Resolusi 2014: Berfikir Positif

Image

Resolusi 2014.
Sumber gambar: http://thumbs.dreamstime.com

Jika ditanya, “Apa resolusimu untuk tahun depan?”. Terus terang, bingung. Tidak terbiasa dengan resolusi-resolusian. Biarkan hidup mengalir apa adanya.  Namun, bukan berarti tanpa upaya. Upaya, jelas perlu ada. Hanya tak perlu membuatnya menjadi terlalu ngotot. Jika gagal akan berujung pada kekecewaan. Lebih terbiasa dengan kilas balik. Introspeksi diri setahun ke belakang untuk bahan perenungan dan perbaikan di tahun depan. Mencoba menghitung berkat yang kita terima setahun terakhir dan selalu takjub. Ternyata tak terhitung berkat Tuhan yang telah kita terima sepanjang tahun. Tak ada alasan bagi kita untuk mengeluh atau berkeluh kesah. Yang harus kita lakukan adalah bersyukur. Atas limpahan berkat Tuhan yang senantiasa hadir menemani.

Pagi-pagi dapat pesan WA dari seorang teman. Isinya menarik. Berkisah tentang seorang eksekutif muda, lengkap dengan kemeja dan jas licinnya. Yang menjadi masalah, sang eksekutif muda tersebut ada di gerbong kereta ekonomi Jabodetabek (KRL) non AC. Terbayang sudah padat dan sumpeknya. Penumpang penuh berjejalan, berdempetan, berupaya untuk mendapatkan ruang lebih. Sekadar untuk berdiri, menyeimbangkan badan dengan sedikit lebih nyaman. Jangan ditanya baunya. Pasti mengalahkan parfum sang eksekutif muda. Tampilan eksekutif muda tersebut jelas berbeda dengan penumpang lainnya. Bulir-bulir keringat mengalir deras di dahi.

Dia mengeluarkan tablet android. Ukurannya cukup besar, lebih besar dari HP umumnya, sangat menyolok. Semua menoleh atau setidaknya melirik. Perhatian para penumpang sejenak beralih padanya. Dia seolah tak perduli dengan sekelilingnya, sibuk chat dengan seseorang. Mungkin kliennya atau rekan bisnisnya. Beberapa orang penumpang membatin.

Seorang pemuda tegap dengan pakaian lusuh, mungkin kuli panggul di Kota, membatin, “Kelakuan orang kaya baru. Baru punya hp kayak gitu aja udah pamer! Kalaupun saya punya hp semahal itu, saya tidak akan sombong seperti dia”. Di sebelahnya, seorang pemuda lainnya, pramuniaga sebuah pusat perbelanjaan turut komentar dalam hati, “Tuh orang ngapain sih naik kereta ekonomi? Kenapa gak naik yang AC aja? Mau pamer hp ya?”. Seorang Bapak dengan wajah letih penuh beban hidup, berkata dalam hati, “ Semoga anak saya tidak seperti dia, yang tidak perduli dengan penderitaan  orang lain, mau hidup berbela rasa dengan orang lain”.  Gadis SMA yang masih berseragam turut membatin, “Tuh orang norak amat sih? Belagu banget! Gak banget deh sama gayanya. Kenapa gak naik kereta AC aja kalau mau pakai baju kayak gitu?”. Mahasiswi universitas ternama membatin pula, ”Gue tau lo kaya, tapi plis deh, gak perlu pamer gitu juga kalee. Kalau udah lulus, gue juga bisa. Jijik juga ngeliat style lo, ill feel. Tapi perlu diakui, cakep juga sih…”.  Seorang pencopet yang larak-lirik cari mangsa, bukannya tidak melihat peluang, turut membatin, “ Nantang nih orang, bikin gatel tangan aja. Jelas-jelas sebuah penghinaan. Masa gue mesti nilep tuh barang terang-terangan? Pamer banget. Awas lo nanti!”.

Si eksekutif muda tersenyum. Ia segera menyimpan tabletnya di tas.  Pikirannya  melayang pada dana yang sebentar lagi akan dia raih, dia terima. Pikirannya tengah fokus pada dana. Dia pun membatin, “Syukurlah, akhirnya para donatur bersedia membantu semuanya. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali. Dana itu tentunya sangat berguna untuk orang-orang yang sedang terkena musibah kebanjiran”.

Lalu, ia sempatkan merogoh saku kemeja di balik jasnya yang kelimis. Tiket kereta ekonomi ada di dalamnya. Tadi dia sempat menukar tiket tersebut dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak tersebut. Dia tidak tega, biarlah nenek tua itu yang naik kereta AC. Pikirnya, “Toh saya masih muda. Sekali-kali, tidak ada salahnya jika turut merasakan naik kereta ekonomi”.

Ya, prasangka. Jangan biarkan prasangka buruk menyergap di kesan pertama. Tetaplah berupaya untuk berpikir positif. What you see is not what you think.  Yang terlihat belum tentu sama seperti yang terpikir.  Semoga cerita di atas dapat menjadi inspirasi dan menjadikannya sebagai salah satu resolusi 2014. Mari kita berpikir positif.  Selamat pagi. Selamat Tahun Baru 2014. Salam. (Del)

Advertisements

Bekantan Maskotnya Kota Tarakan

Image

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan.
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Mungkin ada sebagian orang yang tidak mengetahui bahwa maskot Dufan-Ancol adalah hewan bernama bekantan, monyet berhidung panjang yang hidup di belantara Kalimantan. Jika selama ini hanya melihat Bekantan sebagai maskotnya Dufan-Ancol, sungguhlah beruntung dapat melihat langsung bekantan di habitatnya. Kita tidak perlu menemui bekantan di belantara hutan Kalimantan, namun cukup berkunjung ke Kota Tarakan. Lebih tepatnya, di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Kota Tarakan merupakan sebuah pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki potensi wisata konservasi mangrove seluas 8,8 ha yang dipadukan dengan pengembangan satwa bekantan. Bekantan selain dikenal sebagai maskot Ancol, juga merupakan ikon pariwisata Kota Tarakan, sebuah kota yang memiliki visi menjadikan Tarakan sebagai Little Singapore.

