Mainan Apa yang Menjadi Favorit Anak ?

Gambar

Salah satu hasil karya anak

Jika pertanyaan itu ditanyakan pada anak-anak saya, jawabannya pasti Lego. Siapa yang tidak mengenal Lego? Rasanya, hampir semua mengenal Lego. Hingga saat ini, Lego masih memegang predikat sebagai mainan favorit anak-anak. Bukan saja menjadi favorit anak, tapi juga untuk orang dewasa. Mainan Lego tidak mengenal usia, dapat dimainkan oleh semua kalangan. Daya pikat Lego telah membuat anak-anak betah berjam-jam berkutat untuk membongkar pasang bongkahan-bongkahan plastik warna-warni hasil kreasi Ole Kirk Christiansen.

Gambar

Anak dan hadiah ulang tahun pilihannya

Gambar

Bersama koleksi lego nya

Di Indonesia, permainan Lego telah lama dikenal dan diperjual belikan. Lego adalah salah satu permainan buatan Denmark yang terdiri dari seperangkat mainan berupa balok-balok kecil yang terbuat dari plastik yang dapat dibongkar pasang. Dalam satu set permainan, terdapat beragam bentuk persegi panjang yang dapat dijadikan beragam bentuk, misal bentuk pesawat, rumah, mobil, motor, kereta api, gedung, rumah, taman, dan sebagainya. Semua bentuk dapat dibuat sesuai dengan keinginan, tingkat kreativitas, dan imajinasi anak. Bangunan Lego yang telah dibentuk dapat dibongkar kembali dan diubah menjadi bentuk yang lainnya. Inilah yang menjadi keistimewaannya. Inilah yang membuat Lego tidak membosankan.

Gambar

Bersama hasil karyanya

Gambar

Rumah hasil rancang bangun Lego

Walau pada dasarnya dapat dimainkan oleh segala usia, namun Lego memiliki klasifikasi umur. Kita dapat memilih Lego dan disesuaikan dengan umur anak. Terdapat beragam manfaat dari permainan lego, antara lain:

1.  Memacu kreativitas.

Anak dirangsang untuk mengembangkan daya cipta, imajinasi, dan kreativitasnya. Anak juga dapat mengembangkan ide-ide dalam mewujudkan kreasinya atau bertukar ide jika dimainkan secara bersama. Selain itu, dapat juga menumbuhkan rasa seni, seni untuk menciptakan sesuatu.

2.   Menumbuhkan rasa seni

Anak dapat mengasah rasa seninya, misal seni dalam menciptakan suatu karya bangunan yang tersusun dari balok-balok plastik. Siapa tahu, sang anak berniat untuk menjadi arsitek kelak kemudian hari.

3.    Melatih kesabaran

Anak dilatih untuk memiliki kesabaran dalam menyusun satu persatu balok yang ada.

4.   Melatih kejelian

Anak belajar untuk melatih kejelian dalam membangun suatu bentuk bangunan yang rumit. Dibutuhkan pula kejelian dalam memilih warna maupun bentuk.

5.   Mengasah bakat

Ketika bermain lego, secara tidak sadar, tengah melatih bakat anak. ,misal mengasah bakat anak untuk menjadi seorang arsitek atau ahli perencana kota sebagai bekal di hari tua nanti.

6.   Belajar berkomunikasi & berbagi ide

Jika permainan dilakukan bersama, anak dapat belajar berkomunikasi dan saling berbagi ide sehingga hasilnya lebih memuaskan. (Del)

Advertisements

Senggigi Harus Unjuk Gigi

Kebetulan, dalam jangka waktu yang tidak terlampau lama, kembali mendapatkan tugas ke Pulau Lombok. Terlihat ada yang berbeda dengan kawasan Senggigi dibandingkan kunjungan sekitar 2 bulan yang lalu. Di kawasan seputar Senggigi, terutama di jalur tempat para wisatawan nongkrong sekedar menikmati suasana indahnya pantai Senggigi, sekarang mulai ditata, dalam arti telah ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung “tempat nongkrong” di sepanjang Pantai Senggigi. Di beberapa spot lokasi telah dilengkapi dengan area yang disediakan khusus untuk sekedar menikmati suasana alam, menikmati keindahan Pantai Senggigi. Salah satunya berupa bangunan terbuka dengan dilengkapi bangku dan meja. Semua ditujukan agar para wisatawan dapat menikmati suasana alam sambil menikmati jagung bakar, rujak, kelapa muda, atau secangkir kopi.

