikinya. Suku Sasak yang tinggal di Dusun Sade masih kental dan teguh menjaga nilai-nilai budaya dan adat tradisi Sasak asli.

Berkunjung ke Dusun Sade, jadi teringat sebuah desa di Pulau Bali yang juga mengusung wisata desa adat, yaitu Desa Panglipuran yang pernah saya tulis juga di Penglipuran, Desa Adat Bali dengan Kearifan Lokal yang Kental. Hanya, kondisi lingkungannya berbeda. Desa Penglipuran di Bali tertata dengan apik, dengan konsep arsitektural yang menawan sedangkan Dusun Sade, kurang tertata rapi, sedikit terkesan kumuh. Tapi, mungkin, itulah ciri khas dusun adat Sasak.

Gambar

Pemandu lokal di Dusun Sade

Memasuki Dusun Adat Sade, kita langsung disambut oleh pemandu wisata lokal yang akan menjelaskan hal-hal terkait Dusun Sade. Terdapat sekitar 700 warga yang tinggal di Dusun Sade yang menempati sekitar 150 rumah yang ada. Mereka masih mempertahankan adat istiadat sisa kebudayaan Sasak sejak jaman Kerajaan Pejanggik. Umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan memeluk Agama Islam. Kaum perempuannya memiliki keterampilan menenun secara turun temurun.

Gambar

Rumah-rumah adat Sasak di Dusun Sade

Gambar

Jalanan sempit dan berundak

Dusun Sade memiliki keistimewaan tersendiri. Memiliki adat istiadat yang dapat menjadi daya tarik wisata. Arsitektur rumah adat khas Sasak memiliki filosofi yang kuat. Misalnya, setiap bangunan memiliki pintu rumah yang relatif pendek sehingga setiap orang yang ingin memasuki rumah harus menundukkan kepalanya. Dibuat seperti itu dengan filosofi agar setiap orang yang hendak memasuki rumah menghormati dan menghargai pemilik rumah atau yang tinggal di rumah tersebut.

Gambar

Para pengunjung di antara rumah-rumah adat

Rumah-rumah yang ada di Dusun Sade cukup padat, hampir berdempetan atau setidaknya memiliki jarak yang sangat dekat. Rumah-rumah dipisahkan oleh gang-gang kecil sehingga hanya dapat dilalui oleh orang dengan berjalan kaki. Rumah adat Suku Sasak terbuat dari kayu dengan dinding dari anyaman bambu. Atap rumahnya terbuat dari daun rumbia atau alang-alang kering. Ada yang menarik. Lantai rumah Suku Sasak merupakan campuran tanah, abu jerami, dan getah pohon, lalu diolesi dengan kotoran kerbau. Mereka mengepel lantai dengan menggunakan kotoran kerbau. Bau kotoran kerbau ketika masih baru diolesi ke lantai masih tercium. Namun, akan hilang sekitar 3 jam kemudian, bila sudah kering. Tradisi mengepel lantai dengan kotoran kerbau masih terjaga hingga kini. Ketika ditanya alasannya, mereka mengemukakan bahwa dengan mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau, rumah tersebut aman dari gangguan nyamuk maupun serangga lainnya. Hal menarik lainnya, di rumah-rumah Suku Sasak selalu ada lumbung padi, berupa bangunan untuk menyimpan padi, hasil panen.

Gambar

Wanita tua yang menjajakan hasil tenunannya di depan rumahnya yang kecil

Besarnya rumah terkait dengan penghuninya. Bagi pasangan yang baru menikah, rumah yang dimiliki tidak seluas rumah yang ditempati oleh keluarga yang telah memiliki anak. Demikian pula rumah bagi orang yang sudah tua, cukup menempati rumah yang kecil. Tradisi gotong royong masih terasa kental di sana. Budaya gotong royong nampak pada saat pembangunan rumah salah satu warga atau pada saat perbaikan rumah salah satu warga yang mengalami kerusakan. Budaya gotong royong yang saat ini sudah mulai memudar, menjadi salah satu kearifan lokal yang patut ditiru.

