Jokowi Presiden, Ignasius Jonan Menteri Perhubungan?

jonan-kai2

Ignasius Jonan, Direktur Utama PT. KAI
Sumber Foto: http://pudjilestari.files.wordpress.com/2011/08/jonan-kai2.jpg

Setidaknya, itulah yang keluar dari mulut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok berupaya mempromosikan Ignasius Jonan untuk dijadikan Menteri Perhubungan jika Jokowi resmi menjadi Presiden. Pertanyaannya adalah: Serius atau bercanda? Benarkah? Apa alasannya hingga Ahok mempromosikan seorang Ignasius Jonan? Jika Ahok sudah berkata demikian, tentunya ada sesuatu. Apa hebatnya beliau?

Tidak tanggung-tanggung, Ahok mempromosikan Ignasius Jonan sebanyak tiga kali di depan Jokowi, di Balai Kota. Namun, Ignasius mengatakan bahwa belum tentu dia mau. Positifnya, beliau ingin dipercaya karena kompetensi, bukan popularitas. Beliau berkeyakinan bahwa tidak perlu populer karena bukan peserta pemilihan kepala daerah maupun pemilihan Presiden.  Cukup menarik. Siapakah beliau?

Mari kita simak bersama. Ignasius Jonan adalah Direktur Utama PT KAI. Beliau menjabat sejak tahun 2009 dan masa jabatannya akan berakhir Februari 2014. Lahir di Singapura, 21 Juni 1963. Mengecap pendidikan Akuntansi dari Universitas Airlangga yang kemudian melanjutkan pendidikannya di beberapa universitas terbaik dunia, yaitu di Tufts University, Columbia Business School, Harvard University, dan Stanford University. Sebelum menjadi Direktur Utama PT. KAI, beliau pernah menjadi Direktur Citi Group tahun 2006-2008 dan Direktur Utama PT. Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (BPUI) tahun 2001-2006. Dahlan Iskan bahkan menobatkan Ignasius Jonan sebagai salah satu pendekar BUMN yang bersih KKN.

Di tangan Ignasius Jonan inilah, sebuah badan usaha yang kadung terkenal selalu merugi, menjadi berbalik arah. Jadi menghasilkan untung. Kini PT. KAI dapat meraup untung Rp. 400 miliar/tahun. Semuanya digapai dalam tempo 4 tahun. Pelayanannya  kepada publik menjadi semakin prima. Banyak terobosan-terobosan yang telah dilakukan oleh Ignasius Jonan. Banyak pula yang menyisakan kontroversi. Tapi, menurut hemat saya, seorang pemimpin memang harus berani ambil resiko. Resiko yangl akan dia dapat karena menjalankan kebijakan yang tidak populis atau kebijakan yang dianggap keras. Seorang pemimpin memang membutuhkan nyali baja. Berani menegakkan aturan. Salah satunya dengan penerapan pembersihan stasiun dari lapak kaki lima. Pro kontra riuh terdengar. Di sinilah kepemimpinan seseorang teruji.

Ketika awal menjabat sebagai Direktur PT. KAI, Ignasius Jonan memulainya dengan membenahi sistem penampungan limbah toilet di kereta api. Beliau baru menyadari bahwa ternyata limbah dari penumpang langsung dibuang ke tanah. Menurut pendapatnya, pembenahan toilet harus dilakukan karena toilet juga merupakan cermin perilaku suatu masyarakat. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa adanya toilet. Sebenarnya filosofi utamanya adalah bahwa beliau ingin mengajak seluruh karyawan PT. KAI untuk mengedepankan pelayanan terhadap konsumen (customer oriented). Beliau ingin mengubah persepsi dan paradigma para karyawan PT. KAI, supaya lebih mengedepankan pelayanan kepada penumpang. Selama ini PT. KAI terlalu percaya diri karena merasa tidak memiliki saingan.

Ignasius Jonan cukup lama bergerak di bidang keuangan. PT. KAI merupakan bidang yang baru baginya. Nada keraguan pun kerap terdengar. Dengan latar belakang urusan finansial tanpa pengalaman penataan transportasi sama sekali. Namun, dengan tekad bekerja semaksimal mungkin, beliau berupaya untuk mematahkan prediksi. Ignasius Jonan menganggap bahwa kedua bidang, keuangan dan transportasi tidak berbeda jauh. Keduanya bergerak di bidang service industry. Sama-sama mengedepankan pelayanan. Yang membedakan hanya kemasannya.

Itu pula prinsip yang beliau usung. Berupaya menjadikan PT. KAI tidak lagi berorientasi pada produk tapi berorientasi pada pelayanan. Masih dalam proses. Masih jauh dari tercapai. Tapi sudah dalam arah yang benar. Perbaikan fundamental sedang dalam progres, yaitu pada kinerja keuangan, manajemen, dan terutama pada pelayanan kepada pengguna jasa kereta api.

Begitulah. Ignasius Jonan, Sang Direktur PT. KAI, yang dulunya berkecimpung di bisnis keuangan, sedang terus berupaya keras untuk melakukan berbagai perbaikan di tengah keterbatasan yang ada, terutama masalah keuangan. Salah satu yang krusial adalah dana untuk perbaikan prasarana dan sarana pengoperasian kereta api. Biaya tersebut harusnya ditanggung negara sebagai wujud pelayanan terhadap publik.  Sarana dan prasarana yang dibutuhkan meliputi rel, gerbong kereta api, sinyal, dan stasiun, beserta kelengkapan lainnya.

Layakkah beliau menerima tugas sebagai Menteri Perhubungan? Saya rasa layak. Setidaknya, daripada Menteri yang berasal dari Partai masih lebih baik jika berasal dari kalangan profesional. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s