Gambar

Pantai Senggigi nan indah

Dari beberapa spot di sepanjang jalan yang menyusur Pantai Senggigi, para wisatawan dapat rehat sejenak, menikmati indahnya alam, indahnya Pantai Senggigi yang terhampar di bawahnya. Sejenak melepas penat, atau menerbangkan khayalan ke negeri antah berantah, atau membiarkan hati menggalau ditemani hembusan angin yang menerpa.

Gambar

Pantai Senggigi

Gambar

Menikmati jagung bakar di Pantai Senggigi

Gambar

Jagung bakar di Pantai Senggigi

Penataan kawasan di sepanjang pantai Senggigi sudah benar. Selain menyediakan alternatif kawasan wisata pantai yang murah meriah dan dapat dinikmati semua wisatawan, juga untuk menepis anggapan bahwa pantai hanya dikuasai oleh hotel dan resort yang berderet di sepanjang Pantai Senggigi.

Gambar

Sampah yang berserakan, sangat mengganggu

Niat untuk menata dan membenahi kawasan Senggigi sudah baik, namun sayang seribu sayang. Sekali lagi, warga, khususnya para pelaku pariwisata di Pulau Lombok seakan belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ini merupakan salah satu modal jika ingin bergelut di dunia pariwisata. Ada hal yang terasa mengganggu ketika kita melayangkan pandang pada indahnya suasana. Ada sesuatu yang merusak pandangan, sangat kontras dengan indahnya pantai yang terbentang di bawah sana.

Gambar

Lereng yang dipenuhi sampah

Para pedagang seharusnya diberikan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Juga mengingatkan para pengunjung, agar tidak membuang sampah sembarangan. Jadi teringat dengan kesadaran pelaku wisata di Pulau Bali. Para pedagang dengan kesadaran penuh, di pagi hari sebelum membuka lapak di sepanjang Pantai Bali, baik di Sanur, Kuta, maupun pantai yang lainnya, dengan sukarela, membersihkan sampah/kotoran yang ada. Mereka sadar, lingkungan yang bersih tentunya akan tetap mengundang wisatawan datang berkunjung. Ini yang belum dimiliki oleh pelaku wisata di Lombok. Perlahan, diperlukan penyadaran bagi para pelaku wisata di Lombok. Sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Terlihat tebaran dan onggokan sampah di bawah tebing. Tebing seakan menjadi tempat sampah besar. Sangat mengganggu pandangan. Perlu pembenahan pula.

Untuk mendukung pariwisata Lombok, perlu ditunjang oleh penyadaran masyarakatnya, khususnya para pelaku yang terlibat dalam pariwisata. Masih sering ditemui, hal-hal yang mengganggu. Misal, banyaknya pedagang asongan di sepanjang Pantai Senggigi, Pantai Kuta, maupun Pantai Tanjung Aan, yang menjajakan dagangannya dengan sedikit “memaksa” atau kurang ramah.

Memang membutuhkan waktu. Bali pun demikian.  Bali sekarang, tidak serta merta seperti sekarang. Membutuhkan proses pembelajaran industri pariwisata yang cukup panjang. Semoga Lombok pun dapat belajar, untuk menata, mengembangkan, dan mengelola potensi pariwisatanya. Sehingga semakin banyak destinasi wisata Indonesia yang muncul ke permukaan. Sengigi pun harus unjuk gigi. Salam. (Del)

NTB = Nasib Tergantung Bali

NTB = Nasib Tergantung Bali. Sejujurnya, agak terkejut juga mendengar anekdot ini. Perkataan tersebut meluncur dari mulut warga Provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri. Tersirat rasa pesimis di sana. Terbersit keputus asaan akan kondisi yang ada. Pariwisata Lombok menyimpan berjuta potensi. Tidak kalah dengan kondisi alam di Bali. Banyak pantai di Lombok yang sama indahnya dengan yang ada di Bali. Mulai dari Pantai Senggigi, Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan, pink beach di Kabupaten Lombok Timur, bahkan masih banyak lagi pantai yang belum tereksplorasi. Ditambah dengan pesona tiga gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Potensi Lombok terasa semakin lengkap dengan beragam ciri khas lainnya yang dapat “dijual” untuk pengembangan potensi pariwisatanya, misal adat dan budaya suku aslinya, Kampung Sade, makanan khas taliwang, hasil olahan budidaya rumput laut, kerajinan emas dan mutiara, serta sejuta potensi lainnya.

