Jaksa Mencuri? Jaksa Juga Manusia

Gambar

Kejujuran.
Sumber Gambar: http://andungnurkhafid.blogspot.com/

Masih lekang dalam ingatan, belum sepi dari beragam komentar yang mampir. Baru kemarin menulis tentang betapa indahnya sebuah kejujuran. Betapa indahnya jika nilai kejujuran di Bali atau di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, dapat menular pada orang-orang di sekitarnya. Jika nilai kejujuran tersebut dapat menular dan menyebar, Indonesia yang aman, nyaman, tentram, dan damai merupakan satu keniscayaan.

Namun hari ini, saya membaca tulisan di berbagai media baik online maupun lewat group sosial, sebuah berita yang menohok, yang sangat kontradiksi. Berita yang rasanya begitu menampar.  Berita tentang Jaksa yang diduga telah mencuri telepon genggam milik seorang pegawai Mahkamah Konstitusi (MK) yang bernama Widiana, Rabu (11/9/2013). Mengapa berita itu begitu menohok? Karena pelakunya diduga seorang Jaksa. Masih terduga, walau nyaris mendekati kebenaran, karena terungkap melalui close circuit television (CCTV) yang terpasang di ruangan tempat kejadian.

Telepon genggam berpindah tangan ketika Widiana meninggalkan ruangan untuk menggandakan berkas yang diminta. Ada 2 orang jaksa yang memasuki ruangan Widiana. Mereka meminta untuk menggandakan berkas pendaftaran sengketa Pilkada Kota Probolinggo, Jawa Timur. Jaksa yang mengambil telepon genggam berdalih bahwa dia mengira itu adalah telepon genggam milik temannya. Hhmm, memang masih membutuhkan pembuktian. Tapi, jika itu terbukti benar. Sungguh miris.

Mungkin banyak yang akan berkomentar, “Ah, itu sih sudah biasa. Seorang Guru Besar dari sebuah perguruan tinggi ternama saja bisa melakukan tindakan tidak terpuji. Biasa aja kali…”. .Jaksa juga manusia, bisa khilaf. Tapi tetap, patut disayangkan. Sungguh tidak terpuji. Seorang jaksa yang memiliki penghasilan yang jauh di atas rata-rata penduduk Indonesia, telah melakukan tindakan pencurian, dan itu hanya sebuah telepon genggam. Yang pastinya, dia pun sanggup untuk membelinya. Kleptomaniakah?

Memang benar, banyak kenyataan yang sudah membuktikan, jumlah gaji yang tinggi, jumlah penghasilan yang besar, tidak menjamin seseorang untuk tidak melakukan pencurian, korupsi, suap (gratifikasi), dan tindakan lainnya yang tidak dapat dibenarkan. Perbuatan pencurian lebih berurusan dengan kualitas mental seseorang. Dengan nilai kejujuran yang dimiliki. Tidak dengan jumlah gaji/penghasilan yang dia terima.

Masyarakat Indonesia sepertinya sudah mulai terbiasa dengan beragam berita tentang para elit, golongan atas, yang secara logika sudah tidak memerlukan untuk melakukan tindakan tidak terpuji, masih pula melakukannya.  Itulah jika keserakahan sudah menyergap, mengambil alih nilai-nilai kejujuran.

Marilah kita berkaca pada diri, sudahkah kita melanggengkan, memupuk, dan memelihara nilai kejujuran pada diri sendiri? Jawabnya, “Belum”. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s