Image

Menyusuri Mangrove di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Hutan mangrove di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Hutan mangrove di KKMB Kota Tarakan.
Sumber foto : dokumentasi pribadi

Memasuki Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) kita langsung disambut dengan atmosfir teduh, nyaman, sejuk, dan asri. Hiruk pikuk Kota Tarakan di luar area KKMB seakan sirna begitu kita memasuki area KKMB. Yang tersisa hanya ketenangan dan rasa takjub. Untunglah Kota Tarakan masih menyisakan kotanya untuk area perlindungan sekaligus wisata yang dapat sedikit menjadi paru-paru kotanya.

Kita seakan diantar untuk menyusuri area KKMB melalui jalur jalan yang terbuat dari kayu. Dapat menyusuri deretan dan rimbunnya mangrove yang ada. Kawasan wisata ini dapat menjadi tempat wisata edukatif. Belajar mengenali jenis-jenis mangrove yang ada. Beragam jenis mangrove hidup di lokasi, mulai dari yang memiliki berakar tunjang, akar nafas, maupun akar lutut. Dari mulai jenis api-api (avicennia spp ), pidada (sonneratia spp.), hingga kendeka (bruguiera spp.), serta beragam jenis mangrove lainnya.

Image

Salah seekor bekantan di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Kerjasama dengan Pertamina.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Petugas yang mengantar kami dengan lancar bercerita bahwa bekantan adalah hewan yang pemalu. Untuk itu, agar dapat melihat bekantan dari dekat, jangan sekali-kali mengeluarkan suara keras. Jika mendengar suara berisik, pasti bekantan akan pergi. Bekantan  hidup berkelompok dan terkadang sulit untuk menerima kedatangan bekantan dari kelompok lainnya. Itu pula yang menyebabkan sulit masuknya bekantan liar dari hutan lindung  ke KKMB.

Saat ini semakin banyak bekantan liar dari hutan lindung yang terletak tidak jauh dari permukiman warga yang mulai terdesak dan memasuki kawasan permukiman karena dipicu oleh perambahan hutan. Pihak KKMB kesulitan untuk memasukkan bekantan liar yang merambah permukiman tersebut untuk dilepas di KKMB karena ada resiko bekantan baru akan menerima penolakan dari kelompok bekantan yang telah lama tinggal di KKMB. Masuknya bekantan liar ke kawasan permukiman sangat wajar terjadi jika mereka merasa bahwa tempat tinggalnya mulai terganggu.  Yang perlu dilakukan, hentikan perambahan dan pengrusakan hutan serta kegiatan yang mengancam kelangsungan habitat bekantan.  Menurut petugas, saat ini bekantan di KKMB berkisar 32 ekor saja. Bekantan mulai terancam punah.

Image

Kepiting kecil warna biru di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Image

Kepiting kecil warna merah di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Image

Salamander di KKMB Kota Tarakan.
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Selain bekantan, ada keunikan lain yang dapat kita temui di area KKMB, yaitu kepiting kecil warna-warni. Kepiting kecil berwarna biru, merah, oranye banyak ditemui di antara mangrove yang ada. Ukurannya sangat kecil, kira-kira hanya selebar 1,5-2 cm saja. Warnanya yang mencolok sangat kontras dengan tempat tinggalnya. Masih ada pula hewan-hewan lainnya seperti kadal, salamander, tupai yang hidup bebas berkeliaran di sana.

Syukurlah, ternyata Kota Tarakan masih peduli pada pentingnya upaya perlindungan terhadap lingkungan dan habitat mangrove maupun bekantan yang ada. Dalam rencana penataan ruangnya tertuang kebijakan mengkonservasi dan memproteksi kawasan hutan lindung, hutan kota, dan hutan mangrove di Kecamatan Tarakan Utara untuk fungsi ekologis dan biologis dengan menetapkan hutan lindung di Kecamatan Tarakan Utara Kelurahan Juata Laut, Juata Kerikil, dan kawasan konservasi alam. Kota Tarakan akan melakukan upaya untuk mengembalikan fungsi kawasan lindung yang telah terganggu oleh kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan lingkungan. Semoga KKMB tetap bertahan demi hijaunya dan asrinya kota. (Del)

Tanjung Selor Lebih Lebar dari Daun Kelor

Image

Pelabuhan di Tanjung Selor.
Sumber Foto: http://www.bulungan.go.id/v02/images/FotoSlide/rotator01.jpg

Provinsi Kalimantan Utara resmi terbentuk dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 20 tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara dilakukan dengan pertimbangan luasnya wilayah Provinsi Kalimantan Timur dan belum tersentuhnya pembangunan di wilayah utara Provinsi Kalimantan Timur, terutama di kawasan perbatasan dan pedalaman. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara dipandang dapat menjadi solusi dalam rangka mengoptimalkan pelayanan publik karena dapat memperpendek rentang kendali (span of control) pemerintahan. Diharapkan, pemerintahan dapat berjalan lebih efektif dan efisien sejalan dengan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing daerah, dan memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah perbatasan dengan negara lain/tetangga. Semoga Provinsi Kalimantan Utara terbentuk bukan karena ego sebagian kecil elit daerah.

