Kebutuhan VS Keserakahan di Kalimantan

Selalu teringat rangkaian kata yang dilontarkan oleh Mahatma Gandhi. “The earth provides enough to satisfy every person’s need but not every person’s greed. When we take more than we need, we are simply taking from each other, borrowing from the future, or destroying the environment and other species”. Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan setiap orang. Ketika kita mengambil lebih dari yang kita butuhkan, kita mengambilnya  dari yang lain, meminjam dari masa depan, atau merusak lingkungan dan spesies lainnya.

Image

Kawasan Hutan, WUP, WPN, dan WPR di Pulau Kalimantan.
Sumber Gambar : Kementerian ESDM

Tulisan ini masih tentang kegundahgulanaan akan Pulau Kalimantan. Mungkin akibat kerapnya kunjungan ke Kalimantan dalam dua bulan terakhir. Kalimantan cukup bahkan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia namun tidak untuk memenuhi keserakahan manusia. Kalimantan sangat kaya dengan potensi tambangnya. Menurut data dari Kementerian ESDM, potensi tambang di Kalimantan Timur mencapai 52.326,23 juta ton. Sungguh angka yang fantastis. Potensi batubara Kalimantan merupakan yang terbesar di Indonesia. Cadangan terbesar batubara berada di Kalimantan Timur, 3.166,8 juta ton. Terdapat 2.633 IUP (Ijin Usaha Pertambangan), 997 IUP sudah melakukan kegiatan produksi dan 1.636 masih melakukan kegiatan eksplorasi, penyelidikan umum dan studi kelayakan. Total luas semua IUP batubara 16.285.863 Ha atau sekitar 30% luas daratan Kalimantan. Tidak usah heran. Kalimantan memang kaya akan potensi pertambangan. Yang menjadi kunci adalah jangan sampai tergoda dengan keserakahan. Namun sayangnya, justru itu yang tengah terjadi. Ijin-ijin pertambangan sudah banyak dikeluarkan. Bahkan terdapat banyak tumpang tindih lokasi ijin pertambangan. Mirisnya, ada ijin pertambangan yang luasnya jika ditotal, melebihi luas kabupatennya.

Image

Indikasi Kerusakan Lahan Akibat Pertambangan di Provinsi Kalimantan Timur.
Sumber Gambar: Kementerian Lingkungan Hidup, 2010

Jika dilihat dari peta indikasi kerusakan lahan berdasarkan tutupan lahan di Provinsi Kalimantan Timur, kerusakan lahan sudah menyebar di Kalimantan Timur bagian selatan, terutama di Kabupaten Kutai Barat. Banyak sekali lahan yang semula berupa tutupan hutan alam menjadi kolong-kolong air, lahan terbuka, lubang-lubang besar menganga akibat kegiatan pertambangan. Kota Samarinda sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur pun tidak luput dari kegiatan eksploitasi. Bahkan ada anekdot yang beredar di Kalimantan Timur. Hanya di bawah rumah Walikota Banjarmasin saja yang belum ditambang. Miris.

Image

Indikasi Kerusakan Lahan Akibat Pertambangan di Provinsi Kalimantan Selatan.
Sumber Gambar : Kementerian Lingkungan Hidup, 2010

Tidak berbeda halnya dengan indikasi kerusakan lahan di Provinsi Kalimantan Selatan. Peningkatan kerusakan lahan mencapai 50 % dari 41.703 Ha pada tahun 2005 menjadi 62.522 Ha. pada tahun 2010 (Sumber data: KLH, 2010). Kerusakan menyebar di Provinsi Kalimantan Selatan, terluas di Kabupaten Tanah Laut. Bahkan untuk Kabupaten Tabalong, jika kita lihat dengan Google Earth saja, terlihat bahwa lahan bekas pertambangan di sana bahkan jauh lebih luas dari permukiman yang ada di sana.

Terasa sangat kontradiktif dengan kebijakan pembangunan yang seharusnya. Kebijakan pembangunan yang diterapkan seharusnya pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Maksudnya pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Intinya, diterima secara sosial (socially acceptable), menguntungkan secara ekonomi (economically viable), dan ramah lingkungan (environmentally sound).

Jangan sampai terwujud “The Resource Curse”, kutukan sumber daya alam. Paradoks bahwa negara yang kaya sumber daya alam yang tidak terbarukan (bahan tambang, minyak bumi) memiliki kecenderungan pertumbuhan ekonomi dan  pembangunannya lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara yang miskin sumber daya alam. Sudah banyak contohnya. Penyebabnya, pembangunan terlalu bertumpu pada pemanfaatan dan pengeksploitasian sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Terlena oleh kemudahan alam, hasil yang cepat, tanpa sadar bahwa sumber daya alam tidak terbarukan ada batasnya, ada habisnya. Terus mengeksploitasi sumber daya alam tidak terbarukan dan melupakan sektor-sektor lain. Sektor lain yang sebetulnya menjanjikan, tidak dikembangkan secara optimal dan kehilangan daya saing.

Harga komoditas tambang dan minyak sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga di pasar global sehingga pendapatan dari sektor ini sangat rentan terhadap pengaruh luar. Pengelolaan sumber daya yang salah, lemah, dan dikuasai oleh keserakahan sangat rentan menuju kehancuran.

Jangan sampai kita terlena dengan melimpahnya sumber daya alam yang ada di Kalimantan dan melupakan potensi lainnya yang sebenarnya jauh lebih menjanjikan. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s