Para Amoy pun Bisa Melarat

Gambar

Tidak ada seorang pun yang dapat memilih orang tua yang akan melahirkannya. Tidak seorangoun yang dapat mengetahui dari ras atau suku mana dia akan dilahirkan dan di belahan dunia mana dia akan hadir ke bumi. Ketika hadir di muka bumi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, setiap orang harus menerima “takdir”, menerima semua  kenyataan yang telah digariskan.

Saya dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Barat sebagai keturunan China dan hal itu tidak dapat disangkal ataupun ditolak. Harus tetap disyukuri dan tidak ada yang patut disesali. Walau tidak lahir di keluarga yang kaya, namun hidup di lingkungan keluarga yang tergolong cukup, Cukup untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Tidak mewah, sederhana saja.

Sejak kecil, yang tergambar di benak adalah persepsi bahwa tidak ada yang namanya seorang keturunan China mengalami kesulitan dalam mencari uang. Tidak ada dalam kamus seorang keturunan China melarat. Sesulit-sulitnya keturunan China, paling tidak masih dapat hidup layak. Masih dapat hidup dengan standar yang lumayan. Setidaknya masih ada di golongan menengah. Persepsi tersebut, terus bertahan hingga selesai kuliah.

Kenyataan berkata lain. Selesai kuliah, mendapatkan tawaran pekerjaan, dan langsung mendapatkan tugas kunjungan kerja ke Kepulauan Riau. Mulailah mata terbuka, tersadar, dan merasa miris.  Kepulauan Riau mempertontonkan kenyataan, memutar-balikkan persepsi sebelumnya yang telah melekat erat dalam benak. Gambaran tentang keturunan China dengan wujud stereotip putih, ulet, pekerja keras, tidak miskin, dan hidupnya tidak susah-susah amat, luntur sudah.  Hilang seketika. Kenyataan berbicara dan terlihat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Keturunan China juga banyak yang miskin dan bahkan sangat miskin. Di Kepulauan Riau, dengan mudah dapat ditemui nelayan-nelayan miskin, para buruh, dan para pekerja kasar lainnya. Tidak ada lagi gambaran kulit yang putih. Kulit mereka hitam terbakar mentari. Mereka hidup di permukiman-permukiman yang sangat tidak layak. Miris, tanpa bisa berbuat apapun. Ciri yang masih tertinggal hanyalah mata yang tetap sedikit lebih sipit.

Sejak saat itu, mulai mencari tahu lebih banyak tentang warga keturunan China di Indonesia.  Semakin dibuat miris. Ternyata tidak perlu terlalu jauh pergi ke Kepulauan Riau. Di Tangerang pun banyak warga keturunan China dengan perwujudan sipit, warna kulit yang jauh dari putih, rambut kemerahan terbakar surya, dan miskin atau sangat miskin. Berbagai berita tentang China Benteng di Tangerang dengan segenap cerita menyedihkannya membuat semakin miris hati. Mereka banyak yang menggantungkan mata pencahariannya sebagai nelayan, tukang becak, buruh pasar, pembantu rumah tangga, maupun buruh tani. Hidup di permukiman-permukiman yang jauh dari kata layak.

Beberapa kali kunjungan dalam rangka kerja ke Pontianak, Kalimantan Barat semakin melengkapi gambaran keadaan yang sesungguhnya. Di Pontianak, sangat mudah menemukan para Amoy bekerja sebagai pramuniaga toko, pelayan restoran, resepsionis, atau pelayan-pelayan hotel. Ditambah kenyataan banyak pula Amoy yang karena desakan atas nama “ekonomi” hidup bergelimang kemewahan yang semu.  Bekerja di berbagai dunia hiburan malam, bahkan menggadaikan harga diri, melacurkan diri. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Semakin miris ketika melanjutkan kunjungan ke Kota Singkawang, masih di Kalimantan Barat. Cerita tentang para Amoy yang mau menggadaikan harga diri, menyediakan diri dinikahkan dengan pria-pria Taiwan sangat mudah ditemui. Banyak yang menggapai kebahagiaan, namun banyak pula yang berakhir dengan derita. Sudah banyak cerita yang mengupasnya. Syukurlah, sudah mulai jauh berkurang. Agak sedikit heran ketika berkunjung ke Kota Singkawang. Para Amoy di sana, paling tidak yang saya temui, rata-rata berdandan sedikit lebih menor, walaupun itu untuk kegiatan sehari-hari. Riasan wajah tetap penuh, lengkap. Rona kecantikan khas oriental mereka sesungguhnya telah terpancar walau tanpa riasan berlebihan.

Itulah sebagian kecil potret warga keturunan China yang ada di Indonesia. Tersebar pada seluruh level ekonomi. Mulai dari yang paling kaya hingga tataran yang miskin sekalipun. Mereka tidak hanya menduduki level-level puncak dalam roda ekonomi. Turut memasuki seluruh lapisan kehidupan. Tidak sedikit yang juga turut menorehkan sejarah bagi negara.  Berupaya berkontribusi dengan caranya masing-masing dan dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Satu hal, semuanya tetap warga Indonesia, bagian dari Indonesia.  Tidak perlu terlalu muluk, cukup terimalah mereka sebagai bagian dari Indonesia, saling membahu untuk kemajuan negeri, tanpa perlakuan yang berbeda.