Secara geografis, Provinsi Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu Negara Bagian Sabah di sebelah Utara dan Negara Bagian Sarawak di sebelah Barat. Wilayah ini juga berada di jalur pelayaran Nasional dan Internasional (Alur Laut Kepulauan Indonesia/Archipelagic Sealand Passage) dan merupakan pintu keluar/outlet ke Asia Pasific. Secara geostrategis, Provinsi Kalimantan Utara berada pada posisi strategis sehingga diharapkan dapat mengembangkan kekuatan nasional dalam meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat terutama di daerah perbatasan dan pedalaman.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara, wilayah Provinsi Kalimantan Utara meliputi Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung. Tanjung Selor akhirnya ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Utara. Tanjung Selor awalnya merupakan sebuah kota kecamatan yang juga merupakan ibukota Kabupatan Bulungan. Memiliki luas 1.277 km2, dengan penduduk hanya  37.539 orang. Kepadatan penduduknya hanya +29 orang per km2. Bandingkan dengan Kota Jakarta yang merupakan ibukota Negara yang memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi. Satu kecamatan di DKI Jakarta saja, misal Kecamatan Pasar Minggu, memiliki jumlah penduduk 287.761 jiwa dengan kepadatan 13.346 jiwa/km2 (jakarta.bps.go.id, 2013). Sangat jauh dengan Tanjung Selor yang hanya memiliki kepadatan 29 jiwa/km2.

Image

Deretan Perahu di Pelabuhan Tanjung Selor.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Bongkar muat barang di pelabuhan Tarakan untuk menuju Tanjung Selor
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Welcome to Tanjung Selor
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Tanjung Selor, sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini masih sepi, namun geliat pembangunan di sana mulai terasa. Sejak ditetapkannya sebagai Provinsi ke-34, para investor maupun spekulan tanah mulai masuk ke sana.  Ketika kebetulan berkesempatan untuk berkunjung di sana, rona pembangunan terlihat dan terasa di berbagai sudut kota. Hotel-hotel dengan beragam bintang mulai dibangun, pusat-pusat perbelanjaan mulai bermunculan. Toko-toko bahan bangunan bertebaran, harga tanah di sana melonjat berlipat-lipat kali. Anehnya semua laku dan terbeli. Tinggal lah warga asli sana yang mulai mengeluhkan harga-harga yang melonjak tinggi. Umumnya para pendatang berasal dari wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

Tanjung Selor memang masih jauh tertinggal dari Kota Tarakan yang merupakan salah satu Kota Administratif yang sekarang ada di bawah pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara. Kota Tarakan sudah lebih dahulu dikenal dan jauh lebih ramai. Kota Tarakan sudah lebih dahulu dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan. Namun, Kota Tarakan memiliki keterbatasan perkembangan karena hanya merupakan Kota Pulau dengan keterbatasan lahan. Walau dengan rekayasa teknologi sekalipun, misal dengan reklamasi, memiliki keterbatasan pengembangan.

Image

Deretan mangrove di sepanjang perjalanan menuju Tanjung Selor
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Deretan mangrove di sepanjang perjalanan menuju Tanjung Selor
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Image

Deretan mangrove di sepanjang perjalanan menuju Tanjung Selor
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Berbeda halnya dengan Tanjung Selor sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Utara. Tanjung Selor berada di Pulau Kalimantan, pulau utama. Lahannya masih luas, masih sangat memungkinkan untuk pengembangan. Walau tetap patut diingat, pemanfaatan lahan yang ada harus sesuai dengan peruntukannya. Tetap harus diingat, terdapat kawasan-kawasan yang merupakan kawasan lindung, kawasan yang harus dilindungi. Pembangunan masih memungkinkan tapi seharusnya hanya dilakukan pada kawasan-kawasan budidaya saja.

Dengan terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara, orientasi wilayah akan berubah. Perlu reorientasi pusat kegiatan di Tanjung Selor misal dengan dibantu Tarakan sebagai pusat jasa dan perdagangannya. Jika sebelumnya orientasi wilayah-wilayah yang sekarang masuk dalam wilayah Provinsi Kaltara terarah pada Kota Samarinda atau Kota Balikpapan, diharapkan akan beralih ke Tanjung Selor. Tentunya akan memerlukan perencanaan jaringan sarana dan prasarana yang dapat mendukung fungsi ibukota Tanjung Selor. Perlu dirumuskan kembali dan disepakati bersama strategi pengembangan Kota Tanjung Selor. Pengembangan Tanjung Selor harus mempertimbangkan dan memperhatikan keterkaitannya dengan Kabupaten/Kota yang ada dalam lingkup Provinsi Kaltara. Memperhatikan konektivitas antara Tanjung Selor dengan Tarakan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung.

Isu strategis yang muncul di sana terkait penanganan perbatasan. Keterbatasan sarana dan prasarana utama sehingga masih tergantung pada negara tetangga perlu dicarikan solusinya. Perlu pengeroyokan penanganan. Diharapkan, dengan terbentuknya Kaltara, penanganan dapat lebih fokus.

