Ahok dan Perubahan Jakarta

1379905974414995719

Basuki Tjahaja Purnama (AHOK)
Sumber Foto: http://www.tribunnews.com

Teringat satu buku yang telah menjadi bacaan wajib, buku yang banyak diperbincangkan pada masanya, yaitu buku Malcolm Gladwell berjudul Tipping Point, How Little Things Can Make a Big Different (Tipping Point, Bagaimana Hal-Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar). Sebuah buku yang ditulis dengan sangat baik namun tetap ringan untuk dibaca. Sesuai dengan judulnya, beliau mengupas bagaimana sebuah perubahan ekstrem sering dipicu oleh hal-hal sepele.

Menurut Gladwell, terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi. Yang pertama yaitu Hukum Tentang yang Sedikit (The Law of The Few). Artinya kurang lebih, agar dapat berubah, harus ada orang-orang yang walau secara jumlah hanya sedikit, namun memiliki semangat hidup yang tinggi dan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain.

Yang kedua adalah adanya Faktor Kelekatan (The Stickiness Factor). Faktor kelekatan ini bisa berupa seorang tokoh atau juga bisa saja sebuah film sekalipun. Sesuatu yang dapat melekat (sticky). Contoh mudahnya adalah bagaimana seorang tokoh Barney di acara TV “Barney & Friends” dan ajaran-ajaran positifnya dapat melekat dalam benak anak-anak. Bagaimana tokoh Barney dapat mengedukasi anak-anak dengan baik. Kelekatan inilah yang akan memuluskan perubahan.

Yang ketiga adalah Kekuatan Konteks (The Power of Context). Perilaku atau tingkah laku manusia ditentukan oleh lingkungannya. Gladwell berkeyakinan bahwa masalah-masalah besar dapat diselesaikan dengan menangani masalah-masalah kecil yang terjadi di lingkungan. Misalnya tentang turunnya angka kejahatan di New York yang terjadi karena menangani grafiti yang tersebar di penjuru kota. Menangani hal-hal kecil untuk tujuan yang lebih besar.

Lalu, apa yang dimaksud dengan turning point? Apa kaitannya dengan tipping point? Samakah? Berdasarkan English Thesaurus dari www.collinsdictionary.com, turning point merupakan critical moment, moment of decision, dan juga tipping point. Turning point secara mudah, dapat diartikan sebagai titik balik, satu waktu yang sangat penting dan membawa perubahan yang mempengaruhi masa depan seseorang atau sesuatu. Menurut English Thesaurus, tipping point dapat pula diartikan sebagai turning point. Namun menurut hemat saya, setelah membaca buku Gladwell, lebih tepat dikatakan bahwa tipping point dapat memicu turning point. Hal-hal kecil dapat memicu seseorang atau sesuatu mengalami titik balik perubahan.

Bagaimana dengan Ahok? Apa dan kapan titik balik terjadi dalam perjalanan hidup seorang Ahok? Mari kita tengok sedikit perjalanan hidupnya. Ahok atau Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM lahir dan menghabiskan masa kanaknya di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Ahok lahir dari pasangan Indra Tjahaja Purnama (Zhong Kim Nam) dan Buniarti Ningsing (Bun Nen Caw). Ahok merupakan anak sulung keluarga Kim Nam. Jika mengacu pada bukunya Gladwell, Kim Nam inilah yang melekat erat dalam benak Ahok. Kim Nam inilah yang menjadi Faktor Kelekatan pada diri Ahok.

Ajaran-ajaran positif yang diterapkan sang ayah yang selalu beliau kenang dan terapkan.  Terbukti, hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar Ahok yang menjadi Faktor Kekuatan Konteks, telah memicu dan membawa Ahok pada satu titik balik perubahan. Hukum Tentang yang Sedikit pun berlaku. Terbukti pula orang-orang di sekitar Ahok, yang walau jumlahnya hanya sedikit, yaitu keluarganya, namun tetap memiliki semangat hidup dan kemampuan untuk mempengaruhi seorang Ahok.

