Srikandi Energi Terbarukan dari Pulau Buru

Pulau Buru yang terletak di Kepulauan Maluku tidak hanya menyisakan cerita tentang tempat pembuangan para tahanan politik, penyulingan minyak kayu putih, dan penambangan emas yang tengah marak terjadi. Pulau Buru juga ternyata berperan besar dalam menghasilkan seorang Srikandi yang sangat mumpuni di bidang energi terbarukan. Artikel ini tidak hendak bercerita khusus tentang proses pembuatan maupun penggunaan energi terbarukan, namun mencoba untuk mengangkat sosok yang telah kenyang makan asam dan garam di bidang energi terbarukan. Mengangkat sosok yang telah dengan konsisten terlibat langsung dalam bidang energi terbarukan berbasis biogas. Sosok yang menciptakan dan mensosialisasikan penggunaan alat pengolah energi terbarukan yang berasal dari limbah kotoran ternak. Limbah kotoran ternak merupakan limbah yang sangat mudah didapat di kawasan perdesaan dan sering terbuang percuma. Di tangan Sang Srikandi, limbah tersebut dapat menjadi sumber energi yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Mengenal Srikandi yang satu ini, kita seakan merasakan pula energi yang tersalurkan dari dalam dirinya. Sebuah energi besar yang siap untuk disebarluaskan pada orang-orang di sekitarnya maupun yang berada jauh di daerah-daerah terpencil. Postur tubuh yang sedikit lebih subur dibandingkan dengan kebanyakan orang, tidak menjadi penghambat baginya untuk tampil energik, penuh energi, dan sarat dengan semangat yang berkobar. Berbincang dengannya tidak akan terasa membosankan. Kita seolah dibawa masuk ke dalam dunianya, lalu terkagum-kagum pada upaya yang telah beliau lakukan. Semuanya demi kemajuan Indonesia. Energi besar yang tersimpan di dalam dirinya membuncah menjadi karya-karya nyata demi pengembangan energi terbarukan di Bumi Indonesia tercinta. Srikandi tersebut bernama Sri Wahyuni, atau lebih akrab disapa Ibu Sri. Kebetulan terkait dengan urusan pekerjaan, telah lama terhubung dengan beliau.

Walaupun dilahirkan di Kediri, semenjak TK, Sri Wahyuni diboyong oleh orang tuanya untuk melanjutkan hidup di Pulau Buru. Hidup dan besar di Pulau Buru. Pulau Buru merupakan salah satu pulau yang jauh terpencil di Kepulauan Maluku sana. Pulau Buru dapat dicapai dengan perjalanan laut selama 8 jam dari Kota Ambon. Sri Wahyuni menjalani kehidupan di tengah lingkungan yang penuh dengan keterbatasan dan ketiadaan sarana dan prasarana. Tidak ada listrik, tidak ada peralatan elektronik yang dapat memberikan informasi maupun hiburan baginya. Untuk memasak pun harus menggunakan kayu bakar. Orang tuanya termasuk salah satu keluarga peserta program transmigrasi di era Orde Baru. Saat tahanan politik di Pulau Buru dibebaskan  sekitar tahun 1979, pada tahun 1980 Sri Wahyuni ikut bertransmigrasi beserta orang tuanya. Sawah-sawah yang ditinggalkan oleh sebagian tahanan politik inilah yang kemudian ditempati oleh para transmigran yang berasal dari Pulau Jawa. Termasuk salah satunya oleh keluarga Sri Wahyuni.

Sri Wahyuni menjalani sekolah mulai TK hingga SMP di Pulau Buru. Bergaul dengan para penduduk asli di Pulau Buru maupun dengan para tahanan politik di sana. Keterbatasan kondisi masa kecil dan ketiadaan sarana dan prasarana yang memadai ternyata justru membuat seorang Sri Wahyuni memiliki tekad baja. Tekad untuk membuat perubahan. Perubahan bagi warga masyarakat yang tinggal di lokasi-lokasi yang terpencil.

Sri Wahyuni melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Kota Ambon dengan harapan dapat melanjutkan studi di bidang pertanian. Selepas SPMA, dengan beasiswa dari IPB, melanjutkan kuliah di Bogor hingga meraih gelar Insinyur dan Master Pertanian. Hidup yang serba susah tidak membuat semangatnya surut. Semangatnya malah terus menyala, semakin besar. Untuk memenuhi kebutuhan semasa kuliahnya, beragam pekerjaan telah dilakoninya, termasuk menjadi pengamen yang menjalankan praktek ngamennya di atas bis Rute Kampung Rambutan-Baranang Siang (Bogor). Karena kedekatannya dengan seorang dosen yang merasa kasihan terhadapnya, akhirnya  diangkat menjadi asisten dosen.

Sri Wahyuni mengundurkan diri dari Pegawai Negeri Sipil, dengan tidak menjadi dosen IPB lagi. Inilah titik balik kehidupan seorang Srikandi energi terbarukan. Beliau memiliki komitmen kuat untuk mengolah energi terbarukan. Beliau mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan. Idenya adalah ingin membantu masyarakat terpencil agar memiliki akses terhadap energi listrik. Dia memiliki pemikiran, jika hanya menjadi dosen, dia tidak leluasa membantu masyarakat terpencil. Dia tidak ingin kehidupan masa kecilnya yang tidak terakses pada listrik dirasakan pula oleh orang lain. Usahanya tidak semata untuk mencari keuntungan. Tekadnya lebih pada untuk membuka lapangan pekerjaan.