Tanjung selor memiliki luas 1.277 km2, dua kali lebih besar dari DKI Jakarta yang hanya memiliki luas 661,52 km² . Sangat memungkinkan dibangun bandara dengan skala yang lebih tinggi untuk mempermudah akses menuju Tanjung Selor. Saat ini, untuk mencapai Tanjung Selor dapat melalui pesawat dari Balikpapan menuju Tarakan lalu berlanjut dengan penyeberangan very menuju Tanjung Selor.  Sudah ada bandara di Tanjung Selor, namun hanya dapat didarati pesawat kecil. Tanjung Selor memiliki luas wilayah yang lebih lebar dari daun kelor. Masih sangat terbuka peluang pembangunan di sana. Asal arah pembangunannya jelas dan tetap bijak. Berkacalah dari pengalaman berbagai wilayah pemekaran lainnya. Jangan sampai alasan politis lebih kuat dibandingkan dengan alasan kebutuhan daerah. Dampak pemekaran wilayah harus dirasakan positif untuk masyarakat setempat. Daerah pemekaran harus menjadi lebih kuat secara ekonomi dan pelayanan publik. Salam. (Del)

Belajar Pertambangan dari Nauru

Baru-baru ini  tersiar kabar bahwa Menteri Luar Negeri Australia, Julia Bishop, menggambarkan kondisi pusat pemrosesan imigrasi di Nauru sebagai tempat yang lebih baik dari kamp para pekerja tambang yang ada di Australia (19/12/2013). Bishop melontarkan pernyataan tersebut untuk menanggapi laporan UNHCR yang prihatin atas kondisi pusat pemrosesan pencari suaka di Nauru serta menilai fasilitas yang disediakan tidak pantas ditempati oleh sekitar 700 pencari suaka dan anak-anaknya. Nauru kembali menjadi sorotan. Pernyataan Bishop  memancing pro dan kontra.  Pihak yang kontra mengatakan bahwa kondisi para pencari suaka di Nauru tidak dapat dibandingkan dengan kondisi kamp para pekerja tambang di Australia. Para pekerja tambang sebagian besar laki-laki dewasa  dengan ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan para pencari suaka di Nauru yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Para pekerja tambang masih memiliki harapan dengan penghasilan yang jauh lebih besar sedangkan para pencari suaka hanya menunggu pembagian makanan. Nauru sendiri saat ini tengah kewalahan dengan permasalahan tingginya tingkat pengangguran dan terbujuk oleh Australia dengan iming-iming bantuan hampir $30 juta  di tahun 2013-2014 jika negaranya menerima para pencari suaka. Para pencari suaka memang selalu mengundang permasalahan tersendiri.

Terlepas dari kondisi Nauru sekarang yang menjadi tempat bagi para pencari suaka, Nauru memiliki cerita tentang kisah pertambangan. Kisah manis dan getirnya sebuah kegiatan pertambangan. Mari kita telusuri kisah pertambangan di Nauru. Berkaca dari pengalaman Nauru tentang pengelolaan pertambangan yang tidak bijak dan akibat yang harus diembannya.

Image

Peta Pulau Nauru
Sumber Gambar : Kementerian ESDM, 2013

Nauru merupakan sebuah pemerintahan republik terkecil di dunia. Dikenal dengan sebutan Pleasant Island (pulau yang menyenangkan). Dulunya, Pulau Nauru memang pulau yang indah dan menyenangkan.  Terletak tidak jauh dari garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis dan dihuni sekitar 9.500 jiwa. Umumnya tinggal di pesisir. Nauru merupakan pulau kecil dengan luas hanya 21 km2. Begitu kecilnya Pulau Nauru sehingga hanya diperlukan waktu setengah jam saja dengan berkendara roda empat untuk mengelilingi Pulau Nauru. Terletak 3.890 km sebelah timur Australia. Nauru terkenal dengan sumber daya phospatnya yang luar biasa, yang telah ditambang oleh gabungan perusahaan asing.

Dengan Phospatnya yang melimpah, sepanjang awal abad ke 20, Nauru menjadi eksportir utama phospat sejak 1907, dan terus berlanjut hingga setelah kemerdekaan Nauru pada 31 Januari 1968.

Nauru pernah tercatat sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Di masa keemasan pertambangan di tahun 1980-an, pendapatan perkapitanya pernah mencapai US$ 17.000. Sebagai perbandingan, Indonesia memiliki pendapatan perkapita US$ 3.596,27 di tahun 2012. (CEIC, 2013).  Saat itu, penduduk Nauru berubah seketika menjadi warga negara yang sangat kaya. Tidak ada warga miskin. Negara mensubsidi kehidupan seluruh warganya. Lebih dari 80 % angkatan kerjanya diangkat sebagai pegawai negeri. Saking kayanya Nauru, warga hidup bergelimang kemewahan tanpa perlu kerja keras. Penduduk Nauru menjadi malas, pekerja didatangkan dari Australia, Cina, Kiribati, Tuvalu, dan negara lainnya.

Limpahan phospat dan harta yang dihasilkan membuat Nauru terlupa, terlena. Eksploitasi phospat tidak terkendali. Keserakahan meraja lela.  Phospat yang merupakan satu-satunya sumber sandaran hidup Nauru dieksploitasi habis-habisan tanpa memikirkan masa depan. Tidak menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Cadangan phospat menipis dengan drastis. Ekspor phospat menurun dari tidak kurang 2 juta ton pertahun ke Australia dan Selandia Baru, menjadi hanya 33.000 ton di tahun 2001. Pendapatan perkapitanya menjadi hanya tinggal US$ 3.000.

