Martapura, Kota yang Berkilau

Banyak hal yang dapat diceritakan tentang kota-kota di Indonesia. Bisa tentang keunikan, keindahan alam, sumber daya alam, budaya, tradisi, makanan khas, tempat kuliner, dan masih banyak lainnya. Kota Martapura pun demikian. Memiliki keistimewaan dan ciri khas yang melekat erat dengan Kota Martapura.

Kota Martapura hanya berjarak sekitar 45 km dari Kota Banjarmasin atau sekitar 1 jam perjalanan dari ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Dapat pula dicapai dengan perjalanan mobil hanya sekitar 30 menit dari Bandara Syamsudin Noor. Kota Martapura merupakan ibukota Kabupaten Banjar dan dikenal sebagai pusat pengolahan dan penjualan berlian di Kalimantan Selatan. Martapura dapat dikatakan sebagai kota yang berkilau dalam arti kata yang sesungguhnya. Penuh dengan kilauan intan, khas Kota Martapura. Dikenal pula dengan julukan “Kota Intan”.

Untuk ibu-ibu yang senang perhiasan, baik untuk dipakai maupun sekedar untuk koleksi, atau bagi bapak-bapak yang senang dengan batu-batu mulia, Martapura memang lokasi yang tepat. Martapura tempat yang tepat untuk berburu perhiasan baik kalung, gelang, cincin, giwang, anting, bros, maupun batu-batu mulia, terutama untuk perhiasan yang dihiasi dengan berlian. Kualitas perhiasan dari Martapura telah diakui di kancah dunia. Intan dan batu mulia dari Martapura sudah dikenal luas hingga di tataran dunia.

Jika kita berkunjung ke sentra penjualan intan di Kota Martapura, jangan berharap dibawa ke pusat pertokoan mewah. Sentra penjualan berlian Martapura jauh dari kesan mewah. Tidak seperti ciri khas toko-toko berlian yang terdapat di pusat-pusat perbelanjaan mewah di Jakarta.  Jika ingin berburu perhiasan di Kota Martapura, berkunjunglah ke sentra penjualan perhiasan yang lebih dikenal dengan Pasar CBS, Pasar Cahaya Bumi Selamat. Dikenal pula dengan sebutan pasar intan Martapura. Cukup unik. Pasar CBS hampir menyerupai pasar biasa, seperti pasar pada umumnya. Sangat kontras dengan nilai barang yang diperjualbelikan. Tidak ada kesan mewah selayaknya kesan yang dimunculkan oleh intan, berlian, dan permata. Pasar ini hanya berupa kumpulan kios-kios atau toko-toko. Bahkan di depan kompleks pasar terdapat beberapa pedagang kaki lima maupun pedagang asongan. Selain menjual perhiasan bertatahkan intan atau berlian, toko-toko tersebut juga umumnya menjual aneka perhiasan dari batu-batu khas Kalimantan, maupun souvenir-souvenir lainnya.

Gambar

Pasar Cahaya Bumi Selamat, Martapura, Kalimantan Selatan.
Sumber foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1542738&page=3

Ketika memasuki areal Pasar CBS, kita disambut dengan sebuah gapura yang dihiasi dengan pilar berukir. Terdapat pula tulisan ayat yang diambil dari Al-Quran di atasnya. Pada bangunan pasar terdapat menara yang menjulang dengan beberapa teks berbahasa Arab yang tercantum pada menara. Nuansa arsitektural Arab tetap terasa di sana. Pengaruh Arab begitu terasa di Kota Martapura. Sesuai dengan julukan lainnya untuk Kota Martapura, yaitu Kota Santri. Di depan pasar, terdapat area parkir yang cukup luas. Di hari-hari tertentu, misal di hari libur, area parkir cukup sesak sehingga kerap merambah ke area parkir Masjid Al-Karomah yang berada tidak jauh dari Pasar CBS. Masjid Al-Karomah merupakan masjid termegah di Kota Martapura.

Gambar

Kios-kios penjual intan dan permata di Martapura, Kalimantan Selatan.
Sumber Foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Toko-toko sederhana penjual intan dan permata di Martapura, Kalimantan Selatan.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gambar

Kios penjual intan di Pasar CBS, Martapura, Kalimantan Selatan.
Sumber foto: dokumentasi pribadi

Walau sederhana, dapat dipastikan pertukaran uang yang beredar di pasar sederhana tersebut sangat fantastik. Pasar CBS merupakan tempat perdagangan intan yang diperoleh dari tambang rakyat di Martapura. Satu buah berlian kecil dapat bernilai jutaan dan uniknya transaksi tersebut dapat dilakukan hanya di toko-toko sederhana yang ada di Pasar CBS. Bahkan menurut teman yang asli sana, transaksi dapat dilakukan antara dua orang, tanpa kios sama sekali. Modalnya hanya kepercayaan dan alat tes berlian yang sangat sederhana. Dengan alat sederhana tersebut kita dapat membedakan keaslian intan. Para penjual intan akan berkeliaran di tempat-tempat tertentu di dalam pasar, biasanya di bagian belakang pasar. Para pedagang umumnya masih menyimpan intan dalam dompet atau saku baju mereka yang baru akan dikeluarkan jika target pembeli datang. Seperti layaknya pedagang asongan.

