Berburu Emas Hingga ke Pulau Buru

Selalu saja ada cerita yang tertinggal dari hasil kunjungan ke daerah. Salah satunya tentang kegiatan penambangan emas di Pulau Buru, Provinsi Maluku. Pulau Buru mendadak menjadi buruan para penambang emas. Menjadi incaran para pemburu emas yang berburu emas hingga ke Pulau Buru. Di Pulau Buru, semua seolah sedang terkena demam emas. Walaupun, sekarang demamnya sudah mulai agak mereda, tidak sepanas dan seheboh tahun lalu hingga pertengahan tahun ini. Semua hotel dan penginapan mendadak penuh terisi para pendatang. Pulau Buru yang biasanya sepi mendadak hiruk pikuk. Kehidupan masyarakat mendadak berubah. Penduduk setempat mulai mengeluhkan kenaikan harga-harga bahan pokok yang ikut melonjak, menyertai para pendatang. Padahal, banyak di antara penduduk setempat yang tidak terkait langsung dengan aktivitas penambangan yang marak di sana.

Kegiatan penambangan emas telah menyita perhatian para pendatang maupun penduduk setempat. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari pertanian dan penyulingan minyak kayu putih pun ikut tergoda dan beralih profesi. Sawah-sawah dan perkebunan kayu putih dibiarkan terlantar dan mengering. Sungguh sayang. Magnet emas begitu kuat. Mengalahkan magnet minyak kayu putih yang telah kondang lebih dulu.

Tertarik dengan fenomena emas di Pulau Buru, menggelitik hati untuk mencoba menelisik lebih jauh. Mencoba menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat, di sela-sela jadwal tugas utama. Kebetulan lokasinya masih sinkron.

Gambar

Tenda-tenda biru para penambang emas di sekitar Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku
Sumber Foto: http://indonesiatimur.co/2012/11/15/catatan-penambangan-emas-di-gunung-botak-pulau-buru/

Seketika pandangan terhenti sejenak ke arah warna-warna biru yang tampak di kejauhan. Muncul di antara gunung yang tampak botak, sesuai dengan namanya, Gunung Botak. Tak tahan untuk segera melontarkan tanya, “Apa itu?”.  Ternyata warna-warna biru yang menghias Gunung Botak yang terletak di Pulau Buru adalah tenda-tenda yang terbuat dari terpal berwarna biru tempat para penambang emas yang mencoba peruntungan di Gunung Botak.

Kegiatan penambangan emas di Pulau Buru masih didominasi oleh kegiatan penambangan emas tradisional.  Menurut keterangan seorang teman yang merupakan penduduk Pulau Buru, kegiatan penambangan emas di Pulau Buru sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Namun, baru naik pamor sekitar November 2011. Bermula dari mimpi seorang wanita tentang lokasi emas. Ternyata benar. Kabar penemuan kandungan emas yang tinggi tersebut segera beredar dari mulut ke mulut. Sejak itulah, jumlah penambang emas yang awalnya hanya kerabat sang wanita, mendadak berlipat menjadi ribuan orang dalam waktu singkat. Para penambang tidak hanya berasal dari Pulau Buru, tapi juga berasal dari pulau lainnya, antara lain dari Sulawesi, terutama Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara, maupun dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Para penambang berdatangan mencoba menggapai Kota Namlea sebagai ibukota Kabupaten Buru.

Gambar

Mesin tromol, mesin pengolah emas di Pulau Buru
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Saat ini puluhan ribu tromol dan tong yang menggunakan teknologi sianida dioperasikan oleh para penambang tradisional. Setiap tromol rata-rata mampu menghasilkan 50 gr emas perhari, sedangkan tong yang menggunakan teknologi sianida mampu menghasilkan hingga 200 gr per hari. Sebuah usaha yang tentunya sangat menggiurkan. Kalikan dengan keberadaan tidak kurang dari 50.000 tromol dan 1.000 tong yang ada di Pulau Buru.

Gambar

Mesin tromol pengolah emas di Pulau Buru, Maluku
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Kebetulan, sempat melihat dari dekat proses pengolahan emas di salah satu tromol yang banyak ditemui di sana. Pengolahan emas dari mulai bahan mentah hingga menghasilkan emas berlangsung sangat sederhana. Menggunakan peralatan yang sederhana pula. Pengolahan emas dalam skala kecil banyak dilakukan dengan menggunakan teknik pengolahan dengan bantuan mesin tromol (gelundung).  Tromol adalah sebuah tabung baja berdiameter 40 s/d 50 cm dengan panjang 70 sd 80 cm yang memiliki lubang atas ukuran 15 x 20 cm ditutup dengan baja dan baut. Selain itu, tromol juga memiliki lubang bawah sebesar mur baut 1″. Di kiri dan kanan dipasang alat supaya bisa berputar. Peralatan ini digerakkan dengan mesin diesel.