Tahun 2006 menjadi tahun yang paling berat bagi Nauru. Angin berubah setelah mulai habisnya phospat. Perusahaan pertambangan besar tutup karena phospat habis. Nauru bangkrut dengan meninggalkan hutang besar. Tidak sanggup membayar hutang. Sejak Desember 2005 hingga September 2006, Nauru menjadi negara yang terisolasi dari dunia luar. Air Nauru yang merupakan satu-satunya maskapai penerbangan, berhenti beroperasi. Nauru praktis hanya menggantungkan transportasi ke luar dengan kapal laut.

Di tengah kondisi yang serba sulit, Pemerintah Nauru menawarkan diri kepada Autralia. Pada tahun 2001, Nauru menjalin persetujuan dengan Australia untuk membangun sebuah pusat detensi untuk memproses para pencari suaka. Pusat detensi tersebut sempat ditutup tahun 2007 sebelum kembali dibuka tahun 2012 karena kebijakan baru yang keras untuk mencegah kedatangan kapal pengungsi dan penyelundupan manusia.

Permasalahan yang tidak kalah pelik adalah kerusakan lingkungan yang diakibatkan. Lahan-lahan bekas tambang di Nauru memerlukan reklamasi besar-besaran. Nauru mulai menuntut negara-negara seperti Australia, Inggris, dan Selandia Baru untuk membayar ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang terjadi.  Sebenarnya tidak sepenuhnya pula dapat menyalahkan negara-negara tersebut karena setelah merdeka di tahun 1968, Pemerintah Nauru turut berperan besar dalam eksploitasi besar-besaran di Pulau Nauru.

Setelah eksploitasi phospat selama puluhan tahun, kini Nauru menuai dampaknya. Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan tidak secara bijak, tidak mempertimbangkan keberlanjutannya, tidak ramah lingkungan, menuai akibat yang mengenaskan. Kerusakan lingkungan yang parah memerlukan masa pemulihan yang sangat lama dan biaya yang sangat mahal. Reklamasi Nauru membutuhkan kepedulian yang tinggi.

Indonesia dapat berkaca dari pengalaman Nauru dalam mengelola pertambangan. Jangan sampai cerita Nauru berulang di Indonesia. Amit-amit. Indonesia harus bijak dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Harus tegas menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik. Sesuai dengan PP No. 78 tahun 2010, pertambangan yang baik harus menerapkan prinsip-prinsip reklamasi dan pasca tambang dari sisi lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi. Jika tidak bijak dan memberi kesempatan pada faktor keserakahan untuk menguasai, bukan mustahil masa depan kita pun akan sama dengan Nauru.

Untuk itulah, tepat rasanya jika dalam kondisi sekarang, masyarakat perlu mengenal lebih dekat tentang kegiatan tambang. Seperti apakah kegiatan pertambangan yang baik? Seperti apakah kegiatan pertambangan yang telah menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik? Inilah saatnya bagi PT. Newmont Nusa Tenggara untuk mengenalkan pengelolaan pertambangannya, mengenalkan proses reklamasi yang telah, sedang, dan akan dilakukannya. Salam. (Del)

Sumber:

  1. Republik of Nauru
  2. Advokat pengungsi sesalkan kesepakatan pemerintah Australia dengan Nauru
  3. Inilah Republik Terkecil di Dunia : Nauru
  4. Phosphate Mining in Nauru

Tambang Bukan Kegiatan Haram

Image

Tambang PT. Newmont Nusa Tenggara.

Satu hal yang perlu ditekankan. Kegiatan tambang bukanlah kegiatan haram. Kegiatan tambang dapat menguntungkan dengan syarat dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dengan penuh tanggung jawab. Yang tidak kalah penting, harus dilakukan dengan nurani. Jika faktor keserakahan sudah menguasai, maka kerusakan lingkunganlah yang menjadi taruhannya. Sudah banyak contohnya. Ketika keserakahan mulai menyergap, tak urung lingkungan yang menjadi korban. Taruhannya terlalu besar. Resikonya terlalu riskan.

Sebenarnya kalau dilihat dari perangkat peraturannya, setidaknya Indonesia telah memiliki UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Ada pula PP No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang. Yang diperlukan hanyalah ketegasan dan penegakan hukum (law enforcement). Jika penegakan aturannya masih setengah, dalam arti setengah iya dan setengah tidak, janganlah berikan ijin tambang atau jangan perpanjang ijin yang sudah terlanjur diterbitkan, bahkan dapat saja cabut ijin yang ada. Terdengar sangat tegas. Tapi itulah yang harus dilakukan. Aturan tersebut masih perlu dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah pendukungnya, misal terkait dengan kriteria kerusakan lingkungan dan penegakan hukum. Jika penegakan hukum masih dianggap angin lalu, sebaiknya tidak usah.

Kita tidak dapat menghakimi dengan cepat bahwa seluruh kegiatan pertambangan yang ada di Indonesia buruk. Masih ada kegiatan pertambangan yang menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik, namun masih jauh lebih banyak lagi yang tidak menerapkannya dengan baik, terutama pada tahap reklamasi maupun pasca tambang. Semoga PT Newmont Nusa Tenggara termasuk ke dalam kategori yang menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik. Mungkin itu pula yang hendak dibuktikan oleh PT. Newmont Nusa Tengggara dengan mengadakan “Sustainable Mining Bootcamp”. PT. Newmont Nusa Tenggara telah menuai pujian dari Menteri Lingkungan Hidup Prof. DR Ir. Gusti Muhammad Hatta, MS. Pola reklamasi PT. Newmont Nusa Tenggara konon termasuk salah satu yang layak mendapatkan pujian. Saya tertarik untuk ikut mengenalnya lebih dekat. Untuk tahu lebih dalam lagi tentang proses reklamasi yang telah dilakukan.