Gambar

Wanita tua tengah menenun

Gambar

Penenun tua

Gambar

Menatap masa tua

Gambar

Penenun kecil, masih umur 9 tahun

Setiap wanita Suku Sasak memiliki keterampilan menenun. Keterampilan menenun sudah diajarkan sejak kecil. Seorang perempuan Sasak tidak diperkenankan menikah jika belum bisa menenun. Anak-anak umur sekitar 9-10 tahun sudah mahir menenun.

Gambar

Menjajakan souvenir di atas meja sederhana

Gambar

Aneka kain tenun khas Lombok

Gambar

Kain tenun khas Lombok

Di Dusun Sade, hampir setiap rumah menjual hasil kerajinan baik berupa kain tenun, selendang, kaos, patung-patung, gelang, kalung, asbak, tempat buah, gantungan kunci, dan aneka souvenir lainnya. Mereka menjajakan oleh-oleh khas Lombok di depan rumah dengan menggelar meja atau pada bangunan khusus.

Seandainya keunikan dan kekhasan Dusun Sade dapat dikemas secara lebih menarik, lebih tertata, dan diberikan sentuhan penanganan yang lebih terarah, bukan tidak mungkin Dusun Sade dapat menarik lebih banyak lagi wisatawan yang berkunjung. Potensi yang ada sangat besar. Banyak hal menarik yang dapat digali dan menjadi bahan pelajaran bagi yang lainnya.

Mungkin dapat dibuat paket wisata “mengenal lebih dekat Suku Sasak” dengan mengemasnya secara lebih lengkap. Mengenal adat istiadatnya, budayanya, kearifan lokalnya, dan orang-orangnya. Tidak hanya membuka lapak-lapak tempat penjualan souvenir dan oleh-oleh khas Lombok. Banyak budaya yang dapat diperkenalkan dan dipertontonkan, misal belajar menenun, penampilan tari tradisional Suku Sasak, cara bertanam, pemutaran film tentang Suku Sasak, dan budaya khas Suku Sasak lainnya. Pulau Lombok memiliki budaya yang menarik, seperti halnya legenda Putri Mandalika dengan tradisi “bau nyale” nya. Wisatawan dapat dibawa terlibat langsung dalam pengenalan Suku Sasak.

Semoga Pemerintah Provinsi NTB dan Kementerian Pariwisata dapat menggarap Dusun Sade secara lebih apik, mengemasnya dengan lebih cantik. (Del)

Meraih Angan di Gili Trawangan

20140218_074946

Suasana pantai di Gili Trawangan

Pulau Lombok merupakan salah satu pulau yang selalu menyisakan lokasi indah untuk dikunjungi. Setiap kunjungan dalam rangka urusan pekerjaan, selalu menyempatkan diri di sela-sela waktu yang sempit untuk sejenak menikmati keindahan alamnya. Paling tidak, menikmati keindahan salah satu pantainya. Jika waktu yang tersedia sangat terbatas, setidaknya masih mencoba menyempatkan menikmati suasana Senggigi di waktu malam atau sekedar menikmati keunikan sajian kulinernya. Menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat wisata di sela-sela kunjungan dalam rangka kerja memiliki seni tersendiri. Seni mengatur waktu kunjungan dan kecermatan pengaturan teknis perjalanan.

Karena kebanyakan kunjungan ke Pulau Lombok dalam rangka kerja dan dengan waktu yang terbatas itu pula lah yang membuat belum tersalurkannya angan untuk sejenak singgah ke tiga Gili yang sangat terkenal di Pulau Lombok, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Angan yang terlanjur membuncah sangat membutuhkan realisasi.

Kunjungan ke Lombok minggu lalu dengan jadwal pesawat pulang sekitar pukul 2 siang masih menyisakan kesempatan untuk mencoba meraih angan di Gili Trawangan. Terpaksa hanya Gili Trawangan yang sempat terkunjungi karena jadwal yang tidak memungkinkan.