Selamat Tahun Baru Imlek untuk teman-teman yang merayakan. Gong Xi Fa Cai. Salam. (Del)

Sumber Gambar : http://trendsimages.com/gong-xi-fa-chai-2014/

Advertisements

Lukisan Pemandangan Legendaris itu Ternyata Ada

Gambar

Gambar Legendaris Kala TK dan SD

Masih ingatkah pelajaran menggambar ketika jaman TK atau SD dulu? Entah mengapa, sepertinya setiap TK atau SD memiliki protap gambar pemandangan yang baku. Buktinya, ketika iseng bertanya ke teman-teman, selalu mengiyakan, “Iya, dulu kita juga diminta menggambar pemandangan seperti itu”.

Gambarnya selalu memiliki penampakan dua buah gunung berbentuk segitiga berjajar. Bentuknya kadang benar-benar segitiga lancip atau terkadang sudah mengalami penghalusan, tidak lancip lagi. Di antara kedua gunung, selalu tergambar matahari yang bersinar. Kadang dilengkapi dengan mata dan mulut yang menyunggingkan senyum. Tak tertinggal, garis-garis lurus yang menggambarkan sinar matahari yang bersinar.  Pada bagian langit akan ada gambar awan putih. Terkadang terbalik, awannya berwarna biru sedangkan langitnya berwarna putih. Tidak lupa tergambar pula burung-burung dengan metode penggambaran yang sama persis.

Masih belum cukup sampai di sana. Pada bagian bawah gambar, juga memiliki gambaran yang kurang lebih sama. Selalu ada jalan yang berasal dari kaki gunung dan di sebelah kiri dan kanannya sawah yang membentang hijau. Ditambah dengan gambar rumah dan pohon, lengkaplah sudah gambar pemandangan standar TK dan SD. Dulu sempat bertanya, “Kenapa kalau gambar pemandangan harus seperti itu?”.

Siang tadi, mendapatkan kiriman gambar dari teman. Ternyata gambar legendaris itu benar-benar ada di Indonesia. Berarti, mungkin guru-guru jaman dahulu, terinspirasi oleh pemandangan itu. Terus terang, baru tahu. He..he..he.. Terlintas di benak, inilah salah satu kesalahan yang ada. Dari jaman dulu, kita kurang dapat mengembangkan kreativitas. Setiap TK dan SD menggambar pemandangan yang sama. Mengacu pada satu gambar pemandangan. Padahal, Indonesia sangat kaya dengan alam yang indah. Seharusnya gambar pemandangannya, tidak hanya terpaku pada satu gambar. Tapi mungkin gambar tersebut yang menjadi dasar awal gambar pemandangan. Pengembangannya, terserah masing-masing anak.

Ternyata selama ini kita terdoktrinasi oleh Gambar pemandangan dari Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kedua gunung itu letaknya memang berdekatan serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Gunung Sumbing berada di sebelah Barat Daya Kota Temanggung dan sebelah Timur Kota Wonosobo sedangkan Gunung Sindoro berada di sebelah Barat Laut Temanggung dan sebelah Timur Laut Wonosobo. Sebuah doktrinasi ala Temanggung dan Wonosobo. Seorang teman berceloteh, “Berarti guru jaman dulu banyak yang berasal  dari Temanggung dan Wonosobo. Di kampungnya sana memang pemandangannya seperti itu”. Senyum tersungging. Boleh jadi demikian.

Lingkungan di sekitar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing memang masih asri. Panorama alam yang apik dan lokasinya yang dekat dengan dataran tinggi Dieng menjadikan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata. Menarik juga jika menjadikannya wisata lukisan alam legendaris. Seperti yang diajarkan guru-guru TK dan SD jaman dulu.

Masihkah anak sekarang diajari juga menggambar pemandangan seperti itu? (Del)

Sumber : Sindoro dan Sumbing Gunung Kembar yang Menantang

Para Pemimpin Jempol, Kami Bangga !

Beberapa bulan terakhir ini berita yang kurang sedap, kurang nyaman didengar, datang mengepung. Berita tentang praktek-praktek korupsi yang kian merajalela dan berita gonjang-ganjing politik seolah datang silih berganti dengan berita bencana di berbagai pelosok negeri. Bumi pertiwi seakan tengah dirundung duka, tengah menangis,  mengiringi musim banjir yang tak kunjung reda.

Namun, siang ini, rasa lega masih terselip di dada. Setidaknya, Indonesia masih memiliki harapan, memiliki asa yang semoga dapat terus dipupuk, supaya dampaknya terus bertumbuh dengan subur, dan menyebar ke seantero negeri.

