PR untuk Jokowi, Bajaj Biru, Gas, dan Energi Terbarukan

Gambar

Bajaj Oranye dan Bajaj Biru.
Sumber Foto: http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/bajaj-biru2.jpg

Sudah cukup lama tidak menggunakan moda transportasi yang namanya bajaj. Bajaj sudah merupakan kendaraan favorit bagi ibu-ibu untuk mencapai lokasi yang tidak terjangkau angkutan umum lainnya. Mereka lebih memilih menggunakan bajaj, semata karena bajaj lebih fleksibel. Dapat mengantar hingga depan rumah. Tidak perlu ditambah dengan jalan kaki. Pulang pasar atau pulang dari supermarket sehabis belanja dengan barang bawaan yang banyak, tentunya sangat praktis bila menggunakan bajaj. Tidak tertutup kemungkinan warga lainnya pun turut terbantu dengan adanya bajaj.

Lama tidak merasakan naik bajaj, kemarin sore kembali naik bajaj, kebetulan bajaj biru. Maksudnya, bajaj yang diperuntukkan untuk penggunaan bahan bakar gas. Rutenya dari Salemba menuju Senen, dari UI di Salemba menuju rumah di Senen. Rute yang dulu sering dilalui. Sekarang sepertinya akan kembali berulang. Di tengah perjalanan, iseng tanya, “Pak, bajajnya pake bahan bakar gas? Tidak susah isinya ya Pak?”. Pak sopir bajaj spontan menjawab, terdengar sangat bersemangat, seakan ingin meluapkan isi hati. Langsung menjawab dengan rentetan jawaban. “Justru itu Bu, ini masih pakai bensin, kalau mau pakai gas, susah isinya, mesti rebutan sama busway. Ibu lihat sendiri, busway aja mesti antri panjang kalau mau ngisi. Busway kan, sekali ngisi lama, soalnya tanki nya besar. Kita yang hanya ngisi sedikit, masa harus antri lama? Bisa habis waktu Bu. Teman-teman lainnya juga begitu, masih pakai bensin”. Masih banyak lagi jawabannya, tapi intinya itu. “Tenang Pak, saya juga tidak menyalahkan kalau Bapak pakai bajaj biru tapi masih pakai bensin”. Terpikir, “Waduh Pak, ternyata si Bapak Bajaj senang ngobrol ya? Saya nanya sedikit, jawabannya panjang sekali”. Bapak sopir bajaj masih lanjut, “Sebenarnya Bu, kalau pakai gas lebih untung, lumayan lah Bu, bisa dapat lebih. Cuman ya itu tadi. Susah dapetnya. Ujung-ujungnya jadi sama. Waktu untuk ngantri gas kan lama, bisa dipake buat narik”. Iya deh Pak…

Lha…? Gagal dong program konversi BBM-nya? Gagal dong program konversi dari bahan bakar bensin ke bahan bakar gasnya? Tenang, tidak perlu terburu nafsu. Tetap berusaha jernih. Tetap cari akar permasalahannya.

Berdasarkan berita di media, kemarin (5/9/2013), Gubernur DKI Jakarta, Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menandatangani nota kesepahaman konversi penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) bagi angkutan umum di Jakarta. Sebagai langkah awal, bus Transjakarta dan bus sedang wajib menggunakan BBG.

Jokowi di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) Daan Mogot, Jakarta Barat berujar, “Semuanya gas. Bus Transjakarta yang baru juga gas, kemudian yang bus sedang yang nanti mengganti Metromini, Kopaja juga gas, kemudian bajaj juga gas. Tahun depan akan kita tambah, bus sedang kira-kira 3.000, gas. Busway tambah lagi 1.000, gas,”. Jokowi berencana untuk memperbanyak lokasi SPBG. Jokowi berkeyakinan bahwa pemerintah pusat pasti mendukung rencana Pemprov DKI. Lokasinya bisa di lahan milik Pemprov maupun lahan swasta.

Tuh Pak Sopir Bajaj, itu janjinya Jokowi, PR untuk Jokowi, supaya Bapak dapat menggunakan bahan bakar gas, supaya dapat uang lebih untuk dibawa pulang, untuk anak dan istri.  Semoga segera terwujud. Segera nyata. Kita tunggu. Sebagai langkah awal, itu sudah bagus.

Jokowi berpendapat bahwa ini merupakan upaya untuk mengurangi dampak polusi dari kendaraan berbahan bakar minyak karena menurut Jokowi, gas itu ramah lingkungan dan lebih murah. Walau tetap saya berpendapat, OK lah, sebagai langkah awal, ini masih bisa diterima. Patut diapresiasi. Namun secara bertahap, tetap harus diupayakan solusi lainnya. Solusi yang lebih ramah lingkungan. Patut diingat, bahan bakar gas tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Gas tetap merupakan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui. Gas alam juga termasuk bahan bakar fosil. Sudah saatnya kita juga konsisten pada upaya pengembangan energi terbarukan. Energi yang lebih ramah lingkungan dalam arti sebenarnya. Menggunakan energi yang dihasilkan dari sumber alami, yang dapat diperbaharui, yang secara alami dapat muncul kembali setelah dipergunakan, seperti cahaya matahari, angin, hujan, arus pasang surut, dan panas bumi. Atau secara sederhana, menggunakan biogas. Gas yang dihasilkan dari gas metana yang dilepaskan ketika kotoran hewan membusuk, atau dari sampah dan sistem saluran limbah, dan sebagainya. Gas metana yang dikumpulkan dan dimurnikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Sudahlah… toh itu bukan hanya PR untuk Jokowi. Tapi juga untuk Pemerintah Pusat dan Kementerian terkait. Agar tetap konsisten dengan upaya yang telah dan sedang dilakukan. Setidaknya, Jokowi sudah memulai langkah untuk “sedikit lebih ramah lingkungan”.

Sudah saatnya kita beralih pada sumber energi yang lebih ramah. Di sekitar kita banyak bertebaran energi terbarukan (renewable energy). Sangat berlimpah dan tidak akan ada habisnya. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya. Menjadikannya berguna. Energi matahari (solar system), energi angin, energi nuklir, energi air, energi panas bumi, energi biomassa, dan seterusnya, dan sebagainya.

Pertanyaan lainnya yang mengusik. Mengapa semuanya harus impor? OK lah kalau Bus Transjakarta, Bus Sedang, Metromini, Kopaja harus impor. Mengapa bajaj saja harus impor? Ah, sudahlah, produk lainnya pun masih banyak yang harus impor. Bahan pangan komoditi utama pun masih banyak yang masih impor. Ternyata PR kita masih banyak. Bukan PR untuk Jokowi saja, karena Jokowi bukan Presiden. PR buat kita semua. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s