Pelabuhan Menuju Gili Trawangan

Pelabuhan Menuju Gili Trawangan

Keindahan Gili Trawangan yang selama ini hanya menjadi angan, akhirnya terwujud. Pulau kecil yang berada tidak terlalu jauh dari Pulau Lombok dapat pula terjelajahi. Keindahan Gili Trawangan memang memiliki daya pikat tersendiri bagi para wisatawan.

Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Ketiga Gili menjadi destinasi andalan Pulau Lombok. Tidak lengkap rasanya bila berwisata ke Pulau Lombok tanpa singgah ke tiga Gili.

Dermaga menuju Gili Trawangan

Dermaga menuju Gili Trawangan

Pantai di sekitar pelabuhan

Pantai di sekitar pelabuhan

Boat yang digunakan menuju Gili Trawangan

Boat yang digunakan menuju Gili Trawangan

Speed Boat telah disewa per telpon sehari sebelumnya. Pukul 6.30 pagi kami sudah bergegas dan bersiap diri menuju pelabuhan demi mencapai target maksimal jam 12 siang harus tiba di hotel kembali dan langsung menuju Bandara.

Perahu yang biasa digunakan karyawan yang bekerja di Gili Trawangan, penuh sesak

Perahu yang biasa digunakan karyawan yang bekerja di Gili Trawangan, penuh sesak

Perjalanan ke Gili Trawangan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja dengan speed boat sewaan, namun perjalanan menuju pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari hotel tempat menginap di kawasan Senggigi. Speed boat berlabuh di Gili Trawangan sekitar pukul 8 pagi. Masih ada waktu dua setengah jam untuk menjelajahi Gili Trawangan sebelum kembali ke Lombok.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Pantai di Gili Trawangan

Pantai di Gili Trawangan

Narsis, gak penting

Narsis, gak penting

Bantal-bantal empuk di salah satu cafe

Bantal-bantal empuk di salah satu cafe

Pantai yang berpasir putih seakan menyambut kedatangan. Deretan kursi sandar tempat wisatawan bersantai dan berjemur diri berbaris rapi di sepanjang pantai. Gili Trawangan mencoba mengusung wisata yang ramah lingkungan. Tidak ada satu pun kendaraan bermotor yang lalu lalang di sana. Berlaku larangan kendaraan bermotor di pulau kecil tersebut. Seluruh wisatawan maupun karyawan dan penghuni di pulau tersebut hanya boleh menggunakan cidomo (sejenis kereta kuda) atau sepeda. Semua semata agar Gili Trawangan bebas polusi.

Tempat penyewaan sepeda

Tempat penyewaan sepeda

Mata langsung  tertuju pada bertebarannya tempat penyewaan sepeda. Waktu yang terbatas dan hasrat untuk menjelajahi Gili Trawangan dapat diwujudkan dengan moda yang satu ini. Harga sewa sepeda dipatok Rp. 25.000,00 per jam. Selain menjamurnya tempat penyewaan sepeda, terdapat pula banyak tempat penyewaan alat-alat untuk snorkling maupun diving.

Cidomo, salah satu alat transportasi di Gili Trawangan, tidak ada kendaraan bermotor

Cidomo, salah satu alat transportasi di Gili Trawangan, tidak ada kendaraan bermotor

Jalan di Gili Trawangan, di antara toko-toko souvenir dan cafe-cafe

Jalan di Gili Trawangan, di antara toko-toko souvenir dan cafe-cafe

Suasana di Gili Trawangan

Suasana di Gili Trawangan

Berbekal sepeda pinjaman, penjelajahan dimulai. Gili Trawangan terkelilingi dengan jalan rata-rata selebar 2 meter. Sayang, di beberapa spot masih sedikit terputus. Kurang nyaman kalau dilewati sepeda.  Namun, secara keseluruhan, masih layak untuk dinikmati. Kondisi lingkungannya pun masih cukup asri, bersih, tidak banyak ternoda onggokan sampah. Sepertinya pelaku wisata di sana telah sadar untuk menjaga lingkungan Gili.