Berita pertama datang dari Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Kang Emil telah memulai gebrakannya sejak awal dilantik menjadi pemimpin Kota Bandung. Berbagai terobosan telah dia lakukan, antara lain melalui penertiban pedagang kaki lima, penyediaan ruang publik dan ruang terbuka hijau, atau dengan kebijakannya untuk menerapkan denda Rp. 1 juta bagi warga yang berbelanja di pedagang kaki lima. Tak kalah menarik, Kang Emil juga menginstruksikan seluruh jajarannya supaya memaksimalkan berbagai media sosial untuk memberikan akses kepada masyarakat agar lebih mudah menyampaikan keluhan, atau berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan. Keterbukaan informasi birokrasi pun diberlakukan. Dari segi transportasi, Kang Emil juga telah menerapkan system parking meter di Jalan Braga. Bus tingkatnya sudah mulai berkeliling kota.

Gambar

Ridwan Kamil ketika kunjungan ke rumah Siti Rokayah

Siang ini, tersiar kabar, masih ada tindakan lain yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, yang layak menjadi inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Ridwan Kamil masih menyempatkan waktunya, di sela-sela kesibukannya, untuk menyambangi warganya yang tinggal di pelosok-pelosok, di sudut-sudut Kota Bandung. Ridwan Kamil tidak segan mendatangi warga yang kurang beruntung, untuk sekedar menyapa, santap bersama,  mendengar keluh kesahnya, dan menentukan yang bisa dia lakukan sebagai tindak lanjutnya. Siti Rokayah, warga yang dikunjungi merasa terharu atas perhatian pemimpinnya. Boleh jadi, dia merasa bahagia, bahwa pemimpinnya juga memberikan perhatian terhadap masalah yang menimpanya. Ridwan tengah menjalankan salah satu programnya, yaitu berupaya untuk menaikkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Salah satu caranya, dengan setiap satu minggu sekali, mengunjungi warga pra sejahtera di Kota Bandung.

Kita tidak perlu berburuk sangka terlebih dahulu. Tidak perlu terburu memberikan cap pencitraan. Kita lihat ketulusan dan tindakan yang akan dilakukan Kang Emil selanjutnya. Apakah hanya akan berhenti pada kunjungan semata, ataukah ada tindak lanjut yang tentunya dapat dirasakan tidak hanya oleh warga yang kebetulan terkunjungi. Kami percaya, Kang Emil memiliki jaringan yang dapat menindaklanjuti hasil kunjungannya.

Gambar

Ahok tak segan memuji pemimpin lainnya

Berita kedua yang tidak kalah menggembirakan, memberikan harapan datang dari Ahok. Salah satu sosok pemimpin Jakarta ini mau dengan jujur mengakui dan memberikan pujian pada pemimpin lainnya. Ini bukan masalah sepele. Salah satu ciri pemimpin yang patut diacungi jempol, adalah mau secara jantan mengakui keberhasilan pemimpin lainya, bahkan mau mencontoh kebijakan yang baik. Tidak perlu malu atau tidak perlu merasa rendah dianggap sebagai pengekor. Sebagai salah satu pimpinan di kota yang katanya miniatur Indonesia, kota yang menjadi barometer negeri, Ahok tidak sungkan untuk melontarkan pujian pada para pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak merasa bahwa kedudukan dan posisinya lebih bergengsi dibandingkan dengan pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak malu untuk menghaturkan pujian pada Ridwan Kamil. Tindakan ini bukan sesuatu yang mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Ahok secara tulus mengatakan, “Memang dia (Ridwan) bagus kinerjanya dan banyak kebijakan yang bisa kita tiru, banyak juga yang tidak bisa kita tiru”,  kata Basuki (28/1/2014). Ahok bukan sekali ini memuji keberhasilan pemimpin daerah lain. Hal yang sama juga pernah dia lakukan untuk Bu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Ahok memuji sistem e-budgeting yang diterapkan di Kota Surabaya.

Gebrakan yang dilakukan Ahok tidak kalah gaung dibandingkan dengan gebrakan yang dilakukan Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini. Jokowi pun salah satu pemimpin yang menginspirasi. Mereka semua adalah para pemimpin jempol yang tengah meniupkan angin harapan, asa yang masih bisa kita harap. Semoga dapat menularkannya pada para pemimpin lainnya, memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Semoga berita yang beredar tidak hanya tentang muramnya Indonesia, namun juga tentang harapan yang masih dapat kita nantikan. Indonesia pasti bisa. Salam. (Del).

Sumber:

  1. Kisah Janda Miskin ‘Diapeli’ Wali Kota Ridwan Kamil
  2. Puji Ridwan Kamil, Basuki Ingin Tiru Kebijakannya

Para Pelintas Gelap di Perbatasan Timor Leste

Pekerjaan telah mengantar saya menuju beberapa tempat di Indonesia. Puji syukur, beragam lokasi, tempat, adat istiadat, budaya, bahasa, dan beragam pengalaman turut mewarnai setiap perjalanan. Ada yang unik, indah, menyenangkan, menyebalkan, membuat miris, mengetuk hati, juga memasgulkan hati. Semuanya meninggalkan kesan. “Mana yang paling menarik? Perjalanan mana yang paling berkesan?”. Terus terang, untuk menjawab pertanyaan tersebut, agak sulit. Ada beberapa perjalanan yang cukup membekas di hati ada pula yang hanya lewat begitu saja.  Inilah salah satu yang masih membekas,  sebuah perjalanan ke salah satu perbatasan Indonesia dengan Republic Demokratic Timor Leste (RDTL).

