Belajar dari Jejak-jejak Tahanan Politik di Pulau Buru

Ketika awal mendengar akan mendapatkan tugas kunjungan ke Pulau Buru, yang terbayang di benak adalah pulau yang menyeramkan. Pulau Buru sudah terlanjur terstigma sebagai pulau tempat pembuangan para tapol (tahanan politik). Namun, rekan-rekan berusaha meyakinkan bahwa itu peristiwa lama. Sekarang sudah tidak demikian. Akhirnya, terbersit keinginan, semoga dapat melihat dari dekat, seperti apa lokasi tempat pembuangan para tahanan politik itu sekarang.

Tahun 1969-1971 merupakan masa-masa pembuangan para tahanan politik ke Pulau Buru. Para tahanan datang secara bergelombang. Gelombang terakhir terjadi pada tahun 1971. Mereka yang dibuang ke Pulau Buru merupakan tahanan yang “distigmakan”, dan diberi label sebagai kelompok PKI atau para pengkhianat Negara. Terdapat sekitar 10.000 tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru. Salah satunya adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Mereka mengalami siksaan dan kerja paksa. Dipaksa untuk membabat hutan di Pulau Buru yang dahulu berupa hutan lebat dan menjadikannya lahan sawah, jembatan, juga jalan. Pramoedya sendiri menghasilkan 4 buah buku yang ditulis ketika masih dalam masa tahanan di Pulau Buru. Buku-bukunya antara lain, Bumi Manusia, Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Semuanya terangkum dalam Tetralogi Pulau Buru.

Gambar

Tugu di Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

IMG01231-20131024-1550

Permukiman di Desa Savanajaya.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Para tahanan terbagi dan tersebar di beberapa lokasi atau dikenal dengan istilah unit. Masing-masing unit berjarak 4-5 km. Kebetulan memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat salah satu unit di sana, yaitu unit 4 yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan unit Desa Savanajaya. Sebelumnya, sempat pula melintas ke unit lainnya, yang dikenal dengan sebutan Mako (Markas Komando). Konon, di Unit Desa Savanajaya inilah satu-satunya jejak pembuangan para tahanan politik yang masih dapat ditemui. Itupun telah bercampur dengan para transmigran yang berasal dari Pulau Jawa.

Sebelum mencapai lokasi Unit Desa Savanajaya, terkagum-kagum mendengar cerita dari rekan yang merupakan penduduk asli Pulau Buru. Jalan yang dilalui merupakan hasil karya para tahanan politik pada jamannya. Penduduk di Pulau Buru harus memberikan apresiasi dan rasa terima kasih pada para tahanan politik. Terbayang sulitnya dan kerasnya upaya para tahanan politik untuk membuka hutan Pulau Buru dan membuat jalan menuju lokasi tempat tinggal mereka. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil untuk mencapai Desa Savanajaya. Jalan yang dilalui menuju Desa Savanajaya sangat mulus. Itu mungkin hasil pembangunan masa sekarang. Namun di sisi kiri dan kanan jalan masih tetap didominasi oleh hutan dan jalannya berkelok-kelok. Terbersit sulitnya dan kerasnya upaya mereka untuk merintis pembukaan jalan tersebut.

IMG_3826

Hamparan sawah di Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Anna Gurning

IMG_3822

Sawah yang menguning di Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Anna Gurning

Desa Savanajaya sekarang merupakan desa yang memiliki hamparan sawah yang luas. Telah menjadi lumbung padi Pulau Buru. Sepanjang mata memandang, terhampar sawah yang mulai menguning, siap panen. Mayoritas penduduk di Desa Savanajaya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Ternyata kesan menyeramkan yang awalnya terlintas dalam benak tidak terbukti sama sekali. Lokasi pembuangan para tapol/napol sekarang tidak menimbulkan kesan seram sama sekali. Benar seperti kata teman yang merupakan penduduk Pulau Buru. “Sekarang mereka telah menemukan kehidupannya di Pulau Buru. Banyak yang telah betah menetap di Pulau Buru dan kehidupannya cukup sejahtera”.  Terlihat dari permukiman mereka sekarang.

