Berapa Biaya Pembangunan Sebuah SPBG? Saatnya Berkaca pada Thailand

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak polusi udara di kawasan perkotaan adalah dengan melaksanakan kebijakan konversi energi dari bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG). BBG dianggap “sedikit lebih ramah lingkungan” dibandingkan dengan BBM. Sebagai langkah awal, masih bisa diterima. Patut diapresiasi. Namun secara bertahap, tetap harus diupayakan solusi lainnya. Solusi yang lebih ramah lingkungan. Tetap harus disadari, bahan bakar gas tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Gas tetap merupakan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui. Gas alam masih termasuk bahan bakar fosil. Sudah saatnya kita juga konsisten pada upaya pengembangan energi terbarukan. Energi yang lebih ramah lingkungan dalam arti sebenarnya. Menggunakan energi yang dihasilkan dari sumber alami, yang dapat diperbaharui, yang secara alami dapat muncul kembali setelah dipergunakan, seperti cahaya matahari, angin, hujan, arus pasang surut, dan panas bumi. Atau secara sederhana, menggunakan biogas. Gas yang dihasilkan dari gas metana yang dilepaskan ketika kotoran hewan membusuk, atau dari sampah dan sistem saluran limbah, dan sebagainya. Gas metana yang dikumpulkan dan dimurnikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Berdasarkan berita di media (5/9/2013), Gubernur DKI Jakarta, Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menandatangani nota kesepahaman konversi penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) bagi angkutan umum di Jakarta. Sebagai langkah awal, bus Transjakarta dan bus sedang wajib menggunakan BBG. Langkah yang baik.

Sudah seharusnya Indonesia berkaca pada negara lainnya yang telah lebih dahulu berhasil melakukan konversi energinya. Tidak perlu terlalu jauh, tengoklah Thailand. Thailand telah mampu melaksanakan konversi energi BBM ke BBG. Kendaraan tuk-tuk atau bajaj di sana semuanya telah menggunakan BBG. Juga telah ada MRT. Indonesia sedang mengarah ke sana, namun terlihat belum sepenuh hati. Gencar mengupayakan konversi BBM ke BBG, namun masih terkendala keterbatasan keberadaan SPBG.

Keberhasilan konversi di Thailand tidak lepas dari keseriusan pemerintah Thailand untuk membangun SPBG hingga pelosok desa. Padahal, Thailand bukanlah negara penghasil minyak dan gas. Thailand merupakan negara pengimpor. Thailand menyediakan 2 SPBU sekaligus, sehingga warganya diberikan kebebasan untuk memilih. Beli BBM bisa tapi lebih mahal harganya. Patut ditiru. Dibutuhkan pula keseriusan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah pendukung konversi energi.

Melonjaknya beban subsidi energi yang membebani pemerintah, salah satunya dipicu oleh lambannya pemerintah dalam menjalankan konversi BBM ke BBG maupun sumber energi alternatif lainnya. Menurut berita yang dirilis berbagai media, antara lain Liputan 6 dan Tempo,  Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana mengatakan bahwa pemerintah mengalokasikan anggaran Rp. 2,3 triliun untuk program konversi energi bahan bakar minyak ke gas. Dari total anggaran tersebut, tidak hanya dialokasikan untuk pengadaan konverter kit, namun juga pembangunan infrastruktur penyaluran gas dan pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Suatu jumlah yang tidak sedikit. Konversi energi dari BBM ke BBG akan dilakukan secara maksimal pada tahun depan.

Yang jadi pertanyaan, sebenarnya berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pembangunan 1 (satu) stasiun bahan bakar gas (SPBG)? Setelah blusukan di hutan maya, cari sana cari sini, didapatlah beberapa jawaban. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Compressed Natural Gas atau CNG Indonesia (APCNGI), Danny Praditya, seperti yang dilansir detik.com, “Pendirian SPBG biayanya 3 kali lipat dari pendirian SPBU. Untuk membeli alat SPBG saja dibutuhkan dana US$ 1 juta, sedangkan untuk pendirian fisik SPBG memerlukan dana senilai Rp. 10-15 miliar, di luar harga tanah”. Berarti untuk 1 SPBG dibutuhkan biaya sekitar Rp. 21-26 miliar. Dengan anggaran Rp. 2,3 triliun dapat membangun sekitar 100 SPBG.

Agak berbeda hasilnya dengan informasi yang didapat dari Direktur Gas PT Pertamina (Persero) Harry Karyuliarto, seperti yang dirilis oleh www.kabarenergi.com. Pertamina akan membangun dua SPBG dengan biaya Rp. 70-80 miliar dengan menggunakan dana dari Pertamina. Pertamina akan membangun SPBG Cililitan dan Pulogadung. Saat ini pembangunan SPBG tersebut telah selesai tahap tender dan memasuki tahap konstruksi. “Kok beda?”. Perlu penelaahan lebih lanjut. Mungkin kapasitasnya lebih besar. (Del)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s