Gambar

Salah satu gerbang perbatasan menuju Timor Leste

Gambar

Salah satu gerbang perbatasan Indonesia dan Timor Leste

di perbatasan

Salah satu penanda perbatasan

Timor Leste merupakan salah satu negara tetangga yang sempat menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Timor Leste terletak di Pulau Timor, berbatasan darat dengan Timor Barat. Pada masa kolonial, Pulau Timor terbagi dua menjadi wilayah kekuasaan Portugis dan Belanda. Sebelah Timur merupakan kekuasaan Portugis dan sebelah Barat menjadi kekuasaan Belanda. Belanda dan Portugis tertarik dengan harum dan manisnya aroma kayu cendana, salah satu unggulan dari Pulau Timor. Pada akhirnya, Timor Leste berdiri menjadi negara sendiri, Republic Demokratic Timor Leste (RDTL).

Ada hal yang membedakan antara wilayah perbatasan di Timor Leste dengan wilayah perbatasan lainnya di Indonesia. Jika kita pergi ke Entikong (Kalimantan Barat), salah satu wilayah perbatasan dengan Sarawak, Malaysia, kita akan dengan jelas menemukan perbedaannya. Perjalanan dari Pontianak ke Entikong melalui jalan yang bergelombang dengan lubang-lubang yang tidak membuat nyaman. Lain halnya dengan jika kita berkendara selepas urusan imigrasi di Entikong selesai. Perjalanan dari Entikong ke Kuching, Sarawak, sangat mulus. Ini menjadi salah satu indikator perbedaan. Perbedaan sarana dan prasarana turut mewarnai.

IMG_5877

Kondisi jalan menuju perbatasan

Perbedaan itu tidak kita temui di perbatasan dengan Timor Leste. Sarana dan prasarana yang terdapat di Timor Barat tidak kalah jika dibandingkan dengan di Timor Leste. Bahkan untuk beberapa hal, Timor Barat  atau Nusa Tenggara Timur lebih baik.

Perbatasan di Timor Leste  berbeda  dengan perbatasan wilayah lain di Indonesia. Kesamaan adat, kekerabatan yang ada, sangat mempengaruhi. Diberikan kelonggaran pemeriksaan dan kemudahan bagi warga yang hendak melintas keluar masuk wilayah Indonesia-Timor Leste. Pihak Indonesia dan Timor Leste seolah sepakat untuk tidak mempersulit warga yang ingin melakukan adat di wilayah tetangga, atau untuk melayat, menjenguk keluarga yang tengah berduka,  atau untuk berbagai perayaan adat lainnya. Tidak ada pemeriksaan imigrasi yang rumit. Warga cukup menitipkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau identitas lainnya di gerbang pemeriksaan.

IMG_5879

Kondisi lahan di salah satu wilayah perbatasan NTT-Timor Leste, masih hutan

Walau hanya melalui prosedur sederhana seperti itu, masih saja banyak pelintas gelap. Sempat berbincang dengan salah satu petugas keamanan di sana dan menanyakan tentang keberadaan pelintas gelap. Pelintas gelap umumnya warga Timor Leste yang biasanya membeli barang-barang kebutuhan pokok di wilayah Indonesia untuk kemudian dijual di wilayah Timor Leste. Sempat terheran-heran melihat banyak warga yang membawa gula, makanan kecil, sabun, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Ternyata, menurut informasi yang diperoleh, gula di Timor Leste harganya relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan di NTT sehingga banyak warga yang melintas untuk membeli gula di NTT dan dijual di Timor Leste.

Petugas memberikan teropong sederhana, “Coba lihat orang-orang yang berjalan cepat di antara hutan-hutan di bawah sana. Itu yang sering disebut  dengan istilah “tikus”, para pelintas gelap”. Tampak di antara jalan-jalan setapak, para pelintas gelap yang berjalan cepat membawa berbagai barang kebutuhan pokok yang sulit atau mahal didapat di Timor Leste untuk dijual di sana. Terlintas tanya, “Kok dibiarkan?”. Petugas itu seperti tahu apa yang ada di benak, dia melanjutkan penjelasan, ”Sulit untuk mengejarnya, mereka sangat hapal medan, jika dikejar, akan masuk ke hutan-hutan, sangat gesit, pasukan kita terbatas. Ah, lagipula, mereka masih sama kok, masih saudaranya Indonesia”. Petugas tadi seolah ingin memberikan pembenaran, bahwa mereka masih kerabatnya Indonesia”. Kondisi minimnya pengamanan di wilayah perbatasan sepertinya sudah menjadi pemandangan biasa. Minimnya sarana pengamanan menjadikan kawasan perbatasan sering menimbulkan permasalahan, di antaranya perdagangan ilegal dan berbagai macam penyelundupan gelap. Perlu menjadi catatan penting, mungkin saat ini masih dalam skala kecil, namun jika pembiaran terus terjadi, bukannya hal yang mustahil jika skala penyelundupan ini akan semakin membesar dan menimbulkan permasalahan serius di kemudian hari.