IMG01234-20131024-1551

Tugu di Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

IMG01235-20131024-1551

Desa Savanajaya diresmikan oleh Pangkopkamtib. M. Panggabean.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

IMG01237-20131024-1552

Nama-nama perencana dan pelaksana pembangunan Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Jangan bayangkan bahwa berkunjung ke lokasi bekas pembuangan tahanan politik akan menemukan bekas penjara atau ruang-ruang tahanan atau tempat penyiksaan lainnya. Tidak ada sama sekali. Entah kalau pada masanya. Satu-satunya yang tersisa dari peninggalan tempat tahanan politik hanya berupa bangunan tugu yang berada di tengah lapangan luas. Tugu tersebut merupakan penanda penyerahan para tahanan politik dan diresmikan oleh Panglima Kopkamtib Jenderal TNI M. Panggabean. Pada tugu tersebut tertulis “Projek Perdesaan Savanadjaja” yang merupakan proyek pertama dibangun di dataran Wayapu, lalu tercantum nama-nama yang terlibat dalam perencanaan dan pembangunan Desa Savanajaya. Sebenarnya sayang sekali, jejak sejarah tersebut telah hilang. Padahal, dapat dijadikan wisata sejarah. Kita dapat belajar dari sejarah, dari jejak peninggalan para tahanan politik di Pulau Buru. Saat ini, sejarah tersebut telah terkubur, diganti dengan hamparan sawah yang menguning dan komplek perdesaan yang asri. Mungkin lebih baik pula, untuk menghapus luka lama para tahanan politik yang saat ini masih banyak yang tetap tinggal di sana. Meneruskan kehidupannya.

IMG01239-20131024-1553

Balai tempat pertemuan para tahanan politik di Pulau Buru.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Masih ada satu bangunan yang tersisa tidak jauh dari lokasi tugu. Letaknya di tengah desa. Berupa bangunan kayu yang konon merupakan tempat berkumpulnya para tahanan politik. Bentuknya hanya berupa bangunan yang lebih mirip seperti panggung atau balai dengan lebar sekitar 8 meter dan panjang sekitar 50 meter.

Jejak-jejak lainnya seolah telah terhapus, berganti dengan permukiman atau desa. Sebenarnya dapat merupakan aset sejarah yang berharga yang tidak disadari oleh pemerintah atau masyarakat setempat. Kita dapat belajar dari jejak-jejak tahanan politik di Pulau Buru. Tentang semangat dan kerja keras. Juga tentang kekejaman suatu rezim dan dapat berkaca darinya agar tidak terulang.

Tak dapat dipungkiri, karya para tahanan politik sangat besar bagi pembangunan di Pulau Buru. Para tahanan politik tersebut sebagian berasal dari kalangan terdidik sehingga mampu menularkan ilmu dan kemampuannya dalam kemajuan daerah. Misalnya, dalam teknik pertanian sehingga hasil pertanian di Pulau Buru melimpah. Saat ini banyak keturunan para tahanan politik yang telah bercampur dengan penduduk setempat dan saling membahu demi kemajuan Pulau Buru. Mereka ada yang bekerja di pemeririntahan maupun di sektor-sektor pembangunan lainnya. (Del)

Advertisements

7 thoughts on “Belajar dari Jejak-jejak Tahanan Politik di Pulau Buru

    • Maaf Mas…kontaknya ikut terhapus bersamaan dengan rusaknya HP saya :-(. Tapi coba searching di google, banyak bertebaran buku-bukunya, mungkin bisa dicari kontaknya. Terima kasih

  1. Banyak cerita sejarah di tempat ini mbak, kakek saya termasuk salah satu korbannya. Beliau sama sekali tidak tahu menahu mengenai Komunisme dan langsung dicidhuk dan dibuang di pulau Buru ini selama 8 tahun, setelah sebelumnya di pulau Nusakambangan selama 5 tahun dengan tuduhan yang sama, yaitu anggota PKI.
    Semoga jasa2 para tapol yang telah memajukan pulau Buru dapat berguna bagi anak cucu kita semua, termasuk kakek saya yang tanggal 22 Agustus 2015 kemarin meninggal dunia.

    • Memang miris membaca dan mengetahui beragam cerita di balik peristiwa tersebut. Di balik itu semua, banyak jasa yang telah ditinggalkan oleh para tapol di Pulau Buru.

      Turut bersimpati dan berduka cita atas meninggalnya kakek…

      Terima kasih sudah mampir di blog saya

      Salam

  2. turut berduka atas meninggalnya kakek,saya juga pernah tinggal di desa savanaja,dulu saya sekolah di namlea di SMA Pertiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s