Lelah bersepeda, café-café pelepas lelah banyak bertebaran di sana. Tinggal pilih yang disuka dan diminati. Bersantai sejenak menikmati suasana pantai yang tidak terlalu hiruk pikuk cukup memadai untuk menghilangkan penat. Kudapan pisang goreng dan secangkir teh hangat terasa sangat nikmat. Masih dapat dilanjut dengan kegiatan snorkeling maupun sekedar bermain air di pantai.

Kesempatan kunjungan ke Gili Trawangan yang cukup singkat cukup lah untuk mewujudkan angan. Bahkan menyisakan asa untuk kembali ke sana, ditambah keinginan untuk berkunjung ke Gili lainnya. Tunggu kami pada kunjungan berikut. (Del)

Ignasius Jonan Layak Menjadi Menteri Perhubungan

Gambar

Ignasius Jonan, Dirut PT. KAI
Sumber Foto: http://www.merdeka.com

Dahlan Iskan telah resmi menandatangani pengangkatan kembali Ignasius Jonan sebagai Direktur Utama PT. KAI untuk periode yang kedua (21/2/2014). Pengangkatan kembali Ignasius Jonan yang habis masa jabatannya sesuai dengan keinginan Jonan sendiri. Jonan pernah mengungkapkan bahwa beliau menginginkan diberi kesempatan satu periode lagi untuk membenahi PT. KAI.  Kini keinginan tersebut terwujud.

Tak perlu diragukan lagi, kemampuan Ignasius Jonan dalam membawa gerbong PT. KAI patut diapresiasi, diberikan bintang. PT. KAI yang dulunya terseok-seok dengan stigma yang buruk, saat ini telah menjelma menjadi salah satu BUMN unggulan di negeri sendiri. Pembenahan besar-besaran telah dilakukan pada perusahaan plat merah yang membawahi salah satu moda transportasi di Indonesia. Walau belum sepenuhnya rampung karena masih banyak PR yang diemban oleh Jonan, namun gebrakan demi gebrakan yang dilakukannya patut dipuji.

Beragam penghargaan telah diperoleh oleh PT. KAI, mulai dari penghargaan The Best in Leading Change dalam ajang The 3rd Annual SPEx2 Award and Forum 2013 yang diselenggarakan oleh GML Performance Consulting dan Majalah Fortune Indonesia hingga Juara II BUMN Jasa Non Keuangan Berdaya Saing Terbaik pada malam Anugrah BUMN 2013 (5/12/2013). Bahkan Ignasius Jonan telah terpilih sebagai Chief Executive Officer (CEO) BUMN terbaik untuk tahun 2013, mengalahkan nominator lain dari BUMN yang lebih besar, seperti Dirut Bank Mandiri Budi G. Sadikin, Dirut PT. Telkom Indonesia Arief Yahya, Dirut PT. Semen Indonesia Dwi Soetjipto, dan Dirut PT. Pertamina Karen Agustiawan.

Dahlan pun mengakui bahwa seharusnya Ignasius Jonan dapat mengemban tugas yang lebih berat, dapat memimpin BUMN yang lebih besar dari PT. KAI. Namun Dahlan memiliki pertimbangannya sendiri. Dahlan ingin agar perbaikan dan perombakan di PT. KAI terus berlanjut. Agar PT KAI dapat berada di garda depan dalam menyempurnakan sistem transportasi di Indonesia.

Tak dapat dipungkiri falsafah tentang menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat memang sangat penting. Masih terngiang seseorang yang pernah berkata, “Menjadi pemimpin tidak perlu menguasai segala hal, tetapi harus pintar menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat”.

Ignasius Jonan saat ini diberikan kepercayaan kembali mengasuh PT. KAI. Diberikan amanah untuk menjadikan PT. KAI sebagai perusahaan BUMN unggulan, perusahaan yang dapat lepas dari cap jelek BUMN.  Ignasius Jonan diberikan mandat untuk melanjutkan transformasi PT. KAI sebagai perusahaan besar yang tetap mengusung pelayanan kepada pengguna jasa kereta api, pelayanan kepada publik.