Sesuai dengan PP No. 78 tahun 2010, pertambangan yang baik harus menerapkan prinsip-prinsip reklamasi dan pasca tambang dari sisi lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi. Untuk kegiatan pertambangan yang masih belum melakukan prinsip-prinsip pertambangan yang baik, perlu dilakukan perbaikan pengelolaan, pembinaan, dan penegakan hukum. Perencanaan peruntukan lahan pasca tambang harus memperhatikan tata ruang yang ada. Peruntukan lahan pasca tambang harus dikembalikan sesuai dengan peruntukan pascatambang.

Biasanya, masalah utama yang kerap muncul pasca kegiatan pertambangan adalah masalah perubahan lingkungan, masalah perubahan bentang alam. Perubahan besar yang terlihat secara kasat mata adalah perubahan morfologi dan topografi lahan, serta penurunan produktivitas tanah. Secara lebih rinci, terdapat pula perubahan atau gangguan yang terjadi pada flora dan fauna yang ada di lahan bekas tambang tersebut. Untuk itulah diperlukan proses reklamasi. Sesuai dengan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,  yang dimaksud dengan reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya. Pasca tambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

Bentuk bentang alam wilayah bekas tambang biasanya tidak teratur, menimbulkan lubang-lubang terjal.   Dibutuhkan reklamasi untuk mencegah erosi serta mengurangi kecepatan aliran air permukaan. Untuk lahan yang cukup terjal dapat diupayakan pembentukan teras-teras yang disesuaikan dengan kemiringan yang ada. Jika masih dapat dilakukan, lahan dapat diselamatkan dengan melakukan penanaman kembali agar lahan tidak labil dan dapat produktif kembali. Paling tidak dapat mengembalikan lahan pada kondisi atau keadaan sebelumnya.

Yang patut disadari pula, tidak semua lahan bekas tambang dapat dilakukan reklamasi maupun pasca tambang. Dalam kondisi tertentu, areal bekas tambang meninggalkan lubang yang tidak dapat ditutup sepenuhnya karena alasan teknis. Skala pertambangan semakin besar, dengan dukungan mekanisasi peralatan pertambangan yang makin mumpuni. Ekstraksi bijih kadar rendah dapat diubah menjadi lebih bernilai ekonomi. Galian  menjadi semakin dalam, jauh di bawah permukaan. Kondisi ini yang membuat semakin sulitnya proses reklamasi. Pencemaran air permukaan maupun air tanah bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi.

Kriteria status clean and clear  yang dikenal dalam dunia pertambangan baru sebatas asal tidak tumpang tindih dan melaksanakan kewajiban lingkungan, namun belum mencakup verifikasi kondisi lapangan. Hambatan lain dalam mengawasi kegiatan pertambangan adalah jumlah inspektur tambang yang masih minim. Inspektur yang ada tidak dapat mengawasi seluruh kegiatan pertambangan yang ada, yang jumlahnya ribuan.

Tambang bukan kegiatan haram. Yang diperlukan adalah pengelolaan secara bijak. Selalu teringat rangkaian kata yang dilontarkan oleh Mahatma Gandhi. “The earth provides enough to satisfy every person’s need but not every person’s greed. When we take more than we need, we are simply taking from each other, borrowing from the future, or destroying the environment and other species”. Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan setiap orang. Ketika kita mengambil lebih dari yang kita butuhkan, kita mengambilnya  dari yang lain, meminjam dari masa depan, atau merusak lingkungan dan spesies lainnya. Salam. (Del)

Sumber Gambar: tempo.co

Kabar Natal Bagi yang Tersisihkan

Image

Suasana dan aroma Natal mulai terasa sejak Bulan November. Bahkan di gereja-gereja, persiapan menjelang Natal sudah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Hiruk pikuk Natal juga begitu kental terasa di pusat-pusat perbelanjaan. Semua seakan berlomba untuk menghadirkan suasana Natal dengan kondisi kekiniannya. Dalam wujud yang tidak sepenuhnya tepat.

Tengoklah pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Memasuki Bulan November adalah saatnya untuk mulai mewujudnyatakan kemeriahan Natal yang dikemas dalam balutan bisnis. Pusat-pusat perbelanjaan sibuk menghias diri dan tak lupa mengumandangkan lagu-lagu Natal, seakan mereka adalah pusat perayaan Natal.

Indahnya beragam bentuk pohon Natal, pernak-pernik lucu dan menggemaskan, hiasan yang serba gemerlap, lampu-lampu Natal yang berkerlip warna-warni, sinterklas yang membagikan hadiah Natal (walau sebenarnya ibunya yang membayar), serta tawaran diskon Natal, seolah menyempurnakan. Semua seakan ingin mengungkapkan Natal yang “serba meriah, serba indah, dan serba gemerlap”. Padahal tidak demikian halnya bagi sebagian orang.