Diperlukan pengelolaan perdagangan lintas batas untuk memfasilitasi kebutuhan penduduk di wilayah perbatasan. Tujuannya untuk memudahkan lalu lintas orang dan barang serta mengurangi penyelundupan.

Secara jujur, harus diakui, kondisi yang terjadi di kawasan perbatasan NTT-Timor Leste berbeda halnya dengan kondisi perbatasan di Entikong. Secara umum kondisi masyarakat Nusa Tenggara Timur relatif lebih baik dibandingkan masyarakat Timor Leste. Kawasan perbatasan di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya di sepuluh kecamatan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste masih relatif lebih maju dibandingkan dengan distrik-distrik yang ada di wilayah Timor Leste. (Del)

Cita Rasa dalam Sepotong Tahu Abiantubuh

Tak elok rasanya bila bepergian dan pulang tanpa menenteng oleh-oleh. Sudah menjadi tradisi yang melekat erat bagi warga Indonesia untuk membawa sedikit buah tangan bila bepergian ke manapun. Itu pula yang telah merasuk dalam diri. Bentuk buah tangan tidak selalu harus wah, yang penting khas daerah yang kita kunjungi. Terkadang karena keterbatasan waktu, di sela-sela jadwal yang sulit, membeli buah tangan di bandara pun jadilah. Yang penting ada sesuatu yang dapat dibawa pulang.

Kunjungan ke Pulau Lombok, khususnya ke Kota Mataram bukan yang pertama kali dilakukan, sudah berkali-kali. Kunjungan terakhir ke sana, sempat bingung juga, “Mau bawa oleh-oleh apa ya? Sepertinya kain Lombok sudah ada, mutiara juga sudah ada, kerajinan khas Lombok sudah dari kunjungan sebelumnya. Jeli rumput laut, anak-anak tidak begitu menyukainya. Terasi khas Lombok pun sudah dan hingga saat ini masih bersisa. Telur asin? Gak deh… Ayam taliwang… Ah, kok itu melulu? Apa lagi ya…?”

Seorang teman dari Bali mengajukan ide, “Sudah pernah makan tahu Abiantubuh belum? Enak lho…”. Tahu Abiantubuh? Tahu jenis apa itu? Rasanya baru dengar. Ternyata, selain ayam taliwang, kangkung, telur asin, jeli rumput laut, terasi, terong bakar, ada juga penganan lain khas Lombok.

Sebenarnya tahu ini bukan penganan khas. Tahu banyak ditemui di kota-kota lainnya di negeri kita. Yang hobi menyantap tahu tentunya mengenal tahu Yun-Yi dari Bogor, tahu Sumedang, tahu Cibuntu dari Bandung, tahu bulat dari Bogor, tahu pong, tahu sutra, dan mungkin tahu lainnya. Saya sebagai salah seorang penggemar tahu, penasaran juga, seperti apa wujud dan rasa tahu Abiantubuh?

Gambar

Tahu 151 A, Abian Tubuh, Mataram

Untuk memenuhi rasa penasaran, akhirnya, begitu kesempatan ada, sengaja mampir ke sana. Ternyata yang disebut dengan tahu Abiantubuh dijual di sebuah kedai biasa. Tahu Abiantubuh dijual di kedai yang yang berlokasi di Jalan Prabu Rangkasari No. 151, Mataram. Itulah sebabnya tahu ini juga dikenal dengan nama “Tahu 151A”.

Ada yang menarik. Di depan kios sederhananya, tepatnya di bagian depan lemari pajangnya, terdapat tulisan TABOK. Cukup menarik perhatian. Ternyata maksudnya tahu lombok. Bisa mengandung dua arti. Tahu yang dimakan beserta lombok (cabe) atau tahu yang berasal dari Lombok.

Gambar

Tahu Abiantubuh, tanpa pengawet

Begitu masuk ke dalam kedai, diperlihatkan penampakan tahu mentahnya. Tampilannya tidak begitu menarik. Biasa saja. Bahkan mirip dengan tahu-tahu lainnya yang banyak dijual di Jakarta. Warnanya putih, dan di beberapa bagian, tidak terlalu putih, sedikit berwarna kecoklatan. Ukurannya tidak begitu besar, malah bisa dikatakan kecil. Kira-kira ukuran 4×4 cm. Apa istimewanya? H. Abdul Muhaimin, sang pembuat sekaligus pemilik usaha tahu Abiantubuh seolah tahu keraguan yang menerpa calon pembelinya. “Silakan coba dulu. Mau coba yang mentah atau yang sudah digoreng? Tahu kita tidak pakai pengawet, dijamin enak”.  Akhirnya dibungkuslah 30, dimasukkan dan dibungkus ke dalam wadah anyaman bambu.