Layakkah beliau mengemban tugas sebagai Menteri Perhubungan di Kabinet yang akan datang? Siapapun Presidennya, rasanya Ignasius merupakan salah satu kandidat yang layak diunggulkan sebagai calon Menteri Perhubungan. Setidaknya, daripada mengangkat Menteri yang berasal dari partai dan belum tentu kualitasnya, masih lebih baik jika berasal dari kalangan profesional yang telah teruji. Salam. (Del)

Sumber :

  1. PT. KAI Raih Penghargaan The Best in Leading Change
  2. PT. KAI Raih Juara II BUMN Jasa Non Keuangan Berdaya Saing Terbaik, Anugerah BUMN 2013
  3. Ignasius Jonan Tetap Jabat Dirut PT. KAI

Wagiman Telah Menjelma Menjadi Waliman

Gambar

Tri Rismaharini.
Sumber foto : http://data.tribunnews.com/

Terselip rasa bangga dan bahagia ketika pagi ini menyempatkan diri untuk membuka halaman situs www.citymayor.com. Pada halaman utamanya terpampang berita tentang 2 pemimpin kota di Indonesia dan isinya pun tidak mengecewakan. Berita yang menyejukkan setelah minggu yang lalu dipenuhi oleh beragam kabar tentang bencana. Satu berita tentang Jokowi yang semakin kencang digadang-gadang untuk menjadi RI-1 dan satu lagi berita tentang Tri Rismaharini, sang Walikota Surabaya.

Kekuatan media memang luar biasa. Dalam waktu tidak terlalu lama, bahkan dapat dikatakan sekejap, Walikota Surabaya melejit bak meteor, naik ke permukaan dan mendadak menjadi terkenal di seantero negeri. Jadi teringat ketika beberapa waktu lalu, tepatnya 8 bulan yang lalu, sempat menulis tentang Bu Risma. Waktu itu beliau belum seterkenal sekarang. Pamornya masih berada di kisaran Kota Surabaya. Kunjungan kerja ke Surabaya menggelitik hati untuk menuliskan tentang kiprah Bu Risma. Tulisannya bisa dilihat di Jokowi Harus Mencontoh Wagiman (22/6/2013) dan Dua Pemimpin Jempol, Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi (28/8/2013).

Situs yang memiliki arus utama penulisan tentang kiprah-kiprah para Walikota di dunia www.citymayors.com mulai kerap menulis tentang sepak terjang pemimpin kota di Indonesia. Bu Risma salah satu yang mulai sering diberitakan. Bahkan di halaman hari ini,  Bu Risma dinobatkan sebagai “Mayor of the month”. Bu Risma terpilih karena secara konsisten telah berhasil mengawal perkembangan kota Surabaya. Terutama pengawalan beliau terhadap pengembangan pelabuhan  yang tersendat selama 2 dekade. Sejak Bu Risma menjadi Walikota, lalu lintas pelabuhan meningkat hingga 200%. Sebuah predikat yang membanggakan.

Latar belakang pendidikan arsitekturnya turut mempengaruhi sentuhannya pada berbagai taman di Kota Surabaya. Beliau sangat peduli akan lingkungan warga kotanya. Beliau mengubah banyak lahan terlantar dan ruang terbuka yang terbengkalai menjadi taman-taman nan cantik. Tidak kurang 11 taman utama dengan tema yang berbeda, dimiliki Surabaya, mulai dari Taman Persahabatan, Taman Ekspresi, Taman Skate dan BMX, Taman Flora, dsb. Nyaris mirip dengan taman-taman yang sekarang coba diwujudkan pula oleh Ridwan Kamil di Bandung. Tidak usah heran karena memang ada keterkaitannya. Ridwan Kamil yang sama-sama memiliki latar belakang pendidikan arsitektur (ITB), sebelum menjadi Walikota Bandung sempat menggarap dan bekerja sama dengan Tri Rismaharini kala beliau masih menjabat di Dinas Pertamanan. Ridwan Kamil turut menggagas taman-taman di Kota Surabaya.

Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini memiliki modal kuat dalam menata kota. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan penataan kota yang mumpuni. Selain pendidikan arsitektur, Tri Rismaharini membekali diri dengan pendidikan manajemen pengembangan perkotaan di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan juga kursus di  Rotterdam, masih dalam bidang Manajemen Pengembangan Perkotaan.

Kiprah Tri Rismaharini di bidang lingkungan hidup tak hanya berhenti pada taman-taman kota. Surabaya memiliki agenda hijau dengan melibatkan sektor swasta, sekolah, universitas, dan pihak lainnya. Programnya terkait pelestarian hutan mangrove di sepanjang pantai Surabaya dan produksi barang-barang olahan mangrove seperti batik, sirup, dan makanan olahan mangrove lainnya turut mewarnai.

Tri Rismaharini sering mengungkapkan tentang perlunya memerintah tidak hanya untuk masyarakat tapi juga bersama dengan masyarakat. Sebuah kota harus menjadi rumah bagi warganya. Intinya, pengembangan sebuah kota tidak dapat terlepas dari sentuhan pada kehidupan warga kotanya. Kehidupan sosial budayanya. Risma memahami hal tersebut. Bu Risma  tidak menginginkan perkembangan kota Surabaya malah berakibat menjauhkan warganya, menyisihkan warga kotanya.  Untuk itulah, beliau juga memiliki perhatian penuh pada penanganan kesehatan, pendidikan, bahkan penanganan  lokasi-lokasi prostitusi.

Satu demi satu penghargaan diraih oleh Tri Rismaharini. Mungkin kurang tepat jika dikatakan “diraih”. Tepatnya “diberikan”, karena Bu Risma tidak memiliki maksud untuk meraih penghargaan, beliau hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Kota Surabaya yang dicintainya.  Untuk itulah beragam penghargaan layak diberikan padanya. Kemelut yang sekarang tengah dihadapi semoga cepat berlalu dan terselesaikan dengan manis. Semua demi masyarakat, khususnya warga Surabaya. Sangat sayang jika salah satu dari para pemimpin jempolan di negeri ini tersisihkan hanya karena ulah segelintir atau sekelompok orang yang ingin menodai negeri.

Walikota satu ini ternyata tidak hanya layak dijuluki Wagiman, Walikota Gila Taman. Bu Risma telah menjelma menjadi Waliman, Walikota Idaman. Tugas Bu Risma belum usai. Indonesia masih sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mau memimpin dengan hati. Tulus mengabdi pada negeri. Tanpa pamrih melayani warga. Demi kemajuan kota. Kami hanya bisa mendoakan semoga Bu Risma tetap tegar, tetap fokus dalam menata Surabaya. Bu Risma… Semangat..! Selamat pagi. Salam. (Del)

Apa yang Membuat Flappy Bird Begitu Disukai?

Gambar

Flappy Bird, kekuatan sebuah kesederhanaan.
Sumber : http://www.forbes.com/

Popularitas game Flappy Bird sedang berada di puncak, mendadak populer. Game ini sebenarnya telah dirilis sejak Mei 2013 namun baru booming dan menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media sosial sejak awal 2014. Diciptakan oleh Nguyen Ha Dong, seorang pria berusia 29 tahun asal Hanoi, Vietnam di bawah bendera dotGears Studio, sebuah perusahaan yang digawangi oleh Dong sendiri dan tanpa seorang pun karyawan di dalamnya.

Flappy Bird sebuah game yang sederhana dengan tampilan gambar yang sangat minimalis, hanya dengan grafis 8-bit. Bentuk burungnya pun tidak ada bagus-bagusnya. Hanya burung kecil berbulu kuning dan oranye dengan kepakan sayap yang tidak jelas dan paruh yang dower. Kualitas gambarnya pun sangat biasa. Namun, game Flappy Bird terbukti cukup fenomenal, disukai begitu banyak penggemarnya.

Sebenarnya, apa yang membuat Flappy Bird begitu memikat?