Gambar

Tumpukan bahan mentah yang mengandung emas
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Bahan mentah berupa bongkahan batu dan tanah mengandung emas
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Bongkahan batu dan tanah yang mengandung emas
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Pengolahan berawal dari bongkahan batuan dan tanah yang disinyalir oleh para penambang mengandung emas. Biasanya disebut bahan mentah. Bahan mentah ini dimasukkan ke dalam tromol melalui lubang tromol atas. Dimasukkan pula batu dengan diameter kira-kira 15 cm sebanyak 15 hingga 20 buah batu. Batu biasanya dipilih yang keras dan tidak mudah pecah. Batu tersebut berfungsi untuk menghancurkan kerikil emas. Tak lupa, tambahkan pula air. Tromol ditutup dan dikencangkan dengan baut serta dilapisi dengan karet agar tidak mengalami kebocoran. Tromol diputar dengan menggunakan mesin diesel selama kira-kira 6 jam. Selama berputar, air, kerikil emas, dan batu ikut berputar di dalam tromol. Batu akan menghancurkan kerikil emas sampai menjadi bentuk lumpur.

Air perak (air raksa atau mercury) dimasukkan ke dalam tromol yang isinya telah berbentuk lumpur. Tromol kembali diputar kurang lebih selama 1 jam. Air raksa akan bergerak bersama batu dan lumpur yang mengandung emas. Serbuk emas akan menempel dan bersenyawa dengan air raksa. Lumpur dan air raksa dalam tromol ditampung ke dalam wadah plastik.

Gambar

Wadah plastik berisi air, air raksa, dan serbuk emas. Tampak air raksa serbuk emas ada di dasar wadah plastik.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Proses penyaringan sederhana dengan menggunakan kain untuk memisahkan air raksa dari serbuk emas
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Air raksa, air, dan butiran emas akan tertinggal dalam wadah plastik. Air raksa dan butiran emas mengendap di dasar wadah plastik. Sekarang saatnya untuk menyaring dengan menggunakan kain yang memiliki kerapatan tinggi. Kain ini berguna untuk memisahkan serbuk emas dari air raksa. Serbuk emas akan tertahan di kain sedangkan air raksa akan keluar melalui pori-pori atau lubang kain.

Gambar

Serbuk emas berwarna abu-abu yang tertinggal di kain
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Serbuk emas berwarna abu-abu untuk dibakar
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Kios pembakaran emas sederhana yang banyak terdapat di sekitar Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Proses pembakaran emas yang sangat sederhana.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Gambar

Gumpalan emas yang telah dibakar. Warnanya telah berubah menjadi kuning mengkilat.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Terlihat hasilnya berupa serbuk emas yang masih berwarna abu-abu. Proses pengolahan belum usai. Masih perlu proses pembakaran. Di Pulau Buru, selain bertebaran mesin-mesin tromol untuk mengolah emas, bertebaran pula kios-kios yang menyediakan jasa pembakaran emas. Peralatan yang digunakan sangat sederhana. Serbuk emas yang masih berwarna abu-abu diletakkan dalam wadah yang terbuat dari tanah liat, yang biasa disebut kana. Serbuk emas ditaburi tawas dan dibakar dengan api bertekanan tinggi hingga cair. Tawas memiliki fungsi untuk melindungi serbuk emas agar tidak berterbangan saat disemprot dengan api bertekanan tinggi. Setelah serbuk emas cair, dicelupkan sebentar ke dalam air untuk mendinginkan suhunya dan serbuk emas kembali mengeras. Hasilnya, terlihat serbuk emas yang telah mengeras,  berbentuk bulat pipih, dan berwarna kuning mengkilat. Proses pengolahan telah usai Emas sudah terlihat indah. Sinarnya menyilaukan. Menyilaukan bagi para pendulang emas.  .

Gambar

Kendaraan yang cukup mewah banyak terparkir di rumah-rumah penduduk penambang emas.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Sekarang, bagaimana dampaknya terhadap kondisi lingkungan? Penambangan emas selalu menyisakan permasalahan lingkungan. Sungai Waeapo saat ini telah tercemar mercuri. Pencemaran terjadi karena para penambang emas membiarkan air sisa yang mengandung merkuri mengalir ke sungai. Permasalahan tidak hanya pada lingkungan. Permasalahan sosial pun tidak dapat diabaikan. Kriminalitas, perkelahian antarwarga, kerusuhan, dan beragam masalah sosial lain turut bermunculan. Namlea yang dulunya damai, sekarang telah terusik, telah berubah. Tingkat ekonomi sebagian penduduknya memang berubah menjadi lebih baik. Terlihat dari banyak ditemuinya mobil-mobil mewah di halaman rumah penduduk yang ikut menambang. Namun, itu pula yang memicu gesekan-gesekan sosial. Berbagai permasalahan di Pulau Buru perlu penanganan segera. Jangan sampai terkesan adanya “pembiaran”. Menunggu masalah meledak. Semoga tidak. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s