Gambar

Kemasan Tahu Abiantubuh

Gambar

Penampakan tahu setelah digoreng

Bagaimana rasanya? Ternyata tidak kalah dengan tahu unggulan lainnya. Walau hingga saat ini tetap tahu Bandung juaranya. Tahunya tidak terlalu lembek dan tidak juga terlalu keras. Sedikit padat. Rasanya mirip dengan tahu Bandung. Warnanya putih dan jika digoreng berubah menjadi sedikit kecoklatan.  Bagaimana harganya? Harganya lumayan. Tidak terlalu murah, agak mahal jika dibandingkan dengan standar harga tahu Jakarta lainnnya. Satu potong tahu dihargai Rp. 4.000,00. Namun, layak juga untuk dijadikan oleh-oleh. Begitu sampai Jakarta, sebagian digoreng, disajikan dengan kecap yang telah dibubuhi potongan cabe rawit. Satu piring sajian, langsung ludes. Sisanya, masuk ke kulkas, bisa untuk besok.

Gambar

Kiosnya tidak terlalu besar, tersedia penganan oleh-oleh lainnya

Gambar

Aneka penganan lainnya

Gambar

Kangkung segar di dalam lemari pendingin

Di kios ini terdapat pula makanan lain yang bisa dijadikan oleh-oleh. Ada kangkung segar, telur asin, dan berbagai camilan lainnya, seperti kerupuk paru, kerupuk kulit kerbau dan kulit sapi, serta penganan lainnya. Bisa dijadikan alternatif oleh-oleh. (Del)

Menggalang Kembali Puing-Puing Sejarah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

Biasanya, jika berkunjung dalam rangka tugas pekerjaan ke Pulau Batam, selalu tidak sempat untuk mengeksplor Pulau Rempang dan Pulau Galang. Banyak yang menjadi kendalanya, antara lain karena ketatnya jadwal atau karena harus segera kembali ke Jakarta. Yang dapat dilakukan hanya berkeliling di seputar Kota Batam atau berbelanja di wilayah Nagoya. Keinginan untuk melihat langsung jejak-jejak peninggalan sejarah keberadaan camp pengungsi di Pulau Galang menguatkan tekad untuk menyempatkan mampir ke sana.

Gambar

Jejak Sejarah di Pulau Galang

Pulau Galang di sekitar tahun 1980-an cukup dikenal dunia karena menjadi tempat pengungsian bagi warga Vietnam yang mencari perlindungan pasca terjadinya konflik internal antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Para pengungsi Vietnam telah mempertaruhkan sepotong nyawa mereka, mengambil resiko tinggi dengan menjadi manusia perahu. Mereka berlayar meninggalkan negara mereka, mengarungi samudra dengan hanya berbekalkan perahu kecil seadanya yang dijejali penumpang yang jauh melebihi kapasitasnya. Terapung-apung berbulan-bulan lamanya mengarungi Laut China Selatan. Sebagian harus merelakan nyawanya di tengah lautan dan sebagian lainnya berhasil meraih daratan, termasuk berlabuh di wilayah Indonesia. Mereka terpaksa melakukan itu untuk lari dari perang saudara yang melanda mereka di tahun 1979.

Sebenarnya, para manusia perahu tidak secara langsung berlabuh di Pulau Galang. Awalnya, gelombang manusia perahu mendarat di Kepulauan Natuna bagian Utara, Kepulauan Anambas, dan Pulau Bintan. Para pengungsi diterima oleh masyarakat setempat. Namun, karena gelombang pengungsi terus berdatangan, tentunya menimbulkan permasalahan tersendiri. Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menempatkan para pengungsi di Pulau Galang. Selain alasan kemudahan penyaluran pengungsi ke negara ketiga, juga karena Pulau Galang masih cukup luas dan dapat menampung para pengungsi. Para pengungsi ditempatkan di Desa Sijantung, sebagai tempat penampungan sementara.

Para pengungsi Vietnam menjalani hidup dan kehidupannya di Pulau Galang hingga tahun 1995. Ada sebagian di antara mereka yang kembali ke negara asalnya dan sebagian lainnya mendapatkan suaka dari negara-negara maju. Kehidupan di camp pengungsi dibuat terisolasi dari lingkungan sekitar maupun dari penduduk setempat. Waktu itu dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan penjagaan keamanan. Juga untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin yang menjangkiti para pengungsi Vietnam, yang dikenal dengan Vietnam Rose.

Gambar

Jembatan Barelang dan pemandangan indah di sekitarnya

Sekarang, jika kita berkunjung ke Pulau Galang, tidak terlalu sulit, karena antara Pulau Batam-Pulau Rempang-Pulau Galang telah tersambung dengan jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang). Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam berkendara mobil dari pusat Kota Batam ke Pulau Galang. Terdapat 6 jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil di sana. Jika kita berada di jembatan tersebut, terpampang lukisan alam yang sangat indah. Selaksa lukisan pemandangan alam yang sering dilukis oleh para pelukis. Pandangan mata seakan dimanjakan oleh paparan lukisan alam nan indah, perpaduan antara laut biru dan hutan mangrove di sepanjang pantai yang sebagian besar masih asri.

