Membelah Hutan Kalimantan Tengah

Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita dan meninggalkan makna. Rasanya setiap cerita dan makna yang tertinggal, sangat sayang jika tidak dituliskan. Agar ceritanya terus berbekas dan meninggalkan jejak serta maknanya tetap melekat erat dalam benak. Ketika suatu kala ingatan sedikit terdegradasi karena waktu, masih dapat disegarkan kembali dengan membacanya. Demikian pula dengan catatan perjalanan berikut. Sebuah catatan perjalanan 4 tahun lalu.

Perjalanan ke Kalimantan bukan kali yang pertama dilakukan, sudah berkali-kali. Semuanya semata karena tugas. Namun, perjalanan ini merupakan salah satu yang paling berkesan dan terkadang terkagum sendiri, “Wow, ternyata bisa juga ya..!”.

Dari Jakarta, sewaktu diberikan penjelasan tentang tugas yang diemban, sudah terbayang, “Hhmmm… pasti akan sedikit lebih berat dari biasanya”. Tugasnya sebenarnya ringan saja, sudah sering dilakukan, yaitu menjadi narasumber di setiap acara sosialisasi yang akan digelar.  Dikatakan “lebih berat dari biasanya” karena akan dilakukan roadshow untuk 4 lokasi yang berbeda. Akan dilaksanakan di 4 ibukota kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dalam waktu 7 hari penuh. Berangkat di Hari Senin pagi dan baru kembali di Hari Minggu berikutnya. Sejujurnya, sudah termasuk jumlah hari maksimal yang saya syaratkan. Maklum, saya tetap seorang ibu yang terkadang didera rasa bersalah jika meninggalkan rumah terlalu lama. Alasan itu pula yang membuat saya selalu meminimalkan waktu kunjungan ke daerah. “Kalau bisa lebih singkat, mengapa harus lebih lama? Kalau tugas bisa diselesaikan lebih cepat, mengapa  harus berlama-lama?.

Empat target kota yang hendak dituju adalah Kota Sampit di Kabupaten Sampit, Kota Kuala Kapuas di Kabupaten Kapuas, Kota Kuala Kurun di Kabupaten Gunung Mas, dan Kota Puruk Cahu di Kabupaten Murung Raya. Rute pertama yaitu Kota Sampit. Kota Sampit berjarak sekitar 4-5 jam perjalanan dari Palangkaraya ke arah Barat. Tidak ada masalah. Tugas Kota Sampit rampung, kembali ke Palangkaraya yang menjadi base camp. Hari berikutnya, Kuala Kapuas yang menjadi sasaran target. Tidak masalah juga, tidak terlalu jauh dari Palangkaraya. Malam hari sudah bisa kembali lagi ke Palangkaraya. Selanjutnya tibalah giliran Kota Kuala Kurun di Kabupaten Gunung Mas. Lumayan berat. Kota Kuala Kurun berada di sebelah Utara Provinsi Kalimantan Tengah. Kuala Kurun memiliki jarak sekitar 180 km dari Kota Palangkaraya. Untuk mencapai Kuala Kurun, harus melalui jalan yang naik turun bukit. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan darat. Puji Tuhan,  Kota ketiga pun berhasil dengan lancar.

Saatnya menuntaskan tugas ke empat. Tibalah waktu untuk menggapai kota keempat, Kota Puruk Cahu di Kabupaten Murung Raya. Kabupaten Murung Raya merupakan kabupaten yang berada di ujung utara Provinsi Kalimantan Tengah. Sebenarnya Puruk Cahu dapat dicapai dengan menggunakan pesawat kecil dari Banjarmasin. Hanya karena satu dan lain hal, pimpinan di Provinsi Kalimantan Tengah keberatan jika menggunakan moda transportasi udara. Beliau sedikit memiliki trauma dengan rute pewawat ke Puruk Cahu. Terpaksalah kita ambil jalur darat.

Siang itu, selepas makan siang, berangkatlah kami berombongan dengan menggunakan dua mobil, menuju lokasi. Perjalanan awal cukup mulus. Mobil melaju diiringi cerita-cerita seru para penumpangnya untuk pelipur bosan. Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama.