Ketika kebetulan mendapatkan kesempatan berkunjung ke Pulau Buru, seorang kepala desa di salah satu desa di Pulau Buru dengan bangganya mengatakan bahwa Sri Wahyuni adalah adik kelasnya. Beliau yang sekarang membimbing dan membantu masyarakat di Pulau Buru  untuk lebih memiliki akses terhadap listrik dengan menggunakan energi terbarukan yang berasal dari kotoran sapi.

Sri Wahyuni mampu membuat perubahan untuk masyarakat perdesaan dengan memperkenalkan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Beliau telah berkiprah di bidang energi terbarukan sejak tahun 2007, yaitu dengan memperkenalkan sistem pertanian yang ramah lingkungan pada lebih dari 240 kabupaten di 32 Provinsi di Indonesia. Berarti, hampir separuh kabupaten di Indonesia telah menggunakan alat digester produknya. Ciomas-Bogor merupakan lokasi pilihan Sri Wahyuni yang dijadikannya sebagai laboratorium tempat beliau melakukan uji coba ide-idenya untuk energi terbarukan.  Jatuh bangun usaha yang dialaminya dijalani dengan kesabaran.

Hingga kini beliau tidak kenal lelah untuk melakukan inovasi-inovasi untuk perubahan bagi masyarakat. Di atas lahan seluas hampir 4.000 m2, beliau mendirikan perusahaan yang memproduksi alat-alat untuk menghasilkan energi terbarukan. Perusahaannya memproduksi digester biogas beserta alat-alat lainnya yang mendukung energi terbarukan berbasis biogas. Saat ini, tidak kurang dari 100 orang karyawan berada di bawah naungan perusahaannya. Kebahagiaannya adalah dapat memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat sekitar. Untuk dirinya sendiri, dia mengandalkan honor hasil dari menjadi nara sumber di 5 Kementerian dan menulis buku. Sedangkan pendapatan perusahaan, sepenuhnya digunakan untuk memperbesar usaha. Dalam satu tahun ada sekitar 1000 unit digester yang dihasilkan oleh perusahaannya.

Obsesinya kini adalah ingin agar seluruh kabupaten di Indonesia mengenal dan menggunakan alat digester biogas produknya. Ingin agar seluruh Kabupaten di Indonesia menggunakan energi terbarukan. Saat ini, Sri Wahyuni telah menjadi anggota asosiasi Renewable Energi untuk Asia Pasifik plus Jepang, China, dan Korea sehingga sering melakukan kunjungan ke sana. Ke depan, cita-citanya ingin meluncurkan mobil berbahan bakar listrik yang berasal dari biogas. Ketika ditanya, “Ibu tidak berminat untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Buru?”. Dengan nada bercanda, beliau menjawab, “Sepertinya saya lebih tertarik jika ada yang mengusulkan menjadi Menteri Energi Terbarukan”.

Beliau ingin membuktikan bahwa seorang anak transmigran dapat juga membuat sesuatu yang berguna. Sri Wahyuni memiliki komitmen untuk membantu Pulau Buru dan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Yang menarik adalah pesannya bahwa, “TIdak perlu takut dibilang orang terpencil karena dengan usaha keras dan inovasi yang tiada henti semua akan teratasi. Kita akan menjadi setara dengan masyarakat di daerah lainnya. Dengan biogas kita akan mendapatkan perubahan. Menyalakan lampu, memasak, bahkan nge-charge HP pun dapat menggunakan kotoran sapi. Tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Kemiskinan pun dapat membantu menghasilkan kreativitas”. Luar biasa.

Jangan berputus asa, ternyata dari Pulau Buru pun dapat menghasilkan seorang Srikandi yang dapat melakukan perubahan. Menghasilkan energi terbarukan dari bahan-bahan yang terbarukan. Mengubah dari sesuatu yang tidak berguna menjadi hal yang berguna.

Indonesia saat ini sangat membutuhkan sosok-sosok seperti Sri Wahyuni. Sosok yang telah dengan konsisten mencoba membawa perubahan dalam tataran masyarakat, sesuai dengan kapasitasnya. Indonesia masih membutuhkan sosok Sri Wahyuni untuk membawa Indonesia ke arah penggunaan energi terbarukan. Tidak hanya bertumpu pada penggunaan energi fosil yang suatu saat akan habis. Indonesia sangat kaya dengan sumber energi terbarukan lainnya. Semoga semakin banyak bermunculan sosok lainnya yang konsisten berjuang dan berkiprah di bidang energi terbarukan, sehingga Indonesia tidak lagi bertumpu pada impor bahan bakar fosil dari negara lain. Masih banyak potensi energi terbarukan lainnya yang dapat dimanfaatkan di Bumi Indonesia. Energi angin, energi matahari, energi gelombang air laut, dan masih banyak lagi energi lainnya yang dapat kita manfaatkan. Semua untuk Indonesia tercinta. Salam Indonesia. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s