Gambar

Monyet-monyet yang berkeliaran bebas di sepanjang jalan

Perjalanan menuju Camp Vietnam harus melewati jalan yang berkelok-kelok, membelah hutan Pulau Galang. Untuk memasuki Camp Vietnam, tidak ada gerbang mencolok, hanya berupa gapura bentuk perahu. Di perjalanan kita masih dapat menemui sekumpulan monyet yang berkeliaran, turun dari hutan yang ada di kanan kiri jalan, bermain di tengah jalanan.

Gambar

Peta lokasi Camp Vietnam di Pulau Galang

Gambar

Papan sederhana di Camp Vietnam Pulau Galang

Gambar

Ajakan untuk kompak?

Di Pulau Galang inilah jejak-jejak peninggalan para manusia perahu, para pengungsi Vietnam, masih dapat kita telusuri.  Dalam kawasan yang dikenal dengan Kampung Vietnam seluas sekitar 80 Ha. kita seolah diajak  untuk turut membayangkan kehidupan mereka pada waktu itu. Di kawasan bekas pengungsi Vietnam, tersebar bangunan-bangunan maupun benda-benda peninggalan yang dapat membantu kita untuk mewujudkan gambaran kehidupan para pengungsi yang cukup memilukan.

Suasana Camp Vietnam ketika kami kunjungi sangat sepi,  seolah hanya kami pengunjungnya. Berkeliling sendiri, mencoba menggalang puing-puing sejarah peninggalan para pengungsi yang masih tertinggal di Pulau Galang. Suasana sunyi, pepohonan yang rimbun, cuaca yang tidak begitu panas, bangunan-bangunan yang minim perawatan, terbengkalai dan merana, seolah memperkuat suasana yang ingin dibangun. Seakan turut memberikan gambaran tentang kehidupan mereka dulu. Ingin meneriakkan pilu, menyebarkan duka yang mereka alami.

Gambar

Humanity Statue (Monumen Kemanusiaan)

Terdapat banyak bangunan yang membawa kita pada kenangan para pengungsi Vietnam. Berawal dari Humanity Statue (monumen kemanusiaan) yang terletak tidak jauh dari gerbang. Monumen ini berbentuk patung seorang wanita. Humanity Statue seakan berupaya untuk mengingatkan kita akan peristiwa atau lebih tepatnya tragedi  kemanusiaan yang menimpa salah satu pengungsi wanita di sana. Tinh Han Loai, seorang wanita pengungsi yang mati bunuh diri karena harus menanggung malu akibat diperkosa oleh sesama pengungsi.

Memang banyak peristiwa kriminal yang terjadi antar sesama pengungsi sehingga pemerintah dan UNHCR merasa perlu untuk membangun sebuah penjara di Camp Vietnam. Fungsinya selain untuk memberikan pelajaran bagi para pelaku kejahatan, juga untuk menahan para pengungsi yang mencoba untuk melarikan diri. Mungkin kondisi stres dan depresi yang menimpa mereka turut mempengaruhi.

Gambar

Perahu yang digunakan para pengungsi untuk mengarungi Laut Cina Selatan

Gambar

Sekilas penjelasan tentang perahu

Di Camp Vietnam kita juga dapat menemukan perahu-perahu yang konon katanya sebagian merupakan perahu asli yang digunakan oleh para pengungsi dalam mengarungi Laut Cina Selatan. Terbayang sudah bagaimana mereka hidup berhimpitan selama berbulan-bulan dalam perahu yang relatif kecil yang katanya dijejali oleh sekitar 40-100 orang.

Gambar

Foto-foto di Museum yang ada di Pulau Galang

Terdapat pula museum di kawasan wisata sejarah Camp Vietnam. Di dalamnya terpampang foto-foto para pengungsi plus foto-foto kegiatan yang mereka lakukan. Beberapa bangunan yang ada di sana tidak terawat. Beberapa benda peninggalan dibiarkan berkarat tanpa pemeliharaan yang berarti. Padahal, benda-benda dan bangunan-bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah yang sayang jika dilupakan begitu saja.

Gambar

Wisma Trang Galang

Gambar

Bangunan bekas Youth Center

Gambar

Tempat pengobatan (Hospital)

Gambar

Gereja Katolik Nha Duc Me Vo Nhem

Gambar

Vihara Quan Am Tu

Gambar

Patung Dewi di Vihara Quan Am Tu

Beberapa tempat ibadah turut melengkapi kawasan camp Vietnam. Kondisinya tidak lebih baik.  Dibiarkan tanpa perawatan yang seharusnya. Vihara, mushala, gereja Kristen maupun gereja Katolik lengkap tersedia.  terletak di tengah-tengah camp, persis bersebelahan dengan . Semua bangunan masih seperti bentuk aslinya. Hanya vihara yang sedikit tampak lain. Sepertinya masih digunakan karena ketika berkunjung ke sana, bangunan ini nampak lebih bagus jika dibandingkan dengan bangunan ibadah yang lainnya. Telah dicat ulang dengan warna mencolok dan terdapat patung Dewi yang indah. Keadaan ini berbeda 1800 jika dibandingkan dengan gereja Kristen yang ada, yang hanya menyisakan puing saja.