Satu hal yang patut disayangkan, mungkin ke depan dapat lebih ditingkatkan. Banyak yang berpendapat bahwa sayangnya proses pengasahan intan di Martapura kurang begitu baik. Proses cuttingnya pun masih belum sempurna. Karena alasan itu pula banyak orang luar negeri yang datang hanya untuk mencari intan di Martapura. Umumnya para pemburu intan tersebut mencari intan dalam bentuk mentah untuk kemudian diasah kembali di Eropa dan dijual dengan harga yang jauh berlipat melebihi harga belinya. Seandainya pengrajin Martapura dapat belajar proses pengasahan dan menerapkannya, tentunya akan jauh lebih bernilai. (Del)

Advertisements

Fenomena Holdout Problem dan Urban Sprawl pada Kota-kota di Indonesia

Perkembangan kota yang berlangsung cepat dan  terus menerus, mengakibatkan kota tidak dapat lagi menampung kegiatan penduduknya. Wilayah kota secara administratif sangat terbatas. Kota harus mengalihkan perhatiannya pada areal pinggiran kota. Akibatnya, terdapat kecenderungan pergeseran fungsi-fungsi ”kekotaan” dan kegiatan perkotaan ke daerah pinggiran kota (urban fringe) yang sering dinamakan dengan proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl). Lebih jauh, urban sprawl merupakan suatu proses perubahan fungsi dari wilayah pedesaan menjadi wilayah perkotaan. Daerah pinggiran kota (urban fringe) sebagai wilayah dampak “peluberan” kegiatan perkembangan kota, telah menjadi perhatian banyak ahli di berbagai bidang ilmu, baik geografi, ekonomi, sosial, dan perkotaan.

Urban sprawl  juga merupakan terminologi yang dipakai untuk menggambarkan beragam aspek pertumbuhan perkotaan, termasuk perkembangan kota yang berlebihan, kebutuhan komuting yang lebih jauh, kemacetan lalu lintas, kehilangan ruang terbuka, dan kegagalan untuk membangun kembali properti di dalam kota (Brueckner, 2000).

Pembangunan yang dilaksanakan di kota besar,  sering terhambat antara lain karena sulitnya untuk mencari lahan. Kesulitan tersebut bukan semata diakibatkan karena terbatasnya lahan namun juga karena adanya fenomena “holdout problem”. Fenomena holdout problem terjadi di seluruh kota besar di Indonesia, terutama yang sedang mengalami perkembangan yang pesat.  Seperti halnya sprawl, holdout problem telah didefinisikan dalam beberapa cara. Holdout problem merupakan bentuk kekuatan monopoli yang berpotensi muncul dalam proses pengumpulan lahan. Sekali pengumpulan lahan dimulai dan pemilik perorangan mengetahui bahwa lahan mereka penting untuk melengkapi suatu proyek pembangunan, mereka dapat menahan (hold out) harga untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi.

Secara sederhana, holdout problem ini muncul karena adanya para spekulan tanah. Proyek skala besar tentunya membutuhkan proses pengumpulan lahan, seperti halnya pada pembangunan kawasan perumahan atau pusat perbelanjaan. Adanya holdout problem cenderung menghambat pembangunan. Lebih penting lagi, para pengembang akan memiliki insentif untuk mencari lahan lokasi proyeknya yang kepemilikannya tidak terlalu tersebar untuk meminimalkan kebutuhan pengumpulan lahan dalam satu lokasi. Ini akan mengakibatkan bias pada area pinggiran kota yang memiliki luas lahan rata-rata lebih besar, sebagai hasil dari pembangunan ke arah luar secara berlebihan atau urban sprawl. Para spekulan lahan tentunya berkeinginan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Mereka ”memborong lahan” dan menahannya untuk mendapatkan harga yang setinggi-tingginya.

Dampak ekonomi secara nyata dari adanya proses urban sprawl adalah terjadinya perubahan pola kegiatan ekonomi penduduk ke arah non pertanian. Ini terlihat dari semakin berkurangnya penduduk yang bekerja di sektor pertanian dan meningkatnya penduduk yang bekerja di sektor non pertanian (pedagang, buruh industri, dan jasa). Faktor paling dominan yang menjadi penyebab terjadinya perubahan penggunaan lahan adalah untuk pemenuhan kebutuhan permukiman.

Gejala urban sprawl di daerah pinggiran kota (urban fringe area) telah mengakibatkan terjadinya proses konversi lahan pertanian ke non pertanian. Untuk selanjutnya, proses konversi lahan pertanian ini mengakibatkan pula munculnya fenomena holdout problem bagi orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari fenomena urban sprawl. Terdapat beberapa solusi terkait dengan holdout problem, yaitu mulai dari pengembang yang harus aktif untuk mengejar sendiri para pemilik lahan demi kerahasiaan proyek, adopsi kebijakan untuk mengimbangi bias pembangunan di pinggiran kota, hingga penggunaan kekuasaan pemerintah untuk memfasilitasi proses redevelopment melalui proyek urban renewal. (Del)

Haruskah Mall Menjadi Ciri Perkembangan Kota di Indonesia?

