Dua Pemimpin Jempol : Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi

Kekuatan media memang dahsyat. Dalam waktu tidak terlampau lama, semenjak mencalonkan diri menjadi Cagub DKI Jakarta, Jokowi menjadi pusat perhatian, pusat pemberitaan. Sangat “Media Darling”. Apapun yang dilakukan Jokowi selalu menjadi sorotan. Kemanapun Jokowi pergi, selalu ada yang mengikuti, menguntit, lalu memberitakan. Kekondangan seorang Jokowi sangat fenomenal. Bahkan terus digadang-gadang supaya mau nyapres. Bagaimana dengan Wagiman? Beliau juga sosok pemimpin yang bagus. Hanya sayang tidak sekondang Jokowi. Tidak seterkenal maupun sefenomenal Jokowi. Padahal keduanya merupakan sosok pemimpin yang layak mendapat pujian, layak disematkan bintang. Wagiman pun punya prestasi.

“Siapa itu Wagiman? Kok bisa-bisanya dibanding-bandingkan dengan Jokowi? Apa hebatnya Wagiman? Apa prestasinya? Mana hasil karyanya?” Jika masih mau tahu, masih penasaran, silakan simak tulisan selanjutnya.

Ini kali kedua menulis tentang Wagiman di Kompasiana. Sebelumnya, pernah menulis tentang sosok Wagiman di sini . Saya yakin, masih belum banyak yang mengenal sosok Wagiman. “Siapa beliau?” Bagi yang belum mengenal sosok Wagiman, baiklah. Wagiman adalah julukan yang dipersembahkan tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum pada Tri Rismaharini atau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Risma. Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Tri Rismaharini. Beliau tidak seterkenal Jokowi, yang namanya sudah berskala Nasional. Beliau adalah sosok wanita pertama yang menyandang gelar Walikota Surabaya. “Lalu apa hubungannya dengan Wagiman? Saudaranyakah?”

Tri Rismaharini inilah yang dikenal sebagai Wagiman. Beliau mendapatkan julukan WAGIMANWalikota Gila Taman. Tersinggungkah beliau dengan julukan tersebut? Harusnya tidak perlu. Sepatutnya beliau bangga. Saat ini, beliau berdampingan dengan mantan walikota Surabaya sebelumnya, yaitu Bambang Dwi Hartono, memimpin komando sebagai Walikota Surabaya dan Wakil Walikota Surabaya. Sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City Mayors.  World Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.

Ternyata beliau tidak hanya berprestasi di bidang pertamanan. Ada banyak prestasi lainnya. Jika Jokowi memiliki jurus blusukan andalannya, Bu Risma pun melakukan hal yang sama dan itu bukan karena syndrome Jokowi. Blusukannya telah dilakukan sejak lama, sejak masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan Surabaya. Kebiasaan itu masih tetap langgeng hingga kini. Bahkan kerap membuat warga terheran. Bu Risma yang notabene seorang wanita, bisa keluar jam dua belas malam dan turut menyapu jalan. Namun, karena tidak sekondang Jokowi, aksinya tidak terendus media.

Jika Jokowi telah menunjukkan keberhasilannya di Pasar Tanah Abang, Bu Risma pun telah merambah penataan pasar di Surabaya. Beberapa pasar telah menjadi bukti jamahan tangannya. Pasar yang dulunya tidak tertata dan terkesan semrawut, kini tertata apik.  Penataan kaki lima pun tidak luput dari sentuhannya. PKL yang dulunya tersebar di pinggir-pinggir jalan dan mengganggu lalu lintas, perlahan mulai dibenahi dan diberikan tempat di dalam gedung yang mirip mall. Masih banyak lagi hasil karya Bu Risma lainnya. Revitalisasi waduk yang tengah dilakukan Jokowi pun ternyata dilakukan Bu Risma di Surabaya. Juga revitalisasi sungai, pembersihan gorong-gorong, dan pembersihan sampah-sampah di sungai. Hasilnya? Surabaya sedikit lega karena tidak terkena banjir.

Baru-baru ini terdengar kabar, seperti diberitakan di media tempo, Bu Risma berkehendak dan bertekad untuk menghapus lokalisasi di Surabaya. Setelah menutup lokalisasi di Klakah Rejo, Benowo, beliau bertekad untuk menutup lokalisasi lainnya. Bertekad untuk menutup lokalisasi Tambak Asri, juga lokalisasi yang terkenal, Dolly di Putat Jaya. Tanpa gentar, beliau menghadapi para pendemo yang menentang penutupan lokalisasi. Menemui para pendemo yang adalah para pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari. Wow…! Sungguh berani.

Para pendemo seperti biasa, membawa tulisan-tulisan yang intinya menolak penutupan lokalisasi. Mereka menganggap Pemkot Surabaya telah bertindak otoriter. Saat berdemo, mereka berusaha untuk mendekati Walikotanya. “Dan apa yang dilakukan Bu RIsma?” Beliau malah merebut salah satu poster yang mereka bawa, dan mengatakan, “Ini apa-apa ini, mau dibantu kok tidak mau”. Beliau mengatakan lebih lanjut, “Apapun rintangannya, akan saya hadapi, dan akan terus saya tutup. Wow…lagi.

Bu Risma memiliki kiat andalan, yaitu sikap tegas dan berani. Walau seorang wanita, beliau berani dan tegas menghadapi segala macam permasalahan, tantangan, dan kendala yang dihadapi. Pada prinsipnya, sepanjang masih di rel kebenaran dan demi masa depan warga, beliau tidak akan gentar, tidak akan ciut nyalinya.

Saya tidak hanya bermaksud membanding-bandingkan antara Wagiman dan Jokowi. Poinnya adalah, ternyata Indonesia masih memiliki secercah harapan. Masih memiliki sebersit asa di tengah galaunya Indonesia. Indonesia masih dapat menggantungkan harapan di atas pundak para pemimpin yang memimpin tidak hanya dengan kekuatannya, tapi juga dengan hati yang bersih dan tekad yang tulus. Semoga ke depan, masih dapat ditemukan Jokowi-Jokowi lain, Wagiman-wagiman lainnya. Pray for Indonesia. Semangat. Salam. (Del)

Advertisements

3 thoughts on “Dua Pemimpin Jempol : Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi

  1. sorotan media seperti bonus, salut sama bu risma yang tetap bekerja keras meski jauh dari sorotan media dan ketenaran, semoga makin banyak pemimpin seperti bu risma dan pak jokowi di Indonesia

  2. Pingback: Wagiman Telah Menjelma Menjadi Waliman | Kita dan Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s