Blusukan di Pasar Pancoran – Glodok

Musim banjir sedang melanda Jakarta, namun sayang jika libur satu hari kemarin dilewatkan begitu saja. Paling tidak, kita dapat memanfaatkannya untuk sekedar istirahat atau sesuatu yang berbeda dengan hari lainnya. Tidak perlu terlalu muluk dan tidak butuh rencana-rencana. Cukup nikmati yang ada. Mengalir tanpa rencana. Terkadang, sesuatu yang tanpa rencana pun tak kalah menarik. Tergantung cara kita menikmatinya.

Pagi di hari libur dengan tayangan TV  yang isinya tentang banjir di berbagai belahan Jakarta, cukup memiriskan hati. Berita banjir dan kemacetan yang dihasilkannya sudah cukup untuk menggeser dominasi pemberitaan sebelumnya tentang AU. Mendung masih menggelayut. Panas yang biasanya menerpa Jakarta, berganti dengan suasana sejuk. Cukup nyaman.

Tiba-tiba suami datang dengan ajakannya, “Cari sarapan yuk! Mumpung adem”. Sasaran utama hasil poling dengan anak-anak akhirnya memutuskan untuk cari mie ayam di Jalan Sabang. Alternatif kedua, cari nasi uduk di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang. Berangkat. Cukup pakai motor saja. Sambil menikmati udara Jakarta yang jarang adem.

Tujuan pertama gagal total. Tukang mie ayam di Jalan Sabang tidak menggelar dagangannya. Nasi uduk pun nihil. Alhasil, kita hanya berputar-putar menikmati sedikit lengangnya Jakarta. Menikmati suasana Jakarta yang sedikit lebih segar sehabis mendapat guyuran hujan. Ternyata, libur kali ini turut meliburkan mereka pula. Pikir-pikir, asyik juga kalau cuaca mendung, tidak panas, bermotor ria. Suami masih penasaran, cari alternatif nasi uduk lainnya, “Kita coba ke Gajah Mada, di sana juga ada nasi uduk enak”. Sama juga, gak jualan. Akhirnya ikut urun rembug, “Ke Kota aja yuk!”.

Matahari masih malu-malu menampakkan diri. Hari masih pagi. Denyut Glodok belum terlalu terasa. Motor masih bisa melenggang dengan tenang. Kawasan Pancoran – Glodok yang biasanya sering dilewati Si Komo, pagi itu masih lancar. Beberapa toko sudah mulai buka. Pedagang kaki lima sudah bersiap untuk menerima kunjungan para pembeli.

Suasana menjelang Imlek sudah sangat kental. Para pedagang di Kawasan Pancoran – Glodok seolah tidak mau ketinggalan menangguk berkah Imlek. Warna merah tersebar di mana-mana. Kaos, baju, lampion, kartu, angpau, manisan, permen, dan aneka pernak-pernik merah begitu dominan. Bunga-bunga Mei Hua beragam ukuran sangat mudah terlihat. Semua tampak bermekaran. Warna merah mudanya sangat meriah. Seakan ingin menunjukkan bahwa bunga Mei Hua dapat berkembang di sepanjang musim.

Image

Salah satu toko penjual bunga Mei Hwa

Image

Beragam amplop untuk angpau

Image

Pakaian yang dijual pedagang di sepanjang trotoar, berhimpitan dengan motor

Mata sedikit terlena dengan warna-warni merah dan merah muda. Niat mencari kudapan pagi hampir terlupa. Tidak jauh dari Pasar Glodok, ada jalan kecil yang dipenuhi oleh para pedagang sayuran dan hasil laut lainnya. Sepenggal jalan yang tidak begitu lebar, dipenuhi campuran pedagang dan pembeli.

Hiruk pikuk layaknya pasar terjadi pula di sini. Ragam sayuran segar seperti kailan, sawi, brokoli, paprika warna-warni, baby buncis, dan sayuran lainnya sangat mengundang. Hasil laut yang digelar pun beraneka. Beragam jenis ikan, kepiting, udang, kerang, dan banyak lainnya. Tak ketinggalan, daging dari hewan tak halal juga banyak dijumpai di sini. Mulai dari daging mentahnya, sosis, sate, hingga makanan olahan kalengannya. Masih pula tersedia binatang lainnya, kodok misalnya. Kodok yang dijual, telah dibersihkan dan dihilankan kulitnya. Tinggal dimasak.

Image

Aneka sayuran yang dijual di Pasar Pancoran

Image

Aneka ikan dan hasil laut lainnya

Image

Kepiting

Image

Haisom / teripang / timun laut

Image

Haisom / teripang / timun laut

Yang menarik, banyak sekali dijual Haisom. Haisom biasa juga disebut teripang atau timun laut. Bentuknya kenyal, seperti kikil namun lebih padat. Biasanya banyak dijumpai dalam masakan-masakan China. Harganya jika di restoran relatif mahal. Umumnya dimasak tumis, sup, dimasak saus tiram, atau sebagai salah satu bahan masakan capcay. Penampakannya ketika masih belum diolah, agak jijik memang. Geli rasanya.

Image

nasi uduk yang habis diantri pembeli dan aneka kue

Mata tertumpu pada kerumunan orang di salah satu kios penjual makanan matang. Heran. Orang-orang seakan mengeroyok penjual. Ternyata jualan nasi uduk. Tersedia nasi uduk warna kuning dan warna putih. Disajikan dalam wadah yang lumayan besar.  Aksesorisnya tinggal pilih. Ada banyak pilihannya. Mau topping telur balado, sambal goreng tempe, empal, kulit, tahu, martabak mini, perkedel jagung, dan banyak lainnya. Para pembeli berkerumun menunggu giliran dilayani. Tertarik juga. Mencoba bertanya. Jawabannya, “Maaf, habis Mbak”. Hmmmm… nasi uduk yang tinggal setengah wadah telah habis diantri oleh pembeli lainnya. Heuh… belum kesampaian beli kudapan untuk sarapan. Tetap semangat! Kita cari makanan lainnya.

Image

Talas Pontianak

Ada yang mencuri perhatian. Seorang pedagang menjual sesuatu yang masih penuh berlumuran tanah. Didekati, ternyata talas Pontianak. Talas Pontianak ukurannya relatif lebih besar dibandingkan dengan talas Bogor. Talas Pontianak cukup terkenal lebih pulen dan lebih lembut. Di Pontianak, banyak dijual hasil olahan talas Pontianak. Dijual dalam aneka rupa cemilan, keripik, dan olahan berbahan dasar talas lainnya. Umbinya berwarna ungu dan jika dikukus warnanya akan menjadi lebih gelap.

Lumayan, hasil blusukan pasar Pancoran kemarin menghasilkan bermacam tentengan. Mulai dari cakwe dengan ukuran besar  lengkap disertai sambalnya, buah gandaria untuk sambal, beragam kue-kue, juga kodok. Yang terakhir ini anak-anak dan suami yang doyan. Saya jadi penonton saja. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s