Hembusan Angin Segar Ridwan Kamil Sang Walikota Bandung

Ridwan Kamil belum lama dilantik sebagai Walikota Bandung. Baru hitungan hari. Ridwan Kamil bersama wakilnya, Oded M. Danial, resmi dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Bandung pada Hari Senin 16 September 2013 lalu. Jabatannya masih berumur 4 hari. Namun, Ridwan Kamil sudah menghembuskan angin segar bagi warga Kota Bandung. Setidaknya sudah ada beberapa tiupan angin segar yang coba dihembuskan oleh seorang Ridwan Kamil.

Di hari pelantikannya sebagai orang nomor wahid di Kota Bandung, Emil (sapaan Ridwan Kamil) berangkat dari rumah pribadinya di kawasan Cigadung menuju kantornya dengan mengendarai sepeda kesayangannya. Ternyata kebiasaan tersebut berlanjut di hari-hari berikutnya. Bersepeda sudah menjadi hal yang rutin bagi Emil. Bahkan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah kantor dinas, badan, dan lembaga dilakukan dengan bersepeda. Mengapa harus bersepeda? Jangan heran. Menunggangi sepeda sudah menjadi kebiasaan Emil. Emil merupakan salah satu penggagas program bike to work di Kota Bandung. Sebelum menjadi Walikota Bandung, Emil pun tak lelah menggagas pendirian shelter sepeda dan memproyeksikan sepeda sebagai alat transportasi bagi warga Bandung. Semua demi mewujudkan Bandung yang bersih, bebas polusi, dan bebas macet. Jika ditanyakan pada Emil, alasannya sederhana. “Secara sosial orang lebih simpati. Kalau saya senyum, disenyumin balik. Kalau di mobil kan tidak bisa, seperti terkurung,” ucapnya. Atau di lain waktu, dengan santai dia jawab, “Kalau berhenti di perempatan suka banyak yang ngajak ngobrol. Bisa dadah-dadahan juga dengan masyarakat”.

Senada dengan Jokowi, Emil pun merasa keberatan (kalau tidak bisa dikatakan menolak) dengan program mobil murah dan katanya ramah lingkungan, low cost green car (LCGC) yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Alasannya hampir seirama dengan Jokowi. Bandung harus mengutamakan upaya mendorong penggunaan angkutan umum untuk mengatasi kemacetan. Tidak perlu terlampau kaget. Emil punya alasan kuat, punya konsep penataan kota yang sedang dicoba untuk diwujudnyatakan.

Emil punya konsep penataan kota yang menjadi bidang keahlian yang digelutinya selama ini. Jika dilihat dari riwayat hidupnya, Emil berlatar belakang pendidikan S1 arsitektur – ITB. Setelah lulus S2 perencanaan kota dari University of California, Berkeley, Emil bekerja sebagai arsitek di beberapa firma di Amerika Serikat. Kembali ke Indonesia, tahun 2004 mendirikan PT. Urbane Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain. Urbane merupakan singkatan dari Urban Evolution, namun juga sekaligus kependekan dari Urang Bandung Euy. Melalui perusahaannya, mencoba mengusung konsep arsitektur yang mengedepankan konsep “green system”, yang responsif terhadap lingkungan dan memiliki nilai artistik. Telah banyak hasil karya Urbane yang diakui dan beroleh penghargaan dari media internasional.  Selain itu, Emil juga dosen di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

Yang menarik adalah filosofi yang dia anut. Menurutnya, “Hidup adalah udunan (kolaborasi)”. Emil percaya, banyak permasalahan masyarakat dapat teratasi dengan jurus kolaborasi. Meyakini bahwa kota masa depan harus dibangun dengan “konsep babarengan”. Maksudnya konsep bersama-sama, kolaborasi, kerjasama, gotong royong. Secara sederhana, Emil mencontohkan terlantarnya 300 taman kota di Bandung dengan alasan ketiadaan dana. Namun ketika diumumkan kepada warga dan komunitas kota, segera muncul 300 komunitas yang siap mengadopsi dan memelihara taman tersebut. Solusi yang sederhana.

Dengan tegas, Emil memberikan kriteria tersendiri untuk ajudannya. “Ajudan saya harus loyal, cerdas, rajin olah raga, dan tidak gaptek”, demikian ujarnya. Rajin olah raga dimaksudkan agar dapat mengimbangi dirinya yang hobi olah raga, terutama joging dan bersepeda. Tidak tanggung-tanggung, jika jalanan lancar, Emil dapat memacu sepedanya lebih dari 40 km/jam.

Tidak hanya berlaku untuk ajudannya, Emil juga mewajibkan setiap dinas dan kepala dinasnya untuk memiliki akun twitter. “Supaya  gampang menampung aspirasi, memudahkan koordinasi dan komunikasi antarpejabat Pemkot Bandung”, begitu alasannya.

Emil juga mengemukakan ide-idenya dalam membenahi  dan menata kembali Kota Bandung. Untuk menangani masalah sampah, TNI sudah mulai diajak berkolaborasi untuk membersihkan sampah-sampah. Emil tetap berkeinginan untuk mewujudkan konsep pembenahan kota sekaligus pemberdayaan warga. Mewujudkan jargonnya, Bandung Kota Desain, Smart City, dan Bandung Juara.

Angin segar sudah mulai berhembus di Kota Bandung. Semoga angin itu tetap berhembus, bahkan semakin kencang. Menebarkan aroma yang terasa hingga ke pelosok kota Bandung. Bahkan jika perlu, memberikan semangat dan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Berharap Emil tetap konsisten dengan penataan kotanya, menjadikan Kota Bandung sebagai kota yang semakin layak huni, semakin nyaman untuk dihuni.

Semoga terus bermunculan pemimpin-pemimpin yang amanah, yang tetap teguh memegang janjinya, dan menjadi contoh yang baik bagi segenap warganya. Kita sangat merindukan pemimpin-pemimpin yang memiliki komitmen tinggi untuk membawa warganya menuju pada perubahan ke arah yang lebih baik. Jokowi-Ahok telah memulainya. Bu Risma pun sudah membuktikan. Mari kita beri kesempatan pada Emil untuk mendedikasikan ilmu bahkan jiwanya bagi Kota Bandung. Mari kita nantikan gebrakan-gebrakan Emil selanjutnya. Salam. (Del)

Sumber: www.ridwankamil.net dan www.suaranews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s