Lalu, mengapa muncul anekdot “Nasib Tergantung Bali? Bukankah akan lebih indah jika pengembangan pariwisata di Pulau Lombok dapat saling melengkapi, dapat saling mendukung dengan pengembangan pariwisata di Pulau Bali? Juga dapat mendukung pengembangan pariwisata MICE yang tengah gencar dilakukan di Pulau Bali. Seperti beberapa waktu berselang, ketika Bandara Internasional Lombok (BIL), bandara yang ada di Pulau Lombok, turut pula mendukung penyelenggaraan APEC dengan menyediakan Bandaranya sebagai landasan alternatif maupun tempat parkir pesawat-pesawat peserta APEC.

Gambar

Ilustrasi Masterplan Mandalika Resort
Sumber : http://www.mandalikaresortlombok.com/what-is-mandalika-resort.html

Mungkin ini dilatarbelakangi oleh  rencana pengembangan beberapa kawasan wisata di Pulau Lombok yang seakan jalan  di tempat. Salah satunya terkait dengan pengembangan Kawasan Wisata “Mandalika Resort”.  Mungkin juga karena kebetulan yang menggarap Kawasan Wisata Mandalika Resort sama dengan yang menggarap Kawasan Wisata Nusa Dua di Bali, yaitu Bali Tourism Development Corporation (BTDC), sehingga muncullah anekdot tersebut. Walaupun, sesungguhnya, kesamaan korporasi yang mengelola tidak menjadi masalah sepanjang pelaksanaannya juga berhasil seperti yang telah dilakukan di Kawasan Wisata Nusa Dua Bali.

Gambar

Pantai Tanjung Aan
Sumber Foto: dokumen pribadi

Pengembangan Kawasan Wisata Mandalika Resort direncanakan akan dilakukan di kawasan seluas lebih dari 1.000 Ha.  Mandalika Resort terletak di selatan Lombok dengan jarak hanya sekitar 20 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Lombok, juga hanya 25 menit dari terminal feri utama di Pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Di kawasan seluas 1.035 Ha, Mandalika Resort memiliki 7,5 km pantai indah dan teluk, serta dikelilingi oleh zona konservasi seluas kurang lebih 3.000 Ha.

Pelaksanaan pengembangan seakan jalan di tempat, karena kawasan Mandalika telah dicanangkan oleh SBY sejak Oktober 2011. Namun hingga saat ini, belum terlihat jelas tanda-tanda kegiatannya. Memang sudah mulai, namun progressnya terasa lambat. Bahkan, masih terkendala oleh penyelesaian 135 Ha. lahan yang diklaim oleh beberapa pihak, sehingga belum dapat dilakukan pembebasan. Pihak DPRD Provinsi NTB, mendesak Pemerintah Provinsi  untuk mengambil alih penanganan Mandalika.

Angin segar mulai bertiup, akan diupayakan penyelesaian masalah lahan karena investor tidak akan mulai membangun bila masalah lahan belum terselesaikan. Semoga bermacam program pengembangan pariwisata di Pulau Lombok dapat berjalan dengan lancar. Sehingga tidak akan ada lagi anekdot NTB = Nasib Tergantung Bali. Anekdot tersebut dapat berganti menjadi NTB = Nyaman Tiada Bandingannya.  Sehingga dapat menarik minat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Salam. (Del)

Sentra Mutiara Khas Lombok Sekarbela: Mulai Meredup?

Gambar

Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela di Mataram, NTB

Lombok dan Mutiara bagaikan dua kata yang tidak terpisahkan. Identitas yang sudah melekat erat dengan Pulau Lombok. Ke Lombok belum sah bila belum membawa oleh-oleh mutiara. Lombok tidak hanya kaya dengan keindahan alam, pantai, dan kerajinan tangan khas lainnya. Lombok juga terkenal dengan mutiaranya. Terdapat beragam tempat penjualan perhiasan mutiara di Pulau Lombok, mulai dari yang kelas galery hingga yang kelas kaki lima. Bahkan di depan hotel-hotel baik di pusat Kota Mataram maupun di hotel/resort sepanjang Pantai Senggigi pun banyak yang menjual bermacam perhiasan mutiara. Harga tentu bervariasi mulai dari  mutiara “tiruan”, bukan mutiara asli, yang harganya super duper murah, sampai mutiara yang dihargai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Semuanya tergantung kualitasnya, juga tergantung lokasi penjualannya.

Terkadang konsumen tidak mengetahui cara membedakan mutiara yang asli dengan grade unggulan, mutiara air laut, mutiara air tawar, maupun mutiara yang aspal. Bagi orang yang awam dalam dunia per-mutiara-an, sekilas mutiara-mutiara tersebut tampak sama dan serupa. Namun, jika dilihat dan ditilik secara lebih teliti, terlihat perbedaannya.