Mungkin bagi sebagian orang, Natal kali ini sedang kelabu. Tidak dapat dilalui dalam kegembiraan karena tidak dapat berkumpul dengan keluarga. Atau tengah dalam kondisi tergolek lemah karena sakit. Atau dalam kondisi kedukaan ditinggal orang terkasih. Atau tengah mengalami kemelut, mengalami permasalahan rumit. Atau tengah menghadapi pergumulan berat. Atau merasa terpinggirkan, merasa tersisihkan.

Negeri kita juga tengah mengalami pergumulan. Tengah diuji dengan berbagai badai. Tengah sakit karena ulah sebagian orang. Tengah menanti raja Damai sesuai dengan tema Natal tahun 2013, yaitu “Datanglah, Ya Raja Damai”. Perayaan natal kali ini diliputi suasana keprihatinan karena beberapa kondisi yang terjadi. Di tengah harapan datangnya pembawa damai dan penegak keadilan. Keprihatinan pada integritas para pemimpin bangsa yang kian rendah. Komitmen pada kepentingan rakyat yang terus tergerus oleh kepentingan kekuasaan. Natal juga memiliki makna bagi orang-orang yang terpinggirkan, tersisihkan. Makna solidaritas bagi sesama yang tengah bergumul dengan berbagai kemelut dalam hidupnya. Tengah menanti raja Damai

Natal telah tiba. Masih terngiang pesan pada kebaktian menjelang Natal semalam. Kabar kelahiran Yesus diberitakan kepada para gembala, orang-orang yang kala itu dianggap terpinggirkan dan tersisihkan. Dianggap tidak memiliki makna penting dalam kehidupan.  Namun tidak demikian halnya bagi Allah. Allah juga berkehendak untuk menjadikan para gembala bagian penting dalam peristiwa besar, peristiwa hadirnya Yesus ke dalam dunia. Intinya, Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang yang dianggap oleh kebanyakan tidak memiliki peran dan makna penting dalam kehidupan sehari-hari. Allah justru menempatkan mereka sebagai bagian dari peristiwa kelahiran Kristus.

Untuk itu, hendaknya kita tidak berkecil hati dengan peran dan kapasitas kita masing-masing. Tuhan telah memberikan peran yang tidak kalah penting. Kita tidak perlu menunggu menjadi matahari untuk berbuat sesuatu bagi sesama dan bagi negeri. Cukuplah menjadi lilin yang dengan cahaya kecilnya mampu memberikan terang bagi kegelapan di sekitarnya.

Hari ini telah lahir bagi kita, Juru Selamat. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Selamat hari Natal bagi yang merayakan. Damai di bumi, damai di hati. Salam. (Del)

Sumber Gambar: liputan bisnis

Pulau Kumala, Terpuruk Kalau Kurang Mahir Kelola

Indonesia harus diakui merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam dan potensi wisata. Indonesia memiliki sejuta potensi yang dapat “dijual”. Terkadang rasa iri menyelinap di hati ketika berkunjung ke negara lain. Destinasi wisata yang secuil pun dapat dikelola dan laku sebagai objek wisata. Objek wisata yang “tidak ada apa-apanya” dibandingkan dengan yang dipunya Indonesia, dapat dikemas, dipercantik, dipromosikan, dan dikelola dengan sangat baik. Sangat disayangkan, Indonesia yang memiliki potensi yang jauh lebih besar dan banyak, namun tidak dapat mengemas, mempercantik, dan mengelolanya dengan baik.

Gambar

Tempat Penyeberangan ke Pulau Kumala.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Gerbang Masuk Pulau Kumala.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Selamat Datang Odah Rekreasi Kumala Fantasy Island.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Itu pula yang dirasakan ketika berkesempatan melakukan kunjungan ke Pulau Kumala di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Sebenarnya yang dimaksud Pulau Kumala bukanlah Pulau yang sesungguhnya. Pulau Kumala merupakan delta yang terletak di tengah Sungai Mahakam, di sebelah Barat Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Tenggarong berjarak sekitar 27 km dari Kota Samarinda dan dapat ditempuh melalui jalan darat atau dengan menyeberang menggunakan kapal very. Jika dari Balikpapan, dapat ditempuh dengan perjalanan darat 3-4 jam. Untuk mencapai Pulau Kumala, ada beberapa perahu tertambat yang akan mengantarkan kita di Pulau Kumala. Cukup murah, hanya perlu merogoh kocek Rp. 6.000,- saja per orang.

Sebelum peristiwa runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara tanggal 26 November 2011, dapat pula dicapai dengan melintas jembatan. Sayang jembatan tersebut hingga sekarang masih dalam taraf perbaikan. Yang tersisa hanya kedua bagian ujungnya saja.

Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang kaya akan sumber daya alam terutama sektor pertambangan. Bahkan merupakan Kabupaten yang memiliki PDRB terbesar di Provinsi Kalimantan Timur. Berdasarkan data BPS (2010), sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 83,84% PDRB Kutai Kartanegara. Sangat mendominasi. Bagaimanapun, sektor pertambangan ada batasnya.

Terlepas dari kasus Bandara yang menjerat dan menjebloskannya ke Hotel Prodeo, Bupati Kutai Kartanegara waktu itu, Syaukani HR. memiliki visi dan misi yang lumayan bagus. Beliau berkeinginan untuk mengembangkan potensi sektor lainnya selain pertambangan, di antaranya pariwisata. Beliau ingin mengembangkan sebuah kawasan wisata terpadu di Pulau Kumala. Syaukani memiliki angan untuk menjadikan Pulau Kumala seperti dunia fantasi Ancol. Bedanya, jika Dunia Fantasi berada di tepi pantai, Pulau Kumala memiliki keistimewaan berada di tengah Sungai Mahakam.

