Kalimantan, Akankah Menjadi Mantan Kali?

Terdapat 3 hal yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat di Pulau Kalimantan dan turut serta mempengaruhi identitas masyarakatnya, yaitu hutan, tanah, dan sungai. Berbicara tentang Kalimantan tidak dapat terlepas dari permasalahan terkait ketiga hal tersebut.

Beberapa kali kunjungan ke Pulau Kalimantan, perasaan miris, sedih, gundah dan gulana menyelisip di hati. Terbawa pulang dan tetap tinggal di benak. Susah untuk dilenyapkan dan sulit untuk dibiarkan terbawa arus sungai-sungai di Kalimantan. Perasaan tersebut cukup menggelitik, butuh perenungan.

kalimantan, mantan kali

Perubahan Hutan di Kalimantan dari Masa ke Masa.
Sumber Gambar : WWF

Dari data yang dilansir oleh WWF, hutan yang ada di Pulau Kalimantan, berkurang sangat signifikan untuk kurun waktu yang relatif singkat. Dalam jangka waktu kurang dari 30 tahun, tutupan hutan alam Kalimantan telah jauh berkurang. Lebih dari 50 % tutupan hutan alam berubah menjadi bukaan hutan. Tanah digali dan dieksploitasi. Terkadang pasca eksploitasi, lahan ditinggal tanpa proses reklamasi. Padahal peraturan terkait kegiatan pertambangan sudah sangat jelas mewajibkan tindakan reklamasi. Penegakan hukum seolah hanya angin lalu. Lubang-lubang menganga akibat kegiatan pertambangan sebagian dibiarkan saja. Padahal, berdasarkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara harus dilakukan reklamasi. Yang dimaksud dengan reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya. Pasca tambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

kerusakan akibat tambang

Kerusakan lahan akibat pertambangan.
Sumber Foto : Banjarmasin Post

Saat ini, ijin-ijin penambangan batubara yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan di Kalimantan begitu banyak dan begitu luas. Bahkan di beberapa kabupaten, tumpang tindih lokasi pemberian ijin penambangan batubara kerap terjadi. Terkadang jika ditotal akan melebihi luas kabupaten/kota nya sendiri. Akankah tipikal penambangan batu bara yang marak terjadi akan mengulang cerita lama tentang penebangan dan penjualan secara masif terhadap kayu-kayu yang berasal dari hutan-hutan kalimantan?  Jangan sampai.

Sungai-sungai di Kalimantan sangat terpengaruh, ikut tercemar. Dari warnanya yang coklat saja sudah cukup memberikan bukti. Kalimantan yang dulunya dipenuhi hutan lebat, saat ini menyisakan lubang-lubang menganga bekas kegiatan pertambangan. Penambangan batubara sebagai salah satu primadona kegiatan pertambangan di Pulau Kalimantan memiliki andil besar bagi kerusakan lingkungan Pulau Kalimantan. Dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya sungguh dahsyat. Hutan menjadi rusak dan hilang, sungai dapat saja menjadi kering dan tidak lagi dialiri air. Kekhawatiran datang menyergap. Pulau Kalimantan tidak lagi dikenal sebagai Kalimantan, bukan mustahil akan berubah menjadi Mantan Kali. Jangan sampai karena hutan dan alamnya rusak nama Kalimantan berubah menjdi Mantan Kali.

Jika tanpa penanganan segera akan muncul bencana yang lebih besar. Kerusakan lingkungan yang melanda Pulau Kalimantan menuju arah yang sangat memprihatinkan. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s