Gambar

Deretan toko emas dan mutiara di sepanjang Jalan Sultan Kaharudin, Sekarbela, Mataram

Gambar

Suasana depan deretan toko emas dan mutiara yang tampak lengang di Sekarbela, Mataram

Terdapat banyak sentra penjualan mutiara yang tersebar di Pulau Lombok. Salah satunya adalah Pusat Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela. Sekarbela merupakan sebuah desa yang berjarak sekitar 4 km dari pusat Kota Mataram. Terdapat di Kelurahan Karang Pule, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan sejarahnya, dulu Sekarbela merupakan areal persawahan yang kemudian berubah fungsi menjadi pusat kerajinan emas dan mutiara dengan harga yang sangat bersaing. Sekarbela telah lama ada sebagai pusat pengrajin dan pusat penjualan emas berhiaskan mutiara.

Gambar

Sentra kerajinan emas dan mutiara Sekarbela, Mataram. Tampak tidak terlalu ramai

Berdasarkan informasi yang didapat, Sentra kerajinan mutiara Sekarbela sudah lama ada. Sudah terkenal sejak dulu. Awalnya para pedagang yang ada di Sekarbela adalah pedagang yang berasal dari Arab. Banyak orang Arab yang awalnya datang untuk berdagang, namun akhirnya menetap di Sekarbela, menikah dengan penduduk setempat.

Kunjungan ke Mataram bukan yang pertama kali, sudah berkali-kali. Namun, ada satu hal yang membuat penasaran dan menyisakan tanya. Mengapa setiap mengatakan ingin ke Sekarbela pada sopir yang mengantar, selalu dijawab, “Sebaiknya, jangan ke Sekarbela Bu. Lebih baik ke tempat lainnya, nanti saya tunjukkan. Tempat penjualan mutiara yang nanti saya tunjukkan sudah dijamin keasliannya, ada sertifikatnya”. Ujungnya, kami diantar ke tempat penjualan mutiara lainnya, yaitu ke sebuah show room penjualan mutiara, atau lebih tepatnya ke Galery. Bisa ditebak, harganya pun selangit, tidak sesuai dengan kocek di kantong. Paling tidak, telah dua kali kejadian ini saya alami. Terpikir, “Wah, ini pasti akal-akalan sopir rental mobilnya”. Mungkin karena galery yang dimaksud telah bekerja sama dengan para sopir. Dengan hati masygul, ketika kembali meminta untuk diantar ke Sekarbela, sang sopir menjelaskan, “Kalau di Sekarbela, saya tahu persis, mereka itu pengrajin. Banyak yang nakal. Mutiara yang dijual bukan mutiara asli, namun berasal dari kerang yang dibentuk sedemikian rupa, menjadi “serupa mutiara”. Benarkah? Memang bisa kerang diolah sedemikian rupa menjadi menyerupai mutiara? Atau ini juga akal-akalan sopir? Hehehe…Perlu lebih pintar untuk mensiasati sopir rental ini demi keingintahuan tentang Sekarbela. Akhirnya dengan raut wajah yang berubah, sopir mau juga mengantar ke Sekarbela.

Gambar

Suasana di dalam salah satu toko perhiasan emas dan mutiara di Sekarbela, Mataram

Gambar

Aneka perhiasan mutiara di Sekarbela, Mataram

Gambar

Sebagian koleksi perhiasan mutiara di Sekarbela, Mataram

Ternyata yang dimaksud dengan Pusat Sentra Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbela adalah kawasan di sepanjang jalan Sultan Kaharudin. Sepanjang jalan terlihat deretan kios maupun toko yang menjual aneka perhiasan berhiaskan mutiara. Perhiasannya bermacam, ada yang berbahan dasar emas kuning, emas putih, perak, atau sekedar berlapis emas, bahkan yang berbahan dasar stainless. Tentu harganya bervariasi tergantung bahan dasar perhiasan dan jenis mutiaranya. Ada mutiara budidaya laut dan mutiara budidaya air tawar. Desainya mulai dari kalung, cincin, anting, giwang, gelang, bros, maupun asesoris lainnya. Yang paling disukai pembeli tentunya yang memiliki ciri khas Lombok, yaitu desain yang dikombinasikan dengan mutiara. Mutiara yang tersedia, selain dibedakan dari jenis budidayanya, juga terdapat beragam warna, putih, kuning keemasan, coklat, dan hitam. Menurut penjualnya, mutiara air laut yang dibudidayakan di Lombok dikenal dengan sebutan “South Sea Pearl”. Mutiara air laut memiliki tekstur yang berbeda dari mutiara air tawar. Warnanya lebih creamy atau lebih keemasan. Kerap disebut pula “Golden South Sea Pearl”. Mutiara air laut memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan mutiara air laut.