Cobalah sejenak memperhatikan kota-kota yang ada di Indonesia. Kota-kota di Indonesia berlomba untuk membangun mall. Seakan jika tidak ada mall, maka kota tersebut ketinggalan jaman, tidak ikut perkembangan modern. Tidak ada mall berarti kota tersebut belum modern. Benarkah?

Kota Jakarta dinilai sebagai kota metropolitan dengan jumlah mall yang konon terbanyak di dunia. Lebih dari 130 mall berjejalan di Jakarta. Bahkan dalam satu ruas jalan bisa terdapat lebih dari 2 Mall besar. Pertumbuhan mall selama ini tumbuh di luar kendali. Banyak kawasan yang semula peruntukannya bukan untuk kawasan komersial atau yang semula kawasan permukiman, beralih fungsi menjadi kawasan komersial. Bahkan kawasan-kawasan yang semula diperuntukkan untuk resapan air, ruang terbuka hijau, dapat menjelma menjadi mall dan kawasan bisnis lainnya. Masih untung Jokowi segera menyadari hal tersebut. Jakarta harus tegas. Segera meraih target kecukupan ruang terbuka hijau (RTH) nya.

Pertumbuhan mall yang seakan tidak terkendali tersebut latah diikuti oleh kota-kota lainnya di Indonesia. Jakarta menjadi kiblat perkembangan kota di Indonesia. Ini pula yang menjadi lahan empuk bagi para pengusaha retail. Cap bahwa jika belum ada hyperstore tertentu maka kota tersebut masih belum dapat dikatakan sebagai kota modern, menjadi lahan basah bagi bara investor. Satu persatu, perlahan tapi pasti, penampakan kota dan wajah kota dipoles sedemikian rupa dengan langkah yang hampir seragam. Diberi sentuhan atas nama modernitas. Mall-mall mulai bertebaran, bermunculan di kota-kota kecil sebagai ikon atau penanda kota tersebut tengah mengupgrade diri menjadi kota besar. Bak jamur di musim hujan dan musimnya tengah melanda di hampir semua kota. Tanpa disadari kota-kota bertumbuh menjadi hampir seragam. Pertumbuhan kota menuju pada arah yang seragam.

Paradigma modern yang tertanam dalam benak sepertinya sudah terpaku pada dunia di belahan Barat sana. Hampir semua bangunan maupun mall diberi label nama-nama yang berbau asing. Paling tidak memiliki nama yang berbahasa Inggris. Supaya nampak modern dan keren. Lihatlah kota-kota kecil yang tengah mempercantik diri, yang tengah tumbuh.  Istilah town square, city centre, trade centre, town house, grande, dan istilah senada lainnya sangat mudah ditemui. Kota-kota seolah latah untuk menamai bangunan atau mallnya dengan nama-nama asing.

Kota-kota di Indonesia semakin hari semakin memiliki kecenderungan kehilangan identitas spesifiknya. Secara tidak sadar, identitas asli kota semakin kabur dan perlahan lenyap. Kota semakin kehilangan karakter spesifiknya.  Warga kota dibuat bangga dengan label atau cap yang mengacu pada kota-kota di belahan barat sana. Dijejali dengan mall-mall sebagai simbol yang katanya “modern”. Warga kota dinina bobokan oleh satu kekuatan dahsyat yang tanpa sadar ikut arus tersebut. Kota didandani dan dipercantik dengan mengikuti pola yang serupa, nyaris sama di setiap kota. Tanpa ciri khas. Haruskah seperti itu?

Menjamurnya design instan dan bentuk arsitektural bangunan yang hampir serupa semakin menyempurnakan. Keberadaan kota yang seharusnya menumbuhkan nilai-nilai budaya lokal sekarang mulai terjebak ke dalam budaya massal. Terjadinya penyeragaman bentuk perkembangan dan penampakan kota, menjauhkan pada penonjolan potensi nilai-nilai sosial budaya lokal dan sejarah kotanya.  Identitas kota dapat dibangun dengan perencanaan maupun terbentuk dengan sendirinya. Identitas kota terbentuk dari pemahaman dan pemaknaan akan sesuatu yang ada atau yang melekat pada kota tersebut. Dapat berupa obyek fisik (bangunan atau elemen fisik lainnya) maupun obyek non fisik (misalnya aktivitas sosialnya) yang terbentuk dengan berjalannya waktu. Haruskah mall menjadi ciri perkembangan kota di Indonesia? Sebaiknya, hanya merupakan salah satu ciri. Masih banyak potensi lokal yang layak diangkat dalam pengembangan kota sehingga tidak meninggalkan ciri khas kota. Tidak menghilangkan identitas kota. (Del)

Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini Akan Gratiskan Angkutan Umum

Mengikuti kiprah kedua walikota ini memang menarik. Kita terus menanti dan berharap banyak pada langkah dan terobosan keduanya. Keduanya memiliki kesamaan ide. Setidaknya dalam hal membenahi sistem transportasi kotanya masing-masing. Semuanya guna mengurai kemacetan yang senantiasa hadir di kota-kota besar.

Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung dan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya ternyata memiliki rencana yang hampir sama. Boleh dikatakan hanya “beti” saja. Beda-beda tipis. Intinya serupa. Memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum.

Bu Risma sebagai punggawa Kota Surabaya, memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum perkotaan (angkot). Sopir angkot akan diganjar dengan gaji sehingga para sopir tidak perlu pusing memikirkan target penumpang dan bertindak ugal-ugalan demi kejar setoran. Terobosan ini untuk mendorong masyarakat agar mau menggunakan angkot sebagai moda transportasinya. Rencana angkot gratis tercetus dari mulut Bu Risma sendiri  pada acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (20/11/2011). Rencananya, program angkot gratis akan direalisasikan mulai tahun depan. Tentunya selain program angkot gratis, tidak lupa pula diiringi dengan program peremajaan armada angkotnya dengan menggandeng koperasi angkot yang ada. Modal peremajaan angkot akan diberikan melalui koperasi angkot. Rute angkot pun akan terkoneksi dengan sistem angkutan monorel dan trem yang juga akan dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Semoga terwujud.

Bandung tidak mau kalah, ternyata Ridwan Kamil pun memiliki ide yang serupa tapi tak sama. Sama-sama memiliki ide menggratiskan angkutan umum. Namun, jika Bu Risma menggratiskan angkutan umum, maka Kang Emil (panggilan Ridwan Kamil) memiliki rencana mengratiskan angkutan umum bis pada waktu-waktu tertentu.

Yang akan digarap oleh Ridwan Kamil adalah program naik bus gratis bagi pelajar dan naik bus gratis khusus untuk hari Senin. Dengan menjalankan program naik bus gratis di Hari Senin, diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang tumpah ruah di jalanan Kota Bandung. Demikian yang disampaikan Ridwan Kamil di acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di jakarta, Rabu (20/11/2013). Pemerintah Kota Bandung pun berencana untuk menambah frekwensi program naik bus gratis menjadi pagi dan sore hari jika jumlah bis nya mencapai 100 unit. Kita tunggu.

Semoga rencana-rencana kedua pemimpin jempol di atas segera terwujud, segera terealisasi. Agar keruwetan jalanan di kedua kota tersebut sedikit demi sedikit terurai, dan terselesaikan. Bagaimana dengan Jakarta? Jokowi dan Ahok pun memiliki rencana. Jakarta pun tengah berupaya mengurai kemacetan yang terjadi. Mencoba mengurai satu persatu benang kusut yang melilitnya. Jokowi dan Ahok harus lebih siap. Kemacetan yang ada sekarang akan ditambah dengan gempuran mobil murah yang terlihat mulai melanda Jakarta. Jokowi-Ahok memiliki strategi lain. Program ERP, monorel, MRT, tambahan  armada bus Transjakarta, peremajaan kopaja, metromini, dsb sangat dinanti. Semua menunggu dengan harapan dan asa yang besar. Semoga. (Del)

Julukan Wagiman untuk Tri Rismaharini Tidak Sia-Sia, Kembali Raih Penghargaan

Ini kali ketiga menulis tentang sosok Tri Rismaharini. Tri Rismaharini, wanita pertama yang menduduki jabatan Walikota Surabaya telah menorehkan berbagai prestasi tidak hanya dalam lingkup Kota Surabaya. Gaungnya sudah mulai merambah Nasional, bahkan mulai dilirik prestasinya oleh dunia Internasional. Ternyata julukan Wagiman, Walikota Gila Taman yang disematkan padanya tidak sia-sia. Memang demikianlah adanya. Wanita perkasa ini sepatutnya bangga dengan julukan tersebut. Justru dengan keseriusannya dan sentuhannya pada taman-taman di Kota Surabaya telah membawanya pada berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri.

Tidak sedikit taman yang telah disentuhnya, misalnya Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-ine entertainment park nya. Taman Bungkul telah dilengkapi berbagai sarana pendukung taman, antara lain jogging track, tempat bermain untuk anak-anak, Wi-Fi, amphitheatre, serta beragam sarana olah raga lainnya. Semua dapat diakses oleh warga secara gratis. Kekuatan taman tersebut terletak pada terintegrasinya penataan taman sebagai fasilitas publik yang relatif lengkap dengan tetap terjaganya geliat ekonomi yang mengiringinya. Para pedagang makanan tetap mendapatkan tempat. Harmonisasi ruang publik, kegiatan ekonomi, maupun kegiatan budaya dan religi menjadi nilai plus Taman Bungkul.