Dong sendiri, sang penciptanya tidak tahu, mengapa game buatannya begitu digemari, bahkan bermunculan gambar-gambar lucu hasil kreativitas gara-gara Flappy Bird yang menggambarkan betapa frustasinya mereka karena tidak bisa menaklukkan game konyol tersebut.

Terkadang, sangat sulit untuk menebak keinginan para gamer. Sangat berjibun game-game dengan tampilan yang sempurna, bagus, namun ternyata, tidak ada yang menyangka, game sederhana seperti Flappy Bird ini dapat menyeruak dan menjadi populer. Inilah kekuatan sebuah kesederhanaan.

Sesungguhnya, permainannya sangat sederhana. Untuk memainkan Flappy Bird hanya membutuhkan ketukan jari. Ketukan bisa dilakukan menggunakan jari telunjuk atau jari jempol ke layar. Yang diperlukan hanya menjaga agar si Flappy tetap terbang melewati rintangan berupa pipa-pipa hijau yang menghadang. Pemain akan mendapatkan tambahan skor 1 (satu) setiap kali berhasil melewati satu rintangan pipa. Sangat simpel, sangat sederhana. Semua orang pasti segera paham cara memainkannya. Namun, di sinilah letak tantangannya. Game yang sangat sederhana ini ternyata bisa jadi sangat sulit untuk memainkannya. Tantangan meloloskan si burung jelek melewati hadangan pipa ternyata bukan hal yang mudah. Kita harus mengatur waktu ketukan ke layar, mengatur ritme ketukan agar tepat dan tidak membuat si burung terantuk pipa atau terhempas ke bawah. Kesalahan kecil yang dibuat, akan memastikan sang pemain untuk kembali mengulang dari awal.

Game ini juga membuat diri menjadi penasaran, ingin mencoba dan terus mencoba lagi. Ada dorongan yang kuat untuk menekan kembali “OK” dan “Start”, tanda kita akan mencoba lagi. Pasti terselip rasa bangga jika bisa memecahkan rekor best score sebelumnya walau hanya satu angka sekalipun.

Kesederhanaan dan kemudahan cara memainkan game ini yang membuat orang tertarik. Tidak perlu terlalu rumit berfikir. Game ini dapat melepaskan sedikit rasa stress yang melanda. Asal, jangan pula stress gara-gara skor Flappy bird masih di bawah 10. Keinginan untuk mengantarkan sang burung melewati pipa-pipa rintangan dan perolehan nilai tinggi sepertinya telah membuat para pemain semakin penasaran. Di berbagai media sosial pun ramai orang menyebarkan hasil, seolah berbagi kesuksesan tentang skor tertinggi yang telah diraih.  Ada yang dengan bangganya menulis, “Akhirnya, skor 30 menjadi kenyataan”. Atau “Sudah kuduga, skor 25 bukan hal yang mustahil!”.

Namun, ada kabar, Dong akan menarik game Flappy Bird dari peredaran seperti diberitakan di kompas.com (09/02/2014). Flappy Bird akan ditarik dari Google Play Store dan Apple App Store mulai Senin (10/02/2014) pukul 00.00. Sudahkah anda mendownload dan memainkan Flappy Bird? Berapa skor terbaiknya? Hati-hati kecanduan. Salam. (Del)

Pengalihan Hak Membangun, Layakkah Diterapkan di Jakarta?

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)  dan Peraturan Zonasi (PZ) DKI Jakarta telah mendapatkan kesepakatan dengan pihak DPRD DKI Jakarta pada tanggal 12 Desember 2013 yang lalu. RDTR merupakan rencana rinci, penjabaran atau bentuk operasionalisasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta. Aturan apa saja yang tercantum dalam RDTR Kota Jakarta?

Mungkin masih belum banyak yang mengetahui, dengan Perda RDTR tersebut, Jakarta akan menerapkan aturan pengalihan hak membangun. Aturan apakah itu? Layakkah diterapkan di Jakarta? Tidak ada salahnya jika kita coba simak bersama.