Yang terpikir adalah, Lombok memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan Bali. Lombok dapat saling melengkapi dengan pariwisata Bali. Namun, sayang pengelolaan pariwisata di Lombok masih sangat kurang. Penduduknya pun masih perlu belajar banyak dari Bali. Jika setiap sopir bersikap seperti ini, sangat berpengaruh pada perkembangan Sekarbela. Padahal potensi yang tersimpan dari Sekarbela, sangat besar. Lama kelamaan pamor Sekarbela bukan tidak mungkin, akan meredup. Adakah yang mau membela? Salam. (Del)

Kinerja Camat dan Lurah Hasil Lelang Jabatan Buruk: Perlu Dipecat?

Gambar

Pelantikan Camat dan Lurah hasil lelang jabatan
Sumber Foto: http://sin.stb.s-msn.com/i/CD

Hari ini, tepat satu tahun Jokowi-Ahok memimpin Jakarta. Satu tahun berlalu dengan cepat. Telah banyak capaian yang diraih oleh duet Jokowi-Ahok untuk Jakarta. Sebagian telah tuntas dilaksanakan, sebagian masih dalam proses pelaksanaan, dan bagian lainnya belum sempat tersentuh. Masih dalam proses perencanaan. Beberapa program Jakarta yang terekam dapat dilihat di artikel Selamat Ulang Tahun Pertama untuk Jokowi-Ahok.

Satu tahun terlewati. Salah satu gebrakan kepemimpinan Jokowi-Ahok adalah “lelang jabatan” beberapa waktu lalu. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai program seleksi dan promosi terbuka bagi para calon Camat dan Lurah.  Bagaimana kinerja para Camat dan Lurah tersebut?

Ternyata Ahok mengaku sangat kecewa dengan kinerja yang dihasilkan oleh para Camat dan Lurah hasil “Lelang Jabatan”. Ahok menganggap para aparat tersebut kurang memiliki integritas, dan dinilai tidak bisa memperhatikan rakyat ibukota. Dalam format persentase, hanya sekitar 20 % saja yang telah memenuhi standar integritas dan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Sekitar 60% hasilnya tidak memuaskan, dan 20% sisa lainnya berprestasi sedang-sedang saja.

Lain Ahok, lain pula pendapat Jokowi. Jokowi menilai lelang jabatan sudah berjalan baik, paling tidak beliau menolak jika lelang jabatan dikatakan gagal hanya karena tertangkapnya Lurah Ceger, Cipayung, Jakarta Timur atas terindikasinya penyelewengan dana APBD. Jika masih ada yang kurang sesuai harapan, ke depannya tinggal terapkan perbaikan. Agar hasilnya lebih baik.

Dari hasil penilaian tersebut, akankah Ahok mengganti Lurah dan Camat hasil lelang jabatan? Akankah Jokowi dan Ahok memecat Camat dan Lurah yang memiliki kinerja buruk? Seharusnya tidak berlaku untuk semuanya. Masih terdapat Lurah dan Camat yang memiliki kinerja bagus. Dan mungkin pula, dari 20% yang berprestasi sedang-sedang saja dapat meningkatkan kinerjanya. 60% sisa lainnya yang berkinerja tidak memuaskan harus diberi warning, diberikan peringatan. Kalau memang kinerjanya parah, maksudnya buruknya parah, silakan pecat. Berikan pula kesempatan bagi mereka yang masih memiliki harapan perbaikan untuk bekerja lebih baik. Evaluasi memang wajib, disertai catatan perbaikan. Catatan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja. Toh mereka belum genap 6 bulan bekerja. Masih perlu diberikan tambahan waktu untuk memperlihatkan kinerja. Meningkatkan integritas, demi melayani warga.

Jika nantinya diadakan lelang jabatan lagi, untuk menjaring Lurah dan Camat baru atau Lurah dan Camat pengganti yang berkinerja tidak baik, seharusnya promosinya lebih kencang. Supaya daya jangkau penjaringan calon lebih andal. Lebih dapat diandalkan. Siapa tahu waktu lelang jabatan yang pertama, belum menjaring orang-orang yang tepat, yang dicari Jokowi-Ahok. Tertarik? Salam. (Del)

Sumber:  Ahok Kecewa Sebagian Besar Camat dan Lurah Hasil Lelang

 

Jokowi Presiden, Ignasius Jonan Menteri Perhubungan?

jonan-kai2

Ignasius Jonan, Direktur Utama PT. KAI
Sumber Foto: http://pudjilestari.files.wordpress.com/2011/08/jonan-kai2.jpg

Setidaknya, itulah yang keluar dari mulut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok berupaya mempromosikan Ignasius Jonan untuk dijadikan Menteri Perhubungan jika Jokowi resmi menjadi Presiden. Pertanyaannya adalah: Serius atau bercanda? Benarkah? Apa alasannya hingga Ahok mempromosikan seorang Ignasius Jonan? Jika Ahok sudah berkata demikian, tentunya ada sesuatu. Apa hebatnya beliau?