Julukan Wagiman semakin tepat untuknya.  Kini Taman Bungkul telah menjadi taman terbesar dan terkenal di Kota Surabaya.  Taman Bungkul pula yang akan membawanya ke Jepang. Taman Bungkul Surabaya meraih penghargaan di tingkat Internasional. Penghargaan tersebut rencananya akan diterima oleh Bu Risma pada tanggal 26 November 2013 di Fukuoka, Jepang.

Tidak perlu terlalu kaget, selain terobosannya pada berbagai lini pembangunan di Kota Surabaya, Bu Risma memang memiliki kepedulian penuh pada ruang terbuka hijau, yaitu pada taman-taman maupun jalur hijau. Kota Surabaya yang dulu terkenal sebagai kota yang sangat panas, perlahan telah berubah menjadi lebih teduh, lebih rindang, lebih hijau, dan lebih nyaman. Kepeduliannya pada penataan taman-taman yang ada tidak terlepas dari latar belakangnya. Sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang dan yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City Mayors.  World Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.

Tidak hanya itu saja. Surabaya pun baru mendapat penghargaan Kota Sehat Swasti Saba Padapa. Surabaya mendapatkan penghargaan tersebut karena Surabaya dianggap sebagai Kota yang secara konsisten berupaya mewujudkan lingkungan yang bersih. Pemerintah Kota Surabaya dinilai konsisten melakukan inovasi dalam penataan Ruang Terbuka Hijau, pengelolaan sampah, dan tindakan-tindakan hemat energi. Pemerintah Kota juga dinilai memberikan fasilitasi pada peningkatan derajat kesehatan jasmani dan rohani warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih dan mandiri.

Peran media memang sangat dahsyat. Jika dulu belum terlalu banyak orang luar Surabaya yang mengenal sosok Tri Rismaharini, berbeda halnya dengan sekarang. Perlahan tapi pasti, Wagiman menyeruak ke deretan para pemimpin Indonesia yang cukup mencerahkan. Saya pribadi selalu tertarik untuk terus memunculkan tokoh-tokoh yang menyejukkan. Tokoh yang diharapkan dapat menginspirasi para pemimpin lainnya. Agar para pemimpin lebih amanah dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Indonesia masih memiliki setitik harapan, secercah asa, di tengah carut marut Negeri. Kita masih dapat menggantungkan harap di tangan para pemimpin yang membaktikan diri untuk Negeri. Untuk menggapai Indonesia yang lebih baik. Semoga. (Del)

Tulisan lain tentang Tri Rismaharini:

1. Jokowi Harus Mencontoh Wagiman

2. Dua Pemimpin Jempo: Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi

Jakarta Kota untuk Orang yang Tangguh

Kita sebagai warga Jakarta beserta warga sekitar Jakarta yang turut berkegiatan serta mencari kehidupan dan penghidupan di Jakarta patut mengapresiasi diri sendiri. Masing-masing layak untuk mendapat bintang. Berarti termasuk ke dalam kategori orang-orang yang tangguh.Yang patut diacungi jempol, disematkan bintang. Kalau perlu tempel di dahi masing-masing. Tidak semua orang mau dan mampu seperti warga Jakarta. Artikel ini sekaligus melengkapi artikel sebelumnya, yaitu “Kata Siapa Hidup di Jakarta itu susah”.

Ada syarat pertama dan utama yang harus dimiliki oleh orang yang hendak tinggal dan bermukim sebagai warga Jakarta maupun orang yang mencari kehidupan dan penghidupan di Jakarta. Harus tahan banting. Maksudnya ketika dibanting, tetap membal, kenyal, dan segera kembali ke bentuk yang semula. Istilah kerennya, memiliki daya resilience yang tinggi, memiliki daya lenting yang prima.

Berikut beberapa hal yang turut menguji sebagian warga jakarta menjadi orang yang tangguh. Yakin, pasti ada di antara warga Jakarta mengalami salah satu atau salah dua di antara kejadian di bawah ini. Kalau iya, bersyukurlah, berarti Anda cukup tangguh.

1.   Balapan dengan sinar mentari

Bagaimana tidak tangguh, hari pun harus kita mulai dengan balapan. Balapan dengan sinar mentari. Masih teringat orang tua selalu mewanti-wanti, “Kalau bangun tuh jangan siang-siang, nanti rejekinya dipatok ayam!” Sekarang nasihat tersebut, ternyata tetap dijalani. Walau karena keterpaksaan. Terpaksa harus balapan dengan sinar mentari. Jika tidak, semua akan kacau. Anak-anak terlambat masuk sekolah, sarapan belum sempat tersedia, bahkan telat masuk ke kantor. Terpaksa sinar mentari harus kita kalahkan.

