Belajar Pertambangan dari Nauru

Baru-baru ini  tersiar kabar bahwa Menteri Luar Negeri Australia, Julia Bishop, menggambarkan kondisi pusat pemrosesan imigrasi di Nauru sebagai tempat yang lebih baik dari kamp para pekerja tambang yang ada di Australia (19/12/2013). Bishop melontarkan pernyataan tersebut untuk menanggapi laporan UNHCR yang prihatin atas kondisi pusat pemrosesan pencari suaka di Nauru serta menilai fasilitas yang disediakan tidak pantas ditempati oleh sekitar 700 pencari suaka dan anak-anaknya. Nauru kembali menjadi sorotan. Pernyataan Bishop  memancing pro dan kontra.  Pihak yang kontra mengatakan bahwa kondisi para pencari suaka di Nauru tidak dapat dibandingkan dengan kondisi kamp para pekerja tambang di Australia. Para pekerja tambang sebagian besar laki-laki dewasa  dengan ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan para pencari suaka di Nauru yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Para pekerja tambang masih memiliki harapan dengan penghasilan yang jauh lebih besar sedangkan para pencari suaka hanya menunggu pembagian makanan. Nauru sendiri saat ini tengah kewalahan dengan permasalahan tingginya tingkat pengangguran dan terbujuk oleh Australia dengan iming-iming bantuan hampir $30 juta  di tahun 2013-2014 jika negaranya menerima para pencari suaka. Para pencari suaka memang selalu mengundang permasalahan tersendiri.

Terlepas dari kondisi Nauru sekarang yang menjadi tempat bagi para pencari suaka, Nauru memiliki cerita tentang kisah pertambangan. Kisah manis dan getirnya sebuah kegiatan pertambangan. Mari kita telusuri kisah pertambangan di Nauru. Berkaca dari pengalaman Nauru tentang pengelolaan pertambangan yang tidak bijak dan akibat yang harus diembannya.

Image

Peta Pulau Nauru
Sumber Gambar : Kementerian ESDM, 2013

Nauru merupakan sebuah pemerintahan republik terkecil di dunia. Dikenal dengan sebutan Pleasant Island (pulau yang menyenangkan). Dulunya, Pulau Nauru memang pulau yang indah dan menyenangkan.  Terletak tidak jauh dari garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis dan dihuni sekitar 9.500 jiwa. Umumnya tinggal di pesisir. Nauru merupakan pulau kecil dengan luas hanya 21 km2. Begitu kecilnya Pulau Nauru sehingga hanya diperlukan waktu setengah jam saja dengan berkendara roda empat untuk mengelilingi Pulau Nauru. Terletak 3.890 km sebelah timur Australia. Nauru terkenal dengan sumber daya phospatnya yang luar biasa, yang telah ditambang oleh gabungan perusahaan asing.

Dengan Phospatnya yang melimpah, sepanjang awal abad ke 20, Nauru menjadi eksportir utama phospat sejak 1907, dan terus berlanjut hingga setelah kemerdekaan Nauru pada 31 Januari 1968.

Nauru pernah tercatat sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Di masa keemasan pertambangan di tahun 1980-an, pendapatan perkapitanya pernah mencapai US$ 17.000. Sebagai perbandingan, Indonesia memiliki pendapatan perkapita US$ 3.596,27 di tahun 2012. (CEIC, 2013).  Saat itu, penduduk Nauru berubah seketika menjadi warga negara yang sangat kaya. Tidak ada warga miskin. Negara mensubsidi kehidupan seluruh warganya. Lebih dari 80 % angkatan kerjanya diangkat sebagai pegawai negeri. Saking kayanya Nauru, warga hidup bergelimang kemewahan tanpa perlu kerja keras. Penduduk Nauru menjadi malas, pekerja didatangkan dari Australia, Cina, Kiribati, Tuvalu, dan negara lainnya.