Tidak tanggung-tanggung, Ahok mempromosikan Ignasius Jonan sebanyak tiga kali di depan Jokowi, di Balai Kota. Namun, Ignasius mengatakan bahwa belum tentu dia mau. Positifnya, beliau ingin dipercaya karena kompetensi, bukan popularitas. Beliau berkeyakinan bahwa tidak perlu populer karena bukan peserta pemilihan kepala daerah maupun pemilihan Presiden.  Cukup menarik. Siapakah beliau?

Mari kita simak bersama. Ignasius Jonan adalah Direktur Utama PT KAI. Beliau menjabat sejak tahun 2009 dan masa jabatannya akan berakhir Februari 2014. Lahir di Singapura, 21 Juni 1963. Mengecap pendidikan Akuntansi dari Universitas Airlangga yang kemudian melanjutkan pendidikannya di beberapa universitas terbaik dunia, yaitu di Tufts University, Columbia Business School, Harvard University, dan Stanford University. Sebelum menjadi Direktur Utama PT. KAI, beliau pernah menjadi Direktur Citi Group tahun 2006-2008 dan Direktur Utama PT. Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (BPUI) tahun 2001-2006. Dahlan Iskan bahkan menobatkan Ignasius Jonan sebagai salah satu pendekar BUMN yang bersih KKN.

Di tangan Ignasius Jonan inilah, sebuah badan usaha yang kadung terkenal selalu merugi, menjadi berbalik arah. Jadi menghasilkan untung. Kini PT. KAI dapat meraup untung Rp. 400 miliar/tahun. Semuanya digapai dalam tempo 4 tahun. Pelayanannya  kepada publik menjadi semakin prima. Banyak terobosan-terobosan yang telah dilakukan oleh Ignasius Jonan. Banyak pula yang menyisakan kontroversi. Tapi, menurut hemat saya, seorang pemimpin memang harus berani ambil resiko. Resiko yangl akan dia dapat karena menjalankan kebijakan yang tidak populis atau kebijakan yang dianggap keras. Seorang pemimpin memang membutuhkan nyali baja. Berani menegakkan aturan. Salah satunya dengan penerapan pembersihan stasiun dari lapak kaki lima. Pro kontra riuh terdengar. Di sinilah kepemimpinan seseorang teruji.

Ketika awal menjabat sebagai Direktur PT. KAI, Ignasius Jonan memulainya dengan membenahi sistem penampungan limbah toilet di kereta api. Beliau baru menyadari bahwa ternyata limbah dari penumpang langsung dibuang ke tanah. Menurut pendapatnya, pembenahan toilet harus dilakukan karena toilet juga merupakan cermin perilaku suatu masyarakat. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa adanya toilet. Sebenarnya filosofi utamanya adalah bahwa beliau ingin mengajak seluruh karyawan PT. KAI untuk mengedepankan pelayanan terhadap konsumen (customer oriented). Beliau ingin mengubah persepsi dan paradigma para karyawan PT. KAI, supaya lebih mengedepankan pelayanan kepada penumpang. Selama ini PT. KAI terlalu percaya diri karena merasa tidak memiliki saingan.

Ignasius Jonan cukup lama bergerak di bidang keuangan. PT. KAI merupakan bidang yang baru baginya. Nada keraguan pun kerap terdengar. Dengan latar belakang urusan finansial tanpa pengalaman penataan transportasi sama sekali. Namun, dengan tekad bekerja semaksimal mungkin, beliau berupaya untuk mematahkan prediksi. Ignasius Jonan menganggap bahwa kedua bidang, keuangan dan transportasi tidak berbeda jauh. Keduanya bergerak di bidang service industry. Sama-sama mengedepankan pelayanan. Yang membedakan hanya kemasannya.

Itu pula prinsip yang beliau usung. Berupaya menjadikan PT. KAI tidak lagi berorientasi pada produk tapi berorientasi pada pelayanan. Masih dalam proses. Masih jauh dari tercapai. Tapi sudah dalam arah yang benar. Perbaikan fundamental sedang dalam progres, yaitu pada kinerja keuangan, manajemen, dan terutama pada pelayanan kepada pengguna jasa kereta api.