2.  Mempertahankan kesabaran menunggu kendaraan

Bagi warga yang masih kurang beruntung karena tidak memiliki mobil pribadi atau belum kebagian mobil murah, harus siap melatih kesabaran awal di pagi hari. Menunggu kehadiran angkutan umum kopaja, metromini, busway, kereta, atau bahkan tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan. Terkadang, pekerjaan menunggu angkutan massal ini membutuhkan pertahanan kesabaran ekstratinggi. Sekalipun lewat, belum tentu tersedia tempat, bahkan untuk nyempil sekalipun. Terpaksa menunggu moda selanjutnya. Tidak tanggung-tanggung, pada jam-jam sibuk, terutama pagi dan sore hari, bisa hingga hitungan jam, yang ditunggu tak jua kunjung hadir.

3.   Mandi Sauna

Kendaraan yang ditunggu tak kunjung datang. Begitu datang, penuhnya minta ampun. Sudah jelas-jelas penuh sesak, kondektur tetap matap dengan imbauannya, “Coba ya, bergeser ke tengah, di tengah masih kosong.” Padahal sudah jelas-jelas penuh sesak. Kalau sudah begini, patut bersyukur. Bisa mandi sauna tanpa perlu ke tempat sauna. Keringat dengan aroma tujuh hingga belasan rupa sudah bisa kita hirup. Masih terhitung lumayan kalau mandi saunanya di pagi hari ketika berangkat kerja. Jangan bayangkan aromanya ketika pulang kerja. Jalani saja. Niscaya anda akan menjadi orang yang tangguh.

4.   Bertarung melawan kemacetan

Supaya tahan banting hidup di jakarta, siapkan kondisi fisik yang prima,  ketahanan mental yang tetap terjaga, dan emosi yang terkendali. Pertarungan akan segera dimulai. Yang punya kendaraan sendiri maupun yang menggunakan kendaraan umum sama-sama harus bertarung melawan kemacetan. Yang membedakan, jika menggunakan kendaraan pribadi, masih beruntung. Macetnya masih di tengah kondisi ber-AC, sambil mendengarkan radio, atau sambil bersenandung kecil, atau teriak-teriak sendiri melampiaskan kesal karena macet. Resikonya, harus mengeluarkan biaya ekstra, biaya kemacetan. Bahan bakar yang diperlukan lebih banyak dibandingkan kalau tidak macet. Bagi yang berkendaraan umum, lengkaplah sudah penderitaan. Berdesakan, kepanasan, macet pula. Kita tidak perlu teriak, “Jokowi…Tolong…!”. Ini tanggung jawab semua. Tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tanggung jawab SBY (Pemerintah Pusat) juga. Tanggung jawab kita semua. Jadi, SBY, jangan hanya curhat dan menyalahkan yang lain. Ini tanggung jawab bersama. Yang perlu diingat, jangan keluarkan kebijakan yang saling bertentangan. Cukup sudah kefatalan kebijakan mobil murah. Jangan ditambah lagi dengan kebijakan yang kontra produktif lainnya.

5.   Latihan ketahanan telinga

Tidak cukup hanya di situ, warga Jakarta pun harus memiliki ketahanan terlinga yang ekstra. Bunyi klakson kendaraan tidak cukup hanya ditekan satu kali. Bisa berkali-kali. Padahal sudah jelas-jelas tidak akan memiliki fungsi. Warga Jakarta sudah kebal dengan bunyi klakson. Maksudnya, walau sudah berkali-kali dibunyikan, tetap tak bergeming. Jadi sebenarnya, percuma juga membunyikan klakson.

6.   Latihan adaptasi dengan polusi

Tingkat polusi udara di Jakarta tidak perlu diragukan lagi. Sangat meyakinkan. Yakin seyakin-yakinnya, sangat terpolusi. Berapa banyak polusi udara yang diakibatkan oleh gas buangan knalpot jutaan kendaraan yang memadati Jakarta setiap hari? Berapa banyak karbonmonoksida yang anda hirup? Semoga dapat segera beradaptasi dengan kondisi yang terpolusi. Miris? Ya….

7.   Berpacu melawan penuaan dini

Cobalah sesekali hitung. Berapa waktu terbuang untuk perjalanan yang dilakukan setiap hari? Berapa hari terbuang dalam sebulan hanya untuk menghabiskannya di jalanan ibukota? Tidak perlu terkejut berlebihan. Masih banyak orang-orang di Jakarta dan sekitar Jakarta yang harus menempuh perjalanan lebih dari 4 jam per hari untuk pergi ke dan pulang dari tempat kerjanya. Wow! Siapa yang hendak menyangkal? Mereka termasuk orang-orang yang tangguh! Terdengar terlalu sinis? Mungkin iya. Istilah “tua di jalan” memang benar adanya.

8.  Sikap rela berkorban

Tinggal di Jakarta atau hidup dan berkehidupan dari Jakarta harus senantiasa memupuk sikap rela berkorban. Rela untuk menghadapi situasi berkurangnya waktu berkumpul dengan keluarga. Rela terkorupsi waktunya di jalan. Rela mengorbankan tenaga dan pikirannya hampir habis untuk hal yang seharusnya tidak perlu. Tenaga, pikiran, dan emosi yang terkuras untuk menghadapi jalanan Jakarta seharusnya dapat dialihkan untuk hal-hal yang produktif. Demi mewujudkan waktu yang lebih berkualitas.