Gambar

Kolam renang di Pulau Kumala, melengkapi cottage yang ada. Sayang tidak terawat dengan baik
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Gambar

Cottage yang ada di Pulau Kumala, berupa rumah adat.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Prasarana yang tidak terawat, terbengkalai.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Awalnya, Pulau Kumala berupa lahan tidur dan semak belukar yang dibangun menjadi kawasan wisata di tahun 2000. Dulunya pulau kosong yang selalu tenggelam kala Sungai Mahakam meluap naik. Akhirnya dilakukan reklamasi hingga memiliki luas 81 Ha. dan dijadikan taman rekreasi yang memadukan wisata modern  tanpa meninggalkan unsur budaya tradisional. Saat ini, di area wisata Pulau Kumala, masih terlihat jejak-jejaknya. Sebagian areanya dilengkapi dengan beragam wahana wisata modern seperti  sky tower untuk menikmati keindahan alam dari udara, jalur rel kereta api mini, kereta gantung yang melintasi sungai mahakam, dan berbagai wahana lainnya. Tak ketinggalan di area wisata ini juga dibangun Resort lengkap dengan fasilitas kolam renang dan cottage-cottage untuk beristirahat. Bangunan cottage masih kental dengan bentuk tradisional. Berupa lamin mancong (rumah panjang, rumah adat Suku Dayak), lamin beyog, lamin wahau, dan lainnya. Sayang seribu sayang, kondisinya sekarang jauh dari kata terawat. Menyedihkan.

Gambar

Patung Lembuswana, gagah menjaga pulau.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Patung Lembuswana.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Tangga masuk menuju Pura di Pulau Kumala.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Patung lembu swana di area pura.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Patung lembuswana : tidak akan menggigit

Gambar

Detil pahatan lembu penghangat.
Sumber Foto : dokumentasi pribadi

Gambar

Detil pahatan di Pura yang ada di Pulau Kumala.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Terdapat pula patung lembuswana yang berdiri gagah seolah menjaga Pulau Kumala. Lembuswana merupakan simbol Kerajaan Kutai Kartanegara, penguasa Sungai Mahakam. Bentuknya aneh. Memiliki belalai tapi bukan gajah karena tidak memiliki telinga yang lebar. Bertaring seperti harimau dan bertaji seperti ayam. Patung lembuswana berwarna keemasan. Leluhur warga Kutai Kartanegara percaya bahwa Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman yang bertahta sebagai Raja Kutai sekitar 1.500 tahun yang lalu. Terlihat pula pura yang memiliki pahatan seperti layaknya di  Bali.

Pulau Kumala sekarang sangat sepi pengunjung, bak kawasan yang terlupakan. Wahana-wahana yang telah terbangun terbengkalai. Mobil-mobil yang biasanya digunakan pengunjung untuk berkeliling kawasan hanya tersisa satu. Padahal dulu tak kurang 10 mobil yang beroperasi. Sky Tower yang dibuat dengan dana yang tidak sedikit, tidak lagi beroperasi. Alat-alatnya pun mengalami kerusakan. Arena permainan Go-car dan miniatur  Formula One sudah tidak difungsikan. Tidak ada petugas yang berjaga di sana. Karena lama tidak difungsikan, mobil-mobilnya menjadi rusak. Menurut petugas di sana, para karyawan sebagian besar sudah tidak dipekerjakan lagi. Pihak pengelola tidak mampu membayar gaji para karyawan. Saat ini, pengelolaan Pulau Kumala kembali berada di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara setelah sebelumnya berada di tangan El-John.

Gambar

Patung putri menaiki lembuswana.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Patung naga yang tengah direnovasi dan dicat ulang

Gambar

Seorang pekerja tengah mengecat patung ular naga.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Secercah harapan menyeruak muncul ke permukaan. Asa kembali terbentuk. Bupati Kutai Kartanegara saat ini, Bu Rita Widyasari yang merupakan putri dari Bupati terdahulu, Syaukani HR., tengah berupaya untuk menghidupkan kembali kawasan wisata Pulau Kumala. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tengah kembali berbenah, memperbaiki berbagai fasilitas yang ada di Pulau Kumala. Rencananya akan dibangun pula prasarana infrastruktur pendukungnya, antara lain berupa pembangunan jembatan Pulau Kumala dengan lebar 2,5 meter dan panjang kurang lebih 300 meter. Dilakukan penambahan 2 unit kapal yang nantinya digunakan pengunjung untuk berkeliling menikmati pemandangan Sungai Mahakam di sekitar Pulau Kumala. Akan dibangun arena waterboom. Di tahun yang akan datang, pengelolaan Pulau Kumala akan diserahkan ke pihak swasta melalui proses lelang. Proses lelang akan dilakukan setelah pembenahan selesai. Terlihat pembenahan tengah dilakukan, seperti pembersihan lahan dan pengecatan berbagai objek/wahana. Tersiar pula kabar dari karyawan di Pulau Kumala bahwa di tahun depan Pulau Kumala akan dikelola oleh Ancol. Jika mau diserahkan ke Ancol, mengapa harus menggelontorkan dana hingga Rp. 40 miliar untuk pembangunan waterboom  dari dana APBD Kabupaten? Semoga Pulau Kumala bukanlah kepanjangan dari terPUruk KaLAU KUrang MAhir KeloLA. Salam. (Del)