Begitulah. Ignasius Jonan, Sang Direktur PT. KAI, yang dulunya berkecimpung di bisnis keuangan, sedang terus berupaya keras untuk melakukan berbagai perbaikan di tengah keterbatasan yang ada, terutama masalah keuangan. Salah satu yang krusial adalah dana untuk perbaikan prasarana dan sarana pengoperasian kereta api. Biaya tersebut harusnya ditanggung negara sebagai wujud pelayanan terhadap publik.  Sarana dan prasarana yang dibutuhkan meliputi rel, gerbong kereta api, sinyal, dan stasiun, beserta kelengkapan lainnya.

Layakkah beliau menerima tugas sebagai Menteri Perhubungan? Saya rasa layak. Setidaknya, daripada Menteri yang berasal dari Partai masih lebih baik jika berasal dari kalangan profesional. Salam. (Del)

Selamat Ulang Tahun Pertama untuk Jokowi-Ahok

Gambar

Jokowi dan Ahok saat pelantikan, 15 Oktober 2012
Sumber Foto: http://data.tribunnews.com/foto/images/preview/20121015_Jokowi_dan_Ahok_Dilantik_3304.jpg

Tanpa terasa, kepemimpinan Jokowi-Ahok di DKI Jakarta akan genap satu tahun pada tanggal 15 Oktober 2013 esok. Selama kurun waktu satu tahun, Jakarta tidak pernah sepi dari dinamika permasalahan. Ada yang dapat tertangani dengan baik, ada yang masih dalam proses penanganan, ada pula yang masih tertatih-tatih dan butuh dukungan penuh serta kadar kritisi yang wajar. Tidak ada salahnya jika mencoba untuk kilas balik. Program-program apa saja yang telah diusung oleh duet Jokowi-Ahok yang telah maupun sedang dilaksanakan. Kinerja apa saja yang telah dicapai oleh pasangan yang selalu menjadi topik pemberitaan hangat di berbagai media.

Berikut beberapa program besar yang sempat terekam:

1.  Kartu Jakarta Sehat (KJS)

KJS merupakan salah satu program Jokowi-Ahok yang waktu kampanye dijadikan andalan. KJS merupakan jaminan pemeliharaan kesehatan yang diberikan oleh Provinsi DKI Jakarta kepada warganya dalam bentuk bantuan pengobatan terutama bagi keluarga miskin dan kurang mampu dengan sistem rujukan berjenjang. Program KJS bukan tanpa kendala. Bahkan diwarnai oleh demo dari para dokter. Hingga saat ini, telah KJS telah dibagikan pada 2,3 juta orang dari target 4,7 juta orang.

2.  Kartu Jakarta Pintar

Sama halnya dengan program Kartu Jakarta Sehat, pendidikan pun mendapat perhatian dari pasangan Jokowi-Ahok. Dengan Kartu Jakarta Pintar diharapkan warga yang tidak mampu membayar biaya lainnya di luar biaya SPP, seperti uang seragam, buku, sepatu, dan lain-lain, dapat terpenuhi. Ke depan, masih diperlukan tambahan daya jangkau KJP agar dapat menyentuh seluruh warga yang membutuhkan.

3.  Program penanganan banjir

Permasalahan banjir harus diakui tidak dapat diselesaikan sendiri oleh Jakarta. Tidak semua langkah berada dalam kewenangan Jokowi-Ahok selaku Gubernur dan Wakil Gubernur. Salah satu contohnya, normalisasi 13 sungai yang melewati Jakarta merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum. Penanganan banjir juga tidak semata penanganan di wilayah Jakarta yang merupakan wilayah hilir. Perlu penanganan permasalahan dalam sistem yang lebih luas, melibatkan kawasan yang berada di bagian hulu, terutama di kawasan Puncak dan Bogor. Seharusnya pihak pemerintah pusat berperan sebagai leader.

4.  Peremajaan bus kota dan integrasi bus kota ke Transjakarta

Peremajaan bus kota masih belum tertuntaskan. Begitu pun dengan integrasi bus kota dengan Transjakarta. Warga Jakarta pun masih menantikan pelayanan Transjakarta 24 jam. Setuju dengan prinsip yang diusung oleh Jokowi-Ahok. Perbanyak moda transportasi massal agar kemacetan sedikit demi sedikit terurai dan teratasi.  Semoga di tahun 2014 nanti, angkutan kota baru mulai mewarnai wajah Jakarta.