Hal-hal yang diungkapkan di atas, bukan sesuatu yang baru. Semua juga sudah tahu. Hanya terkadang, dengan berbagai alasan, kita seolah berupaya berdamai. Menerima karena keterpaksaan. Hanya sekedar menghibur orang Jakarta. Ternyata mereka termasuk orang yang tangguh. Boleh miris, boleh sinis. Inilah Jakarta. Kota yang sering dicaci, diumpat, namun tetap dicintai dan dihuni oleh jutaan warga, dengan segenap alasannya.

Jadi, masih siapkah untuk hidup dan berkehidupan di Jakarta? Semangat! Berarti anda termasuk salah satu orang yang tangguh! Salam. (Del)

Jakarta Kota Metropolitan dengan Budaya Kampung

Jakarta merupakan Kota Metropolitan dengan beragam peran dan fungsi yang disandangnya. Selain sebagai ibukota provinsi, Jakarta juga memiliki peran dan fungsi sebagai ibukota negara. Kota Jakarta tidak dapat dipandang sebagai kota yang berdiri sendiri namun merupakan bagian dari sistem perkotaan global. Jakarta bersama dengan kota-kota di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang telah menjadi sebuah kawasan megapolitan Jabodetabek. Hampir semua markas utama perusahaan besar nasional maupun multi-nasional berlokasi di Jakarta. Jakarta telah memposisikan dirinya sebagai pusat perdagangan dan jasa.

Seiring dengan semakin berkembangnya Kota Jakarta, sebagai kota yang menyandang predikat Kota Metropolitan, ternyata Jakarta juga layak menyandang predikat sebagai Kampung Besar. Kota metropolitan yang masih memiliki budaya kampung. Kampung besar yang memerlukan perhatian serius dari para pemangku kepentingan maupun dari masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sebutan Kampung Besar.  Yang sedikit membuat miris adalah Jakarta sebagai Kota Metropolitan masih memiliki budaya kampung. Budaya kampung masih melekat erat dengan warga Jakarta. Tidak semua budaya kampung buruk. Banyak pula budaya kampung yang sangat bagus. Budaya gotong royong, kebersamaan, kekeluargaan, dan budaya budaya kampung lainnya, layak diterapkan di Jakarta. Yang menjadi masalah adalah ketika budaya tersebut penerapannya tidak tepat. Pengaplikasiannya tidak sesuai dengan lingkungan yang ada, yaitu lingkungan perkotaan. Mulai menjurus tidak hanya budaya kampung, melainkan kampungan.

Tidak perlu ada yang tersinggung. Tidak perlu apriori. Berikut beberapa contoh yang mempertegas Kota Jakarta sebagai Kota Metropolitan yang masih memiliki budaya kampung.

1.  Buang sampah sembarangan

Jengkel rasanya melihat begitu banyaknya sampah berserakan di jalanan ibukota. Kebiasaan buang sampah sembarangan ternyata menjangkiti hampir semua lapisan masyarakat Jakarta. Masih banyak warga ibukota yang dengan wajah tanpa dosanya, membuang sampah seenak sendiri. Merasa tidak bersalah. Seakan itu adalah hal yang lumrah. Apa sulitnya berupaya mencari tempat sampah dan membuang sampah pada tempatnya? Miris melihat orang dengan seenaknya membuang sampah keluar dari jendela mobilnya. Apa susahnya jika mereka menyediakan tempat sampah di dalam mobil? Mungkin yang ada di benaknya, “Ah, nanti juga akan ada penyapu jalan yang akan membersihkannya”.

sampah407834@

Buang sampah sembarangan

Ini salah satu budaya kampung yang melanda Jakarta. Membuang sampah sembarangan di kampung belum terlalu menjadi masalah karena sampah yang dibuang terkadang hanya sampah organik seperti kulit jeruk, sisa makanan, dan sampah organik lainnya. Di buangnya pun ke tanah yang masih dapat secara alami terurai dengan sendirinya. Jangan coba terapkan di Jakarta. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan jenis sampah dan tempat pembuangan yang berbeda, hasilnya akan sangat berbeda. Jenis sampah yang dibuang ke jalanan oleh warga ibukota lebih banyak berupa sampah plastik, dan sampah anorganik lainnya yang tidak akan terurai secara alami.

2.  Sungai adalah tempat sampah besar

Sungai masih dianggap sebagai halaman belakang rumah. Masih tertanam budaya kampung yang menganggap halaman belakang adalah “wilayah kotor”. Ini pula yang dibawa ke Jakarta dan penerapannya salah. Karena dianggap sebagai wilayah belakang, sampah dengan bebasnya dibuang ke halaman belakang. Sungai dianggap sebagai tempat sampah raksasa. Mungkin mereka beranggapan, dengan membuangnya ke sungai, akan mengalir terus dan terbawa ke laut. Memang laut tempat sampah? Pernah menonton satu tayangan di televisi, ketika ditanya alasan membuang sampah ke sungai, dengan polosnya, pelaku menjawab, “ Di lingkungan sini, semua juga seperti itu. Membuang sampah ke sungai”.  Ternyata masih diperlukan sosialisasi dari hal-hal kecil, hal-hal yang kita anggap sepele.