Banyak sekali ajaran-ajaran positif yang ditanamkan oleh Kim Nam, Sang Ayah. Keluarga Kim Nam dikenal sebagai keluarga yang sangat dermawan di kampungnya. Bahkan, konon, ayahnya rela untuk berhutang pada orang lain, demi untuk memberi uang pada orang yang tengah dilanda kesulitan. Suatu saat, Ahok mengalami kekecewaan karena mengalami sendiri pahitnya berhadapan dengan politik dan birokrasi yang korup. Pabriknya terpaksa ditutup karena kesewenang-wenangan pejabat. Waktu itu sempat terlintas niatan Ahok untuk hijrah ke luar negeri. Kim Nam tegas menolaknya. Kim Nam tetap membangkitkan semangat Ahok. Beliau meyakinkan Ahok, yang intinya bahwa suatu hari nanti, rakyat akan memilih Ahok untuk memperjuangkan nasib mereka. Sang Ayah tidak ingin Ahok berkecil hati, “Akan ada saatnya orang lain dapat menerima kita. Tetaplah berusaha, jangan dendam.”

Kim Nam terus menyemangati Ahok. Beliau memberikan ilustrasi, jika seseorang ingin membagikan uang 1 miliar kepada rakyat masing-masing 500 ribu rupiah, hanya cukup untuk  2.000 orang. Tetapi jika digunakan berpolitik, jumlah uang di APBD yang bisa dikuasai untuk kepentingan rakyat begitu banyak. Dengan itu, bisa berbuat hal yang lebih besar. Tidak lupa, Kim Nam pun menanamkan kepada Ahok agar tidak sombong, tetap menghormati yang lebih tua. Pendidikan keras ala masyarakat etnis China pada umumnya, juga diterapkan di keluarga Kim Nam. Semata agar anak-anaknya kelak bisa berguna bagi masyarakat.

Ada sebuah ajaran klasik Tiongkok yang juga menjadi pemicu, yaitu “Orang miskin jangan lawan orang kaya dan orang kaya jangan lawan pejabat”.  Bermodal ajaran Tiongkok tersebut dan keinginan kuat untuk membantu warga di kampungnya, serta kekecewaan mendalam terhadap kesewenang-wenangan pejabat yang dia alami, akhirnya, Ahok memutuskan untuk masuk ke dunia politik di tahun 2003. Inilah titik balik seorang Ahok. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi pejabat publik yang baik, yang dapat membantu rakyat. Tanpa harus berbuat sewenang-wenang, apalagi korup. Berkeinginan untuk menjadi pelayan masyarakat, yang siap untuk melayani rakyatnya, bukan sebaliknya menjadi seorang yang ingin dilayani rakyatnya.

Perjalanan sejarah membawa Ahok ke Jakarta. Menjadi pemimpin Jakarta mendampingi Jokowi. Keduanya saling membahu berupaya untuk mewujudkan “Jakarta Baru” seperti tekadnya di awal. Untuk mewujudkan Jakarta Baru diperlukan kesungguhan. Kesungguhan untuk melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik. Jakarta Baru sudah menjadi tag line, menjadi slogan yang perlu implementasi. Perlu upaya pengejawantahan dalam bentuk aksi-aksi nyata.

Ahok telah muncul dengan gaya dan karakter khasnya. Jika Jokowi terkenal dengan gaya polosnya, gaya yang cenderung “Ndeso”,  dan juga gaya blusukan-nya, Ahok pun memiliki gayanya sendiri. Ahok hadir dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, cenderung dengan emosi yang mudah meluap. Ahok seakan tak kenal kata takut, pada siapa pun. Demi untuk menegakkan peraturan dan membabat pelanggaran. Bahkan pada para preman, jagoan, maupun ‘penguasa lokal’. Justru mereka dibuat terperangah. Ahok tidak gentar karena dia siap ditelanjangi pula. Dalam arti, Ahok bersedia untuk transparan. Sebenarnya, sulit untuk mengubah gaya seseorang. Yang patut diingat, janganlah terjebak pada gaya dan cara. Tetap harus fokus pada esensinya, pada tujuan utamanya. Demi untuk mewujudkan Jakarta Baru.