Di sana juga ada sekolah-sekolah bahasa yang diperuntukkan bagi para pengungsi dalam rangka persiapan sebelum mereka mendapatkan suaka di negara baru. UNHCR waktu itu mewajibkan para pengungsi agar memiliki keterampilan khusus atau menguasai bahasa asing.

Saya belum dapat secara lengkap menggalang puing-puing sejarah yang terserak di Pulau Galang. Namun, telah cukup untuk mendapatkan gambaran dan bayangan kehidupan mereka kala itu. So, tidak ada salahnya untuk melengkapi kunjungan ke Pulau Batam dengan mendatangi dan melihat secara langsung bukti sejarah yang turut mewarnai Indonesia. Tertarik? Salam. (Del)

Pasar Kebun Sayur yang Tidak Menjual Sayur

Gambar

Deretan kios cendera mata di Pasar Inpres Kebun Sayur

Dulu, ketika pertama kali melakukan kunjungan ke Balikpapan, seorang kawan yang tinggal di sana menawarkan untuk mengantar ke Pasar Kebun Sayur. Yang pertama terlintas di benak, “Ngapain ke pasar sayur? Untuk apa jauh-jauh pergi ke Balikpapan hanya untuk membeli sayur? Sepertinya saya tidak butuh sayur, tapi butuh beli oleh-oleh”. Sang kawan hanya membalas, “Sudah, tak perlu banyak komentar, ikut saja.”.

Gambar

Pasar Inpres Kebun Sayur

Awalnya persepsi kita digiring pada asumsi bahwa pasar kebun sayur pasti menjual sayur. Ternyata, yang namanya “Pasar Kebun Sayur”, tidak menjual sayur. Yang dijual jauh dari sayuran. Pasar Kebun Sayur merupakan pusat oleh-oleh dan cinderamata di Kota Balikpapan. Terletak di Jalan Letjen Suprapto atau sekitar 1 jam perjalanan mobil dari Bandara.

Gambar

Sebagian cendera mata yang dijual di Pasar Inpres Kebun Sayur

Gambar

Beragam asesoris dan perhiasan di Pasar Inpres Kebun Sayur

Gambar

Beragam asesoris di Pasar Inpres Kebun Sayur

Di Pasar Kebun Sayur kita akan mendapati beragam perhiasan atau asesoris khas Kalimantan yang terbuat dari batu-batu, baik itu dalam bentuk gelang, kalung, cincin, bros, maupun asesoris lainnya.  Kita pun dapat dengan mudah menjumpai souvenir khas Kalimantan lainnya, misalnya kain tenun dan sarung khas Balikpapan, serta souvenir lainnya yang terbuat dari untaian batu-batu kecil (manik-manik) warna-warni, yang dijalin dan disambungkan dengan benang dan dijadikan tas, dompet, tempat tisue, tempat pensil, maupun perlengkapan lainnya. Tak ketinggalan, banyak pula kerajinan tangan khas Suku Dayak, seperti mandau, baju adat dayak, topi dayak yang terbuat dari untaian manik, miniatur rumah Dayak, gelang akar, kopiah yang terbuat dari akar, serta beragam batu mulia. Batu mulia yang dijual terdiri dari beragam jenis, seperti batu kecubung, batu akik, zamrud, safir, delima, hingga berlian. Batu mulia tersebut dijual dalam berbagai bentuk perhiasan maupun masih dalam bentuk mentah (belum dijadikan bentuk perhiasan). Harganya bervariasi, tergantung kualitasnya, mulai yang berharga hanya puluhan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah.

Gambar

Kios-kios cendera mata di Pasar Inpres Kebun Sayur

Memasuki kawasan Pasar Inpres Kebun Sayur jangan membayangkan akan memasuki kawasan pusat pertokoan atau pusat penjualan cenderamata yang mewah. Pasar Inpres Kebun Sayur hanya berupa kumpulan kios sederhana, namun dengan omset yang luar biasa. Walaupun sederhana, berbelanja di Pasar Inpres Kebun Sayur menimbulkan keasyikan tersendiri bagi para pengunjung. Suasana khas pasar tradisional masih kental terasa, dengan tradisi dan proses tawar menawarnya. Pembeli pun tidak perlu khawatir dengan urusan perut, karena masih dalam kompleks pasar tersebut, terdapat kios-kios makanan yang menjual makanan khas Balikpapan maupun makanan lainnya, seperti udang bakar, kepiting, kerang, dan lainnya. Udang bakarnya begitu menyolok karena berukuran besar.

Tas yang terbuat dari untaian manik kecil sudah di tangan. Sekarang, tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke Balikpapan tanpa mampir ke Pasar Kebon Sayur. Pasar Kebun Sayur bagai lokasi wajib kunjung untuk sekedar membeli buah tangan, demi memenuhi tradisi khas orang Indonesia. Tak elok rasanya jika bepergian tanpa membawa pulang oleh-oleh. Jadi, siapa yang mau berkunjung ke Pasar Inpres Kebun Sayur? Silakan. Salam. (Del)