Pengalihan hak membangun atau yang dikenal luas dengan Transfer of Development Rights merupakan salah satu teknik pengaturan zonasi yang diterapkan Jakarta selain bentuk teknik pengaturan zonasi lainnya seperti bonus atau insentif, fiskal, kawasan khusus, pengendalian pertumbuhan, pemugaran, dan teknik lainnya.

Pengalihan hak membangun memberikan peluang bagi seseorang atau pemillik lahan untuk memindahkan atau menukarkan hak membangun yang dimilikinya dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Secara mudah, mungkin dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Suatu persil terletak dalam zona dengan maksimum jumlah lantai bangunan 12. Dalam kawasan tersebut juga terdapat bangunan bersejarah atau bangunan cagar budaya lainnya yang terkena peraturan pelestarian bangunan sehingga pemilik bangunan bersejarah tidak dapat menggunakan secara penuh hak membangunnya. Hak membangun yang dimilikinya tersebut dapat dialihkan atau dipindahkan ke lokasi lain. Secara sederhana, dapat dikatakan, hak membangun dapat dialihkan atau diperjual-belikan. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah praktik pengalihan hak membangun ini dapat diterapkan di seluruh wilayah Jakarta? Apakah pengalihan dapat dilakukan pada blok yang berbeda ataukah hanya dapat dilakukan pada blok yang sama? Sebatas apa praktik pengalihan hak membangun ini diijinkan?

Walaupun penerapan teknik pengaturan zonasi ini masih tergolong baru di Indonesia, namun bukan yang pertama. Teknik pengalihan hak membangun (transfer of development rights) juga diterapkan di beberapa kota di negara lain. Contohnya di New York.  Suatu zona memiliki aturan ketinggian bangunan maksimum 35 lantai. Gereja yang hanya memiliki 3 lantai dan terkena aturan untuk mempertahankan arsitektur bangunan aslinya diperkenankan untuk menjual hak membangun miliknya yang tidak dipergunakan kepada tetangganya dalam satu zona untuk membangun hingga 35+32 lantai.

Penerapan pengalihan hak membangun yang coba diterapkan di Jakarta bukan tanpa persyaratan. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seseorang dapat mengalihkan hak membangunnya atau orang lainnya menerima hak membangun.  Pengalihan hak membangun yang diterapkan di Jakarta memiliki persyaratan:

  1. Pengalihan hak membangun berupa luas lantai bangunan yang tidak terpakai yang berada dalam satu blok perencanaan;
  2. Pengalihan berasal dari selisih batasan hak membangun yang ditetapkan berdasarkan RTRW dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang digunakan dalam persil yang dibangunnya
  3. Pengalihan KLB dapat diberikan setelah dimanfaatkan minimal 60% dari KLB yang ditetapkan. Pengalihan hanya dapat dilakukan maksimal 1 (satu) kali

Teknik ini relatif baru untuk Indonesia dan yang paling dibutuhkan adalah administrasi yang jelas dengan pemetaan yang baik pula. Seluruh peta harus sudah memiliki sistem koordinat yang sama. Dibutuhkan transparansi baik secara aturan maupun kejelasan wilayah-wilayah yang dapat menerapkan teknik tersebut. Perlu aturan yang mengatur secara lebih rinci terkait harga, besaran, luasan, lokasi, dan aturan rinci lainnya. Sekali lagi, penegakan hukum tetap menjadi panglima untuk mengawal keberhasilan penerapan pengaturan tersebut. Jangan sampai terjadi permainan pengalihan hak membangun secara berulang atau timbul ekses lainnya.

Pada dasarnya, upaya untuk melindungi kawasan-kawasan cagar budaya atau bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah lainnya dapat langsung dilakukan dengan teknik pengaturan zonasi berupa pemberian insentif. Namun, pemerintah daerah DKI Jakarta mengambil langkah pengalihan hak membangun sebagai salah satu cara untuk memberikan insentif kepada bangunan-bangunan yang tidak menggunakan haknya tersebut.

Jadi, layakkah pengalihan hak membangun diterapkan di Jakarta? (Del)

 

Sumber : RDTR dan PZ DKI Jakarta