Sebagai “hanya” seorang Wakil Gubernur, Ahok mampu menepis persepsi bahwa wakil seolah “ban serep” atau “ban cadangan”. Dia bisa tetap tampil di depan sekaligus juga sadar akan posisinya sebagai Wakil Gubernur. Dalam berbagai kesempatan terlihat, Ahok selalu mengatakan, “Pak Gubernur ingin Jakarta punya kebun binatang sekelas dunia,” atau, “Pak Gubernur menginginkan saya membereskan Waduk Ria Rio, memindahkan mereka, namun juga sediakan tempat,” atau juga, “Pak Gubernur menginginkan Jakarta menjadi kota yang tertata rapi.” Dan banyak lagi kalimat-kalimat Ahok yang senada. Intinya, Ahok ingin menunjukkan bahwa beliau masih dalam koridor koordinasi dengan Gubernur, dengan Jokowi. Jokowi tetap pucuk pimpinan. Walau memang tidak tertutup kemungkinan, mungkin beberapa di antaranya adalah ide dari Ahok sendiri. Hasil koordinasi dengan Jokowi.

Kembali ke Gladwell. Saya ingin mencoba mengaitkannya dengan yang telah diungkapkan oleh Gladwell. Tentang faktor-faktor yang dapat membuat perubahan besar. Perubahan terhadap Jakarta. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Menuju Jakarta Baru.

Yang pertama yaitu Hukum Tentang yang Sedikit (The Law of The Few) berlaku. Harus ada orang-orang yang walau secara jumlah hanya sedikit, namun memiliki semangat hidup yang tinggi dan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Ahok dapat menjadi bagian dari “yang sedikit”, yang dapat menularkan semangat dan dapat mempengaruhi orang lain. Terutama pada jajaran birokrasi di bawahnya untuk berperilaku lurus, berjiwa melayani masyarakat, antikorup, bekerja dengan penuh kesungguhan, demi perubahan Jakarta. Ahok menyadari benar bahwa hakikat seorang pemimpin adalah melayani, menjadi abdi masyarakat yang harus mengayomi warganya dengan kesungguhan.

Yang kedua, adanya Faktor Kelekatan (The Stickiness Factor). Semoga sikap Ahok yang lurus, jujur, melayani, berani, tidak takut jika benar, melekat pula pada orang-orang di sekelilingnya. Lebih jauh, pada jajaran di bawahnya, demi memuluskan jalannya perubahan, mewujudkan Jakarta Baru, Jakarta yang lebih baik.

Yang ketiga, yaitu Kekuatan Konteks (The Power of Context). Perilaku atau tingkah laku manusia ditentukan oleh lingkungannya. Gladwell berkeyakinan bahwa masalah-masalah besar dapat diselesaikan dengan menangani masalah-masalah kecil yang terjadi di lingkungan.  Jakarta telah menapaki jalan tersebut. Ahok,  telah berupaya untuk menangani pula hal-hal kecil untuk tujuan yang lebih besar. Misalnya, dengan tidak hanya berupaya menempatkan warga pada rumah-rumah susun, namun juga memikirkan hingga hal-hal yang kecil. Memikirkan pula untuk mengisi rumah-rumah susun tersebut dengan perabotan rumah tangga, hingga kompor pun dipikirkan. Semua demi untuk tujuan lebih besar. Agar warga dapat tertarik untuk tinggal di sana dan tujuan yang lebih besar, yaitu penataan kawasan dapat tercapai.

Semoga era Jokowi-Ahok menjadi titik balik bagi perubahan Jakarta untuk menuju Jakarta Baru, Jakarta yang lebih baik. Semoga. (Del)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s