Haruskah Mall Menjadi Ciri Perkembangan Kota di Indonesia?

Cobalah sejenak memperhatikan kota-kota yang ada di Indonesia. Kota-kota di Indonesia berlomba untuk membangun mall. Seakan jika tidak ada mall, maka kota tersebut ketinggalan jaman, tidak ikut perkembangan modern. Tidak ada mall berarti kota tersebut belum modern. Benarkah?

Kota Jakarta dinilai sebagai kota metropolitan dengan jumlah mall yang konon terbanyak di dunia. Lebih dari 130 mall berjejalan di Jakarta. Bahkan dalam satu ruas jalan bisa terdapat lebih dari 2 Mall besar. Pertumbuhan mall selama ini tumbuh di luar kendali. Banyak kawasan yang semula peruntukannya bukan untuk kawasan komersial atau yang semula kawasan permukiman, beralih fungsi menjadi kawasan komersial. Bahkan kawasan-kawasan yang semula diperuntukkan untuk resapan air, ruang terbuka hijau, dapat menjelma menjadi mall dan kawasan bisnis lainnya. Masih untung Jokowi segera menyadari hal tersebut. Jakarta harus tegas. Segera meraih target kecukupan ruang terbuka hijau (RTH) nya.

Pertumbuhan mall yang seakan tidak terkendali tersebut latah diikuti oleh kota-kota lainnya di Indonesia. Jakarta menjadi kiblat perkembangan kota di Indonesia. Ini pula yang menjadi lahan empuk bagi para pengusaha retail. Cap bahwa jika belum ada hyperstore tertentu maka kota tersebut masih belum dapat dikatakan sebagai kota modern, menjadi lahan basah bagi bara investor. Satu persatu, perlahan tapi pasti, penampakan kota dan wajah kota dipoles sedemikian rupa dengan langkah yang hampir seragam. Diberi sentuhan atas nama modernitas. Mall-mall mulai bertebaran, bermunculan di kota-kota kecil sebagai ikon atau penanda kota tersebut tengah mengupgrade diri menjadi kota besar. Bak jamur di musim hujan dan musimnya tengah melanda di hampir semua kota. Tanpa disadari kota-kota bertumbuh menjadi hampir seragam. Pertumbuhan kota menuju pada arah yang seragam.

Paradigma modern yang tertanam dalam benak sepertinya sudah terpaku pada dunia di belahan Barat sana. Hampir semua bangunan maupun mall diberi label nama-nama yang berbau asing. Paling tidak memiliki nama yang berbahasa Inggris. Supaya nampak modern dan keren. Lihatlah kota-kota kecil yang tengah mempercantik diri, yang tengah tumbuh.  Istilah town square, city centre, trade centre, town house, grande, dan istilah senada lainnya sangat mudah ditemui. Kota-kota seolah latah untuk menamai bangunan atau mallnya dengan nama-nama asing.

Kota-kota di Indonesia semakin hari semakin memiliki kecenderungan kehilangan identitas spesifiknya. Secara tidak sadar, identitas asli kota semakin kabur dan perlahan lenyap. Kota semakin kehilangan karakter spesifiknya.  Warga kota dibuat bangga dengan label atau cap yang mengacu pada kota-kota di belahan barat sana. Dijejali dengan mall-mall sebagai simbol yang katanya “modern”. Warga kota dinina bobokan oleh satu kekuatan dahsyat yang tanpa sadar ikut arus tersebut. Kota didandani dan dipercantik dengan mengikuti pola yang serupa, nyaris sama di setiap kota. Tanpa ciri khas. Haruskah seperti itu?

Menjamurnya design instan dan bentuk arsitektural bangunan yang hampir serupa semakin menyempurnakan. Keberadaan kota yang seharusnya menumbuhkan nilai-nilai budaya lokal sekarang mulai terjebak ke dalam budaya massal. Terjadinya penyeragaman bentuk perkembangan dan penampakan kota, menjauhkan pada penonjolan potensi nilai-nilai sosial budaya lokal dan sejarah kotanya.  Identitas kota dapat dibangun dengan perencanaan maupun terbentuk dengan sendirinya. Identitas kota terbentuk dari pemahaman dan pemaknaan akan sesuatu yang ada atau yang melekat pada kota tersebut. Dapat berupa obyek fisik (bangunan atau elemen fisik lainnya) maupun obyek non fisik (misalnya aktivitas sosialnya) yang terbentuk dengan berjalannya waktu. Haruskah mall menjadi ciri perkembangan kota di Indonesia? Sebaiknya, hanya merupakan salah satu ciri. Masih banyak potensi lokal yang layak diangkat dalam pengembangan kota sehingga tidak meninggalkan ciri khas kota. Tidak menghilangkan identitas kota. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s