Hujan turun rintik. Cukup untuk membuat jalanan aspal yang dipenuhi tanah, menjadi licin. Mobil berjalan pelan, sangat hati-hati. Walau berjalan merayap, ternyata, selip juga. Roda berputar terus namun tidak bergerak maju. Tetap diam di tempat. Para penumpang turun. Penumpang yang ada di mobil lainnya ikut turun, turut mendorong. Cipratan tanah, mampir di baju para pendorong. “Hhmmm…. Mungkin ini ujian awal…”.  Kejadian berulang terus, beberapa kali. Lubang menganga yang besar dan banyak menjadi santapan di sebagian perjalanan.  Satu hal yang saya dapatkan, berdasarkan obrolan dengan rekan dari daerah. Ternyata licinnya aspal terkait erat dengan warna. Maksudnya? Halusnya jalan bertalian erat dengan warna bendera pemimpin daerahnya. “Sstttt, mengerti kan? Tidak usah terlalu gamblang”, begitu penjelasan sang kawan.

Memasuki Kabupaten Kapuas, hujan turun deras, seakan sedang menyiram hutan-hutan Kalimantan. Memuaskan dahaga pepohonan dan memenuhi sungai-sungai besar di Kalimantan. Ya, benar, Kalimantan terkenal dengan sungai-sungai besarnya.

Gambar

Jembatan Timpah di Kabupaten Kapuas yang Ambruk
Sumber Foto: http://wiryanto.files.wordpress.com/

Gambar

Kondisi Tepi Sungai di Timpah, Kalimantan Tengah. Cuaca gelap akibat hujan deras.
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Gambar

Pekerjaan perbaikan jembatan harus berlangsung
Sumber Foto: Dokumentasi Privadi

Tiba-tiba berhenti, “Ada apakah gerangan?”. Pengemudi langsung menjawab, “Kita sudah sampai Timpah, harus menyebrang sungai”.  Ternyata yang dimaksud dengan menyeberang sungai adalah menyeberang menggunakan rakit raksasa, yang dapat ditumpangi beberapa mobil sekaligus. Untuk menyeberang sungai, harus antri, menunggu giliran. Hujan turun sangat deras. Rakit raksasa tidak beroperasi sejenak, menunggu hujan agak reda. “Terlalu beresiko”, begitu katanya.

Gambar

Titian papan kayu penghubung antara darat dan rakit
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Gambar

Permukiman penduduk di tepian sungai, terlihat dari atas rakit
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Gambar

Seorang rekan dari Palangkaraya dengan celana penuh lumpur di atas rakit
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Alhasil, 2 jam kami menunggu antrian rakit. Tercetus di hati, “Tak usah terlalu banyak mengeluh. Semangat!”. Anggap saja ini juga bagian dari perjalanan yang tidak akan terlupakan. Sensasi pengalaman menaiki rakit di Sungai Kalimantan. Tentunya berbeda rasanya dengan menaiki perahu-perahu di Banjarmasin. Terlihat, mobil-mobil harus ekstra hati hati melintas papan kayu penghubung darat dengan rakit. Pengemudi harus memiliki kemampuan ekstra tinggi untuk melewati titian papan kayu yang terus bergoyang, karena walaupun bergoyang, tetap saja ada riaknya, laksana gelombang.

Sebenarnya Jembatan Timpah sudah terbangun. Ketika menyebrangi sungai, masih terlihat jelas konstruksi jembatannya. Terlihat badan jembatan yang ambruk. Jembatan Timpah adalah jembatan yang melintang di atas Sungai Kapuas, Kabupaten Kapuas.  Jembatan ini merupakan penghubung antara Kota Palangkaraya dengan Kota Buntok. Jembatan telah terbangun, namun belum sempat diresmikan, Jembatan Timpah ambruk. Akibatnya 1 orang pekerja tewas dan 6 pekerja lainnya luka-luka. Konon katanya, jembatan penghubung runtuh karena kesalahan konstruksi baja. Entahlah. Tapi, itulah yang terjadi. Harapan yang semula tinggi dengan tuntasnya pembangunan jembatan, asa yang telah terlanjur terbangun dalam kemudahan akses Palangkaraya-Buntok, tiba-tiba ambruk sejalan dengan ambruknya jembatan penghubung. Warga kembali menggunakan rakit.

Hari mulai gelap. Istirahat di rumah makan sederhana di Buntok, tetap lanjutkan perjalanan. Semangat masih tetap terjaga namun mata sudah mulai meredup. Candaan yang mewarnai perjalanan, sudah sedikit berkurang.

“Duk…duk…!” Saya yang berada di samping pengemudi, langsung terjaga. Seperti ada yang menepuk dengan keras pintu mobil sebelah kiri, tepat di kiri tempat duduk. Seperti tepukan tangan di mobil, dua kali. Coba bertanya, “Apa itu Pak?”. Rekan perjalanan menjawab, “Tenang Bu, mungkin ada yang ingin menyampaikan salam”. Saya terdiam, berusaha mencerna penjelasan. “Ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan”. Lanjut saja. Belakangan, setelah sampai di tujuan. Seorang rekan bercerita, ternyata mobil lainnya pun mengalami hal yang sama, di lokasi yang sama. Siapakah itu? Entahlah. Mungkin benar seperti penjelasan rekan tadi. Ada yang ingin menyampaikan salam.