Limpahan phospat dan harta yang dihasilkan membuat Nauru terlupa, terlena. Eksploitasi phospat tidak terkendali. Keserakahan meraja lela.  Phospat yang merupakan satu-satunya sumber sandaran hidup Nauru dieksploitasi habis-habisan tanpa memikirkan masa depan. Tidak menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Cadangan phospat menipis dengan drastis. Ekspor phospat menurun dari tidak kurang 2 juta ton pertahun ke Australia dan Selandia Baru, menjadi hanya 33.000 ton di tahun 2001. Pendapatan perkapitanya menjadi hanya tinggal US$ 3.000.

Tahun 2006 menjadi tahun yang paling berat bagi Nauru. Angin berubah setelah mulai habisnya phospat. Perusahaan pertambangan besar tutup karena phospat habis. Nauru bangkrut dengan meninggalkan hutang besar. Tidak sanggup membayar hutang. Sejak Desember 2005 hingga September 2006, Nauru menjadi negara yang terisolasi dari dunia luar. Air Nauru yang merupakan satu-satunya maskapai penerbangan, berhenti beroperasi. Nauru praktis hanya menggantungkan transportasi ke luar dengan kapal laut.

Di tengah kondisi yang serba sulit, Pemerintah Nauru menawarkan diri kepada Autralia. Pada tahun 2001, Nauru menjalin persetujuan dengan Australia untuk membangun sebuah pusat detensi untuk memproses para pencari suaka. Pusat detensi tersebut sempat ditutup tahun 2007 sebelum kembali dibuka tahun 2012 karena kebijakan baru yang keras untuk mencegah kedatangan kapal pengungsi dan penyelundupan manusia.

Permasalahan yang tidak kalah pelik adalah kerusakan lingkungan yang diakibatkan. Lahan-lahan bekas tambang di Nauru memerlukan reklamasi besar-besaran. Nauru mulai menuntut negara-negara seperti Australia, Inggris, dan Selandia Baru untuk membayar ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang terjadi.  Sebenarnya tidak sepenuhnya pula dapat menyalahkan negara-negara tersebut karena setelah merdeka di tahun 1968, Pemerintah Nauru turut berperan besar dalam eksploitasi besar-besaran di Pulau Nauru.

Setelah eksploitasi phospat selama puluhan tahun, kini Nauru menuai dampaknya. Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan tidak secara bijak, tidak mempertimbangkan keberlanjutannya, tidak ramah lingkungan, menuai akibat yang mengenaskan. Kerusakan lingkungan yang parah memerlukan masa pemulihan yang sangat lama dan biaya yang sangat mahal. Reklamasi Nauru membutuhkan kepedulian yang tinggi.

Indonesia dapat berkaca dari pengalaman Nauru dalam mengelola pertambangan. Jangan sampai cerita Nauru berulang di Indonesia. Amit-amit. Indonesia harus bijak dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Harus tegas menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik. Sesuai dengan PP No. 78 tahun 2010, pertambangan yang baik harus menerapkan prinsip-prinsip reklamasi dan pasca tambang dari sisi lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi. Jika tidak bijak dan memberi kesempatan pada faktor keserakahan untuk menguasai, bukan mustahil masa depan kita pun akan sama dengan Nauru.

Untuk itulah, tepat rasanya jika dalam kondisi sekarang, masyarakat perlu mengenal lebih dekat tentang kegiatan tambang. Seperti apakah kegiatan pertambangan yang baik? Seperti apakah kegiatan pertambangan yang telah menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik? Inilah saatnya bagi PT. Newmont Nusa Tenggara untuk mengenalkan pengelolaan pertambangannya, mengenalkan proses reklamasi yang telah, sedang, dan akan dilakukannya. Salam. (Del)

Sumber:

  1. Republik of Nauru
  2. Advokat pengungsi sesalkan kesepakatan pemerintah Australia dengan Nauru
  3. Inilah Republik Terkecil di Dunia : Nauru
  4. Phosphate Mining in Nauru
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s