5.  Normalisasi Waduk dan Penataan Permukiman

Jokowi-Ahok mulai menata permukiman liar di sekitar waduk. Sebagian telah berhasil direlokasi. Waduk dinormalisasi dan kawasan sekitar waduk dapat kembali ke fungsinya semula, yaitu sebagai ruang terbuka hijau. Selain itu, dapat menambah alokasi persediaan air baku bagi Jakarta. Contoh yang telah tersentuh penataan, antara lain Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio. Segera akan menyusul Waduk Sunter, Waduk Tomang Barat, Waduk Rawa Badak, dan Waduk Cibubur. Jakarta memiliki banyak waduk yang harus dikembalikan pada fungsi asalnya. Proses ini tentunya memerlukan waktu dan anggaran besar. Pemindahan warga di bantaran waduk disertai pula dengan pembangunan kampung deret maupun bentuk penataan kawasan lainnya, seperti yang dikampanyekan Jokowi-Ahok dulu. Masih banyak bahkan ratusan lokasi area kumuh Jakarta yang perlu penanganan.

6.  Penataan PKL

Contoh nyatanya sudah mulai terlihat. Penataan kawasan Tanah Abang yang semula disesaki oleh pedagang kaki lima, perlahan tapi pasti dapat dipindahkan ke Blok G. Masih terekam dalam ingatan, saat Ahok dengan gayanya yang khas berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak setuju relokasi. Masih diperlukan penataan area kaki lima lainnya, misalnya di Kawasan Fatahillah, Jakarta Barat atau di lokasi-lokasi lainnya.

7.  MRT dan Monorel

Tetap konsisten dengan program transportasi massal. Dokumen perencanaan MRT yang sudah rampung sejak jaman Sutiyoso dulu, ternyata baru pada kepemimpinan Jokowi-Ahok dapat terealisasi. Memang untuk memimpin Jakarta, dibutuhkan nyali dan ketegasan. Tentunya disertai dengan perhitungan matang. Pembangunan monorel baru akan rampung 3 tahun lagi dan MRT 5 tahun lagi. Namun, paling tidak, Jokowi-Ahok telah memulainya.

8.  Penerapan Zonasi Parkir dan ERP

Penerapan tarif parkir berdasar zonasinya sampai saat ini belum diterapkan. Masih menunggu kelengkapan dan perbaikan angkutan publik. Setidaknya, menunggu datangnya bus baru yang katanya akan hadir di Bulan November atau Desember. Penerapan ERP (sistem jalan berbayar secara elektronik) di sejumlah ruas jalan pun masih belum terealisasi.

9.  Menghidupkan ruang publik

Jokowi tengah berupaya untuk menghidupkan ruang publik Jakarta agar lebih bermakna. Ruang publik harus dapat menjadi ruang interaksi dan ada aktivitas yang terjadi di dalamnya. Monas dan kawasan sekitarnya merupakan salah satu ruang publik di Jakarta yang tengah dihidupkan. Saat ini Monas sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya berbagai perhelatan. Contoh teraktual adalah Kaki Lima Night Market dan Jakarta Night Religious Festival.

10.  Reformasi Birokrasi

Jokowi-Ahok memiliki komitmen untuk melaksanakan reformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta. Masih teringat, di awal masa kepemimpinannya, Jokowi rajin melakkukan sidak/kunjungan mendadak ke kantor-kantor kecamatan maupun kelurahan. Juga polah Ahok yang dengan gayanya yang khas, marah-marah pada jajaran dinas di lingkungan DKI Jakarta. Ahok meradang ketika mendengarkan paparan dari dinas-dinas di bawahnya. Reformasi birokrasi masih belum terealisasi dengan sempurna. Masih terdapat jabatan-jabatan strategis yang belum terisi dan belum terwujud sempurna. Terkait dengan reformasi birokrasi ini juga, Jokowi-Ahok telah melakukan “lelang jabatan” untuk posisi Camat dan Lurah di Jakarta. Hasilnya? Pro dan kontra terjadi. Salah satu yang hangat diperbincangkan adalah kasus Lurah Susan. Jokowi-Ahok tidak ingin didikte siapapun. Sepanjang yakin bahwa yang dilakukannya sesuai dengan koridor aturan, tetap jalan terus.

Mungkin masih banyak lagi program-program yang tidak sempat tertuliskan. Namun intinya, dalam setahun perjalanan kepemimpinan Jokowi-Ahok, telah ditanamkan fondasi sebagai dasar langkah lebih lanjut. Untuk perubahan Jakarta ke arah yang lebih baik.  Jokowi-Ahok telah berada pada rel yang benar. Gebrakan keduanya semakin nyata. Namun tidak tertutup kemungkinan relnya sedikit bergoyang. Perlu masukan, saran, dan kritik yang membangun. Demi Jakarta yang lebih aman, nyaman, dan layak huni. Demi Jakarta yang lebih baik. Tetap semangat! Salam. (Del)