Berapa Berat Ideal Tas Anak SD?

Setiap pagi, tak tega rasanya kalau tidak turut membantu dua anak saya untuk membawakan tasnya ke halaman rumah, mengantarkan sampai Papa-nya mengambil alih tugas, mengantar ke sekolah. “Ckckck, bukannya berkurang, tas anak sekarang makin berat saja. Inikah gambaran pendidikan SD di Indonesia? Mengapa gak bawa lemarinya saja sekalian?”.  Rasanya, keluhan ini tidak hanya saya yang rasakan. Sangat mungkin dirasakan oleh banyak orang. Adakah upaya untuk memperbaiki? Rasanya masa penantian perbaikan tidak akan sekejap. Masih harus menunggu lama. Mungkin sampai anak-anak lulus SD pun belum tentu usai.

Keluhan tersebut terasa basi, tapi tetap mengganjal, butuh pencetusan, dan penyuaraan. Suara seorang ibu yang miris melihat anak-anaknya berbeban berat, dalam arti kata yang sebenarnya. Sepertinya beragam elemen masyarakat telah menyuarakan kritik, komentar, tanggapan, saran, masukan, terkait dengan beban belajar siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Secara kasat mata terpapar jelas, tergambar dari beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Bayangkan saja, setiap mata pelajaran umumnya memiliki 4 buku, 2 buah buku cetak, yaitu buku paket dan buku latihan, serta 2 buah buku tulis untuk PS (Pekerjaan Sekolah) dan PR (Pekerjaan Rumah). Satu hari biasanya ada 4-5 mata pelajaran. Jadi, silakan hitung sendiri, betapa berat beban anak SD sekarang. Belum lagi ditambah dengan buku agenda yang harus dibawa setiap hari dan itu hard cover. Belum lagi ditambah dengan tas kecil berisi makanan dan minuman bekalnya. Hmmm, nambah beban lagi.

Mengapa tidak dibuat dalam satu buku saja. lalu membaginya dalam semester atau bahkan dalam triwulan? Mengapa tidak dalam 1 buku tulis saja? Kan bisa membaginya, misal untuk PS dimulai dari halaman depan, dan untuk PR mulai dari halaman tengah? Itu hanya sekedar ide simpel. Mengapa tidak disimpan di loker sekolah saja? Tidak perlu membawa semua buku bolak-balik rumah-sekolah? Atau mengapa tidak memanfaatkan teknologi, agar paperless? Toh, pasti mereka sudah tidak asing lagi dengan dunia komputer dan gadget lainnya.

Dulu, ketika masih kelas 1-2 SD, masih bisa sedikit bernafas lega. Masih bisa menggunakan tas yang ada rodanya sehingga tidak memberati punggung. Tapi setelah kelas 3 dan selanjutnya, tidak bisa lagi. Kelasnya sudah tidak di lantai 1 lagi. Membawa tas yang ada rodanya malah akan lebih merepotkan lagi. Bahkan sekarang, mereka harus bersusah payah setiap hari harus mencapai lantai 3. Huh…

Pertanyaannya, “Kok mau memasukkan anak ke sekolah tersebut? Cari saja sekolah lain”. Ternyata tidak semudah itu. Berdasarkan hasil obrolan khas emak-emak di kantor, anak-anak mereka yang menimba ilmu di sekolah lain pun kurang lebih sama. Hampir merata. Keluhannya sama. Pertanyaan lainnya, “Mengapa tidak disuarakan ke sekolahnya? Mengapa tidak disampaikan ke gurunya?”. Jawabnya, “Sudah”. Inikah dunia pendidikan kita?.

Beban belajar yang berat, salah satunya berhulu dari banyaknya mata pelajaran yang ada di sekolah dasar dan tiap mata pelajaran yang membutuhkan banyak sekali buku. Namun, saya pikir, itu pun tidak dapat dijadikan alasan untuk mengubah kurikulum hampir tiap tahun. Tidak dapat dijadikan tameng untuk senantiasa melakukan perubahan tanpa perencanaan matang. Tidak elok rasanya menjadikan anak-anak seperti kelinci percobaan. Yang hampir tiap tahun menerima perubahan atas nama kurikulum. Ah, mungkin terlalu banyak orang pintar di dunia pendidikan di Indonesia. Saya hanya seorang ibu yang prihatin melihat anak-anaknya.

Berapa sesungguhnya berat ideal, berat maksimal yang boleh dibawa seorang anak SD? Cari punya cari, seluncur sana dan sini. Ternyata beban yang disandang punggung pada saat menggunakan ransel/backpack sebaiknya tidak melebihi 10 % dari bobot tubuh penyandangnya. Angka 20 % adalah sangat maksimal, bahkan tidak disarankan. “Waduh !”. Anak-anak sekarang tasnya terlihat lebih besar dibandingkan dengan tubuhnya. Tidak berlebihan jika dikatakan, beban anak-anak telah melampaui batasnya. Jika ditimbang, tas anak-anak SD berkisar 5-7 kg. Melebihi angka batasan 10% dari bobot tubuhnya.

Yang dapat dilakukan sementara ini sebagai seorang ibu hanya berupaya untuk memilihkan tas yang tidak menambah beban dan memudahkan mereka untuk membawanya. Biasanya saya akan memilih tas berbahan dasar kuat agar tidak mudah rusak sekalipun harus menanggung beban berat. Biasanya tas model ransel. Saya tidak dengan mudah menuruti keinginan anak dalam memilih tas, karena mereka umumnya hanya memilih berdasarkan gambar dan warnanya. Selain model, gambar, dan warna, pertimbangan utama adalah tas yang memang kuat untuk menampung beban di dalamnya. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s