Malam semakin larut, sepanjang perjalanan masih diwarnai dengan lintasan hutan lebat Kalimantan. Begitu lebatnya sehingga hanya bergantung pada lampu mobil. Jalanan berlubang besar-besar masih berlanjut. Tidak dapat terlelap karena guncangan senantiasa hadir. Seakan tak rela jika penumpangnya nyenyak. Harus tetap terjaga. Jam menunjukkan angka 11 malam. Seorang rekan berkata, “Kita nanti istirahat di Muara Teweh, mungkin sekitar jam 12 malam kita sampai sana”. Waduh. Bagaimana ini? Maaf, keinginan buang air kecil semakin mendesak. Berarti masih harus menunggu satu jam lagi. Berhubung saya satu-satunya penumpang perempuan dalam rombongan, tidak bisa seenaknya buang hajat di perjalanan, seperti halnya rekan lainnya. Sudah resiko.

Benar, sampai Muara Teweh, jam sudah di angka 12 malam. Perasaan kebelet buang air kecil tak tertahankan lagi. Begitu memasuki Kota Muara Teweh, langsung mencari bangunan yang masih terjaga penghuninya. “Hmmmm….. itu ada kantor polisi”. Langsung berlari-lari kecil masuk ruangan, ijin ke petugas yang ada. Setelah mendapatkan penjelasan lokasi toilet, langsung berhambur cepat. Ternyata jauh juga.

Legalah sudah. Air kecil sudah terbuang. Kembali ke mobil. Apa yang terjadi? Di perjalanan kembali, terlihatlah. Ternyata, tadi saya melewati deretan ruang-ruang penjara sementara, tempat tahanan sementara berada. Karena pulangnya tidak terburu-buru, sekarang baru sadar. Cukup menyeramkan. Para tahanan dengan wajah-wajah menyeramkan terlihat jelas. “Guubbbraaaak!” Pantas saja tadi seorang rekan berlari-lari mengejar untuk menemani. Namun dia tidak sanggup mengejar karena saya sudah melesat cepat. “Hahahaha….”.

Perjalanan tidak bisa dipaksakan untuk lanjut. Cari penginapan di Muara Teweh, beristirat sebentar, untuk lanjut perjalanan esok pagi. Usul yang bagus. Mari kita istirahat sejenak.

Gambar

Kondisi Jalan
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Esok hari, tepat pukul 7 pagi, setelah sarapan, perjalanan berlanjut. Tujuan tetap, menuju Kota Kuala Kurun. Menurut pengemudi, masih harus menempuh perjalanan sekitar 6 jam lagi. “Semangat!”. Perjalanan menuju Kota Kuala Kurun tetap sama, bahkan diwarnai sesekali dengan tanjakan tajam disertai lubang-lubang besar. Aspal sebagian besar sudah terkelupas, berganti dengan batu-batu besar. Goncangan tetap setia menemani.

Sampai di Kuala Kurun sekitar jam 1 siang. Makan siang, langsung lanjut untuk mempersiapkan acara esok hari. Puji Tuhan, acara berlangsung lancar. Semua materi sosialisasi tuntas tersampaikan. Tinggal terbayang perjalanan kembali. Berusaha menyemangati diri, “Jangan dibayangkan, jalani saja. Semua pasti akan ada hikmahnya”.

Perjalanan pulang mengikuti rute yang sedikit berbeda, tidak kembali ke Palangkaraya, namun ke Banjarmasin. Tiket pesawat Banjarmasin – Jakarta, baru berani dipesan saat perjalanan sudah menampakkan kepastian waktu tiba di Banjarmasin. Lewat telpon, baru memesan tiket setelah sampai di setengah perjalanan.  Bersyukurlah, masih sempat menikmati makan siang di perjalanan ke Banjarmasin. Makan udang-udang besar. Sungguh nikmat. Perjalanan pulang, masih dibekali dengan beberapa kepiting dan udang.

Demikianlah. Sebuah perjalanan yang menyita tenaga, menguras energi. Tapi juga meninggalkan kesan mendalam, kenangan yang tidak terlupakan. Semoga yang telah dilakukan memberi manfaat bagi warga kota yang dikunjungi. Supaya perjalanan yang dilakukan tidak hanya menyisakan lelah, tapi juga meninggalkan manfaat. Bagi warga di sana. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s