_MG_9635

Anggapan bahwa sungai atau kali adalah tempat sampah besar

3.   Berkegiatan di sungai

Jangan bawa budaya kampung yang satu ini ke Jakarta. Budaya mandi, mencuci, bahkan membuang hajat di sungai tidak dapat diterapkan di sungai-sungai yang ada di Jakarta. Kondisinya sangat berbeda. Dapat dipastikan, hasilnya pun akan berbeda. Sungai-sungai di Jakarta sudah sangat tercemar. Tapi masih saja terdapat sebagian warga yang dengan alasan keterpaksaan, masih berkegiatan di sungai. Masih banyak yang menggunakan sungai sebagai tempat mencuci dan buang hajat.

ciliwung

Berkegiatan di sungai yang telah tercemar

4.   Hidup dan berkehidupan dalam satu lokasi

Dalam buku Jo Santoso,  “Kota Tanpa Warga”,  terdapat salah satu alasan mengapa Jakarta masih layak diberi label Kampung Besar. Menurut Jo Santoso, bagi masyarakat yang tinggal di kampung, bekerja dan bermukim (working and living) adalah dua hal yang terintegrasi. Ternyata itu berlaku di Jakarta. Masih terdapat sebagian warga marjinal yang tinggal di emperan, tidur di emperan. Seluruh kegiatan rumah tangga dilakukan di emperan. Bekerja pun di emperan. Atau, kalau pun tidak di emperan, di sekitar emperan.

IMG00133-20130615-1320

Bekerja dan tinggal di emperan

5.   Merokok di tempat umum

Ini juga salah satu yang menyebalkan. Merokok di tempat umum. Ingin rasanya meneriakkan, “Kalau mau meracuni diri sendiri, tidak usah ngajak-ngajak orang lain!”. Apalagi jika merokok seenaknya di ruangan yang ber-AC atau di kendaraan umum yang tengah disesaki penumpang. “Kok ya masih sempat-sempatnya merokok..”. Larangan merokok di tempat umum sepertinya hanya angin lalu. Budaya kampung yang tidak tepat jika diterapkan serta merta di Jakarta. Di kampung, mungkin dapat lebih leluasa merokok. Udara masih segar, asap buangan rokok masih dapat terserap oleh tanaman-tanaman sekitar atau hilang tertiup angin. Jangan terapkan di Jakarta, apalagi dalam ruangan yang penuh sesak.

rokok2xd

Merokok di tempat umum

6.    Menempati lahan-lahan kosong

Awalnya mendirikan bangunan sementara, bedeng-bedeng dari kayu dan triplek. Lama kelamaan berdirilah bangunan semi permanen. Akhirnya menjadi bangunan permanen. Menempati lahan-lahan kosong, milik pemerintah atau ruang publik lainnya. Bisa di bantaran sungai, pinggiran rel kereta api, bawah jembatan penyeberangan, maupun lahan-lahan kosong lainnya.  Sulit untuk dipindahkan. Merasa bahwa lahan tersebut adalah lahan mereka. Kalau sudah seperti ini, akan lebih sulit untuk mengatasinya. Jokowi-Ahok perlahan tapi pasti berusaha keras untuk memindahkannya. Terlihat ketidakberdayaan pemerintah dan warganya dalam menegakkan konsensus bersama atas “ruang publik”. Ketiadaan kesepakatan tentang yang boleh terbangun dan boleh dilakukan di ruang publik. Mungkin juga lebih pada ketidakberdayaan warga karena ketiadaan pilihan yang lebih baik.

SAMSUNG CSC

Menempati lahan di bantaran sungai

Inilah potret Jakarta kita. Sebuah Kota Metropolitan yang layak dijuluki Kampung Besar. Walaupun kota namun masih memiliki budaya kampung. Kota yang senantiasa menarik bagi orang-orang yang ingin mengadu nasib, mengais rejeki, serta mencoba meraih asa dan cita. Jakarta menjadi kota yang menjadi harapan ketika kota dan desa lain di pelosok tidak mampu memenuhinya.

Yang diperlukan adalah penyadaran masyarakat. Sadar mulai dari hal-hal yang kecil, seperti yang dipaparkan di atas. Sadar bahwa kita hidup bersama di kota, Kota Metropolitan. Konon, kota merupakan pusat peradaban, mengajak kita semua untuk menjadi lebih beradab, lebih sadar akan perilaku yang dapat diterapkan di sebuah kota. Selamat pagi. Salam. (Del)

Sumber Foto:

1. Buang sampah sembarangan

2. Buang sampah di sungai

3. Berkegiatan di sungai

4. Bekerja dan tinggal di emperan, dokumen pribadi

5. Merokok di tempat umum

6. Menempati bantaran sungai